AU · Fantasy · FF Project · Genre · Giveaway Project · Length · Moment · One Shoot · PG -15 · Rating · Spicy · Thriller · Uncategorized

[Love Is Moment} Truth of The Prophecy


Siskarikapra

Proudly Present

Truth of The Prophecy

Spicy Moment Starring Monsta X’s Im Changkyun and iKON’s Kim Hanbin Genre Fantasy, AU, Thriller! Lenght in Oneshot and Rated PG-15

Disclaimer I don’t own anything except the storyline. Poster was made by me but not the material.

Author Note This fanfic was presented for MNJ Fanfiction giveaway and inspired by The last book of Percy Jackson series titled The Last Olympian’

Enjoy!

 

“Untuk dewa-dewi,”

Aku menyisihkan sebagian isi dari piringku ke api unggun sebelum makan. Setelahnya langkah kakiku pergi menuju meja pondok tujuh.

Malam ini paviliun makan terasa sangat mendung. Bintang malam bahkan tidak terlihat sama sekali selepas kami membakar kafan logam milik David—konselor kepala pondokku yang gugur dalam pertempuran beberapa hari lalu.

Keadaan Olimpus belakangan ini sedang tidak stabil. Aku benci sekali mendengarnya tapi kenyataan memang berkata demikian, soal Kronos yang—secara teknis adalah kakek buyutku—berkeras ingin bangkit dan menggulingkan kekuasaan para dewa.

Perkemahan blasteran juga kebagian dampak. Dewasa ini keadaan kemah kami benar-benar sangat kacau. Contohnya saja dinding magis pelindung yang mengelilingi bukit tempat kami bernaung ini mulai melemah. Kawanan Cyclops1berandal serta kawan-kawan monsternya selalu menggangu tidurku ketika mereka mencoba menghancurkan satu-satunya pembatas paling aman bagi kami para blasteran. Dan aku rasa kami benar-benar terancam setelah ini.

Ngomong-ngomong, aku Changkyun. Umurku delapan belas dua bulan lagi. Aku separuh dewa. Ibuku manusia dan ayahku adalah Apollo. Kau tidak percaya? Terserah. Intinya, aku sudah berkata jujur.

Kedengaran sangat konyol memang, karena orang-orang selama ini berasumsi bahwa blasteran hanyalah istilah yang ada di mitologi kuno, atau tokoh dari kisah fiksi yang mendapat gelar best-seller. Tapi kau akan mengerti kalau kau adalah salah satu dari kami.

Sudahlah, aku benci membahas itu. Tahun ini adalah tahun ke-empat aku berada di perkemahan—dan itu cukup membuatku menjadi salah satu blasteran senior yang menghuni pondok tujuh selepas kepergian David. Pemuda itu sudah berada di pondok Apollo selama tujuh tahun dan dia yang paling lama bertahan dibanding pekemah yang lain.

Soal David, ia gugur saat menjalani misi bersama Jisoo—putra Zeus. Mereka hanya pergi berdua dan yang kembali ke perkemahan hanyalah Jisoo.

Sejauh ini, aku rasa kalian sedikit bingung, benar? Biar aku jelaskan lebih rinci.

Blasteran itu betulan ada, dan dewa-dewi itu bukan sekedar mitologi atau takhayul. Ayahku adalah dewa, dan teman-teman perkemahanku juga sama. Salah satu dari dua orangtua mereka adalah dewa atau dewi.

Kami—para blasteran—memberantas monster, mendapat misi, bertempur, pokoknya hal-hal yang tidak dilakukan manusia normal.

Dan, yah, aku orang Korea. Pusat Olimpus berpindah dari Amerika ke Korea sekitar sembilan atau sepuluh tahun lalu. Yang aku dengar dari Chiron—centaurus2 abadi yang melatih kami berperang—pusat Olimpus selalu berpindah-pindah dari satu belahan dunia ke belahan dunia lainnya mengikuti peradaban zaman.

Sekarang, di sini lah aku. Di perkemahan blasteran yang terletak di kaki bukit gunung Seorak. Sementara kami para blasteran aman di sini, para orangtua dewa kami berada damai di gunung Olimpus—yang berada jauh di atas Lotte World Tower. Tempat abadi para dewa-dewi itu mengambang di udara dan tak kasat mata oleh manusia normal. Yah, kekuatan kabut mistis. Orang-orang paling hanya melihat gumpalan awan megah dan istimewa yang bergulung-gulung di atas Lotte Word Tower, padahal, mereka tidak tahu saja apa kebenarannya.

Tetapi, pemandangan itu sirna akhir-akhir ini dan digantikan oleh awan hitam serta badai yang disiarkan di berita-berita. Pasalnya, Olimpus benar-benar sedang terancam. Perkemahan kami juga.

Hampir seminggu ini para pekemah harus bekerja ekstra untuk menghabiskan para monster yang berkeras menghancurkan perkemahan kami. Aku sempat setuju dengan Eunyoung—konselor pondok Athena—kalau para monster sialan ini hanya mengalihkan perhatian dan membuat kami keliru sehingga kami bakalan hancur bersama Olimpus yang melebur.

Tapi kami tidak sebodoh yang Kronos kira. Ramalan dari orakel3sudah keluar dan kami sudah belajar banyak dari sekian misi dan ramalan yang telah dilalui para pahlawan blasteran sebelum kami. Jadi, para pekemah dibagi menjadi dua tim. Tim pertahanan dan tim penyerang—aku masuk tim pertahanan, ngomong-ngomong.

Tim pertahanan bertugas menjaga perkemahan dan tim penyerang akan membantu para orangtua dewa kami dalam menghadapi Kronos dan sekutunya—yang secara teknis akan sampai di Seoul besok.

“Changkyun!”

“Hey!”

Aku tersadar setelah Jaebum—saudara satu pondokku—memanggilku cukup keras.

“Eh, apa?”

“Kau dipanggil Chiron. Datang ke Rumah Besar setelah selesai dengan makananmu.”

“Aku? Sendiri?”

“Sebenarnya berdua Hanbin. Tapi dia sudah jalan duluan.”

“Oh, tidak dia lagi.”

Jaebum menahan tawa ketika melihat reaksiku saat mendengar nama Hanbin.

“Sudahlah, cepat sana. Konselor kepala dari pondok lain sudah menunggu.”

“Siap, bos.”

Aku melempar senyum padanya dan segera meninggalkan paviliun makan. Jaebum lebih tua dariku tapi dia baru datang ke perkemahan dua tahun lalu dan aku cukup dekat dengannya sebagai saudara satu ayah. Tidak dengan Hanbin sialan itu.

Aduh, membicarakannya saja aku mual.

Sepanjang jalan menuju Rumah Besar, pikiranku melayang-layang sampai-sampai aku tidak sadar aku sudah berpijak di beranda. Dari Jendela bertepi kayu yang dicat warna hijau, aku bisa melihat para konselor kepala pondok sudah berada di sana dan kelihatannya beberapa sedang menyumpah karena menungguku terlalu lama.

“Oh, ini dia. Tabib nomor satu kita yang hobi sekali terlambat.”

Kalimat itu baru saja meluncur dari bibir Eunji, Putri Ares—Dewa Perang.

“Eh, manis. Kau salah. Dia nomor dua, aku yang nomor satu.” Kata Hanbin mengoreksi

Nah, lihat kelakuannya, kan? Itu kenapa aku mual sekali dan benci dengan kenyataan bahwa dia adalah saudaraku.

“Sudahlah, Pak, ayo mulai.”

Itu Eunyoung. Gadis itu meminta Chiron untuk segera memulai rapat. Sebenarnya ini agak aneh karena setiap pondok sebetulnya hanya mendatangkan satu utusan, sedangkan dari pondok tujuh punya dua anggota di sini, aku dan Hanbin.

Biarkan aku cerita sedikit, aku dan Hanbin datang ke perkemahan dalam waktu yang sama. Kami diawasi oleh satu satir4 karena kami ada di akademi sekolah yang sama dan aku muak sekali dengan dia karena sejak dulu kami selalu dianggap kembar di sekolah lantaran wajah kami sekilas mirip. Padahal menurutku tidak. Aku jelas-jelas jauh lebih tampan darinya.

Sekarang, aku mengerti kenapa aku memiliki kemiripan dengannya. Yah, karena ayah kami sama. Tapi ini hanya kebetulan. Tidak semua pekemah dalam satu pondok memiliki wajah yang mirip. Nah, itu yang membuatku jengkel karena kami hanya satu-satunya.

Soal kemampuan juga. Bisa dibilang aku setara dengannya. Kami sama-sama pandai memanah, mengobati, bersyair, ah, pokoknya semua hal yang berbau Apollo. Serius, aku dan dia itu imbang. Tapi selama ini kami malah kelihatan seperti rival karena selalu kejar-kejaran dan bersaing. Padahal kami saudara. Aneh, ya? Memang.

Terus, soal aku dan dia yang dipanggil ke Rumah Besar, perkiraanku mengatakan bahwa Chiron akan mengambil keputusan untuk mengangkat salah satu di antara kami untuk menggantikan David menjadi konselor kepala.

Sebenarnya hal itu harusnya murni keputusan anggota pondok. Tapi nampaknya saudaraku yang lain takut terjadi perang dingin seandainya mereka yang memungut suara. Jadi, yah, mau bagaimana lagi.

“Hanbin, Changkyun.”

Aku mendengar Chiron membuka suara dengan gagah seperti biasanya. Makhluk setengah manusia setengah kuda itu bergantian menatapku dan Hanbin.

“Kalian tahu, kan, apa alasanku memanggil kalian ke sini?”

Aku dan Hanbin kompak mengangguk.

“Jadi, selepas kepergian David, salah satu dari kalian harus menggantikan posisinya.”

Aku tahu itu.

“Para saudara kalian menyerahkan keputusannya padaku supaya tidak terjadi keributan.”

“Ya, Chiron. Silahkan.” Kataku

“Ini memang agak sulit mengetahui kalian sama-sama pekemah yang terlama di pondok Apollo dan memiliki kemampuan yang seimbang. Tapi aku memutuskan Hanbin resmi menjadi konselor kepala setelah ini.”

Yeasss.”

Aku bisa mendengar Hanbin bersorak kegirangan. Yah, itu memang hal yang selalu ia impikan. Jujur saja aku tidak kecewa sama sekali karena aku memang dari awal tidak terlalu berharap untuk ditunjuk menjadi pemimpin pondok. Itu tanggung jawab yang berat, kau tahu.

“Jadi, sudah, kan?” tanyaku

Semuanya hening.

“Boleh aku pergi sekarang?”

Chiron menggeleng. Semua mata melotot, tak terkecuali aku.

“Ada hal soal ramalan yang harus kita rundingkan.”

“Tapi, aku kan bukan siapa-siapa?”

“Changkyun, dengar dulu. Kau salah satu pekemah terbaik. Sekarang, kumohon. Ikuti rapat ini dengan tenang.”

“Oke.”

Yang lain berjengit sementara aku memindahkan tumpuan tubuh ke posisi yang lebih nyaman.

Chiron mulai membuka perkamen yang sedari tadi nangkring di tangannya.

Masanya telah tiba. Kebangkitan yang tertunda sejak lama. Dua penawar tak akan cukup. Satu penawar tak akan sanggup.

Hening setelah Chiron mengatupkan bilah bibirnya. Aku bisa merasakan atmosfir ketegangan yang begitu kental menyelimuti kami semua.

“Itu saja?” tanya Jinwoo—konselor kepala pondok Hermes.

Chiron mengangguk.

“Kenapa singkat sekali?” kali ini Jaemin, dia dari pondok Hephaestus.

Sementara yang lain tengah memutar otak—berusaha memahami arti ramalan—di tempatnya memijak Jihyo—putri Aphrodite—kelihatan sangat gusar.

“Ramalan yang singkat justru punya arti yang menakutkan.” Kata gadis itu sambil menggigiti ujung kuku. Aku tidak menyangka gadis yang hobinya berdandan itu punya pemikiran yang cemerlang juga.

“Jihyo benar,” Kata Chiron

“Kita harus lebih awas dan berhati-hati.”

“Apa maksud penawar? Obat?”

Itu Jisoo. Dia satu-satunya putra dari tiga dewa tertua. Pondok Poseidon dan Hades di perkemahan kami kosong. Karena seingatku aku pernah tahu kalau tiga dewa tertua memiliki kesepakatan untuk tidak lagi berhubungan dengan manusia fana dan menghasilkan anak blasteran. Karena blasteran dari tiga dewa tertua biasanya mengundang banyak masalah.

Yah, seperti sekarang ini. Jisoo datang ke perkemahan tiga tahun lalu. Dan semenjak itu ketenangan kami perlahan-lahan memudar. Aku yakin, Hera pasti mengamuk pada Zeus ketika ia mengakui Jisoo sebagai anaknya.

Kembali pada pembicaraan kami soal ramalan. Selepas Jisoo melontarkan pertanyaan, tak satu pun dari kami menanggapi.

“Penawar versi orakel memiliki banyak arti. Bisa saja penawar yang dimaksud di sini itu seseorang yang melakukan penawaran soal berperang, suatu kesepakatan, atau apa lah, selain penawar dalam artian obat.”

Benar juga. Penjelasan dari Eunyoung sangat masuk akal sehingga membuat seisi ruangan kompak menganggukkan kepala.

“Permisi, Pak. Jadi apa gunanya aku di sini, ya?”

Chiron hanya memamerkan senyum. Seingatku dia memang tidak pernah marah dan menyayangi kami semua.

“Tentu saja untuk berdiskusi bersama kami, Changkyun.”

“Dasar otak udang,” gumam Eunji. Aku meliriknya tajam dan dia juga melakukan hal yang sama.

“Bukankah ramalan ini sangat gamblang? Kenapa kita repot-repot berpikir keras?” kataku berusaha kedengaran keren. Tak ada yang menanggapi. Semuanya kelihatan tengah menungguku meneruskan kalimat.

“Maksudku, kata ‘penawar’ di sini jelas sekali memiliki artian obat. Satu penawar tak akan cukup, satu penawar tak akan sanggup.

“Ini jelas sekali mengarah pada sesuatu yang membutuhkan obat lebih dari satu.”

Semuanya setuju. Aku bisa tahu karena mereka kelihatan tambah tegang dan resah.

“Tapi siapa yang memerlukan obat? Siapa yang terluka?” tanya Jaemin.

“Nah, itu yang perlu kita pikirkan.” Jawabku

“Aku punya pemikiran lain.”

Kalimat itu berasal dari Hanbin. Ia kelihatan ragu tapi akhirnya bicara juga.

“Kita punya dua tim. Menurutku, masing-masing tim harus memiliki dua penawar.”

Semuanya kelihatan tidak mengerti kecuali Chiron yang menyunggingkan senyum sambil menggerak-gerakkan ekornya—yeah, dia manusia  dari pinggang ke atas dan di bawah sana dia punya badan kuda.

“Tolong lebih rinici, Hanbin.” Pinta Jihyo

“Besok bakalan jadi hari yang berat. Tim kita harus segera bergegas. Tim penyerang harus mulai berangkat ke Lotte World Tower dan tim pertahanan harus bertempur untuk melindungi dinding pembatas. Kita butuh lebih dari satu penawar.”

Aku mengerti maksud Hanbin. Tapi kelihatannya yang lain tidak jadi mereka kompak mengerutkan dahi.

“Maksudnya, setiap tim harus punya lebih dari satu pekemah handal dari podok Apollo,”

“Kami semua penawar, benar?”

Itu benar soal blasteran Apollo yang merupakan sebuah penawar. Apollo adalah dewa pengobatan, dan kami para keturunannya juga diwariskan bakat yang sama.

Setelah sedikit penjelasan detil dariku, barulah kelihatan ada titik terang. Mereka semua memindahkan tumpuan tubuh dan masih memutar otak tentang kemungkinan-kemungkinan lain yang masuk akal.

“Bagaimana kalau kalian berdua nyatanya adalah penawar itu? Kalian putra Apollo yang terkuat dan penghuni pondok paling lama.”

Eunyoung benar. Aku dan Hanbin bahkan sempat bertukar pandang karena menganggap hal ini merupakan kekonyolan.

“Tidak mungkin,” kataku dan Hanbin bersamaan.

“Mungkin saja,” Chiron menyanggah

“Kita tidak pernah tahu apa maksud ramalan yang sesungguhnya, kan?”

Aku benci sekali mendengar Chiron berkata begitu. Tapi aku lebih benci lagi pada kenyataan bahwa perkataannya itu benar.

“Jadi, kesimpulannya?”

“Kau ikut kami ke Lotte World Tower besok.”

Hey, tidak bisa. Tim pertahanan membutuhkanku di sini.”

“Tapi Changkyun, ramalan jelas sekali berkata bahwa satu penawar tak akan cukup. Kami butuh kau untuk mempertahankan Olimpus.”

“Oh, maaf, Pak? Bukankah tadi anda sendiri yang berkata kalau kita tidak pernah tahu apa maksud ramalan yang sesungguhnya?”

Sarkasmeku mulai keluar dan aku seringkali kesulitan mengontrolnya.

Hening. Tidak ada yang berani berujar.

“Changkyun benar.”

Nah, ini aku setuju. Pernyataan itu baru saja dilontarkan oleh Heeji. Dia konselor kepala dari pondok Demeter.

“Bagaimana kalau ternyata arti sesungguhnya dari ramalan adalah kebalikan dari kesimpulan yang kita ambil? Semisal Changkyun ikut tim penyerang dan perkemahan kita hancur karena tidak memiliki tabib yang kuat saat pertempuran besok, bagaimana?”

Hening kembali merayapi kami. Perkataan Heeji masuk akal juga. Gadis itu sejak awal tidak bicara apa pun dan sekalinya dia berargumen, aku setuju sekali.

“Begini saja,”

Aku ingin memberi usul supaya kami berada pada formasi yang imbang. Aku sempat memotong kalimatku untuk menarik napas dan mereka semua menatapku yang jelas sekali menyiratkan tanda tanya besar.

“Bawa Jihyun dan Jiwon besok. Biar aku di sini bersama pekemah Apollo lain membantu. Dua gadis itu memiliki gabungan yang pas dan setara denganku, bagaimana?”

***

Beberapa bulir keringat membanjiri wajahku begitu aku sepenuhnya tersadar. Rasanya belum lama aku memejamkan mata tetapi mentari sudah beranjak naik. Begitu aku bangun, teman satu pondokku satu per satu mengikuti.

Mereka yang termasuk ke dalam tim penyerang mulai bergegas menyiapkan peralatan. Aku bisa lihat baju zirah sudah mereka kenakan dan beberapa sedang sibuk menyandangkan kantong anak panah ke bahu mereka.

Aku baru hendak turun kalau saja tidak ada guncangan hebat yang mengembalikanku berbaring ke atas ranjang. Getarannya kuat sekali sampai-sampai terdengar bunyi debum yang cukup nyaring.

“Dinding pembatas,”

Berkali-kali guncangan itu menghambat langkahku. Tapi aku terus saja menyiapkan diri untuk bertempur. Secepat kilat aku memakai baju zirah, menyambar helm perunggu dan buru-buru mengambil kantong anak panah.

Gak ada waktu buat panik!” aku dengar Hanbin berteriak dan suaranya menggema di setiap sudut pondok.

“Semuanya masuk ke formasi awal kecuali Jihyun dan Jiwon, ikut aku! Cepat!”

Hanbin benar, kami tidak punya waktu untuk merasa resah. Pertempuran ini menentukan hidup atau matinya kaum kami dan aku seratus persen sudah siap untuk membela kaumku.

Semua pekemah tergopoh-gopoh keluar dari pondok. Kerumunan sempat terjadi lantaran dinding pelindung kami mulai retak dan kelihatan akan pecah.

“Demi dewa-dewi,”

Tanah tempat kami berpijak terus bergetar dan jujur saja, aku bohong kalau aku tidak merasa gugup.

“Tim penyerang, masuk ke van! Kita berangkat ke Lotte World Tower! Sisanya, selamat bertempur dan pertahankan kemah kita!”

Jisoo berteriak menginstruksi lantang sekali.

Sebelum kami benar-benar menjalani misi dan berpencar, putra Zeus itu sempat membangkitkan semangat kami dengan berteriak,”Demi Olimpus!”

“Demi Olimpus!”

Bulu kudukku meremang. Aku rasanya ingin menangis tapi mataku kering. Hari ini akhirnya tiba juga. Aku bahkan hampir tidak percaya.

“Changkyun, aku percayakan perkemahan padamu.” Kata Jisoo yang tiba-tiba menghampiriku alih-alih memimpin pasukan untuk berangkat ke Olimpus.

Aku tidak sanggup menjawab. Jadi aku hanya mengangguk sekenanya sambil memasang tampang berani. Selepas itu, Jisoo berlalu.

Sekarang, Hanbin yang tahu-tahu muncul di hadapanku.

“Aku tahu ini kedengaran menjijikkan. Tapi aku juga percaya padamu. Pimpin pasukan dengan baik. Aku tahu kau bisa, aku tahu kau hebat. Jangan kecewakan ayah.”

Hanbin melangkah mundur dan bergegas menyeret langkah meninggalkan perkemahan. Kalau aku tidak salah lihat dia bahkan tersenyum padaku. Oh, jangan bilang setelah ini dia bakalan mati? Kelakuannya aneh sekali.

Aku tidak sempat memikirkan apa-apa lagi setelah guncangan yang terjadi makin hebat. Bagus, aku di sini sebagai pemimpin dan aku tidak punya riwayat kepemimpinan.

Dari tempat aku berdiri, kelihatan di balik dinding magis transparan yang melindungi kami, lusinan monster sudah berkumpul.

Beberapa raksasa Laistrygonian5, sekawanan Cyclops, wanita setengah ular—dracaena, Minotaur6, kalau bukan mataku yang salah, aku yakin aku melihat ada Hydra7 bahkan beberapa anjing neraka berkepala tiga.

“Oke, semuanya!” aku buka suara

“Ini hanya masalah kecil yang sudah sering kita hadapi—hanya saja jumlah musuh yang berlipat-lipat. Semuanya bentuk barisan pertahanan di sepanjang perimeter! Jangan ada yang terlewat! Gunakan senjata kalian semaksimal mungkin! Kita gakpunya banyak waktu sebelum dinding pelindung benar-benar hancur!”

Semua pekemah yang mengelilingiku mengangguk paham.

“Pondok Hephaestus, jangan ragu gunakan api Yunani! Buat semua monster itu jadi cairan hijau seperti slime! Tebar perangkap dan jebakan juga! Bergerak, sekarang!”

“Untuk pondok Demeter, tumbuhkan semak berduri dan ivy beracun di sepanjang pertahanan kalian!”

“Sepupuku dari pondok Aphrodite, tolong, terserah mau kalian apakan para monster yang jelek itu, dandani biar cantik juga gak apa!”

“Serius, Changkyun?”

“Iya, serius!”

“Demi dewa-dewi! Aku gak sabar ngedandanin mereka dan oh! Mereka benci sekali pada wangi Givenchy.”

“Baik, para sepupuku yang cantik dan ganteng! Aku serahkan sepenuhnya pada kalian, semprot mereka parfum biar wangi, bukan masalah! Yang penting mereka kabur, oke?”

“Oke!”

“Pondok Athena, kurasa kalian lebih bijak dan cerdik dari pada aku jadi, aku percaya pada apa pun yang kalian lakukan.”

“Dan yang aku rasa bakal jadi penguasa dan pahlawan paling hebat, pondok Ares! Pakai kereta perang dan awasi kemah kita dari udara!”

“Changkyun, kau kelupaan. Aku merasa terhina dari pondok Hermes karena kau tidak memberi perintah buat kami!”

“Tunggu dulu, kawan. Aku belum selesai! Oke, putra dan putri Hermes! Aku juga tahu kalian petarung yang hebat, gunakan senjata yang tersedia di tempat penempaan. Semuanya perunggu langit jadi kalian tidak perlu khawatir, tembak, tusuk, sabet, apa saja! Ayo!”

Semua blasteran di tim pertahanan sudah membuka formasi di sepanjang perimeter. Semua sudah kuperintah kecuali saudara dari pondokku sendiri.

“Saudara-saudaraku, dengar. Aku gak tahu kita bakal selamat atau nggak, tapi kita harus mengerahkan semua tenaga yang kita punya. Ayah pernah mengirimkan beberapa lusin panah sonik padaku, ini dia.”

Aku mengambil anak panah yang tersandang pada bahuku dan membagikannya pada beberapa saudaraku.

“Gunakan ini saat keadaan mendesak saja. Seharusnya anak panah dari perunggu langit sudah kelewat cukup buat membuyarkan para monster menjijikkan itu.”

“Jangan lupakan nektar dan ambrosia8. Muatkan semuanya di kantong kalian. Saudara kita yang terluka butuh bantuan. Kita semua penawar, ingat?”

Semua saudaraku mengangguk.

“Baiklah, ayo maju ke perimeter paling depan dan habisi semua makhluk laknat di sana!”

Kami menyerbu. Aku maju ke baris pertahanan paling depan. Kami berada di luar dinding pelindung. Sengaja, supaya para monster terkutuk itu mengincar kami, bukan perkemahan.

Busur di tanganku sudah siap. Bidikan anak panah tidak pernah meleset dan kalau aku tidak salah hitung, aku sudah menghabisi selusin monster.

thruth of the prophecy

 

Jauh di depan sana puluhan musuh terlihat merangsek maju. Aku dengan sangat terpaksa melepaskan beberapa panah sonik—yang akan mengeluarkan suara sangat keras begitu meluncur dari busur—dan sekumpulan monster di sana lari kocar-kacir. Beberapa bahkan langsung melebur menjadi abu.

Setiap pekemah di setiap baris pertahanan sudah berusaha keras. Melemparkan api Yunani, menggetok Cyclops dengan pentungan perunggu langit, menebas, menusuk, menembak, dan masih banyak lagi yang tidak dapat aku sebutkan satu-satu.

Tapi dari sekian aksi yang kami lakukan, bukan berarti menutup kemungkinan untuk kami baik-baik saja tanpa adanya luka. Aku sempat melirik ke segala arah dan aku yakin, setidaknya setengah dari kami terkapar tak berdaya. Entah karena mereka kelelahan atau mati, aku tidak tahu pasti.

Serangan di pertahanan depan sudah mulai mengendur dan untungnya, pekemah Apollo yang bertugas. Sebagian saudaraku melemparkan senjata mereka dan menghampiri para pekemah yang tergeletak tak berdaya.

Mereka mengeluarkan nektar atau ambrosia dari kantong, menyuapi para korban dan mulai bergumam menggunakan kata-kata Yunani kuno—himne Apollo—untuk ritual penyembuhan. Setelah para pekemah yang menjadi korban mulai membaik, giliran para saudaraku yang tumbang. Memang tidak sepenuhnya, tapi menyembuhkan orang yang sakit itu juga perlu banyak tenaga, kau tahu.

Perimeter perkemahan kami mulai aman. Aku hanya lihat beberapa monster yang berjengit kesakitan di utara karena sepanjang garis batas di sana dipenuhi tanaman beracun yang ditumbukan oleh pekemah dari pondok Demeter.

Sebenarnya wajar sih kalau kami sekarang sedikit santai. Hari sudah mulai gelap dan itu artinya kami sudah bertempur hampir seharian. Aku mengutus salah satu pekemah dari pondok Hermes untuk mengecek seluruh lingkar perimeter. Tidak lama kemudian, ia kembali dan memberi laporan bahwa perkemahan kami sudah benar-benar bersih dari para monster.

Mendengar itu, aku menghela napas lega. Beberapa dari kami bahkan bertukar pandang dan saling lempar tawa. Selepas itu kami bergegas untuk membereskan kekacauan seperti berbagai senjata yang berserakan sehabis perang, helm-helm perunggu yang menggelinding serta banyak hal lain.

Pekemah yang terluka cukup parah dibawa oleh saudara-saudaraku ke pondok kesehatan untuk dirawat secara intensif. Oh, dan aku yakin persediaan nektar dan ambrosia bakalan menipis setelah ini.

Perlahan-lahan keadaan mulai membaik. Aku berjalan ke dekat dinding pelindung dan menjulurkan tanganku menembus sekat transparan itu. Tanganku memang lolos, dan cahaya biru terang mengelilinginya. Senyumku mengembang. Sejauh ini pasti perkemahan akan baik-baik saja jika pelindung kami tetap bertahan.

Senyumku belum hilang. Dinding di hadapanku ini bahkan seperti mengerti perasaan hatiku. Karena begitu aku mengulas senyum, ia mengeluarkan garis biru menjalar serta menyala-nyala.

“Iya, kawan. Aku tahu kau memang yang terbaik.”

Setelah melontarkan pujian, aku duduk bersandar pada gapura yang di atasnya bertuliskan ‘Perkemahan Blasteran’. Pikiranku melayang-layang. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam rongga tulang bagian depan tubuhku. Tepatnya di organ hati. Banyak sekali kegiatan di sana sehingga jantungku rasanya seperti main perkusi.

Otak besarku juga. Sebagian memikirkan tim penyerang yang sekarang nasibnya entah bagaimana. Sebagian lagi aku bersyukur pada dewa-dewi karena musuh yang menyerang kami kali ini hanya para monster, bukan titan atau dewa minor sekutu Kronos dan sebagian yang tersisa, aku teringat akan ayahku.

“Apa aku membuatmu bangga kali ini, ayah?”

Aku melihat ke langit. Matahari sudah tenggelam dan sekarang rembulan yang menyinari bumi. Aku tahu ini konyol—karena ayahku adalah Dewa matahari dan aku malah bicara padanya saat di atas sana ada bulan. Yah, barang kali bibiku, Artemis—kembaran ayah, Dewi Rembulan—bakalan dengar dan menyampaikan kalimatku. Siapa tahu.

“Aku pikir ini bakalan sulit, ayah. Soalnya aku belum pernah memimpin apapun. Ditambah para konselor kepala semua pondok masuk ke formasi penyerang. Aku sendirian seperti orang bodoh dan asal perintah saja. Tapi ternyata tidak terlalu buruk.”

Aku cengar-cengir mengingat betapa sok tahunya aku dan asal memberikan instruksi pada semua anggota pondok pagi tadi.

“Terimakasih telah memberikan restumu, ayah. Semoga kalian menang dan Olimpus baik-baik saja.”

Kami baik-baik saja, nak. Kau keren hari ini.

DEG

Jantungku berpacu. Suara itu tiba-tiba saja mampir di pikiranku. Ayahku mendengar, dan dia membalas doaku.

Dia bilang apa tadi? Kami baik-baik saja? Oh aku lega sekali.

“Changkyun!”

Aku baru saja hendak berbalik masuk ke area perkemahan jika sebuah teriakan itu tidak menginterupsi. Itu Jisoo. Dia dan pekemah lain melambaikan tangan dari jarak lima puluh meter di depan dinding pelindung.

Tanpa sadar, kedua sudut bibirku naik tinggi sekali. Tanpa pikir panjang, aku berlari menembus sekat magis transparan dan berlari mendekati segerombolan pekemah yang baru pulang bertempur.

Tapi tiba-tiba berlari jadi terasa sangat sulit. Bagaimana tidak? Aku baru separuh jalan dan tanah di sekitarku berguncang keras. Kira-kira selusin tengkorak hidup baru saja muncul dari dalam tanah. Oh, tidak. Ini tulang-belulang hidup dari Dunia Bawah.

Jadi, perangku belum selesai, dong?

Oke, karena aku kehabisan anak panah, mau tidak mau aku harus menghancurkan tulang-tulang ini dengan belati yang tergantung di ikat pinggangku.

Sekali maju, aku bisa menghabiskan dua sampai tiga tengkorak. Metode berperang versiku cukup enteng. Maju, tebas, menghindar, tusuk, maju, tebas, merunduk, begitu terus sampai semuanya lenyap.

Pekemah dari seberang sana yang baru pulang bertempur ternyata juga kesulitan. Meski dari jarak yang lumayan jauh—dan sedang menyabet tengkorak hidup—aku bisa lihat ada sekitar setengah lusin basilisk9 menghadang mereka.

Sialan, kami dikelabuhi.

Aku sempat lengah karena sibuk berpikir. Sebuah tengkorak menendang perutku lumayan keras dan aku terpental sekitar tujuh meter lalu tersungkur ke tanah. Aku bangkit, dan aku dengar gemeretak dari tulang-tulang sialan itu—mungkin sedang menertawakanku.

“Changkyun! Awas!”

Aku menoleh ke belakang dan langsung menghantam tengkorak tepat di bagian dahi. Ia buyar begitu saja.

Orang yang berteriak tadi itu Hanbin. Dia entah datang dari mana tahu-tahu sudah ada di dekatku. Kami sempat bertukar pandang dan kembali fokus pada senjata yang kami hunus.

Sembari terus menebas, aku kepikiran soal ramalan. Ternyata sejauh ini semua pekemah baik-baik saja. Berarti pikiranku benar dan demi dewa-dewi, aku tidak pernah merasa sebahagia ini seumur hidupku.

“AWAS!”

Aku berbalik. Seketika tubuhku menegang melihat Hanbin yang terkapar tak berdaya. Di dekatnya ada sebuah Manticore10 dan baru saja melepas sengat beracun di ekornya dari bahu Hanbin.

BUGGHH

Makhluk berbentuk singa tapi memiliki sengat seperti kalajengking di bagian ekornya itu berusaha melarikan diri setelah automaton berbentuk bola yang menguarkan api Yunani tepat menghantam perutnya. Tapi belum terlalu jauh kakinya melangkah, ia seketika berubah jadi abu.

Aku refleks menghampiri Hanbin. Jihyun dan Jiwon ada di dekatnya sedang membacakan himne Apollo sambil menyuapinya ambrosia.

Semua pekemah berkerubung. Melihat ini aku marah sekali sampai-sampai rasanya ingin meledak. Jangan bilang Hanbin jadi seperti ini karena dia melindungiku?

“Ini gak bakalan berhasil.” Kata Jihyun

“Kau ngomong apa?!” bentakku saking kesalnya

“Sengatnya menembus bahu. Kita gak akan bisa menyembuhkan luka separah ini.”

“Minggir!”

Aku bertekuk lutut. Menaruh kepala Hanbin di paha dan melihat lukanya. Demi dewa-dewi, ini betulan parah. Aku bahkan meragukan kemampuanku sebagai tabib kalau tahu lukanya separah ini.

Hanbin masih membuka mata. Dia menatap ke arahku sekilas ketika aku berdoa pada ayah untuk menyelamatkan nyawanya.

Tapi kenyataan tidak sesuai dengan keinginanku. Tidak sampai lima detik setelah aku menyelesaikan doa, sekujur tubuh Hanbin mulai membiru.

***

“Sudahlah, Changkyun. Ini bukan salahmu.”

Aku melirik Jaebum. Sorot maniknya benar-benar meyakinkan bahwa ini semua memang bukan salahku. Tapi tetap saja, alasan Hanbin meninggal adalah karena dia melindungiku.

“Dia pasti lebih pilih Elysium11 ketimbang dilahirkan kembali. Dia sudah jadi pahlawan, Changkyun. Kau tidak perlu khawatir.”

“Iya. Dia pahlawan dan aku pecundang.”

“Hei, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”

Setelah menepuk bahuku, Jaebum beranjak menuju ranjangnya.

Kami baru saja selesai menjalani acara pembakaran kafan logam milik Hanbin. Sudah, aku gak sanggup menceritakannya lebih jauh.

Aku berbaring. Menatap langit-langit pondok yang entah kenapa malah mengukir wajah Hanbin di penglihatanku. Di sana ia tersenyum. Lesung pipinya mencekung dalam, persis seperti milikku.

Mataku perih. Dadaku sesak sekali. Aku menangis.

Seumur hidupku, selama aku tahu Hanbin adalah saudaraku, aku bahkan tidak pernah memanggilnya adik. Meski kami hanya beda beberapa bulan, teknisnya tetap saja dia itu adikku. Dia sekarang pergi, tidak di dunia lagi dan aku baru menyadari betapa aku menyayanginya sebagai saudara.

Aku ingin berhenti menangis. Tetapi tubuhku menolak dan aku malah meraung-raung sampai seisi pondok kebingungan.

Aku merasa seperti pecundang. Aku tidak pantas hidup.

Tapi di sela-sela amarahku yang begitu membara, aku teringat sesuatu. Ramalan.

Satu penawar tak akan cukup. Satu penawar tak akan sanggup.

Satu penawar tak akan sanggup.

Sanggup? Sanggup untuk hidup? Oh, aku mengerti sekarang.

Tanpa berpikir panjang, aku berlari ke luar pondok menuju Rumah Besar. Aku ingin naik ke atap lewat tingkap dan mengobrak-abrik tengkorak Delphi si orakel.

Tapi langkahku macet.

Berhenti, nak.

“Ayah?”

Jangan berkeras dan melakukan hal yang tidak berguna.

“Apanya yang tidak berguna? Orakel ayah itu membunuh Hanbin! Ramalan itu merenggut nyawanya! Anak ayah!”

Tidak seperti itu, Changkyun. Ramalan tidak pernah salah. Semuanya terbukti, kan? Ini memang sudah takdir. Kau tidak boleh mengingkarinya.

“Persetan!”

Aku bersungut-sungut sambil terus melangkah. Tapi sedikit lagi sampai di beranda Rumah Besar, rasanya seluruh sendiku lumpuh dan aku tidak bisa bergerak.

Aku jatuh bertekuk lutut. Tubuhku rasanya lembek seperti agar-agar.

Di posisiku yang sekarang ini, aku benar-benar merasa frustasi. Aku kehilangan dua saudara sekaligus dalam kurun waktu yang sangat singkat. Apalagi soal Hanbin yang harus meregang nyawa karena dia ingin menyelamatkanku.

Kehilangan membuatmu dewasa, nak. Belajar menerima takdir. Itu yang kau perlukan.

Aku terkesiap. Selama beberapa detik jantung dan otakku berpacu.

Aku sadar, ayah benar.

Meski dengan semua kejadian ini, aku harus tetap melanjutkan hidup. Aku harus belajar dari kesalahan yang pernah aku perbuat—soal memerlakukan saudaraku dengan baik mulai kedepannya.

Jadi dengan sisa-sisa tenaga yang aku punya, aku berjalan kembali ke pondok.

Dalam pikiranku, aku berkeras, aku tidak akan mati sia-sia. Demi nyawa Hanbin yang melayang begitu saja karena berusaha menyelamatkanku.

“Aku bersumpah demi sungai Styx, aku akan membayar nyawamu dengan menjadi pahlawan blasteran yang hebat, Hanbin.”

—fin

  1. makhluk dalam mitologi Yunani yang bertubuh raksasa dan memiliki satu mata
  2. makhluk yang berwujud setengah manusia setengah kuda dalam mitologi Yunani
  3. orang atau badan dianggap sebagai sumber prediksi nasihat atau kebijaksanaan kenabian atau untuk mengetahui masa depan yang belum terjadi, terinspirasi oleh para dewa
  4. makhluk penghuni hutan-hutan dan pegunungan, dan memiliki hubungan yang dekat dengan Dewa Pan dan Dionisos dalam mitologi Yunani. Biasanya mereka berjenis kelamin pria
  5. makhluk ras kanibal raksasa rakasa dari utara
  6. monster berbentuk manusia yang berkepala banteng
  7. monster berbentuk ular atau naga yang memiliki sembilan buah kepala. Setiap salah satu kepalanya dipotong, maka kepala tersebut akan tumbuh/membentuk satu atau dua buah kepala yang baru
  8. kadang-kadang digambarkan sebagai makanan, juga kadang sebagai minuman para dewa-dewi.
  9. reptil dalam legenda Eropa yang dikenal sebagai raja ular dalam mitologi (serpent) dan memiliki kemampuan untuk menimbulkan kematian bila menatapnya.
  10. makhluk dalam legenda yang mirip dengan sfinksdi Mesir. Makhluk itu bertubuh singamerah, berkepala manusia pria dengan tiga deretan gigi tajam (seperti hiu), dan bersuara seperti terompet
  11. salah satu lokasi di dunia bawah. Padang Elisian arau Dataran Elisian adalah tempat untuk roh para pahlawan dan orang suci

 

Advertisements

3 thoughts on “[Love Is Moment} Truth of The Prophecy

  1. SISKAAACHUUUUU HOW IS SO AMAZING MASTERPIECE DAMN STORY I’VE EVER REAAADDDD💕💕 AAAAAAA

    seriuuusss aku baca ini kek another story of percy jackson gituuu. Sooo smooth ala ala oppa rick, pelan banget dan mood up and down nya sempurnaaa banget kebanguuunnn dengan amat sangat baikk💕💕 seriusss ini ff fantasy terfantastisss apalagi pas perang itu kerasa gopohnya dan di ending… BOOOMMMMMM!💣💖💖💖💖

    Aku gatau lagiii hurtingnya changkyun kerasaaaa bgt, bahkan mataku uda berair. Feels like both of them is the real siblings and i fall for them AAAAAAAAAAA

    Berharap banget kamu bakal nerusin project ini dan sukses terus buat tulisanmuuu MWAAAHH
    THANKS FOR THIS DAMN BEAUTIFUL STORY💕💕💕😚😚😚😚😚😚😚

    Liked by 1 person

  2. hi dear! I’ve ever read your story but I can’t clearly remember where. :”) anyway you’ve am awesome story! Dan yes it reminds me about Percy Jackson. Mas hanbin! :’) serius aku baca ini karena karena mas hanbin/?

    Awalnya changkyun kesannya kyk gmn sama Hanbin tapi sewktu Hanbin akhirnya mati, dia bner2 kehilangan.

    Anyway blasteran manusia-dewa, demigod kan? Nah i’ve just tried to help if it’s working hehe. Aku suka ceritanya. Aku suka bahasanya. Alur juga.

    Aku gatau jisoo disana jisoo yang mana, jadi aku bayangin mas jisoo di Scarlett heart. Wkwk

    Liked by 1 person

  3. Halo siska!

    Aku ngakak di bagian ‘givenchy’ 😂😂 kan kebayangnya masih pake baju baju putih yunani gitu tapi mendadak sebut merk itu gimanaa ya 😂

    Daaaaaan, gif nya dd aiem bikin mood up wkwk, ditengah cerita mikir ‘ini klimaksnya di bagian mana’ sama ‘kayaknya bakal begini’ eh tapi pas baca ‘oh begitu’ haha, maafkeun.

    Nice, thx for writing a good fantasy like dis!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s