Bitter · FF Project · Ficlet · G · Genre · Giveaway Project · Hurt · Length · Moment · Rating · sad

[Love Is Moment] The Ending


The Ending

 

Author   : justanotherkiks / Title : The Ending / Moment : Bitter / Cast : VIXX’s Hongbin & Gu9udan’s Nayoung / Genre : Sad, Hurt / Lenghth : Ficlet / Rating : G / Disclaimer : The story belongs to me, the cast’s belong to Jellyfish. Please support Jellyfish artists ^^ / Author Note : Thankyou MNJ for making the moments, hope you all likes my story, any feedback would mean a lot!

^^ Happy Reading ^^

 

Ini semua tentang seorang gadis yang setia—menantikan suatu hal yang dianggapnya bisa membawa kebahagiaan. Namun, pada kenyataannya hal tersebut merupakan hal yang bertolak belakang dengan apa yang diharapkannya. Ia hanya mendapatkan suatu kekecewaan. Kekecewaan yang teramat mendalam.

­_oOo_

Siang itu, mentari bersinar dengan sangat bersemangat. Suasana terik pun tak dapat dihindarkan. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan tekad seorang yeoja yang sedang mengerjakan tugas prakteknya, tugas yang harus dikumpulkan esok hari.

Yeoja itu bernama Nayoung, ia adalah seorang yeoja yang ceria dan selalu bersemangat, layaknya mentari yang masih setia menyinari bumi hingga kini.

Nayoung adalah gadis yang manis, pantang menyerah serta ramah. Dengan rambut cokelat panjang yang indah serta senyum yang menawan. Mungkin hal inilah yang membuat Hongbin jatuh hati padanya. Hongbin adalah sunbaeNayoung disekolah, dan Hongbin selalu terlihat ingin memberikan perhatian yang lebih kepada Nayoung dibandingkan teman-teman Nayoung yang lain.

Walau merasa aneh dan janggal, Nayoung merasa senang dengan perhatian-perhatian yang diberikan Hongbin, karena sebenarnya Nayoung pun menaruh rasa pada Kakak kelasnya itu.

_oOo_

Waktu demi waktu pun terus berjalan. Hongbin dan Nayoungpun semakin dekat, mereka bahkan sudah mengerti perasaan yang dipendam oleh masing-masing dari mereka walau tak ada yang berani mengungkapkannya. Mereka tetap berkomunikasi walau kini jarang bertemu, karena Hongbin yang sudah duduk di semester akhirdan harus lebih fokus mempersiapkan dirinya dalam menghadapi Ujian serta skripsi yang berkejaran, berbeda dengan Nayoung yang masih duduk di semester awal.

Suatu hari, ditengah persiapan ujian yang semakin dekat serta skripsi yang mulai menguras pikiran, Hongbin mengajak Nayoung bertemu. Nayoung merasa sedikit aneh, karena belakangan ini Hongbin seperti menjauh dan jarang menghubungi Nayoung seperti dulu, namun kini Hongbin justru mengajak untuk bertemu walaupun akhirnya Nayoungmenyanggupi ajakan itu.

“Sebelumnya aku ingin minta maaf”, Hongbin membuka pembicaraan begitu mereka sudah duduk di bangku cafe.

“Minta maaf? untuk apa?”, Nayoungmenaikkan sebelah alisnya serta menunjukkan ekspresi bingung, karena sesungguhnya ia memang tidak mengerti akan apa yang dimaksud oleh sunbae-nya itu. Apa minta maaf karena sudah jarang menghubungi Nayoung? Jika hanya karena masalah itu, bukankah tidak masalah? karena Nayoungpun tahu apa yang sedang difokuskan Hongbin saat ini. Ujian dan skripsinya.

“Ehm… karena mungkin kita akan lebih sulit berkomunikasi-“, ucap Hongbin, “-lebih sulit dari biasanya, lebih sulit dari sekarang”, imbuhnya. “Kau tahu kan aku sedang fokus pada Ujian ku serta hal-hal lain yang bersangkutan dengannya ?”, tanya Hongbin.

Nayoung mengangguk dan mencoba tersenyum. “Gwenchana oppa, aku mengerti,” wajahnya sedikit pucat. Ia mengira Hongbin akan mengungkapkan isi hatinya. Tapi dari pembicaraan ini, hal yang ditangkap Nayoung adalah kenyataan bahwa Hongbin ingin benar-benar menjauh darinya. Tapi apa salahnya? Apa perasaan yang dipendamnya selama ini salah? Atau perasaannya dan perasaan Hongbin sebenarnya berbeda? Nayoung selalu merasa nyaman setiap ada didekat Hongbin, tapi apa mungkin Hongbin merasa risih setiap Nayoung mencoba menyemangatinya? Apa Nayoung berlebihan?!

Hongbin melihat dengan jelas kepedihan diwajah Nayoung, ia seperti mengerti akan hal apa yang diharapkan oleh hoobae-nya itu. Ia pun tersenyum dan merangkul pundak Nayoung, “Tapi… jika kau bersedia untuk menunggu, aku akan pastikan satu hal, aku akan patri hatiku untukmu, dan aku berjanji untuk itu..”, ungkap Hongbin.

Nayoung mendongak, ia seperti tak tahu apa yang harus dikatakannya setelah mendengar janji Hongbin. Bibirnya bergetar saat menjawab ungkapan itu,  “Aku hanya bisa menjawab iya jika memang itu yang kau anggap baik, oppa..”, suaranya lirih dan ia kembali menunduk, “Aku akan menantimu..”

Pembicaraan pun tak berlanjut baik seperti biasanya. Hanya keheningan panjang ditengah kebisingan suasana yang mereka dapati. Saat Nayoung berpikir ia akan mendapatkan apa yang ia harapkan dari Hongbin, yaitu status yang jelas bagi hubungan mereka, tapi kenyataannya ia salah. Hidup memang tak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan, pikir Nayoung.

_oOo_

Beberapa bulan berlalu sejak penantian yang dijalankan Nayoung. Penantian yang tak pernah diduganya. Hingga akhirnya Hongbin kembali mengajak Nayoung untuk bertemu, ditempat yang sama. Tempat mereka mengikat janji penantian itu, ruang kelas sepi di lantai tiga.

Nayoung pergi dengan wajah berbinar dan senyum yang tak hilang dari wajahnya, ia berpikir bahwa inilah akhir dari penantiannya dan awal dari harapannya. Ia memandang Hongbin lekat.

“Mianhae..”, ucap Hongbin begitu mereka berhadapan.

Nayoung mengerutkan keningnya. “Err, lagi? Kali ini untuk apa, oppa? Kau tak perlu minta maaf!”, jawab Nayoung masih dengan senyum dibibir.

Hongbin membalas senyum Nayoung dengan senyum lain, senyum yang agak dipaksakan, seperti senyum yang menyimpan banyak hal yang tak bisa diungkapkan. “Aku tahu kau telah setia menantiku, Nayoung-a“, balasHongbin, namun kata-katanya menggantung.

Nayoung mengangguk. “Lalu?”

“Aku mau menepati janjiku”, Hongbin menatap Nayoung tepat di manik mata. Wajah Nayoung memerah, senyumnya semakin lebar, membuatnya terlihat lebih manis. “Jeongmal?”

“Nee..”

Nayoung merasakan jantungnya berdebar begitu hebat. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan, apa yang harus ia lakukan. Ia hanya terus menerus menatap Hongbin yang duduk tepat dihadapannya dengan berbinar.

“Tapi-“, Hongbin melanjutkan pembicaraan, “-walaupun kita kini menjadi pasangan, aku tidak yakin bahwa kita bisa memiliki hati satu sama lain secara utuh, Nayoung-a..”, ucap Hongbin dengan tiba-tiba, “..aku rasa sebagian hatiku masih tersimpan untuk seseorang di masalaluku hingga tidak bisa kuberikan seutuhnya padamu”.

Nayoung mendengarkan setiap kata yang baru saja keluar dari mulut Hongbin, ia mencoba mencernanya secara perlahan, ia merangkainya dengan seksama dan akhirnya mengerti. Ternyata selama ini Hongbin memiliki kekasih, kekasih dimasalalunya yang mungkin kini kembali.. Dan mungkin ada jawaban tentang alasan mengapa Hongbin kemarin mulai menjauhi Nayoung.. bukan karena ujiannya, bukan karena skripsinya.. tapi karena dia, seseorang dimasalalu sunbae-nya itu. Mungkin masalalu itu kembali, membuat Hongbin berpikir ulang tentang Nayoung.. ya, pasti itu hal yang sebenarnya terjadi!

Nayoung memegangi dadanya yang mulai terasa sesak, “La… Lalu, kesimpulannya?”, binar-binar di mata Nayoung menghilang, tergantikan oleh airmata yang tertahan, senyumnya memudar tergantikan oleh gemeretakan giginya yang ia gunakan untuk meredam airmata. Sebenarnya ada beribu pertanyaan yang muncul dibenak Nayoung, namun semua itu mampu ia tahan dengan ego-nya. Kali ini, ia hanya butuh penjelasan.

Hongbin menjawab dengan lirih, terlihat sekali bahwa ia merasa bersalah. Tangannya bergetar dan setiap jawaban serta penjelasan yang keluar dari bibirnya terasa sangat menusuk. Sangat miris. “Nayoung-a, Aku memberikan dua pilihan padamu… pilihan pertama, kita bisa saja memperjelas hubungan kita dan terus bersama, karena sebenarnya aku pun menyayangimu.. tapi kau harus bisa menerima tentang apa yang kuungkapkan tadi”.

Nayoung menunduk, “Tak memilik hatimu sepenuhnya?”

Hongbin mengangguk dan melanjutkan perkataannya, “Sedangkan pilihan kedua, lupakanlah aku dan pergi dari hidupku…”

Deg!

Nayoung tidak percaya dengan apa yang baru saja ditangkap oleh telinganya dan dirasakan oleh hatinya saat ini. Sakit.

Begitu sakit! Seperti tertusuk benda yang tak pernah kau tahu apa itu! Seperti terhempas ke tempat yang sama sekali tak kau tahu, tempat yang sangat jauh.. tempat yang membuatmu tak tahu bagaimana caranya kembali. Ingin sekali rasanya menangis, jiwa Nayoung sudah tak kuat menahan sesak yang tiba-tiba mendera. Namun, ego-nya masih bekerja. Ia tak mau terlihat lemah di hadapanHongbin.

Nayoung kini mendongak dan memandang lurus ke arah Hongbin yang menunduk dalam, ia menguatkan hatinya dan menjawab, “Eo!Aku mundur jika memang ini yang terbaik..”, ia berkata dengan perasaan hancur dan hati yang tercabik. Bibirnya bergetar, tangannya mengepal.

Nayoung segera berlari meninggalkan tempat itu setelah mengatakannya, tempat dimana ia tak akan pernah bisa melupakan kejadian hari ini. Tempat yang mencatat semua hal yang baru saja ia alami, saksi bisu sebuah kisah pahit dalam hidupnya.

Nayoung menjauh, tanpa sekalipun menoleh ke belakang.

Nayoung berlari, meluapkan semua pedih yang ia rasakan. Ia menangis sedapatnya dan melampiaskan semua perasaannya pada benda apapun yang dapat ia raih dalam genggaman. Akhir penantiannya begitu miris.

Siang kembali terik, matahari tetap bersinar dengan terang benderang menyinari seluruh jagad raya. Tapi, tidak begitu dengan Nayoung hari ini yang hatinya remuk dan terselimuti kabut, sinar sang surya yang begitu dahsyat pun tak bisa mengusir mendung dihatinya. Redup.

_oOo_

Advertisements

2 thoughts on “[Love Is Moment] The Ending

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s