AU · Fantasy · FF Project · G · Genre · Giveaway Project · Hurt · Length · Moment · Myth · One Shoot · Rating · Spicy

[Love Is Moment] Ubi Amor, Ibi Dolor


UBI AMOR, IBI DOLOR —

©2017, BaekMinJi93

.

Moment

Spicy

.

Starring with

PRISTIN’s Park Siyeon as Psikhe SF9’s Kang Chani as Cupid

slight! DIA’s Somyi Girls Day’s Hyeri

.

| AU! Fantasy Hurt Myth | Oneshoot | General |

.

Disclaimer

This plot and OC purely mine!

Happy reading 🙂

.

Get inspired from

The Greek’s myth about the love affair of Cupid and Psikhe with a slight change of plot from me

.

Hangat sinar mentari pagi sontak menyapa kala Sang Putri menyingkap tirai jendela kamarnya, pun dengan sekumpulan burung merpati yang seketika bersinggah di kusen jendela seakan ingin memberi salam pada Sang Putri jua.

“Selamat pagi,” sapanya anggun. Siyeon—nama Sang Putri—terkikik gemas melihat gerumbulan merpati yang saling berebutan makan dedak yang ditaburkannya. “Apa kalian begitu menyukainya? Ah … lucunya.”

Meski sendirinya tahu jika burung-burung itu tak akan pernah memberi jawaban yang setimpal untuknya, namun Siyeon tetap mengulang kebiasaan ini setiap harinya. Terasa menyenangkan sekaligus menghangatkan batinnya.

“Siyeon!”

Satu frasa yang cukup membuat kumpulan merpati itu kabur saking terkejutnya.

“Sampai jumpa besok,” seru Siyeon melepas kepergian mereka di angkasa dilanjutkan dengan acara membersihkan sisa dedak di kusen jendela dengan jemari lentiknya. “Kau membuat mereka terkejut, Kak,” lanjut Siyeon tanpa payah menyembunyikan nada keluhannya.

Kendati demikian, sang pelaku hanya tertawa kecil menanggapinya.

“Aku sengaja melakukannya hanya demi memastikan jika kau bukanlah orang gila yang bersedia untuk berteman dengan—”

“Mereka juga makhluk hidup, Kak Somyi.”

“Ya, ya. Kau benar,” sahut Somyi seadanya sembari menghempaskan diri di atas ranjang empuk milik Siyeon. “Omong-omong, selamat ulang tahun, adikku sayang.”

Siyeon yang kala itu tengah bersiap untuk mandi, seketika menghentikan aktivitasnya. Seulas senyum riang lantas terpatri di wajahnya.

“Apa ayah akan menepati janjinya hari ini?” tanya Siyeon tanpa peduli dengan nada antusiasnya yang kentara. “Kita akan piknik ‘kan, Kak?”

Somyi mengangguk mantap. “Tentu. Maka dari itu cepatlah mandi. Aku dan Kak Hyeri baru saja selesai menyiapkan bekal dan kita akan bersenang-senang dengan ayah.”

Yuhu!” sorak Siyeon senang. “Baiklah, aku akan turun ke bawah segera.”

***

Di lain tempat dengan jarak langit yang berlapis-lapis, seorang dewi cantik tengah bersiteru dengan perasaan gelisahnya. Saking gelisahnya, sesekali ia menggigit jari telunjuknya dengan gemas.

“Kurang ajar!” umpatnya kesal sembari mengacak meja riasnya. “Sombong sekali dia. Memang dia pikir pesona cantiknya dapat mengalahkanku? Heol … langkahi dulu mayatku sebelum berani mengklaimnya. Dasar manusia durhaka!”

Dewi cantik nan beringas itu kembali menatap ke arah bola kristal ajaib yang kini memancarkan sebuah bayangan Siyeon bersama keluarganya. Decakan kesal terus saja terlontar dari bibir Afrodit—nama dewi tersebut—kala melihat senyum Siyeon yang begitu memikat dan seakan tak pernah luntur di wajahnya.

Iya, kau benar. Afrodit merasa tersaingi dengan kecantikan Siyeon dan beliau begitu membenci kenyataan itu.

“Ibu,” panggil seseorang dengan suara beratnya.

Afrodit lantas melempar pandang ke arah sumber suara dan di sekon itulah senyum keibuannya terukir di wajahnya.

“Oh, Chani. Kau sudah datang?”

Meski tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tetapi tak dapat dipungkiri jika Chani merasa ada yang aneh dengan gelagat ibunya saat ini. “Apa ada masalah, Bu?”

“Ah, tidak.”

Afrodit melambaikan tangannya ringan, tak lupa dengan tawa kecil yang menghiasinya. Namun lagi-lagi Chani masih dapat merasakan sebuah kejanggalan di dalamnya.

Chani pun tak kuat untuk tak mengangkat sebelah alisnya heran. “Lantas kenapa kau memanggilku kemari?”

“Tak perlu terlalu tegang seperti itu, Nak.” Afrodit merajut langkah dengan anggun dan mengusap punggung putranya lembut. “Ibu hanya ingin bersenang-senang dengan putra kesayangan ibu. Bukankah beberapa hari yang lalu kau mengeluh jika menginginkan sebuah hiburan?”

Chani sontak mengangguk membenarkan karena memang itulah kebenarannya, sedangkan senyum Afrodit semakin melebar kala menerima reaksi sang putra.

“Maka dari itu, ibu akan menuruti permintaanmu hari ini. Ibu harap kau menikmati hiburanmu, Nak.”

***

Cantik.

Satu kata yang tercetak di benak Chani kala melihat sosok Siyeon yang kini tengah asyik bersenang-senang dengan keluarga kecilnya dari balik semak belukar. Senyum yang begitu cerah nan memikat tersebut seketika membuat hati Chani meleleh dalam waktu sekejap.

Oh Gosh, apa yang sebenarnya ibu pikirkan hingga berniat ingin mengutuk gadis cantik sepertinya?,

Jujur saja Chani seringkali merasa heran dengan tingkah labil sang ibu yang terkadang tak bisa dinalar dengan baik olehnya dan kini alasan sang ibu benar-benar terkesan konyol di otaknya, pun dengan dirinya yang—mungkin—turut bertingkah konyol jika ia benar-benar menuruti perintahnya.

“Aku akan sama gilanya dengan ibu jika aku benar-benar menuruti perintahnya dan mengutuknya untuk jatuh cinta dengan manusia terjelek di dunia.”

Besar kemungkinan jika Chani tengah jatuh ke dalam pesona Siyeon saat ini. Kasarnya, Chani jatuh cinta pada pandangan pertama, hal ini ditegaskan dengan degup jantungnya yang tak karuan saat sang fokus menangkap senyum cantik itu.

“Ah … apa aku benar-benar harus melakukannya?”

Ditengah labilnya perasaan, tanpa sadar panah emas yang dipegangnya saat ini Chani tusukkan pada lengannya sendiri.

Argh, sial!”

Astaga, sepertinya ia baru saja melakukan kesalahan yang fatal!

Chani menggigit ujung kukunya panik. “Bagaimana ini?”

***

Seolah sudah menjadi sebuah kebiasaan, Afrodit masih saja memantau keadaan Siyeon melalui bola kristal ajaibnya. Namun ia mendapati sebuah keganjilan di dalamnya, mengapa hingga saat ini Siyeon belum juga jatuh cinta pada siapapun?

Tak pelak kenyataan ini membuat Afrodit kembali merasa gelisah. Ada apa ini sebenarnya?

“CHANI!” seru Afrodit memanggil putranya.

Merasa terpanggil, Chani pun merajut langkahnya menghampiri sang ibu dengan langkah ragu. Ia pun tak dapat berdusta jika nyalinya sedikit menciut saat ini.

“Ada apa, Bu?” tanya Chani mencoba berusaha untuk berlaku seperti biasa.

Kini wajah Afrodit dipenuhi dengan raut garangnya, namun ia mencoba untuk menahannya. Sang dewi menghembuskan napas panjang sebelum mengajukan pertanyaannya. “Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik ‘kan, Nak?”

Jackpot!

Chani sontak tergagap menerima pertanyaan mengerikan ini. Ia seharusnya tahu, cepat atau lambat mimpi buruk ini akan mendatanginya juga.

“Te—…,” jawab Chani gugup yang tentu saja membuat alis ibunya tertaut. “Tentu saja, aku sudah melakukannya, Bu.”

Meski hatinya berkata ada yang aneh dengan jawaban sang putra, namun Afrodit mencoba untuk menghempaskannya.

“Memang kenapa, Bu?” tanya Chani berpura-pura tak memahami suasana di hadapannya saat ini.

Afrodit menutup kedua matanya dan menghembuskan napasnya kasar. “Tidak apa-apa, ibu bertanya hanya sekedar untuk memastikannya.”

Syukurlah, batin Chani lega.

“Baiklah, aku izin pamit terlebih dahulu. Aku harus menyelesaikan tugasku hari ini, Bu. Sampai jumpa.”

Dewi tercantik itu pun melambaikan tangannya sekilas. “Ya, hati-hati.”

Tanpa mengulur waktu lebih lama, Chani pun segera mengangkat kakinya dari kamar sang ibu. Dia kembali menghembuskan napas leganya dan merasa beruntung hari ini, meski sebenarnya ia tak tahu kapan sang kiamat kecil benar-benar akan datang menghancurkannya.

***

Berbeda dengan Afrodit bersama rasa gelisahnya yang tak kunjung sirna atau bahkan Chani dengan segala degup jantungnya yang marathon kala sang netra bersitatap dengan sosok cantik Siyeon, kini hati Raja dan Ratu tengah dilanda sebuah kecemasan yang tiada tara. Beliau merasa cemas dengan keadaan Siyeon yang hingga saat ini tak ada seorang pemuda pun yang datang untuk melamarnya.

“Haruskah kita pergi ke Orakel dan meminta sarannya?” cetus Hyeri suatu hari yang pada akhirnya mulai merasa jenuh melihat raut muram seluruh anggota keluarganya.

Sedangkan Siyeon hanya dapat menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah yang melingkupi hatinya. “Maafkan aku,” lirihnya seraya tak dapat menahan kristal kesedihannya.

Masih dengan sisa air mata yang menggenang di sudut kelopak mata beliau, sang ibunda mengusap puncak kepala putrinya pun dengan Somyi yang hanya dapat menepuk punggung saudarinya pelan seolah mencoba untuk memberi kekuatan padanya.

“Ini semua bukan salahmu, Nak. Kau tak perlu meminta maaf.”

“Ayah,” panggil Somyi hati-hati sembari menatap sedih raut wajah sang Raja yang tak lagi secerah dulu. “Jika aku boleh memberi saran, mungkin pendapat Kak Hyeri perlu Ayah pertimbangkan kembali. Kita pergi ke Orakel bukan hanya sekedar untuk mendengar omong kosongnya, tetapi mungkin saja kita mendapat sebuah pencerahan darinya atas masalah ini.”

Raja pun tampak berpikir keras mencoba untuk menimbang-nimbang pendapat dari kedua putrinya.

“Baiklah. Ayah setuju dengan pendapat kalian. Mari kita pergi ke Orakel sekarang,” tekad sang Raja pada akhirnya yang tak pelak membuat Hyeri dan Somyi menghembuskan napas lega. Setidaknya dengan cara ini, mereka berharap akan dapat melihat senyum cerah ayahnya kembali.

“CASTOR!” seru Hyeri memanggil nama salah satu pekerja istana. Tak butuh waktu lama, sang pemilik nama pun menampakkan diri di hadapan sang Putri Mahkota. “Tolong siapkan kereta untuk mengantarkan kami sekeluarga pergi ke Orakel yang tinggal di desa seberang.”

“Baik, Putri.”

Hyeri lantas kembali melempar pandang ke arah adik bungsunya seraya menepuk bahunya mencoba untuk menenangkannya. “Kami akan selalu membantumu sekuat tenaga, Siyeon. Tenang saja.”

***

“APA?”

Raja tak lagi dapat menahan rasa terkejutnya kala mendengar petuah yang diberikan oleh Orakel barusan pun dengan sang Ratu yang tak dapat menahan tangisnya lebih lama lagi.

“Maksud Anda, jodoh adik saya bukanlah seorang manusia melainkan monster?” tanya Hyeri tak percaya.

Kendati memberi respon dengan nada tinggi pula, Orakel tersebut hanya mengulas senyum. “Tidak, tidak. Aku tidak pernah mengatakan jika jodoh putri Siyeon adalah monster, hanya saja suatu makhluk yang tidak dapat kita sebut manusia.”

“Lantas apa yang harus saya lakukan untuk menemuinya,Tuan?” timpal Siyeon tanpa peduli dengan keempat tatapan terkejut yang ia terima. “Kenapa kalian menatapku seperti itu? Mungkin saja ini adalah takdir yang telah ditentukan dalam hidupku.”

“Ta-tapi Orakel ini mengatakan jika—”

Belum sempat Somyi menyelesaikan ucapannya, Hyeri menimpalinya. “Bagaimana jika jodohmu tak lain dan tak bukan ialah monster? Kau akan menjadi santapannya, Siyeon!”

Alih-alih merasa ciut dengan ucapan kedua kakaknya, Siyeon lantas mengulas senyum manisnya. “Aku tidak apa-apa. Percayalah.”

Meski Siyeon memberi jawaban demikian, namun tak lantas membuat raut khawatir di wajah anggota keluarganya luntur seketika.

“Kalian percaya padaku ‘kan? Aku yakin semua ucapan yang diberikan Tuan Orakel ini tidak bertujuan untuk mencelakakanku. Aku akan baik-baik saja. Tenang saja.”

Terselip sebuah keheningan sejenak diantara mereka berlima. Namun kala sang Raja berdeham, tak pelak membuat rasa risau kembali menyergap hati sang ibunda beserta kedua kakaknya.

“Baiklah, jika itu maumu. Tapi berjanjilah untuk kembali dengan selamat, Siyeon. Kami di sini akan selalu berdoa untuk keselamatanmu,” ujar Raja dengan bijak yang diamini oleh ketiga anggota keluarganya yang lain.

“Aku janji.” Rasa lega kembali menghinggapi hati Siyeon kala mendapat persetujuan keluarganya. Siyeon kembali memandang sang Orakel. “Tolong katakan di mana saya harus menemui makhluk yang Anda maksud, Tuan?”

Dengan senyum yang seakan tak ingin lepas dari wajahnya, Orakel tersebut menjawab. “Makhluk itu tinggal di gunung yang terletak di sebelah barat desa ini. Kau harus menemuinya di sana, Putri.”

Entah mengapa senyum Siyeon semakin melebar dari sebelumnya. “Terima kasih banyak atas bantuannya, Tuan.”

Sang Raja beserta keluarganya itu pun kembali pulang ke istana dengan hati yang—sedikit—lega. Meski terasa berat, namun mereka tetap mencoba untuk melapangkan dada dan percaya jika ini adalah satu-satunya solusi terbaik.

Sepulangnya anggota keluarga Kerajaan, sesosok postur tinggi menjulang nan sempurna memasuki tenda sang Orakel. Senyum sosok itu mengembang lebar tanda kepuasan yang kentara.

“Kerja bagus, Tuan.” Sosok itu lantas memberikan satu kantong penuh uang drakhma pada Orakel tersebut. “Ini mungkin tidak seberapa, namun anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku padamu. Terimalah.”

Orakel tersebut tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya. “Terima kasih, Tuan. Ini semua lebih dari cukup untukku.”

Dan sosok itu pun tersenyum melihatnya.

***

Kepergian Siyeon meninggalkan banyak rintik air mata dari semua orang, mereka merasa sedih akibat begitu menyayangkan kepergiannya. Entah karena disebabkan oleh kecantikan fisik maupun hatinya, Siyeon berhasil menjadi wanita yang dicintai masyarakat sekitarnya.

Siyeon terus merajut langkah menuju gunung yang dimaksud sembari memberanikan diri. Namun karena ia tak kuat menahan rasa takutnya, ia pun menitikkan air matanya. Di tengah kalutnya perasaan, tiba-tiba datanglah seekor angsa putih raksasa yang cantik di hadapan Siyeon.

“Sayang sekali gadis secantik dirimu menangis sendirian di sini. Apa ada yang bisa kubantu?”

Tentu saja Siyeon merasa terkejut saat mendapati angsa raksasa itu dapat berbicara. Gadis itu lantas bertanya, “Siapa kau?”

“Aku Zefiros, sang Dewa Angin Barat.” Siyeon menyeka sisa air matanya, yang entah mengapa semakin membuatnya terlihat menyedihkan di mata Zefiros. “Naiklah ke punggungku. Aku akan mengantarkanmu.”

“Memang kau tahu kemana arah tujuanku?” tanya Siyeon sedikit merasa tak yakin.

“Ke gunung sebelah barat ‘kan?” tebak Zefiros yang membuat Siyeon membenarkan pertanyaannya dalam batin. Lalu angsa itu kembali melanjutkan, “Naiklah. Ada seseorang yang menanti kehadiranmu di sana.”

Sebelah alis Siyeon terangkat, merasa heran. “Seseorang?”

“Ya. Seseorang itu tak lain dan tak bukan ialah jodohmu, Gadis cantik.”

Singkatnya, Siyeon pun memilih untuk menuruti kebaikan hati Zefiros dan mereka pun terbang menyusuri angkasa biru.

***

“Kita sudah sampai,” kata Zefiros tepat di saat dirinya menapakkan kedua kakinya di tanah.

“Terima kasih banyak,” balas Siyeon tulus.

Siyeon mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sebuah kebohongan besar jika ia mengatakan bahwa ia sama sekali tak merasa takjub dengan apa yang berhasil kedua fokusnya tangkap sekarang. Bagaimana tidak? Hamparan hijau hutan belantara begitu memanjakan matanya.

Tanpa sadar, ia terus merajut langkah menembusnya hingga ia kembali menemukan sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rumput. Ia kembali dibuat takjub saat sang netra menangkap sebuah rumah besar layaknya sebuah istana.

Sebenarnya tempat apa ini?

Di saat sang benak tengah sibuk merangkai berbagai pertanyaan lain untuk dirinya sendiri, tiba-tiba terdengar sebuah suara berat yang menginterupsinya.

“Selamat datang, Nona Siyeon. Senang melihat Anda berhasil sampai kemari dengan selamat,” sambut sang suara misterius yang sontak membuat bulu kuduk Siyeon meremang dan rasa takut kembali melingkupinya. “Sebagai informasi, mulai detik ini kau akan tinggal di sini karena kami sengaja membangun rumah ini spesial untuk Anda. Begitupun dengan kebutuhan hidup sehari-hari, Anda tak perlu mengkhawatirkannya karena di sini akan ada pelayan yang tak terlihat yang siap memenuhi kebutuhan Anda. Sekian.”

Layaknya gadis lugu di luar sana, Siyeon merasa sangat gembira kala mendengarnya dan ia yakin dengan sangat jika dirinya akan merasa betah tinggal di rumah asing ini.

Namun lain waktu, lain pula pemikiran. Jauh dari ekspektasi yang tercetak di otaknya, saat malam hari Siyeon merasa begitu kesepian pun dengan tempat itu sangat gelap dan tak ada penerangan sama sekali. Namun seperti ada yang ingin mencoba untuk mengajak main-main dengannya, tanpa disangka sebuah suara berat kembali mengisi rungu Siyeon.

“Halo, Siyeon!”

Tak ada embel-embel Nona di akhir sapaannya, sehingga Siyeon dengan mudahnya berspekulasi jika sang pelaku bukanlah orang yang sama dengan pelaku yang menyambut kedatangannya siang tadi.

Apa ini monster yang dikatakan oleh Orakel?, batin Siyeon terus bertanya.

Tiba-tiba sebuah kristal bening luruh di sudut mata Siyeon. Kau benar, ia menangis. Siyeon menangis karena takut.

Huh? Apa kau menangis, Nona cantik?” Siyeon terkejut bagaimana pemilik suara asing tersebut mengetahuinya. “Kumohon jangan menangis. Aku bersumpah tak akan melukaimu, Siyeon.”

Namun janji itu tak mempan untuk menghentikan perasaan sedih sang Putri, yang tentu saja membuat sang pelaku gelagapan.

“Apa aku perlu memelukmu agar kau merasa tenang?” bujuk suara asing itu kembali dan Siyeon merasa terkejut saat merasa ada seseorang yang memeluknya. “Tenanglah. Aku di sini untukmu.”

Dan seolah sebuah mantera, hati Siyeon seketika luluh hingga tanpa sadar ia pun terlelap di pelukan si suara asing.

***

Keadaan masih tetap seperti sebelumnya, Siyeon masih tinggal di istana asing bersama makhluk misterius yang senantiasa memeluk dan membuatnya tenang sepanjang malam. Sekadar untuk informasi tambahan, bahkan Siyeon telah menjadi kekasih dari makhluk misterius itu. Namun satu hal yang begitu disayangkan di sini, Siyeon masih tak mengetahui rupa asli kekasihnya. Entah itu jelek atau tampan, Siyeon tak pernah melihat sosoknya secuil pun.

Kendati demikian, tak dapat dipungkiri jika Siyeon sering merindukan keluarganya. Meski ragu di awal, pada akhirnya dara tersebut mengakui perasaannya pada sang kekasih.

Eum … bisakah aku bertemu dengan keluargaku barang sejenak? Aku sangat merindukan mereka.”

Beberapa detik terlewat dengan keheningan. Kini keduanya terngah bergelut dengan pikiran masing-masing.

Aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaannya, hanya saja aku takut jika kedatangan kedua saudarinya akan memberikan dampak buruk pada Siyeon.

Siyeon menggigit bibir bawahnya was-was, takut-takut sang kekasih meledak dan melarang permintaannya. “Jika kau tak berkenan, tidak apa-apa. Maaf, sepertinya aku—”

“Baiklah, kau boleh mengajak kedua saudarimu kemari,” putus makhluk misterius itu pada akhirnya.

“Benarkah? Wah … terima kasih banyak.”

Siyeon benar-benar bahagia mendengarnya, yang sontak membuat kekasihnya mengulas senyum lega.

Ya, benar. Tak perlu ada yang kukhawatirkan. Siyeon pasti tidak apa-apa.

***

“Wah … aku tak pernah menyangka jika rumahmu kekasihmu dua kali lebih besar ketimbang istana kita,” ujar Hyeri tak dapat menahan rasa kagumnya, sedangkan Somyi hanya menganggukan kepala setuju.

Siyeon mengulas senyum tipis. “Sejujurnya hingga saat ini pun aku tak tahu bagaimana rupa wajah asli kekasihku.”

“Kau serius?” Somyi menatap adik bungsunya tak percaya dan sebagai balasannya Siyeon mengangguk lemah. “Ini sangat tidak masuk akal, Siyeon. Kau harus mengetahuinya. Bagaimana jika kekasihmu benar-benar mons—ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk—….”

“Tidak apa-apa. Lagipula kami sudah sering membicarakan ini sebelumnya.”

“Lantas, ia masih tak menampakkan wajahnya padamu?” Siyeon menggeleng. Hyeri pun menepuk bahu adiknya prihatin. “Bagaimanapun juga kau harus memintanya, Siyeon. Ini demi kebaikanmu.”

Siyeon terdiam mempertimbangkannya.

***

Ucapan kedua saudarinya masih tersimpan jelas di benak Siyeon. Ia pun membawa lentera dan sebuah belati, berjaga-jaga jika kekasihnya memang monster maka ia tak akan segan membunuhnya.

Ya, aku harus melakukannya sekarang.

“Siyeon, aku pu—”

Cahaya lentera seketika menyinari wajah kekasihnya. Betapa terkejutnya Siyeon di kala ia menyadari siapa yang selama ini bersamanya. Dia adalah Chani, sang dewa cinta.

“Cha-chani?” gumam Siyeon tak percaya.

Sedangkan Chani hanya menundukkan kepalanya seolah pencuri yang tertangkap basah sembari bergumam lirih, “Aku tak menyangka kau benar-benar melakukannya.”

“A-aku—…,” ucap Siyeon menggantung, tak dapat menahan rasa takjubnya.

Saking takjubnya dengan pesona milik sang kekasih, tanpa sadar gadis itu menumpahkan minyak dari lenteranya di badan Chani.

ARGH!

“ASTAGA, KAU TIDAK APA-APA?” panik Siyeon melihat Chani kesakitan. “Maafkan aku. Aku benar-benar tidak—”

“APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRAKU?” timpal suara asing yang lantas membuat atensi kedua sejoli itu terarah padanya.

Itu Afrodit, ibu Chani.

Merasa khawatir, Afrodit serta merta berlari menghampiri sang putra yang mendesis mencoba untuk menahan rasa panas yang di tubuhnya. “Tenang. Ibu akan menyembuhkanmu.”

Sedangkan Siyeon masih termangu di tempat dengan rasa tidak percayanya yang tinggi. Ia tak pernah menyangka sebelumnya jika dirinya akan terlibat dengan kekasih dan calon ibu mertua yang notabene adalah seorang dewa dan dewi besar.

Meski terselip ragu di hatinya, rasa khawatir di dalam jiwa Siyeon membuat gadis itu tetap menghampiri kekasihnya. “Cha-chani … apa kau baik-baik saja?”

“APA KAU GILA?!” ledak Afrodit. “PUTRAKU HAMPIR MATI KARENA ULAHMU!”

“Maafkan aku,” lirih Siyeon menyesal pun dengan kristal bening yang kini telah menghiasi wajahnya. “Aku benar-benar tidak sengaja.”

“LIHAT, CHANI! MEMANG DIA PIKIR HANYA DENGAN MEMINTA MAAF AKAN MEMBUAT LUKA BAKARMU SEMBUH? BAGAIMANA NASIBMU JIKA IBU TIDAK DATANG?!”

Hati Siyeon benar-benar sakit mendengarnya. Ya, ini semua salahku.

“Ibu, aku tidak apa-apa. Tenanglah,” kata Chani mencoba untuk menenangkan ibunya.

“BAGAIMANA IBU BISA TENANG?! PEREMPUAN PEMBAWA SIAL INI BENAR-BENAR HAMPIR MEMBUNUHMU!”

“IBU!”

Untuk pertama kalinya Chani berani membentak sang ibunda yang sontak membuat Afrodit mendecih. “Cih,  kau bahkan sudah berani membentak ibumu. Aku tak menyangka racun apa yang telah diberikan oleh perempuan ini padamu hingga akhirnya membuatmu benar-benar berubah.”

“IBU, TOLONG HENTIKAN!”

Siyeon merasa sesak dengan semua ini. Hatinya seketika hancur melebur tanpa sisa. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan ruangan sebelum rasa sakitnya benar-benar membuat perasaannya cidera.

“SIYEON TUNGGU!”

Dara itu tak lantas menghentikan langkahnya. Hatinya terlanjur sakit dan beban rasa bersalah pun kini telah berkembang setiap sekonnya.

Merasa diabaikan, Chani menarik lengan sang gadis dan memeluknya erat. “Kumohon jangan pergi. Aku tak bisa hidup tanpamu.”

“Maafkan aku. Sungguh maafkan aku,” tangis Siyeon benar-benar meledak saat ini.

Chani mengusap surai lembut gadisnya. “Tidak, tidak. Kau sama sekali tidak bersalah karena aku tahu ini semua murni ketidaksengajaan. Jadi kumohon tetap di sini bersamaku, ya. Aku tak bisa hidup tanpamu. Aku mencintaimu.”

Namun siapa sangka jika sepasang mata tengah menatap haru pada pasangan itu. Ya kau benar, dia adalah Afrodit.

“Aku juga mencintaimu,” ungkap Siyeon tak dapat memungkiri perasaannya. “Namun sepertinya ibumu tak menyukai keberadaanku di dalam hidupmu, Chani. Maka dari itu, mau tak mau aku mohon relakan aku pergi.”

“Siapa yang tak menyukai keberadaanmu?”

“I-ibu?” Chani menatap tajam ibunya sembari mengeratkan pelukannya pada Siyeon. “Aku tak akan pernah membiarkan niatmu untuk memisahkan aku dengan Siyeon. Aku mencintainya. Sangat mencintainya.”

Siyeon menutup kedua matanya, tangisnya pun semakin hebat dari sebelumnya.

“Chani,” suara Afrodit melembut seraya melangkah menghampiri sang putra. “Ibu juga mencintaimu dan ibu tak ingin kehilanganmu.”

“Tapi ibu ingin memisahkanku dengan Siyeon. Itu sama saja kau ingin membuatku pergi darimu, Bu!”

Afrodit menghela napas panjang. “Tidak. Ibu janji tidak akan memisahkan kalian berdua mulai sekarang.”

Kedua manik Chani seketika berbinar. “IBU SERIUS?! IBU TIDAK SEDANG BERCANDA ‘KAN?”

Afrodit lantas tertawa. “Sejak kapan selera humor ibumu ini terdengar murahan, Chani? Tentu saja ibu serius. Kau boleh menikahi Siyeon besok.”

Chani melepas pelukannya pada sang kekasih. “Kau dengar itu, Siyeon? Ibu merestui hubungan kita!”

“Terima kasih, Nyo—ah, maaf. Aku tidak tahu harus memanggil Anda seperti apa.”

Sang Dewi kecantikan tersebut mengulas senyum lembut. “Ibu. Kau bisa memanggilku ibu, Siyeon sayang.

Tentu saja hal itu terdengar menyenangkan bagi Siyeon. Ia pun membungkuk sekilas sebagai bentuk pernghormatan. “Terima kasih, Ibu.”

Afrodit mengangguk dan tersenyum manis.

Baik Chani maupun Siyeon, kini sadar jika sebuah cinta akan mengalahkan segalanya—termasuk kehendak sang ibu. Namun meski pada awalnya sulit untuk menerima kenyataan ini, Afrodit tetap saja merasa luluh akibat rasa sayangnya pada Chani dan terus mencoba menerima kehadiran Siyeon seiring berjalannya waktu. Toh kebahagiaan putranya berada pada Siyeon, maka Afrodit pikir tak ada salahnya memberikan sedikit kebebasan pada sang putra demi menggapai kebahagiaannya.

 

FIN

 

Bebe’s Notes:

  • Cerita ini terinspirasi dari mitologi kisah cinta Cupid dan Psikhe dengan sedikit perubahan plot sesuai imajinasiku tentunya. Untuk lebih jelas akan garis besar mitologi aslinya, kalian bisa baca di sini.
  • Ubi Amor, Ubi Dolor sendiri berasal dari bahasa Latin yang artinya di mana ada cinta, di situ ada rasa sakit (hati).
  • Orakel adalah ramalan atau pesan yang diberikan oleh orang suci atau petunjuk dewa pada zaman Yunani Kuno.
  • Drakhma adalah mata uang Yunani hingga peresmian mata uang Euro pada tanggal 1 Januari 2002.
  • Terakhir, aku mau ngucapin terima kasih banyak bagi semua yang sudah baca cerita ini dari awal hingga akhir. Maaf jika ada beberapa kesalahan teknis dalam penulisan cerita ini. Sekali lagi, terima kasih ^-^.

 

Warm Regards,

—BaekMinJi93

Advertisements

5 thoughts on “[Love Is Moment] Ubi Amor, Ibi Dolor

  1. YEOKSHI BEBE EMANG JAGONYA EKSEKUSI GENRE GINIAN AAAAAAAAAAAA
    MANA INI PAKAI COUPLE FAVKU JADI GIMANA YA BACANYA ENAK BANGET UNCH SUKA
    Jujur, suka banget pas baca latar belakangnya itu, ada unsur mitologinya, unsur kisah cintanya jg dapet banget… pas di akhir aku sempet kira bakal sad ending becoz mamanya chani ga setuju gtu kan ya cuma yeeey akhirnya happy ending 😀

    nice fic sayy ^^

    Like

    1. YEOKSHI KACE EMANG JAGONYA BIKIN AKU MELTED 😂😂😂
      Aku masih butuh banyak belajar sebenernya ini mah huhuhu 😭😭😭
      Karena ku sayang mereka berdua, makanya kubuat happy ending untuk mereka hehehehe
      Thanks udah mampir, Kak! 😊😊😊

      Liked by 1 person

  2. Halo baekminji93!

    Omooo, aku seneng gitu castnya xiyeon dan jadi psike! Actually aku pernah mau bikin psike pake mba taeyeon tp ga ke eksekusi karena mager 😂😂 dan di ffku awalannya ‘dia kekasihku, tp tak pernah mengijinkanku menatap wajahnya’ eh disini dipake jugaaaak abang chani awalannya ga keliatan (?) biarpun at the end macem beauty and the beast, cinderella dan mamah mertua yang mendadak baik hehehehehehe but disitu pointnyaaaaa you make it YOUR story! Nice nice! Keep writing fantasy yak!

    Like

    1. Halo, Kak Riseuki!
      Ku tersanjung ada yang suka dengan fantasy fict ku padahal kupikir ini gak banget 😥 dan terima kasih sudah sempetin buat baca ff-ku :’)
      Keep writing juga buat kakak! Thank you ^-^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s