AU · FF Project · Genre · Giveaway Project · Length · PG · Rating · Spicy · Vignette

[Love Is Moment] Levon Foe Gap


Angelina Triaf ©2017 Present

Levon Foe Gap

Luhan with OC | AU | PG | Vignette

Using Spicy theme for alternative universe story.

0o0

 

Paris adalah kota cinta, begitu orang-orang ramai menuturkan. Keindahan kota tersebut sudah tersohor, membuat tiap pasang telinga yang mendengar kisah para petualang cinta ikut terkagum. Tak terkecuali Luhan, yang kini tengah asyik membaca koran pagi ditemani secangkir kopi, ia rela mengambil cuti beberapa hari demi menemani sang kekasih hati. Pintar sekali mengambil meja di bagian luar restoran agar lebih mudah menghirup udara segar.

 

Mon Paul jadi salah satu restoran dalam daftar tempat yang harus dikunjungi. Tunangannya bilang kopi di sana sangat nikmat, apalagi jika dibarengi dengan sepotong pai apel hangat langsung dari pemanggang. Benar sekali, Luhan dengan sabar membunuh waktu membaca koran berbahasa Prancis yang ia sama sekali tak mengerti demi sepotong pai.

 

Restoran ini beralamat di 15 Place Dauphine, terletak di Île de la Cité yang merupakan salah satu dari dua pulau alami di tengah Seine. Tempat yang amat cantik, mengingat kota abad pertengahan kembali didirikan di sini. Arsitektur tiap bangunan sungguh memikat mata para turis asing seperti Luhan. Bahkan sebelum datang ke Mon Paul, Luhan telah lebih dulu berjalan-jalan menikmati pemandangan di seputaran taman pinggir sungai.

 

Ponsel di atas meja bergetar halus, membuat Luhan mengalihkan fokus sejenak demi menjawab panggilan tersebut. Begitu ia lihat nama si cantik muncul, senyumannya yang kata orang sangat memikat hati terpatri otomatis tanpa bisa dikendalikan.

 

“Ya? Masih di toko parfum? Baiklah, toh pai apelku juga belum datang. Iya, sayang, sampai nanti.”

 

Panggilan berakhir, hampir bersamaan dengan kedatangan seorang pelayan yang telah dinanti-nanti. Wajahnya khas Prancis, Luhan menerka kalau ia berusia 30-an dengan papan nama ‘Louis’ terpampang di seragamnya.

 

Setelah mengucapkan terima kasih dalam bahasa Prancis―hanya itu yang Luhan ketahui, sang pelayan pergi dan saat yang Luhan tunggu pun tiba. Kembali meneguk kopi sedikit, Luhan mengambil garpu dan mulai memasukkan potongan kecil kue manis itu ke dalam mulutnya.

 

Luhan akan melupakan segalanya jika telah larut dalam rasa manis yang memanjakan lidah. Ia mungkin juga tak menyadari tatapan beberapa gadis Prancis yang lewat di trotoar, menilik kagum pada pria brunette bermata hazel yang sedikit sipit.

 

Masih sambil menikmati sarapannya, Luhan memikirkan hal-hal random dalam kepala. Tentang kemungkinan ia akan membuka cabang perusahaan di Paris, atau malah memindahkan kantor utamanya di Beijing ke sini?

 

Karena, sungguh, setelah dengan sang jelita bermata biru yang sebentar lagi ia nikahi, Luhan kembali dibuat jatuh cinta oleh si cantik Paris yang memesona.

 

0o0

 

Gadis blonde selalu memiliki tempatnya tersendiri di Paris, begitu pula L’Artisan Parfumeur yang dengan senang hati menerima Milan dengan senyuman ramah dari tiap pegawai sejak langkah pertamanya menjejaki toko.

 

Seorang pria menghampirinya, memberi salam dalam bahasa Prancis dilanjutkan obrolan berbahasa Inggris karena ia tahu bahwa Milan adalah seorang pendatang. “Ada yang bisa saya bantu, Nona?”

 

“O, aku mencari sebuah parfum yang cocok untuk tunanganku.”

 

“Wah, untuk seorang pria beruntung?” canda si pegawai, memancing tawa Milan sejenak. “Sebelah sini, Nona.”

 

Milan pun mengikutinya sembari mata melihat-lihat parfum yang dipajang. Ada berbagai jenis dengan aroma dan fungsi yang berbeda. Ia dibawa ke bagian parfum untuk pria, omong-omong. Sang pegawai yang ber-name-tag ‘Archer’ mempersilakan Milan duduk lalu mengeluarkan beberapa jenis parfum dari konter katalog.

 

“Kami selalu memberikan parfum pada pelanggan dengan aroma yang cocok dengan image mereka.” Archer kembali membuka percakapan. “Kalau boleh tahu, seperti apa kiranya tunangan Nona? Atau mungkinkah ia memiliki selera khusus untuk parfum?”

 

Jemari Milan mengetuk meja kaca teratur, tanda bahwa ia sedang berpikir. Pandangannya menerawang ke arah cermin yang menggantung di dinding, memantulkan wajah cantik bermata biru dengan bingkai rambut bergelombang yang indah.

 

“Dia orang Asia. Kautahu ‘kan, kulit putih dan mata agak kecil, yang seperti itu. Irisnya cokelat hampir hitam, dengan rambut senada. Ia seorang eksekutif muda akhir 20-an, dan kurasa ia tak memiliki selera pribadi dalam parfum. Maksudku, selama aromanya enak, ia akan memakainya.”

 

Butuh waktu beberapa detik bagi Archer untuk mencerna deskripsi yang Milan utarakan. Sampai akhirnya ia mengangguk-angguk singkat, menyeleksi dua botol parfum lalu diberikan pada Milan. “Lalu bagaimana dengan Nona sendiri? Menurut Nona, apakah ia lebih cocok dalam aroma yang fresh atau oriental?”

 

Sebuah pertanyaan yang cukup membingungkan, karena jujur saja Milan tak ahli menentukan hal semacam itu. Si tampan Archer, yang ternyata seorang British, meminta Milan untuk mencoba kedua parfum yang ia berikan. Salah satunya menarik perhatian Milan.

 

“Aku suka yang warna biru itu.”

 

“Pilihan bagus, Nona.” ujarnya, kembali menaruh dua botol parfum tersebut di dalam konter lalu mengambil kotak parfum baru di belakang rak. “Ini namanya Bucoliques de Provence, kupikir aromanya yang fresh akan cocok dengan kekasih Anda. Orang Asia tak selamanya cocok dengan wewangian oriental, ‘kan?”

 

“Betul sekali,” lagi-lagi Milan tertawa, mengambil dompetnya dari dalam tas. “Aku akan ambil yang itu.”

 

“Baiklah, silakan menunggu sebentar di bagian kasir.”

 

Selama proses pembayaran, Milan tanpa sengaja melihat sebuah nama parfum wanita yang unik. Penasaran, ia iseng bertanya kepada wanita penjaga kasir yang tengah melayaninya. “Permisi, parfum itu yang namanya panjang dan unik, aromanya seperti apa, ya?”

 

Si pegawai melihat arah tunjukan Milan. Ia memasang senyuman yang memiliki arti di dalamnya. “O, itu namanya La Chasse Aux Papillons Extrême, memiliki aroma floral dan merupakan salah satu parfum best seller kami, Nona.”

 

Seperti ia pernah mendengar nama itu ….

 

“Ini parfum Anda, Nona.”

 

Sontak lamunan Milan lenyap, digantikan oleh senyuman Archer yang telah memegang kantung berisikan parfum yang ia beli.

 

“O, terima kasih.”

 

Milan pamit kepada para pegawai, menandai L’Artisan Parfumeur sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika seseorang datang ke Paris.

 

Kadang-kadang, indra penciuman bisa membuat seseorang mengingat suatu hal dengan akurat, bahkan lebih akurat daripada penglihatan; itulah satu hal yang selalu Milan percayai selama ini, sehingga parfumlah yang membuat ia jatuh cinta untuk kedua kalinya setelah dengan si pria Asia berambut cokelat yang akan segera menikahinya.

 

0o0

 

“Luhan, Papillons Extrême?”

 

Hampir saja Luhan tersedak begitu mendengar suara lembut yang tak asing lagi di telinganya. Gadis pirang yang mengenakan rok midi berwana biru dengan atasan sleeveless putih itu tertawa kecil melihat wajah Luhan yang kaget, ikut duduk di sampingnya yang telah selesai menghabiskan satu potong besar pai apel.

 

“Sayang, hampir saja aku jantungan.”

 

“Jelaskan dulu mengapa harus Papillons Extrême―”

 

“La Chasse Aux Papillons Extrême, sayang.”

 

Si jelita memutar bola mata, jengah dengan sikap perfeksionis Luhan yang kambuh tidak pada tempatnya. “Ya, ya, bahkan gadis-gadis Paris pun selalu menyingkat nama tersebut. Jadi, kenapa harus itu?”

 

Luhan menghabiskan tegukan terakhir kopinya yang telah mendingin, menatap lekat tepat di kedua mata biru itu lalu berucap, “Entah? Aku tak sengaja melihat Milan menanyakan parfum itu pada pegawai toko, maka aku penasaran dan pergi melihatnya langsung kemarin. Benar, aroma floral-nya sangat khas, risetmu 100% akurat.”

 

Walaupun diberikan dua jempol oleh Luhan, tetap saja ia tak habis pikir dengan apa yang telah kekasihnya itu lakukan hari ini.

 

“Biar kuluruskan, Tuan Luhan. Kau menyuruhku bangun pagi-pagi, meminta rekomendasi restoran untuk sarapan dan membuatku pergi ke L’Artisan Parfumeur mengambil ‘kado’ darimu hanya karena melihat Milan melakukannya?”

 

“Benar sekali!” spontan Luhan, hampir berteriak kegirangan. “Milan Russell adalah alter ego dari Carlotta Angel, ‘kan? Jadi, apa pun yang Milan lakukan, harus juga dirimu lakukan di kehidupan nyata.”

 

“Astaga, kukira aku salah karena telah bertunangan dengan pria penuh delusi sepertimu.”

 

Penuh delusi dan cinta, itulah Luhan. Fantasi tentang pasangan hidup sempurna dalam novel tertuang sepenuhnya dalam pribadi Luhan, dan Calotta menyukainya―meski lebih banyak hal menyebalkannya, tapi tak masalah.

 

“Ayo coba parfumnya, aku ingin menciummu.”

 

“Apa?”

 

“Mencium aroma parfum darimu.”

 

Juga kekonyolan dan gairah yang tidak tertolong, jangan lupakan hal itu.

 

Carlotta sibuk membuka kotak parfumnya, memberikan waktu bagi Luhan untuk memikirkan sesuatu yang lewat begitu saja di dalam kepala. “Mau jalan-jalan dulu sebelum pulang? Kalau tidak salah Milan dan Baekhyun juga mengunjungi Notre Dame di timur Île de la Cité,” tawar Luhan akhirnya.

 

Wow, sejak kapan Tuan Eksekutif kesayanganku ini gemar membaca novel?” tanya Carlotta, lebih tepatnya beretoris.

 

“Sejak aku bertunangan dengan seorang novelis, terlebih lagi ia sangat cantik seperti model.”

 

Wajah Luhan yang menyebalkan mau tak mau membuat Carlotta memukulnya dengan kotak parfum kosong. Aroma floral yang menguar di udara menemani candaan mereka sampai matahari terus meninggi hari.

 

Paris adalah kota cinta, kali ini Luhan sendiri yang menuturkannya.

 

Ah … sepertinya salah.

 

Kota apa pun itu, selama ada Carlotta beserta pasangan fiksional Milan-Baekhyun buatannya di sana, pasti akan Luhan sebut sebagai kota cinta. Penuh romansa juga keindahan.

 

FIN

 

*Levon Foe Gap = Page of Novel

*Inspired by ending scene of Me before You.

Advertisements

7 thoughts on “[Love Is Moment] Levon Foe Gap

  1. Halo angel~~

    Pas baca kata ‘alter ego’ aku mulai mikir kemana mana tentang luhan, tapi ternyata dia masih ‘normal’ wkwk, eh, iya kan? 🙈

    Sukak story yg pake study setting dulu, nicee as usual, keep writimg!

    Like

    1. thanks for reading^^ halo juga kak 😀 wahaha iya dong normal hehe dia selalu normal kok dan ngangenin /terus curhat :’)/ iya kalo ga pake riset nanti bingung jabarin latarnya hehe. makasih udah mampir kak ❤

      Like

  2. Hello Angelina! we met again lmao. Well, I thought luhan lagi nyuruh pacarnya buat stalking org lain :”) Dan ternyata luhan lagi tergila-gila dg pasangan fiksional buatan pacarnya sendiri. Manis banget. I like it 😉

    Like

  3. Wahhh kanjel, aku tadinya bingung lho, kirain si Milan itu tunangannya Luhan. Lha, di akhir kok malah jadi gitu, kirain Luhan punya selingkuhan, atau punya obsesi aneh. eh, tapi dia emang punya obsesi aneh sih sebenarnya, kayak ottaku banget sampe nyuruh pacarnya buat gitu. Dan ya, paris emang kota cinta buat sebagian orang. Kalo kota cintaku mah di vancouver, wkwkwkwkwkwk //dibuang

    Miss you Kanjelku yg unchhhhh ❤

    Like

    1. thanks for reading^^ waa ada dd amel ke mana aja kamu ih kangen u.u iya ini sudut pandangnya ada dua. nda kok luhannya biasa aja cuma menurut dia kayak lucu aja kalo charlotta juga ngelakuin apa yang tokoh fiksionalnya lakuin hehe. halah vancouver, besok mark mau pindah ke santorini jualan cireng xD makasih udah berkunjung dd amelqu yang unch ❤

      Liked by 1 person

      1. buset dah, kenapa mesti jualan cireng sih, ntar takutnya dia dipalakin mulu sama anak sekolah dg wajahnya yg unyu nan aegi-cheoreom itu, wkwkwkwkwkw

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s