Action · AU · Bitter · Crime · Family · FF Project · Genre · Giveaway Project · Length · Moment · One Shoot · PG -15 · Rating

[Love Is Moment] Twins


T W I N S

by Juliahwang

[BTS’s] Jungkook & [G-friend] Eunha

slight! [BTS’s] Taehyung as Mr.Kim & [Produce’s 101] Daniel as Mr.Kang

Genre: Family, Crime, Action, AU! Length: Oneshot Rating: PG-15 Moment: Bitter

“Tenang saja, Adikku. Kalau aku butuh bantuan, kau pasti akan tahu.”

.

.

.

 

SMK Hanlim adalah sekolah kejuruan yang begitu popular di Seoul. Menjadikan murid-muridnya lulusan terbaik di setiap tahun. Contohnya ada Eunha dan Jungkook. Kembar identik yang begitu berbeda karena bersaing ketat di sekolah.

Jeon Eunha adalah seorang atlet. Segala macam bidang olahraga ia tekuni dan kini apa pun olahraga itu, bisa ia lakukan dengan mudah. Tubuhnya tak terlalu tinggi bagi gadis yang menyukai olahraga, malah terlihat begitu imut dengan rambut pendek berponi dan wajah menggemaskan layaknya boneka berjalan. Setiap harinya, selalu ada pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan kakaknya, Jungkook, si tampan dari kelas seni.

Jauh berbeda dengan Eunha, Jungkook begitu mengabdikan dirinya dalam kelas seni. Menggambar, bernyanyi ataupun menari adalah bagian dari hidupnya. Pertengkarannya dengan Eunha adalah makanan sehari-hari. Bukan menjadi hal umum jika mereka menjadi perbincangan terhangat seantero sekolah.

Hanya itu yang orang-orang tahu mengenai mereka. Anak-anak cerdas milik Pyeongsan yang jarang memiliki masalah di sekolah. Perbincangan mengenai kehidupan mereka hampir setiap saat di dengar. Tinggal di apartemen kumuh milik mendiang kedua orang tua mereka, hanya berdua setiap harinya, mencari uang untuk membayar sekolah dengan bekerja. Eunha pernah bilang bahwa ia dan Jungkook bekerja paruh waktu di sebuah restoran, tapi tak ada yang tahu jelasnya di mana itu, karena sejujurnya masih banyak misteri yang tersimpan dari kedua saudara kembar tersebut.

.

.

Eunha melangkahkan kakinya menuju atap sekolah. Kilatan matanya begitu terlihat ketika dalam diam, ia memperhatikan tiap gerak kamera pengawas yang berada di sekitaran lorong sekolah. Wajahnya begitu tenang. Pada jam kosong, Eunha bisa lolos dengan mudah seperti biasa.

Gemerisik alat di dekat telinganya terus berbunyi. Terdengar suara-suara yang berbisik menghantuinya selama perjalanan. Beberapa kali ia menyentuh telinga, berharap tak ada yang tahu jika anting yang ia kenakan adalah sebuah alat komunikasi.

Ia membuka pintu atap sekolah dengan sekali bantingan. Menangkap basah Jungkook sedang duduk di trali besi sambil mengisap batangan tembakau di antara jari tangannya. Bau dari asap yang mengepul membuat Eunha geram. Ia begitu membenci itu tetapi kakaknya tetap saja melakukannya.

“Ada apa kau memanggilku?” Langsung pada intinya, Jungkook terkekeh kecil sambil melepaskan anting yang juga ia kenakan. Membolak-balikkan itu seakan bukan benda yang berharga. “Kukira benda bodoh ini tak berfungsi.”

“Pakai cepat! Jangan sampai itu hilang dan orang-orang akan tahu.”

Bukannya mendengar dan melakukan perintah Eunha, ia malah menyodorkan benda itu ke arah adiknya. “Pakaikan aku,” katanya sambil membuang puntungan yang telah habis dan menginjaknya. “Aku hanya akan membuat telingaku berdarah jika memakainya sendiri.” Tambahnya sambil menunduk agar Eunha bisa menggapai dirinya. Tak banyak bicara, hanya embusan napas malas yang berani Eunha keluarkan. Mencium bau nikotin di sekitaran tubuh Jungkook, ia merasakan pening tiba-tiba.

“Kau harus menghilangkan bau ini dengan cepat,” Jungkook menutup matanya sambil meringis ketika ujung runcing dari anting mulai masuk ke daun telinganya. “Aku ada beberapa permen di saku.”

“Tidak perlu. Aku hanya perlu mencium gadis agar wangi tubuhnya menempel padaku.”

“Tidak ada yang namanya mencium gadis, Jeon Jungkook!”

Anting telah terpasang kembali di dalam daun telinga Jungkook. Tempat yang tepat tanpa ada yang melihat seorang lelaki yang masih bersekolah memakai itu. Ia tersenyum sekilas pada Eunha sembari mengacak poninya gemas. “Ada tugas baru dari Mr.Kim untukku.”

“Sendiri? Aku tidak dihubungi Mr.Kang untuk sebuah tugas.” Eunha melipat kembali tangannya di dada. Menyambut ketidaktahuan Jungkook yang hanya mengangkat bahunya. “Mungkin tugasnya terlalu berat untukmu. Aku akan pergi setelah kelas melukis usai.”

Eunha mengerucutkan bibirnya sambil menunduk. Ini sudah tugas kesekian yang mereka lakukan sendiri-sendiri. Biasanya mereka selalu berdua, tak terpisah dan Mr.Kim maupun Mr.Kang pasti tahu itu.

“Kau yakin bisa sendiri?”

Jungkook menoleh cepat. Melotot sambil mendekat ke wajah adiknya. “Apa kau baru saja mengkhawatirkanku?”

Pipi Eunha langsung memerah tanpa aba-aba. Memalingkan wajah dengan cepat dan langsung menyambut tawa keras dari Jungkook. “Tenang saja, Adikku. Kalau aku butuh bantuan, kau pasti akan tahu.” Katanya sambil mengedipkan sebelah mata.

Tangan gadis itu terulur. Menjitak dahi Jungkook dan pergi tanpa sepatah kata sedangkan kakaknya mulai mengaduh kesakitan.

Seperti janjinya, Jungkook pergi setelah kelas melukis usai. Mengumbar senyum murahan dan cap ‘anak baik’ yang senantiasa melekat dalam dirinya. Eunha terkadang heran jika ia pandai sekali menipu. Selalu menyalahkan kelas akting yang Jungkook jalani dan mengasihani para guru yang menyukainya. Katanya, “Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengasihani semua orang yang kau tipu, Jeon Jungkook.” dan balasan lebih menusuk pasti akan Eunha dapatkan setelah itu. “Apa kau pikir hanya aku seorang yang penipu di sini? Apa kabar dengan dirimu, Jeon Eunha?!”

Di ujung koridor telah menunggu seseorang bersetelan hitam dengan kacamata yang selalu melekat. Itu adalah wali Jungkook dan Eunha, begitu yang orang-orang tahu. Wali yang sebenarnya bukanlah itu.

“Kau siap?” Belum juga Jungkook menarik napas, kalimat yang hampir setiap hari ia dengar langsung terngiang. “Aku harap Eunha tidak tahu.”

“Dia tahu. Baru saja aku bertemu dengannya.”

Mr.Kim melepas kacamata hitamnya kemudian melotot dengan mata besarnya. Tak ada seulas garis yang menghiasi bibirnya. Hanya raut wajah galak dan tatapan tajam yang selalu terhias. “Adikmu tak akan bisa bernapas dengan tenang, Jungkook.”

Jungkook terkekeh sambil menarik Mr.Kim untuk menjauh dari koridor. Melambaikan tangannya seakan memberi isyarat bahwa tak akan ada yang terjadi padanya. Jungkook langsung masuk ke sedan hitam yang dibawa Mr.Kim. Mengeluarkan pistol yang sudah memanas di belakang punggungnya. “Kali ini apa?”

Mr.Kim melajukan sedannya dengan kecepatan penuh. Mulai merasakan ketegangan yang teramat sangat di dalam sana. “Sebenarnya tugas ini diperuntukkan untuk Eunha karena ia jauh lebih lincah darimu, tapi aku dan Daniel sepakat memberikan tugas ini padamu.”

“Terdengar menyeramkan,” imbuh Jungkook sambil mengisi peluru-peluru ke dalam pistol miliknya. Melepas blazer sekolah dan meleparnya ke belakang.

“Apa yang akan aku hadapi, Tae?” Jungkook menambahi lagi. Kali ini telah siap dengan segala peralatan membunuhnya.

Mr.Kim menarik napasnya panjang. Melempar sebuah berkas dari dasbor mobil agar Jungkook bisa membacanya. “Kau harus membunuh putra Presiden Amerika Serikat.”

Matanya bukan melotot lagi, kali ini terlihat ingin keluar dari tempatnya. Pistol yang sedari tadi ia genggam langsung terjatuh tanpa ia sadari. Jungkook dan Eunha terlalu sering berhadapan dengan maut. Tapi untuk kali ini, ia berharap hanya candaan belaka.

“Apa kau gila? Bagaimana caranya, Kim Taehyung?”

Mr.Kim atau yang sekarang disebut Taehyung hanya bisa menunduk sambil menggeleng. Diambilnya sebuah bukti bahwa ia dan Mr.Kang telah menyetujui tugas itu. Jungkook benar-benar tak habis pikir. Ini sama saja percobaan bunuh diri.

“Apa yang akan kita dapatkan jika kita berhasil?”

“Semua yang kau mau … semuanya.”

Jungkook memijit keningnya. Waktu semakin menipis ketika Taehyung mulai menyebutkan rencana. Putra Presiden Amerika Serikat akan tiba dalam waktu dua jam lagi di Incheon dan kurang lebih akan banyak sekali pengawal yang akan mengawasi. Seluruhnya telah tersusun sedemikian rupa. Dan ketika Jungkook tahu bahwa yang memintanya untuk membunuh itu adalah Presiden Korea Selatan sendiri, pening di kepalanya semakin menjadi.

Mereka tak akan menolak uang sekalipun itu mustahil. Beberapa menit dalam keheningan, dan semakin cepat waktu yang terbuang. Jungkook mengeluarkan peralatan terakhir yang ia butuhkan. Topeng kelinci yang retak setengah.

“Bawa aku padanya sekarang.”

Taehyung bukan hanya tersenyum, tapi jauh di lubuk hatinya, ia mengkhawatirkan aset sekaligus pria yang sudah ia anggap adik sendiri. Bibirnya berkomat-kamit seakan sedang menghubungi seseorang. Anting yang Taehyung pakai terlihat tak asing. Tentu saja, itu sama seperti milik Jungkook dan Eunha.

“Aku pastikan Eunha tak akan tahu.”

 

oOOOo

 

Siang berlalu begitu cepat hingga berakhir senja dan malam akan menjemput. Suasana riuh di Incheon begitu menarik perhatian banyak orang. Kedatangan Putra Presiden Amerika Serikat ke Korea Selatan semata-mata untuk melakukan tawar-menawar perihal Jeju yang akan mereka beli. Tentu berita ini langsung mencuat ke publik dan banyaknya masyarakat yang tidak setuju. Semua menyalahkan sang presiden dan beliau tak bisa menghindari kenyataan bahwa ia telah kalah dalam permainan politik.

Presiden murka. Merasa telah di permainkan orang terpenting se-Amerika dengan memojokkan dirinya. Ia tak tinggal diam. Rela membayar siapa pun agar namanya bisa kembali, walau dengan teror berdarah sekalipun.

Jungkook menjadi serius saat mendengar cerita dari Taehyung. Mereka kini sedang berada di ketinggian gedung berlantai tiga puluh. Menunggu senja tiba, menunggu barak tentara yang ternyata tak seberapa banyak mengangkat senjata atas tibanya sang putra. Semakin sore, Incheon semakin sepi. Banyaknya penonton ternyata mampu mengalahkan para pengawal dari sang putra. Jungkook tak habis pikir. Ternyata kedatangan anak dari orang penting tidak seheboh yang Jungkook bayangkan.

Ia tak pernah merasa takut saat melakukan tugasnya. Tapi jika dipertegas lagi, ia sangat takut. Bunyi gemerisik di dekat telinganya kembali berbunyi. Ia menoleh pada Taehyung yang sedang sibuk dengan ponselnya.

Suara pelan nan lembut langsung terdengar. Membuat bulu kuduknya langsung berdiri ketika mengetahui sang empu suara. Eunha di seberang sana berbisik. Berbisik walau Jungkook tahu adiknya mungkin akan mengomel sebentar lagi.

“Kau di mana?” Tak ada sapaan seperti biasa, khas sekali dari keluarga Jeon. “Daniel hampir kubunuh karena membuatku mati penasaran.”

Aba-aba tangan dari Taehyung mulai terangkat, membuat ia membeku sesaat. Topeng kelincinya tetap tak bisa menutupi keringat yang mulai membanjiri pelipisnya. “Aku sedang bertugas. Berjanjilah padaku untuk tetap diam di sana sampai aku dan Mr.Kim pulang.”

Panggilan terputus dari satu pihak. Jungkook membidik pistolnya lekat-lekat. Diarahkannya moncong itu ke sasaran yang berada jauh di bawah sana. Sang putra telah datang bersama rombongan. Masa tak berhenti mengelu-elukan pro maupun kontra. Senyum itu tersimpul sembari para pengawal melindunginya hingga memasuki mobil milik pemerintah. Dan saat Jungkook mendapatkan momen yang pas…

Dor!

Ia melepas patuknya dan menyeringai.

“Di sana!”

Berbagai seruan dan tunjukan tangan mengarah padanya. Setelah menembak, tugasnya yang terakhir adalah lari.

 

oOOOo

 

Malam kemudian mejelang dan kegelapan menutupi segalanya. Jungkook sangat suka ketika harus beraksi di malam hari. Terlalu mudah untuk sembunyi, terlalu mudah bayanganmu tak terlihat. Suara deruan napas yang beradu cepat memenuhi keheningan malam. Dan Jungkook maupun Taehyung belum berakhir dalam pengejaran.

Suara sirine polisi semakin menambah keruh suasana. Sebisa mungkin, Jungkook menembaki satu persatu pengawal yang mendekat. Membuat jalanan dan gang-gang menjadi lapangan tembak saat itu juga. Taehyung menutupi setengah wajahnya dengan masker dan topi sedangkan Jungkook masih setia dengan topeng kelincinya yang retak. Tak akan ada yang mengenali mereka, pengawal dari Korea maupun Amerika sendiri. Jalanan makin ramai dan keduanya mulai panik saat banyak seruan mulai menyuruh mereka berhenti. Tembakan beberapa kali melayang ke udara sebagai peringatan dan mereka tak akan peduli.

Jungkook berbelok ke salah satu gang sempit yang biasa ia lewati ketika pulang sekolah. Merasa para pengawal berada jauh dari mereka, ia mengambil jummer yang menggantung di celananya dan mulai melemparnya ke arah pagar besi. Mereka tertarik dengan cepat ke sebuah atap rumah. Bersembunyi sebentar menunggu bala bantuan datang.

Jungkook dan Taehyung melepas penutup wajah mereka masing-masing. Mulai menghubungi Daniel yang sejak tadi tak mengangkat panggilan. Suara gemerisik kemudian terdengar dari ujung sana. Membuat mereka lega walau hanya sedikit.

“Ya! Di mana kau? Kami sudah selesai dan cepat jemput kami!”

Tak ada balasan atas omelan Taehyung berselang hampir semenit. Terus memanggil sang empunya yang sejak tadi tak menjawab. Taehyung melirik Jungkook di sampingnya yang hanya bisa mengendikkan bahu tak tahu.

“Tae ini gawat! Eunha pergi dari apartemen begitu aku memasuki kamarnya!”

“APA KATAMU?”

Jungkook kontan menutup mulut Taehyung dan satu tangannya menempel di bibir membuat bunyi ‘sstt!’ menyuruhnya diam. Taehyung tak mempedulikan ocehan Daniel di seberang dan langsung menyambar kerah Jungkook dengan mata melotot.

“Eunha kabur mencarimu!”

Ia tak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa melotot mengikuti Taehyung dengan jantung yang berdegup kencang. Matanya pedih seakan ingin menangis. Adiknya dalam bahaya dan ia hanya bisa bersembunyi di tempat lain.

Keheningan seakan mampu menutupi gema suara sirine, tembakan dan teriakan yang terjadi di bawah sana. Taehyung segera mengirim lokasi pada Daniel untuk menjemput dan Jungkook bingung harus melakukan apa.

Suara gemerisik di dekat telinga kemudian menyadarkannya dari lamunan. Mendengar suara tak asing, yang begitu ia rindukan tiba-tiba, mengomel di ujung sana.

“Bodoh, di mana kau? Bantu aku menghabisi pria-pria besar tak berotak ini jika kau ingin melihatku keesokan harinya! Aku ada di sebuah basemen mal yang sudah bangkrut dekat Gangnam. Hanya satu-satunya dan kau pasti tahu!”

Suaranya jernih walau napasnya memburu. Bisa ia dengar suara tembakan saling sahut dan tanpa persetujuan Taehyung, badannya berdiri tegak kemudian melompat dari atas dan mendarat dengan mulus di atas bak sampah. Taehyung mulai berteriak dan Jungkook tak peduli. Kakinya melaju cepat dan bayangannya mulai terlihat kembali disinari cahaya bulan. Tangannya bergerak cepat mengisi peluru ke dalam pistolnya.

Tak butuh waktu lama, Jungkook telah sampai di tempat tujuan. Tempat ini begitu tak asing baginya. Sebuah memori melintas begitu saja. Tempat itu adalah tempat pertama ia dan Eunha menembak mati korbannya.

Jungkook kembali memakai topeng kelincinya begitu samar-samar terdengar suara tembakan lagi. Ia melihat banyaknya mobil polisi dan sedan hitam yang terparkir. Dilihatnya juga sang adik terkepung sambil terus menghindari peluru-peluru yang tertuju padanya.

Tanpa menunggu, ia memainkan kedua pistol yang telah ia siapkan di kiri dan kanan. Menembaki semua yang menghadang dan mengepung adiknya. Kakinya bergerak cepat sedangkan tangannya begitu lihai membidik hingga mengenai sasaran. Eunha semakin menggebu-gebu begitu bayangan Jungkook tertangkap indera penglihatannya. Membuat segaris senyum simpul yang persis sama dengan topeng kelinci yang terpatri di sebelah kiri wajahnya. Benar, topeng itu adalah bagian retakan milik kakaknya, Jungkook.

Kedua kelinci pembunuh itu menyerang habis-habisan. Mampu melumpuhkan selusin pasukan campuran yang menyerang mereka. Eunha sibuk menembaki kotak hitam dalam mobil dari arah luar, keahlian yang tak Jungkook miliki, hingga tak tersisa.

Ia lelah bermain dengan satu tangan lalu dikeluarkannya satu revolver yang menggantung di samping celananya. Semakin lama waktu berjalan, berlusin-lusin pasukan telah habis dan tergeletak tak berdaya. Jungkook menghampiri Eunha dan memeluknya. Akan mengira bahwa sang adik akan mati karena menyelamatkannya.

“Aku tak jadi kehilanganmu,” Jungkook tersenyum. Melepas topeng kelinci miliknya dan juga Eunha. “Kita harus pergi dengan cepat.”

Eunha mengangguk. Menarik Jungkook dan berlari keluar dari basemen. “Mereka telah menunggu kita di luar.”

“Aku harap tak ada yang curiga dan tugas ini berhasil.”

Sang adik hanya tersenyum sinis dan menepuk pundak Jungkook. “Serahkan semua pada Mr.Kang dan Mr.Kim, mereka tak akan tinggal diam.”

“Yah, tentu saja.”

 

oOOOo

 

Keesokan harinya di sekolah, berita mengenai kematian putra Presiden Amerika Serikat membuat heboh seluruh penjuru yang sibuk menggosipi itu sejak pagi menjelang. Membuat teror berdarah yang Korea Selatan akan tanggung jawabkan dengan segera. Rencana tawar-menawar Pulau Jeju berakhir batal dan kini mereka harus mengejar para pembunuh bertopeng kelinci yang semalam menghabisi setengah dari puluhan anggota polisi dan pengawal.

Mr.Kang dan Mr.Kim sudah mengatasi itu dengan cepat. Menghapus banyak jejak yang tak akan mungkin orang-orang dapatkan. Mereka tidak sebodoh yang bahkan orang pintar ketahui sekalipun.

Jungkook dan Eunha duduk di caféteria sekolah sambil meminum kopi bersama. Menyaksikan layar televisi di ujung ruangan sedang mempertontonkan berita mengenai kejahatan mereka. Mengenai siapakah dua pembunuh dengan topeng kelinci yang menghilang tanpa jejak itu. Sungguh bersih kinerja para pengasuh sekaligus satu-satunya keluarga mereka sampai tak ada satu barang bukti yang tersisa mengenai itu semua dalam waktu semalam, hingga suara gemerisik di dekat telinga mereka terdengar bagai sebuah hadiah yang setimpal.

“Kerja bagus, Anak-anak. Siapkan diri karena kita akan berpesta malam ini.”

-fin

 

 

Advertisements

2 thoughts on “[Love Is Moment] Twins

  1. Wih keren! Aku sbnernya ga terlalu suka baca action, meskipun suka bgt sama film action/? Ga nyangka mereka disini pembunuh kelas kakap. Dan sempet sebenarnya ketawa sewaktu jungkook pakai topeng kelinci tapi seketika serius lagi. Bisa kbayang action-nya. Dan aku kra, wah eunha atau jungkook bakal mati atau ga ketangkap, tp trnyata mereka berhasil dg tugas mereka. Good job!

    Like

  2. kak juls serius ini dibikin film keknya keren banget aaaa .. feel actionnya dapet banget… feel siblingsnya juga lah lumayan bikin gemes apalagi pas Jungkook panik denger kabar eunha hilang itu… dan glad that this fic has a happy ending hahaha yash aku juga mengira ini akan jd sad end but ternyata no 😀
    terus ide topeng kelinci lucu juga hihihi XD nice fic kak 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s