FF Project · Genre · Giveaway Project · Length · Moment · One Shoot · Rating · Sweet · Teen · WAFF

[Love Is Moment] Gido and Gidae


Written by RIJIYO

Gido and Gidae

[Sweet]

Starring by NCT’sLee Tae Yong&OC

WAFF | Oneshoot | Teen

.

.

Ada kalanya cinta bukanlah sebuah harapan….

.

.

Bertemu dan bercakap denganmu untuk yang kesekian kali rasanya masih seperti kemarin.Begitu membekas di ingatan, menempel begitu kuat di saraf otak, seakan memori itu terlalu berharga untuk dilupakan. Setiap detil ingatanku tentangmu layaknya bermili-mili tinta yang menempel pada secarik perkamen. Kendati kucoba menghapus sedemikian rupa, namun nyatanya kenangan itu masih tetap ada, hanya tertutupi oleh beberapa coretan.

 

“Kalian lengket sekali.Kenapa tidak pacaran saja?”

 

Aku masih mengingat dulu—dulu sekali—Jaehyun tak henti-hentinya memuji.Kita… ah, aku maksudku, sama sekali tidak mempermasalahkan atau menyombongkan nada sumringah yang tergema dalam suaranya. Karena caramu berbagi tawa, menggenggam tangan, dan saling mengerti akan membuat siapapun berdengung dengan nada kekaguman yang sama. Kamu pastinya tahu kalau persahabatan ini sudah terjalin 8 tahun lamanya.Seringkali aku berpikir, bolehkah sewaktu-waktu aku menganggapmu lebih dari sahabat?

 

Aku berbaring di sampingmu yang tengah tertidur lelap.Wajahmu yang hanya tersibak cahaya bulan yang menembus tirai benar-benar sepeti malaikat.Mustahil manusia bisa punya wajah yang mencandu, manik kokoa yang menghanyutkan, dan rambut cokelatmahoni.

 

Dulu kamu adalah gadis ceria yang suka menghabiskan waktu menonton film dan berkhayal menjadi istri dari aktor kesukaanmu.Atau iseng-iseng menggangguku dengan nyanyian jelekmu yang dibuat-dibuat dan menyuruhku menilai lagu yang kamu ciptakan.Aku tidak tahu apa-apa tentang musik, tapi kamu selalu bilang kalau musik tidak perlu dipelajari, melainkan diresapi.

 

Dulu kamu adalah gadis pemaaf yang suka membuat orang lain merasa istimewa tentang dirinya. Untuk sesekali kamu mungkin marah dan memberi pelajaran untuk orang yang sudah membuatmu kesal.Namun, jauh di lubuk hatimu, kamu tidak suka perkelahian.Aku tahu karena aku pernah menemukanmu menangis di belakang rumahku. Saat kutanya, kamu menjawab karena Mama dan Papamu bertengkar. Aku pun langsung membawamu masuk dan menenangkanmu di sini.

 

Dulu kamu sangat menyukai musik dan seringkali bilang padaku kalau citamu-citamu ingin jadi penyanyi.Kamu punya banyak koleksi album yang kamu beli pakai uang sendiri.Kamu sering mengajakku ke festival musik tahunan di Andong atau melihat pertunjukkan musik tradisional di Busan.Kamu suka merengek padaku kalau aku malas pergi, namun akhirnya aku mengalah karena tidak tahan dengan tingkahmu saat merajuk. Kamu tahu, kan, kalau aku paling tidak bisa menolak permintaanmu?

 

Dulu kamu sering pergi ke gereja.Berdoa pada Tuhan agar semua keinginanmu tercapai. Jika Paskah, kamu selalu membelikanku baju baru karena menurutmu, seseorang dianggap tidak sopan dan mengundang kesialan bila menyambut dewi Musim Semi Skandinavia, atau Eastre, tanpa mengenakan baju baru. Sebenarnya aku tidak terlalu memedulikan hal itu, tapi jika itu kemauanmu, aku sulit menolak.Kamu tahu kalau aku sangat alergi dengan air mata, terlebih kalau benda itu terlahir dari dwimanikmu.

 

Dulu kamu begitu.Tapi kenapa sekarang tidak lagi?

 

Aku memiringkan badan agar lebih leluasa menatap wajahmu yang masih terlelap.Setahun lalu saat kamu baru naik kelas 2 SMA, kamu pernah ditawari seorang produser musik dan menjanjikanmu album.Kamu langsung bercerita padaku tentang hal itu dengan menggebu sampai aku bingung apakah kamu senang atau gila.

 

******

 

“Kak Taeyong! Do you see?Aku dapat tawaran bikin album, lho.Kamu senang, kan?” Kamu memelukku erat saat bertemu denganku di depan pagar rumahmu. Kamu mengacung-acungkan kertas yang katanya berisi perjanjian.

 

Aku tersenyum lebar.“Serius?”

 

“Kemarin aku bertemu orang yang katanya komposer lagu dari agensi terkenal.Namanya Rooha Entertainment.”

 

“Rooha Entertainment?”Aku menatap langit-langit.“Aku tidak pernah dengar ada agensi itu di Korea.”

 

“Kamu, kan, tidak suka musik. Bagaimana bisa tahu agensi itu ada atau tidak?” elakmu.

 

“Memangnya kamu tahu?”

 

Kini giliranmu yang menatap langit.“Tidak tahu, sih.Tapi di kertas ini sudah tertulis akreditasinya, kok.Aku tinggal membayar 100.000 won sebagai jaminan,” balasmu mantap.

 

“Bagaimana kalau itu penipuan?Mana ada tawaran awal bisa semahal itu?”

 

Kamu berdecak.“Kamu ini kenapa daritadi negatif thinking, sih?Lagipula ini, kan, dari agensi terkenal, jadinya wajar, dong, kalau mahal.”

 

“Tapi Janet—“

 

I don’t care anymore. Pokoknya kak Taeyong tinggal menunggu albumku keluar.Nanti kalau laku, kutraktir bulgogi jumbo, deh.”

 

Saat itu aku tidak berharap akan dibelikan bulgogi jumbo atau mobil BMW sekalipun. Selama 18 tahun hidup di Korea, aku pastinya tahu nama agensi meskipun tidak tahu musik. Atau setidaknya aku pernah dengar dari perbincangan seseorang atau dari televisi. Tapi kamu tetap bersikukuh kalau kamu pasti akan sukses dalam beberapa hari ke depan. Aku mungkin jahat, tapi saat itu aku menganggapmu berlebihan. Kamu takkan pernah bisa menebak apa yang Tuhan rencanakan nantinya.

 

Hingga sebulan kemudian, kamu mendatangiku dengan berlinang air mata.Kamu memelukku yang sedang membaca buku di beranda rumah.

 

“Kak, kamu benar…. Dia menipuku. Si Berengsek yang katanya komposer itu ternyata penjahat! Dia menipuku, Kak….” Tangismu semakin menjadi-jadi.Aku paling tidak suka melihatmu menangis.Selain tidak tega, aku juga pusing mendengar rengekanmu yang bisa memecah gendang telinga.

 

Tak ada yang bisa kulakukan selain merengkuhmu dan menepuk punggungmu.Aku tidak berani memberi nasihat (dan aku memang tidak berbakat dalam hal itu).Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan karena aku tidak punya saudara perempuan atau teman perempuan sedekat ini. Jadi, aku hanya bisa menungguimu berhenti menangis selama hampir dua jam.

 

******

 

Aku tersenyum tipis jika mengingat hal itu.Setelahnya, kamu jadi tidak mudah mempercayai seseorang. Kamu semakin menuruti nasehatku meskipun seringkali protes kalau apa yang kukatakan sangat jauh dari kebiasaanmu.

 

Kamu masih menyukai musik dan aku sering mendengar nyanyianmu.Kalau menurutku, suaramu mirip Kim Taeyeon.Oke, kali ini aku berlebihan, tapi memang benar.Namun hingga saat ini aku masih tidak bisa mengatakan kekaguman terdalamku dan hanya bisa mengacungkan jempol tiap kali kamu bernyanyi.

 

Di saat itu, tiba-tiba terlintas sesuatu di pikiranku ketika melihatmu menumpahkan perasaan dalam sebuah lagu.Suaramu lembut dan tulus.Seperti melahirkan roh untuk lagu yang kamu nyanyikan. Hatiku ikut berdenting membentuk harmoni mayor sempurna yang manis layaknya bibirmu. Aku bahkan sering kecewa kalau kamu menyudahi nyanyianmu.

 

Aku mengelus rambutmu yang berbau vanilla.Dulu kamu sering kecewa karena terlahir dengan rambut gelorus; gelombang-lurus (kamu sendiri yang menamainya).Karena rambut impianmu adalah yang lurus berkilau seperti penyanyi IU.Aku ingat kamu jadi sangat menggilainya setelah menonton drama Scarlet Heart Ryeo, dan karena itulah kamu jadi sering begadang demi menuntaskan episode demi episode per harinya.

 

Sebagai gadis dengan Papa asli Korea, Mama warga Belanda, dan Nenek berdarah Tionghoa, kamu sering mengadu padaku apakah kamu ini lebih cocok disebut Asia atau Australia. Kamu malah berharap ingin berwajah seperti Han Ga In atau Im Yoona Ah.Aku mungkin bohong, tapi memang baru pertama kali ini aku bertemu gadis secantik kamu.Seharusnya aku mengatakan pujian ini agar kamu lebih percaya diri dengan penampilanmu, tapi—seperti yang kamu tahu—aku tidak pandai memuji.

 

Kamu terlalu banyak berkhayal. Aku hanya takut, jika suatu hari nanti kamu akan kecewa karena mendapati ribuan khayalanmu itu takkan bisa diraih.

 

*****

“Apa salahnya bermimpi?” katamu saat aku dengan iseng bertanya apa yang kamu harapkan ke depannya. Kamu bilang ingin jadi penyanyi, punya banyak uang, punya banyak pembantu, bertemu idola, menikah dengan Lee Joon Ki; Song Joong Ki; Lee Min Hoo; Lee Won Geun; Nam Joo Hyuk; dan seperangkat aktor kesukaanmu yang lainnya.

 

“Tapi realitas juga perlu diutamakan, kan?”

 

“Aku, kan, tidak bilang memprioritaskan mimpi. Tapi aku juga tidak terlalu mengutamakan realita.Aku maunya seimbang.Iya, sih, aku memang banyak mengkhayal, tapi itu satu-satunya cara supaya aku bisa bahagia.”

 

“Maksudnya?”

 

“Sebenarnya, hidup tidak pernah memberi kebahagiaan. Tinggal bagaimana cara kita mengolah kehidupan itu agar bahagia.

 

Jika mendengar keluh kesahmu, aku seperti menonton anekdot.Aku jadi ingin menepuk jidat saking herannya darimana kamu bisa mendapat jawaban seaneh itu?Sefilosofis itu?

 

“Semua orang pasti punya mimpi, meskipun tidak selalu bermakna cita-cita yang waktu masih TK diwujudkan dengan ikut parade dan memakai jubah Raja Taejo (lengkap dengan aksesoris dan kumis palsu), atau malah memakai hanbok dan disanggul seperti Ratu Yi Hae Won.Ah, itu bukan mimpi, tapi karnaval.”

 

Aku masih ingat jawabanmu yang terlalu lugu.Sebenarnya kamu sering mengkritik tentang kehidupanku yang katanya itu-itu saja, karena biar bagaimanapun, aku mengakui kalau kamu jauh lebih periang dan blak-blakkan.Aku berusaha menghargai dua karaktermu yang paling mencolok itu meskipun tak jarang membuatku kesal.

 

“Jadi intinya, bermimpilah kalau kamu ingin bahagia.Tuhan tidak pernah melarang makhluknya bermimpi, kan?” ujarmu.

 

“Bagaimana kalau aku tidak bisa?”

 

“Besok kamu bisa mati kalau Tuhan berkehendak, jadi selagi Tuhan masih baik hati meminjamkan salah satu raganya padamu, buatlah raga itu jadi bahagia.”

 

“Kata-katamu kenapa menyeramkan begitu, sih?”

 

“Karena kamu tidak tahu kehidupanmu nantinya seperti apa.”

 

“….”

 

“Bersenang-senang di masa sekarang bukan berarti kamu egois.Karena, di planet yang namanya Bumi ini, perbandingan antara mimpi dan realitas itu sama. Hukum alam selalu imbang.Jadi jangan menebak seperti apa masa depan yang akan Tuhan berikan untukmu, tapi pikirkanlah masa depan seperti apa yang ingin kamu miliki.”

 

“….”

 

Akupercaya hidup ini sudah diatur.Kita tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apa pun, semua sudah disiapkan bagiku, bagimu, dan bagi kita semua. Tidak ada yang tahu seperti apa masa depan. Pada akhirnya, tidak ada yang bisa memaksa.Tidak juga janji, atau kepercayaan.Sekalipun akumemilih untuk terus berharap, hatiku tetap takkan bisa dipaksa oleh apa pun, oleh siapa pun.”

 

Ucapanmu seperti hunusan pedang sekaligus obat penawar.Saat itu juga aku sadar kalau aku memang terlalu terpatok pada realita.Mungkin memang tidak ada salahnya bermimpi, berharap.Seringkali aku berpikir kalau kamu hanyalah gadis kekanakan yang hobinya jalan-jalan dan berkhayal.Namun detik itu juga semua hal yang selama ini kusimpulkan tentangmu jadi absurd.Tapiakhirnya, aku memilih untuk percaya.

 

*****

Aku mengembuskan napas panjang.Aku benci jika mengingat-ingat kejadian enam bulan lalu.Kejadian kejam yang membuatmu jadi begini.Kejadian yang telah mengubah Seo Janet-ku yang periang dan usil.

 

*****

“Kak, besok MamadanPapa akan pulang dari Amerika! Aku kangen sekali….”

 

Aku yang saat itu sedang menyeruput teh panas di rumahmu hanya mendengus.

 

“Kenapa?”

 

“Kamu over-acting.”

 

“Memangnya tidak boleh, ya, kalau aku senang sehabis ditinggal empat bulan?”

 

Hingga esok paginya, ada berita kalau pesawat yang ditumpangi orang tuamu jatuh di hutan yang ada di Jepang.Kamu sangat terkejut hingga tidak bisa menangis. Aku yang cemas akan keadaanmu hanya bisa mengulang kata ‘Sabar’. Dan ujung-ujungnya kamu marah karena beranggapan kalau aku tidak mengerti perasaanmu.

 

Dan sebenarnya, aku mengerti. Aku tahu saat seseorang berkata aku mengerti apa yang kamu rasakan itu memang sangat menyebalkan, tapi sungguh, aku benar-benar mengerti perasaanmu. Kamu sempat marah karena menganggapku terlalu ikut campur dan sok dewasa.Aku melakukan hal ini karena aku sangat menyayangimu, aku peduli padamu, aku berusaha memahamimu lebih dari yang kamu tahu.

 

“Jangan mengajariku!” selamu dengan segelintir amarah.

 

“…. Janet?”

 

Kamu memandangku sarkastik.“Memangnya kamu siapa?Guru?”

 

Aku menahan tanganmu yang mau melangkah pergi.

           

Kupikir kamu berbeda.Tahunya sama saja dengan orang-orang itu,” ucapmu lagi dengan nada dingin yang meninggi.


Aku melepaskan genggamanku.“Aku minta maaf.” Entah apa yang merasukiku, tapi aku selalu kehabiskan kata-kata.

 

“Pergilah, Kak.”

 

“Kamu bilang satu-satunya jalan menuju kebahagiaan itu dengan bermimpi.Kamu bisa kembali memulai mimpi kamu, Jane.Ini bukan akhir.Kamu masih bisa berjalan lebih jauh, lebih tinggi sampai semua impian kamu tercapai. Percayalah—“

 

“Dan aku sudah tidak butuh mimpi konyol itu lagi!” potongmu dengan sengit, matamu masih membara akan emosi.

 

Kamu berderap menjauhiku.Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri.Aku berpikir, apakah yang kukatakan tadi salah?Pelan tapi pasti, detak jantungku kembali normal.Mungkin saja hal ini adalah tombol terburuk yang pernah kutekan.Hal itu jelas terlihat dari reaksimu. Aku tidak bermaksud ikut campur urusan pribadimu—sama sekali tidak. Tapi, kita adalah sahabat dan sudah kewajibanku untuk mendukungmu, apa pun yang terjadi. Namun lagi-lagi, ada sesuatu yang harus kamu lewati sendirian.Dan yang lebih bodoh adalah, aku tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan kebahagiaan itu.Entah sejak kapan aku begitu menyedihkan, karena kamu juga terlihat menyedihkan.

 

Beberapa hari setelahnya kamu tidak pernah menghubungiku lagi, atau pun menemuiku.Kamu bahkan tidak pernah masuk sekolah.Kamu mengurung diri di kamar.Kamu tidak mau ke luar berhari-hari hingga membuatku dan keluargaku cemas. Aku sampai tertidur sambil bersandar di pintu, berharap kamu akan segera membukanya.

 

Esoknya keadaan masih sama. Aku semakin cemas karena tidak mendengar suara apa pun dari dalam. Hingga akhirnya Ayahkumendobrak pintu.Aku mencarimu di setiap sudut kamar dan alangkah terkejutnya aku saat melihatmu yang ternyata tengah berendam di kamar mandi dengan beberapa luka sayatan di pergelangan tangan.Pikiranku pecah karena kamu baru saja mencoba bunuh diri.Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, aku hanya berdoa.Wajahmu pucat pasi dan terus menggigil karena terlalu lama berendam di air dingin.Aku tidak tahu luka perpisahan bisa membuatmu begitu terpuruk, padahal kamu orang yang periang dan aku selalu yakin kalau kamu bisa melalui segala hal dengan pikiran positif.

 

Kamu dirawat beberapa hari di rumah sakit.Sejak saat itu keluargaku memperbolehkanmu tinggal di rumahku kapan pun yang kamu mau.Bahkan Papa sudah menyiapkan kamar untukmu jika sewaktu-waktu kamu kesepian dan butuh teman.

 

*****

Kamu tiba-tiba terbangun.Apa gerakan tanganku begitu mengganggumu?

 

Tatapanmu sayu namun dingin.Kamu kehilangan binar ceria yang seringkali membuat hariku semakin cerah.

 

“Kamu terganggu?” tanyaku.“Kalau iya, aku akan pergi.”

 

“Bahkan jika aku tidak berkata iya, apa kamu tetapakan meninggalkanku?”

 

Aku bergeming.Sejak orang tuamu meninggal, kamu jadi gadis pendiam dan dingin. Hobimu yang suka menjahiliku sekaligus menjadi moodboster bagiku, sekarang lenyap sudah.Menyisakan Seo Janet asing yang terlalu licin untuk digenggam. Aku sering berusaha, apa lagi yang harus kulakukan agar kamu bisa kembali menjadi Janet yang dulu? Kamu tahu betapa rindunya aku dengan rengekan menyebalkan atau bahkan tawa binalmu?

 

“Aku adalah sahabat yang buruk.Selama ini kamu pasti sangat kesepian, kan?”

 

“Kamu memang menyebalkan.”

 

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa supaya kamu tidak bersedih.”

 

“Aku sudah mendengar kalimat itu.Berhenti bicara dan pergilah.”Kamu berbalik badan, memunggungiku.

 

Aku menghela napas panjang.“Dan kalau aku minta maaf, semua akan jadi semakin menyebalkan, bukan?”

 

Punggungmu bergetar.Selama ini aku memahamimu sebagai gadis yang kompleks.Kamu bisa menjadi cewek independen dan terbang ke mana pun yang kamu mau.Namun, dalam seketika kamu bisa berubah menjadi gadis paling cengeng dan manja yang pernah kukenal.Tangisanmu seringkali memuakkan hingga rasanya ingin kusumpal mulutmu dengan kain lap.Namun sekarang, jika melihat matamu yang berkaca-kaca, sudah mampu membuat kepalaku seperti dipukul toya. Aku ingin menghapus air mata itu, namun aku yang bodoh ini hanya mampu memandangimu seperti gelandangan di ujung bukit sampah.

 

Kamu jadi tidak berambisi menjadi penyanyi atau sekedar menyanyi.Kamu simpan album-album itu dan membakar semua poster aktor kesukaanmu.Kamu lebih sering murung dan menangis.

 

“Kamu tahu, sepertinya aku mulai tertarik dengan musik.”Aku tersenyum saat melihatmu yang masih enggan merespons.

 

Punggungmu masih bergetar.Entah kamu sedang tertawa atau menangis.

 

“Jane? Kamu tidur lagi, ya?” tanyaku.

 

“Jika kamu mau menghiburku dengan pura-pura menyukai hobiku, berarti aku memang sangat menyedihkan.”

 

“Apa?”

 

“Jika ada yang rela menyukai sesuatu yang tidak disukainya demi kebahagiaan orang lain, itu berarti pihak yang tengah dibahagiakan sangatlah menjijikkan. Lebih menjijikkan daripada bangkai tikus.”

 

“Aku hanya—“

 

“Kamu selalu membuatku jadi semakin bodoh.Aku tidak pernah berharap apa pun darimu, jadi tolong, jangan membuatku kembali berharap.”

 

“Aku tidak pernah pura-pura.Aku peduli padamu, Jane.”

 

“Kenapa?”

 

“Karena kamu sahabatku.”Dan aku menyukaimu.

 

Mungkin aku tidak bisa mengatakannya.Di mana dan kapanperasaan itu dimulai, aku tidak ingat.Aku sering berpikir, apakah kamu juga punya perasaan yang sama denganku? Awalnya aku masih bingung, kupikir ini cuma bentuk sayang terhadap sahabat.Namun aku yakin kalau ini memang cinta.Aku selalu menyembunyikan suara detak jantungku karena takut kamu mendengarnya.

 

“Aku kangen Janet yang dulu.”

 

“Seseorang takkan bisa berubah demi orang lain.”

 

Aku langsung terdiam.

 

“Dan harusnya aku tidak perlu serakah dengan ingin mati dan melupakan segalanya.Karena sebenarnya aku tidak pernah sendirian, kan?”Kamu berbalik, menghadapku lagi.Matamu memerah dan ekor matamu basah.

 

Aku mendekatkan tubuku dan melingkarkan tanganku di pinggangmu.“Maaf karena aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa.”

 

“Tapi aku bahagia karena kamu ada di sini, Kak.Aku ingin ada seseorang yang memelukku, menghapus air mataku, dan bilang kalau semua sudah membaik.Selama ini aku menyakiti diriku sendiri dengan berlagak angkuh seakan benar-benar kuat. Tapi ternyata semua aktingku gagal. Aku masih tetap menangis, bahkan jika aku sudah berusaha menahannya.”

 

“Kamu adalah gadis yang tidak pernah takut tertawa ataupun menangis.”

 

“Kamu memang mengenalku, tapi kamu belum mengerti diriku sepenuhnya.”

 

“Kalau begitu, beritahu aku bagaimana dirimu yang sesungguhnya.”

 

“Pernahkah kamu merindukanku?Meskipun hanya sesaat?”

 

Kenapa aku masih tidak bisa menyampaikannya kepadamu?Kata-kata itu seakan meluap dan aku tahu mereka takkan pernah bisa menyentuhmu.Jika kamu ingin tahu, perasaanku tumbuh setiap hari seperti bunga.Di hari pertama kita bertemu, aku merasa seperti telah mengenalmu sejak lamadan kitajadi lebih dekat dengan sendirinya.

 

“Setiap detik aku memikirkanmu, Jane.”

 

Untuk sekian lama, akhirnya aku melihatmu tersenyum.Ada kehangatan yang seketika memenuhi rongga hatiku ketikamelihat senyummu yang yang khas.Seolah dalam senyum itu terselip ratusan kata maaf, layaknya matahari yang tak menyimpan memori ataupun dendam dan senantiasa memandikan Bumi dengan sinarnya.Kehangatan yang lahir tanpa pretensi.Tanpa perlu usaha.Pengampunan murni.

 

“Iya, itu sudah cukup.Aku jadi tahu untuk apa hatiku diciptakan.”

 

“Kamu sudah bisa bermimpi lagi?”

 

“Kalau aku, sih, pasti bisa.Kamu juga harus bermimpi juga.”

 

Aku menggeleng pelan.“Aku tidak butuh mimpi.Karena bagiku, mimpi bukanlah pilihan ataupuntakdir.”

 

“Kenapa bisa begitu?”

 

“Ada banyak hal yang tak mampu dijelaskan di dunia ini.Jumlahnya sama dengan banyaknya hal yang mampu dijelaskan.”

 

“Tahu darimana?”

 

“Hukum alam selalu imbang. Bukankah begitu katamu?”

 

“Lalu maumuapa?”

 

“Aku ingin menyayangimu melebihi apa pun dan melindungimu lebih dari siapapun.”

 

“….”

 

Aku dan kamu saling bertatapan dalam jarak tak lebih dari sepuluh senti.Kini, keheningan seakan memiliki jantung. Denyutnya terasasatu-satu, membawa apa yang tak terucap. Sejenak berayundi udara, lalu bagaikan gelombang air bisikan itu mengalir,sampai akhirnya berlabuh di hati.Aku lupa kapan mulai menyukai sinar rembulan di langit malam.Di mataku, keindahan malamtiba-tiba memperoleh saingan.

 

“Sebelumnya aku minta maaf. Aku sadar apa yang kulakukan selama ini sangat menyebalkan. Aku tahu kalian semua sedih, tapi aku malah membuatnya jadi semakin rumit.Terima kasih banyak sudah peduli padaku.”

 

“….”

 

“Sejak orang tuaku pergi, aku sering berpikir kalau aku dilahirkan bukan untuk dicintai atau mencintai, dibenci atau membenci, ditinggal atau meninggalkan… aku tidak pernah dilahirkan untuk apa pun.Aku menjadi sangat tidak berguna dan rendah.”

 

“Tuhan selalu menciptakan hal-hal yang bermanfaat, sekalipun benda yang dianggap paling tidak berguna dan rendah.”

 

Kamu tersenyum.Mungkin kamu sudah sering menanyakan hal itu pada dirimu sendiri?Maka dari itu, aku akanmembuatmu pantas untuk dicintai. Yang diperlukan hanyalah waktu untuk mengembalikan semua yang sempat hilang.Kamu selalu menyadari apa adanya kamu, apa adanya aku, apa adanya dunia ini. Aku sadar betul, kamu sangatlah istimewa karena kamu berbeda dengan gadis lain. Kamu bahkan belum genap 19 tahun, namun kamu bertingkah seolah sudah tahu apa itu dunia, siapa yang menciptakan dunia, kapan dunia tercipta, dan bagaimana dunia itu hancur. Meskipun kamu lebih muda setahun dariku, tapi aku beranggapan kalau kamu bisa lebih cerdas.

 

Kebekuan dan kebisuan runtuh sudah.Meski segalanya tampak mendung dan murung, sesuatu berhasil mencair di antara aku dan kamu.Kejujuran.Dan seolah bergerak bersamaan, langit pun mulai menampakkan banyak bintang.Apa yang lama tak terungkap akhirnya pecah, meretas, dan Bumi melebur bersamanya.

 

“Tapi aku benar-benar ingin belajar musik.Kamu bisa mengajariku, nanti kita beli album sama-sama,” ujarku.

 

Kamutidak menjawab.Hanya seutas senyum hangat yang terus mengembang.Sorot matamu jernih bagai mata air.Tak ada dendam.Tak ada kesedihan.Tak ada yang dimaafkan.Akhirnya, aku dapat harapan yang sebelumnya takut kuraih.

 

“Dan Jane?”

 

“Hm?”

 

Aku meraih tanganmu dan mengecup kelima jemarimu satu per satu.“Aku selalu berdoa supaya kamu bisa kembali menjadi Jane yang dulu.Tapi, tenang saja, tidak usah buru-buru, kita jalani perlahan mulai awal.Aku berdoa agar kamu tidak murung lagi, dan aku juga berdoa—“

 

“Kenapa kamu lebih memilih berdoa?”

 

Secerah hatiku mendadak merekah, dan terus-menerus mengembang seolah tiada tepi.Pandanganku kembali tak terhalang.Aku semakin mendekat dan mengecup cuping hidungmu.Aku mungkin takkan pernah sanggup mengatakan kalau aku mencintaimu, namun aku yakin kalau bahasa takkan bisa jadi sarana untuk menyampaikan perasaan terdalam.Dan sepanjang ingatanku, malam di pertengahan bulan Juli tak pernah sehangat ini.

 

“Karena doaku tingginya melebihi harapan.”

.

.

.

.

.

_Fin_

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

11 thoughts on “[Love Is Moment] Gido and Gidae

  1. Halo rijiyo-nim 😍

    Aku suka pov yang dipake di taeyong karena kesannya ‘secret admirer’ gitu, he is there but his love’s unseen, semacem gituuuuu gentle pokoknya!

    Konflik juga nyaman dibaca (dikata sofa /eh/)

    Aku nungguin adegan kissing masa di ending 🙈🙈 but yeah, that’s sweet!

    Liked by 1 person

    1. Halo kak Nodat riseuki ❤ ❤ Makasih sudah baca & komen kak 😀 Btw apa itu "-nim"?? Rasa-rasanya panggilan itu terlalu tinggi buat author amatir kayak aku xD But, maaf atas spasinya yg mengganggu ya kak 😥 Gk tau kenapa jadinya malah kayak gitu :')

      Like

      1. Haha iya spasi ada beberapa yang nyambung, but yah karena lagi fokus sama taeyong jd ga gitu ganggu sih 🤔 intinya mah I need somebody like him beside me lah cerita ini kalo dibawa ke nyata wkwk (bukan curhat, pls)

        Liked by 1 person

      2. Mungkin kesalahanku yg pake Ms. word 2010 jadinya pas dicopy ke wordpress jadinya amburadul :’v Aku takut yg baca jadi gk nyaman, tapi makasih kalau kakak gk begitu keganggu karena terkontaminasi /? sama mas Tiway ❤ ❤ ❤

        Like

  2. HAAIII RIJIYO . kenalkan aku nada/yasmin terserah mau panggil yang manaaa heheeh.
    Ini tuh feelnya dapet semua dari sedih, cute, sampe manis nyaaa uuugghh kereeennn. Ngalir ajaa gitu dan justru itu bkin aku lumer gatau kenapaaa wkwkwk. Sebenernya ceritanya klasik sih, tapi pembawaanmu lembut banget dan rasanya nagiiih pen mbaca ehheeheh💕💕💕
    Keren lah pkoknyaaa, untuk urusan teknis sih bisa dipelajari lagi yaaa. Semangaaat kamu mwaahh😚💕💕

    Liked by 1 person

    1. Hai kak Yasmin/Nada xD Pertama-tama makasih sudah baca & komen 😀 Sebenernya agak malu, soalnya enggak tau kenapa ff-ku jadi berantakan gini pas dipublish :’) Tapi ya syudahlah yang penting Jiyo bersyukur soalnya masih ada yg mau baca ❤ ❤ ❤

      Liked by 1 person

  3. Hai KakJi, diriku datang, hehe
    Hmm gimana ya, kalo tulisan di word gak cuma 2007, 2010, 2013 juga kayak gitu. Spasinya suka pindah, typoku juga kadang2 karena masalah begituan. Belum kalo wordpressnya lg ngadat #malahcurhat
    jadi, mas tiwai ini gimana ya, krn dia terlalu terpaku sama realita jadi kesannya kayak orang yg dingin dan jahat, tapi sebenarnya hangat. Dan janet, ya ampun pliss, kamu jangan delusi mulu net, ntar jatuhnya sakit net. Kayak amel nih, delusi mulu, ngimpi ke penkoper eh tahunya masih di sini aja, atau jangan2 kamu ketularan kakji ya net, wkwkwkw
    eh, net jadi kayak salah satu channel ya, tp aku lebih suka panggilan itu sih, hehe
    ya udah net, udahhan mimpi nikah sama oppa. Punya mas tiwai malah dianggurin, ntar disosor orang, lho.
    Ya udah, dripada komenan unfaedahku jd nyampah, udahan aja, dadahhh kakJi XD

    Liked by 1 person

    1. Hai Amel 😀 Ya ampun aku malu beneran kamu mampir karena di sini tulisanku amburadul banget ya allah 😥 Saking malunya sampe aku pos ulang di blog biar (jika ada yg baca) matanya gk puyeng :’) Iya nih, mungkin juga kesalahanku pake ms. 2010, karena siapa tahu kakak admin pake ms. 2007, tapi ya sudahlah xD

      Enggak Mel, komen apa pun dari Amel selalu berfaedah dan bikin Jiyo jadi punya hidayah biar semangat bikin ff lagi HAHAHA //ngomong apa -_-// Tapi cius makasih banget loh udah nyempetin komen, aku bahkan malu banget sama ff-ku yg ini :’) Sebenernya mau booking Jaehyun, tapi udah kamu booking duluan pas itu -_-” //lalu asah golok//GAK

      Liked by 1 person

      1. Pacarku kamu rebut, pas itu langsung frustrasi masa xD Akhirnya ngembat pacarnya mbalel aja //dikeplak// Kan lumayan Taeyong fanficable, dijadiin cool tapi warm heart wkwkwkwk

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s