Bitter · FF Project · Friendship · Genre · Giveaway Project · Hurt · Length · Moment · One Shoot · PG -15 · Rating · Romance · Slice of Life · Worklife

[Love Is Moment] Hello, Wendy


Hello,Wendy

A Fanfiction by Shaekiran

 

Oh Sehun| Son Wendy | Park Chanyeol

Moment : Bitter

romance | slice of life | hurt | friendship | worklife

Oneshot | PG-15

Disclaimer

Standard disclaimer applied. Don’t plagiarism and copy without permission. Happy reading.

  

 

In Sehun’s Eyes

Cinta adalah kebetulan, benar? Bagi sebagian orang memang benar, bukankah begitu? Tapi bagiku tidak akan pernah ada yang namanya kebetulan jika menyangkut tentang kisah cinta. Ya, bagiku apa yang terjadi detik ini bukanlah satu dari seribu kebetulan semata dalam sehari, bagiku ini adalah takdir. Ya, dia dan pertemuan ini memang adalah takdir.

Ku pikir hari ini adalah hari terbaik di bulan ini. Pagi hari aku bangun sangat pagi, pukul lima seperti yang sudah ku rencanakan. Entah kenapa pagi ini aku sangat bersemangat. Dan bangun tidak terlambat membuatku makin bersemangat untuk membuka laptop dan mengecek kembali laporan yang kemarin sudah ku selesaikan dan harus dipresentasikan di depan klien pukul 10 pagi nanti. Setengah jam lebih berkutat dengan keyboard dan layar datar laptop putihku, aku menyimpan lembar kerjaku dan segera mematikan alat elektronik itu. Laporannya sempurna dan aku sangat yakin akan memenangkan proyek ini.

Alhasil, aku pun turun ke lantai dasar rumah berhubung kamar tidurku ada di lantai dua. Aku segera menuju dapur dan menyiapkan sarapan pagi untukku sendiri. Nasib seorang arsitektur muda berusia 25 tahun yang belum menikah memang begini kan? Keluargaku berada jauh di New York dan biasanya aku hanya mengunjungi mereka di akhir tahun. Sebenarnya ayahku adalah seorang pengusaha yang mumpuni dan punya perusahaan besar di negeri Paman Sam itu, pun ayah sebenarnya menawarkanku untuk bekerja bersamanya. Tapi seperti seorang yang keras kepala dan mau bekerja keras sendiri, aku menolak dan memilih kembali ke negara asalku untuk mulai bekerja setelah selesai kuliah di New York.Dan disinilah aku sekarang, hidup sendirian di kota metropolitan Seoul.

Suara pippanggangan membuatku sadar kalau roti bakarku sudah siap. Dengan cepat aku segera mengeluarkan 2 buah roti bakar dan meletakkannya di atas piring. Setelah itu dengan telaten aku menyiapkan secangkir kopi hitam. Pahit memang, tapi entah kenapa aku menyukai jenis kopi rasa original semacam ini. Sepertinya lidahku sangat cocok dengan kopi hitam—atau malah karena lidahku sudah bosan dengan kopi berasa semacam Latte dan Moccha? Aku pun duduk di atas meja makan, mengambil koran pagi langgananku sebagai bacaan, dan mulai menikmati sarapanku seperti biasanya. Pagi yang benar-benar sempurna.

Sampai di kantor tepat waktu, menerima e-mail dari teman lamaku di New York, lalu mengikuti rapat dengan sangat baik. Oh, hariku di kantor pun sama sempurnanya. Terlebih aku menerima banyak sekali tepuk tangan dan pujian atas desain yang aku selesaikan dan laporanku segera mendapat tanda tangan setuju dari presdir utama perusahaan tempatku bekerja. Aku menjadi kepala proyek yang baru hari ini. Astaga, kurang sempurna apalagi?

“Mau makan siang bersama Kepala Oh?” aku membalikkan badanku dari kubikel kerja, lalu menatap seseorang yang kini menatapku dengan jenaka. Cih, ternyata si tan ini rupanya yang sudah menggodaku dengan sebutan ‘kepala Oh’ yang baru kudapatkan beberapa jam yang lalu.

“Tentu, Jongin-ah. Kita harus makan dimana, huh?” ucapku setuju dan Jongin yang sedari tadi memasukkan tangannya ke dalam saku segera bersorak senang.

“Aku tau restoran Italia yang baru saja buka di dekat sini. Kajja, kita harus ke sana!” jawabnya kemudian dengan sangat bersemangat. Yah, memang kapan seorang Kim Jongin tidak bersemangat?

“Kau sudah mendengar kalau Seulgi baru saja menikah?”

Aku yang sedari tadi asyik mengunyah mie langsung mendongak dan menatap Jongin dengan mata melebar. Omong-omong Seulgi adalah mantan kekasih Jongin semasa SMA. Astaga, aku belum memberitahu kalau aku dan Jongin sekelas saat SMA, ya?

“Cih, memangnya kenapa kalau dia menikah? Kau menyesal karena tidak mendapat undangan?” tanyaku sambil tersenyum miring dan Jongin hanya menatapku datar.

“Aku mendapat undangan pernikahannya, tapi aku tidak berani datang.” jawabnya yang segera membuat mataku melebar?

“Eh, benarkah?” tanyaku karena seingatku Jongin bukanlah tipe pemalu. Jongin adalah tipe cassanova pemain wanita. Tidak mungkin kan dia takut datang ke pernikahan mantan? Tapi anehnya sekarang dia mengaku tidak berani datang kepadaku.

“Hm, begitulah. Kau tau kan, Seulgi sebenarnya cinta pertamaku. Entah kenapa meski sudah hampir 7 tahun berpisah tapi aku masih saja tidak bisa menerima kalau dia berakhir di pelukan lelaki lain. Oh, padahal aku ini player, tapi bisa merasa sakit hati juga ternyata,” akui Jongin yang makin membuatku menganga. Aku menatap Jongin lagi dengan lekat. Pandangannya seperti menerawang jauh. Ah, Jongin benar-benar galau rupanya.

“Aku akan memberitau Krystal dari tim perencanaan kalau kau seperti ini.”

Ya!” pekik Jongin cepat karena aku membawa-bawa nama kekasihnya sekarang. Dia menatapku tajam, seakan mengancam akan membunuhku kalau sampai aku buka mulut kepada Krystal.

“Hei Sehun, dengar ya. Aku bukannya belum move on dari Seulgi dan tidak mencintai Krystal. Kau tau, aku ini tergila-gila pada Krystal, tapi ada saatnya ketika aku mengingat masa lalu. Sederhananya, kadang memori lampau itu membuat kita jadi ingin memutar waktu. Kenangan biasanya membuatmu terlena dan ingin mencicipi masa lalu sekali lagi padahal kau memiliki masa depan yang baik. Aku hanya terlena sebentar dan mengingat masa bahagiaku dengan Seulgi semasa SMA dulu, hanya itu saja. Dan aku yakin besok pasti aku sudah lupa lagi. Bagaimana pun, Seulgi pernah mengisi hatiku dulu, jadi wajar aku merasa takut kalau saja aku pergi ke acara pernikahannya minggu lalu.”

Jongin berbicara panjang kali lebar dengan gusar, membuatku hanya bisa tersenyum tipis—tersenyum maklum. “Ya, nanti kau pasti akan lupa juga,” ucapku menghibur dan Jongin hanya mengangguk setuju.

“Omong-omong, kau tidak lupa acara reuni nanti malam kan? Ya, jangan berpikiran untuk tidak datang hanya karena kau takut bertemu Seulgi, arraseo?” lanjutku yang hanya dibalas kekehan pelan dari Jongin.

“Tenang saja, aku pasti datang. Kalau pun Seulgi nanti ada di sana, aku hanya akan menyapanya seperti biasa. Mengatakan ‘Hai Seulgi, lama tidak berjumpa’ atau ‘Hai Seulgi, selamat atas pernikahanmu’ lalu tersenyum selebar mungkin. Gwenchana, hatiku ini sudah milik Krystal. Sekarang hanya sedikit goyah karena masa lalu saja, nanti juga baik sendiri.” jawab Jongin dengan lantang dan percaya diri. Aku menatap pemuda tan yang sudah menjadi sahabatku sejak kelas 1 SMA itu lalu menepuk bahunya memberi semangat.

“Baguslah, karena tadi pagi aku menerima e-mail dari Chanyeol kalau dia juga akan datang di reuni hari ini. Tidak lucu kan kalau kau tidak hadir karena takut bertemu mantan sementara Chanyeol si sibuk saja sampai datang dari Amerika. Bukankah ini kesempatan bagus untuk berbincang-bincang bersama dengan sahabat lama?”

Jongin menatapku dengan sangat antusias, bahkan dia menepuk-nepuk balik bahuku dengan semangat. “Dia datang? Astaga, kau harus membagi alamat e-mail-nya padaku. Oh, ini pasti akan menarik. Aku rindu gadis-gadis berteriak karena kita bertiga lewat secara bersamaan seperti masa SMA dulu. Err, apa ya julukan yang dulu diberikan para gadis ada kita bertiga? Trio tampan? Ganteng atau…ah, aku ingat! Mereka menyebut kita trio bangsat karena sangat tampan dan lady-killer!” aku hanya tertawa senang melihat atmosfer di antara aku dan Jongin yang tadinya murung karena kegalauan pria Kim itu kembali berubah cerah.

“Ya ya, terserahmu saja. Yang pasti kita bertiga harus bertemu malam ini,” balasku kemudian dengan semangat. Tapi siapa yang menduga. Justru aku menyesal datang ke acara reuni nanti malam. Bahkan aku jauh lebih menyesal daripada Jongin yang merana karena bertemu Seulgi bersama dengan suami Seulgi yang tampan itu.

“Aku benar-benar merindukan kalian berdua!” suara Chanyeol yang heboh seperti biasanya membuat aku dan Jongin yang asyik bermain kartu di salah satu meja segera menoleh karena suara khas lelaki Park itu. Seperti isi e-mail Chanyeol tadi pagi, si caplang itu benar-benar datang ke acara reuni.

“Astaga, Chanyeol!” pekikku dan Jongin serentak. Bahkan kami berdua tidak ragu bangkit berdiri dari posisi duduk di atas kursi dan segera memeluk Chanyeol dengan sangat erat. Aksi kami bertiga tentunya membuat heboh para tamu yang adalah teman-teman seangkatan kami semasa SMA dulu. Aku bahkan bisa mendengar bisik-bisik para gadis yang mengatakan kami bertiga terlihat tampan dan kami bertiga masih saja membuat rusuh seperti dulu.

“Hei, bagaimana kabarmu? Apa Amerika menyenangkan?” tanya Jongin dengan antusias kala kami bertiga sudah duduk dengan tampan di atas kursi. Chanyeol tertawa renyah, lalu mengangguk dengan cepat.

“Oh tentu saja. sekarang New York sedang musim gugur dan cuaca menjadi sangat dingin. Disana benar-benar menyenangkan. Aku sangat suka melihat lampu kota yang kerlap-kerlip di malam hari lewat kaca apartemenku.” jelas Chanyeol yang membuat aku maupun Jongin segera mengangguk paham. Chanyeol pastinya sangat bahagia bekerja di negeri Paman Sam itu. Buktinya dia terlihat sehat dan masih ceria seperti biasanya.

“Oh iya Sehun, sayang sekali aku baru pergi ke New York saat kau memutuskan kembali ke Korea. Aku bertemu ayahmu sekali dalam sebuah proyek di sana dan dia bilang kau sangat keras kepala karena kembali ke Seoul.” Aku tertawa hambar. Ayah bertemu Chanyeol? Pasti pria tua itu sudah mengatakan yang tidak-tidak kepada sahabatku yang polos ini.

“Benarkah?” Aku tertawa sangat kencang. “Sayang sekali, padahal mungkin kita bisa mengunjungi Jembatan Brooklyn dan duduk santai di sana jika aku masih di New York,” lanjutku lagi yang hanya dibalas tawa Chanyeol. “Kau benar,” responnya bersemangat.

“Omong-omong  Jongin, kau sudah melupakan Seulgi kan? Tadi aku melihatnya di pintu masuk dan dia menggandeng seorang pria dengan sangat mesra. Aku sempat menyapanya tadi dan kau tau bagaimana kagetnya aku saat dia mengatakan kalau pria itu adalah suaminya?!” Oh, Chanyeol masih saja berbicara dengan heboh seperti dulu. Dia sama sekali tidak berubah, sungguh. Aku akhirnya menatap Jongin setelah puas melihat cara bicara Chanyeol yang masih saja tidak bisa dikontrol, lelaki tan itu nampak tertawa dengan hambar.

“Ah, benarkah? Pantas saja sejak tadi aku mencarinya tidak ketemu juga, ternyata Seulgi ada di pintu masuk.” Jongin kemudian berdiri, membuat aku dan Chanyeol terpaksa menatapnya dengan bingung. “Aku ke sana dulu, aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan mereka kepada Seulgi dan suaminya.”

Jongin pun benar-benar pergi setelah dia pamit kepada kami berdua. Aku dan Chanyeol lantas berpandang-pandangan, lalu saling mengangkat bahu dan tertawa renyah karena kami tau Jongin pasti akan kembali setelah mengalami keretakan hati sebentar lagi.

Tsk, aku tidak menyangka dia masih belum bisa melupakan Seulgi,” decak Chanyeol masih tertawa dan aku menyetujui ucapan pria caplang di sebelahku itu. “Padahal sekarang Jongin punya kekasih di kantor yang lebih cantik daripada Seulgi, tapi memang yang namanya mantan itu susah dilupakan,” kataku menambahi yang makin membuat Chanyeol tertawa lebar.

“Aduh, perutku sakit karena tertawa terlalu keras,” frasa Chanyeol kemudian dengan gaya jenaka. Aku tersenyum pula sambil mengangkat gelas dan menenggak habis jus jeruk di dalam benda transparan itu.

“Omong-omong, kau sendirian? Aku tidak yakin kalau kau terbang dari Amerika dan meninggalkan kesibukanmu di sana hanya untuk sebuah reuni SMA.” selidikku kemudian yang segera membuat Chanyeol mengangguk.

“Aku memang sudah di Korea sejak 2 hari lalu dan beruntung sekali karena kau mengirim e-mail tentang reuni ini kepadaku. Oh, jangan salah paham. Aku sudah ingin mengunjungi kalian berdua tapi aku masih sedikit sibuk.” jawabnya yang seketika membuatku antusias. “Benarkah? Kenapa kau bisa di Korea?” tanyaku balik yang membuat senyum Chanyeol merekah sangat lebar.

“Sebenarnya aku ingin membicarakan perihal pernikahan dengan kedua orangtuaku di Korea.” kekehnya yang membuat bola mataku membulat seketika.

“Pernikahan? Astaga Chanyeol, kau akan menikah?!” pekikku kemudian dengan heboh, dan Chanyeol segera menutup mulut lancangku dengan tangan besarnya.

Tsk, heboh sekali kau Oh Sehun. Iya, aku akan menikah, dan calonku juga ada di sini. Tadi dia pamit pergi ke toilet sebentar. Tapi kau jangan bilang padanya ya, karena aku membawanya ke Korea hanya untuk dalih liburan. Aku belum melamarnya secara resmi.” jelasnya yang membuatku segera mengangguk dengan cepat dan bersemangat. “Arraseo. Sekarang mana calon istrimu, huh? Aku ingin melihat siapa yang bisa menaklukkan hati seorang Park Chanyeol,” tanyaku lagi yang membuat Chanyeol segera memutari matanya mengelilingi seisi taman terbuka tempat kami mengadakan reuni ini.

“Ah, itu dia. Sebentar, aku akan memanggilnya dan memperkenalkannya padamu.”

Tadaa~ Sayang, ini sahabat baikku, namanya Oh Sehun. Dan Sehun, ini kekasihku, namanya Son—“

“—Wendy,” aku menggumamkan nama itu tanpa sadar. Chanyeol nampak menatapku dengan bingung, pun kini gadis di sebelahnya masih menatapku setengah percaya.

“Kalian berdua saling mengenal?” tanya Chanyeol akhirnya yang membuatku hanya bisa mengangguk singkat. Ya, ini adalah penyesalan terbesarku hari ini. Semuanya sempurna, kecuali fakta kalau aku akan bertemu dengan gadis bermarga Son itu di sini, terlebih bertemu dia tengah bergandengan dengan sahabatku sendiri.

Aku menatap gadis itu lamat-lamat. Dia menggunakan gaun hitam selutut dengan model bahu terbuka dan rambut coklatnya digerai begitu saja. Wajahnya mulus dan tidak dipoles make-up berlebihan. Seperti biasa, Wendy terlihat natural dengan hanya menggunakan bedak tipis dan sedikit lip balm di bibir. Ya, aku menyesal karena harus jujur memuji Wendy yang terlihat sangat cantik malam ini.

“Sehun?”

Aku mengerjap. Ternyata aku belum menjawab pertanyaan penasaran Chanyeol sedari tadi.

“Ya, aku mengenalnya,” jawabku kemudian sambil tersenyum. “Kami teman semasa kuliah, iya kan Wendy-ssi?” lanjutku kemudian yang membuat Chanyeol segera menarik nafas lega, terlebih sekarang Wendy mengangguk dan balas tersenyum kecil.

Ya, hanya teman semasa kuliah.

“Kenapa kau mengatakan kalau kita hanya teman semasa kuliah?”

Aku membuang muka, lalu menjawab pertanyaan dari gadis yang duduk di sebelahku dengan jarak satu bangku kosong itu dengan cepat. “Lalu kenapa kau mengangguk saat aku mengatakan hanya sebatas teman kuliah?” balasku lagi yang segera membuatnya tertohok.

Dia menundukkan kepalanya. “Aku takut dia salah paham,” cicitnya yang membuatku segera terkekeh dengan cepat. “Alasan yang sama denganmu. Aku juga takut Chanyeol salah paham.” lanjutku masih dengan nada datar.

Detik selanjutnya hening memenuhi meja yang hanya berisikan aku dan gadis bernama Son Wendy itu. Sungguh, ini adalah hal paling menyiksa yang pernah kulakukan sejak aku berada di Seoul lagi.

Harusnya tadi aku tidak mengiyakan ketika Chanyeol pamit untuk menjawab ponselnya yang berdering dan meninggalkan aku serta Wendy hanya berdua seperti ini. Oh tidak, harusnya aku tidak usah mengikuti acara reuni ini kalau saja aku tau Wendy juga turut hadir di sini.

Sungguh, apa ini kebetulan? Yang kutau Wendy berada di New York, menjadi arsitek di perusahaan besar dan tinggal di apartemen mewah di kota metropolitan benua Amerika itu. Kemungkinan Wendy berada di Korea, terlebih berada di acara reuni SMA-ku saat dia adalah lulusan sekolah menengah atas terkenal di Amerika  adalah sekitar nol koma sekian persen. Sejujurnya aku pun cukup yakin kalau ini adalah kali pertama Wendy berada di Korea karena meskipun berkewarganegaraan Korea, Wendy menghabiskan seluruh hidupnya di benua Amerika tanpa pernah sekalipun berkunjung ke negeri ginseng ini.

Tidak, dibanding kebetulan, aku lebih memilih bahwa pertemuan ini adalah takdir. Takdir nol koma sekian persen diantara aku dan Wendy yang sudah hampir 4 tahun tidak pernah bertatap muka lagi.

Seperti kataku tadi, dia dan pertemuan ini memang adalah takdir.

Memangnya siapa yang menduga bertemu mantan kekasih saat reuni SMA?

“Kau mencintai Chanyeol? tanyaku kemudian yang membuat Wendy terhenyak. Bahkan aku bisa melihat gadis itu menatapku dengan cukup gugup. “Ya, aku mencintainya.” jawabnya kemudian yang membuatku hanya bisa terkekeh sendiri. Rasanya tidak sakit mendengar Wendy mengaku seperti itu. Hanya saja ada yang aneh di sini, di dalam hatiku. Rasanya sedikit tidak nyaman mendengar pengakuan Wendy yang ku tau adalah jawaban jujur dari gadis itu yang pernah mengisi hatiku selama 2 tahun itu.

“Itu bagus, kalian terlihat cocok bersama,” kataku lagi yang membuat Wendy tersenyum samar. “Terimakasih,” gumamnya yang hanya bisa kubalas dengan senyum samar pula. Ini aneh. Rasanya benar-benar aneh berbicara lagi dengan Wendy setelah sekian tahun berpisah tanpa kabar.

Dulu aku berpisah dengannya dengan alasan jarak. Hubungan jarak jauhku antara New York dan Seoul sebenarnya berjalan dengan lancar, hanya saja aku merasa hampa. Jadi aku dengan anehnya mengirimkan sebuah surat berisi empat larik kalimat dari kantor pos Seoul menuju kota New York. Bayangkan saja bagaimana bisa kertas sekecil itu mengarungi samudera dan benua hanya demi keegoisan seorang lelaki bernama Oh Sehun.

Jangan mengingatku.

Jangan mengumpat padaku.

Jangan mengutukku.

Wendy, ayo akhiri saja kisah kita.

 

Bodoh? Memang benar.

Bukannya aku tidak mencintai Wendy ketika mengirim 4 kalimat itu kepadanya. Hanya saja aku memang lelaki bodoh. Aku pikir menungguku hanya akan membuat Wendy menderita. Aku egois dan berpura-pura baik, padahal jika dipikir-pikir sekarang aku-lah yang pengecut dan tidak berani membuat komitmen dengan gadis itu 4 tahun yang lalu. Aku ketakutan dan aku mengakhiri semuanya.

Aku tau Wendy terluka. Dia menghubungiku berkali-kali dan meminta penjelasan, tapi aku mengabaikan itu semua. Aku menyibukkan diriku sendiri, tidak peduli sama sekali meski Wendy terus menangis di Amerika sana. Ya, sebulan berlalu aku memang biasa-biasa saja. Sebulan pertama memang aku merasa bahagia. Tapi hari selanjutnya tidak. Tiba-tiba aku merasa hampa. Selanjutnya aku sadar kalau aku sudah bertindak sangat bodoh. Aku menyakiti hati seorang gadis yang dijaga baik-baik oleh orangtuanya, aku menyakiti hati seorang gadis yang mati-matian dibuat bahagia oleh ayahnya. Aku memang brengsek.

Aku ingin menghubungi gadis itu, tapi lagi-lagi aku pengecut. Alasan klise, aku tidak berani. Aku takut hati Wendy sudah berubah dengan cepat. Jadi aku mendiamkan semuanya. Membiarkan detik terlewati begitu saja, melewatkan malam dan purnama tanpa gadis itu dengan biasa saja, dan tanpa sadar sekarang sudah 4 tahun terlewati dengan begitu cepat.

Hatiku?

Oh sungguh. Hatiku jangan kau tanya bagaimana kabarnya, karena aku sendiri tidak tau apa yang tengah ku rasa.

Tuk…tukk…..

Aku menghilangkan lamunanku, lalu menatap ke arah podium dimana seorang lelaki jangkung tengah berbicara lewat microphone.

“Selamat malam semuanya. Maaf menggangu, tapi saya ingin menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur kalian malam ini. Lagu ini saya persembahkan khusus untuk gadis bergaun hitam di sana. Selamat menikmati.”

Aku tertawa kecil dengan nada sedikit hambar dan sumbang entah karena alasan apa. Itu Chanyeol, dan dia menunjuk Wendy sambil tersenyum penuh arti dari atas podium sana.

Selanjutnya aku mendengar denting piano mengalunkan intro lagu yang cukup akrab di telingaku. Lagu All of Me milik penyanyi kondang John Legend menguar memenuhi acara reuni. Aku menatap Wendy sekilas, gadis itu nampak sangat menikmati permainan piano Chanyeol. Bahkan gadis mungil itu sedikit berteriak histeris sambil menutup mulutnya ketika Chanyeol mulai bernyanyi.

What would I do without your smart mouth

Drawing me in, and you kicking me out

Got my head spinning, no kidding, I can’t pin you down

Pikiranku berkecamuk ketika Wendy menatap memuja ke arah Chanyeol. Kenapa rasanya tidak nyaman? Padahal aku sudah memastikan tidak ada percikan rasa cinta lagi yang tertinggal untuk gadis itu di hati kecilku. Tapi mengapa rasanya sedikit menyesakkan?

Rasanya ini membingungkan.

Kenapa rasanya aku ingin maju ke atas podium dan menyanyikan lagu When I Was Your Name-nya Bruno Mars?

My pride, my ego, my needs and my selfish ways
Caused a good strong woman like you to walk out my life
Now I never never get to clean up the mess I made
Ooh and it hunts me every time I close my eyes

Tiba-tiba sebuah lampu sorot menyala ke arah Wendy seiring dengan permainan piano Chanyeol yang berhenti. Aku terhenyak. Apa mungkin Chanyeol akan melamar gadis ini di sini?

“Untuk Wendy, gadis yang sudah memporak-porandakan hati ini. Cause I give you all, all of me and you give me all, all of you.” ucap Chanyeol sambil mengucapkan sepenggal lirik lagu yang baru saja dia nyanyikan dengan sangat merdu dan membuat banyak orang di acara reuni ini terlena. Dan aku sadar, Chanyeol memang akan segera melamar gadisnya di sini.

Akhirnya aku berdiri dari dudukku, menyentuh bahu Wendy pelan sambil tersenyum tipis sebelum akhirnya menghilang ke belakang setelah sebelumnya berbisik kepada gadis bermarga Son itu.

“Pastikan kau menjawab iya untuk sahabatku.”

“Son Wendy, my lovely girl.Will you marry me?”

Suara riuh terdengar mengaum bersamaan dengan sepenggal kalimat yang diucapkan Chanyeol lewat microphone di atas podium sana. Aku hanya menatap dari kejauhan ketika Wendy akhirnya mengangguk sambil menangis haru dan Chanyeol bersorak senang. Chanyeol segera turun dari panggung dan berlari memeluk Wendy dengan sayang. Oh, jangan lupakan adegan ketika Chanyeol berlutut dan memasangkan sebuah cincin berlian di jari manis Wendy sebagai tanda bukti dia serius meminta Wendy menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.

Dan aku hanya tersenyum.

Dari kejauhan aku tersenyum melihat sahabat baikku kini memiliki seorang pendamping gadis yang sangat cantik dan baik hati. Aku bahagia untuk Chanyeol yang baru saja mengecup bibir Wendy di depan ratusan tamu yang adalah teman semasa SMA-nya tanpa tau malu.

Dan dari kejauhan pula aku ikut tersenyum untuk gadis itu.

Aku tersenyum karena Wendy mendapatkan pendamping seorang yang cakap, pekerja keras, humoris dan baik hati serta penyanyang seperti Park Chanyeol si caplang. Dan yang pasti, Chanyeol membuat komitmen dengan Wendy untuk bersama dalam ikatan suci pernikahan. Tidak sepertiku yang menggantung hubungan dan berakhir dengan mengakhiri semuanya tanpa penjelasan. Seperti kataku, mereka berdua terlihat cocok bersama.

Ya, semuanya baik-baik saja hingga aku pulang dari acara reuni itu. Aku sangat bersyukur tidak pulang bersama Jongin dan mengendarai mobilku sendirian. Tau kenapa? Karena sekarang aku menangis. Aku hanya tidak mau diledek oleh lelaki tan itu hanya karena menangis diam-diam seperti sekarang.

Akhirnya aku sadar apa yang aneh di hati kecilku. Aku tau apa yang membuatnya tidak nyaman dan terasa sedikit menyakitkan di tengah kebingungan hati yang melanda. Ternyata aku berbohong selama ini. Nyatanya nama Wendy masih ada di sana, masih berbekas dan tidak bisa dihapus. Semua tentang gadis itu ialah satu dari sekian banyak kenangan berharga selama 25 tahun hidupku. Wendy, gadis baik hati yang aku sia-siakan begitu saja tanpa alasan yang jelas hanya karena keegoisan semata.

Benar kata Jongin, masa lalu memang memuakkan.

Jika Jongin yang sudah punya cinta yang baru saja masih merasa sakit ketika mendapati mantan kekasihnya menikah dengan lelaki lain, lalu bagaimana dengan aku yang masih mengingat sang mantan kekasih yang akan menikah secepatnya dengan sahabat baikku? Setidaknya Jongin punya Krsytal, tapi aku tidak punya siapa-siapa.

Aku duduk sendirian, memarkirkan mobilku di tepi jalan dan menempatkan kepalaku di atas dashboardmobil sambil tetap menangis.

Sekarang aku menyesal.

Harusnya dulu aku menghubungi Wendy ketika aku sadar aku sudah berbuat salah. Mestinya aku meminta maaf dan memintanya kembali kepadaku.

Penyesalan selalu datang terlambat kan?

Padahal semestinya tadi aku berbicara dengan baik-baik pada gadis itu. Harusnya aku tidak menghabiskan waktu kami berdua hanya dengan saling diam satu sama lain. Mestinya aku menyapanya. Mengucapkan ‘Hello Wendy, apa kau baik-baik saja di New York?’ atau ‘Hello Wendy, lama tidak bertemu. Bagaiman kabarmu, huh?’

Ya, harusnya aku menyapanya seperti itu, bukannya mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya kalau Chanyeol dan Wendy saling mencintai.

Dan cinta memang selucu itu kan? Memang lucu karena cinta dan takdir bekerja sama membuat hati ini terluka. Siapa yang tau cinta akan berbuat begitu kejam disaat takdir mempertemukanku dengan sahabat lama?

Cause my heart breaks a little
When I hear your name

Hello Wendy, ketahuilah, aku menyesal.

 

 

—FIN—

Advertisements

One thought on “[Love Is Moment] Hello, Wendy

  1. First love never die :’)

    Suka bayangin kehebohan 3 lelaki ini, dan nyessss-nya dapet bgt di kegalauan sehun, tuh bang, jangan suka ngeledekin mas jongin 😂😂 kan kena sendiri kan.

    Nice shaekiran!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s