FF Project · Ficlet · fluff · G · Genre · Giveaway Project · Length · Moment · Rating · Sweet

[Love Is Moment] Analogi Sempurna


[Love Is Moment Project] Analogi Sempurna

Written by Airly Aeri © 20170617

Main cast by Kim Doyoung [NCT’s], Emerald Lee [OC]

Moment :Sweet | Genre : Fluff | Rating : General | Length : Ficlet (837 words)

Airly just has this plot.

***

“Kau tidak sempurna.”

.

“Kenapa kau bisa menyukaiku?”

Pertanyaan random milik Emma pada suatu tempo hari, seketika membuat Kim Doyoung terdiam dan kehilangan fokus untuk beberapa waktu. Hanya sepatah kalimat tanya, tetapi mampu membuat lelaki itu merasa terusik tanpa sebab yang pasti.

Emerald Lee—atau lebih akrab dipanggil Emma—adalah teman satu angkatan di sekolahnya, Emma adalah gadis tenang yang memiliki sahabat lelaki yang begitu melindunginya, dan semua hal yang Doyoung ketahui mengenai Emma adalah hasil dari ia lihat sendiri.

Lagipula Emma bukan tipikal orang yang suka menceritakan dirinya secara blak-blakan, ia hanya akan bercerita jika ditanya. Itu pun hanya seadanya tanpa perlu dilebihkan.

Lelaki itu mencoba mengingat kebelakang, mereka ulang bagaimana kekasihnya dulu menerima cintanya. Sebenarnya bagi Kim Doyoung yang ia nyatakan dulu bukan cinta, tetapi perasaannya yang begitu menggebu-gebu untuk melindungi si gadis bagaimana pun caranya membuatnya mengambil langkah ini.

Kalau bukan perasaan cinta, lantas apa?

Dulu pasti Kim Doyoung gila. Maksudnya, ia bisa saja menyukai semua gadis, tetapi pengecualian untuk Emma. Bagi lelaki itu, Emma begitu jauh dari dunianya. Emma jelas bukan bagian dari dunianya dulu, sebelum ia mengambil langkah untuk menarik gadis itu kedunianya.

Namun, biar bagaimana pun juga sisi terdalam Doyoung tetap tak mempermasalahkannya dan menyukai gadis itu.

“Kim Doyoung! Tunggu sebentar!”

Doyoung menoleh kala sibuk mengambil langkah di sela ia sibuk berpikir, lalu mendapati sosok Emma yang tertinggal di belakangnya. Di kawasan Jinhae memang selalu bagus ketika musim semi datang dengan deretan pepohonan cherry blossom yang bermekaran cantik membentuk terowongan yang indah, apalagi dengan sosok Emma yang menjadi obyek salah satunya.

Tetapi bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya.

Tampak Emma berjalan dengan sedikit terseok-seok kala hendak menyusul Doyoung. Walaupun begitu, tetapi Doyoung jelas tahu dalam sekali pandang.

“Emma!” seru Doyoung dengan nada panik kentara jelas, seraya berlari pada Emma yang masih berusaha menghampiri lelaki itu. “Ada apa dengan kakimu?”

Wajah gadis itu juga tampak menunjukkan ekspresi heran. “Aku juga tidak tahu ada apa dengan kakiku, Young.”

“Coba angkat kakimu, Em,” titah Doyoung seraya berjongkok di depan Emma.

“Gila ya? Untuk apa?” balas Emma dengan nada tak percaya.

“Mau menurut atau tidak?” sahut Doyoung sambil mendelik pada Emma. “Atau, pakai opsi kedua. Kita bisa duduk di pembatas jalan dan kau bisa memperlihatkan kakimu.”

“Opsi kedua,” jawab Emma tanpa perlu repot.

Akhirnya mereka duduk di sisi pembatas jalan dan segera Doyoung berjongkok di hadapan Emma untuk memeriksa kaki gadis itu.

“Paku payung,” ujar Doyoung setelahnya, lalu dengan cepat ia mencabut sebuah paku payung—yang muncul entah darimana—dari sepatu putih milik Emma.

“Young! Jarimu!”

Naasnya malah sekarang jari telunjuk Doyoung yang tertancap paku payung sehingga menghasilkan kepanikan yang terpancar di wajah Emma. Buru-buru lelaki itu mencabut paku payung itu dan membuangnya sambil berdecak kesal. Lalu darah mengalir deras dan memenuhi seluruh jari telunjuknya. Lagi, Emma kentara panik bukan main.

“Aduh, tisu! Tunggu sebentar!”

Selama Emma sibuk berkutat dengan mengobrak-abrik tasnya, Doyoung memilih duduk di samping Emma dan memperhatikan gadis itu. Pemandangan side profile milik Emma menjadi pusat perhatian lelaki itu. Kemudian, pikirannya mulai melayang dan memikirkan segala hal yang berkaitan dengan Emerald Lee.

Emma tenang dalam segala hal rasional, sementara Doyoung gegabah. Emma pendiam, sedangkan Doyoung begitu berisik dan suka bicara. Emma begitu jauh dari dunia Doyoung, dan Doyoung berusaha mendekati dunia gadis itu.

“Nah, apa lihat-lihat?” tanya Emma heran. “Sudah selesai. Ayo pergi.”

Doyoung mengerjapkan matanya sebentar sebelum mengulas senyum. Kemudian langkah kaki lelaki itu mulai mengikuti Emma yang berjalan lebih dulu dengan semangat. Tampak kaki gadis itu tak lagi berjalan dengan terseok-seok dan malah mengambil langkah setengah berlari. Apalagi setiap langkah Emma yang semakin menjauh mengikuti terowongan pepohonan cheery blossom, membuat Doyoung merasa separuh dunianya mengikuti aura musim semi yang bermekaran cantik seperti Emma.

Doyoung kembali tersenyum. Pertanyaan yang sedari tadi menggantung, kini memberikan jawaban yang paling pasti dalam hidupnya.

“Emma.”

Emma mengernyitkan dahi, bingung. Jadi, buru-buru ia menoleh kearah Doyoung yang berjarak agak jauh dari gadis itu. “Ada apa, Young?”

“Kau tidak sempurna,” ungkap Doyoung tiba-tiba.

Kerutan di dahi Emma semakin terlihat nyata mendengar pernyataan kekasihnya.

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak sempurna,” sahut Doyoung lagi.

“Itu benar,” jawab Emma.

“Tapi aku hanya bisa sempurna jika bersamamu. Bagaimana menurutmu?”

“Apa?”

Emma mengerjap kaget, bercampur bingung. Membuat Doyoung kembali tersenyum pada Emma dari kejauhan.

“Kau pernah bertanya ‘kan, kenapa aku bisa menyukaimu?” tanya Doyoung.

“Karena kalau bukan kau, aku tidak bisa. Ibarat puzzle, kau adalah bagian-bagian yang selalu berarti untuk membuatku merasa sempurna. Bagiku, Emerald Lee adalah segalanya. Kau sekarang adalah duniaku, Em.”

Emma terpana, lalu perlahan semburat merah menghiasi wajahnya dan membuatnya secara otomatis memegangi pipinya sendiri seraya menatap Doyoung. Manik matanya yang bening kembali mengerjap pada lelaki yang saat ini tertawa malu.

“Kau mengerjaiku ya?”

“Tidak.”

“Serius?”

“Ya, tentu.”

“Boleh peluk?”

Doyoung terkejut sebentar, lalu mengangguk seraya merentangkan tangannya. Lalu tanpa ragu, Emma berlari pada Doyoung dan menghamburkan dirinya kedalam pelukan Doyoung dengan erat.

“Aku mencintaimu, Young.”

Lagi. Doyoung rasanya seperti terbang ke angkasa kala telinganya mendengar pernyataan Emma yang tak dapat diduga. Jadi, segera ia membalas pelukan Emma erat seraya mengecup pipi gadis yang bersemu merah. “Aku juga mencintaimu, Em.”

-fin.

a/n :terima kasih sudah baca! Diharapkan meninggalkan review berupa kritik dan saran karena seluruhnya akan dijadikan acuan untuk memperbaiki karyaku yang penuh kekurangan ini. Sekian dan terimakasih!

-Airly.

Advertisements

3 thoughts on “[Love Is Moment] Analogi Sempurna

  1. Hello, ts_sora’s here! Entah kenapa pas mau baca, ini satu-satunya ff dengan judul bahasa Indonesia. Dan…it’s really simple to be honest, but I do really like it so much. Aku suka sama ceritanya, karakter Emma Dan doyoung. I ship them hehe. Sbnernya ga terlalu nct, taunya cuman sbtas taeyong, pas liat gambarnya, oh ini doyoung toh. Hehe. Nice job author nim! 😉 can’t wait for your another story

    Like

  2. pfffft kim doyoung tukang gombal! 😀 yah yah yah emma baper tidak digombalin gini??? hihihi kak ini manis banget… dan dari sisi pengetikan pun perf lah ga ada typo terus kata2nya enak jg ngalir banget gitu jd enak bacanya aaaa… nice fic kak ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s