Chaptered · Drama · PG17 · Romance

MISS TAXI – 5


miss taxi 5 a

Author : @minarifini / Tittle : Miss Taxi / Cast : Choi Siwon, Im Yoona,  Lee Tuk, Min Hwe Ji (OC), Cha Sun Woo(Baro- B1A4), Park Chorong, Mark Lee, Seo Herin / Genre : Romantic Comedy / Lenght : Chaptered / Rating : General

 

Disclaimer : Hanya sekedar Fanfiction antara Choi Siwon dan Im Yoona. Segala bentuk kejadian yang ada di dalam cerita tidak nyata. Jangan dianggap serius, cerita ini hanya hiburan semata.

 

 AN :  Hai, maaf lama banget banget update-nya. Di chapter ini bakalan khusus nampilin cerita dari sudutnya Siwon dan segala bentuk perasaannya- semoga pertanyaan2 kalian terjawab ^^ sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih banyak bagi para readers yang sudah mendukung Miss Taxi ini dari chapter 1 sampai 5 ini.  Ah iya Miss Taxi juga dibisa dibaca di wattpad, cari saja nama author atau judulnya. Well, enjoy~

CHAPTER 1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6A

 

[Sent 11;45] Hiiiiiiii~

[Not Miss Taxi Anymore 11;56] 

[Sent 11;57] Mau makan siang bersama?

[Not Miss Taxi Anymore 11;59] Sibuk

[Sent 12;01] Eih, tak baik marah terlalu lama

[Sent 12;01] Kau akan semakin nampak tua jika terus marah padaku.

[Not Miss Taxi Anymore 12;03] Mind ur bussiness!

Siwon terkekeh samar, mungkin memang ia sudah keterlaluan. Rasanya ia ingin memutar waktu saja agar tidak membuat Yoona marah padanya. Mungkin ini buah dari sikap brengsek-nya tapi entahlah ia tak pernah bisa menahan dirinya ketika sedang bersama Yoona. Terkadang melihat Yoona yang sedang mengerutkan bibir atau sedang mendumal tentang dirinya yang menyebalkan terasa lucu bagi Siwon. Dan belum lagi ketika sedang gugup- percayalah Siwon tak akan pernah bisa diam ketika melihat Yoona gugup. Persis seperti sore itu.

Saat langit berwarna orange dan matahari siap menyingsingkan diri, Siwon menggenggam jemari Yoona. Mereka berjalan beriringan menyusuri persimpangan jalan menuju flat Yoona. Acara kencan kasual mereka terasa sangat manis. 

Siwon menyembunyikan senyumnya saat mendengar Yoona menggumamkan melodi. Sesekali Siwon mencuri pandang ke arah Yoona, tanpa banyak bicara Siwon pun tahu, gadis itu sedang bersenang hati. Ada perasaan aneh yang selalu menyelimuti Siwon saat ia melihat Yoona tersenyum manis seperti itu. Entah sejak kapan perasaan itu menyusupi relung hati Siwon. Perasaan nyaman saat bersama gadis itu sungguh berbeda.

“Aku ingin bertanya padamu. ” 

“Apa?” 

“Mengapa kau membantuku untuk melupakan Hwe Ji?” 

“Karena kau bilang, kau hanya mempercayaiku.”Iya memang seperti itu kenyataannya namun ada bagian diri Siwon yang tak menerima hal itu. 

“Semudah itu?” Gadis itu pun menganggukkan kepalanya. “Tidakkah kau menyukaiku?” Waktu seakan berhenti. Siwon mengamati raut muka Yoona yang terkejut. Gadis itu seakan tak memperkirakan bahwa Siwon akan mempertanyakan hal itu. Tak ada pertahanan dari sorot mata Yoona. Mudah sekali terbaca. Yoona menyukainya. 

Jika Siwon berani untuk jujur pada dirinya sendiri mungkin ia akan menyatakan apa yang sedang dirasakan saat itu juga. 

Siwon mendekatkan diri pada Yoona. Melingkarkan lengan pada pinggul Yoona seraya berbisik,”diam berarti iya hmmm.” Imbuh Siwon dengan nada jahil. 

“Y-yah!” Yoona memukul dada bidang Siwon. Barulah kini gadis itu nampak kembali pada dirinya sendiri. “Aku yakin kau keracunan sesuatu hingga membuatmu mengigau!” Yoona berusaha melepaskan dirinya, namun Siwon menahannya. 

“Apakah sesulit itu untuk mengakuinya?” Siwon menatap Yoona sedang nampak gelisah. Gadis itu menghindari tatapan mata Siwon. Perlahan Siwon menyelipkan rambut Yoona, “bagaimana jika aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu? Apa kau juga ingin memiliki hubungan yang lebih dalam dari ini?” 

“S-Siwon aku tak m….” Yoona tak sanggup melanjutkan kalimatnya saat Siwon pun mengikis jarak mereka. Siwon pun menatap bibir merah Yoona. Hanya perlu beberap inci bagi Siwon untuk menyentuh bibir gadis itu. Siwon juga sanggup merasakan deru nafas Yoona yang terasa tak normal. Tubuh gadis itu pun sedikit bergetar. Siwon merasakan Yoona sedang meremas kra kemeja jeansnya seraya memejamkan mata.

Suasana seperti ini mungkin tak akan pernah terjadi untuk kedua kalinya. Di bawah cahaya temaram saat matahari menyingsingkan diri, untuk pertama kalinya Siwon sanggup menatap Yoona gugup dengan jarak sedekat itu dan, “HAHAHAHAHAHA……apa yang kau lakukan? Tertidur?” Seketika Yoona membuka matanya dan ekspresi wajahnya sangat lucu. Untuk beberapa saat gadis itu masih belum sanggup mencerna apa yang sedang terjadi. “Miss Taxi, kau itu sangat menggemaskan sekali. Apa kau berfikir aku akan menciummu atau….” 

“YAH!!!” Yoona pun menendang keras tulang kering Siwon. Wajahnya memerah menahan rasa kesal, “dasar brengsek!” 

Siwon tertawa sendiri ketika kejadian sore itu terlintas di benaknya. Siwon pun membaca ulang pesan Yoona. Siwon yakin sekali bahwa Yoona masih kesal dengannya. Namun Siwon harus bagiamana? Ia sangat senang sekali membuat Yoona kesal dan baginya sangat lucu sekali. Bisakah Yoona disimpan untuk dirinya sendiri? Gadis itu terlalu menggemaskan.Tak ingin membuang waktu, Siwon pun menulis pesan balasan. 

[Sent 12;07] kekekke sampai jumpa nanti~ 

[Not Miss Taxi Anymore 12;10] Lupakan, aku ada acara makan bersama teman-temanku. Jangan ganggu aku lagi! 

Separuh diri Siwon merasa menyesal dan sisanya, Siwon merasa gemas. Rasanya aneh ketika Yoona menolaknya untuk bertemu. Sudah tiga hari ini Yoona mendiamkannya. Menolak untuk bertemu atau menerima teleponya. Siwon tahu, Yoona sedang berbohong mengenai acara makan bersama dengan temannya- itu hanya alasan yang dibuat-buat oleh Yoona.

Hei apa kau tahu siapa itu Choi Siwon? Aku masih bisa menunggumu di flat mu. Sampai jumpa lagi Miss Taxi~~

Siwon hendak menekan tombol ‘send’, namun tertahan saat sekertarisnya masuk diikuti dengan seorang pemuda berusia dua puluh tahunan. Siwon pun meletakkan kembali ponselnya dan berdiri untuk menyambut pemuda itu.

“Selamat siang, CEO-nim.” Siwon mendengus geli saat pria muda itu menyapanya seperti itu. Tak ada balasan dari Siwon selain menggeleng-gelengkan kepala dan setelahnya Siwon duduk kembali.

Pria itu pun menarik kursi dan duduk.” Rancangan konsep sudah selesai, kau bisa memeriksanya lebih dahulu. ”

Sementara itu, sekertaris cantik Siwon meletakkan beberapa tumpukan map tebal pada meja kerjanya. Siwon menatap tumpukan map itu dan menghembuskan nafas. Nampaknya hari ini ia harus bekerja ekstra. ” Terimakasih, Jane.”

“Ne.” Jawab Jane sopan sebelum mengundurkan diri.

Siwon pun membuka tumpukan map pertama. Di sana tertulis beberapa nama perusahaan yang ingin bergabung dengan proyek barunya. ” Kita akan mengundang beberapa perusahaan furniture ini dan meminta mereka untuk menampilkan produk yang sesuai dengan konsep kita. ”

Pemuda itu mengangguk menyetuji ucapan Siwon. Siwon membalik halaman berikutnya, di sana ada profil singkat dan produk andalan dari perusahaan-perusahaan itu. Siwon tersenyum samar, nampak puas dangan data yang telah disajikan. ” Sampai berapa persen kau yakin proyek ini akan berjalan, Cha Sun Woo-ssi?”

“Kau membuatku gugup. ” Siwon menatap Sun Woo dan pemuda itu menunjukkan angka tujuh dengan jarinya. Siwon terkekeh.

Siwon melingkari nama-nama perushaan yang akan ia undang dalam rapat realisasi proyeknya nanti. “Kau benar, ini adalah proyek pertama kita namun kau tahu, masa depan dunia properti di Korea akan berkembang. Pada saatnya nanti, properti adalah segalanya di negeri kita ini. Percaya dirilah. ”

” Iya.” Pemuda itu menyandarkan punggungnya pada bantalan kursi berusaha untuk nampak tenang. “Memang benar, investasi terbaik adalah dibidang properti. Aku hanya gugup saja, ini baru pertama kalinya bagi kami untuk mengerjakan proyek sebesar ini, setalah melewati masa sulit kami. ”

Siwon menghembuskan nafasnya sedikit lebih berat dan menutup map pertama. Ia menyingkirkan map pertama dan bersiap untuk membuka map ke dua. “Sebenarnya proyek ini hanya warming up saja, kau pasti masih ingat apa yang pernah aku bicarakan dulu hmm.” Pemuda itu tersenyum samar mengiyakan ucapan Siwon. “Dunia itu seperti roda, mereka berotasi dan tak selamanya juga perusahaan itu akan tetap berjaya atau sebaliknya. Sehebat apapun suatu perusahaan pasti pernah mengalami masa sulit. Tinggal bagaimana kita saja, menyerah atau mencari cara untuk keluar dari masa sulit itu.” Siwon memang pandai untuk berkilah dan ia jauh lebih pandai untuk menyembunyikan perasaannya. Ketika menyinggung ‘masa-masa sulit’ Siwon selalu merasa ada separuh dirinya tertinggal di masa itu. Meski, bukan ia yang mengalaminya secara langsung, ia menyaksikan seluruh kejadian pahit itu. Ia sanggup merasakan apa yang terjadi saat itu

“Aku akan sering-sering belajar darimu Hyung. Kurasa aku tak bisa berhenti untuk berterimakasih padamu. Kau sudah menyelamatkan perusahaan kami. ”

Siwon mendengus geli sebelum membuka suara, “anggap saja ini hubungan yang saling menguntungkan. Kau tahu dalam berbisnis, kita hanya membicaran dua hal, peluang dan keuntungan. Dan aku percaya dengan instingku, merangkul perusahaanmu adalah peluang emas kami- Choi’s Company untuk masuk ke dalam dunia properti.” Siwon mengatakan hal itu dengan rasa percaya diri yang tinggi. Matanya berkilat menunjukkan ambisi.

Sun Woo hanya bisa tersenyum, “baiklah, kurasa aku harus meninggalkanmu, Hyung. Kau perlu mempelajari konsep yang telah kususun dan aku setuju dengan strategi pemasaran yang kau bicarakan minggu lalu. Dan jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa menghubungiku kapanpun.”

Siwon pun bangkit dari kursinya saat Sun Woo meminta izin untuk mengundurkan diri. Siwon berjalan keluar dari mejanya untuk mengantar Sun Wo pergi. “Sampai jumpa di rapat minggu depan. Kita akan membicarakan detailnya nanti. ”

“Baik Hyung!”

Setelah Sun Woo pergi, Siwon kembali berjalan menuju meja kerajanya. Siwon mengambil map paling atas dan membukanya sekilas. Tak lama, Siwon hanya membuka dan membolak-balik halaman dalam map itu. Ia tak membacanya. Kemudian ia menutup map itu dan melemparkannya asal di meja kerja. Siwon kehilangan mood untuk menyelesaikan pekerjaannya. Padahal ia harus me-review dokumen-dokumen itu sebelum akhir pekan datang.

Mungkin ini jawaban yang selama ini berputar dalam benak Siwon. Dalam hidup ini ada satu hukum yang tak kentara, hukum itu berlaku bagi siapapun. Hukum sebab akibat yang terus berputar dalam roda kehidupan ini. Termasuk pertemuannya dengan Yoona. Pertemuan mereka tidak sesederhana seperti yang dikira. Tidak sekonyol itu. Dan pertemuan mereka bukanlah suatu kebetulan belaka melainkan bentuk dari dosa yang harus dibayar.

Siwon menghela nafas panjang dan melonggarkan dasinya. Siwon memasukkan tangannya pada saku celana sembari menatap jendela luar yang menampilkan kesibukan Kota Seol dengan gedung-gedung pencakar langit yang angkuh. Pandangan Siwon menerawang jauh. Membiarkan pikirannya berkelana.

“Pergilah, bukankah lebih baik kau memberikannya sendiri?” Siwon menerima secarik kertas bertuliskan alamat suatu panti asuhan di daerah Tabaek. Ada hal yang sulit untuk dijelaskan ketika Siwon membaca alamat panti asuhan tersebut. ” Atau kau ingin menunggunya kembali, Tuan Muda?” 

Siwon terhenyak dari lamunannya dan kembali menguasai dirinya. “A- apakah Yoona berasal dari Tabaek?” 

“Tidak, namun ia tinggal di sana cukup lama. ” Siwon berasumsi inilah alasan mengapa Yoona tak pernah menceritakan tentang kedua orang tuanya. Perlahan ia menarik kursinya kembali. Siwon duduk dan menyandarkan punggung pada bantalan kursi. Sebenarnya Siwon tak ingin mempermasalahkan dari mana asal ataupun latar belakang gadis itu, namun mengapa dari sekian banyak tempat, mengapa Yoona harus tinggal di kota mati itu?Siwon berharap gadis itu tak memiliki hubungan apapun dengan asal mula kota mati itu. “Sudah lama sekali saya ingin membicarakan tentang Yoona pada anda, Tuan. Saya tidak tahu hubungan apa yang kalian miliki. Namun, saya rasa anda perlu tahu tentang Yoona sebelum hubungan kalian berjalan lebih dalam. Apa anda bersedia mendengarkannya, Tuan Muda?” 

Siwon mengangguk, “iya, silahkan.” Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

Dilihatnya Tuan Ahn sedang mengeluarkan map dari laci meja. “Tuan Muda, aku tak bermaksud untuk membuka luka lama itu namun….” Tuan Ahn memberikan jeda pada kalimatnya saat beliau membuka halaman kedua map merah. Siwon gugup saat ia melihat halaman artikel dari surat kabar tahun 1991. Disana terlihat foto kakeknya sedang berjabat tangan dengan salah satu karyawan tambang batu bara. 

Siwon mengepalkan tangganya. Siwon tak sanggup membiarkan dirinya, ia terbawa dengan acara perayaan keberhasilan yang pernah diselenggarakan oleh industri pertambangan rekan kakeknya dulu. 

Siwon memang masih berusia lima tahun saat itu, namun ia tahu bahwa sebagian besar modal perusahaan itu adalah milik Kakek Siwon. Pada 1990, industri pertambangan di kawasan Taebek berkembang sangat pesat. Pertambangan batu bara menjadi komediti utama saat itu. Pada masa keemasannya, tambang batu bara Taebek mampu memproduksi 30% dari total batubara Korea Selatan. 

“Tuan Muda, aku tak akan pernah melupakan masa keemasaan industri yang pernah kalian bangun. Berkat berkah yang besar saat itu, tak heran, orang-orang dari berbagai daerah di Korea datang ke Taebek untuk bekerja di pertambangan. Termasuk kami dan pria yang berjabat tangan dengan kakek anda adalah ayah Yoona. Kami berteman baik, ia sudah seperti kakakku sendiri.” 

“Kami sudah bekerja ditambang selama 5 tahun dan anda pasti mengetahui bahwa pada tahun 1990 industri pertambangan mengalami masa keemasannya. Tahun itu sangat menggembirakan, Tuan Muda, rasanya segala jerih payah kami terbayar dan pada tahun itu juga hadirlah Yoona kecil di keluarga sahabatku. Ia senang bukan main saat putrinya lahir. “Siwon sanggup melihat senyum samar Tuan Ahn. Dari sana Siwon tahu bahwa Tuan Ahn menyayangi Yoona seperti putrinya sendiri. Siwon menundukkan kepalanya. Siwon menyadari sesuatu, ia tak pernah mengindahkan perasaan gadis itu. ‘Apakah gadis itu baik-baik saja atas perbuatan yang telah ia lakukan selama ini?’

“Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama Tuan, kecelakaan tambang 1992 itu meleburkan segalanya. Ledakan tambang itu merenggut nyawa teman dan sekaligus ayah Yoona. Tak lama kemudian ibu Yoona jatuh sakit dan ia harus meninggalkan Yoona yang masih berumur 2 tahun saat itu.” 

Ada satu luka baru yang tergores dalam diri Siwon, ia tak sanggup menjelaskan apa yang sedang ia rasakan saat ini. “Maafkan saya.” Hanya itu yang sanggup Siwon ucapkan. Kata ‘maaf’pun tak akan mengubah apa yang telah terjadi. Selamanya kecelakaan 1992 itu tak akan pernah mudah untuk dilupakan. Siwon mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa Yoona menyembunyikan hal ini? Bagaiamana gadis itu bisa bertahan seorang diri hingga saat ini? Nafas Siwon tertahan mengingat Yoona yang seakan tak pernah menunjukkan kesedihannya. 

Tuan Ahn menggelengkan kepalanya samar, “maafkan saya juga Tuan, saya tak bermaksud untuk mengingatkan kejadian ini. Apapun penyebab kecelakaan tambang itu, saya percaya satu hal. Kakek anda selalu memperhatikan kami- para pekerja tambang. Beliau selalu menomorsatukan keselamatan kami. ” Tuan Ahn memberikan jeda pada kalimatnya, beliau menatap Siwon yang terlihat sedikit pucat. Perlahan Tuan Ahn membalik beberapa halaman di dalam map itu. Dan nampaklah foto buram seorang gadis kecil berumur sekitar empat atau lima tahun sedang memegang bingkisan. Gadis itu tersenyum manis menatap kamera. ” Ini Yoona saat berulang tahun yang kelima, Tuan. Dia nampak manis, bukan?” 

Siwon terdiam sejenak, sebelum menganggukkan kepalanya. 

“Tuan Muda, kedua orang tua Yoona sudah seperti saudara saya sendiri. Begitu juga dengan gadis ini, ia sudah seperti putriku sendiri, saya mengenal dia jauh lebih baik dari siapapun.” Tuan Ahn menghela sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, “sekali lagi saya tak tahu hubungan apa yang anda miliki dengan Yoong, yang saya tahu ketika Yoong bersama anda gadis itu selalu tersenyum manis seperti dalam foto ini. Ia tak pernah menatap seorang pria seperti saat ia menatap anda Tuan.” Siwon menatap Tuan Ahn tak percaya . Tuan Ahn pun menganggukkan kepalanya, ” saya mohon jaga Yoona untuk saya dan kedua orang tuanya.” 

Lamunan Siwon sirna saat ia mendengar ketukan pintu. Siwon membalikkan tubuh saat pintu ruangnnya terbuka. Dilihatnya Jane berdiri di ambang pintu bersama seorang wanita, ” maaf Tuan M…”

“Hai, Woniee. ” Wanita itu melambaikan tangan anggun. ” Apa dia sekertaris barumu?” Belum sempat Siwon memberikan jawaban, wanita itu segera melanjutkan kalimatnya, “it’s coffee time, mau menemaniku?”

Di atas atap gedung pusat Choi’s Company, Siwon membantu Hwe Ji untuk memantikkan api pada rokoknya, “it has been a while since i saw you smoking.”

Ada seulas senyum di wajah Min Hwe Ji dan kemudian wanita itu menghisap rokoknya. Tak lama kemudian kepulan asap tipis mengepul di hadapan paras cantik Hwe Ji. ” Iya begitulah, kau tak ingin merokok juga?” Tawarnya sembari menyodorkan sekotak rokok.

“Aku sudah tidak merokok, Nuna.” Min Hwe Ji pun terkekeh mendengar ucapan Siwon. ” Kau tertawa karena terdengar seperti aku sedang berbohong kan?” Hwe Ji mengedikkan bahunya. ” Aku hanya menyimpan pemantik ini…” Siwon menghentikan kalimatnya untuk mengamati pemantik rokok itu. Perlahan ia pun memasukkan kembali pemantik rokok itu di balik jasnya. ” Karena kau yang memberikannya untukku saat itu.” Hwe Ji tersenyum samar sebelum menghisap kembali rokoknya.

Untuk beberapa saat tak ada percakapan diantara keduanya. Siwon menyesap kopi hitamnya sembari menatap kesibukan Kota Seol. Sesekali Siwon mencuri pandang ke arah Hwe Ji. Siwon melihat beberapa helai rambut panjang Hwe Ji tertiup angin. Dan ada tatapan kesedihan dari wanita itu. Ingin rasanya untuk menarik wanita itu dalam pelukannya sekali lagi, namun Siwon mengurungkan niatnya.

Siwon teringat ucapan Yoona, gadis itu pernah mengatakan jika perasaan tak mungkin bisa dipaksa. Dan itu benar. Mengorbankan persahabatan demi cinta sepihak adalah hal yang sangat egois. Meski tak mudah untuk mengubur perasaan yang telah ia pendam selama bertahun-tahun untuk Hwe Ji, Siwon menyerahkan perasaannya pada sang waktu hingga akhirnya ia menemukan jalan untuk keluar dari labirin yang tak berujung itu. Siwon memilih untuk tetap bersama Hwe Ji sebagai teman. Seorang teman yang saling meminjamkan bahu dan mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Ya sebagai teman, tak lebih dari itu.

“Ada yang ingin kau bicarakan? Selain kabar kepindahanmu ke Paris?”

Hwe Ji mengaggukkan kepalanya, ” iya Paris adalah rumah setelah Seol. Satu yang perlu kau ralat aku tidak pindah, Woniee, aku pulang ke sana.” Hwe Ji sedikit memutar tubuhnya menghadap ke arah Siwon. ” Aku juga akan datang ke acara pernikahan Jung So.” Hwe Ji mengatakan hal itu seperti seolah sedang meyakinkan dirinya.

Siwon mengangguk samar, “nice to know that.”

Wanita itu menundukkan kepalanya dan ia terkekeh pelan. Hwe Ji menatap Siwon, ” iya aku senang bisa mengatakan hal itu, tak ada alasanku untuk tidak datang di hari bahagianya since he still doesn’t know what feeling i ‘ve been hide. Jelas sekali itu bukan salahnya dan…” Hwe Ji memberikan jeda pada kalimatnya saat mematikan rokoknya. ” It feels like karma hit me setelah mempermainkan perasaanmu. Maafkan aku, Wonnnie.”

Siwon terdiam sembari mengamati kopi hitamnya yang tinggal setengah, Siwon menganggukkan kepala saat ia mendengar permintaan maaf dari Hwe Ji. ” Dan satu pintaku.” Siwon menatap Hwe Ji, ” jangan meminta maaf lagi, aku sudah menyadarinya, Nuna. Aku tak seharusnya memaksamu untuk menerima perasaanku. Kurasa menjadi teman seperti ini jauh lebih baik.”

Hwe Ji mengambil kap kopinya dan menyandarkan punggung pada bibir dinding atap gedung, ” iya kau benar, aku akan tetap menjadi Nuna-mu dan kau akan tetap menjadi Woniee-ku.” Siwon terkekeh geli. ” Senang kau akhirnya memiliki pemikiran yang sama.” Hwe Ji menyesap kopinya. ” So uhmmm….”

“Ada apa?”

“I’m just…” Hwe Ji meletakkan kopinya di atas dinding sebelum melipat lengannya. Ia menatap Siwon dengan tatapan menyelidik, ” hmm aku hanya berfikir saja, kau bukanlah tipe seseorang yang mudah merubah pikiranmu dan…” Hwe Ji berjalan mendekat ke arah Siwon dengan menyembunyikan senyum, “aku ingin tahu apa yang kau lakukan belakangan ini? Dan siapa dibalik semua ini, i see something fishy here, Woniee.”

“Mwo?” Siwon terkejut dan dengan cepat ia mengalihkan pandangannya. Siwon berdeham sebelum memberikan jawab, ” tidak ada, aku hanya membiarkan segalanya berjalan apa adanya.”

Hwe Ji menyelipkan rambut di balik telinga sambil menatap Siwon jahil, ” benarkah begitu?” Hwe Ji menyiku lengan Siwon dan berhasil membuat Siwon mendesah.

“Hentikan, Nuna. Aku tak suka dengan tatapanmu yang seperti itu.”

Hwe Ji tertawa, ” Woniee, i know you really well than anyone else. I bet she is the one who change your mind hmm tell me about her?

Who?”

Please don’t play such a dumber hmmm should i shout her name?

“Nuna please.”

Hwe Ji menghela nafas lelah, perlahan wanita itu kembali mengambil kopinya kembali. Ia menyesapnya sedikit sebelum membuka suara, ” sejak pertama kali aku melihatnya, aku tahu dia sosok yang sangat mengagumkan. Meski kalian saat itu sedang berpura-pura atau apapun itu aku masih bisa melihat bagaimana tatapan seorang gadis yang sedang jatuh cinta, jelas sekali terlihat ia menyukaimu dan begitu juga dengan dirimu Woniee. Aku tahu kau memiliki perasaan padanya….”

“Nuna a…”

I know you really well, entah kau sadar atau tidak, kau banyak berubah Woniee sejak bersama dirinya. Dan aku senang, ternyata gadis itu sanggup membuatmu menjadi lebih baik.” Siwon meletakkan kap kopinya. Ia memasukkan tangan ke dalam saku. ” Apa kau sudah mengatakan bagaimana perasaanmu?”

Siwon menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Nuna, ” Siwon menghela nafas berat, “apa kau masih ingat panti asuhan mutiara kasih di Tabaek. Panti itu didirikan oleh kakekku untuk mengasuh anak-anak korban kecelakan tambang saat itu. Dan salah satu anak didiknya adalah Yoona. Ayah Yoona termasum korban dalam kecelakaan tambang 1992. Ayahnya meninggal karena k…”

“Hei,” Hwe Ji memotong ucapan Siwon seketika. Wanita itu melihat Siwon yang sedang memucat. Hwe Ji yakin Siwon sedang menyalahkan dirinya. Perlahan Hwe Ji menupuk-nepuk lengan Siwon lembut. “Woniee peristiwa itu sudah lama sekali dan tak ada yang disalahkan dalam hal itu. Kejadian itu adalah musibah diluar kendali siapapun. Dan untuk saat ini, hanya ada tentang kau dan dia, Woniee. ”

“Tidak, Nuna. Aku tak ingin menyembunyikan apapun darinya, aku ingin jujur padanya. Namun nyatanya hingga saat ini aku masih belum bisa mengatakannya. Aku tak yakin ia masih ingin tetap bersamaku jika ia mengetahui bahwa k…” Siwon menundukkan kepala tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

“Woniee, kau berfikir terlalu jauh.” Bisik Hwe Ji, “percayalah, dia tidak akan meninggalkanmu karena hal itu.” Siwon menatapnya kini. Hwe Ji tersenyum hangat menganggukkan kepalanya. “Segalanya akan baik-baik saja.”

Siwon tersenyum samar. ” Aku harap begitu. Terimakasih, Nuna.”

Siwon masuk ke dalam flat Yoona. Ini sudah jam 9 malam, seharusnya Yoona sudah pulang. Siwon menyalakan lampu ruang tamu. Siwon menatap sekitar ruang tamu Yoona, entah berapa lama lagi Yoona akan pulang? Ia mengambil air putih sebelum duduk ke sofa ruang tamu Yoona.

Siwon menegak air putih sebelum menyalakan Tv, ada berita malam mengenai sekilas penutupan indeks saham hari ini. Ada senyum puas melihat angka saham milik perusahaannya. Not bad. Lalu informasi berita itu bergulir merangkum beberapa perusahaan yang menunjukkan grafik peningkatan saham minggu ini. Siwon mendengus geli ketika melihat grafik menunjukkan panah hijau naik pada perusahan Sun Woo. Inilah saatnya untuk memainkan peran baru. Peluang itu benar-benar terbuka.

Siwon pun mengganti saluran tv itu, tak ada sesuatu yang menarik cuma Siwon menghentikan kegiatannya saat layar tv menampilkan serial drama kesukaan Yoona. Siwon merasa ada sesuatu yang tak nyaman. Kemana gadis itu? apakah ia benar-benar sedang pergi makan bersama teman-teman barunya?

Siwon meletakkan remote tv di sampingnya dan mengambil ponsel yang ada di sakunya. Ia melihat ponselnya diam saja. Tak ada tanda-tanda Yoona akan menghubunginya. Siwon pun membuka kunci ponselnya, Ping! satu notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Namun, itu bukan dari Yoona tentu saja. Baru saja itu pesan masuk dari Sun Woo.

[Sun Woo 21;15] Hyung, kabar gembira grafik saham perusahaanku menunjukkan hasil yang positif. Akhirnya setelah sekian lama, perusahaan ini bisa hidup kembali. Terimkasih. 

[Sent 21;19] Ini tandanya kau harus semakin percaya diri kkkkk 

[Sun Woo 21;24] Ah iya Hyung. Kita harus merayakan ini! 

Siwon belum membalas pesan Sun Woo. Ini sudah hampir jam setengah sepuluh dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda Yoona pulang ataupun pesan masuk darinya. Siwon pun membuka kembali roomchat-nya dengan Yoona.

[Sent 21;26] Hei, kau dimana?

Siwon terus menatap ponselnya untuk menunggu pesan balasan. Siwon pun membuka profile Yoona, barangkali ia mendapat petunjuk lewat feed terbaru gadis itu. Namun sayang, tak ada feed terbaru dari Yoona. Siwon mendecih, menyandarkan punggungnya. Ia pun membuka beberapa SNS milik Yoona, tetapi tetap saja sama. Tak ada kabar terbaru dari Yoona.

Siwon menaikkan kedua kakinya di atas meja. Oh dia memang sedang sial hari ini. Yoona benar-benar sedang mengabaikannya. Haruskah gadis itu bersikap berlebihan seperti ini? Seharusnya ia tak perlu semarah ini, kan? Toh, saat itu ia sedang bercanda? Apakah ia keterlaluan hingga membuat Yoona marah?

Entahlah.

Siwon mengacak rambutnya gemas.

Siwon pun membuka kembali ponselnya untuk melihat apakah Yoona membacanya atau tidak. Dan yah, Yoona bahkan tak membaca pesan dari Siwon.

Siwon menghela nafas kesal. Ia menatap langit-langit ruang tamu Yoona. Ada dua cicak yang berada di dekat lampu. Siwon menunjuk satu cicak, ia menami dirinya dan yang satunya Yoona. Ah mungkin seperti itu gambarannya. Yoona sedang memunggunginya dan Siwon berusaha untuk mendekatinya namun tak lama kemudian, Yoona pergi begitu saja meninggalkan cicak yang dinamai Siwon sendiri. What the fuck! Situasi macam apa ini?

Siwon terdiam menatap layar ponselnya. Ia menangkan dirinya. Benar, kita tidak pernah tahu apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan seseorang. Mungkin saja Yoona sedang ingin sendiri. Atau jika Yoona masih marah padanya maka ada baiknya Siwon memberikan waktu. Siwon menghela nafas berat. Siwon pun menurunkan kakinya dan kemudian ia meletakkan gelas air putih di meja.

[Sent 21; 45 ] Baiklah Sun Woo, kita bertemu di tempatku saja. Your location has been sent

Siwon pun pergi meninggalkan flat Yoona.

“Hei, dari tadi ponselmu bergetar.” Kata seorang gadis seusia dengan Yoona. Gadis itu memberikan isyarat pada Yoona untuk segera membuka ponselnya.

Yoona hanya mengambil ponsel yang ada di meja, “bukan sesuatu yang penting, Ronggie.”

Gadis bernama Ronggie menyipitkan matanya tak setuju dengan ucapan Yoona. “Jangan meremehkan sesuatu, Yoong.”

Yoona mendengus geli sembari membuka ponselnya, ada dua pesan masuk. Semuanya dari Siwon. “Eh, aku akan tidur di sini malam ini. ” Ronggie mengernyitkan dahinya. ” Aku akan membantumu untuk menjahit baju boneka-boneka itu.”

Dilihatnya Ronggie, nampak sedang berfikir. Lebih tepatnya sedang berpura-pura. Yoona tahu gadis itu penuh tipu daya. Tapi Yoona percaya temannya itu sanggup diandalkan. ” Oke. ”

Yoona tertawa senang. Ia pun mengambil separuh baju-baju boneka itu dan beberapa peralatan jahit. Sebelum memulai menjahit, Yoona membuka pesan dari Siwon.

[A Stupid Person 21;26] Hei, kau dimana?

[A Stupid Person 21; 38] Baiklah, selamat menikmati malam bersama teman-teman barumu. Aku harap kita bisa bertemu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.

“Otte?”

Siwon berkacak pinggang sembari menatap Yoona yang sedang tersenyum lebar. “Jadi ini yang kau sebut kencan?”

Yoona mengedikkan bahunya, perlahan gadis itu menyelipkan rambut di balik telinga dan mengedipkan satu matanya, ” i tried to re-pay you.”

“Hah!” Siwon menepuk dahinya gemas.

Jika beberapa orang mengatakan dirinya adalah seseorang yang sulit untuk ditebak maka Siwon berani bertaruh bahwa gadis yang ada di sebelahnya ini a.k.a Im Yoona jauh lebih gila dari dirinya.

Yoona terkikik sambil menyiku lengan Siwon, ” kau tahu suatu hubungan dikatakan terbalas jika terjadi  timbal balik di dalamnya, jadi inilah. Kau akan menyukainya, Siwonnieeeeee oppaaaaaa.”

Siwon mengumpat dalam hati. Yoona tak pernah memanggilnya ‘oppa’ setiap harinya namun bila ada mau-nya gadis itu akan memanggilnya seperti itu dan yah inilah…..

Siwon hanya bisa menghela nafas saat Yoona membuka pintu belakang mobilnya. Di sana terdapat tiga kardus besar berisi nasi kotak. Gadis itu mengambil satu, “Siwonieee oppa ayo, bantu aku!”

“Akhhh!”

Ini bukan re-pay melainkan suatu revenge. Siwon merasa tolol sekali saat ini. Bagaimana bisa ia dibodohi oleh gadis ini?

Siwon pun mengambil alih kardus yang ada di dekapan Yoona, ” baiklah, i’m all yours now. ”

“Ck… Aku tahu kau tak akan mengecewakanku, oppa!” Nada bicara Yoona terdengar sangat imut namun ada penekanan di akhir kalimatnya. “Setelah itu, di bagasi masih ada kostum untuk anak-anak, jangan lupa sekalian dibawa hmm.”

Jika ada yang mengatakan bahwa sabar itu tak terbatas maka Siwon tak berfikir demikian. Bagi Siwon saat ini, sabar itu sungguh menyebalkan. Telinga Siwon terasa panas saat mendengar perintah Yoona yang tak tahu diri itu. Berani sekali dia main perintah begitu saja? Tidak tahukan siapa Choi Siwon sebenarnya?

Siwon berdeham untuk menarik perhatian Yoona, “sebenarnya kau tak perlu bertindak berlebihan seperti ini.”

“Kenapa?” Tanya gadis itu sembari memasukkan tangan ke dalam kardigannya.

You won already.”

“Hahahahah.” Yoona tertawa riang sambil berjalan.

Siwon mendengus kesal sembari membenarkan letak kardus pada dekapannya. Ia pun mengambil langkah besar untuk mengikuti Yoona. Jujur saja, Siwon ingin melakukan suatu perlawanan, namun ia sadar. Ia berada di pihak yang tidak memiliki pilihan selain mengikuti gadis itu. Mengapa bisa begitu?

Begini, Siwon memang sudah menyiapkan dirinya jika Yoona akan melakukan perhitungan atas perbuatan jahilnya seminggu yang lalu. Namun, Siwon tak memperkirakan Yoona akan mengajaknya kemari! Panti Asuhan dan Lansia Taman Langit yang berada di sekitar Distrik Gangnam Gu. Sabtu malam, Siwon menerima pesan dari Yoona yang mengatakan ingin pergi kencan dengannya dan gadis itu juga meminta maaf karena telah mendiamkannya berhari-hari. Laki-laki normal mana yang tak luluh dengan permintaan seperti itu?

Tanpa berfikir dua kali Siwon meng-iyakan ajakan Yoona. Namun kenyataan berkata lain. Bagi Siwon ini bukan kencan. Sangat jauh sekali dengan bayangan Siwon. Kini sudah tak ada jalan untuk kembali.  Yang tersisa hanya  rintihan penyesalan seorang Siwon karena  dengan bodohnya ia masuk ke dalam perangkap Im Yoona? Mengapa otaknya terlambat menyadari keganjilan yang telah dilakukan Im Yoona sebelumnya?

Siwon baru sadar setelah Yoona memintanya memutar jalan ke Myungdong untuk mengambil pesanan nasi kotak dan kostum anak-anak.

“Apa yang sedang kau rencanakan? Untuk apa nasi kotak itu dan kostum snow white?” Siwon menatap Yoona dari balik kemudinya.

Yoona sedikit memiringkan tubuhnya. “Kita akan membantu Panti Asuhan dan Lansia Taman Langit menyiapkan acara anniversary. “

“Apa?”

“Mengapa? kau tak menyukainya?” Yoona balik bertanya. Pintar sekali gadis itu melempar bola. God!

“Bukan begitu, mengapa kau tak mengatakannya dari awal?”

“Aku ingin memberimu kejutan seperti yang telah kau lakukan padaku dua minggu lalu.”

“Kejutan kau bilang? Kejutan kencan di Dogsunggung berbeda dengan apa yang kau lakukan saat ini dan tidak bisa dibandingkan begitu saja. Selain itu, aku tak menyukai kejutan seperti ini.”

“Baiklah, jika kau tak menyukainya dan enggan melakukannya. Tepikan saja mobilnya sekarang.” Yoona melipat lengannya tanpa menatap Siwon.

Siwon berusaha keras untuk menahan dirinya sembari menurunkan kecepatan mobilnya. ” Fine as you wish.” Mobil Siwon menepi pada bahu jalan. Dilihatnya Yoona mulai melepaskan sabuk pengamannya dan tak ada kata yang keluar dari gadis itu. Untuk pertama kalinya Siwon merasa terkejut dengan sikap Yoona. Siwon mengira gadis itu akan berusaha untuk membujuknya namun ia salah besar. Tanpa membuang-buang waktu gadis itu pun keluar dari mobil Siwon dan menutup pintu mobil keras. Shit!”

Siwon membuka pintu mobilnya, ia melihat Yoona sedang membuka pintu belakang Siwon. Gadis itu berusaha untuk menurunkan kardus nasi kotak itu. Dengan cepat Siwon berjalan ke arah Yoona dan menahan lengan gadis itu, ” cukup.” Untuk sejenak Yoona menghentikan aksinya dan menatap Siwon, ” dengarkan aku baik-baik, bukan maksudku untuk menolak melakukannya. Aku hanya- .. hanya tak terbiasa melakukan hal seperti yang kau bicarakan tadi. Kau bilang ingin membantu mereka menyiapkan acara anniversary. K-kau tahu, aku tak pandai melakukan hal sosial seperti itu,  a-aku sangat canggung bila berada di lingkungan seperti itu.” Tak ada reaksi yang ditunjukkan oleh Yoona. Siwon menghembuskan nafas berat untuk mengurangi rasa gugupnya.

Siwon merasa malu karena telah mengkui kelemahannya. Baginya pergi ke suatu tempat sosial seperti panti asuhan dan lansia membuatnya mengingat kejadian 1992 itu. Kakeknya membangun suatu panti di Tabaek untuk para korban kecelakaan tambang saat itu. Dan hal itu membuat Siwon merasa terbebani, mengingat kejadian 1992 itu sama dengan mengingat dosa yang tak seharusnya dibayar oleh kakeknya.

Siwon kembali pada dirinya sendiri saat ia mendengar Yoona terkekeh. Gadis itu melepaskan jari-jari Siwon yang berada di lengannya, “ auh Choi Siwon kau sungguh menggemaskan. Ottokae?”

“Kau tertawa?” Siwon membulatkan mata terkekut, ia heran dengan sikap Yoona yang tiba-tiba berubah 180 derajat. Apa dia memiliki penyakit bipolar? Siwon mengambil langkah mundur.

“Iya, karena kau lucu.”

“Apa? ” Siwon mengkonfirmasi apa yang telah ia dengar dari bibir Yoona. “Jangan bilang kau tak benar-benar marah padaku?”

“Begitulah.”

Siwon berkacak pinggang, mengalihkan pandangannya menghembuskan nafas berat. ” Jangan bilang kau hanya berpura-pura marah padaku.”

Yoona mengedikkan bahunya sambil tersenyum jahil, ” setelah ini aku akan ikut audisi drama serial keluarga hahahah.”

Siwon mengusab wajahnya kesal. Ini sudah kedua kalinya Siwon tertipu oleh Yoona. “Sial.”

Hahahah.” Yoona tertawa dan menusuk-nusukkan jarinya pada bahu Siwon. ” Tenang saja, kau tak perlu canggung. Aku pernah menjadi relawan di sana, kau bisa bersembunyi di punggungku. And they won’t bite arwwww. Hahahah.”

Siwon membuat muka jelek dan kemudian mendekatkan diri ke arah Yoona. Siwon menatap lekat Yoona dan berkata, “iya kau benar, mereka tak akan mengigit tapi nanti aku yang akan mengigitmu.”

“Oh I’m scared!” Yoona mendorong tubuh Siwon agar menjauh darinya. Dan Siwon mendengus geli, menggoda Yoona sedikit tak apa kan? Ya hitung-hitung membalas sikap Yoona tadi. ” Dasar mesum.” Yoona pun menginjak kaki Siwon keras.

“Yah!”

Siwon menghembuskan nafas berat seakan membuang seluruh harga dirinya. Aib seperti ini tidak boleh diketahui siapapun. Bisa-bisa ia tak memiliki wibawah jika orang-orang kantor atau karyawan melihatnya seperti ini. Siwon sudah hampir mirip seperti pengikut Yoona. Euwww. Ini sungguh aib. Seumur-umur dia tidak pernah membawa benda berat seperti kardus berisi 10 pak nasi kotak ini. Seumur-umur ia tak pernah mendengar orang main perintah begitu saja pada dirinya. Seumur-umur ia tak merasa bagitu nista di hadapan seorang gadis. Dan ini baru pertama kalinya ia merasakan hal itu. Terimakasih Im Yoona, kau telah membuatku merasakan hal itu semua!

Siwon berjalan tepat di belakang Yoona, dilihatnya gadis itu masuk dengan santainya. Yoona terlihat sudah seperti bagian dari rumah ini. Dan ketika memasukki ruang tengah, seorang gadis seusia dengan Yoona menghentikan kegiatan yang tengah membersihkan lantai.

“Hai, Ronggie~” Yoona berjalan  menghampiri gadis itu. Yoona dan Ronggie berpelukan untuk beberapa saat.

Ronggie melepaskan pelukan Yoona, “Yoong akhirnya kau….eh tunggu, siapa laki-laki itu?” Mengetahui ia menjadi bahan pembicaraan, Siwon menegakkan tubuhnya. Berdeham untuk menarik perhatian Yoona. Siwon menatap Yoona dengan senyum manis berharap gadis itu memperkenalkan dirinya kepada Ronggie.

Yoona mendengus geli, sebelum menjawab, Yoona menatap Siwon dari atas hingga bawah. Yoona pun tersenyum miring, ” perkenalkan dia temanku.”

WHAT THE F*CK!

Sungguh sesakit inikah memiliki perasaan sepihak? Yoona sudah kelewatan. Selama ini Siwon selalu memperkenalkan Yoona sebagai kekasihnya di depan kolega bisnisnya dan mengapa sekarang gadis itu dengan santai menganggap dia hanya seorang TEMAN! DAMN IT.

Siwon meremas ujung kardus nasi kotak kesal. Ia seakan tak sanggup menahan kesabarannya. Sungguh jika sedikit saja gadis itu berulah, Siwon tak janji  akan mampu menahan dirinya. Ia ingin meledak! Awas kau, Im Yoona!

“Huwaa daebak. Mengapa kau tak menceritakan padaku bahwa kau memiliki teman sexy seperti dia. Tapi Yoong….Kau yakin, kalian cuma berteman?” Ronggie melihat Yoona dan Siwon bergantian.

Yoona mendengus geli, “iya, aku mengajaknya karena yah… Dia akan banyak membantu kita.” Yoona menganggukkan kepalanya mantap seraya melipat lengannya. “Benar begitu, Chinggu-ya?”

AKHHHHHH SIAL KAU IM YOONA.

Siwon mendudukkan dirinya di samping Yoona sembari menyeka piluhnya. Ia mendengar Yoona terkekeh ke arahnya, “good job, Tuan Muda.” Yoona pun menyodorkan sekaleng minuman isotonic.

Siwon hanya bisa tertawa sumbang, “good job you said? Oh come on.” Siwon meraih kaleng minuman itu. Ia pun segera membuka dan menegaknya.

Yoona menyikunya sedikit lebih keras hingga membuat Siwon hampir tersedak, ” seharusnya kau bilang terimakasih, aku sedang memujimu hehehe. ” Imbuh Yoona sambil memamerkan tanda v.

Tuhan, yang benar saja. Siwon menyeka bibirnya dengan punggung tangannya. Siwon menatap Yoona tak percaya beberapa detik, dan kemudian ia menarik ujung bibirnya paksa hingga membuat senyum jelek, “ah iya, aku lupa berterimakasih karena kau berhasil membuatku melakukan banyak hal gila hari ini !”

“Hahahaha.” Yoona tertawa sambil bertepuk tangan, gadis itu benar-benar bahagia di atas penderitaannya. Siwon pun hanya mendecih sebelum melanjutkan meminum larutan isotonic itu. Perlahan tawa Yoona pun mereda, Siwon sempat melirik gadis itu sekilas. Yoona sedang menatapnya sambil tersenyum. Matanya berbinar, “Tuan Muda, i really meant itu hmmm you did well.” Yoona menusuk-nusuk lengan Siwon dengan jarinya beberapa kali hingga membuat Siwon menatapnya penuh. “Mau liat sesuatu yang menarik?”

“Tidak.” Jawab Siwon dengan nada datar. Siwon pun meletakkan kaleng minumannya. Ia pun berdeham, pura-pura fokus melihat pengurus panti menyiapkan panggung kecil yang ada di hadapannya. Siwon berjanji pada dirinya, jika hari ini berakhir ia hanya ingin melenyapkan diri dan melupakan kejadian di panti ini. Ia tak pernah pandai melakukan hal-hal sosial seperti ini. Perasaan Siwon bercambur baur kali ini- kadang ia merasa ingin marah- kesal bahkan ia ingin meninggalkan panti ini saja, namun sayang ia tak mampu untuk meluapkan perasaanya ataupun lari begitu saja. Yoona mendekatkan dirinya pada Siwon sambil memamerkan layar ponsel, “liat ini. Kau mau menyimpannya juga?”

Ukh! Mau tak mau Siwon melihat layar ponsel Yoona yang sedang memutar video. Di dalam video itu, Siwon yang sedang memakai sayap berwarna merah jambu dan tangan kirinya membawa tongkat ibu peri. Siwon sedang duduk di taman bersama anak-anak kecil bermain rumah-rumahan. Sungguh kesabaran Siwon sedang diuji . ” Im Yoona,”

“Nde.” Yoona menatapnya dengan wajah tak berdosa.

Siwon menatap sekilas video itu. Di sana ia terlihat sedang duduk berdampingan dengan boneka teddy bear dan ia berpura-pura sedang memikmati teh. “Bisakah kau menghapusnya?”

Video masih terus berputar di layar ponsel Yoona. Nampak seorang gadis cilik sedang memakaikan tiara. Dan tanpa banyak perlawan Siwon terlihat sangat pasrah. Tak ada perlawanan di sana. Ia nampak seperti tawanan- menurut dan melakukan apapun untuk anak-anak kecil itu. Setelah gadis kecil itu berhasil memasangkan tiara pada kepala Siwon, gadis kecil itu dan teman-temannya meloncat-loncat kegirangan. Akh! video itu terlihat semakin menyedihkan untuk Siwon. “Bagaimana kalau aku bilang tidak?”

This is for my reputation.“Siwon memberikan penakanan pada kalimatnya. Meski ia yakin Yoona tak akan menyebarkan video itu, namun tetap saja, Siwon tak ingin meningalkan jejak atau kenangan di panti ini.

Who cares?” Siwon mendelik saat Yoona juga menekan ucapnnya. Siwon bisa gila kali ini. Kepala Siwon terasa pening. Ia menatap Yoona cukup lama, sejak kapan gadis ini pintar bermain api seperti ini? Siwon sungguh benci raut muka yang ditunjukkan Yoona kali ini. Jelas-jelas gadis itu sedang menantangnya lagi. Ini permainan yang tak adil sama-sekali. Bisakah kita berdamai saja? Siwon sudah kehabisan tenaga kali ini dan ia hanya ingin menghabiskan hari ini begitu saja tanpa ada bayang-bayang para penguhi panti setelahnya.

Maklum saja, hari ini dia benar-benar melakukan banyak hal. catat baik-baik BANYAK HAL. Demi siapa? Siapa lagi kalau bukan demi Im Yoona. Lebih tepat agar Yoona tak kesal padanya atau mendiamkannya berhari-hari. Jadi bisa dibilang ini penebusan dosa minggu lalu. Siwon menarik kesimpulan, berdebatpun percuma, tanpa banyak bicara ia merampas ponsel Yoona dan segera menghapus video aib itu.

“Yah dihapus.” Yoona mengerutkan bibirnya pura-pura sedih.

Siwon menatap Yoona datar dan kemudian mengembalikan ponsel gadis itu. ” Bisakah kita berkonsentrasi ke depan. Mereka akan memulai acaranya. Tidakkah kau ingin melihat mereka beraksi di atas panggung?”

Yoona pun mendengus geli sebelum memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kardigannya. Selang beberapa menit kemudian, persiapan acara pun selesai. Para undangan dan penghuni panti mulai duduk di tempat yang telah di sediakan. Suasana nampak sedikit lebih kondusif mengingat acara akan segera dimulai.  Siwon mencuri pandang ke arah Yoona yang sedang menengadahkan kepalanya untuk melihat langit malam yang cerah. Bulan pun nampak bersinar dan ditemani bintang yang berserakan menghiasi di sekitarnya. Yoona tersenyum lembut, “indah, bukan?” Gadis itu menatap Siwon. Tak ada jawaban yang diberikan Siwon selain anggukan samar. ” Aku tahu ini adalah pengalaman pertamamu bergabung dalam acara sosial seperti ini, aku cuma berharap kau bisa menikmati pertunjukan ini.  Malam ini sangat special. ”

Siwon mendengus samar lalu ia pun menaruh perhatiannya ke arah panggung. Perayaan ulang tahun ke sepuluh tahun ini sangat spesial, jika sebelumnya panti hanya mengadakan acara makan bersama saja maka kali ini sungguh berbeda. Mereka mengadakan pertunjukkan bakat dari para penghuni panti, meniup kue dan berfoto bersama di akhir acara.  Para pengurus panti mengundang beberapa donatur tetap dan perwakilan dinas sosial. Siwon melipat lengannya dan menyandarkan punggugnya. Ia dan Yoona duduk di bangku paling belakang. Beruntung sekali, kali ini, cuaca sungguh mendukung, langit malam nampak cerah dan masih belum terlalu dingin, jadi acara perayaan ulang tahun panti ini bisa terlaksana sesuai dengan recana.

Yoona memberikan tepuk tangan penyemangat saat ia melihat temannya Park Chorong memasukki panggung. Temannya itu akan menjadi pembawa acara malam ini. Terlihat di sana Chorong melambaikan tangan malu-malu ke arah Yoona sebelum membuka acara ini.

Seperti inilah, Siwon hampir-hampir tak bisa merasakan dirinya. Mungkin tadi ia sedang merasa kesal karena video itu, namun saat beberapa kali melihat Yoona yang nampak semangat mengikuti acara pembukaan ini, membuat Siwon merasakan sesuatu menjalar di hatinya. Siwon tergerak. Hatinya terasa hangat  hanya dengan berada di dekat gadis itu dan Siwon merasa sudah lama sekali tak melihat langsung gadis itu tersenyum seperti ini.

“Hei,” Siwon menyiku Yoona. Gadis itu pun menatapnya dengan alis terangkat. “Jika kau berhasil membuat pertunjukkan ini berhasil dan membuatku terkesan, aku akan mengkuimu sebagai event organizer  ulung! “

“Hah?” Ada senyum aneh nampak di paras manis Yoona.  Yoona melipat lengannya, terlihat sedang memikirkan sesuatu dan kemudian menatap Siwon, ” pegang kata-kataku ini, kau tak akan menyesal melihat ini.  Mereka telah berlatih cukup keras untuk hari ini.”

“Oke. ”

Yoona menatap lurus ke panggung beberapa saat sebelum membuka suara, “aku jadi berfikir jika acara ini benar-benar behasil, mungkin saja aku bisa menghasilkan uang lebih banyak karena ini. ” Karena ucapan konyol itu, Siwon terpancing dan tertawa setelahnya. Namun, Yoona tak terlalu mempermasalahkan nada tawa Siwon yang mengejek.  ” Dan harus ku akui, bahwa kau juga seorang pemikir ulung! terimakasih telah memberiku ide.”  Yoona menepuk-nepuk kepala Siwon. Terkadang memang gadis satu ini tak tahu diri. “Kalau kau berpikir seperti itu, maka kau harus melepaskan seluruh otot kesalmu. You just need relax dan lihat apa yang bisa mereka l….”

Siwon memotong ucapan Yoona dengan mencupit sebelah pipi Yoona. “Ya…”

Siwon tertawa kecil. “You talkin’ too much today.” Yoona pun nepis tangan Siwon.

“Ah terimakasih sudah mengingatkanku. Dan aku lupa mengatakan sesuatu padamu,” Siwon membuat muka tanya. Ada senyum jahil yang nampak di wajah Yoona. Siwon menaikkan satu alisnya. ” Nyonya Ma meminta tampil malam ini, ia akan bermain gayaeum sambil berpuisi.”

“Hah?”

Yoona menahan tawanya, ” kau tahu sebelumnya Nyonya Ma tak berniat melakukannya namun sejak bertemu denganmu hari ini, beliau ingin menampilkan dirinya untuk membuatmu terkesan. ” Seketika wajah Siwon berubah pucat. Siwon memijat kepalanya.

Siwon tak mungkin melupakan hal yang telah dilakukan Nyonya Ma padanya. Saat itu Siwon hanya ingin mengajak Nyonya Ma untuk makan siang. Namun Nyonya Ma menolak untuk tidak makan. Belaiu nampak sedih saat itu. Binggung untuk membujuk Nyonya Ma, Siwon pun berniat baik saja, ia menanyakan apa yang terjadi? Sebelum bercerita Nyonya Ma menyuruh Siwon untuk duduk bersebalahan dengan beliau di atas ranjang.

Beliau pun membuka cerita, Nyonya Ma mengaku bahwa beliau adalah mantan gisaeng  sebelum menikah dengan suaminya. Awalnya Siwon hanya bersimpati mendengar kisah sedih Nyonya Ma dan Siwon meminjamkan bahunya karena saat itu beliau menangis. Beliau teringat kembali kematian suaminya yang terkena penyakit saat itu. Siwon pun memeluk Nyonya Ma untuk menenangkan beliau. Namun, selama berada dalam pelukannya Nyonya Ma bersikap aneh, ukhh Siwon berusaha untuk tidak mengingat kembali namun akhhh ia merasa bodoh sekali. Ia baru pertama kali bertemu dengan seorang wanita paru baya yang sengat genit seperti Nyonya Ma.

Beruntung Yoona menyelamatkannya saat itu sebelum Nyonya Ma mencium pipi Siwon. Bulu kuduk Siwon pun meremang memingat kembali hal itu. Yoona pun kekikik melihat Siwon nampak mengusab wajahnya. Yoona pun menepuk-nepuk lengan Siwon. “Kau benar-benar tipe Nyonya Ma yang selama ini ia impi-impikan. Kau tahu kau mirip sekali dengan selingkuhan Nyonya Ma dulu.”

Siwon membeku. Merinding. Siwon binggung untuk bersikap saat ini. Ia merasa sangat tolol karena percaya dengan cerita bohong yang telah diucapkan Nyona Ma. Faktanya, suaminya tidak meninggal karena sakit- melainkan Nyona Ma yang memilih untuk meninggalkan suaminya karena tergoda dengan teman suaminya. Akh!!! Tega sekali, bukan? Oh Tuhan. 

“Sudahlah jika kau merasa senang karena kebodohanku terhadap Nyonya Ma maka jangan membocorkan semuanya, biarkan saja aku terkejut hingga jantungku berdebar kencang saat beliau membacakan puisinya.” Yoona tertawa sekali lagi sambil bertepuk tangan puas. Sementara itu Siwon hanya bisa tertawa pahit merenungi ketololannya.

Setelah acara pembukaan dilanjutkan dengan penampilan akustik dari bocah berusia 14 dan 13 tahun, yang memainkan gitar itu namanya Mark dan gadis yang bersuara merdu itu Herin. Mereka membawakan dua lagu dari Justin Bieber- Baby dan Westlife- I Have Dream. “It was so awesome.” Puji Siwon setelah keduanya turun dari panggung. Suara tepuk tangan menemani keduanya hingga ke belakang panggung.

“Iya tentu saja.” Siwon mendengar nada bangga dari ucapan Yoona. Gadis itu melambaikan tangan saat Herin mengintip di balik panggung. Dari kejahuan sana Herin gadis berusia 13 tahun itu membalas lambaian tangan Yoona. Siwon yang melihat hal itu mau tak mau ujung bibirnya tertarik membentuk seulas senyum. Siwon tak sanggup menjelaskan perasaan apa yang sedang ia rasakan, namun ia mulai merasa nyaman. Meski hampir seharian Siwon membantu untuk menyusun panggung kecil itu, memasang beberapa lampu, bermain dengan anak-anak kecil hingga digoda Nyonya Ma – mungkin ini saatnya Siwon melemaskan otot setresnya dan menikmati acara ini hingga selesai.

Pertunjukkan selanjutnya adalah drama putri salju, Yoona terlihat menegakkan dirinya. Yoona menantikan pertunjukkan ini. Para pemain putri salju ini sangat lucu karena mereka terdiri dari anak-anak berusia 6 hingga 12 tahun. Para penonton memberikan tepuk tangannya saat drama dimulai. Peran putri salju saat itu terlihat sedikit gugup namun tetap terlihat bagus. Gadis kecil itu pandai berekspresi dan mengingat dialog dengan benar. Siwon mencuri pandang ke arah Yoona, dilihatnya Yoona terus tersenyum dan sesekali mengacungkan ibu jarinya jika ada pemain yang melihat ke arahnya.

Selama beberapa saat drama berjalan dengan baik hingga pada saat putri salju bertemu dengan para kurcaci. Tuhan, entah mengapa jika melihat anak-anak kecil yang tadinya nampak mengesalkan- yang sukanya berlarian ke sana kemari- jahil padanya dan hampir-hampir membuat Siwon malu dengan kostum ibu peri, namun sekarang Siwon memaafkan meraka. Saat memakai kostum kurcaci mereka terlihat menggemaskan di mata Siwon, apalagi ada salah satu yang lupa dialognya. Siwon terkik karena bocah itu lucu sekali, pipinya yang gembul mengeluarkan rona merah malu. Dan dengan sigap Chorong berlari ke arah anak itu untuk membantu dialognya. Meski begitu Siwon tetap salut, bocah itu tidak menangis- dia tetap melanjutkan dialognya dan ikut bersemangat untuk bernyanyi juga di akhir drama. Siwon dan Yoona ikut memberikan standing applouse bersama dengan penonton lain saat drama itu berakhir.

Setelah para pemain drama turun panggung, Siwon melihat Mark kembali naik sambil membawa gayaeum dan meletakkankanya di tengah panggung. Siwon berdeham gugup. Sudah bisa ditebak acara selanjutnya adalah giliran Nyonya Ma. Siwon mendudukkan dirinya kembali. Ia menjadi sekit salah tingkah.

“Cieee gugup.”

“Diam kau!”

Yoona terus tekikik hingga terlihat Nyonya Ma naik di atas panggung menggunakan Hanbok lengkap. Rambut putihnya kini sudah berubah menjadi hitam dan tak lupa bibirnya dipoles dengan gincu merah membara. Tepuk tangan riuh dari penonton mulai terdengar dan beberapa anak panti yang sudah tampil ikut bergabung untuk menonton Nyonya Ma.

Sebelum memulai, Nyonya Ma nampak sedang mencari seseorang. Mengetahui hal itu Siwon sedikit mengalihkan pandangannya pura-pura tidak melihat. Namun sayang sekali, Siwon salah, Nyonya Ma sudah menemukannya. Seulas senyum genit muncul kembali di wajah tua Nyonya Ma. Oh Tuhan! Setelahnya Nyonya Ma membungkukkan sedikit tubuhnya untuk memberi hormat layaknya seorang gisaeng jaman dulu. Setelahnya beliau duduk dengan anggun.

Nyonya Ma pun mulai memainkan gayaeum. Suara senar dari gayaeum terdengar sangat khas dan di tengah-tengah permainan musik kuno itu, Nyonya Ma melantunkan puisinya. Jangan ditanya, puisinya memang sangat menyentuh sekali, penonton seakan terbius dengan puisi itu. Berbeda dengan Siwon dan Yoona. Setiap bait yang terucap dari bibir merah Nyonya Ma membuat Siwon ingin mual- jujur puisi itu berisi tentang perasaan seorang wanita yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama, wanita itu juga menjalaskan bahwa pria itu sangat baik meminjamkan bahu untuk bersandar. Rasanya Siwon ingin meleyapkan dirinya.

Sedangkan Yoona berusaha keras untuk tidak tertawa, perutnya sampai sakit. Sungguh ini pemandangan yang sangat lucu. Baru pertama ini Yoona melihat wajah Siwon pucat seakan melihat hantu. “Oh Tuan Choi sungguh pesonamu tak sanggup terelakkan, Nyonya Ma sungguh sedang jatuh cinta padamu.” Goda Yoona.

“Bunuh saja aku sekarang!”

Akhirnya penampilan Nyonya Ma berakhir, banyak penonton yang memberikan tepuk tangan, Siwon pun ingin memberikan tepuk tangan namun ia mengurungkan niatnya karena Nyonya Ma sedang mentapnya dan kemudian wanita tua itu mengerlingkan mata ke arah Siwon. Seketika Siwon membeku yang terdengar hanya suara tawa Yoona yang menyebalkan.

“HAHAHAHAHAHAHAHAH.”

“NYONYA MA JJIANGGG.”Yoona memang tak tahu malu, gadis itu sengaja berteriak untuk mengejek Siwon yang sedang lemas sekarang. Nyonya Ma pun tersenyum ke arah Yoona dan kemudian turun dari panggung.

Setelah Nyonya Ma turun dari panggung, Siwon masih belum bisa merasakan dirinya, ia merasa masih seakan tak percaya dengan apa yang telah terjadi padanya. Ia baru menyadari bahwa ada seseorang yang mencintainya, tapi bukan oleh seorang gadis normal lainnya, maksudnya ini …dia dicintai oleh seorang wanita yang hampir berusia 80 tahun. Yang benar saja! Tuhan cobaan macam apa yang telah kau berikan padaku?

Belum lagi Yoona yang sekarang menatapnya dengan tatapan jahil, gadis itu benar-benar ahli sekali untuk membuat segalanya semakin lengkap. Semakin membuat perasaan Siwon teraduk. Perut Siwon jadi sedikit perih mendapati kenyataan pahit itu. Terdengar suara kekehan menyebalkan dari Yoona. Gadis itu menyikunya sekali lagi, “tak ingin mengucapkan sesuatu pada Nyonya Ma hmmm, dia melihat ke arahmu terus tuh.” Yoona membuat gesture dengan kepalanya agar Siwon melihat ke arah bangku depan.

Ingin sekali Siwon membungkus Yoona ke dalam mangkuk dan membawanya pergi dari sini. Persetan dengan segala perayaan ini. Sungguh Siwon merasa sangat sagdgakjgdbajhdai tak sanggup di jelaskan lah pokoknya. Siwon tak sanggup mengontrol dirinya, sedikit-dikit ia mencuri pandang ke arah dimana Nyonya Ma duduk dan di sana wanita itu melambaikan tangannya. Siwon mual. Sungguh Siwon geli sekali saat ia harus membalas lambaian tangan ke arah Nyonya Ma.

“Puas kau!” Sekali lagi Yoona tertawa sambil memegangi perutnya, tanpa banyak bicara pun Siwon tahu gadis itu benar-benar senang. Siwon gemas sekali melihat Yoona yang tertawa tak tahu diri di sampingnya dan Siwon tak sanggup menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi Yoona. Untuk sejenak Yoona berhenti tertwa.

“Ya…!”

Siwon masih mencubit pipi Yoona dan sedikit mendekatkan wajahnya,” kau memang manis saat tersenyum atau tertawa, tapi tidak untuk hari ini. Kau nampak menyebalkan hari ini, Yoong!

Yoona menghempaskan kedua tangan Siwon, gadis itu itu mendecih dan kemudian melayangkan pukulan di lengan Siwon. Tak ada reaksi dari Siwon, pria itu hanya menatap ke depan. Melihat persiapan pertunjukkan selanjutnya. Yoona memijat pipinya sebelum membuka suaranya, ” jangan menyalahkanku bersikap seperti ini, aku banyak belajar padamu tentang bagaimana menjadi seseorang yang menyebalkan sedunia.” Memang sangat hiperbola sekali ucapan gadis itu hingga Siwon menolehkan kepalanya untuk menyimak perkataan gadis itu.

Siwon menghembuskan nafas tak percaya, Siwon melipat lengan di dadanya. Menatap Yoona dengan tatapan intimidasi untuk membuat nyali Yoona menciut , namun ia salah. Gadis itu juga melakukan hal yang sama, Yoona menyipitkan matanya bahkan gadis itu sangat siap untuk melakukan peperangan jika diperlukan. ” Kau… ”

“Apa?” Yoona menaikkan sedikit dagunya. Untuk sepersekian detik keduanya saling melempar tatapan mematikan. Siwon tak ingin mengalah kali ini, biarlah ia dicap sebagai pria yang kenak-kanakan atau apapun itu. Ia tak perduli, ini seperti pertarungan harga diri. Siwon tak ingin dilecehakan lagi oleh Yoona. Siwon tak ingin reputasinya rusak, kemana Tuan Muda Siwon yang selalu menang mendapatkan apapun hmmm? Kemana perginya segala bentuk kekuasaan dan wibawanya pergi? Apa karena ingin meminta maaf hingga membuatnya melupakan siapa sebenarnya Choi Siwon hmmm? Kesabaran Siwon sudah habis. Permainan ini akan berakhir!

“Ingat K…”

LHAP!

Siwon terkejut. Ia terdiam menyadari segala penerangan padam. Yang tersisa hanya penerangan di atas panggung. SIAL! Siwon mengumpat kesal. Ia tak sanggup melihat ekspresi Yoona dengan jelas. Namun ia tahu, setelah lampu penerangan padam baik dirinya dan Yoona segera mengalihkan pandangan ke arah panggung. Di sana nampak seperti pertunjukkan boneka. Entah pertunjukkan apa yang akan di tampilkan. Siwon berdeham menyandarkan kembali punggungnya.

“Kau selamat karena ini.”

“Maksudmu?”

“Iya kau selamat tadi aku ingin membalasmu. Karena kau sangat menyebalkan hari ini.”

“Ah dasar kenak-kanakan. ”

“Memang. ”

“Ah tentu kau sangat bangga dengan sikap kenak-kanakanmu hmm.”

“Tentu. Dan mungkin lain kali aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membalasmu seperti tadi.”

“Ha..ha.. ha… memang apa yang bisa kau lakukan, Tuan Muda?” Yoona membuat-buat suaranya.

Tanpa perlu melihat gadis yang ada di sampingnya, Siwon tahu Yoona pasti sedang memamerkan wajah jahilnya. Hari ini gadis itu benar-benar puas mengoda hingga menertawakannya. Rasanya berat mengungkapkan bahwa sebenarnya Siwon rindu dengan suara tawa Yoona. Siwon menatap bayangan samar Yoona, ” banyak hal, apa kau tak tahu siapa Choi Siwon huh?”

Terdengar suara tawa tertahan dari Yoona, ” kau sungguh menggelikan.” Yoona pun mendorong lengan Siwon dan tertawa kecil karenanya.

Meski tak ada niat untuk tertawa, Siwon pun tak sanggup menahan dirinya untuk tidak tertawa. Jika dipikir-piki kalimatnya itu memang sangat mengelikan. Tawa keduanya pun reda saat pertunjukkan boneka Paman Kim dimulai. Kini Siwon baru tahu, ternyata pertunjukkan boneka itu menceritakan sosok Hong Gil Dong, dulu kakeknya pernah menceritakan tokoh pahlawan itu. Siwon pun mulai menyimak pertunjukkan itu.

“Kau tahu, aku dan Ronggiee yang membantu Paman Kim untuk menjahit baju dan beberapa tokoh boneka-boneka itu.”

Siwon mendekatkan dirinya ke arah Yoona, ” ah kau memiliki bakat lain juga hmmm buka toko jahit saja.” Seketika Siwon mendapat pukulan dari Yoona. Siwon meng-aduh. Memang sih itu bukan pujian, Siwon mengatakannya dengan nada yang menyebalkan.

Siwon mendengar Yoona mendecih dan kemudian gadis itu nampak seperti sedang menatap panggung. Saat itu para penonton juga terhanyut dalam pertunjukkan boneka Paman Kim. Memang terdengar sangat menghibur, Siwon sempat terbawa kembali pada masa kecilnya. Untuk sejenak Siwon merindukan kakeknya. Siwon tak sanggup menghindar ketika kenangan itu membawanya masuk ke dalam peristiwa kecelakaan tambang itu. Imbas dari kecelakaan itu tak hanya menimpa keluarganya saja, namun yang lebih parah adalah korban tambang beserta keluarganya. Hati Siwon terasa perih. Ia tak memungkiri bahwa beberapa anak-anak saat itu kehilangan ayahnya atau bahkan kehilangan kedua orang tuanya. Siwon menundukkan kepalanya sebelum perlahan menatap siluet Yoona. Nafas Siwon sempat tertahan sebelum membuka suara, “Yoong maafkan aku.”

Untuk sejenak segalanya terasa melambat, suara pertunjukkan boneka pun tak terdengar begitu jelas. Siwon berusaha keras untuk menahan perihnya sembilu yang menusuk hatinya. “M-maksudmu? Maaf untuk apa?” Hanya itu yang sanggup di dengar oleh Siwon. “K-kau tak apa?”

Siwon merasa Yoona sedang mendekatkan dirinya , ada sedikit gerakan Yoona yang nampak mulai mengkhwatirkannya. “Ah iya, aku baik-baik saja.” Siwon segera mengendalikan dirinya. Siwon mengepalakan jemarinya yang bergetar. “Aku hanya ingin m-memin..” Siwon menggantung kalimatnya, ada hal yang tak sanggup ia ungkapkan. Tidak. Ia tak ingin mengunngkapnya. Ia takut gadis itu pergi saat mengetahuinya. ” Aku ingin meminta maaf atas sikap jahilku saat kencan minggu l-lalu.”

“Hah?”

Jantung Siwon bergemuru. Siwon menghembuskan nafas samar dan mencari kalimat yang tepat untuk menutupi dirinya. ” Iya, aku tahu kau kecewa karena aku tak menciummu waktu itu kan?”

“Apa?” Siwon mengusab wajahnya dan selang beberapa detik Siwon merasakan bahunya di pukul oleh Yoona. Iya Siwon pantas untuk mendapatkan pukulan itu. ” Yah! Dengar kata-kataku, aku tidak kesal karena hal itu, yang aku kesalkan adalah sikap jahilmu yang keterlaluan. Kau sungguh kelewatan Choi Siwon!” Siwon menganggukkan kepalanya mendengarkan curahan hati seorang Im Yoona. Setelahnya gadis itu melipat lengan dan membuang mukanya.

Siwon menghela. Masih ada hal yang mengganjal di hati Siwon namun sesegera mungkin Siwon mengalihkan perasaan itu. Siwon membasahi bibirnya sebelum berucap, ” iya maka dari itu, aku meminta maaf sekarang. ” Siwon mengulurkan tangannya ke arah Yoona.

Siwon harus menunggu beberapa detik sebelum Yoona membalas uluran tangannya. Siwon menudukkan kepalanya hingga Yoona melepaskan tautan tangan mereka. Siwon tersenyum kecil. Baginya selama ini hanya ada satu wanita yang selalu mengisi hatinya, yaitu Hwe Ji. Namun hal itu tergantikan oleh sosok seorang gadis yang bahkan tak masuk dalam perhitungan Siwon. Siwon bahkan tak tahu sejak kapan gadis itu memeran peranan penting di dalam hatinya. Selamanya Siwon tak ingin ada yang berubah dari hubungannya dengan Yoona. Selamanya ia ingin Yoona ada di sisi. Maka dari itu menyimpan segalanya adalah hal yang tepat untuk dilakukan. Ia tak ingin Yoona pergi meninggalkannya.

“Tanganmu terasa dingin, kau tak sedang sakit atau…” Suara Yoona terdengar khawatir.

“Efek puisi Nyonya Ma.” Yoona mendengus geli mendengar jawaban asal Siwon. Untuk beberapa saat, Siwon membiarkan Yoona mengatainya hal-hal yang berkaitan tentang Nyonya Ma. Siwon hanya tersenyum canggung. Siwon pun menatap langit malam sejenak sebelum membuka percakapan baru, ” ahh iya, acara pernikahan Jung So Hyung akan berlangsung minggu depan. Apa kau bisa menemaniku menghadirinya?”

Cukup lama Yoona menanggapi ajakan Siwon. Gadis itu nampak terdiam di posisinya dengan kepala tertunduk. “Apa H-Hwe Ji Eoni hadir juga?”

Siwon terjekut dengan pertanyaan Yoona. Siwon mengarahkan tubuhnya sedikit ke arah Yoona, ” iya dia akan datang.”

“Ah, dia tegar sekali, jika aku jadi dia mungkin aku tak akan datang.” Lirih Yoona. Siwon tak sanggup mengartikan sikap Yoona, gadis itu seakan bersikap sedikit lebih menjauh ketika ia menyinggung tentang Hwe Ji.

“Kau tak kalah tegarnya dari dia, Yoong.” Siwon sanggup merasakan gadis itu seakan terhenyak dari posisinya. Siwon tak sanggup menatap jelas bagaimana air muka yang Yoon tunjukkan kali ini, namun Siwon sanggup merasakan tatapan terkejut Yoona. Gadis itu seakan membutuhkan penjelasan darinya. Siwon tersenyum.” Iya, kau adalah wanita yang tegar. Kau berdiri dia atas pijakan kakimu sendiri. Menentukan tujuan kemana kau akan pergi. Melakukan apa yang benar-benar kau inginkan. Kau seakan percaya diri menghadapi hari-harimu dengan senyum manis itu.” Siwon membelai pipi kiri Yoona lembut. Mata keduanya bertemu. Siwon tersenyum lembut. Siwon tak sedang berbohong dengan apa yang ia katakan. Itulah sebagian perasaannya yang ditujukan untuk Iim Yoona seorang.

Siwon mendekatkan dirinya hingga ia sanggup melihat bibir merah Yoona. Siwon merasakan deru nafas Yoona. Gadis hanya terdiam tak ada penolakan yang ditunjukkan. “Hingga membuatku ingin berada di sisimu.” Bisik Siwon memjamkan matanya. “Untuk menjagamu dan menjadi sandaran disaat kau lelah….”

LHAP!

Gerakan Siwon terhenti. Lampu penerangan menyala begitu saja diiringi dengan suara tepuk tangan dari penonton. Siwon membeku. Perlahan Siwon membuka matanya dan melihat Yoon dengan jarak yang dekat. Mereka hampir berciuman. Keduanya saling memandang. Keduanya masih merasakan deru nafas yang tak normal. Keduanya masih membutuhkan waktu untuk memahami apa yang telah terjadi. Jika saja penerangan masih padam, mungkin saja….

Siwon tersadar dari lamunannya saat Yoona memberikan pukulan kecil di bibir Siwon. Gadis itu menunjukkan senyum aneh yang tak pernah Siwon tahu. Senyuman Yoona saat itu memiliki arti tersendiri, entah apalah itu. Siwon pun kembali pada dirinya sendiri, ” aku tak akan jatuh oleh perangkapmu untuk kedua kalinya, Tuan Muda!” Yoona menjauhkan dirinya. Dan tertawa setelahnya.

Siwon menyandarkan punggungnya pada bantalan kursinya. Hilang sudah harga dirinya. Hari ini Siwon benar-benar sangat murah sekali, ia menurunkan segala egonya pada gadis di sampingnya itu. Lihatlah, Yoona tak henti-hentinya menertawakannya. Gadis itu nampak senang. Menikmati kemenangannya. Dan bahkan menjulurkan lidahnya seperti anak kecil untuk mengatai Siown. “WEEEEKKKKKK! Hahahahahah.”

Siwon membuang nafasnya- mengalihkan pandangannya. Perasaannya bercambur baur. Antara malu, kesal dan yah… AKKHHHHH TUHAN.

 

 

Bonus pict :

Ini pas Siwon pacaran sama Nuna-nya 💕

Ini pas Siwon pacaran sama Nuna-nya 💕

Hwe Ji ☺ Cantik banget ya

Ini Siwon dengan muka jeleknya 😂 senyumnya maksa abis, ya kurang lebih gitulah wajahnya Siwon pas ngikutin Yoona seharian di panti 😝

Ini Siwon dengan muka jeleknya 😂 senyumnya maksa abis, ya kurang lebih gitulah wajahnya Siwon pas ngikutin Yoona seharian di panti 😝

 

Previous/ Next 

Advertisements

19 thoughts on “MISS TAXI – 5

    1. Iya kalau di wattpad aku pisa2 gitu jadi gini kalau di blog part 1 full dan di wattpad aku pisah jadi 2 part yaitu 1 dan 2 gitu.
      Kalau di sini part 5 itu gabungan dari part 9 dan 10 di wattpad, chinggu~

      Kamu baca di wattpad juga ya 😄 kayak enggak asing gitu nama usernya
      Sekali lagi makasih ya sudah baca miss taxi ini

      Liked by 1 person

    1. Iyaaa aku aja enggak percaya ini bisa lanjut. Ini semua ya karena kalian yg udah ngasih dukungan dari miss taxi 1 sampai skrng heheheh makasih ya ^^ aku baru tahu kalau para YooWoon Shipper itu banyak dan baik2 ya ❤

      Iyaaa Siwon juga punya rasa buat Yoona ^^ Iya semoga pertanyaan kamu terjawab di chapter terakhir.
      Sekali lagi makasih ya^^

      Liked by 1 person

  1. Penasaran sama penyebab kematian ayah nya yoona, knpa siwon selalu minta maaf apa dia ikut terlibat?
    Sumpah ngakak pas bagian yoona ngegoda siwon sma nyonya Ma 🤣🤣🤣 gak kebayang muka nya siwon kek gimana sumpah wkwkwk , kencan yg tak terduga…
    Semoga mereka bisa saling jujur sama perasaan masing2 😁

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s