AU · FF Project · Genre · Giveaway Project · HGTH · Length · Moment · One Shoot · PG · Rating · Romance · Slight!Hurt · Sweet

[Love Is Moment] Suddenly All Becomes Different


Author: ChocoYeppeo

Title: Suddenly All Becomes Different

Moment: Sweet

Main Cast: Lee Minhyung (NCT Mark) & Jeon Somi (IOI Somi)

Genre: HGTG, lil’ bit Romance, AU, slight!Hurt

Length: Oneshot // ±3300words

Rating: PG

“Semua hal terjadi dengan tiba-tiba sampai aku tak mampu menaksir kejadian berikutnya.”

—o0o—

 

Apakah benar, tiada seorangpun yang berkeinginan untuk tidak menikah?

 

Tidak. Anggapan tersebut salah seratus persen bagi seorang Lee Minhyung. Seorang penerus Goryeo—yang terlalu belia untuk dibebani dunia politik, baik suatu permasalahan maupun titipan sang Ayahanda— tersebut bahkan belum pernah sekilas saja memuji seorang wanita selain Ibundanya.

 

Melarikan diri adalah hal terbesar pertama yang ia lakukan seumur hidupnya. Baru kali ini ia merasa berhak menolak atas apa yang Ayahanda perintahkan kepadanya. Ini menyangkut masa depan. Ia masih belum berkeinginan mempersunting seorang gadis dari belasan kandidat yang telah kerajaan pilih.

 

Di tengah pelatihan keterampilan calon Putri Mahkota bulan kedua, lelaki yang kerap dipanggil Pangeran Lee tersebut telah memutuskan untuk meninggalkan istana tanpa memberitahu secara langsung kepada Ayahanda dan Ibundanya yang terlalu sibuk akan pemilihan calon pengantinnya. Ia memilih meninggalkan secarik kertas berisi permohonan izin mengembara demi menghindari pernikahan. Surat tersebut dibungkusnya rapi dan ia letakkan di tempat tidurnya.

 

Pangeran Lee lekas mengemasi beberapa pakaiannya kemudian mengendap-endap keluar istana. Beruntung sekali tak ada seorangpun penjaga yang mengetahui gerak-gerik anehnya. Ia lantas memilih untuk tak menunggang kuda.

 

Tidak sampai 15 menit sejak ia keluar dari wilayah istana, kini Pangeran Lee telah berada di kerumunan rakyat biasa yang beraktivitas di pusat perdagangan. Akibat belum pernah berkunjung ke tempat tersebut, ia merasa tidak tahu lagi harus menggantungkan diri kepada siapa.

 

Sebuah suara yang terdengar familier menyapa pendengaran Pangeran Lee ketika ia sedang asyik menyempatkan diri menonton sebuah parodi kecil. Saat itu juga, semua orang di sekitar sana termasuk Pangeran Lee mengerumuni sumber suara yang menjadi pusat perhatian.

 

“Siapapun yang sempat melihat Putra Mahkota Goryeo, tolong segera laporkan kepada pihak kerajaan!” suara berat itu menggema di berbagai penjuru. Pria yang nampak seperti orang-kerajaan tersebut kemudian menempelkan selembar kertas berisi pengumuman mengenai kaburnya Putra Mahkota.

 

Setelah mencerna perintah kerajaan dari pria yang begitu dekat dengannya itu, Pangeran Lee lekas melawan arus orang-orang yang hendak menuju papan pengumuman. Sesekali ia menimbulkan kegaduhan kecil di kanan-kirinya karena tak sengaja menabrak mereka.

 

Mendengar keributan kecil yang begitu janggal tersebut, orang-orang dari kerajaan saat itu juga mencari sumber kegaduhan. Mereka itu menerobos rakyat dengan asal dan tetap tertuju pada seorang lelaki berpakaian biru sederhana yang seperti tengah menghindari mereka, “Itu Pangeran Lee!” pekik salah satunya memberikan aba-aba kepada yang lain untuk segera bertindak.

 

Pangeran Lee sendiri mulai mempercepat langkahnya yang sudah lebar tanpa menoleh ke belakang lagi, “Sial! Secepat inikah berita di negeri ini menyebar?!” sesekali ia mengumpat tak jelas sambil terus berlari.

 

Di balik pakaian biru bermotif yang dikenakan lelaki terhormat itu, udara panas telah membuat sekujur tubuhnya terpaksa dilumuri keringat yang sebenarnya ia sendiri tak suka. Peluh tak henti mengalir dari pelipis sampai ke dagunya hingga menetes membasahi pakaian bagian dadanya. Tak akan pernah meskipun dipaksa, ia akan memilih calon Putri Mahkota di saat ini.

 

Seorang gadis berpakaian rapi dan bersih dengan surai dikepang dua ala anak-anak muncul tiba-tiba dari dalam sebuah toko tanpa memerhatikan keramaian di sana. Tak sengaja ia menghalangi langkah Pangeran Lee sehingga…

 

BRUK!

 

Gadis itu memandang lelaki yang terjatuh di depannya dengan terkejut. Ia langsung merendahkan badannya untuk membantu orang asing itu berdiri, “Tuan, Anda baik-baik saja?” matanya berubah teduh, sedikit khawatir jikalau lelaki itu terluka.

 

Pangeran Lee mengangguk cepat. Ia menilik ke belakang memastikan orang-orang yang mengejarnya sudah kehilangan jejak, “Nona, tolong bantu aku,” pintanya sembari menggenggam kuat-kuat tangan mungil gadis di depannya. Ia lagi-lagi memeriksa ke balik tubuhnya.

 

Gadis itu mengerti—setidaknya tahu— jika tuan itu sedang membutuhkan bantuan dilihat dari raut wajahnya yang gusar dan rupa mengilap penuh keringat. Ia mengangguk mantap dan langsung menarik lengan Pangeran Lee ke dalam toko kecilnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

 

Sekarang Pangeran Lee bersama gadis yang baru saja ditemuinya itu duduk bersama di ruang tengah toko yang merupakan tempat menerima tamu. Pangeran Lee sekilas mendengar percakapan para pengawal kerajaan yang tak dapat menemukannya. Ia membuang napas kasar, setidaknya ia merasa lega untuk saat ini.

 

“Sepertinya tadi aku melihat seseorang masuk kemari dengan tergesa-gesa,” seorang pengawal berujar tepat di beranda depan tempat Pangeran Lee bersembunyi. Sedetik kemudian, suara ketukan sepatu bot terdengar memasuki toko itu yang membuat Pangeran Lee bergidik.

 

Pangeran lalu bergerak gesit untuk bersembunyi di balik salah satu susunan pakaian yang memang dijual di tempat yang merupakan toko pakaian tersebut. Ia menarik gadis di dekatnya itu asal seraya membekap mulutnya takut-takut ia akan berteriak. Pangeran membawa gadis itu ke dalam rengkuhannya sambil menutupi diri mereka dengan gaun wanita yang tergantung rapi.

 

“Permisi,” pengawal kerajaan masuk hingga ke tempat utama namun ia mendapati ruangan tersebut kosong, “Apakah ada orang?” hanya terasa terpaan angin dari luar. Ia sekilas melihat sesuatu bergerak di salah satu spot pakaian. Hampir saja ia mendekatinya apabila tak ada pengawal kerajaan lain yang mengusik fokusnya.

 

“Aish. Setidaknya toko harus ditutup ketika ditinggalkan.”

 

Ucapan singkat orang berbadan besar itu mengiringi langkahnya keluar dari sana. Napas lega dapat Pangeran hembuskan kuat-kuat saat itu juga. Ia sesaat mengalihkan pandangannya kepada gadis yang masih ia bekap tersebut. Dengan gerakan lambat ia menarik kembali lengannya dari wajah di hadapannya.

 

Sepasang mata bulat nan indah yang tertangkap netra Pangeran membuatnya sejenak terlarut dalam detik itu. Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah tembok kayu di sana menabrak wajah manis dengan lembutnya ditemani semilir angin yang datang dari jendela kecil di sisi ruangan. Sepertinya untuk menggerakkan bola matanya saja sangat sulit. Entah mengapa dengan menatap gadis tersebut hati Pangeran terasa lebih tenang dan nyaman.

 

“Ah, Tuan,” gadis itu menggerakkan tubuhnya sedikit untuk menjauh dari lelaki di dekatnya, “Anda membuat saya tidak nyaman,” ia langsung berdiri dan merapikan gaun sederhananya sambil membetulkan surai hitamnya.

 

Pangeran Lee mengerjapkan matanya sejenak, tersadar jika ia baru saja terbawa suasana, “Ma–Maaf,” ia ikut menegakkan badannya menyejajari gadis itu.

 

“Saya harap saya tidak salah membantu seseorang. Kalau begitu, silakan keluar. Saya pun akan pulang ke rumah,” ujarnya yang menatap Pangeran dengan gugup lalu lekas mengayunkan kakinya meninggalkan seorang lelaki yang nampak tak tahu apapun itu.

 

Melihat punggung gadis di depannya menjauh, Pangeran justru menarik lengan gadis itu membuatnya terjatuh dalam dada Pangeran. Udara di sana seperti terhenti begitu saja. Keduanya sama-sama membulatkan mata terkaget akan hal itu. Gadis itu sesaat mendengar cepatnya detak jantung lelaki—yang bahkan tak dikenalinya— itu, sementara Pangeran Lee mampu memandang lagi wajah cantik yang terbasuh cahaya matahari.

 

[Lee Minhyung’s POV]

 

Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi pada diriku. Darahku berdesir terlalu cepat menandakan detak jantung yang tak seperti biasanya. Masih terlalu sulit untuk memahaminya. Mengapa diriku terasa tak ingin jauh dengannya padahal ini adalah kali pertama aku melihatnya.

 

aku memejamkan mataku kuat-kuat agar segera tersadar dari waktu ini. Lantas aku membantu gadis asing yang tak sengaja terjatuh dalam pelukanku ini untuk berdiri. Mataku tak mampu melepaskan pandangan dari manik coklat itu. Merasa terlalu canggung, akupun memilih untuk memulai percakapan lebih dahulu, “Si–Siapa namamu?”

 

“Apakah nama saya penting?” aku melihatnya melemparkan tatapan tak suka. Aku segera sadar jika kedua tanganku masih berada di sisi badannya hingga aku menurunkannya dengan tergesa-gesa.

 

Tak ada jawaban yang keluar dari gadis itu. Ia meninggalkanku di ruangan remang-remang ini namun perasaanku seolah-olah tak ingin terlepas dengannya. Aku berjalan perlahan. Mengikutinya diam-diam dengan jarak tak terlalu dekat meskipun aku belum tahu ia akan menuju ke mana.

 

Melihatnya yang selalu tersenyum kepada orang-orang yang berpapasan dengannya, sudah jelas sekali jika ia adalah tipe gadis ramah. Lebih-lebih ia menyempatkan diri untuk sedikit bergurau dengan anak kecil di sekitar sana.

 

Saat itulah aku mulai merasa ingin melihatnya lebih dan lebih dari saat ini.

 

“Tuan! Mengapa Anda mengikuti saya?!”

 

Seruan yang berkesan mengejutkan itu membuatku terkesiap dan langsung tergagap-gagap. Senyum yang sedari tadi menyinari wajahku lenyap dengan cepat. Aku menatap ke sembarang arah dengan bingung, “Aku– Aku hanya kebetulan searah dengan– denganmu,” sungutku membela diri.

 

Seseorang dari belakang gadis itu, aku melihatnya kesulitan membawa sekotak besar jerami di punggungnya. Ia bahkan tak terlihat fokus dengan jalanan. Aku segera menarik gadis itu ke dalam rengkuhanku kalau-kalau ia tertabrak pria tua yang mulai beruban tersebut, “Awas!”

 

“Hei! Tolong perhatikan sekitarmu!” ingatku kepada pria tua yang sudah beberapa meter berada di balik tubuhku. Merasa tak diindahkan, aku mulai mengumpat kecil tentang orang itu. Seharusnya ia meminta bantuan seseorang yang mampu mengangkatnya.

 

Kembali ke posisi semula, aku lagi-lagi dapat memandang lama garis wajah sempurna yang telah terkunci oleh kedua lenganku. Kembali rasa aneh itu muncul, membuatku sangat ingin memahami keanehan apa ini.

 

“Tuan! Apa yang Anda lakukan?!”

 

Ia memaksa melepaskan diri dariku sehingga aku membiarkannya begitu saja. Wajah kesalnya membuatku terjatuh dalam jurang kegelian. Mengapa justru ia menjadi sangat kekanak-kanakan ketika marah seperti itu? Aku hanya membalas tatapan tajam itu dengan tawa tertahan yang membuatnya semakin geram.

 

“Baiklah. Silakan Anda pergi ke sana. Saya akan ke arah lain.”

 

Melihatnya hendak melangkah meninggalkanku, aku langsung menahan lengannya. Ia membalikkan tubuhnya namun matanya tak menuju diriku. Aku tak mengerti pada diriku sendiri yang menjatuhkan diri bertumpu pada lutut. Aku menautkan jemariku ke depan dada, “Nona, kumohon bawa aku bersamamu. Untuk sekali ini saja. Aku benar-benar harus menghindari sesuatu. Kumohon! Jika aku tidak dapan mengelaknya, hidupku akan terancam!”

 

“Maksud Anda, menghindari apa?” kali ini ia memperhatikanku dengan dahi yang sedikit mengerut.

 

Aku terhening sekejap untuk mencari sebuah alasan, “Meng– menghidari… pernikahan!” sahutku asal sebab tak ada satupun ide yang muncul saat itu, “Or– orang tuaku menjodohkanku dengan seseorang yang bahkan aku sendiri tidak mengenalinya. Aku tidak ingin menikah dengan sembarangan orang. Maka dari itu aku pergi dari rumah. Nona, sembunyikan aku, ya? Kumohon!”

 

“Sepertinya kau sedang tidak berbohong,” gumamnya yang dengan mudahnya memercayai ucapan omong kosongku. Akan tetapi, mengenai pernikahan itu setidaknya aku serius.

 

[Lee Minhyung’s POV End]

 

*****

 

“Oh? Somi, kau pulang awal? Siapa yang kau ajak ke rumah?” seorang wanita yang wajahnya mulai berkerut menghentikan aktivitasnya—mengambil jemuran yang telah kering— untuk menyapa seorang lelaki yang berjalan bersama anak gadisnya. Wanita itu tersenyum kepada Pangeran yang memang tidak ia ketahui sebelumnya, “Kau tampan sekali. Apakah kau kekasih Somi? Wah, senang–”

 

“Ibu! Dia hanya temanku!” tukas gadis yang telah Pangeran Lee ketahui bernama Somi tersebut cepat-cepat dengan nada kelewat tinggi tak lupa sambil mengerucutkan bibirnya dan memukul kecil lengan ibunya itu.

 

Somi melirik kesal sekilas ke arah Pangeran yang masih tergeming karena ucapan ibu Somi barusan, “Masuklah. Biar kubuatkan minum,” gumamnya tegas yang justru membuat ibunya memerhatikan geraknya kegelian. Ia langsung melepas alas kakinya untuk menaiki beberapa anak-tangga yang membawanya ke serambi rumah.

 

“Selamat sore,” Pangeran membungkuk sesaat untuk menyapa ibu Somi kemudian segera mengikuti gadis itu yang telah mencapai pintu rumah. Kedua manik mata coklatnya masih terkunci padanya yang saat ini hanya terlihat punggung berhiaskan surai panjang nan manis, “Jadi, namamu Somi, ya.”

 

Pangeran lagi-lagi memberi salam ketika sudah berada di dalam rumah berukuran sedang yang terlihat rapi itu. Ia kemudian duduk di tempat beralaskan bantal kecil yang telah ditunjuk Somi.

 

Beberapa sekon selanjutnya, seorang pria yang rambutnya sudah mulai berwarna abu-abu keluar dari balik salah satu pintu selagi Somi meninggalkan Pangeran di ruangan itu tanpa mengatakan apapun. Ia memandang pria itu dan segera berdiri untuk sekadar membungkukkan badan kepadanya.

 

Pria itu duduk di seberang Pangeran yang juga duduk mengikutinya. Senyuman semringah tak lepas dari wajahnya begitu saja yang membuat Pangeran sendiri menjadi kikuk. Pangeran tak berani memulai perkataan, begitu pun dengan pria yang ditebaknya merupakan ayah Somi.

 

“Apakah kau kekasih putriku?” guraunya dengan nada yang lebih seperti menggoda tepat ketika Somi muncul dari pintu tadi dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat dua cangkir air minum. Pria itu melirik geli ke arah anak gadisnya yang terus memasang wajah masam sampai ikut duduk bersama dua lelaki di sana, “Kau memang tidak salah pil–”

 

“Ayah!” hindar gadis itu dengan tatapan tajamnya yang justru terlihat menggemaskan, “Dia ini hanya temanku. Tidak lebih!” gerutunya seraya menaruh nampan tadi di bawah meja.

 

“Selamat sore,” Pangeran Lee tersenyum kaku, bingung harus mengomentari ucapan ayah Somi dengan kalimat seperti apa.

 

“Silakan diminum, Tuan…?”

 

“Lee Minhyung,” sambung Pangeran karena ia baru sadar jika sedari tadi ia belum memberitahukan namanya.

 

“Ah, ya,” ayah Somi memulai acara penyambutan kecil itu dengan meneguk teh hijau dalam cangkir itu, “Kau terlalu tampan untuk gadis sepertinya tetapi aku merestui kalian,” bisik pria itu sambil memasang tangannya untuk menutupi ucapannya dari Somi.

 

Detik itu juga Pangeran tersedak seusai ucapan ayah Somi rampung yang membuat Somi agak terkejut dan lekas mengeluarkan saputangan yang selalu ia bawa kemana saja, “Anda tidak apa-apa?” saputangan itu diulurkannya kepada Pangeran lalu pada saat berikutnya ia melirik ayahnya dengan tatapan mengintimidasi, “Ayah! Apa yang kau katakan kepadanya?!” tanyanya kesal namun hanya ditertawakan oleh pria berjenggot abu-abu di sana.

 

Oh, ayolah. Mengapa rasa tidak-terima di otak Somi terasa tidak sesuai dengan keadaan hatinya saat ini?

 

*****

 

Gugusan bintang di langit biru gelap beraksesori bulan-separuh mulai bermunculan seiring waktu semakin bergulir. Awan-awan tipis seperti permen kapas di atas sana semakin memaniskan suasana yang tak begitu hangat itu.

 

Hanya nyala api dari tumpukan kayu yang terbakar yang dapat diandalkan untuk menghindari tusukan angin dingin di pori-pori dua insan di sana. Ya, Pangeran Lee bersama putri pemilik halaman tempat mereka menikmati malam, Somi. Mereka duduk berdampingan di atas batang pohon besar yang sengaja dijadikan tempat duduk. Telapak tangan mereka di arahkan ke api unggun di depan mereka dengan tujuan tadi.

 

Tak terasa Pangeran Lee sudah berada bersama Somi selama hampir tiga jam. Dalam kurun itu pula mereka semakin mengenal dekat walaupun hanya hal-hal umum yang dibicarakan.

 

“Apakah kau sudah memiliki kekasih?” tanya Pangeran Lee begitu mudahnya yang berhasil membuat Somi menambahkan jarak di antara mereka beberapa senti.

 

“Apakah Anda tahu jika itu adalah pertanyaan pribadi?” ujar Somi kesal tanpa berniat menjawab pertanyaan Pangeran barusan.

 

“Begitu, ya?” Pangeran Lee memandang jauh ke atas seolah mencari jawaban di sana, “Baiklah. Kau tidak perlu menjawabnya karena aku pun sudah tahu jawaban sebenarnya,” omongnya dengan gampang.

 

Somi berdehem dengan sengaja, “Mengapa sejak tadi Anda berbicara informal padahal kita belum pernah saling mengenal sebelumnya?” ia mulai melawan dengan meninggikan suaranya. Sedikit ia tersenyum penuh kemenangan melihat Pangeran Lee yang terbata-bata hendak merespons pertanyaannya.

 

“A–aku…” Pangeran berpikir sedikit mencari alasan untuk pertanyaan gadis unik di sampingnya itu untuk yang ke sekian kalinya, “Aku sudah terbiasa,” ujarnya cepat tanpa menujukan obsidiannya ke arah yang seharusnya, “Aku sudah terbiasa berbicara seperti ini. Kau pun boleh berbicara informal kepadaku,” gumamnya sambil berlagak memandang langit.

 

Gadis berwajah bukan Korea tulen di sana hanya mengangguk pelan biarpun masih ada rasa percaya tidak percaya dalam hatinya, “Kalau begitu, mulai saat ini aku akan melakukannya,” ucapnya mantap kemudian mengangkat tangannya yang terkepal ke arah Pangeran Lee.

 

“Ya, kau harusnya seperti itu sejak tadi meskipun aku tidak memintanya,” Pangeran mengetukkan kepalan tangan kanannya dengan tangan Somi tadi dan sesaat keduanya saling melemparkan senyum cerah yang entah sejak kapan mereka menjadi lebih dekat untuk melakukan hal seperti itu.

 

“Ah,” senyum gadis cantik itu pupus tiba-tiba tak sampai tiga-puluh-detik berikutnya. Wajah bermimik tak menyenangkan—datar— itu kembali dimunculkannya sementara kepalan tangan mungilnya itu ditarik dari posisinya.

 

Senyap. Beberapa saat menggeluncur begitu saja tanpa ada sepatah kata yang datang dari kedua insan di sana. Somi tengah memandangi bintang yang berkelip-kelip di tempat yang sangat jauh sedangkan Pangeran Lee menyorongkan lengannya ke arah api unggun sambil sesekali melirik ke samping di mana Somi duduk.

 

Pangeran Lee berdeham pelan namun tak mengusik gadis itu barang sedikit saja. Merasa gagal mengganggu Somi, ia kemudian menggeser duduknya hingga sedikit bersenggolan dengan lengan lain di sana membuat sang empunya menatap tak suka tanpa berkomentar.

 

“Bagaimana pendapatmu tentang Pangeran?” buka Pangeran Lee mengajak gadis bermata agak bulat besar itu untuk membicarakan dirinya sendiri.

 

Somi menggumam panjang sambil meletakkan dagunya di telapak tangan kiri, “Aku belum pernah melihatnya secara langsung. Jadi, aku tidak tahu harus bagaimana menjawabmu.”

 

“Apakah kau akan menyebutnya payah ketika ia tak berani menerima tahta Ayahandanya?”

 

“Oh? Bagaimana bisa kau mengatakan seperti itu?” Somi membulatkan mulut dan kedua matanya menanggapi ucapan Pangeran Lee itu, “Apakah kau seseorang dari istana?”

 

“Ah, tidak. Tidak. Aku hanya asal menduga saja,”

 

Gadis itu mengangguk pelan dan memulai pikirannya, “Dia tidak pantas dikatakan payah seperti itu, menurutku. Toh, dia juga remaja seperti biasanya yang hanya berbeda tempat tinggal dan aturannya. Jika Raja memaksa Pangeran yang sepatutnya belum mampu menanggung negeri, ia justru akan menghancurkan semua tatanannya, ‘kan? Itu hanya opiniku.”

 

“Somi,” Pangeran memanggil gadis di sampingnya membuat si pemilik nama menolehkan kepalanya tak lupa dengan alis sedikit naik, “Bolehkah aku mengatakan sesuatu yang benar-benar jujur?”

 

“Maksudmu… kau sudah berdusta di hari pertama kita saling mengenal?” kini gadis itu melirik sipit berlagak meruncingkan pandangannya. Sekon berikutnya, ia memperlihatkan muka penasarannya yang terlalu sulit dijelaskan dengan kata-kata.

 

“Aku tidak bermaksud buruk. Serius,” Pangeran Lee memasang wajah penuh penyesalannya yang membuat hati Somo luluh dengan entengnya.

 

“Bagaimana jika aku adalah Putra Mahkota Goryeo?”

 

Somi membulatkan kedua matanya yang sudah agak bulat untuk ke sekian kali sejak mereka bertemu, “Maka aku ratunya,” omongnya dengan penuh candaan kemudian.

 

“Tidak. Aku serius,”

 

“Aku juga,”

 

“Aku benar-benar Pangeran Lee, Putra Mahkota Goryeo,”

 

“Dan aku Ibundamu,”

 

“Kali ini aku jujur. Sungguh sudah kukira kau tidak akan percaya dengan mudah,”

 

Somi memandang Pangeran Lee lekat-lekat selama beberapa waktu dalam keadaan bungkam. Mata berkilau lelaki itu… tak menunjukkan kebohongan sebesar debu saja. Baru tumbuh perasaan yang belum pernah Somi alami sebelumnya namun ia harus menerima kenyataan jika lelaki yang masuk dalam pupil hitamnya itu benar bukanlah orang biasa.

 

Pangeran Lee menyingsingkan lengan pakaiannya bermaksud menunjukkan tulisan namanya yang dilukis di lengan kiri berotot tak banyak itu. Kaligrafi ‘Lee Minhyung’ di sana ditulis dengan sangat indah menggunakan tinta hitam bercampur darah singa liar yang menandakan si pemilik nama memang seseorang yang akan mewarisi seluruh Goryeo setelah Raja meninggal dunia.

 

Somi membeku memandangi lengan Pangeran Lee. Seketika air bening menggenang di pelupuk mata indahnya tanpa berancang-ancang. Kilauan yang terkena sorotan lampu itu membuatnya mau tidak mau harus mengusapkan telapak tangannya ke wajah demi menghilangakan jejak air mata. Sangat sulit. Sekali dihapus, yang lainnya mendesak keluar.

 

Pangeran Lee hendak memberikan dekapannya kepada Somi dan tepat saat itu pula Somi bangkit lalu membungkukkan badannya, “Maafkan saya yang terlambat mengetahui ini,”

 

“Somi, kau boleh menganggapku sebagai orang biasa bila kau kesulitan. Aku tidak mengharapkanmu seperti ini,” Pangeran Lee ingin menghentikan gadis itu namun apalah dayanya meluluhkan perasaan yang sedikit keras dalam diri Somi kini.

 

“Maafkan saya. Maaf,” Somi tak mengganti posisinya, “Sebaiknya Anda tidak datang kemari lagi. Silakan kembali ke istana,” ia mulai berlari masuk ke rumah menuju kamarnya meninggalkan lagi seorang lelaki bersama sebuah perapian yang mendadak meredup.

 

“Somi!” berkali-kali Pangeran memanggilnya namun tak diindahkan oleh yang dipanggilnya.

 

—o0o—

 

[Lee Minhyung’s POV]

 

Sebenarnya aku belum mengutarakan semuanya. Aku memang sudah menduga apa yang akan menjadi kenyataan setelah ini tetapi ternyata ini lebih berat dibandingkan ekspektasiku.

 

Sekarang ini aku hanya dapat termenung melangkahkan kaki menyusuri tanah yang akan membawaku ke tempat sebelum aku bertemu dengannya setelah kecelakaan kecil tadi terjadi. Aku menyesal berkata jujur jika akhirnya adalah seperti ini. Dia pasti sudah dibuat menangis olehku.

 

Tadi aku sudah berusaha menggapai lengannya sebelum ia benar-benar mengurung diri di kamar. Akan tetapi, ia tetap saja menghempaskan tanganku. Bahkan, panggilan orang tuanya sampai tak dipedulikan. Aku hanya dapat menyesali semua ini.

 

Aku memandangi punggung kakiku yang bekerja dengan lambat hingga aku tak kunjung sampai di tikungan yang seingatku berada di sekitar sini. Aku berhenti dan mendongakkan kepalaku ke arah langit yang sekarang sedikit diperindah dengan sinar bulan. Secerah wajahnya ketika tersenyum, bulan itu.

 

HUP!

 

Seseorang dengan mendadak melingkarkan kedua lengannya di perutku membuat tubuhku sedikit tersentak ke depan. Aku merasakan kehangatan di punggung yang membuat seluruh sarafku seperti mati. Aku menunduk, lengan seorang gadis.

 

Gadis itu bergumam kecil, “Bolehkah saya seperti ini untuk yang terakhir kalinya?”

 

“Somi?”

 

Aku langsung memutar badan dan menggenggam lengan gadis itu. Aku tak salah. Ini memang sebuah ketiba-tibaan ia berlari mengejarku. Kutatap dalam-dalam mata bulat Somi yang sedikit sembab, “Tidak. Jika kau ingin, kau boleh melakukan ini selamanya,”

 

—o0o—

 

Waktu itu aku sungguhan membawa gadis asing ke dalam istana sampai akhirnya ia menjadi pengantinku meski butuh waktu berminggu-minggu mendapat izin dari Ayahanda. Dalam berminggu-minggu itu pula aku telah menguras seluruh air mataku. Dan lagi, izin Ayahanda itu adalah tiba-tiba karena pada awalnya beliau bahkan sempat memarahinya dan memisahkan kami berdua.

 

 

 

-끝-

Advertisements

One thought on “[Love Is Moment] Suddenly All Becomes Different

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s