AU · FF Project · Genre · Giveaway Project · Length · Moment · Mystery · One Shoot · PG -15 · Rating · Spicy

[Love Is Moment] Be My Bride


Author             : Aitsil96

Title                 : Be My Bride

Moment          : Spicy

Cast                 : G Dragon as Kwon Ji Yong and Sandara Park as Park Sandara

Genre              : Mystery, AU

Lenght             : Oneshoot

Rating             : PG-15

Disclaimer       : This is just my wild imagination. Don’t be a plagiator or reupload this FF without my permission. Don’t bash if you think my story isn’t perfect. Be a good reader, please. If you like to leave a comment, i really appreciate it.

Author Note    : Another DG’s story is out! Still fresh from the oven. Terinspirasi dari berbagai film dan ff dengan penyampaian khas seorang Listiaandani. Hope you enjoy it, guys! Thanks and happy reading all…

*****

Manik kelam itu memicing tajam, memperhatikan setiap detail penampilan dari objek yang terpantul dalam cermin besar di hadapannya. Objek dengan pahatan yang sempurna, tanpa cacat sedikitpun. Pria itu berdeham pelan, menetralkan kerongkongannya yang terasa mengering dan membuatnya cukup terganggu. Gugup? Oh, haruskah?

Sang pria mematut lagi dirinya di kaca, membenarkan sedikit letak dasi kupu-kupu yang sebenarnya telah bisa dikatakan rapi tanpa harus dibenahi lagi. Tangannya kembali bergerilya untuk membenahi kerah lalu menepuk-nepuk jas mahal yang membalut tubuh proporsionalnya. Jas armany berwarna hitam legam, senada dengan surai mengkilatnya yang baru diubahnya seminggu yang lalu.

Pria itu memang memiliki hobi mengubah warna rambutnya sesuai mood. Katakanlah ia kurang kerjaan, seolah merepresentasikan diri layaknya bunglon. Dandanannya selalu nyentrik, terlihat dari beberapa lubang bekas piercing di telinganya yang kini nampak polos. Bukankah setidaknya di hari spesial ini ia harus tampil layaknya ‘pria baik-baik’ yang sempurna nan menawan? Ya. Setidaknya hanya untuk hari ini.

Tok! Tok!

“Semuanya sudah siap, Tuan.”

Pria itu menoleh melewati bahu tanpa harus repot-repot membalikkan seluruh badannya. Mendapati salah seorang pelayan wanita baru dengan seragam khas di ambang pintu dengan wajah yang menunduk hormat. Kening pria itu berkerut samar sebelum sedetik kemudian salah satu sudut bibirnya terangkat. Tanda menangkap maksud yang diutarakan seraya membentuk senyuman manis di lengkungan bibir penuhnya.

Satu tangannya mengisyaratkan agar pelayan itu keluar, memberikannya lebih banyak privasi di ruangan dengan dominasi warna putih gading tersebut. Area pribadinya dengan berbagai macam patung lilin yang menjadi koleksi berharganya. Manik kelam itu memicing tajam lagi, disertai dagu lancipnya yang menengadah. Memberikan sedikit kesan arogan juga menguarkan pesona memabukkan.

Sebelum benar-benar pergi, tungkai jenjangnya bergerak ke arah sudut lainnya. Kini pria itu tepat berhadapan dengan sebuah patung lilin. Salah satu koleksi kesayangannya dengan harga selangit. Dewi Aprodhite. Dewi cinta dalam mitologi Yunani kuno. Salah satu tangannya terangkat untuk membelai pipi sang patung yang tingginya hampir setara dengan dirinya tersebut. Menatap lamat-lamat dengan hati yang berdentum keras mengingat tentang betapa berharganya hari ini baginya.

Hari pernikahannya. Hari yang haruslah sempurna dengan segala rencana matang yang telah ia susun dari jauh-jauh hari. Senyuman terpatri kembali di bibir penuh nan menggoda itu.

‘This is time, Kwon Ji Yong.’

*****

Riuh tepuk tangan mengiringi berakhirnya janji sehidup semati yang diucapkan. Sepasang anak manusia yang telah bersumpah di bawah nama Tuhan tersebut berdiri berhadapan dengan binar tak biasa yang terpancar dari kebahagiaan yang membuncah. Terutama bagi gadis itu. Gadis bermanik hazel yang tengah mengembangkan lengkungan manis di sudut bibir cerinya. Park Sandara.

Senyuman tulus nan menggoda, membuat sang pria di hadapan tak ragu untuk memagut dan menelusupkan benda lunak sebagai pergulatan lidah mereka yang pertama setelah resmi diikat dalam jalinan sakral. Deru napas berbenturan setelahnya. Keduanya saling meraup oksigen yang serasa menipis setelah atmosfer panas menyeruak ke sekeliling.

“Terima kasih telah menjadi pengantin wanitaku, Dara-ya…”

Sang gadis tak bisa untuk menahan letupan menggemuruh di dadanya. Jantungnya dengan lancang berdegup lebih kencang dari detakan orang normal, membuat darahnya terpompa secara cepat hingga merambat ke daerah pipi dan menghasilkan sebuah rona kemerahan di sana, lebih dari sekadar sapuan blush-on. Kini gadis itu bahkan mencoba menyembunyikannya dengan berpaling demi menolak bersitatap dengan manik kelam sang pria yang begitu menghanyutkan.

“Dara-ya?”

Eoh?”

Ji Yong seolah menghipnotis gadis berparas cantik tersebut. Lantunan suaranya tak terdengar berat, namun sanggup menjadi candu bagi Sandara. Suara yang terdengar indah ketika melantunkan namanya dan memasuki indera pendengarannya. Sandara selalu terlihat lemah jika menyangkut segala hal tentang pria itu. Pria sempurna yang tak disangka kini telah resmi menjadi suaminya.

Manik keduanya bersitemu kembali dengan Ji Yong yang terlebih dahulu memaksa untuk meraih wajah Sandara melalui tangan kokohnya.

“Hari ini, esok, dan seterusnya, maukah kau tetap menjadi pengantinku?”

Pertanyaan itu mampu membuat syaraf otak sang gadis serasa lumpuh dengan raut yang tak terkendali. Sandara bahkan harus mengerjap beberapa kali demi membuat dirinya sadar setelah pertanyaan mengagetkan itu terlontar. Amat tiba-tiba, dan lagi-lagi membuat jantungnya berdegup tak karuan. Oh astaga, mungkin ia akan sering mengalami serangan jantung jika Ji Yong terus-menerus berada dalam jarak pandangnya.

Dengan lugunya gadis itu mengangguk, dan Ji Yong tanpa diduga mempertemukan kening keduanya. Sebuah pergerakan yang tiba-tiba hingga mampu membuat perhatian gadis itu sempurna tertuju pada prianya. Manik hazelnya bahkan makin membulat tatkala Ji Yong lagi-lagi menampilkan senyuman mematikan yang seakan membuat detak jantungnya berhenti selama beberapa detik.

Oh namun jika diperhatikan lagi, mungkinkah itu bisa disebut sebagai seringaian?

*****

Hari telah berganti malam tatkala Sandara memasuki ruangan luas dengan dominan warna putih gading tersebut. Kamar Ji Yong yang kini telah beralih fungsi karena akan menjadi kamar bagi dirinya juga. Tungkai mungilnya bergerak dan pandangannya sempat terkunci pada sebuah patung besar yang pria itu letakkan di sudut.

Sandara mendesah, hal yang harus bisa ia terima adalah kegemaran Ji Yong yang tergila-gila pada patung lilin. Entah untuk alasan apa, namun jika telah menyangkut tentang koleksinya tersebut, sang pria mampu mencari penerbangan tercepat malam ini juga demi menambah koleksinya, bahkan mungkin jika harus mencari hingga ke ujung dunia.

Sandara makin melangkah masuk untuk kemudian mendudukan diri di hadapan sebuah kaca besar yang terletak di sudut ruangan. Ia meneliti penampilannya yang masih mengenakan ball gown sederhana tanpa riasan berlebihan namun nampak elegan dengan menampilkan bahu terbukanya.

Lengkungan manis kembali terpatri di bibir cerinya, seolah merasa menjadi gadis paling bahagia di dunia. Bagaikan angan yang berubah menjadi kenyataan, pernikahan impiannya telah terlaksana. Bersama pria yang dicintainya, bahkan telah ia kagumi selama beberapa tahun terakhir. Kwon Ji Yong.

Cklek!

Suara di ambang pintu kamar membuat Sandara menoleh. Mendapati kehadiran Ji Yong yang tengah menyembulkan kepalanya.

“Apa aku mengganggu?” tanya pria itu seraya melebarkan senyuman.

“Tidak. Masuklah.”

“Sedang apa, hm?”

Sandara makin tak bisa mengendalikan lengkungan manis di sudut bibirnya tatkala Ji Yong telah berada di belakangnya. Pria yang masih mengenakan setelan jas mewah lengkap itu bahkan mengalungkan tangan kokohnya pada leher sang gadis. “Aku harus menghapus riasan serta mengganti bajuku, Ji Yong-ah.”

Tangan nakal sang pria makin bergerilya ke arah punggung terbuka Sandara, mengelusnya perlahan hingga membuat sang gadis memejamkan matanya, menikmati sensasi yang baru pertama kali dirasakannya. “Bisakah itu dilakukan nanti saja?” tanya Ji Yong tepat di sebelah telinganya yang menyerupai sebuah bisikan bak desauan angin.

Wae?” tanya Sandara setelah mati-matian berusaha untuk mengendalikan dirinya.

“Aku masih betah melihatmu mengenakan gaun ini. Jadi bisakah… kau mengenakannya lebih lama?”

“Tapi aku lelah, badanku bahkan terasa pegal. Aku ingin mandi dan istirahat.”

“Bagaimana kalau nanti saja? Kita makan malam dulu, eoh?”

Sandara meneliti riak muka pria yang kini telah resmi menjadi suaminya tersebut lewat pantulan kaca. Riak yang seolah menandakan permintaan kekanakkan dengan manik kelam memelas khas anak kucing. “Hm… haruskah?”

“Oh ayolah, Dara-ya. Hanya kali ini saja.”

Gadis itu akhirnya menghela napas dan memegang tangan Ji Yong yang kini berada di bahunya. Percuma saja membangkang jika Ji Yong telah menginginkan sesuatu. Pria itu terlalu keras kepala untuk bisa mengalah. “Arrasseo.”

Sedetik kemudian senyuman mampu terbit di bibir penuh pria itu. Ji Yong bahkan dengan tiba-tiba mengarahkan bibirnya pada pipi Sandara. Kecupan kilas yang ia hadiahkan mampu membuat gadis pemilik manik hazel itu membelalak lebar. “Tunggulah aku di ruang makan.”

Baru saja sang pria berbalik dan melangkahkan kakinya, pergerakan itu harus terinterupsi dengan pertanyaan gadisnya. “Kau akan kemana?”

“Ada beberapa hal yang harus ku lakukan di ruang kerjaku. Gidaryeo.”

Manik mereka kembali bersitatap dengan Ji Yong yang lagi-lagi menerbitkan senyuman memabukkannya. Tanpa sadar, senyuman menggoda itu mampu meluluhkan Sandara.

Atau bahkan mungkin… sekaligus juga mematikan?

*****

“Ji Yong-ah?”

Sandara memang memiliki sifat tak sabaran. Terbukti dengan ia yang kini dengan berani memasuki area pribadi lain dari rumah seorang Kwon Ji Yong. Ruang kerjanya. Ruangan yang terletak di lantai tiga rumah luas nan megah khas Eropa bergaya klasik tersebut. Setelah menunggu selama hampir setengah jam di ruang makan, pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya hingga membuat Sandara mendengus akibat rasa bosan yang mendera.

Sang gadis memutuskan untuk naik ke lantai tiga dengan menyeret gaun pengantinnya susah payah pada puluhan anak tangga. Cukup lelah dan membuat ia sedikit berkeringat, namun kini manik hazel itu bahkan tak hentinya mengerjap. Tidak ada tanda-tanda kehadiran pria itu di sana, namun sepertinya sang gadis kini lebih peduli pada desain dari ruangan kerja Ji Yong yang amat menawan dibanding kehadiran sang pemilik.

Ruangan itu sangat rapi dan terawat dengan baik. Rak buku menjulang yang berjejer rapi di sana mengelilingi satu kursi besar yang berada di tengah ruangan dengan meja kerja di hadapan. Bisa Sandara lihat bahwa tak ada satu butir debu pun yang hinggap di jejeran buku maupun segala peralatan antik nan mewah yang berada di ruangan tersebut. Membuatnya terlihat mengkilat dan memanjakan mata.

Ini adalah kali pertama gadis itu mendatangi ruangan kerja Ji Yong, karena sebelum mereka menikah, pria itu bahkan selalu melarangnya untuk naik ke lantai tiga jika berkunjung ke rumah ini. Entah untuk alasan apa, namun sepertinya pria itu memang tak ingin diganggu dan selalu membutuhkan ruang privasi yang cukup luas bagi dirinya sendiri. Ck, benar-benar khas Tuan Sok Sibuk.

Manik hazel itu sedetik kemudian menangkap sebuah objek yang mengganggu perhatiannya. Sebuah buku yang tepat berada di belakang kursi bak singgasana raja yang letaknya menonjol di antara buku-buku lain. Sang gadis mengernyit namun sedetik kemudian memilih untuk mendekat, berniat membetulkan posisinya. Namun saat lengan mungil itu mendorong buku berwarna hitam dengan ornamen emas di sekeliling, suara dari arah samping ruangan tersebut membuatnya menoleh kaget.

Sebuah rak besar yang terletak di sudut terlihat berputar dan menampilkan celah yang bisa dimasuki. Kening gadis itu makin berkerut. Mungkinkah itu… ruang rahasia? Sandara tanpa sadar menelan ludahnya dan tungkai mungil itu mulai bergerak lagi. Rasa penasaran telah mengalahkan segalanya, bahkan jika mungkin ini terlihat lancang karena berani memasuki area pribadi Ji Yong, namun bukankah pria itu akan memaafkannya karena kini mereka telah sah menjadi sepasang suami istri?

Bukankah seharusnya tak ada yang ditutup-tutupi lagi di antara mereka? Termasuk mungkin… rahasia besar di balik rak buku yang mengantarkannya pada lorong gelap nan pengap. Sandara terus melangkah dengan degupan jantung yang bertalu keras akibat rasa gugupnya. Ruangan lainnya di sisi ruangan kerja itu ternyata berakhir dengan memiliki anak tangga menurun yang mengarahkannya pada sebuah pintu jati kokoh dengan ornamen klasik.

Dengan hati-hati, Sandara bergerak pelan. Satu tangannya terangkat dan memegang kuat engsel untuk kemudian membukanya. Bunyi berderit dari pintu yang tergeser cukup menyentakkan gadis itu dan membuat manik hazelnya bergerak liar, meneliti sekeliling dan makin masuk ke dalamnya. Sebuah ruangan cukup luas tanpa jendela menyambut dengan meja besar di tengah ruangan. Berhiaskan berbagai macam botol laboratorium dan cairan beragam warna yang sama sekali Sandara tak mengerti.

Bau zat kimia dengan segera menyeruak, memasuki indera penciumannya hingga membuat Sandara terbatuk cukup hebat. Sama sekali tak ada tanda-tanda kehadiran Ji Yong di sana –pria yang dicarinya sedari tadi– namun kini seluruh benaknya dirasuki berbagai pertanyaan tentang kegunaan ruangan yang seakan diselimuti misteri tersebut. Ruangan macam apa ini sebenarnya?

Langkahnya terus menuntun sang gadis untuk mengelilingi ruangan minim pencahayaan tersebut. Matanya bergerak menelusuri dan berakhir pada lemari kaca besar di samping kiri ruangan. Dahi gadis itu mengernyit dengan adanya kain putih yang menutupi segala macam benda yang berada di dalamnya. Lagi-lagi bunyi derit lemari kaca menyentakkan Sandara di tengah keheningan yang tercipta.

Satu per satu kain tersibak dan menampakkan benda aneh di dalamnya dengan bau menyengat. Bau zat kimia yang kembali menusuk hidungnya dengan lebih tajam. Manik hazel itu menyipit, memperhatikan beberapa benda di hadapannya meski dengan penerangan minim dari lampu bohlam yang tergantung di tengah ruangan. Ini… patung lilin? Mungkinkah ini tempat untuk koleksi Ji Yong?

Tangan Sandara terulur dan meraih satu patung yang berwujud kodok dan… prang!

Akibat tak hati-hati gadis itu menjatuhkan patung tersebut dan membuatnya berhamburan di lantai kayu. Astaga, Ji Yong mungkin akan marah besar jika tahu salah satu koleksinya hancur akibat ulahnya. Hendak bergerak untuk mencari sapu atau alat apapun yang dapat membersihkan serpihan patung tersebut, kaki Sandara tak sengaja tersandung hingga membuat gadis itu hampir terjatuh jika saja tangannya tak sigap untuk berpegangan pada sisi lemari kaca di sampingnya.

Crak!

Bunyi cipratan sedetik kemudian menyadarkan Sandara bahwa ada sesuatu yang janggal di bawah kakinya yang terasa menginjak sesuatu. Riak kekagetan tak bisa disembunyikan dengan tatapan ngeri luar biasa yang tergambar di riak wajah cantiknya. Rasa mual mulai menjalar dan membuat asam lambungnya naik. Kodok itu… kodok asli! Bahkan dengan darah yang mengotori ujung gaun putihnya. Astaga, mungkinkah…?

Dengan pikiran yang luar biasa kalut, Sandara membuka semua lemari kaca di hadapannya, menarik satu per satu kain yang ada di sana. Pemandangan selanjutnya yang tertangkap retina matanya mampu membuat manik hazel itu mencuat hingga hampir keluar dari tempatnya. Kalajengking, tupai, hingga rusa telah diawetkan dengan lilin hingga menyerupai patung. Semuanya asli dan jantung gadis itu bahkan hampir berhenti berdetak dengan satu objek yang terletak di sudut.

Sebuah objek nyata yang hanya mampu membuat Sandara berharap bahwa ini hanya sekadar halusinasinya belaka. Mungkinkah penglihatannya tengah terganggu? Mengapa kini ia melihat… Chaerin? Seorang gadis yang dikenalnya sebagai salah satu asisten Ji Yong yang sempat menghilang beberapa bulan terakhir. Gadis itu berada dalam posisi meringkuk dengan mulut yang menganga lebar, bahkan masih lengkap dengan pakaian maid yang melekat pada tubuh sintalnya.

Ya, Tuhan! Siapa sebenarnya pria yang baru saja dinikahinya itu?

Lari. Satu kata yang terpikir dalam benaknya membuat Sandara segera bergerak dengan brutal. Tanpa pikir panjang ia segera melesat keluar dari ruangan laknat tersebut dengan heels keparat yang membuat ia kewalahan saat berlari menaiki anak tangga.

“Aw!”

Jeritan yang diiringi rintihan ngilu keluar dari bibirnya, membuat suaranya menggema di lorong sepi nan menakutkan itu tatkala ia jatuh di anak tangga paling atas hingga membuat lututnya berdarah. Salah satu hak sepatunya bahkan patah namun gadis itu sama sekali tak peduli dan terus berlari. Pengharapan terakhirnya yang terbersit dalam benak adalah untuk segera keluar dari tempat terkutuk tersebut.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Deg!

Suara itu membuat tubuh Sandara luar biasa menegang sesaat setelah keluar dari lorong dan menutup rapat rak yang menjadi penghubung ruang rahasia tersebut. Rahang gadis itu mengeras dengan manik yang berputar sembarang arah secara liar. Sandara hanya ingin menghilang di detik ini. Lenyap tak berbekas. Bisakah Tuhan mengabulkan permintaan konyolnya di saat seperti ini?

Mau tak mau gadis itu berbalik arah dengan gerakan lambat. Pandangannya tertunduk, mencoba berharap pada sebuah keajaiban mustahil yang dapat menghentikan waktunya agar tak usah bertemu dengan pria itu. Suaminya, sekaligus orang paling dihindarinya untuk saat ini. Namun tentu saja pengharapan bodoh itu hanyalah menjadi angan-angan belaka karena kini sang pria persis berada di hadapannya. Bahkan objek yang pertama kali ia lihat ialah sepatu pentofel mengkilat yang masih sama dengan yang pria itu gunakan saat pemberkatan.

“Apa yang kau lakukan di sini?” ulang Ji Yong dengan nada penekanan pada setiap katanya. “Bukankah aku telah menyuruhmu untuk menunggu di ruang makan?”

Manik hazel itu menutup erat dengan bibir cerinya yang bergetar. Gadis itu bahkan harus menggigit pipi bagian dalamnya demi menahan isak tangis yang mungkin sebentar lagi akan keluar dengan desakan cairan sialan yang mulai terkumpul di pelupuk. Tak ada jawaban sebagai respon, yang terdengar hanyalah deru napas dari kedua orang yang tengah berdiri berhadapan dengan sang gadis yang luar biasa merasa terintimidasi.

Heels-mu patah?” tanya Ji Yong tiba-tiba hingga membuat lidah Sandara kelu. “Lalu… apa yang terjadi dengan ujung gaunmu? Itu seperti… noda darah?”

Pria itu memperhatikan segala detail penampilan gadisnya dengan pandangan yang serasa menguliti Sandara hingga ke tulang. Gadis itu makin menunduk dalam dengan merapalkan berbagai doa dalam hati. Bagaimanapun juga pria di hadapannya saat ini sama sekali tak mampu ia kenali. Ia sangat jauh berbeda dengan Ji Yong yang menjadi kekasihnya selama setahun terakhir. Aura yang menguar dari pria di hadapannya kini terlalu kuat… dan juga bengis.

“Apa yang terjadi denganmu, huh?”

“Ji Yong-ah…”

Gadis itu memberanikan diri berucap dengan suara paraunya. Wajahnya mendongak demi melihat sang pria di hadapan yang kini tengah menyunggingkan senyum mematikan. Senyuman itu masih sama memabukkannya, namun tampak berbeda di mata Sandara. Karena kini bahkan yang dirasakan gadis itu hanyalah rasa mencekam dengan ketakutan luar biasa yang menyergap. Seolah-olah tengah ada hewan predator di hadapan yang akan memangsanya dengan satu kali gigitan tajam.

Wae? Aku hanya bertanya. Mengapa kau menjadi kaku sekali, Dara-ya? Apakah ada yang salah dengan pertanyaanku?”

Sandara menggertakan giginya. Melihat Ji Yong yang masih berdiri santai dengan raut tenang malah menambah intensitas pacu jantungnya. Tanpa gadis itu sadari, kini bahkan keringat sebesar biji jagung mulai keluar dari pelipis juga hampir di sekujur tubuhnya. “A… aku… aku kemari hanya untuk mencarimu, namun tadi kau tak ada… jadi…”

Tanpa membiarkan sang gadis menyelesaikan ucapannya, ujung manik kelam nan tajam milik Ji Yong mampu menangkap serpihan lilin yang cukup tertutupi dengan noda darah pada ujung gaun Sandara. Pria itu mendecak, melukiskan senyuman tanpa dosa pada wajah rupawannya. Tanda bahwa ia telah mengerti dengan sutuasi yang terjadi. “Bukankah kau telah melihat semuanya?”

Satu pertanyaan itu membuat nyawa sang gadis bagai ditarik keluar. Malaikat maut seolah-oleh tengah bersiap untuk menjemputnya dengan wujud Ji Yong sebagai bentuk nyata yang berada di hadapannya. “Melihat… apa?”

Ji Yong memutarkan matanya malas. Oh ayolah, bukankah gadis itu terlalu berbelit-belit? Pria itu terlalu pintar untuk Sandara bodohi dengan kelakuan kekanakkannya. Kini bahkan Ji Yong tengah melayangkan tawa sumbang mengejek. Merendahkan gadis di hadapannya dengan terbahak hebat seraya memegangi perutnya yang kesakitan. Selera humor pria itu terlalu sulit dimengerti dengan menganggap Sandara yang tengah bermain-main. Benar-benar menggelikan.

“Berhenti berakting kaku seperti itu, Park Sandara.”

Satu kalimat terlontar terdengar seperti ancaman. Berat dan dalam disertai manik kelam yang memicing tajam. Perubahan ekspresi Ji Yong secara tiba-tiba mampu membuat Sandara bergidik ngeri dengan bulu kuduk yang meremang.

“Aku… tak mengerti apa yang maksudkan.”

“Bukankah kau telah berjanji padaku, huh?” tanya Ji Yong dengan kedua tangan kokohnya yang meraih bahu terbuka Sandara. Pria itu bahkan maju selangkah demi mengikis jarak di antara mereka.

“Janji?”

“Aish, berhentilah bertanya bagai gadis bodoh!”

Sandara makin memaku di tempat akibat nada tinggi dari ucapan Ji Yong. Kelakuan gadisnya telah berhasil menyulut emosi sang pria namun masih dalam batas rendah dan dapat ia redam untuk sementara. Ya. Hanya sementara.

Wae? Kau gugup? Kau bahkan melupakan janji yang telah kita ucap di altar tadi siang?” Ji Yong menampilkan gurat kekecewaan di riak wajah rupawannya. Pria itu mendesah dan meraih wajah Sandara. Kini pandangan keduanya bersitemu dengan jarak yang amat dekat. “Kau telah berjanji untuk selalu menjadi pengantinku. Ingat?”

Deg!

‘Hari ini, esok, dan seterusnya, maukah kau tetap menjadi pengantinku?’

Kalimat itu terus berputar bagai kaset rusak dalam benak Sandara. Ucapan itu. Ucapan yang Ji Yong lontarkan tadi siang dan dengan bodohnya gadis itu menyanggupi bahkan menampilkan rona merah di pipinya sebagai jawaban. Ucapan yang sama sekali tak disangkanya memiliki arti lain. Arti sebenarnya dengan menjadikan ia seorang ‘pengantin’. Selamanya. Ya Tuhan, jika memang ini mimpi, bisakah kau bangunkan gadis itu dari mimpi yang luar bisa mengerikan ini?

“Karena kau telah berjanji seperti itu, maka biarkan kini aku menjadikanmu pengantinku.”

Sandara memberanikan diri untuk menatap langsung manik kelam itu dengan sisa tenaganya yang hampir habis. Gadis itu bahkan masih berusaha memaksakan seulas senyum bodoh, berharap Ji Yong masih memiliki belas kasihan terhadapnya. “Aku telah menjadi pengantinmu, Ji Yong-ah. Bukankah kita kini adalah sepasang suami istri yang terikat secara sah?”

“Ya. Tapi jika aku membiarkanmu tetap seperti ini, kau akan menua, dan kau tak bisa ku miliki sebagai pengantinku.” Ji Yong membelai pipi Sandara sebelum melanjutkan, “Secara utuh.”

Gadis itu tak bisa menahannya lebih lama lagi. Percuma saja bertahan dalam mode kepura-puraannya. Melihat wajah Ji Yong yang nampak menjijikkan dengan seringaian di sudut bibirnya membuat Sandara ingin meraung sekeras-kerasnya. Gadis itu menepis tangan Ji Yong dan tak menahan teriakan frustasinya. Cairan asin sialan sebening kristal itu meluncur tanpa sanggup ia bendung dengan rasa takut yang menjadi-jadi. “Jangan gila, Kwon Ji Yong!”

Ji Yong yang hampir terpelanting ke belakang akibat kehilangan keseimbangan dengan tiba-tiba mendekat ke arah Sandara saat langkah gadis itu hampir mencapai pintu keluar. Dengan satu gerakan cepat, tangan kokohnya berhasil meraih pergelangan tangan Sandara, mencengkeramnya erat hingga membuat sang gadis makin merintih kesakitan. “Gila?!”

“Kau! Kau sakit jiwa!” raung Sandara penuh rasa frustasi.

“Ssst!” Satu telunjuk pria itu terarah di depan bibir Sandara, mengisyaratkannya untuk diam dan tenang. “Aku bahkan telah mempersiapkan ini sejak lama, bahkan dengan beberapa percobaan yang susah payah ku lakukan terlebih dulu. Kau lihat karyaku yang ku simpan di ruang bawah tanah? Bukankah itu sempurna? Itu semua ku lakukan untukmu. Untuk hari ini yang telah lama ku nantikan. Hari di mana aku akan memilikimu sebagai pengantinku, Dara-ya.”

Sandara memberontak dengan segala sisa daya upaya yang ia miliki. Perkataan sinting Ji Yong mampu membuat Sandara yakin bahwa pria yang terlihat normal di hadapannya itu ternyata tak lebih dari seorang pria hina yang sakit jiwa. Keparat! Selama ini ia bahkan telah tertipu mentah-mentah dengan segala pesona seorang Kwon Ji Yong yang memabukkan.

Gadis itu terus meronta agar bisa dilepaskan, namun tentu saja perlawanannya tak sebanding dengan kekuatan Ji Yong. Jika saja ruangan kerja itu tidak kedap suara, maka sudah bisa dipastikan jeritan yang memekakkan telinga itu mampu membelah sunyinya malam. Tragis. Satu kata yang dapat menggambarkan keadaan Sandara kini. Gadis itu benar-benar kacau dengan segala keputusasaan yang mulai mendera.

Tanpa belas kasih, manik kelam Ji Yong bergerak brutal dengan pandangan yang seakan mampu menembus serta mematahkan pengharapan konyol gadis pasrah yang tengah meminta ampun di hadapannya. “Kemarilah, pengantinku. Akan ku jadikan kau sebagai pengantin wanita tercantik yang pernah ada.”

“Lepaskan! Lepaskan aku!”

“Berhenti menangis!” Ji Yong memaki dan membuat Sandara terbungkam walau masih menahan isak tangisnya. Satu tangan pria itu terulur dan merapikan anak rambut Sandara serta menghapus maskara berantakan sang gadis yang telah luntur di pipinya. “Kau terlihat lebih cantik jika diam seperti ini.”

Kalimat memohon tak henti terucap dari bibirnya dengan segala bentuk keputusasaan yang menyeruak. Suara parau gadis itu perlahan-lahan menghilang dan terganti dengan sebuah isakan memilukan. Namun bagi Ji Yong, itu adalah sebuah melodi terindah yang pernah menyambangi indera pendengarannya. Membuatnya merasa berkuasa atas calon pengantin abadinya hingga menampilkan seringaian menyeramkan entah untuk keberapakalinya.

Dengan berakhirnya penolakan Sandara akibat rasa pasrahnya dan tenaga yang sempurna telah habis terkuras, Ji Yong dapat dengan mudah membawa gadis itu ke ruangan rahasianya. Menyeretnya paksa dengan cengkeraman erat di pergelangan tangan Sandara dengan kukunya yang menancap tajam. Seringaian tak henti pria itu ukir pada lengkungan bibir penuhnya. Menjijikkan!

Sementara Ji Yong menikmati perasaan bergelora yang tiba-tiba membuncah, sang gadis dengan malangnya hanya mampu menangis pilu dengan rintihan kepedihan mengiringi. Ji Yong sempurna menyeret Sandara pada ruangan bawah tanah yang kedua kalinya gadis itu masuki, sekaligus juga mungkin untuk terakhir kalinya. Karena sekeras apapun Sandara mencoba, maka ia tak akan pernah bisa keluar dari ruangan itu lagi.

Tidak setelah Ji Yong menjadikannya ‘pengantin’ dengan cairan keabadian yang mampu menyempurnakan penampilannya.

‘Jadilah pengantinku, Park Sandara…’

.

.

.

–END–

Advertisements

2 thoughts on “[Love Is Moment] Be My Bride

  1. Hai aitsil96!
    Yeayyyy daragon 💕
    Di awal mata sandara cum liat senyum tampan lah, memabukkan, killer gt, tapi begitu tau jiyong sebenernya langsung ngerasa senyum yg sama itu menjijikkan, macem pacaran tetiba putus apa apa jadi jelek 😂😂😂😂
    Jd inget film, inget jessica di sherlock, trs cl jd maid gitu, rasanya campur aduk!
    But, i like this, penyampaiannya enak, jd biarpun sudah menduga kalo ceritany ‘bakal kayak gini atau kayak gitu’ tetep aja dibaca sampe ketemu ‘end’. Nice!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s