AU · Family · Fantasy · FF Project · Friendship · Genre · Giveaway Project · Length · Moment · One Shoot · PG -13 · Rating · Romance · Sweet

[Love Is Moment] Heartfelt


[Love is Moment]

Author : Mintulli

Tittle : Heartfelt

Moment : Sweet

Cast :  Jooheon (MONSTA X)

Hoshi (SVT)

Genre : Family, Friendship, Fantasy, AU, romance

Lenght : Oneshoot

Rating : PG-13

Disclaimer : This fanfic inspired from islamic story

Author note : Wish this story will inspired you and make you realized about ‘true love’

  

Alkisah diceritakan seorang pemuda yang gagah berani. Pemuda ini tak pernah lepas dari pujian dan sanjungan yang terus disuarakan untuknya sebab kehadirannya yang selalu menjadi barisan terdepan ketika kaumnya melawan kaum tengah ataupun kaum atas. Ya, sebagai pemimpin perang terbaik, ia selalu mengantarkan kaumnya sebagai pemenang dan hidup damai. Dialah pemuda bernama Lee Jooheon.

 

Suatu ketika, Jooheon pergi mendatangi kaum tengah tepatnya di Kota Zahstan. Ia bermaksud menemui undangan saudaranya yang merupakan pemimpin golongan muda disana. Hoshi sebutannya. Ia berkeinginan memperkenalkan Jooheon kepada kerabatnya lalu mulai belajar untuk bagaimana menjadi seorang pemuda yang berani melawan musuh dalam situasi dan kondisi apapun. Ya, Hoshi sudah lama berpisah dengan Jooheon sebab Hoshi harus ikut dengan ibunya di Zahstan dan Jooheon di Gheff dengan ayahnya.

Hoshi menyambut kedatangan saudaranya itu dengan penuh suka cita. Semua golongan muda memberikan senyuman terbaik mereka untuk Jooheon. Bahkan makanan yang dihidangkanpun bukan main nikmatnya. Semuanya ditujukan hanya untuk Jooheon, sang pemuda yang gagah berani.

 

“Jadi coba ceritakan pada kami bagaimana kau bisa menjadi seorang pemimpin dalam perang yang mengagumkan?” salah seorang kerabat Hoshi bertanya. Mereka duduk di meja panjang berhiaskan makanan dan minuman terbaik dengan Jooheon yang berada diantara mereka. Seluruh arah pandang tertuju pada pemuda denga kulit putih dan mata kecil tapi setajam burung hantu itu.

Sekilas Jooheon melirik pada Hoshi. Mereka membuat konversasi lewat mata karena Jooheon sungguh terkejut bahwa ia akan diberikan pertanyaan seperti itu. Ia tidak tahu jika Hoshi sudah memberitahu yang lain tentang dirinya sebagai pemimpin perang. Itu sedikit membuat Jooheon malu.

Jooheon meletakkan sendok makannya lalu beralih fokus pada retina-retina khas kaum tengah berwarna hijau lumut yang mana mereka sempat menyerang kaumnya waktu itu. Jooheon tahu mereka ingin belajar tentang dirinya. Ia paham betul kedua kaum sudah berdamai lama dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Kau hanya perlu jadi dirimu sendiri. Ikuti apa yang ada dalam hatimu. Jika hatimu berkata ‘maju’ maka lakukanlah. Yakinkan pada dirimu sendiri bahwa kau bisa, dan semuanya akan jadi kenyataan.”

 

 

Sejumlah pasang mata itu terkesima dengan jawaban Jooheon yang singkat tapi sarat makna.

“Jangan takut untuk memulai sesuatu. Lakukan perubahan jika ingin ada kemajuan. Berani, dan pantang menyerah.” Lalu sejumlah pasang mata itu membentuk lengkungan tanda tersenyum. Kata-kata yang indah dari seorang Lee Jooheon. Jooheon sengaja memberikan stimulus pada golongan muda itu agar kembali bangkit dan memperbaiki diri untuk mereka dan kaumnya.

 

Setelah itu, Jooheon meminta Hoshi untuk mengantarkannya ke perpustakaan di pusat Kota Zahstan.  Sebab Jooheon sangat suka membaca dan ia ingin melihat ada koleksi buku apa saja di kota yang luar biasa indah itu. Pergilah adik-kakak itu kesana. Perpustakaannya memang tidak sebesar di Kota Gheff, tempat tinggal Jooheon. Tapi bangunannya artistik sekali dan Jooheon rasa, ia akan sangat nyaman berada di dalamnya.

Jooheon lalu masuk, lantas arah matanya langsung disambut oleh rentetan rak tinggi yang berjajar rapi dan cantik. Ia sempat tertipu dengan bentuk perpustakaan yang terlihat kecil diluar, tapi sederhana dan luas di dalam. Pemuda Lee itu mengambil satu buku secara acak lantas duduk di kursi yang didesain antik untuk para pengunjung disana.

Awalnya ia hendak membuka buku dari halaman pertama sampai sesuatu mengganggu arah pandangnya untuk terus berpaling pada objek itu. Ada seorang gadis dengan rambut merah kecoklatan yang panjang dengan kulit cerahnya duduk di sudut ruangan sembari membaca dengan posisi buku yang berdiri. Jooheon melihatnya sekilas. Ia bisa menerawang bagaimana paras gadis itu dibalik bukunya, meski ia hanya menilai dari warna kulit dan rambut yang rupawan.

Jooheon masih asik memandang gadis itu dari kejauhan sampai sesuatu yang aneh berdetak dalam dadanya ketika gadis itu menidurkan buku bacaannya diatas meja. Dalam hati Jooheon, ia meyakini bagaimana perasannya sekarang, dan pemuda itu tak ingin mengelak. Lantas Jooheon akhirnya mengambil satu kertas sobekan dari ujung buku catatannya lalu menuliskan namanya disana.

 

Pemuda Lee itu berjalan mendekati gadis itu dan sengaja sekali duduk dihadapannya. Gadis itu sama sekali tak mengalihkan pandangannya. Sorot matanya masih terpusat pada deretan huruf yang tertulis rapi dalam buku. Jooheon setia saja menunggu sampai gadis itu setidaknya mengangkat kepalanya dan menghargai kehadiran Jooheon yang duduk di depannya. Tapi selama hampir sepuluh menit, tak ada yang berubah. Gadis itu masih saja mengarahkan fokus matanya pada buku. Jooheon lalu mulai beraksi. Ia letakkan kertas yang sudah dituliskan namanya tadi tepat diatas buku yang sedang dibaca oleh sang gadis. Ia masih memandang si gadis bahkan kali ini Jooheon menarik sudut bibirnya, bersiap kalau-kalau saja gadis itu akhirnya sadar dan melihatnya.

Tapi lagi-lagi tak ada yang berubah. Gadis itu masih saja melihat buku tanpa sedikitpun merasa terganggu dengan secarik kertas yang diletakkan tepat di tengahnya.  Gadis itu bahkan menutup buku itu dan meningglakan tempat tanpa sedikitpun mengalihkan fokusnya pada Jooheon. Jooheon hanya memandangi gadis itu tanpa memanggilnya. Entahlah, ia sendiri merasa semakin penasaran dan ingin lebih mendekati sang gadis.

 

Jooheon terus saja memikirkan gadis itu. Dari parasnya yang rupawan, rambut merahnya yang tergerai indah, bahkan sikapnya yang dingin semakin membuat Jooheon luluh. Ia ingin tahu siapa gadis itu. Jooheon rupanya sedang kasmaran dan ingin tahu lebih banyak tentang sang gadis. Tiga hari  setelahnya Jooheon suka pergi ke perpustakaan dengan alasan ingin mengenal gadis itu. Pemuda Lee itu ingin mencari celah untuk mendekati sang gadis jika memungkinkan. Ia bahkan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Duduk dihadapan sang gadis lalu meletakkan secarik kertas berisikan nama lengkap Jooheon. Tapi tetap tak ada yang berubah. Bahkan respon gadis itu sama saja. Ia meninggalkan tempat itu tanpa mengalihkan matanya pada Jooheon dengan diam.

 

Gerak- gerik Jooheon yang mencurigakan karena terus saja pergi ke perpustakaan tanpa berpamitan dengan Hoshi akhirnya membuat adik Jooheon itu menilisik sendiri lantas langsung menemukan jawaban dari apa yang membuat kakaknya selama ini tak bisa tidur dengan tenang juga jarang menghabiskan makanannya. Jooheon gelisah memikirkan siapa gadis itu.

 

“Kau, bertemu dengannya?” tanya Hoshi malam itu. Ia kembali memergoki Jooheon terjaga dan hanya memandangi langit-langit kamarnya. Hoshi lalu duduk di ranjanganya dan menatap Jooheon yang juga terbangun dan menghadap pada Hoshi.

 

“Bertemu dengan siapa?”

 

“Gadis itu. Aku tahu, aku melihatmu.”

 

Hoshi menyunggingkan sebelah bibirnya. Ia kirim pesan tersirat lewat ekspresi wajah yang mana dia tahu apa yang sedang terjadi pada kakaknya. Jooheon menghela napas gusar, lalu menyandarkan punggungnya pada dinding yang dingin sekali.

 

“Aku ingin menikahinya.”

 

Hoshi tentu saja terkejut dengan ucapan Jooheon. Ia terdiam sesaat, sengaja menunggu Jooheon menjelaskan sesuatu. Tapi tak ada yang diucapkan Jooheon. Pemuda itu justru membalas tatapan adiknya yang masih tak percaya.

 

 

“Kau yakin?”

 

“Apa ada lelaki lain yang ingin menikahinya juga sepertiku?” Hoshi menggeleng. Ia lalu menepuk pundak Jooheon untuk meyakinkan bahwa dialah satu-satunya pemuda yang berani mengatakan itu.

 

“Kau tahu kenapa dia selalu sendirian disana?”

 

Jooheon diam saja. Ia memutar kedua bola matanya sebentar sebelum akhirnya ia menggeleng tak mengerti.

 

“Gadis itu buta. Ia dihukum oleh seorang cenayan dulu, ketika ia masih belia.”

 

Jooheon mendadak menegakkan punggunya lantas mengalihkan atensinya pada Hoshi. Ia mulai mendengarkan penjelasan sang adik dalam-dalam.

 

“Dulu, gadis itu pernah berbuat dosa dengan menghancurkan tempat doa para cenayan. Ia marah waktu itu, sebab cenayan tak mampu menyembuhkan penyakit ibunya yang tak bisa mengingat apapun. Karena cenayan itu tidak terima, ia akhirnya menghukum gadis itu dan membuatnya buta. Satupun orang tak ada yang berani mendekatinya. Mitos pernah mengatakan bahwa siapa saja yang mendekati seseorang yang terkena hukuman cenayan, maka hidupnya akan sama seperti dia.”

 

Sudah terjawab sekarang mengapa gadis itu selalu saja sendirian. Jooheon sekarang tahu mengapa gadis itu tak bisa melihat kehadirannya. Sedikit, Jooheon mulai paham bahwa gadis itu ingin dianggap normal seperti gadis yang lain. Ia masih menunggu sang adik melanjutkan penjelasannya.

 

“Lalu ada masalah lain tentang tradisi di kota kami. Entah bagaimana mulanya, kalau gadis itu menginjak umur 20 tahun, maka ia harus segera menikah. Sebab jika tidak, maka wali kota akan memporak-porandakan kota ini dan menangkap gadis itu untuk dijadikan budak. Tak ada alasan yang jelas. Tapi kurasa mungkin karena ayah gadis itu adalah seorang pemuka kaum tengah dan wali kota tidak suka terhadapnya, jadi dia semena-mena melakukan itu. “

“Lantas gadis itu sudah berumur 20 tahun dan tak ada yang berani mendekatinya?”

 

“Untuk itu aku bertanya padamu apakah kau yakin?”

 

“Kau tahu aku selalu percaya pada kata hatiku. Bukankah jika begitu aku harus menyelamatkannya? Setidakny untuk kotamu juga.”

 

Hoshi menghela napasnya. Ya, tapi bukankah semuanya terlalu cepat untuk Jooheon?

“Kau bahkan belum berbicara padanya bukan?”

 

“Ketika aku mengatakan ‘aku mencintaimu’, aku ingin aku sudah menjadi miliknya waktu itu.”

 

Hoshi menyunggingkan bibirnya lagi. Sedikit geli tapi juga bangga melihat kakaknya yang sangat jantan dalam membuat keputusan.

 

“Sungguh, kau adalah orang yang pemberani.”

 

“Apa kau tidak begitu?”

 

“Aku harus melihat kakakku menikah dulu kan?”

 

Jooheon mengangguk dan mengulas senyumnya. Hoshi lalu berdiri dan hendak meninggallkan kamar sebelum pemuda itu kembali memanggil nama sang adik.

 

“Hoshi!”

 

“Ya?”

 

“Bantu aku agar bisa menikahinya.”

 

Hoshi mengerti maksud Jooheon. Jooheon menginginkan Hoshi untuk mengenalkannya tentang apa saja tradisi di kota itu untuk menikahi seorang gadis. Jadi dipersiapkanlah segala keperluan Jooheon untuk meminang sang gadis. Jooheon benar-benar melakukan apa yang selama ini dinasehatkan pada banyak orang tentang percaya dan berani pada dirinya.

Seperti saat ini dimana Jooheon belajar bagaimana kebudayaan sebelum meminang gadis di kota mereka, para pemuda harus melakukan pembersihan diri dengan cairan bunga. Melakukan rentetan ritual sebagai seorang pria sejati dengan memanah sambil berkuda, berenang dengan berburu ikan piranha, dan tes fisik lainnya. Jooheon juga membelikan hadiah yang tak ternilai, untuk diberikan pada sang gadis. Hoshi bahkan mengajak Jooheon  membelikan pakaian baru yang mahal untuk persiapan pernikahannya dan sang gadis, padahal Jooheon sendiri sebenarnya tak ingin bermewah-mewah tapi Hoshi terlalu memaksa. Hoshi juga membantu Jooheon untuk berbicara pada ibu dan meluluhkan hatinya agar putra sulungnya itu direstui dan mengesampingkan mitos yang beredar.

 

 

 

Sampai akhirnya tibalah hari itu. Hari dimana Jooheon sudah menunggu dengan waktu yang cukup lama. Jooheon cukuplah bersabar sampai waktu yang sudah ditentukan. Malam itu, Jooheon bermaksud meminang sang gadis dengan membawa persembahan sebagai syarat dari tradisi di Kota Zahstan. Ia bersama Hoshi pergi menuju kediaman si gadis. Sepintas Hoshi melirik Jooheon, ia sedikit tergelitik dengan ekspresi wajah Jooheon yang tegang. Ia lalu menepuk pundak sang kakak.

 

“Santailah sedikit. Kukira kau memang pemberani.”

Jooheon tersipu malu. Ia tahu bahwa rasa bertemu dengan pemuka kaum yang merupakan ayah dari sang gadis memiliki sensasi yang lebih menakutkan ketika hendak melepaskan panah pada musuh.

 

“Untuk yang ini terkecuali.” Suara gelak tawa Hoshi terdengar keras selama perjalanan mereka. Sudah lama sekali mereka tak bersenda gurau sejak terakhir kali mereka bertemu. Perpisahan kedua orang tua mereka cukuplah membuat Jooheon dan Hoshi terbebani. Jadi biarkanlah mereka menikmati moment bersama ini sebelum akhirnya nanti melepas satu sama lain untuk hidup dengan keluarga baru.

 

“Hoshi, terimakasih sudah banyak membantuku.”

 

Adik Jooheon hanya menyunggingkan bibirnya sembari menyiratkan pesan ‘tentu saja aku harus membantu saudaraku’.

 

Mereka lalu tiba di kediaman gadis itu setelahnya. Sang pemuka kaum yang merupakan ayah si gadis tentu merasa terkejut dan tersanjung dengan kedatangan kedua pemuda tampan yang datang ke rumahnya malam hari ini

 

“Sungguh suatu kehormatan bagiku dua pemuda yang membanggakan ini berkunjung ke rumah tuaku.”

 

“Kami yang merasa tersanjung karena diterima baik di rumahmu, Pemuka Kaum Tengah.”

 

Tuan pemuka itu menarik kedua sudut bibirnya sehingga membentuk kurva yang sempurna disana. Ia senang sekali bisa bertemu dengan kedua pemuda bersaudara itu.

 

“Apa yang membuat  Hoshi datang kemari bersama anak muda ini?”

 

“Lee Jooheon, tuan. Kedatangan saya disini bermaksud menemani Jooheon yang ingin meminang putri anda. “

 

“Mohon maaf, tapi saya bersungguh-sungguh ingin menikah dengan putri anda, tuan.”

 

Tuan pemuka tentu saja terkejut. Ia tahu betul bagaimana semua anak muda menjauhi putrinya sebab takut jika kutukan itu berpihak sama pada mereka. Ia juga tahu bagaimana putrinya selalu menyendiri di perpustakaan kota untuk mengurung diri sekaligus berpura-pura menjadi orang normal. Tapi sungguh, ini diluar ekspetasi seorang ayah yang pada akhirnya ada pemuda hebat yang mashyur di kalangan para kaum, datang ke rumahnya untuk mengikat hubungan sakral dengan sang putri.

 

“Apa yang membuatmu berani membuat keputusan se-lancang ini, nak?”

 

“Saya melihat diri saya ada pada putri tuan pemuka. Dalam hati saya mengatakan bahwa saya ingin dan yakin bisa menjaganya.”

 

Tuan pemuka menggeleng-gelengkan tanda heran sekaligus tercengang. Keberanian Jooheon sungguh patut mendapat apresiasi yang tinggi. Tapi semua keputusan tetap berada ditangan putrinya. Ia tetaplah seorang ayah yang menginginkan anaknya bahagia.

 

“Anakku, apakah kau mendengar i’tikad baik dari pemuda ini?” tanya sang ayah. Ia menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. Bermaksud berbicara pada putrinya yang sedang duduk manis dibalik sekat rumahnya.

 

“Ya, ayah.”

 

“Bagaimana anakku? Apa keputusanmu?”

 

Lama sekali tak ada jawaban dari putri sang tuan pemuka kaum. Ia sampai berulang kali meminta maaf pada Jooheon dan Hoshi karena lama menunggu. Lalu setelah pemikiran panjang dan perdebatan dari batin dan otak si gadis, ia akhirnya berbicara.

 

“Saya sangat tersanjung dengan kedatangan tuan Jooheon ke rumah dengan i’tikad yang baik. Tapi jika tuan Hoshi juga memiliki maksud yang sama, maka saya akan menerimanya.”

 

Tak ada kata penolakan yang ketara memang. Perkataan si gadis meluncur saja tanpa jeda dan seperti sudah direncanakan.

 

“Kau memilih pemuda Hoshi, anakku?”

 

“Ya, ayah. Saya memilih pemuda yang pernah menuntun saya untuk berkunjung ke perpustakaan kota. Pemuda itu mengatakan bahwa namanya adalah Hoshi.”

 

Harfiahnya manusia, pasti akan merasa sedih dan marah bahkan sakit yang tiada tara begitu mendengar orang yang dicintainya memilih hidupnya bersama dengan orang lain. Lebih-lebih itu adalah saudara kandung sendiri. Jikalaupun mereka adalah gadis, mereka mungkin saling memaki, bertengkar dan menangis sejadi-jadinya. Jikalaupun mereka adalah lelaki, mereka mungkin saling pukul bahkan tak segan untuk membunuh. Tapi apa yang dilakukan Jooheon sungguh membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa tersentuh.

 

Jooheon masih menunggu jawaban Hoshi. Ia bahkan membuat konversasi non verbal lewat sorot matanya untuk mengiyakan permintaan gadis itu. Jooheon mengingatkan lewat matanya bahwa gadis itu akan menjadi budak jika tidak menikah tahun ini, dan hanya Hoshi-lah yang bisa menolong. Adik Jooheon itu sama sekali tak bersuara. Ia justru membalas sorot mata Jooheon bahwa tidak seperti itu yang ia inginkan. Lantas Jooheon membuka suara,

 

“Tidak apa-apa. Jika memang begitu, kuserahkan semua persembahan dan persiapan pernikahanku untukmu dan gadis ini.”

 

Hoshi hendak mengelak, lalu Jooheon kembali melanjutkan perkataannya.

 

“Jika kau melakukan ini, percayalah bahwa kau telah menyelamatkan banyak orang. Bukankah kau ingin melakukan perubahan di kota ini?”

 

Seketika Hoshi langsung mengingat apa yang akan terjadi jika saja ia menolak menikah dengan sang gadis. Wali Kota Zahstan tak akan tinggal diam dan akan banyak korban yang berjatuhan setelahnya. Beberapa detik setelah itu Hoshi memeluk Jooheon sebagai rasa terima kasih dan permintaan maaf. Jooheon tahu adiknya itu bisa melakukan yang terbaik untuk kota dan kaumnya. Selagi ia juga menginginkan sang gadis bahagia dengan pilihannya.

 

Jooheon benar-benar seorang pemuda yang tidak hanya berani dan percaya apa kata hatinya, tapi juga memiliki hati lembut yang merelakan perasaannya untuk kebahagiaan orang lain. Dari sini kita bisa belajar bahwa cinta yang sesungguhnya itu adalah tentang keikhlasan.

Bagaimana Jooheon yang bertemu dengan si gadis buta dan jatuh cinta, ia ikhlas menerima segala keadaan untuk menikah dengan sang gadis. Ia ikhlas jikalau memang mitos dari kutukan itu berpihak padanya. Lantas demi kemakmuran Kota Zahstan beserta seluruh penduduknya, ia ikhlas melepas orang yang dicintainya untuk menikah dengan saudaranya sendiri. Sebab, Jooheon cinta pada sang gadis. Ia ingin melihat sang gadis hidup bahagia dengan cintanya yang tulus meski bukan untuknya.

 

Buah dari keikhlasan Jooheon nyatanya terwujudkan. Ketika sang pemuka kaum tersentuh dengan kebaikan hati seorang Jooheon untuk kebahagiaan putrinya, ia lalu menjadikan Jooheon sebagai panglima perang pasukan kaum tengah dan bergabung dengan miliknya –kaum bawah.

 

Mengharukan.

Kisah yang setiap insanpun mungkin tak memiliki hati sebersih Jooheon yang bisa merelakan apa yang diinginkannya. Ya, jika kita mencintai sesuatu maka lakukanlah dengan ikhlas, sebab segala sesuatu mungkin bisa saja berbalik dan mungkin tak sesuai dengan apa yang diinginkan. Lalu ketika kita sudah melakukannya, percayalah bahwa akan ada balasan untuk perbuatan yang mulia itu.

 

 

end-

Advertisements

5 thoughts on “[Love Is Moment] Heartfelt

  1. Hiii
    Gimana yah aku nulis komen untum ffmu ini , dari segi bahasa mirip sekali dengan dongeng yang ngalir gitu aja, twist di ceritanya juga smooth bgt. enggak nyangka aja tokoh utama perempuannya buta dan ending ceritanya enggak terbayang juga. Nice story chinggu~
    Keep writing ya ❤

    Like

  2. HEEUUUNGG MONANGEES😭
    /matiin kepslok dulu, jaim di lapak orang wkwk😂/

    Apaan ini yasmin ini apaan 😦 bete bgt aku kan ih daebaque bgt gini ffnya kamu mah suka gitu merendahnya kebangetan 😦

    Serius aku udh ngehold buat baca ini dari semalem, trs pas baca ga sanggup bgt aku semacam hanyut terbawa flow suasana yg terbangun sebab tulisan kamu yg ngalirnya santai buanged💕

    Masalah tulisan as always lah ya ga ada yg perlu aku omongin lagi, this was awesome just like your other fanfic and i love it so freakin much💞

    Terimakasih buat fanfic manis yg dikemas dengan apik, juga moral value-nya. Sukses terus😘💕💞

    Like

  3. Halo mintulli 👋👋

    OMG OMG ku sukaa sekali, ini cerita dan flow dan bahasa dan apa apanya manis banget ❤️❤️

    Sepanjang cerita ku bayangin setting timur tengah yang pake pake kaftan gitu sama naik kuda 😂😂 atau macem yang yunani yunani gt 😂😂

    Jooheon yang unyuu jadi pangeran perang, awalnya mau ketawa, tapi karena disepanjang cerita hati dia lembut dan OKE BANGET POKOKNYA jadi niceeeeenya kebangetan gimanaaaa gitu, duh Hoshi juga gmana coba rasanya punya kakak begini :””

    Ku pikir bakal di twist lagi bahwa cewenya cuma ngetest dg bilang mau hoshi, trs karena ikhlas akhirnya dia sembuh dr buta dan nikah ttp sama jooheon, happily ever after gitu 😅😅 TAPI, diberhentiin disini juga kok masih sweeeeet, doh, mgkin karena moral valuenya kuat juga yak!

    Ah, pokonya kusukakusuka, nice nice! Keep writing ya!

    Like

  4. Nadssi ❤❤❤
    Awalnya pas baca ya kamu tau sendiri aku gk begitu suka cerita sejarah perang2 gitu. Tapi kok pas baca2 trus ke bawah jadi suka apa lagi part waktu Jooheon ketemu di gadis ini, sbnernya aku udh curiga jangan2 si gadisnya buta dan ternyata benar huhuhu syedih. Terus waktu si gadis milihnya malah Hoshi agak jleb gitu tpi melihat keikhlasan Jooheon jadi bikin terharu. Aku gk tau harus komen gimana dari segi bahasa dan penulisannya, kalo menurutku ceritamu dari dulu emang kalo dari segi bahasa dan penulisan enak buat dibaca dan mudah dimengerti, kata2nya gk terlalu berat tpi kadang ada kata2 yg kayak kiasan gitu tpi mudah buat dimengerti gitu lho malah bikin seneng bacanya hehe. Udah sih gitu aja kalo dari aku, soalnya aku sendiri juga banyak belajar dari tulisan2mu, hehe teruslah menulis nadssi, semangat ! 😘😘😘❤❤❤💪💪💪

    Like

  5. oke nada i need to give you a really big applause for this!
    tulisan km tuh bikin stereotype bahwa ff kpop tuh cuma bisa dibuat menye menye doang menjadi terbantahkan.
    seriously!
    dan endingnya yg ugh gmn bilangnya ya, AKU SELALU SUKA TWIST hehe ofc aku senang bgt sama endingnya etapi jooheonnya kasian si 😦 pokoknya ini wanjeon heol daebak lah!

    goodluck! this kind of fic should win by default hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s