Bitter · Comfort · Genre · Giveaway Project · Hurt · Length · Moment · One Shoot

[Love Is Moment] She’s a Baby


She’s a Baby

 a story by ts_sora

 BlockB’s Zico | AOA’s Seolhyun

 Bitter:

Hurt, Comfort

 Oneshoot

p.s.

 “This fanfiction is dedicated for the 1st MNJ’s Giveaway Project”

.

 .

 .

 

Zico berusaha menekan doorbell di depannya dengan hati-hati. Takut jika kini kantung kertas penuh yang hampir menutupi keseluruhan wajahnya jatuh berhamburan. Satu kali percobaan, namun sang pemilik flat sepertinya tak menghiraukannya.

Dua kali percobaan.

Tiga kali percobaan.

“Ah, tunggu sebentar!” pekik seorang gadis di dalam flat dengan begitu kencang yang lantas membuat Zico tertawa geli. Ia tahu, gadis itu kini tengah  kesal karena ketidaksabarannya.

Dan benar saja, Kim Seolhyun yang kini baru saja membuka pintu, menatapnya dengan kesal namun sedetik kemudian ia melembut—sadar dengan barang bawaaan yang pria itu bawa dengan kedua tangannya.

“Oh ya Tuhan, aku hanya memintamu untuk membeli sebotol saos tomat dan beberapa buah keju,” ujarnya yang lantas membantu pria tersebut membawa kantung kertas miliknya. Namun pria itu menolaknya tentu dengan lembut.

“Aku hanya membeli satu buah spaghetti instan, beberapa tomat dan beberapa buah bawang bombay.”

“Pembohong. Lalu bagaimana dengan sebotol wine ini?” tanya Seolhyun memberengut seraya mengangkat sebuah wine mahal dari kantung kertas yang pria itu letakkan beberapa menit yang lalu. Zico, pria itu, yang kini telah meletakkan mantel miliknya hanya bergumam. Ia kalah.

Spaghetti bagusnya ditemani sebotol wine,” balas pria itu santai. “Oh bau apa ini?” tanyanya saat sebuah bebauan menyapa hidungnya. Kim Seolhyun mengumpat sebelum ia lantas berlari menuju stove dan mematikan api di sana.

“Percobaan kedua gagal. Bagus sekali.”

Zico cepat-cepat berlari ke arah pantri. Dan benar saja, saus spaghetti yang tengah dibuat oleh gadis itu hangus. Kim Seolhyun menatapnya sedih, dan ia tahu gadis itu tengah menahan tangisnya saat ini—sama seperti biasanya.

Jadi cepat-cepat Zico mengangkat penggorengan yang berisi saos hangus itu ke dalam wastafel dan membasuhnya dengan air yang mengalir. Sedangkan Seolhyun menatapnya dengan pasrah. Zico yang tak sampai hati, lantas tersenyum. Berusaha membuat keadaan baik-baik saja. Diraihnya puncak kepala gadis itu dan mengusapnya lembut, berusaha menghilangkan wajah sedih gadis di hadapannya tersebut sebelum beranjak menuju dimana kantung kertasnya berada.

“That’s why I brought another ‘plan’,” ujarnya yang meraih beberapa buah spaghetti instan juga beberapa bahan lainnya dari kantung kertasnya yang lantas membuat Seolhyun mulai tersenyum kembali.

“Tunggu sebentar,” ujar Seolhyun kali ini yang beranjak menuju kamarnya. Ia lantas keluar dari sana beberapa menit kemudian, dengan sesuatu di balik punggungnya. Tak lupa sebuah senyum jahil yang kini terpampang jelas di wajahnya. Dan Zico tahu, bahwa gadis itu sedang merencanakan sesuatu—Zico terlalu hafal dengan hal itu.

“Kau harus memakai ini.” Seolhyun memperlihatkan sebuah apron bewarna merah jambu dari balik punggungnya seraya menyunggingkan senyum termanis yang ia miliki. Sedangkan Zico, menatapnya dengan pandangan datar dan berlalu begitu saja.

“Tidak mau,” ujarnya datar yang lantas menyiapkan beberapa bahan. Namun bukan Seolhyun jika ia harus menyerah begitu saja.

“Kau harus memakainya!”

“Tidak.”

Seolhyun memberengut. Dilihatnya Zico yang kini telah siap dengan beberapa bahan yang akan ia masak. Nampaknya pria itu lebih siap daripada dirinya. Dan ah, mungkin saja pria itu lebih berpengalaman daripada dirinya yang hanya belajar melalui beberapa artikel yang Choa berikan padanya.

“Tidak mau tahu, kau harus memakainya oppa!” ujar gadis itu bersungut dan bersiap untuk mengerang Zico dengan apron pada kedua tangannya. Seolhyun tersenyum jahil dan Zico tahu Seolhyun akan memaksa dirinya untuk mengenakan apron tersebut.

Benar saja Seolhyun berusaha memakaikan apron tersebut padanya, namun Zico tak gentar. Ia berusaha menghalang-halangi usaha gadis di hadapannya tersebut. Seolhyun yang mulai kesal, berusaha lebih keras membuat Zico yang menghalanginya tersenyum jahil.

“Sudah kubilang kau tidak bisa memaksaku,” ujar Zico menahan kedua tangan Seolhyun ke atas, dengan senyum kemenangannya. Namun senyum di wajahnya seketika luntur saat matanya tertuju pada beberapa jemari gadis tersebut yang terluka.

Ia tak tahu mengapa Seolhyun begitu berusaha untuk memasak meski ia tahu bahkan gadis itu tak pernah pergi ke dapur seumur hidupnya. Seolhyun bahkan bukan tipe gadis yang bisa menghafal belasan atau puluhan nama bumbu di dapur. Bahkan Zico yakin gadis itu tak bisa memegang sebuah pisau dengan baik.

“Dua. Tiga!” Seolhyun yang berhasil menarik kedua tangannya kembali lantas  menyerang pria di hadapannya cepat dengan apron di kedua tangannya. Zico yang tanpa pertahanan membuatnya hampir terjatuh ke belakang dengan Seolhyun bertumpu padanya. Beruntung pantri di belakang tubuh Zico membantunya untuk menjaga keseimbangan—membuat Seolhyun selamat di atas tubuhnya.

Seolhyun tanpa sadar memeluk tubuh pria di hadapannya, sedangkan pria itu sendiri memeluknya dengan sebelah tangannya. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya Seolhyun beranjak dari tempatnya dan pria itu melepaskan pelukannya.

U-uhm, a-aku—” ujar gadis itu mulai membuka suara sedangkan kedua pipinya yang kini bersemu. Zico tersenyum tipis, meski ia tahu ia menahan napasnya saat tubuh keduanya begitu dekat. Bahkan ia dapat mendengar degup jantung mereka yang berseru satu sama lain. Degup yang sama saat pertama kali mereka bertemu—hingga saat ini.

“Oh, kukira aku harus mulai memotong tomat juga bawangnya,” ujar gadis itu sekali lagi yang kali ini berlalu demi mengambil beberapa buah tomat juga bawang bombay, hendak memotongnya. Namun Zico lebih cepat menarik pisau dari tangannya, membuat gadis itu terkesiap.

“Ada apa?” tanya Seolhyun yang tak lantas pria itu jawab. Dengan lembut, ia lantas menarik Seolhyun menuju meja makan dan mendudukannya pada salah satu bangku di sana. Zico lalu mengambil sekotak P3K dari laci dapur sebelum dirinya lantas duduk tepat di seberang gadis tersebut.

Wow, aku tak pernah mengira bahwa kau masih ingat aku selalu meletakkannya di laci dapur,” ujar gadis itu kagum saat Zico meraih tangannya dan ia membiarkannya. Sedangkan Zico menatap beberapa luka pada jemari gadis itu dengan seksama, mengoleskan beberapa tetes iodin dan merekatkan plester di sana—satu persatu.

“Kau tahu seberapa cerobohnya dirimu?”

Seolhyun mengulum senyumnya saat pria itu mulai membuka suaranya saat ini. Ia tahu, pria itu marah padanya. Ya, akan selalu seperti itu.

“Sudah kubilang jauhi benda-benda tajam. Kau itu ceroboh, kau bisa melukai dirimu kapan saja.”

“Baik, appa,” balas gadis itu kini menahan tawanya saat dirinya lebih memilih untuk memanggil pria itu dengan sebutan ‘appa’. Namun kiranya Zico masih geram. Ia menatap gadis di hadapannya dengan tatapan tak terbaca, membuat Seolhyun kini terdiam.

Seolhyun menarik lembut tangannya dari genggaman pria di hadapannya tersebut tanpa mengatakan apapun. Pria itu pun memilih untuk terdiam.

“Aku hanya ingin belajar memasak. Paling tidak, aku ingin memasakkan sesuatu untuk seseorang,” ujarnya terdengar lirih namun percayalah Zico dapat mendengarnya dengan begitu baik. Bahkan saat Seolhyun membuang napasnya samar, Zico dapat mengetahuinya.

“Baiklah.”

Zico beranjak dari tempatnya sebelum ia lantas mengenakan apron merah jambu yang Seolhyun berikan padanya dan berjalan menuju dapur. Sedangkan Seolhyun terkekeh pelan sebelum ia lantas ikut beranjak, namun pria itu menahannya.

“Kau bisa istirahat sekarang. Biar aku yang membuatnya.”

“T-tapi—”

“Kalau begitu, kau bisa menata piringnya.”

“But oppa

 “I don’t want to see you hurt yourself again, Seolhyun. Just wait for me,” ujar pria itu akhirnya sebelum ia lantas mengembangkan senyumnya. Seolhyun tak memiliki pilihan lain. Ia lantas mengangguk Dan kembali duduk.

Zico meletakkan sehelai selimut dengan hati-hati pada tubuh Seolhyun yang kini tertidur pulas di atas bangku meja makan. Ia lantas tertawa pelan saat gadis itu menggeliat pelan.

Oh benar, nyatanya gadis itu kelelahan atas beberapa percobaan gagal yang ia lakukan hanya demi membuat dua sajian spaghetti. Seolhyun memang tak pernah suka memasak. Ia bahkan gadis yang tak suka menghabiskan waktunya di dapur. Namun siapa sangka, hari ini gadis tersebut merelakan jemari indahnya hanya untuk memasakan sesuatu untuk seseorang.

Zico yang baru saja membuang tubuhnya pada bangku tepat di  seberang gadis itu lantas tersenyum memandangi sosok yang masih pulas dalam tidurnya. Ya, akan selalu seperti ini. Saat gadis itu tertidur, ia akan berada sedekat ini—hanya untuk memandanginya yang terlihat begitu damai. Ia berani melakukan apa saja hanya untuk melindungi gadis itu agar tetap terjaga dalam tidurnya. Ia juga tak akan membiarkan siapapun untuk menyentuhnya saat ia terjaga—bahkan sehelai rambut pun.

Kim Seolhyun bukanlah gadis biasa. Gadis yang begitu ceroboh dalam melakukan sesuatu, meski dirinya sudah dapat dikatakan cukup dewasa untuk melakukan apapun yang ia mau. Gadis yang akan tetap melakukan sesuatu yang bahkan tanpa sadar akan melukai dirinya. Dan saat itu, ia sadar, bahwa gadis itu memang membutuhkan seseorang untuk selalu berada di sisinya—melindunginya.

Entah bagaimana ia menjadi seperti ini. Namun yang begitu ia ingat, adalah saat gadis itu datang dalam hidupnya. Saat sosok rapuh itu datang dan merubah segalanya. Merubah dirinya yang lantas maju sebagai sosok pelindung bagi gadis tersebut. Yang bahkan rela memberikan segalanya hanya untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

 

Because she’s such a baby. And she’s special by her own way.

 

Bahkan jika dia bukan apa-apa, ia tidak peduli akan hal itu. Ia tetap bersedia menjadi pelindung bagi gadis itu. Bila saat semua terasa berat untuknya, atau bahkan jika seakan dunia tak berpihak padanya, Zico telah berjanji, gadis itu dapat menemuinya kapanpun jika ia mau.

Ini pertama kalinya, untuknya. Menjadi seseorang begitu protective. Menjadi seseorang begitu peduli. Menjadi seseorang yang begitu picisan. Karena gadis itu begitu spesial, dan ia harus mengakui hal itu.

“Dan kau harus mengakuinya, Seolhyun ah,” ujarnya cukup lirih diselingi senyumnya yang tak pernah hilang dari wajahnya. Perlahan namun pasti ia meraih jemari Seolhyun yang tengah berada di atas meja. Ia mengembangkan senyumnya saat Seolhyun perlahan namun pasti menggenggam ibu jarinya lembut—which smells like peach, is his favorite. Seolhyun selalu melakukannya tanpa sadar saat ia tertidur.

Namun sayang beberapa menit kemudian sebuah bunyi dari doorbell flat milik Seolhyun berbunyi. Cepat-cepat Zico menarik tangannya dan dengan mata yang terasa berat, Seolhyun mulai terbangun.

“Kyung oppa datang!” pekik gadis itu yang dalam seketika ia kantuknya hilang. Ia mengembangkan senyumnya saat Zico hanya tersenyum tipis menatapnya, sebelum lantas beranjak menuju pintu dan membukanya lebar-lebar.

“Oh hi” ujar pria yang baru saja memasuki flat tergantung kala Seolhyun memeluknya erat-erat. Ia terkekeh pelan sebelum lantas mengusap puncak kepala Seolhyun dengan sayang.

“Oh hi, Jiho. Kau berada di sini rupanya?” ujarnya yang hanya dibalas kedikan bahu milik Zico.

“Oh iya, Jiho oppa membuatkan—”

“Seolhyun membuat spaghetti terenak di dunia, Kyung. Kau harus mencobanya,” ujar Zico cepat-cepat memotong apa yang akan diucapkan Seolhyun. Gadis itu terdiam, namun Zico cepat-cepat mengerlingkan sebelah matanya.

“Oh benarkah? Jadi, kau sudah bisa memasak?” tanya Kyung yang lantas menarik gadis tersebut dan mengecup salah satu pipinya lembut membuat Seolhyun tersenyum kikuk saat Zico menatapnya dengan tatapan tak terbaca seperti biasa di balik senyumnya.

“B-begitulah, oppa. Jiho oppa banyak membantuku.” Seolhyun menatap Zico yang kali ini mengangguk-anggukkan kepalanya. Nyatanya kini ia harus ikut dalam rencana Zico.

“Baiklah, kalau begitu kita harus makan malam bertiga sekarang.”

Nah. I’ve just had my dinner when Seolhyun fell asleep, right Seolhyun ah?” tanya Zico sekali lagi yang membuat Seolhyun bungkam meski sedetik kemudian ia lantas menganggukkan kepalanya.

“Ini malam kalian. You guys should have a romantic dinner just both of you,” tambah Zico kali ini beranjak dari bangkunya. Senyumnya sama sekali tak berubah. Ia lantas mengangguk pada Seolhyun mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja.

Zico meraih mantelnya sebelum ia lantas berjalan menuju Park Kyung yang berada tak jauh dari pintu. Ia terlihat menarik napasnya dalam-dalam.

 “She’s a baby. Don’t ever leave her alone,” ujarnya cukup lirih namun Park Kyung dapat mendengarnya dengan begitu jelas. Pria itu lantas mengangguk pasti membuat Zico puas atasnya.

“Okay, enjoy the night, guys,” ujar Zico mengakhiri sebelum akhirnya ia benar-benar berjalan keluar dan menutup pintu yang berada tepat di belakangnya.

Zico menarik napasnya dalam-dalam menatap pintu yang kini benar-benar tertutup di belakangnya sebelum ia lantas menghembuskan napasnya cukup panjang kini. Sebuah senyum lain terkembang di wajahnya kali ini.

.

.

.

 

“She was my baby. Once. Take care of her for me.” Zico menghembuskan napasnya sekali lagi. Ia lantas mengenakan mantelnya sebelum akhirnya berjalan benar-benar menjauh kali ini.

.

.

.

-fin.

Advertisements

5 thoughts on “[Love Is Moment] She’s a Baby

  1. OMG!!!! Sora!

    Oke, awalnya pas baca judul dan liat muka abang zico “oh, ceritanya dari lagunya apa ya”, yang song apa itu namanya wk lupa 😂

    Terus seneng bgt pas tau castnya sam Seolhyun, tapi sddih juga karena milih bitter hurt/comfort

    Pas baca, manissss omaigat, zico sama seolhyun blm putus kan ya, uunnchh gemess bayanginnya cuman krn ada beberapa gabungan kata yg kurang pas jadi agak gmana gituuu, like aku mikir “kantung kertas penuh” oh ternyata kantung belanjaan itu ya 😂✌️
    Trs bbrp buah keju, enakan pake bbrp potong keju kah? trs ada “memasuki flat tergantung” typokah atau aku yg ga ngerti? 🤔

    DAN AKU JUMPALITAN
    kupikir kyung kakaknya seolhyun 😭 ternyata ternyata pas inget momennya bitter aku mikir
    Langsung kayak LOH? LOH? IKI PIYE 😭 GILAK KAMU TWISTNYA NGENA BANGET KRN CASTNYA BIKIN MIKIR BAKAL SWEET MOMENT HAPPILY EVER AFTER GITU 😭😭

    yaqin hati adek masik saqit seolhyun ternyata sama kyung 😂 nice bet lah 😑

    Like

    1. Riseuki! I’m happy you’ve read my fanfiction lmao. Yes, I did a lot typo there hahaha. Itu judulnya juga sama. She’s a baby. Suka banget sama OTP Zico – seolhyun yang sekarang uda kandas :”) thanks for dropping by dear! Akan kutunggu ffmu x)

      Like

  2. Hiii author sora xD
    Aku tuh nakal bangt ya wkwkwk jd pas sebelum ffmu publish dan beberapa ff project ini tuh aku udah baca xD jadi tinggal komen gitu pas hari H hahaha
    Dan ini tuh ff yg gimana ya ? Yang aku bilang rada kampret soal twistnya 😂 suka sama twist macem gini wkwkwk
    Ngiranya bakalan swet swet gitu di mas jiko sama tuh dedek tp g taunya si Solhyun bukan lagi miliknya jiko T.T
    Disitu baru kerasa miris dan sedih pokoknya aku suka sama twist yg diam2 menghanyutksn gini kkkk
    Keep writing ya 😘

    Liked by 1 person

    1. Psst— kadang aku nakal juga kok hahaha. Aku juga baca beberapa ff sebelum publish hehehehe. Anyway makasi banyak uda mau mampir! Since they are my favorite OTP so I decide to make them as story Dan yes! Ini ceritanya sedih bgt gegara mereka broke up :”)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s