FF Project · Genre · Giveaway Project · Length · Love-Hate Friendship · Moment · PG · Rating · Sweet · Vignette

[Love Is Moment] A Thank You


A thank you

 

Author : nodat_riseuki

Title : A thank you / Moment : Sweet

Cast : [Main] Monsta X’s Hyungwon, [OC] Monsta Minhyuk & I.M, WJSN’s Luda

Genre : Love-hate friendship / Length : Vignette / Rating : PG

Disclaimer :Monsta X & WJSN are belong to starship ent., the story is belong to me, and Hyungwon’s mine, get away! [barubanguntidurㅠㅠ]

AN :Yeay plus mian for MNJ, makasihudahmemperpanjangmasapengumpulannaskah, maafkaloceritanya absurd, bolehdihujattapi yang upgrading yawkwk. MNJ fighting, 짱!

 

 

Seoul, 02Juli 2017

Aku menyeret langkah kakiku yang berat menyusuri tapak kaki orang lain yang masih kentara diatas pasir yang basah. Senja telah tiba dan menampakkan mega nan indah diatas lautan lepas. Aku menghentikan langkahku dan menjatuhkan diri keatas pasir yang dingin, “Hah.. betapa indah mega disana.”

Aku termenung begitu lama, suara deburan ombak yang bersahutan mengikis tebing yang menghalangi langkahnya. Riuh suara kicau burung kini mulai terdengar samar-samar, suasana ini sungguh sangat menenangkan dan membuat hati damai, namun tetap saja—takbegitu denganku. Aku tersenyum kecut dan mulai merenung. Aku merasa terlalu lemah dan lelah. Menunggunya membuatku seperti kehilangan arah yang tepat. Terlalu lama.

Ya! Apa yang kau lakukan disana? Cepatlah pulang, semua orang telah menunggumu sedari siang!”, aku mendengar seruan dibelakangku, aku berdiri dan melihat si pemilik suara yang berjalan tergesa menghampiriku.

“Benarkah? Mengapa mereka masih menunggu? Aku tidak akan datang, oppa tahu bahwa aku juga sedang menunggu, bukan?”

Lelaki itu hanya tersenyum, siluetnya menunjukkan bahwa ia mengerti akan maksudku, tapi ia hanya menghampiriku dan mengajakku pergi dari pantai yang mulai gelap tanpa sepatah katapun dari mulutnya. Aku hanya menurut, aku mengikutinya, sesekali mataku menatap ujung lautan diseberang sana, berharap sosok yang kutunggu muncul secara tiba-tiba.

“Minhyuk oppa,”desisku pelan pada lelaki didepanku.

“Orang itu akan datang, bukan?” tanyaku pada sosok yang sedang menggandeng lenganku, membuatnya berhenti dan membalikkan tubuh menghadapku sebelum mengedikkan bahunya pelan.

“—entahlah.”

.

.

.

.

Oppa bodoh atau apa?! Bukankah sudah kubilang bahwa aku tidak akan menikah denganoppa?! Kenapa oppa bersikeras?” teriak perempuanberambut panjang itu pada Hyungwon, lelaki yang terus memaksanya untuk menjadi pendamping hidup.

“Luda! Tolong pertimbangkan lagi, bukankah tak ada ruginya jika kau bersamaku? Aku bisa menghidupimu, juga anak-anak kita kelak, lalu apa masalahmu?!” timpal lelaki berperawakantinggidanberwajahtampanitu.

Luda diam, kekesalan mulai menyelimuti dirinya. Luda tidak mengerti bagaimana jalan pikiran lelaki dihadapannya itu, apakah Hyungwonsengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan ini ?! Kesempatan saat lelakiyang kini dinanti Luda benar-benar seperti menghilang ditelan bumi. Sungguh diluar dugaan, Hyungwon yang dulu ia kira sangat baik ternyata egois seperti ini!

“Atau—,” kata Hyungwon, “—kaumasih menunggu lelaki itu? Lelaki yang sekarang ini bahkan tak jelas ada dimana ? lelakiyang tak pernah memberimu kabar?”

Hyungwonberjalan mendekati Luda dan menambahkan dengan suara yang sedikit lebih pelan namun penuh penekanan, “Bukankah mungkin bahwa sekarang ini dia telah pergi dan menemukan wanita lain? Lalu perlahan-lahan melupakanmu dan akhirnya tak mengingatmu?”

Luda bisamelihatsenyumsiniskecil di ujungbibirHyungwon yang kiniberdiritepat di hadapannya.

PLAAKK-

Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi Hyungwon. Luda sudah benar-benarmuak.

“DIAM—,” teriak Luda, “—tidaksepantasnya kau berbicara seperti itu tentang Changkyun! Bagaimanapun juga dia adalah sahabatmu, dan kau bahkan tahu bahwa aku adalah kekasihnya, oppa!”

Luda bisa melihat raut muka Hyungwon yangbertambah kesal.

Eo, aku memang tahu tentang semua itu, tapi itu semua hanya cerita lama, itu semua adalah masalalu! Sekarang adalah waktumu melupakan hal-hal itu dan membiarkannya berlalu, kau harus memulai hal baru!”

Hyungwonterlihatmenahanemosinya yang bisameluaplebihbesardarisekarang, lelakiituberucappelan, “Sekarang yang ada dihadapanmu adalah aku—bukanChangkyun!”

Luda mencoba meresapi kata-kata Hyungwon, apakah itu benar? Apakah sekarang ini ia harus percaya pada Hyungwon? Haruskah ia melupakan Changkyun? Tapi, bagaimana dengan penantiannya selama ini? Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, tiga tahun iniberjalanbegitulambat.

Namun,Ludamemangtakseharusnyamengubur diri dalam masalalu, haruskah ia memulai hal-hal baru?

Tapi—Changkyunsudah berjanjiuntuk kembali, dan Luda telah percaya pada janji itu. Bukankah seharusnya memang begitu?Ah! Kepala Ludamulai berdenyut, terasa pening.

“Bisakahoppapergisekarang?” pinta Luda padaHyungwon, “—tolong tinggalkan aku sendiri”.

.

.

.

22 Agustus 2017

Satu bulan telah berlalu sejak pembicaraan terakhir Luda dengan Hyungwon waktu itu. Satu masa lagi telah berlalu untuk penantian si perempuan, penantian akan janji seorang lelaki yang mulai terasa hampa dantak akan tercapai seperti apa yang seharusnya terjadi, dan Luda sudah mengambil keputusan—

Ludaakan menikahi Hyungwon.

 

Mungkin keputusan ini terlihat begitu mendadak ataupun tergesa-gesa. Tapi, kesabaran pun ada batasnya. Dan sekarang ini, kesabaranperempuanitu telah sampai pada limit terkecil, masih ada—namun hampir habis.

Semua ini bukan semata karena Luda tak mempercayai kekasihnya. Luda percaya padanya, perempuan itu masih menunggunya kembali walau mungkin pertemuan mereka kelak tak seperti apa yang telah pernahdirencanakan.

Tapi Luda tahu, semua ini adalah resiko yang harus ditanggungnya, ketika kekasihnya dengan berat meminta ia untuk menunggu—ia melakukannya, selama tiga tahun ini Luda selalu sabar menunggunya kembali, Luda memberinya kesempatan, namun lelaki itu bak tak memanfaatkan kesempatan itu samasekali. Mungkin Changkyunmemang akan sedikit terlambat untuk menyadari hal itu, namun begitu terlambat untuk mengambil kesempatan yang diberi—hanyapenyesalan yang mungkinterjadi, ‘kan?

“Luda!” sebuahsuaramuncul di ambangpintu.

“ Apa kau sudah siap? Kau harus pergi sekarang, ada banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum pernikahan berlangsung,”Minhyuk oppa mengingatkanku dari depan pintu kamar yang kubiarkan terbuka. Aku melihat senyum lembut di wajahnya, aku membalasnya—dengangaksetengahhatidanterkesandipaksakan. Aku beranjak dari tempatku, menghampirinya dan mengikutinya pergi.

.

.

.

Setelah selesai fitting pakaian pernikahan, memilih kue untuk hidangan pernikahan, hingga recheck untuk keperluan pesta pernikahan telah Luda danHyungwon jalankan.Hyungwon menatap Luda sekilas, dari tatapannya yang menerawang jauh, Hyungwon tahu dan bisa menyimpulakan bahwa—perempuan itu lelah.

Hyungwon juga tahu, kelelahan yang kini Luda dera bukan hanya karena kegiatan yang mereka lakukan hari ini, tapi juga kelelahan karena menunggu. Menunggu lelakiitu—yang bisa dibilang juga sahabatnya.

Tapi Hyungwon bukan bersikap egois dengan memaksanya Luda menikahi dirinya, karena pada akhirnya perempuan itulah yang mengambil keputusan. Jujur—Hyungwon sudah menyukai Luda sejak dulu, mereka bersahabat sejak kecil, tapi ketika Luda masuk bangku SMA dan mengenal Changkyun, semuanya berubah. Luda lebih memilih Changkyun, membuat jeda yang besar dengan Hyungwon—dan itu rasanya menyakitkan.

Hyungwon bukan bermaksud munafik.Hyungwon selalu ingin bahagia dan Luda adalah sumber kebahagiannya, tapi bukan berarti Hyungwon harus menyakiti hati orang lain—terutama jika memaksa perempuan yang belum tentu akan benar merasa bahagia hidup dengannya. Hyungwon menyayangi Luda dengan segenap hatinya, maka diaakan membahagiakannya dengan segenap hati pula.

“Luda-ya! Apa kau begitu lelah?”, tanyaHyungwon selembut mungkin.

Perempuanitu menanggapidengan sebuah anggukan.

“Baiklah—karena kita sudah selesai, kita pulang sekarang.”

.

.

.

Aku begitu lelah hari ini, benar-benar lelah! Banyak hal yang sudah kupersiapkan bersama Hyungwonoppa, tapi hatiku tetap merasa tak nyaman, aku belum bisa menerima semua keputusanku sepenuhnya. Aku tahu ini bodoh, aku yang memutuskan tapi aku pula yang merasa tak nyaman. Tak bisa menerima kenyataan.

Aku segera keluar dari dalam mobil begitu kami sampai di rumah, aku membawa beberapa kantong belanjaan di kedua tanganku, sementara Hyungwonoppa masih belum turun dari mobilnya.

Oppa, wae?” aku menunduk untuk berbicara padanya lewat kaca mobil yang terbuka. Hyungwonoppa menatapku, tatapannya tajam—sepertiada hal yang ingin diungkapkannya padaku tapi tertahan.

“Takapa—,”Hyungwonoppasegera menggeleng begitu aku menaikkan sebelah alisku, tapi tak melanjutkan perkataannya. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kedalam rumah terlebih dahulu, toh dia pasti akan menyusul nanti.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

 

DEG

 

Jantungku serasa berhenti berdetak saatkakiku mulai melangkah menuju tangga depan rumah. Ini tidak mungkin! Aku memegangi dadaku yang tiba-tiba terasa sesak, aku tidak percaya dengan apa yang baru saja ku lihat, aku menoleh ke arah Hyungwonoppa yang sudah menjejeriku, dan anehnya dia sama sekali tidak terlihat terkejut. Ia berdiri santai disampingku dan memberiku isyarat untuk maju.

Wae?  Aku yang memaksanya kembali,”bisikHyungwonoppatepat ditelingaku.

Namun entahmengapaairmatamengalirlebihdulusebelumpikirankubisamelogikaapa yang terjadi, terutamasaatakumendengarnamakudisebutolehsuaraitu—

“Luda-ya.”

Aku tak sanggup menghadapi kenyataan ini, aku menjatuhkan benda di genggamanku dan berlari menjauh, melewati Hyungwonoppabegitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata. Aku berlari kearah pantai, menuju ombak yang sedang bersahutan, deburnya menelan suara tangisku yang pecah.

“Luda!”, aku mendengar namaku disebut lagi, sosok yang membuat dadaku sesak mengikutiku.

“Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku, berusaha melepaskan diri dari dekapanlelakiitu.

Hey! Aku sudah kembali—akukembali untuk menepati janjiku, Luda-ya!”

Sesaathening, otakkumasihberpikirdan—

“—tapikau terlambat!” kataku pelan, menyahut ucapannya.

Kurasakan sosok lelaki itu masihtetap mendekapku, tapi mulai mengendur setelah beberapa lama dan akhirnya membalikkan badanku untuk bisa menatapnya.

“Apa maksudmu? Aku terlambat?”

Aku akhirnya jatuh terduduk dan menenggelamkan wajahku ke lutut. Aku menangis keras, “Aku akan menikahi Hyungwonoppa—,“ jawabkuagak lirih.

Suasana berubah kembalimenjadi hening. Suara ombak tak terdengar lagi ditelingaku, suara burung yang biasanya riuh pun tak kudapati menghampiri telingaku, hanya tangisku lah yang memecah keheningan yang terjadi. Changkyun terdiam dengan wajah kaget dan tak percaya, memenuhi sepenggal senja yang tadinyaiaanggapistimewa.

Aku masih menangis. Lima menit, sepuluh menit dan seterusnya, detik detik waktu berjalan begitu saja, seolah tak peduli dengan apa yang sedang terjadi sekarang ini.

“Luda-ya!”

“…”

“Benarkah? Kau akan menikahi Hyungwonhyung?”

Aku mengangguk.

Kami berdua akhirnya hanya duduk berhadapan. Dalam diam yang masih diselingi isakan. Aku memeluk lututku, merasa begitu bodoh—kenapasaat itu harus tergesa-gesa memutuskan?

“Kau bisa menikahi Changkyunjika itu membuatmu bahagia,” sebuah suara yang tak asing memecah keheningan. Suara ombak, kicauan burung dan isakankuyang kini membaur menjadi satu dalam indra pendengaran—kembali bising.

Aku menegakkan dudukku dan mendapati HyungwonoppadanMinhyukoppaberjalan mendekat dari arah belakang.

“Aku serius mengatakannya—toh aku yang memaksa Changkyun kembali, kembali untuk memenuhi janjinya padamu.Luda, aku tahu kau hanya akan bahagia dengan hal itu—kau pasti mengerti maksudku”, lanjutnya.

“Aku terlalu menyanyangimu—ah, bukan! Aku terlalu menyayangi kalian, aku terlalu menyayangi persahabatan kita—hingga aku tak sanggup bersikap egois untuk mendapatkan kebahagiaanku sendiri,”Hyungwonoppa mengucapkannya dengan pandangan mata yang tulus, memandangku dan Changkyun secara bergantian.

Aku menatapnya tak percaya, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya, tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

“Tapi—“

Hyungwonoppa hanya mengangguk menanggapi kebingunganku, ia tersenyum lembut, terlihat begitu ikhlas. Ia mengedarkan pandangannya kedepan dan mengangguk pada Changkyun yang terlihat mengerti akan semua yang terjadi, terlihat lebih tahu daripada aku. Changkyun bahkan berjalan mendekat dan memeluk hyungnya itu.

“Jika kau menyakiti Luda, aku tak segan menghajarmu, Kyun-a!”, aku bisa mendengar apa yang dikatakan Hyungwonoppa pada kekasihku yang baru saja kembali.

 

“Dan—janganbiarkan adikkumenunggu lagi, atau aku akan benar-benar membantuHyungwonmerebutnyadarimu!” imbuhMinhyukoppayang kinimerangkulku.

 

Changkyun yang mendengarnya hanya bisa tertawa. Tertawa haru, karena ia benar-benar meresapi kalimat yang baru saja diucapkanoppa padanya. Ancaman yang sekaligus berupa permohonan.

Aku menangis haru menyaksikan hal ini, ah bukan—mengalamihal ini mungkin akan lebih tepat untuk kukatakan. Kenyataan memang aneh, realita memang tak terungkapkan.

Hal ini, semua ini terjadi begitu saja. Aku tahu, keyakinan dan kepercayaan memang begitu mahal, tapi semuanya pasti akan terbayar dengan begitu adil dan impas. Kau hanya harus memegang kuncinya, kesabaran dan keikhlasan.

Aku berlari kearah Hyungwonoppa dan Changkyun yang masih saja berpelukan, aku melebarkan lenganku dan menepuk punggung mereka bergantian dengan senyum yang mengembang, masih diselingi airmata haru dari mataku, mereka berdua menatapku dan segera memelukku.

“Luda-ya! Aku mempercayakanmu pada Changkyun—aku menyayangimu, tapi aku lebih menyayangi persahabatan kita. Anggaplah ini sebagai hadiah pernikahan kalian dariku,”Hyungwonoppaberbisik dalam pelukan kami.

Aku segera melepas pelukan kami bertiga dan menggaet lenganChangkyun, lalu seperti telephaty kami berdua membungkuk dan mengucapkansatukalimat paling berarti yang keluardarihati—

“Kamsahamnida.”

-FIN-

Advertisements

3 thoughts on “[Love Is Moment] A Thank You

  1. Jadi kayaknya something happened, just like my previous fanfiction dimana spasi tiba-tiba ilang Dan tanda baca hilang. I guess so.

    Okay, ttg fanfiction sekarang. Astga mas hyungwon dibalik wajah kalemnya dia, dia macem obsesi buat dapetin luda. Hehe. Aku kra ini bakal ada psycho, ternyata engga. Dan buat I.M. kamu dari mana aja dek :”) luda nungguin kamu ga dtg2 doh. Kasian mas hyungwon nya kan?

    Mnrtku ini alurnya lumayan kecepata. Mungkin kalau agk panjangan bakal bagus hehe. Apakah ini the power of kepepet? :”) Dan seperti biasa. It’s a nice story! 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s