FF Project · fluff · Genre · Giveaway Project · Length · Moment · PG -13 · Rating · Sweet · Vignette

[Love Is Moment] About the Seat and Perfectly Prank


©son nokta

About the Seat and Perfectly Prank

Moment : Sweet | Starring NCT Dream’s Zhong Chenle &

OC’s Xiao Roen |Fluffy | Vignette | PG-13

 

“The best thing you can do is find a person who disturbs you for exactly whoever and whatever you are.”

 

“Tunggu, tunggu, tunggu!”

Seorang anak laki-laki menimbulkan keporakporandaan seisi bus dengan presensinya yang menghadang pergerakan sopir untuk menancap gas. Demi Tuhan, semua orang di dalam sana mendadak ingin mencaci maki lantaran mereka tidak memakai belt dan harus terantup kursi di depan mereka. Dan, yang benar saja—kenapa sang sopir harus repot-repot menekan rem untuk seseorang tanpa kedisiplinan waktu seperti itu.

“Oh, si—oh, lagi-lagi Zhong Chenle.”

Tak terkecuali Xiao Roen yang mengambil seat paling depan dan harus bersungut-sungut menahan makian, lantaran ia terjatuh dari dudukannya. Beberapa murid lain ingin tertawa, tapi terlanjur ikut emosi dan agak takut juga dengan Roen selaku ketua dewan kelas di sekolah. Jadi, mereka hanya bisa mengulum bibir.

Chenle memasuki pintu bus. Satu hal yang langsung ia lakukan adalah menunjuk gadis bersurai pendek yang tengah duduk di bawah lantai itu sambil mengangkat alis. “Xiao Roen Terhormat, kekurangan kursi?” Ia gantian mempertanyakannya lewat teman-teman di sekeliling menggunakan isyarat mengangkat-angkat dagu. Kendati kemudian ia hanya mendapat ancaman akan dikeroyok sampai mati.

Lantas Chenle kembali menyebar pandang mencari tempat kosong yang pada akhirnya harus berhenti di dekat kursi Roen. Gadis itu sudah mulai merapikan diri. Dan ketika Chenle hendak mengambil tempat di samping Roen, pantatnya telah dihalangi oleh sebuah ransel besar. Tahu sajalah siapa pemiliknya.

“Jauh-jauh sana,” cetus Roen di sela jemari yang membalik lembaran buku. Ia tahu satu-satunya tempat yang tersisa untuk orang terlambat adalah di sampingnya. Akan tetapi, gadis itu bukan perkara mudah.

Sebuah darmawisata sudah ia asumsikan sebagai peristiwa ter-tidak sepi di setiap momennya. Apalagi saat dalam perjalanan. Bus akan menjadi sangat ramai jika semua orang saling berbincang dengan teman di sebelah mereka. Xiao Roen tentu tidak mau hal itu terjadi padanya. Oleh karena itu, ia memilih untuk duduk sendirian dan mengantisipasi kebisingan yang akan terjadi dengan mengambil kursi paling depan. Sehingga ia bisa memicingkan mata pada teman-teman di belakang.

“Xiao Roen Terhormat, aku tidak mau tanggung jawab kalau barangmu remuk semua.”

Kali ini Roen hanya diam, ia semakin menempelkan telinga ke jendela.

Lelaki itu mendecak, “Aku serius,” ia memberikan ancaman lewat gesturnya yang hendak duduk di atas ransel Roen. “Aku—serius—Xiao—Roen—Ter … “

“ … bisa tidak, berhenti memanggilku dengan embel-embel ‘terhormat’?” Ia menepuk kedua sisi sampul bukunya dan menarik paksa tas punggung yang menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Ini bukan kali pertama bagi Roen terlibat dalam cek cok mulut bersama Zhong Chenle. Konversasi penuh konfrontasi itu tidak pernah berakhir baik-baik saja, kecuali jika si gadis memang terlalu sibuk untuk merecokinya. Hal sederhana bisa menjadi sangat besar kalau mereka dipertemukan. Seperti perihal penentuan tema pentas seni, misalnya. Xiao Roen dengan sikap kepimpinan dicampur emosi yang tinggi itu sempat mencak-mencak, lantaran tidak ada satu satu pun anggota dewan kelas yang melakukan pengajuan pendapat. Sekalinya ada, hal tersebut justru datang dari mulut Zhong Chenle yang tiba-tiba merengsek masuk ke ruang perundingan (tidak sengaja menguping, katanya). Dan, tahu sajalah kejadian selanjutnya. Chenle segera diusir tanpa ada pertimbangan untuk ide yang ia berikan.

“Jangan sekali-kali membuat suaramu terdengar di telingaku,” titah Roen dingin.

“Mm-hm,” Chenle tersenyum lebar lalu menarik jarinya dari ujung bibir.

Dan sebenarnya—bagi Chenle—janji akan hanya dibuat untuk diingkari.

“Kau membaca Scarlet juga? Wah,” lelaki itu membolak-balik novel yang dipegang Roen. “Aku tidak begitu suka novel terjemahan. Tapi, untuk versi lain dari sebuah dongeng lama. Kurasa ini cukup menarik.”

Roen melirik makhluk di sampingnya sangsi. “Kau tidak suka novel terjemahan?”

Chenle mengajukan sebuah anggukan antusias.

“Aku sih tidak suka Zhong Chenle. Kalau mendengar ia bicara, rasanya ingin kumutilasi saja.”

Mulanya Chenle hendak berkelakar kembali, tapi urung saat ia sadar situasinya sedang bagaimana. Gadis itu perlu ketenangan penuh dan ia sendiri tidak bisa menjaga mulutnya agar tetap terkunci.

Sebenarnya, Roen terlalu menarik untuk didiamkan. Chenle pun terlanjur senang menggodanya di sepanjang kesempatan ia bisa duduk berdampingan dengan gadis itu. Mereka memang kompilasi yang sangat unik, seperti air dan minyak. Tapi bedanya, si minyak satu ini terlalu berusaha keras agar dapat menyatu ke dalam molekul air.

Barangkali sang lelaki hanya perlu cara lain agar bisa lebih dekat dengan Roen. Seperti sekarang, berpura-pura terlelap, kemudian mengambil kesempatan untuk menyandarkan kepala di pundak Roen. Barangkali itu merupakan cara murahan yang berusaha dibuat terlihat alami. Tapi, Chenle berhasil. Ia mampu mendistraksi detak jantung Xiao Roen. Dan perlahan reaksi itu merambat ke aliran darahnya, membuat sekujur tubuh Roen memanas.

“H-hey, kau tidak benar-benar tidur ‘kan?”

Alih-alih mendapat jawaban, ia mendengar dengkuran kecil yang keluar dari mulut Chenle. O, muslihat murahan itu ternyata merambat menjadi sebuah kenyamanan.

Tak tega membangunkan orang yang sedang tertidur, Roen terpaksa menahan posisinya. Ia sadar bahwa duduk di sampingnya bukanlah pilihan yang bagus untuk orang lain. Orang itu hanya akan menjadi patung di sepanjang perjalanan atau bahkan tidak pernah diakui keberadaannya oleh Roen. Untung-untung Chenle bisa mendapat atensi darinya, meskipun sedikit.

Ia bahkan merelakan lengan kanannya menjadi tempat pergelungan Chenle. 2 jam penuh, dari Shanghai ke Jing’an.

“Tadi itu Gunung Huang-nya indah sekali! Aku sampai tidak bisa berkedip, lho!” Ungkap Louen—gadis berkepang dua dengan topi jeraminya—setiba di depan kuil Jade Buddha.

“Lalu, lalu, ada patung yang mirip Po, lho!” Sela Wei Tsu, tak mau kalah.

“Bohong ah,” Louen mencibir pada Tsu yang ia anggap tengah membual. “Roen bagaimana? Kamu melihat pemandangan di balik jendela, tidak?”

“Roen pasti cuma membaca novel.”

Pembicaraan keduanya menimbulkan banyak kerutan di kening pihak terkait. Roen menahan diri dan memilih untuk tetap diam. Dia tahu semakin banyak ia bicara, semakin lebar rahasianya terungkap. Maka dari itu, ia lebih baik tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

“Chenle kan duduk di sampingnya, mustahil ia bisa fokus membaca buku.” Dan bukannya keluar dari mulut Roen sendiri, bantahan itu malah datang dari Lai Guanlin—teman sebangku Chenle di kelas. Sambil terkekeh ia berkata, “Daripada membaca atau melihat pemandangan, mereka lebih baik bermesraan.”

Sejemang gadis itu mengumpulkan tenaga, demi melancarkan niatnya yang ingin melempar Guanlin dengan sebuah batu berbobot setengah kilo. Mau itu Chenle atau teman sebangkunya, semua hal menyangkut Zhong Chenle akan selalu menyebalkan di mata Xiao Roen. Akan tetapi, untuk kasus kali ini, rasa kesal Roen bercampur dengan degupan kencang jantungnya. Di satu sisi ia ingin marah, di sisi lain wajahnya terus merona.

Bisa dibilang, kata bermesraan itu terlalu berlebihan untuknya.

 

*

Advertisements

2 thoughts on “[Love Is Moment] About the Seat and Perfectly Prank

  1. Mana yg namanya Guanlin sini aku timpuk– pake cintakuhhh 😂😂 (abaikan)

    Halo son nokta, ku pikir setting bakal di bioskop gitu pas baca judul, ternyata di bus, and that’s make this interesting!

    Ke-sok-polos-an dede chenle plus ke-sesuka-hati-nyeplos mulutnya Guanlin klimaks banget 😂 lucuk pengen nimpuk wkwk yang sabar yah Roen, jodoh ga kemana *nah!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s