Darkfic & Crime · Fanfiction Contest · Fantasy · Ficlet · Length · PG -15 · Rating

[FF Contest] Reptil Digital Monster


IMG-20151028-WA0002

Judul: Reptil Digital Monster

Panjang: ~ 1500 kata

Tokoh utama: Park Jimin dan Park Mina (Aku)

Batasan usia: 15 tahun ke atas

Aliran: perceraian, persaudaraan, pembunuhan

Penulis: Maria

Facebook: Maria Dongwoon’s Bride II

Twitter: @dongwoonsbride

No. HP: 082333698080

Tanggal ditulis: 2-5 Oktober 2015

Rintik hujan masih membasahi bumi. ‘Bug’, aku menutup pintu mobilku sambil tergopoh membuka payung merah bermotif sakura. Payung kecil itu cukup menaungi tubuhku yang juga kecil, mencegah jaket bludru merahku terciprat beberapa tetes gerimis, hanya beberapa tetes. Beberapa orang masih lalu lalang di sekitarku, meskipun gerimis, namun wajah mereka ceria. Sore yang mendung, di Distrik Haeundae, Busan, aku harus menjemput adikku pulang dari festival sekolahnya. Bukan adikku sih sebenarnya, dia anak papaku dari wanitanya yang lain.

Aku belum pernah sekalipun bertemu dengannya, juga melihat fotonya, atau berinteraksi melalui apapun dengannya, karena aku tidak terlalu peduli dengan sisi kehidupan papaku yang lain. Dia hanya bilang kalau dia seorang pria, bernama mirip wanita, Jimin, dan dia memakai kostum Agumon di festival sekolahnya, setidaknya itu saja yang dia Kakao padaku beberapa jam yang lalu.

Jadi aku harus mulai dari mana? Oke, tentu saja tidak sulit menemukan orang berkostum Agumon kan.. kecuali.. Ini festival sekolah, banyak orang memakai kostum, dan.. Beberapa orang, bukan, Agumon, terlihat masih berkumpul dan bergerak seolah olah mereka menari. Apa itu, Agumon yang menari? Oh please.. Apa adikku juga ada di salah satunya. Baik, tentu saja aku harus mulai mencari dari gerombolan ini, dan aku harus berhenti menyebutnya adikku, aku memang 6 tahun lebih tua darinya, tapi dia bukan adikku.
Sekumpulan Agumon itu menutup tariannya dengan formasi, lalu berapa orang mulai berpencar membubarkan diri. Saat kulihat mereka mulai meninggalkan tempat itu, aku berteriak, “Maaf, apa dari kalian ada yang bernama Jimin?! Eung.. Park.. Park Jimin..”.

Tidak ada yang menggubris, mungkin mereka tidak mendengarku. Lalu seorang-bukan, seekor- Agumon tiba tiba menoleh dan berjingkat menujuku, membiarkan kaki-kaki kuning bercakarnya basah terkena genangan air di trotoar. Aku mundur saat dia semakin dekat, tidak lucu jika aku dijatuhi Agumon di atas ubin becek bukan? Dia seperti hendak memelukku, namun dia urungkan setelah menyadari aku menambahkan jarak antar tubuh kami. Agumon itu berdiri diam, aku pun mematung, dipandanginya tubuhku dari atas ke bawah. Aku memicingkan mata, berusaha menatap manik mata di balik helm kepala Agumon itu.
“Hai”, aku menepuk moncong kuningnya setelah manik matanya di dalam sana memberi eyesmile.

“Apa kau Park Jimin? Aku Park Mina”, lanjutku.
Agumon itu menutupkan kedua cakarnya ke mukanya, lalu menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri, tampak lucu, tapi aku sedang tidak ingin berlama-lama di sini.
Kugandeng salah satu cakar peraknya yang panjang, dan menuntunnya ke mobilku. Dia menurut, kami pasti sedang terlihat seperti gadis berpayung merah dan Agumon sekarang.
Kami sudah sampai di dekat mobilku, aku menyuruhnya melepas kostumnya dan meletakkannya di bagasi. Agumon itu menaruh cakarnya di moncongnya lagi, lalu menarik kepalanya dari tubuhnya, hingga terlihatlah kepala manusia di dalam sana.

Aku terkesiap mundur, tanpa sadar menahan nafasku beberapa hembus, dan mungkin melewatkan satu detak jantungku juga. Park Jimin, dia tampan.

“Halo”, ujarnya sambil eyesmile lalu memasukkan kepala Agumonnya ke bagasi.

Aku hanya berusaha mengedipkan kembali kelopak mataku dan berusaha balik menyapanya, namun gagal. Setelah memasukkan seluruh kostum Agumonnya yang sedikit basah ke dalam bagasiku di kembali menujunya yang masih berdiri mematung.

“Mina, itu namamu kan? Ayo, aku siap”, ujarnya lagi-lagi sambil eyesmile. Dia hanya memakai celana pendek hijau army dan kaos putih berlambang bendera Inggris. Aku segera menyudahi lamunanku dan masuk ke dalam mobilku. Dia menyusul duduk di jok depan. Kusodorkan tisu padanya untuk membersihkan kaki telanjangnya yang basah. Aku bukan orang yang gila kebersihan, jadi tidak masalah bagiku dia menjejalkan kostum Agumonnya yang belumpur dan juga kakinya yang kotor ke dalam mobilku. Aku lebih alergi pada.. orang tampan, seperti dia.
“Kau pendiam ya, seperti ayah”, ucap Jimin sambil membersihkan kakinya.

Tidak, aku tidak pendiam, setidaknya tidak sediam ini. Kenapa orang tuaku tidak pernah menceritakan kalau adik tiriku sangat tampan. Pemikiran yang membuatku senyap.

“Aku tampan kan? Kau juga cantik, kita pasti mendapatkannya dari ayah. Hahaha”, oh dia becanda, dan diakhiri tawa renyah.

Brengsek. Apa aku baru saja merasa juga menyukai tawanya?

“Jadi, kita mau ke mana?”, tanyanya lagi.

“Ke apartemenku. Jimin, apa kau tidak keberatan jika malam ini kau tidur di tempatku? Papa bilang dia ingin berbicara empat mata saja dengan ibumu di rumah kalian”, jawabku lalu kunyalakan mobilku dan membawa kami pergi dari sana.

“Iya”, jawabnya singkat dan diakhiri hela nafas yang berat. Mungkin dia masih gamang akan keputusan ayahku untuk menceraikan ibunya dan memilih untuk kembali hidup dengan mamaku.
“Apa kau punya console PS4?”, dia bertanya lagi.
“Jimin, aku tidak memakai uang papa sepertimu. Aku kerja menjadi pramusaji di sebuah kedai jus. Apartemenku hanya satu kamar”, aku menjelaskannya lebih awal, berharap dia tidak rewel akan hal itu.
“Oh ya?Jadi nanti aku tidur di mana?!”, tanyanya lagi dengan sedikit terkejut.

“Kau bisa tidur di kamarku, aku akan tidur di sofa. Ayolah, jangan manja, kau sudah kelas 2 SMA..”, aku menjawab kegundahannya tanpa memandangnya.

“Kita tidur di kamarmu berdua ya.. Kumohon.. Aku suka parno sama tempat baru..”, dia merengek. Aku diam.

‘Saas saas’ mobil kami menderu melintasi genangan air, 300 meter lagi kami akan sampai di gedung apartemenku.

Jimin segera menghempaskan tubuhnya ke sofa kucelku sesaat setelah kami tiba di apartemenku. Alih-alih membantuku membasuh kostum Agumonnya, dia hanya duduk di sana, sesekali menyapa ikan-ikan peliharaanku di dalam akuarium kaca kecil berbentuk bola. Kuletakkan kostum Agumonnya yang telah kubersihkan di balkon, membiarkan matahari sore yang hangat mengeringkannya perlahan. Aku tidak tahu ini kebetulan atau bagaimana, tapi aku suka Agumon. Warna tubuhnya yang kuning membuatku ingat akan bunga matahari, bunga kesukaanku. Dulu saat aku masih kecil, aku sering menemani ibuku berkebun menanam bunga matahari di pekarangan belakang rumah kami, rumah ayah Jimin juga.

“Apa kau suka Agumon?Kau senyum senyum sendiri saat mengelapnya”, tanya Jimin membuyarkan lamunanku.

“Eh? Ah, tidak. Aku tidak suka menonton anime“, jawabku.

Jimin berdiri, mengamati dekorasi ruang tamuku yang sempit. Perhatiannya terhenti pada foto keluarga yang kupajang di buffet. Di sana ada ayahnya, ibuku, aku kecil, dan ibunya, yang sedang mengandung Jimin.

Aku menghampirinya, lalu menunjuk perut ibunya, dan tersenyum padanya, “Lihat Jimin, itu kamu, di dalam sana”.

Jimin diam, menunduk, menatap lekat pada foto itu.
“Jadi kita sudah saling kenal sejak kita masih kecil..Pantas saja aku merasa kita sudah sangat dekat”, ujarnya.

“21 tahun yang lalu kan.. Jimin, besok kau berulang tahun”, ucapku lirih.

Dia lalu bertanya, ” Bagaimana kau bisa ingat?!”.

“Aku tidak akan pernah lupa. Tahun di mana aku mulai kehilangan Papa. Aku terus menghitungnya. Hanya 6 tahun Papa bersamaku, lalu kalian merenggutnya dari kami”, aku tidak bermaksud menyinggungnya, tapi memang itulah yang terjadi.

Jimin mengembalikan foto itu ke tempat semula, lalu berjalan ke arah balkon. Sinar matahari yang jatuh ke tubuhnya membuat rambutnya tampak kemerahan. Kakinya menyisakan noda lumpur samar di lantai apartemenku.

“Kau pikir kenapa Ayah memilih kembali pada ibumu?lagipula dia sudah tinggal di Amerika sekarang”, tanyanya menatap kosong pada gedung gedung di seberang apartemenku.

Mungkin Papa sadar bahwa cinta sejatinya adalah ibuku, namun aku hanya diam, memilih untuk menyimpan dugaanku dalam benakku sendiri. Aku masuk ke dalam kamarku, menggelar matras di samping ranjangku. Aku hanya punya satu penghangat ruangan, hanya di kamar ini. Aku tidak akan membiarkan Jimin tidur di luar saat cuaca dingin seperti ini. Jimin menyusulku, tanpa basa basi dia rebahkan tubuhnya di atas matras yang baru saja kugelar.

“Huh.. Baru kali ini aku ulang tahun tanpa siapa-siapa. Tahun lalu kami pergi ke Hongkong bersama sama untuk merayakannya”, Jimin menceritakan kisah ulang tahun versi fuerdainya dengan sedikit merengek.
Aku diam, malas menanggapi, atau lebih tepatnya malas juga mengamati tubuh seksinya yang berguling di atas matras. Tidak banyak pria yang dekat denganku, jadi berbagi atap dengan seorang pria, rasanya sedikit kikuk. Aku berdiri hendak melangkah pergi saat tiba-tiba digenggamnya pergelangan kaki kiriku.

‘Bruk! Aduh!’, tanpa bisa mencegah tubuhku limbung, aku terjatuh tengkurap dengan dagu membentur lantai.

“Ah! Mina! Maaf, kukira kau tidak akan jatuh”, Jimin segera menolongku yang kesakitan akan ulah jahilnya.

Aku mendorong balik tubuhnya hingga ia tersungkur ke matras, “Kau ini apa apaan sih?! Dasar anak manja! Masih untung aku mau menampungmu di sini! Menjemputmu! Mencucikan kostummu! Menemanimu saat kau ulang tahun! Kau sudah mengambil separuh hidupku! Jangankan terima kasih, manggil noona aja ngga!”, aku melepaskan seluruh emosiku sebelum akhirnya kami bertatapan dalam hening. Kikuk.

Aku meraih jaketku lalu berlari keluar. Aku berjalan hingga tiba di pantai Gwangan. Matahari hampir terbenam, cahaya memudar, angin semakin dingin. Aku suka pantai kala senja, aku sering ke sini jika sedang suntuk.

“Noona! Noona!”, Jimin berlari menghampiriku dengan terengah engah. Setibanya di dekatku, disodorkannya kotak makan transparan berisi puding berbentuk kepala kucing berwarna biru.

“Ini apa?”, dia bertanya.

“Aku sudah bilang, aku akan menemani ulang tahunmu kali ini. Papa bilang kau suka warna biru dan kucing, jadi kubuatkan puding untuk kita makan nanti malam”, aku menjawab tanpa menatapnya, menyibukkan diriku mengamati matahari yang semakin meluncur turun.

“Noona.. Terima kasih..”, jawabnya dengan senyum yang semakin membuat matanya menghilang.
Jimin memelukku lalu mengecup pipiku.

“Ayo kita makan sekarang saja”, pelukannya terasa sangat hangat di tubuhku. Pipiku bersemu, mungkin kami tampak seperti sepasang kekasih sekarang.

“Ah..kenapa kau sangat baik,noona?”, tanyanya lagi masih dengan ceria.

Lagi lagi aku hanya diam, seakan tidak butuh jawaban, dia terus mengecup pipiku, entah berapa banyak, mungkin dia hanya berhenti kalau aku menggertaknya seperti tadi.

“Jimin, hentikan..”, aku melepaskan tubuh dari peluknya, lalu memimpinnya berjalan pulang. Sepanjang perjalanan dia mengamati puding kepala kucing birunya di dalam kotak sambil terus tersenyum tanpa tahu aku telah mencampurkan arsenik ke dalamnya.

Advertisements

2 thoughts on “[FF Contest] Reptil Digital Monster

  1. Judulnya unik, aku kira ceritanya berbentuk fantasy, tapi ternyata bukan. Dan setelah dibaca ternyata yang dimaksud jimin. Hehe. Anyway, ceritanya ringan dan unik. Keep writing!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s