FF Project · Genre · Giveaway Project · Gore · Length · Moment · One Shoot · PG - 17 · Rating · Spicy · Suspense

[Love Is Moment] Homicidal


Author : AYUSHAFIRAA

Title : HOMICIDAL

Moment : Spicy

Cast(s) : Byun Baekhyun, OC’s Jang Ahra, Oh Sehun, OC’s Choi Yoowon

Genre(s) : Gore, Suspense

Length : Oneshot

Rating : PG-17

Disclaimer : Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

▌█♫▐♪▌♫█▐

Di bawah langit bersinarkan cahaya bulan purnama, malam itu tampaknya menjadi malam tersial bagi Jang Ahra, gadis 19 tahun yang kini sibuk menarik tungkai kakinya dengan cepat untuk melarikan diri dari sesosok pria muda yang terus mengejarnya di belakang. Jantungnya berpacu hebat tak terkendali diiringi keringat yang bercucuran dari dahinya. Beberapa kali ia mendapati dirinya hampir terjatuh karena tersandung kerikil-kerikil kecil di jalanan sempit tanpa menjumpai seorangpun untuk meminta pertolongan.

Nasib sial itu Ahra dapatkan setelah dirinya secara tak sengaja menjadi saksi adegan pembunuhan sadis yang dilakukan seorang pria berpakaian hitam serba tertutup terhadap seorang wanita muda. Minimnya pencahayaan di jalanan sempit yang dilaluinya itu membuat netranya tak sanggup melihat lebih jelas wajah si pembunuh dan juga korbannya. Bersembunyi di balik tumpukan bangku kayu ia pikir dapat membuatnya luput dari pandangan si pembunuh, namun bodohnya ponsel yang baru beberapa minggu lalu ia beli sedang tidak dalam mode sunyi hingga nada dering gwiyomi pun menggelegar memecah keheningan saat ia sedang fokus merekam video pembunuhan tersebut. Nada dering itulah yang pada akhirnya menuntun langkah si pria berpostur tinggi tegap itu untuk mendekat ke tempat persembunyiannya.

Sebuah mobil offroad berwarna hitam yang terparkir tak jauh di depan Ahra tampak bersiap untuk melaju. Dengan sisa-sisa tenaganya, Ahra berlari mendekat  ke arah mobil hitam itu berharap sang pemilik mobil bisa menyelamatkannya dari kejaran pria bengis di belakangnya.

“Tolong! Kumohon, tolong aku! Biarkan aku masuk! Aku sedang dikejar seorang pembunuh!”

Brak! Brak! Brak! Ahra menggedor kaca jendela mobil tersebut, panik. Sementara derapan langkah kaki pria yang mengejarnya semakin lama terdengar semakin mendekat.

“Masuklah!” titah pria pemilik mobil sesaat setelah membiarkan pintunya terbuka bagi sang gadis.

Ahra masuk ke dalam mobil dengan tubuh gemetar, ketakutan. “Cepat maju sebelum dia membunuh kita!”

Sama-sama panik, setelah mencoba melihat ke arah belakang dan melihat bayangan siluet yang ia yakini sebagai pembunuh yang dimaksud gadis itu, pria pemilik mobil itupun menginjak pedal gasnya, melaju membelah jalanan yang sepi dengan kecepatan di ambang batas normal.

“Tenanglah, Nona. Kau akan baik-baik saja. Kau aman bersamaku sekarang.” ucap pria itu. “Aku seorang polisi. Namaku Byun Baekhyun.” lanjutnya seraya menunjukkan kartu tanda pengenalnya sebagai seorang polisi pada Ahra.

“Tolong bawa aku ke manapun, aku takut dia akan terus mengejarku.” Pinta Ahra. Airmatanya menetes tak lagi tertahankan.

Pria bernama Baekhyun itu mengiyakan permintaan Ahra dengan sekali anggukan mantap. Tanpa berbasa-basi lagi, Baekhyun melajukan mobilnya secepat mungkin ke tempat teraman untuk melindungi gadis di sebelahnya.

Masih jelas di bayangan Jang Ahra bagaimana tatapan tajam si pembunuh menatapnya seakan ingin memakannya hidup-hidup. Pisau lipat yang meneteskan darah si korban terasa menusuk ke tenggorokannya hingga ia kesulitan untuk bernafas normal. Harusnya ia tak pergi sendirian, harusnya ia tak melewati jalanan yang sepi, harusnya ia tak menyaksikan kejadian pembunuhan itu. Ya, harusnya.

“Kurasa kau butuh istirahat. Aku akan memintaimu keterangan soal kejadian yang kau lihat jika kau sudah lebih tenang.” Ujar Baekhyun, sesaat setelah ia mengantar gadis itu ke salah satu kamar yang ada di rumahnya. Ia pikir menampung gadis itu di rumahnya akan membuat dirinya lebih mudah dalam mengawasi gadis itu.

“Oh iya, aku sampai lupa. Siapa namamu, Nona?”

“Ahra. Jang Ahra.”

“Kalau begitu, Ahra-ssi, selamat beristirahat.” Ucap Baekhyun. Namun tepat sebelum ia melangkah meninggalkan Ahra, Ahra menggenggam tangan kanannya erat-erat, menahannya untuk tidak pergi.

“Jangan tinggalkan aku sendirian. Aku takut sekali.” Ucap Ahra, memohon. Genggaman tangan Ahra pada Byun Baekhyun dapat membuat pria itu ikut merasakan ketakutan yang teramat sangat dari diri Jang Ahra.

Pria itu awalnya tampak ragu, tapi tangan Ahra tak pernah lepas menggenggamnya.

“Baiklah. Aku akan di sini menemanimu. Sekarang tidurlah, jangan takut.”

▌█♫▐♪▌♫█▐

Ahra bangkit dari posisi tidurnya tanpa menemukan batang hidung Baekhyun sejauh matanya memandang ke sekeliling kamar. Jarum pendek di jam dinding baru menunjukkan pukul 4 pagi, matahari bahkan belum keluar dari persembunyiannya di ufuk timur. Rasa takut itu datang lagi menyiksa jiwanya. Ditambah suasana mencekam di tengah-tengah kesendiriannya saat ini membuat tubuhnya terpaku, tak berani bergerak sedikitpun dari tempatnya.

Sekelebat bayangan seseorang di luar jendela sana mengejutkan Ahra.

“Baekhyun-ssi? Kau kah itu?”

Tak ada jawaban. Hanya ada suara angin serta bayangan dahan pohon yang bergoyang.

Duk! Duk! Duk!

Kini jendela kaca yang tertutupi gorden tipis berwarna putih itu terdengar diketuk beberapa kali dengan jeda waktu konstan.

Ahra menutup telinganya rapat-rapat, tubuhnya terus gemetar. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia merasa hampir gila saat itu juga.

“Akhirnya aku menemukanmu.”

Bola mata Ahra membulat sempurna. Gadis itu dapat merasakan dinginnya permukaan pisau lipat menyentuh kulit lehernya. Ia tak bisa bergerak banyak, tubuhnya ada dalam kungkungan pria di belakangnya.

“Kau tahu? Aku tidak suka seorang pengintip. Jika aku menemukan mereka, aku akan merobek leher mereka seperti apa yang akan terjadi padamu sekarang.”

BLES!

“Ohok! Ohok!”

“Ahra-ssi! Kau tidak apa-apa?!”

Baekhyun di sampingnya memandangnya begitu khawatir. Lehernya tak tertusuk pisau atau benda tajam lainnya. Ia baru saja bermimpi. Ya, hanya mimpi.

“Kau bermimpi buruk?”

Ahra spontan memeluk Baekhyun, menangis tersedu-sedu di dada lebar lelaki itu. Tangan Baekhyun perlahan bergerak ragu menyentuh punggung Ahra, memberinya elusan lembut sebagai penenang.

“Maafkan aku, Baekhyun-ssi.” Ucap Ahra merasa tak enak karena telah memeluk Baekhyun secara tiba-tiba. Lelaki itu hanya membalasnya dengan senyuman kaku.

“Aku rasa aku harus memberitahu semuanya sekarang, sebelum aku benar-benar mati.”

“Kau yakin, Ahra-ssi?” tanya Baekhyun. Ahra mengangguk, yakin.

Gadis cantik itu merogoh saku celananya, mencari-cari sebuah benda canggih yang malam tadi ia gunakan untuk merekam aksi pembunuhan. Keningnya mengkerut, ponselnya tidak ada.

“Apa kau mencari ini?”

Setengah tak percaya, Ahra menatap ponsel miliknya yang kini ada dalam genggaman Baekhyun. “Bagaimana ponselku bisa ada padamu?”

“Kau tak sengaja menjatuhkannya saat turun dari mobilku. Layarnya retak dan tak bisa dihidupkan lagi. Kau tak ingat?”

Kerutan di kening gadis itu belum juga hilang. Ia sedang berpikir keras, mencoba memutar kembali runtutan kejadian yang ia alami sejak bertemu Byun Baekhyun. Tetap saja, stres yang dialaminya membuatnya tak mampu mengingat apapun lagi dengan begitu jelas.

“Padahal aku menyimpan bukti video pembunuhan itu di ponsel ini.”

“Sungguh?” Lelaki itu nampak terkejut. “Sayang sekali, padahal dari video itu kita mungkin bisa mendapat gambaran si pelaku untuk memudahkan pencarian. Lagi, di lokasi sekitar tempat si pelaku mengejarmu hingga masuk ke dalam mobilku, tidak ada satupun CCTV terpasang di sana.” Lanjutnya, sedikit memberi penjelasan.

“Selain video di ponselmu, apa kau masih ingat bagaimana kejadiannya?”

Ahra mengangguk sedikit tak yakin, “Walaupun samar-samar, sepertinya aku masih bisa mengingatnya perlahan-lahan.”

“Tunggu sebentar,” Baekhyun membuka laci di samping tempat tidur Ahra dan mengambil sebuah laptop untuk mulai mengetik kesaksian gadis itu. “Sekarang kau bisa mulai menceritakan apapun yang kau ingat tentang kejadian itu padaku.”

“Tadi malam sekitar pukul 10, aku keluar rumah untuk membeli beberapa cemilan di minimarket. Kebetulan minimarket itu lumayan jauh dari rumahku. Jika aku memilih melewati jalan yang ramai, jaraknya akan semakin jauh, jadi dengan pertimbangan jarak aku memilih melewati jalanan yang sepi.” Ucap Ahra memulai ceritanya.

“Ketika aku berjalan sendirian di jalanan sepi itu, suara teriakan seorang wanita membuatku terkejut dan merasa sedikit takut. Awalnya aku tidak mau peduli, tapi mendengar wanita itu terus berteriak seolah meminta pertolonganku, aku tidak bisa apa-apa lagi selain mencari asal suara wanita itu.”

“Dia di sana, di antara deretan kios-kios lama tak terpakai bersama seorang pria tinggi tegap bersetelan serba hitam dengan topi berwarna sama. Tak ada cahaya yang begitu berarti di tempat itu. Remang-remang.” Raut Ahra mulai menunjukkan ekspresi tak tenang.

“Kalau tak ada cahaya yang berarti, kenapa kau bisa begitu yakin ada pembunuhan di sana?” tanya Baekhyun.

Ahra memejamkan matanya rapat-rapat, tubuhnya kembali gemetar. “Aku tidak akan pernah lupa bagaimana pisau lipat yang digenggam kuat oleh pria itu menghujam dada si wanita berkali-kali hingga wanita itu tak mampu berkutik lagi. Tak selesai sampai disitu, pria itu menggunakan pisau lipatnya untuk mencungkil kedua bola mata wanita malang itu.”

“Mencungkil?”

“Entah apa yang akan dilakukannya lagi selanjutnya pada mayat wanita itu jika saat itu ayahku tidak menelepon dan ponselku tidak berbunyi. Tatapan tajamnya yang mengarah padaku, aku tidak bisa melupakannya.”

Ahra terus melanjutkan ceritanya, mengungkap ciri-ciri fisik si tokoh utama dalam pembunuhan tersebut sementara polisi Byun terus mengetik informasi-informasi yang ia dapat ke berkas dokumen di laptopnya.

“Aku sudah mengirim laporannya ke kepolisian,”

Ponsel Baekhyun berdering, tanda sebuah panggilan masuk ke nomornya. Nama kontak ‘Oh Sehun’ tertera jelas di layar ponselnya. “Halo? Kau sudah menerima email-ku? Baguslah. Ya, dia bersamaku sekarang. Kau harus menemuinya besok pagi.”

Lagi, tangan Ahra menggenggam erat tangan Baekhyun. Pria bermarga Byun itupun menutup teleponnya untuk memandangi wajah cantik si gadis yang tampaknya masih takut bertemu orang lain selain dirinya.

Baekhyun duduk di tepi tempat tidur Ahra, jemarinya mengusap lembut punggung tangan gadis itu. “Kau masih takut?”

Ahra memberi anggukan sebagai jawaban. Baekhyun tersenyum, tatapannya tak lepas dari manik teduh milik Jang Ahra. Sebuah kecupan lembut kemudian gadis Jang dapatkan di bibirnya dari bibir si Polisi Byun.

“Aku di sini, bersamamu.”

Kecupan itu berlanjut menjadi ciuman-ciuman sedikit kasar, lidah Byun Baekhyun jelas mendominasi ruang hangat di mulut Ahra. Sementara si pria asik menarik tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka, Ahra mengalungkan tangannya ke leher pria itu sembari menikmati tiap sentuhan yang diberikan pria itu di tubuhnya. Bukan tanpa sadar, Ahra menerima perlakuan Polisi Byun ―yang sebenarnya sudah melampaui batas― padanya dengan kesadaran penuh tanpa merasa terpaksa.

▌█♫▐♪▌♫█▐

Sinar matahari pagi seharusnya sudah menelusuk masuk melalui celah-celah gorden di kamar itu. Namun suasana pagi yang begitu cerah di luar sana berbanding terbalik dengan keadaan kamar tempat Ahra terkulai lemas yang justru gelap gulita. Dua mata Ahra masih terasa berat untuk terbuka, buram pandangannya mendapati bayangan seorang pria tak asing berdiri di depannya, memandangnya dengan tatapan menyeramkan namun tanpa ekspresi. Sudut kiri bibir pria itu tertarik ke atas, tersenyum miring.

Manik Ahra hampir saja keluar dari tempatnya. Pantulan cahaya dari pisau lipat dalam genggaman si pria jelas mengingatkannya akan sosok pembunuh berdarah dingin yang mengejar-ngejarnya semalam. Pembunuh itu kini ada di hadapannya dan ini bukanlah mimpi. Ahra ingin kembali melarikan diri, tapi apa daya, tangan dan kakinya diikat pada sebuah kursi yang didudukinya. Ahra ingin berteriak meminta pertolongan, lagi, mulutnya tertutup lakban. Tak ada lagi yang bisa gadis itu lakukan selain menangis.

“Merindukanku?” tanya si pria sembari mengusap-usap permukaan pisau lipatnya. Mendengar suara pria itu untuk yang pertama kalinya membuat bulu kuduk Ahra berdiri, merinding.

BUGH!

Sebuah tendangan kasar berhasil menampar keras pipi Ahra hingga gadis itu jatuh tersungkur bersama kursinya. Pria itu menjambak rambut panjang terurai milik Ahra tanpa mempedulikan tangis menyedihkannya.

“Mmmh!! Hmmmmh! Mmh!!” erang Ahra tertahan, tangisannya kian menjadi ketika berkali-kali pria itu mencoba menghancurkan tengkorak kepalanya dengan membenturkannya ke lantai. Darah segar mengalir dari kepala serta hidungnya sedetik kemudian.

Senyuman pria itu bertambah lebar, dengan sekali tarikan pria itu melepas lakban yang semula menutup mulut Ahra.

“Tolong… Ja-nganh… bunuh aku.” ucap Ahra memohon. Cairan kental berwarna merah berbau amis dari kepalanya sudah mengalir masuk ke matanya sampai ia kesulitan untuk melihat.

“Aku tidak akan membunuhmu, toh kau akan mati sendiri.”

Pria berkulit putih susu itu lantas membuka satu persatu ikatan tali yang mengekang tangan dan kaki Jang Ahra, membiarkan gadis malang itu untuk merangkak ke arah pintu dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Belum sempat Ahra mencoba berdiri, pisau lipat milik pria itu lebih dulu menyasar ke tulang belikat sebelah kirinya, memaksanya untuk kembali mencium permukaan lantai yang begitu dingin.

“Kau tidak akan bisa lari lagi dariku, Nona.”

Bugh! Bugh! Bugh!

Ahra kembali menjerit tanpa suara, baru saja pria itu melayangkan beberapa tendangan bebas ke bagian dada serta perutnya hingga bunyi tulang rusuknya yang patah pun terdengar samar-samar. Di tengah perjuangan Ahra mempertahankan kesadarannya, pintu kamar itu terbuka, menampilkan diri Polisi Byun tanpa raut terkejut yang tersirat di wajah tampannya.

“Baekhyun-ssi… Tolong ahku… Tolongh selamatkan aku…”

Wajah yang dipenuhi darah serta pisau lipat yang masih bersarang di belikatnya, membuat Ahra benar-benar terlihat menyedihkan. Harapan Ahra untuk mendapat pertolongan dari seorang Byun Baekhyun nyatanya harus pupus detik itu juga. Polisi itu tak lagi menjadi pria baik hati melainkan berubah sama bengisnya seperti pembunuh yang menyiksanya.

▌█♫▐♪▌♫█▐

Byun Baekhyun adalah seorang anggota kepolisian daerah Seoul yang terkenal dengan pesona ketampanannya. Bersama seorang wanita bernama Choi Yoowon, Baekhyun menjalin kasih asmara selama 4 tahun terakhir tanpa sepengetahuan siapapun. Hubungan percintaan mereka yang sudah seperti pasangan suami istri kemudian membuat Yoowon berani menuntut lebih pada pria yang memang dikencaninya atas dasar cinta itu.

“Oppa, kapan kau akan menikahiku?” lengan Yoowon melingkar di pinggang Baekhyun, memeluknya dari belakang. “Calon anak kita sudah 3 bulan di dalam rahimku, lho.”

Baekhyun berbalik, menatap manik gadisnya dalam-dalam. Pria itu lantas berbisik, “Yoowon-ah, mau bertemu dengan temanku? Katanya, dia sangat ingin bertemu calon istriku.”

Tentu saja, Yoowon mengangguk antusias. Kapan lagi dirinya akan diperkenalkan untuk pertama kali sebagai calon istri si Polisi setelah 4 tahun hubungan mereka dirahasiakan begitu saja?

“Oppa, kenapa kita harus melewati jalan sepi ini? Aku jadi takut.”

Baekhyun hanya tersenyum. Langkah dua insan itu terhenti tepat di depan seorang pria berpakaian hitam serba tertutup yang Baekhyun perkenalkan pada Yoowon sebagai Oh Sehun, sahabat karibnya.

“Jadi Sehun-ah, aku meminta tolong padamu…” pria itu menatap dan mengusap lembut rambut panjang kekasihnya untuk terakhir kali. “Lenyapkan dia sekarang juga.”

“Oppa…”

BLES! BLES! BLES!

Tanpa ragu sedikitpun Sehun menikam perut rata kekasih Baekhyun sebanyak 3 kali hingga perlahan tapi pasti tubuh wanita itu jatuh ke tanah. Tangan Yoowon bergerak memegangi kaki kiri pria yang tak lain merupakan ayah dari bayi dalam kandungannya, menangis memohon agar si pria mau menyelamatkannya. Sayang, bukan pertolongan yang wanita itu dapatkan dari si pria, melainkan beberapa luka di tangannya karena pria itu malah menginjak-injak tangannya sekuat tenaga.

“AKH OPPA!! TOLONG AKU! TOLONG JANGAN BUNUH AKU!! TOLONG!” teriak Yoowon, tangannya tak lagi bisa menggapai kaki Baekhyun yang berjalan menjauh meninggalkannya sedangkan pria bernama Oh Sehun itu menyeret tubuhnya untuk siap membunuhnya kapan saja.

“TOLONGHH! SIAPAPUN KUMOHONHH… TOLONGH AKU!!”

CRAT!

Tanpa belas kasihan, Sehun merusak wajah cantik Yoowon dengan pisau lipatnya. Darah wanita itupun sampai memuncrat ke wajah putih mulusnya. Beberapa kali ia menusukkan pisau lipat miliknya ke dada wanita itu. Saat dirasa nyawa korbannya sudah lepas dari raga, ia pun bermain-main sebentar dengan kedua mata wanita itu sebelum akhirnya nada dering gwiyomi tertangkap oleh indera pendengarannya.

Sehun tertawa kecil, ia baru saja menyadari bahwa ada seseorang lain menjadi pengintip aksinya malam ini. Derap langkah Sehun perlahan mendekat ke arah si pengintip, namun rupanya si pengintip yang ternyata adalah seorang gadis muda itu telah lebih dulu melarikan diri seolah mengajaknya untuk bermain kejar-kejaran.

“Tolong! Kumohon, tolong aku! Biarkan aku masuk! Aku sedang dikejar seorang pembunuh!”

Sehun berhenti berlari tak jauh dari mobil offroad milik Byun Baekhyun. Sesaat sebelum mobil itu pergi, Baekhyun sempat berpaling ke arah Sehun, memberinya sebuah kode yang dapat dengan mudah ia pahami. Pria itu tak kuasa menyunggingkan senyuman tatkala netranya menangkap adegan gadis yang dikejarnya tadi dibawa oleh mobil sang sahabat yang telah membayarnya sangat mahal untuk pembunuhan malam ini. Lepas dari mulut harimau, gadis itu malah masuk ke dalam mulut buaya.

Setibanya di rumah besar Byun Baekhyun yang jauh dari keramaian, gadis muda yang menjadi saksi pembunuhan itu tak sengaja meninggalkan ponselnya di dalam mobil. Tanpa sepengetahuan gadis itu, Baekhyun menonton rekaman video kejadian yang berhasil merenggut nyawa kekasihnya secara tragis. Dengan sekali sentuhan pada ikon bergambar tong sampah, pria itu menghapus berkas video dan menginjak-injak ponsel tersebut hingga layarnya retak tak berfungsi lagi.

“Bagaimana ponselku bisa ada padamu?”

“Kau tak sengaja menjatuhkannya saat turun dari mobilku. Layarnya retak dan tak bisa dihidupkan lagi. Kau tak ingat?”

Tanpa menaruh sedikitpun curiga, gadis muda yang Baekhyun ketahui bernama Jang Ahra itu percaya saja pada setiap kata-kata yang diucapkannya. Saat Ahra bersuara tentang dirinya yang masih mengingat kejadian pembunuhan itu, Baekhyun berusaha keras menahan gejolak amarah yang ia rasa sudah diubun-ubun.

“Aku sudah mengirim laporannya ke kepolisian,” tentu saja tidak. Baekhyun mengirimkannya ke email Sehun. Itulah mengapa beberapa saat kemudian nama kontak ‘Oh Sehun’ tertera jelas di layar ponselnya.

Sehabis bercinta dengan Ahra, Baekhyun diam-diam menyuntikkan obat bius ke pergelangan tangan gadis itu hingga tak sadarkan diri. Sementara itu, rekening Sehun yang tiba-tiba membengkak setelah menerima permintaan Baekhyun membuatnya semangat untuk menyiapkan alat-alat yang diperlukan dalam rencana pembunuhan sadis yang menjadikan Jang Ahra sebagai korban selanjutnya.

▌█♫▐♪▌♫█▐

Pemikiran Ahra terhadap sosok Polisi Byun nyatanya salah besar. Bukan pria yang menyiksanya itu yang menjadi peran utama dalam kisah pembunuhan ini, melainkan Byun Baekhyunlah otak pembunuhan sebenarnya.

“Bakar dia.” titah Baekhyun yang seketika membuat mata Ahra terbelalak sempurna.

Si pria yang memiliki postur lebih tinggi dari Baekhyun lantas menyiramkan 20 liter bensin dari jeriken ke tubuh Ahra sesuai perintah. Tenggorokan Ahra tiba-tiba saja tercekik. Sebuah tali yang dikalungkan pria itu mengikat lehernya, menarik tubuhnya hingga tergantung dengan kaki melayang di udara tanpa menyentuh lantai sedikitpun.

CTAS!

Seluruh tubuh Ahra terbakar. Gadis bermarga Jang itu terus meronta di antara rasa sakit sesak tak bisa bernafas juga rasa panas api yang membakar kulitnya sebelum akhirnya usahanya untuk mempertahankan hidup harus berujung sia-sia di tangan dua pria tak bermoral tersebut.

“Kau tidak boleh terlalu mencampuri urusan orang lain, Jang Ahra-ssi.”

 

█▐ HOMICIDALEND ▌█

Advertisements

One thought on “[Love Is Moment] Homicidal

  1. OH MY GOD
    Kenapa juga aku baca gore sebelum tidur 😴 wkwk tapi seru (?)

    Ku sudah berharap baekhyun itu temenan sama sehun atau seenggaknya sama psycho-nya kek sehun, dan walaaaaa apalagi pas ketambahan part bercinta itu aku kezeeeel banget, bukan cuma sadis tapi kesannya tuh kurang ajar gitu 😭 dan bener deh ga berperikemanusiaan pas seenaknya jambak dan tendang gitu, padahal yeoja BUT disitu serunya ottokee 😂😂

    Oke ayushafiraa, keep writing ya, kurang2in sadisnya (?) nice shot.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s