Friendship · One Shoot · Slice of Life · Teen · Uncategorized

Seungkwan’s


IMG_20170807_172408

 

Seungkwan’s

 

 

a story by ts_sora

 

SVT’s Boo Seungkwan | OC’s Wish

 

Slice of Life, Friendship

 

Teen

 

Oneshoot

 

 .

 

 

.

 

 

.

 

 

Sore hari. Sore hari adalah salah satu hal yang begitu Seungkwan sukai selama ini. Karena mengapa tidak? Seungkwan sangat menyukai menghabiskan waktunya di luar saat sore hari. Mencium angin sore yang begitu menyegarkan baginya, juga memandangi matahari tenggelam yang hanya bisa kau lakukan pada sore hari. Jadilah Seungkwan sangat bersemangat jika sore hari datang, apalagi saat teman sebangkunya—Joshua memintanya untuk bersepeda.

 

“Ayolah, Wishie, kau tahu Joshua sudah menunggu kita sedari tadi!” pekik Seungkwan yang melangkah ringan. Hatinya begitu senang saat ini. Berbeda jauh dengan gadis yang berjalan cukup jauh di belakangnya, Wish. Nyatanya gadis itu menekuk wajah saat Seungkwan baru memberitahunya tujuan mereka keluar sore ini.

 

Sebenarnya tak ada yang salah bagi Seungkwan. Ia hanya ingin mengajak sahabatnya tersebut sekedar menghabiskan sore bersama dan gadis itu bersedia dengan senang hati. Ya, sebelum Seungkwan memberitahunya bahwa ia akan bersepeda—dan ia lupa bahwa Wish tidak bisa mengendarai sepeda.

 

Toh, Seungkwan tidak bermaksud mengerjai Wish atau semacamnya. Ia hanya ingin mengajaknya keluar, sejak Wish mengatakan bahwa ia merasa penat akhir-akhir ini.

 

“Ah, kukira kalian tidak datang,” ujar Joshua yang sudah siap dengan tiga sepeda di sampingnya. “Aku sudah menyewa tiga sepeda untuk kita. Kau bisa menggunakan ini, Wish,” imbuhnya menepuk dudukan sepeda feminine lengkap dengan sebuah keranjang juga boncengan di sampingnya. Wish tersenyum garing saat Seungkwan hanya terkekeh karenanya.

 

Ah, dia juga lupa untuk memberitahu Joshua kalau Wish tidak bisa menaiki sepeda.

 

“T-tapi aku—” Wish yang merasa malu mulai membuka mulutnya. Kiranya ia harus mengatakan bahwa ia tidak bisa mengendarai sepeda dengan baik. Tapi ah, bagaimana jika Joshua akan menertawainya sama seperti Seungkwan?

 

“Baiklah, kalau begitu ayo!”

 

“T-tapi Joshua—” Wish menggantung kalimatnya membuat Joshua menatapnya penasaran sedangkan Seungkwan yang menjadi satu-satunya harapan Wish sudah lebih dulu menahan tawanya yang mungkin sebentar lagi akan pecah.

 

“Tapi kenapa, Wish?”

 

“I-itu—”

 

.

 

.

 

.

 

“Ah, maaf aku baru saja datang.”

 

Ketiga pasang netra lantas tertuju pada sosok laki-laki yang tengah berlari ke arah mereka. Laki-laki itu—Jeonghan tersenyum sebelum ia terdengar terkekeh pelan atas keterlambatannya. Joshua maupun Wish menyunggingkan senyumnya hampir bersamaan, namun berbeda dengan laki-laki bermarga Boo yang entah kini air mukanya berubah drastis.

 

“Aku kira kau tidak jadi ikut kemari.”

 

“Tidak. Aku memang harus pergi ke suatu tempat dahulu tadi,” jawab Jeonghan beralasan. “Ah, Wish—kau di sini rupanya?” ujarnya yang lantas mengalihkan pembicaraan seakan baru sadar kehadiran Wish sebagai satu-satunya gadis di sana. Di tempatnya, Wish hanya mengangguk namun entah mengapa Seungkwan dapat melihat semburat kemerahan yang terlihat kedua pipi sahabatnya tersebut.

 

Ah, harusnya ia tahu, Jeonghan—laki-laki yang tak lain adalah teman sekelas mereka, juga tetangga Wish yang sangat dipuja-puja itu, adalah sahabat Joshua. Jadi tak salah jika ia mengajaknya. Sungguh, Seungkwan tak mempermasalahkan hal itu. Hanya saja—

 

Jeonghan mengusap tengkuknya saat ia mencuri pandang pada Wish yang mengalihkan pandang, diam-diam berusaha menyembunyikan semburat kemerahan di kedua pipinya. Bahkan siapapun tahu apa yang terjadi antara mereka. Ya, entah sejak kapan. Namun ia yakin Jeonghan memang memiliki sesuatu pada Wish.

 

“Tapi sayang, Joshua hanya menyewa tiga sepeda,” ujar Seungkwan mulai membuka mulut dengan seringaian kemenangan miliknya.

 

“Ah, benar. Maaf Jeonghan, lalu bagaimana ini?” ujar Joshua yang balik bertanya.

 

“Tidak apa-apa. Aku bisa membonceng Wish—kalau dia tidak keberatan—would you?

 

Jeonghan menatap Wish yang masih berdiam diri, namun kiranya gadis itu belum sadar jika tiga laki-laki tersebut menunggu jawaban darinya.

 

“Wish?”

 

“A-ah, iya. Aku tidak k-keberatan—” ujar Wish canggung. Kiranya ia tertangkap basah tidak mendengarkan.

 

“Baiklah, ayo!” ajak Joshua yang sudah tidak sabar. Laki-laki itu memang begitu. Ia lantas memilih sepeda lebih dahulu dari yang lainnya. Sedangkan Seungkwan memilih sepeda yang satunya dengan tanpa minat. Matanya masih tertuju pada Wish yang kini menaiki boncengan sepeda yang entah sejak kapan Jeonghan tumpangi. Mereka bahkan terdengar tertawa pelan, yang demi Tuhan bahkan Seungkwan tidak tahu jelas penyebabnya.

 

Melihat Joshua yang semakin menjauh, Seungkwan lantas mengayuh sepedanya lebih keras lagi, namun tetap saja Joshua terlalu cepat—membuat dirinya juga Joshua berada pada jarak yang cukup jauh. Joshua memang seperti itu. Laki-laki itu selalu akan mengayuh sepedanya lebih cepat dan meninggalkan orang yang ia ajak jauh di belakangnya. Ia tak pernah mempermasalahkannya, namun hal yang paling parah adalah dimana Joshua seakan tidak menyadari kehadirannya saat ini!

 

Ah, harusnya ia tak mengiyakan ajakan Joshua untuk bersepeda saat ini.

 

Banyak hal yang perlu Seungkwan sesali saat ini. Yaitu keputusannya untuk mengiyakan ajakan Joshua, juga mengajak serta Wish. Tapi, hey—ada apa dengan dirinya sebenarnya saat ini?

 

Seungkwan menatap belakangnya. Benar saja, Jeonghan dengan sengaja melambatkan laju sepedanya. Dan kini mereka berdua, Jeonghan juga Wish, terlihat berbicara sebelum keduanya terlihat tertawa bersama. Lagi.

 

“Ya!” Seungkwan cepat-cepat menarik rem tangannya saat ia nyaris saja menabrak Joshua yang entah sejak kapan menghentikan sepedanya demi memandangnya. “Ada apa denganmu? Kenapa kau lama sekali?” tanya Joshua terdengar menyalahkan.

 

Tahukah dia kalau dia yang meninggalkan Seungkwan tadi?

 

“Ada apa?” Jeonghan menghentikan kayuhan sepedanya. Dan di sana, Seungkwan dapat melihat Wish yang penasaran menatapnya. “Kenapa berhenti?” tanyanya lagi, seakan ia memang mengikuti Seungkwan juga Joshua daritadi—meski Seungkwan tahu pasti, mungkin Jeonghan akan membawa Wish pergi jika Seungkwan tidak memandanginya sedari tadi.

 

Wish turun dari boncengan sepedanya, diikuti Jeonghan yang lantas turun dari sepeda. Wish lalu berjalan menuju Seungkwan yang masih tak mau bergeming di tempatnya. Wajah penasarannya kini berubah cemas. “Ada apa Wanie?”

 

Seungkwan menghelan napasnya sebentar sebelum ia lantas turun dari sepedanya dan berjalan menuju Wish yang masih menatapnya bingung. Seungkwan masih tak mau berbicara sebelum ia lantas meraih pergelangan Wish lembut dan menggiringnya menuju sepeda yang tadi gadis itu juga Jeonghan gunakan. Memintanya untuk duduk pada boncengan sedangkan Seungkwan sendiri menaiki sepeda feminine tersebut sebelum mengayuhnya pergi.

 

Wish yang kebingungan, lantas hanya terdiam. Ia hanya memandang pasrah kedua temannya yang Seungkwan tinggal begitu saja di belakang. Bahkan Jeonghan maupun Joshua tidak berkomentar saat Seungkwan membawa Wish pergi begitu saja.

 

Seungkwan juga tak mau membuka suara, bahkan kini ia berusaha mengayuh sepedanya lebih cepat, seakan ia sendiri ingin pergi jauh-jauh dari kedua temannya yang berada di belakang. Untuk pertama kalinya, Wish merasa takut saat Seungkwan tak banyak berbicara—seperti hari ini.

 

“Ada apa sebenarnya?” Akhirnya Wish membuka mulut, meski dengan susah payah. Seungkwan yang mengayuh sepedanya, masih terdiam beberapa menit, sebelum laki-laki itu terdengar mendengus kali ini.

 

“When it’s mine, it’s mine.”

 

Wish mengerutkan keningnya. Kiranya ia masih belum paham dengan apa yang dikatakan sahabatnya tersebut.

 

“A-apa?”

 

“I said when it comes about what is mine then it’s mine. And I don’t share what it’s mine,” ujar Seungkwan tegas dan lugas membuat Wish mengatupkan bibirnya saat itu juga. Bahkan saat Seungkwan mengayuh sepedanya lebih kencang lagi, Wish hanya bisa berpegangan pada pinggang laki-laki itu dan memilih bungkam.

 

Entah apa maksud dari apa yang Seungkwan katakan tadi. Namun yang jelas, kali ini—Seungkwan berhasil membuat Wish diam seribu bahasa sedangkan jantungnya berdegup tak menentu. Baginya, Seungkwan itu rumit. Laki-laki itu sering mengucapkan kata-kata rumit yang tidak dapat dinalar. Namun ini pertama kalinya, sahabatnya tersebut membuat dirinya terdiam dan tak mampu untuk berkomentar.

 

Wish mengerutkan keningnya kala kayuhan Seungkwan melambat dan melemah kali ini. Bahkan benar-benar melambat. Beberapa kali ia dapat mendengar napas laki-laki itu yang tersengal.

 

Seungkwan kelelahan.

 

.

 

.

 

.

 

“Wishie, aku tidak tahan lagi. Kau yang bonceng ya?”

 

Wish menghelan napasnya. Atau mungkin sebenarnya Wish terkadang lupa sejatinya siapa laki-laki itu.

 

“Wishie, aku tidak tahan lagi. Kau berat!”

 

“Siapa suruh tadi mengebut! Kau  lupa aku tidak bisa naik sepeda!”

 

“Kalau begitu kau dorong aku.”

 

“Tidak mau!”

 

.

 

.

 

.

 

—fin.

 

 

Advertisements

One thought on “Seungkwan’s

  1. Ih ihhhh aku kezeeeeel begitu jeonghan, yaqin dia pasti bikin suasana memanas 😂😂dan, bener aja kan wannie ngambek wkwk

    But i loveeeeeee it, the ‘it’ s mine’ quotes! OMG, so ramantic!

    And the ending was just as usual, he is back to his self 😂😂 lav yaaa rayaaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s