Chaptered · Drama · Family · Friendship · G · Married Life · Romance

A Man of Yesterday Chapter 2


A Man of Yesterday Chapter 2

Author : nodat_riseuki // Cast: BTS’s Jin | ZE:A’s Siwan | OC’s Jeon Jihyun

Genre: Marriage Life, Drama, Romance,  Family,Friendship

Length: Chaptered

Chapter 1 was written by ts_sora

.

.

“Kau tak bisa menunggu hujan reda, kau lupa kalau kau itu gadis pembawa hujan? Ayo kita pulang.”

.

.

Drrt drrrt drrrrrt

Jihyun menggapai-gapai nakas untuk mematikan bunyi telepon yang mengganggu tidurnya, sekilas perempuan itu melihat jam yang tertera di depan layar telepon, sudah waktunya bangun.

“Yeoboseyo.”

“Apa aku mengganggu tidurmu?”

Jihyun seketika membuka matanya dengan lebih lebar, dia menjauhkan telepon itu dari telinga untuk sekadar memeriksa, dan memang nama suaminya yang tertera di layar.

“Ah, tidak, aku sudah bangun sejak tadi,” Jihyun berbohong.

“Bagaimana tidurmu?”

“Aku bisa tidur nyenyak, terimakasih karena oppa mengijinkan aku pulang ke Hongdae.”

Jihyun menggigit bibir bawahnya setelah mengucap kebohongan demi kebohongan itu, tapi dia tidak ingin membuat suaminya yang sedang berada jauh disana menjadi cemas. Kenyataannya, Jihyun baru saja terbangun dari tidur yang mungkin baru saja lelap selama satu atau dua jam belakangan, karena otaknya terlalu sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan mengenai—kalian tahu—Kim Seokjin.

“Aku bersyukur jika itu yang terjadi.”

Jihyun tersenyum tipis. “Bagaimana kegiatan di Hongkong?”

Obrolan mereka penuh basa-basi, tidak seperti suami istri yang saling mencintai, walau dua tahun telah mereka jalani bersama. Entah Jihyun yang belum membuka hati, atau kah siwan yang terlalu sabar untuk menanti?

“Aku akan kembali seminggu lagi, jaga dirimu, Jihyun-a.”

Jihyun mematikan telepon dan beranjak dari tempat dia tidur, seketika pandangan perempuan itu terpaku ke depan pintu yang terbuka. Kim Seokjin berdiri disana.

“Suamimu baru saja menelepon?”

Jihyun hanya mengangguk menanggapi, tapi ada perasaan aneh yang merangsek ke dalam hatinya—apakah ini tidak enak hati? Terutama setelah memperhatikan rona wajah yang ditunjukkan Seokjin.

Hening, sebelum akhirnya Seokjin berucap, “Aku sudah membuat sarapan, ayo kita makan.”

.

.

.

Jihyun tidak benar-benar bisa menikmati sarapannya—yang terdiri dari roti panggang, telur mata sapi dan dua buah sosis yang dibakar—terutama dalam suasana yang sangat canggung seperti sekarang ini. Seokjin sama sekali tidak bicara dan hanya fokus pada piringnya, hingga akhirnya Jihyun menyerah—tidak, tentu saja Jihyun tidak memulai percakapan terlebih dahulu, perempuan itu justru berdiri dari duduknya hendak pergi.

“Kau belum makan apapun.”

Jihyun memandang Seokjin yang bicara tanpa memandangnya. Jihyun jengah, tapi dia membuat alasan, “Aku belum terlalu lapar. Aku akan mandi dulu dan memakannya nanti.”

Dua langkah dari pintu kamar dan Jihyun merasa dunianya berputar, terutama setelah merasakan eratan tangan Seokjin yang melingkar di pinggangnya dan wajah lelaki itu yang membenam begitu saja di belakang lehernya.

Perlu sepersekian sekon untuk menyadarkan Jihyun dan membuatnya meronta ingin lepas dari pelukan lelaki itu, tapi sekeras dia mencoba, sekeras itu pula Seokjin mengeratkan peluknya.

“Sebentar saja,” bisik lelaki itu.

“Apa kau tahu betapa aku merindukanmu?”

Jihyun tergagap.

“Atau tahukah kau betapa aku—kehilanganmu?”

Seketika bayangan masa lalu itu pun mengerjap di hadapan mata Jihyun, perempuan itu melihat bagaimana ia tertawa dengan lepas, bagaimana Seokjin melontarkan canda tanpa merasa canggung atau malu, bagaimana mereka membicarakan hal-hal konyol tanpa jeda, juga bagaimana mereka saling berbagi bahu untuk menangis, entah ketika Jihyun terjatuh atau saat Seokjin kehilangan kiki—kucing peliharaannya.

Mata Jihyun berkaca-kaca, masih dalam dekapan erat yang diberikan Seokjin. Tapi—seketika itu pula bayangan Siwan yang mengulurkan tangannya pada Jihyun muncul.

Tersentak, Jihyun melepaskan diri begitu saja, dan tanpa menatap Seokjin, perempuan itu masuk ke dalam kamar, membanting pintu dan duduk merosot sembari memegangi dadanya yang entah berdegup karena malu, karena marah atau karena—entahlah.

.

.

.

“Kau mau ke taman bermain hari ini?”

Jihyun menengok ke sebelah kiri, sekadar memastikan bahwa dia tidak salah dengar. Kalimat ajakan itu memang keluar dari bibir Seokjin, padahal setahu Jihyun, lelaki itu tidak begitu menyukai taman bermain, lelaki itu lebih suka menonton film atau baseball selain berdiam seharian di depan komputer kamarnya.

“Kau sedang bercanda?”

“Tentu saja tidak! Ayolah, ku dengar kau ingin kesana. Aku dengan sangat baik menawarimu.”

Jihyun langsung saja mengangguk, takut tawaran itu berlalu begitu saja. Perempuan itu memperhatikan Seokjin sekali lagi, tapi tidak menemukan apapun untuk dicurigai.

.

.

.

“Ayo kita naik itu!” Jihyun yang hari ini mengenakan jeans belel dan kaos berlengan pendek sedang menarik-narik lengan Seokjin yang terlihat berjalan ogah-ogahan, bukan lantaran dia enggan menaiki wahana itu, hanya saja antrian yang mengular di depan membuatnya menghela nafas panjang. Terutama karena permainan ini hanya akan berlangsung selama 3 menit!

“Tidak bisakah kita pergi ke tempat lain dulu? Aku malas mengantre.” Seokjin blak-blakan. Jihyun segera saja mengerucutkan bibirnya, hanya saja dengan mengikuti arah pemikiran Seokjin, perempuan itu akhirnya mengalah dan mereka berjalan menuju meja tantangan.

“Seokjin-a, kau mau coba permainan menembak itu? Kalau menang kau akan mendapat boneka besar itu, kau bisa memberikannya untukku!” Jihyun berucap dengan ceria.

Seokjin melihat-lihat hadiah yang dipajang di meja tantangan, dan matanya tertuju pada sebuah kotak beludru biru yang memperlihatkan sebuah cincin sederhana berwarna putih. Haruskah Seokjin mengincar hadiah itu? Bukankah akan lebih bermakna daripada sebuah boneka?

“Baiklah.”

“Ahjussi, kami  mau main untuk boneka it—“

“Tidak, untuk cincin itu.” Seokjin memotong kalimat Jihyun.

Jihyun hanya mengerjap-erjapkan matanya ketika Ahjussi penjaga meja menjelaskan syarat-syarat dan aturan permainan untuk Seokjin agar bisa memenangkan hadiah yang dia inginkan.

Shoot!”, Seokjin baru saja menembakkan panah pertama ke sasaran yang harus dia tuju, tapi mendengar teriakan Jihyun barusan, dia melotot.

“Ah, kau miss di tembakan pertama Jin-a!”

“Yak! Itu karena kau tiba-tiba berteriak di telingaku! Diamlah, aku harus konsentrasi!”

Jihyun hanya mengerucutkan bibirnya dan menggumam tanpa suara, dia menurut dan akhirnya diam agar Seokjin bisa menang, dia harus berhasil menembak 3 angka sempurna, sementara kesempatan yang dimiliki hanya tinggal 4 kali.

Lima menit pun berakhir dengan hening sebelum akhirnya Jihyun bisa berteriak dan menyelamati keberhasilan Seokjin.

“Kemarikan tanganmu.”

Jihyun mengerjap satu kali dalam tawanya yang membahana tapi menurut dan memberikan tangan kirinya pada Seokjin yang seketika memasangkan cincin yang baru saja dia peroleh ke jari manis Jihyun.

“Ukurannya pas sekali. Aku jadi tahu bahwa kau punya jari yang gendut.”

Baru saja akan tersenyum, Jihyun justru memukulkan sling bag yang dia kenakan ke tubuh Seokjin, tapi lelaki itu hanya tertawa.

Seokjin segera memasukkan tangannya ke saku celana dan berjalan mendahului Jihyun. Perempuan itu menatap punggung Seokjin menjauh dan bertanya-tanya, sejak kapan kah mereka menjadi sedekat ini? Padahal masih jelas di ingatan Jihyun ketika ia hanya bisa memandangi punggung Seokjin yang menjauh seperti hari ini, mendatangi loker pria itu dan memberinya quotes tanpa pernah mengungkapkan jati diri. Semua itu masih terasa seperti terjadi kemarin, tapi ternyata semua sudah berlalu begitu lama.

“Ya! Apa yang kau lakukan dengan berdiam disana? Kita harus mengantre untuk naik wahana itu,” Seokjin meneriaki Jihyun yang mematung di tempat dengan jemari yang menyentuh cincin baru yang menempati jari manisnya.

Perempuan itu akhirnya benar-benar tahu apa yang dia rasakan, dia memang menyukai Seokjin! Dan, cinta yang terang-terangan ternyata lebih menyenangkan daripada cinta sembunyi-sembunyi yang selama ini dia jalani.

Haruskah dia mengungkapkannya pada Seokjin atau haruskah dia menjalani saja apa yang terjadi di antara mereka sekarang ini?

Jihyun tersenyum lebar dan berlari ke arah lelaki yang sudah sejak tadi melambaikan tangannya itu.

BRUKKK!

Jihyun jatuh terjengkang di antara keramaian taman bermain, begitu pula dengan seseorang yang baru saja tertabrak olehnya.

Ouch!” keduanya mengerang bersamaan.

“Kau tidak apa-apa?” bukan suara yang asing, Seokjin sudah bersimpuh di samping Jihyun dan mencoba membantunya bangun, tepat ketika Jihyun berdiri, Seokjin melihat lelaki yang bertabrakan dengan Jihyun.

“Siwanie hyung?”

Lelaki yang membersihkan jeansnya dari debu itu pun mendongak.

“Oh, seokjinie?”

“Oh, itu benar kau! Maafkan temanku, hyung, dia memang ceroboh dan sangat suka menabrak orang-orang, dia bahkan pernah menabrakku hingga terluka parah.”

Seokjin coba mengonfrontasi lelaki itu, yang ternyata kenalannya. Tapi caranya minta maaf terdengar seperti aduan seorang adik kepada kakaknya di telinga Jihyun. Apakah Jongkook juga akan bicara seperti ini jika berada dalam posisi Seokjin? Huh, setiap adik memang tukang adu, batin Jihyun.

“Nee, tolong ma—maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja,” Jihyun maju untuk membela dirinya sendiri dan membugkuk dalam di hadapan Siwan.

Siwan terlihat memperhatikan Jihyun sebelum berkata, “Yah, taka pa, lagi pula tempat ini memang sedang ramai, wajar untuk saling bertubrukan—yah walaupun tidak seharusnya sekeras yang terjadi pada kita”, jawab Siwan yang meminta Jihyun untuk berdiri tegak.

“Aw!”

Jihyun melotot ketika sebuah cubitan mendarat di lengannya yang tidak tertutup.

“Aku sudah bilang agar kau lebih hati-hati. Kau benar-benar ceroboh dan hobi sekali menabrak orang hingga jatuh!” ujar Seokjin.

“Aku kan tidak sengaja!”

“Kau—“

“Hahahahaha”

Seokjin dan Jihyun memandangi Siwan yang tertawa lepas. “Kalian sedang berkencan?”

Eh?

“Tidak!”

“Tidak!”

Siwan menaikkan alisnya dan kembali tertawa ketika Seokjin dan Jihyun menjawab berbarengan. “Baiklah, urusan kita sudah selesai. Silahkan lanjutkan kencan kalian, aku akan pergi.” Siwan menggoda kedua orang itu.

“Hyung!”

“Namaku Im Siwan, aku sunbae Seokjin di kelas akting ketika sekolah menengah”, Siwan mengulurkan tangan pada Jihyun.

“Ah, namaku Jeon Jihyun, teman sekolah dan tetangga Seokjin”.

Siwan mengangguk dan berpamitan, “Baiklah aku duluan, nikmati waktu kalian.”

Kali ini Jihyun memandangi punggung Siwan yang pergi menjauh, hari ini dia masih belum tahu bahwa pertemuannya dengan Siwan bukanlah sesuatu yang tidak disengaja melainkan sebuah takdir yang telah tergaris.

.

.

.

“Noona, apa kau baik-baik saja di rumah?”

Eo. Kapan kau dan eomma akan pulang?”

“Sepertinya kami akan tinggal satu hari lagi, ternyata ada berkasku yang kurang, jadi kami akan mengurusnya saja sekalian di Seoul.”

Jihyun segera terduduk dengan ponsel yang hampir saja jatuh dari tangannya. Dia tidak tahu respon seperti apa yang harus diberikan atas pernyataan adik lelakinya itu. Jika dia dan eommanya masih akan tinggal di Seoul hari ini, itu berarti dia masih harus sehari lagi menghadapi Seokjin di rumah ini, dengan pertanda makan malam yang canggung, juga sarapan esok yang lebih canggung lagi.

Jihyun kembali teringat dekapan yang ia peroleh dari Seokjin pagi tadi, dia menggeleng keras.

“Noona, mianhae. Kami akan membelikanmu oleh-oleh. Baik-baik di rumah ya.”

Sambungan telepon diputus sepihak, Jihyun tahu dia tidak mungkin sepenuhnya menyalahkan Jungkook. Tapi, haruskah dia menyalahkan eommanya karena sudah mengijinkan lelaki itu tinggal di rumah ini?

Tok tok tok

Jihyun tergagap menghadap pintu.

“Jihyun-a, bisa kita bicara sebentar?”

Sudah pasti itu suara Seokjin.

“Jihyun-a.”

Masih bergeming, Jihyun berjalan gontai menuju pintu. Haruskah dia bukakan pintu itu dan bicara dengan Seokjin? Atau haruskah dia tetap diam dan membiarkan keadaan tetap menjadi seperti ini? Toh, mereka juga sudah terbiasa dalam kecanggungan selama lebih dari beberapa tahun.

Jemari Jihyun meraih kunci kamar. Haruskah dia memutarnya atau haruskah dia—

.

.

.

“Aku sudah memikirkan tentang semua kemungkinan yang bisa terjadi jika aku mengatakan hal ini, tapi aku sudah tidak mampu menahannya lagi Jihyun-a, kurasa aku harus jujur dan jadi pria pemberani sekarang.”

Jihyun yang baru saja mendudukkan dirinya di atas sofa mendongak mendengar kalimat cepat yang diucapkan Seokjin.

Jihyun bisa melihat kegusaran di kedua mata yang kini menatapnya intens, tapi perempuan itu juga bisa merasakan tekad dan keseriusan dalam suara lelaki tadi.

“Menikahlah denganku.”

Jder!

“Ap—“

“Aku tahu aku terdengar gila Jihyun-a, tapi pergi ke LA tanpa memberitahumu dan tak bisa mendengar suaramu selama itu merupakan hukuman atas kepecundanganku selama ini! Kau tahu? Ketika bibi memberitahuku tentang pernikahanmu—“

Jihyun bisa melihat air mata yang terbentuk di sudut-sudut mata Seokjin, juga tangannya yang terkepal, juga telinganya yang memerah. Tapi yang lebih Jihyun sadari adalah jantungnya sendiri yang berdebar tak menentu arah, ada rasa senang? Ada rasa gelisah pun sesak yang kini sedang berebut mengisi pikirannya karena pengakuan Seokjin yang begitu mendadak.

“—hatiku hancur.”

Dan menangislah lelaki itu, pemandangan yang tak pernah Jihyun saksikan. Selama ini Seokjin yang dia kenal hanyalah Seokjin yang tenang, kalem dan pintar ketika lelaki itu masih menjadi first love-nya, dan adalah lelaki yang menyebalkan tapi bisa diandalkan ketika tetangganya yang tiba-tiba menjadi sahabat baiknya itu selalu ada untuk Jihyun, kemudian dia berubah menjadi lelaki pengecut yang brengsek karena menghilang begitu saja dalam kata-kata manis palsu yang sebelumnya dia ucapkan dengan kedua bibir pucat itu.

Tapi sekarang, bibir pucat itu bergetar dan air mata itu mengalir deras.

Jihyun masih tak bisa berucap apapun, pikirannya berkelana dan otaknya coba mencerna kalimat-kalimat yang baru saja ditembakkan seokjin.

Apakah Jihyun masih menyukai Seokjin? Itukah kenapa hingga sekarang ia masih belum bisa memaafkan lelaki itu? Karena ia mencari-cari alasan untuk tidak melupakan lelaki itu? Toh bagaimanapun cinta pertama memang tidak bisa terlupa, ‘kan?

Lalu apa yang Jihyun katakan telah ia lupakan?

“Jihyun-a—“

“Brengsek,” Jihyun berujar lirih dan berdiri dari duduknya.

“Kau—bagaimana kau bisa mengatakan hal itu padaku?!” Jihyun menatap mata seokjin dengan marah, tangan kanannya dengan refleks memegangi kalung yang ia kenakan, perempuan itu menarik kalung itu dari lehernya, memperlihatkan cincin yang tergantung sebagai bandulnya dan melemparkannya dengan keras ke dada Seokjin.

“Kau—,” kali ini Jihyun sudah mulai ikut terisak.

“Jihyun-a”

Kau adalah sampah Kim Seokjin! Bagaimana bisa kau memintaku menikahimu ketika kau tahu aku sudah bersuami? Bagaimana bisa? Dan dia—“ Jihyun menarik nafas, “dia adalah seseorang yang kau kenal, suamiku!”

Jihyun merasa otaknya mulai berpikir dengan logika, perasaannya yang terkejut dan tersakiti rasanya sudah sekarat.

Kim Seokjin yang dia tahu ternyata bukanlah kim seokjin yang dia tahu, dia tak pernah tahu sisi pengecut seokjin hingga saat lelaki itu pergi tanpa pamit, dia juga tak pernah tahu keegoisan dan betapa brengseknya lelaki itu karena masih berani memintanya menjadi istri dalam suasana seperti ini.

Wah—Jihyun benar-benar tak habis pikir.

“Jihyun-a”, dengan mata yang masih berair Seokjin memberi pelukan pada perempuan yang selama ini ternyata juga merupakan cinta pertamanya.

Tapi, kali ini Jihyun meronta sekuat tenaga untuk lepas dari dekapan Seokjin. Perempuan itu kini merasa jijik, pada Seokjin yang ternyata—jauh dari seseorang yang dia kenal, juga jijik pada dirinya sendiri—yang ternyata dengan sia-sia memikirkan seseorang yang sepengecut ini dengan menyiakan kasih yang diberikan Im Siwan selama ini.

Di luar langit Hongdae ternyata menggelap dan hujan mulai turun.

“Jeon Jihyun. Aku hanya mencintaimu dan aku akan memperjuangkanmu mulai sekarang. Aku akan menjadi seokjin yang kau cintai dan hanya mencintaimu, bukankah ini impianmu juga? Bukankah kau yang selalu menempelkan post it berisi kalimat-kalimat penuh cinta itu padaku? Bukankah hingga kini kau bahkan tak bisa melupakan aku? Jihyun-a—“

Jihyun merinding mendengar hal itu. Sejak dulu, ternyata Seokjin tahu segalanya? Entah karena alasan apa, dia memilih mengambil beberapa langkah menjauh dari Seokjin.

“Kau—“

Drrt. Drrrt. Drrrrrt.

Jihyun memalingkan wajahnya ke atas telepon genggam yang ia tinggalkan di atas sofa, ada nama suaminya di daftar panggilan masuk.

Jihyun tidak tahu apakah ia harus mengangkat telepon itu atau tidak.

Jihyun melirik pada Seokjin, air mata lelaki itu sudah kering dan bibirnya pun sudah tak bergetar, Jihyun bisa melihat lelaki itu maju dan mengambil telepon genggamnya.

Drrt. Drrrrrt. Drrrr—

“KYAAAAAA—“

Seokjin membanting telepon genggam Jihyun.

Lelaki itu kini memaku maniknya pada Jihyun yang semakin mundur menjauh, tepat ketika perempuan itu terlihat akan berlari masuk ke kamarnya, Seokjin meraih tangan Jihyun.

“Lepaskan aku! Kim Seokjin kau sudah gila!”

“Jihyun-a, ku mohon dengarkan aku!”

Perempuan itu terisak, tangannya terasa sakit, otaknya sedang tidak bisa berpikir dengan jernih, hatinya tak karuan. Perempuan itu sedang tidak ingin mendengar apapun dia juga tidak sanggup mengucapkan apapun, dia hanya mampu terisak.

Duarr

Suara halilintar yang menyambar itu mengagetkan Jihyun lagi, suasana macam apa ini? Padahal tiga puluh menit yang lalu hidupnya masih normal.

“Menikahlah denganku, Jihyun-a, aku yang akan mengurus segalanya. Lupakan hyung.”

Jihyun melotot.

“Kau mau, ‘kan?”

Jihyun berharap siapapun atau apapun mengeluarkannya dari situasi ini.

“Jawab aku, Jihyun-a!”

Jihyun memejamkan matanya ketika tangan Seokjin yang bebas seperti akan menamparnya, dalam hati dia masih berdoa agar ada yang menyelamatkannya dari situasi canggung yang aneh ini, dia berdoa—

 

 

Tok tok tok

 

—dan sepertinya, doanya dijawab.

 

TO BE CONTINUE

 

a/n : okay, I knew this was just so different from sora’s and the last minute writing-maybe-you’ll think that I made up the plot to be so fast ended, but yeah, that’s what I do! Cause what? Cause–not gonna tell you, merong :p hehe. I also knew that the first chapter was uploaded loooooooooooooooooong time ago, so, please just enjoy it! And the feedback tho-so, she (or us) can end it in the 3rd chapter (or more) as awesome as all you and we want. Okay. Just. Annyeong. Mianhaeyo /bow/ merong :p

Advertisements

3 thoughts on “A Man of Yesterday Chapter 2

  1. Chukkae! Finally you’ve finished it! And.. Lmao genrenya brubah Thriller dalam sekejap :”) kok pendek kali, pandangan dong ya :’) ini unexpected banget. Dari chapter 1 trs ke chapter 2, seokjin gila kalem2 sesuatu :’) aku kra bakal selsai di chapter ini. Tapi ternyata aku harus nerusin, kudu aku apakan ini :’)
    Dan gotcha! Saya juga merasakan bagaimana kelimpungan buat ngelanjutin cerita Hihihi. Semoga kita bisa bikin kolab untuk slanjutnya lmao.

    Like

    1. Yuk lah kalo draft chapter 3 nya udah jadi nanti send aku dulu biar aku tambahtambahin, oya masukin ke wattpad ajaa kayanya pembaca moy di wp banyakan ya? Hahah :””) mian lah pokonya untuk tiba tiba keluar jalur dan pendek (pdhal udh 10 halaman word loh)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s