Bitter · Drama · FF Project · Ficlet · Genre · Giveaway Project · Length · Moment · PG -13 · Rating

[Love Is Moment] Her Lover


Author                         : iamsayaaa

Title                             : Her Lover

Moment                      : Bitter

Cast                             : [NCT] Jaehyun and [DIA] Chaeyeon

Genre                          : Drama

Length                        : Ficlet

Rating                         : PG-13

Disclaimer                  :  –

Her Lover

I

Untuk gadis yang kuseret dari batas neraka ….

Kalau aku tak muncul hari itu, melambai-lambaikan tangan sambil berteriak dari kejauhan—mungkin sekarang kamu hanya tinggal nama. Rambutmu yang legam dipangkas sebatas leher dan gaunmu yang sewarna gading dibiarkan pasrah disambut air. Berlarian sambil sesekali jatuh-bangun, aku memangkas jarak itu.

“Jangan bertindak bodoh. Cepat keluar dari air,” perintahku padamu.

Laut tengah surut di pesisir barat ini. Namun, ada seribu satu cara untuk lenyap meskipun alam menolaknya. Termasuk kamu, gadis yang tiba-tiba muncul di horizon. Ayolah, kita bahkan tak saling kenal. Aku hanya sekedar lewat, melihat pemandangan tak biasa dan berlari menghampirinya. Empati mendorongku kesini, tapi gejolak aneh memaksaku berhenti. Mematung di tepian dengan peluh dan napas tersengal, aku meragu untuk kembali melangkah.

“Kenapa? Tak jadi menyelamatkanku?” tanyamu remeh.

Uh-oh. Dadaku berdebar, suaramu serak dan di pipimu tergambar jejak air mata yang jelas.

“Airnya dingin. Lagipula aku tak bisa berenang.” Kamu tersenyum miring, menyadarkanku bahwa kamu baru saja mengirimkan ejekan via udara.

Cih, dasar penakut. Pulang saja sana,” tukasmu dengan bersungut-sungut. Sebelum aku sempat membalas, kamu keburu berbalik dan menambah jarak.

“Hentikan!”

Aku kelimpungan, tubuhmu sudah menghilang dalam birunya laut. Kakiku gemetar sampai rasanya ingin menangis. Sumpah, kamu pikir alasanku tadi hanya bercanda? Ah, masa bodohlah. Kudepak ketakutanku, lantas bergabung denganmu ke dalam air. Kukayuh kakiku menuju dirimu. Setelah bunyi kecipak dan gerakan-gerakan serampangan—akhirnya aku meraihmu.

Lalu, sebelum kita yang kepayahan benar-benar menghadap Tuhan, kutendang saja kumpulan air yang tak berdosa itu. Tapi, tetap saja kita hanya diam di tempat. Ugh. Tragedi nyatanya tengah mengintai. Sepertinya aka pa dua jasad manusia terdampar di pantai esok hari. Saat keoptimisanku sudah terjun bebas, gerombolan orang dengan rompi orange tiba-tiba mengerumuni kita.

Ya Tuhan, syukurlah, itu coast guard. Kita selamat dan hei, karena aku sudah lelah, kubiarkan saja diriku mengambang—tak sadarkan diri hingga beberapa waktu. Saat terbangun, ajaibnya aku sudah berada di kamarku.

Hei, kamu pergi kemana?

II

Aku tahu kamu juga kesepian, sama sepertiku. Oleh karenanya, pertemuan kita yang kedua waktu salju turun untuk pertama kali, menjadi awal hubungan ini. Berbekal insting untuk saling melindungi, kita berjanji untuk melengkapi satu persatu kepingan yang hilang dalam diri.

Kita saling jatuh cinta, begitu singkatnya.

Aku yang menyongsongmu seperti tentara yang pulang ke kampung halaman setelah lelah bertarung nyawa di tapal batas. Sementara kamu, menyambutku dengan manik bercahaya, merentangkan kedua tangan untuk memelukku.

I love you,” katamu dengan pipi memerah.

I love you, too,” jawabku, serta merta meletakkan sepanci ramyun yang sedang kusantap.

Kamu pun tersenyum, menutupi wajahmu dengan kedua tangan. Aish, auramu memenuhi kotak warna-warni itu, meminjamiku kesempatan untuk mengobati rindu yang menggebu. Yeah, aku tahu, hubungan jarak jauh yang disembunyikan dari dunia ini memang mendebarkan. Tapi, sampai kapan?

Jung Chaeyeon, namamu sudah kusematkan dalam-dalam. Gadis yang mengobati kesintinganku dengan presensinya yang manis. Bahkan saat kita tak bisa saling bertemu dan menyentuh, kita masih bertukar sapaan nonverbal melalui banyak cara. Kamu kerap datang diam-diam, membereskan apartemenku yang berantakan. Setelahnya, aku hanya bisa bersyukur memilikimu sebagai pelita yang tak pernah padam.

“Selusin mawar putih dibuat menjadi buket seperti biasa. Benar, ‘kan?”

Itu Taeil, pemuda berpipi tirus yang hobi mendengarkan kisah kita. Begitu aku melangkah ke tokonya, dia sudah bersiap. Bahkan sebelum aku sempat mengangguk, dia keburu menghilang sambil membawa gunting.

“Beruntungnya gadis yang bersamamu itu, Jae,” tuturnya sembari mengulurkan pesananku.

“Tidak, kok. Kami beruntung karena memiliki satu sama lain,” jawabku lantas membayar, meninggalkan Taeil dengan senyuman.

Yeah, bahkan hari ini pun, aku berniat menemuimu. Meskipun jarak itu tak pernah habis, membuatku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Lelah, sih. Apalagi saat kamu pura-pura tak mengenalku karena takut ketahuan.

“Kenapa, Chae? Kamu takut mereka membenci kita?”

“Privasi. Itulah yang kuinginkan,” tuturmu dengan air mata berurai.

Berpasang-pasang mata menyaksikan, juga kilatan cahaya dari kamera yang membuat matamu pedih. Saat manik kita bersiborok, kamu berjengit. Itulah, ketika kamu memutuskan untuk menyudahinya. Pergi meninggalkan lokasi setelah berhasil menyampaikan keluhanmu.

Baiklah, Chae, karena aku pun takut kehilanganmu. Aku hanya orang biasa, tak semestinya merangkai kasih denganmu. Peri kesayangan seluruh negeri, Jung Chaeyon adalah milikku, hanya itu yang bisa kubisikkan ke telingaku sendiri. Karena bagaimana pun juga, aku hanya tak bisa berhenti meragu. Aku yang tertanam di bumi, mencoba menjagamu yang terbang tinggi di langit. Terlihat mustahil, ‘kan?

III

Hari itu, saat sinyal SOS milikmu sampai kepadaku, duniaku hampir runtuh. Kamu yang kujaga dengan segenap jiwa raga. Bahkan kukorbankan sebagian waktuku untuk mengawalmu dari bahaya. Yeah, meskipun hal itu lebih tampak sebagai tindakan penguntitan, aku tahu kamu merasa aman begitu sadar ada ada untuk menjagamu.

Tetap jaga jarak, Jae. Aku takut mereka curiga, katamu melalui kode-kode. Tapi, kasus ini lain dari biasanya. Bagaimana bisa aku menjaga jarak kalau tahu kamu dalam keadaan yang tidak baik.

“Tolong, aku,” pintamu dengan suara lirih.

Bahkan dalam gelap, aku bisa melihat wajah lelah dan ekspresi ketakutanmu. Dalam video berdurasi satu setengah menit itu, kamu berusaha melarikan diri dari orang-orang yang mengejarmu.

Tolong aku, Jae. Mereka menyuruhku menjauhimu. Mereka ingin aku berpura-pura tak lagi mengenalmu.

Jeritanmu terngiang-ngiang di telingaku. Kupacu sedan hitam milikku hingga hampir menabrak pembatas jalan.

“Aku datang, Chae. Bertahanlah.”

Mobilku berhenti di parkiran, sambil berpikir bahwa orang-orang di belakangmu bisa saja menyakitimu setiap saat, kukerahkan tenagaku untuk mencarimu. Aku tahu, mereka adalah penentang di baris depan hubungan kita, dan kebodohanku tidak buru-buru mengambilmu dari cengkeramannya.

Langkahku yang tergopoh-gopoh membawaku pada satu acara. Kamu, mengenakan gaun sewarna gading tengah duduk di antara orang-orang itu. Gurat lelahmu terpatri jelas, kegugupanmu memancar dari kejauhan. Bahkan kamu tergagu saat seseorang menanyaimu.

“Bersabarlah, Chae. Aku akan menyelamatkanmu saat orang-orang itu menjauh,” bisikku pada diri sendiri.

Setelah acara selesai, kamu buru-buru pergi ke belakang panggung. Mungkin kamu pergi ke kamar ganti, aku tak tahu. Aku hanya mengikutimu, memasang kewaspadaan tinggi kalau-kalau seseorang memergoki. Lalu, begitu keadaan sepi, aku pun berpikir, inilah saatnya. Kubuka pintu bertuliskan namamu itu. Beruntungnya, mereka lupa menguncinya.

“Chaeyeon?” Suaraku memanggilmu sementara mataku menelusuri ruangan dengan meja rias besar di dalamnya.

“Ka…kamu siapa?” tanyamu, berdiri di pojokan dengan raut ketakutan.

“Ini aku, Jaehyun. Kekasihmu,” jawabku menunjuk diri sendiri.

“Aku bukan kekasihmu. Aku bahkan tidak mengenalmu.”

“Chaeyeon, kamu ini bilang apa?”Aku mendekatimu pasti, namun langkahku tiba-tiba terhenti.

“Jangan mendekat!” Kamu merapat ke dinding, memegang hair dryer di tangan kananmu, aku hanya bisa menduga.

Kamu tak akan menggunakan benda itu untuk menyerangku, kan, Chae?

“Ayo Chae. Kita pergi ke tempat yang aman.” Aku bersikeras, menyelamatkanmu adalah misi utama. Bahkan sekali pun kamu menolak karena dikira mereka akan melukaiku, aku tak gentar.

“Tolong!”

“Ya Tuhan, Chae. Aku sedang menyelamatkanmu dan tindakanmu ini sama sekali tidak membantu,” keluhku frustasi.

“Tidak mau. Tolong!”

Aku mendesah berat, percuma saja berdialog denganmu. Akhirnya, kuputuskan untuk merangsek pertahananmu, merenggut hair dryer sialan itu lalu kugunakan untuk memukulmu.

“Maaf, Chae. Ini demi kebaikanmu.”

Begitu kamu terkulai tak sadarkan diri, buru-buru kuangkat tubuhmu untuk segera pergi dari tempat itu. Tapi, rencanaku meleset, orang-orang itu keburu mengetahuinya. Akibatnya, kamu dan aku dipisahkan oleh orang yang tak mengerti betapa kasih kita takkan hilang hanya karena perbedaan status semata.

Yeah, aku tidak mengerti—belum—mengapa kamu bersikap demikian tadi? Bahkan saat orang-orang berseragam menggelandangku ke kantor polisi, aku masih berpikir bahwa kamu terlalu takut untuk buka suara. Padahal, Chae, aku siap melindungimu dalam keadaan apapun. Aku menerimamu apa adanya. Apakah kamu takut kehilangan pekerjaanmu? Kehilangan polularitasmu? Persetan dengan semua itu, Chae. Aku mencintaimu dan kuyakin kamu pun begitu.

IV

Jung Chaeyeon yang telah selesai menghadiri konferensi pers untuk film terbarunya mendadak dikagetkan dengan kehadiran seorang laki-laki. Diduga sang pria bertubuh tinggi itu adalah sasaeng fan yang sering menguntitnya. Pria itu menyusup ke ruangan sang artis dan menyerangnya. Beruntung, staff dan petugas keamanan segera datang ke lokasi dan membekuk tersangka.

Sebelumnya, tersangka telah tertangkap CCTV sering mondar-mandir di sekitar apartemen Chaeyeon dan gedung agensi. Pria berinisial JJH yang diketahui sebagai mahasiswa salah satu universitas ternama di Korea Selatan itu diduga mengidap gangguan kejiwaan. Sementara itu, Jung Chaeyeon tidak mengalami luka serius, hanya pingsan karena diduga dipukul dengan benda tumpul. Sampai kasus ini ditangani oleh Kepolisian Gangnam, belum ada konfirmasi resmi dari pihak managemen yang menaungi Jung Chaeyeon.

Taeil mematikan rekaman di tangannya, lantas mendesah berat. Pelupuknya sudah bersiap menumpahkan cairan.

“Aku tak mengerti, Jae.”

Dia memang tak harus mengerti. Terlebih dia hanya penikmat kisah palsuku selama ini. Aku tahu dia membutuhkan penjelasan. Bagaimana dia bisa dibodohi oleh orang setengah waras sepertiku sudah membuatnya tersadar betapa lengahnya dia selama ini. Dan aku, tak bisa memberinya jawaban seperti yang dia mau. Karena aku pun tak tahu dimana letak kesalahannya. Tanyakan pada akal sehatku yang berkelana jauh sekali, hingga Chaeyeonku yang murni, terpaksa melewati masa suram dalam hidupnya karena diriku.

“Jaga dirimu, Jae. Kuusahakan untuk sering mengunjungimu,” kata Taeil, menggosok-gosok matanya sembari mengangkat pantatnya dari kursi. Saat dia hampir mencapai pintu, aku berucap, “terima kasih, Tae. Untuk bunga… dan semuanya.”

Taeil berbalik lalu tersenyum, dan begitu pintu tertutup, kuraih buket mawar kuning yang diberikannya kepadaku. Secarik surat yang terselip di sana menarik perhatianku.

Dear, Jaehyun.

Terima kasih untuk setiap tangkai mawar putih yang kamu kirimkan kepadaku. Sebagai gantinya, kukirimkan mawar kuning sebagai tanda persahabatan. Yeah, mari bertemu saat kamu sudah membaik. Maafkan aku tak bisa menjengukmu langsung.

Jaehyun, terima kasih karena telah mengasihiku. Kasihmu sangat besar sampai kamu sendiri pun tak tahu cara mengendalikannya. Tenang saja, aku mengerti. Karena itulah, kamu harus sembuh agar dapat bertemu denganku.

O ya, kepalaku tak apa-apa. Jangan khawatir. Dan juga, Taeil yang memberi tahu semuanya kepadaku, tentangmu dan bunga-bunga itu, omong-omong.

Dari sahabat barumu,

Jung Chaeyeon

V

Hai, Chae. Bahkan setelah perbuatan tak menyenangkanku, kamu tetap berbaik hati. O, mungkin karena itulah aku menyukaimu. Peri kesayangan seluruh negeri yang memanahku dengan kelembutan dan keanggunannya.

Aku sadar, semua kisah tentang kita adalah palsu. O, bahkan tak pernah ada kata kita sejak awal. Karena kisah itu hanya dirangkai melalui potongan-potongan dirimu pada layar persegi. Kamu yang menawan, kamu yang mengirimkan sandi-sandi untuk terus mengasihimu kepada semua orang. Sayangnya, sebagian yang lain, termasuk diriku tak bisa mengendalikan diri.

Meskipun dalam benakku yang lain, aku tahu kisah itu tak nyata. Aku bersikeras, karena bagaimana pun juga, kasihku kepadamu bukanlah rekaan.Walau cintaku gila, akal sehatku menenangkan rasa sakit dalam hatiku. Dia memberitahuku untuk bersabar dan terus berharap.[i]

O yeah, pada akhirnya kuakui kalau aku tidak waras. Hidup dalam delusi yang terlampau nyata benar-benar menyusahkan. Haruskah aku membuangmu atau mempertahankanmu di sisiku, Chae? Karena meskipun kamu membuka hatimu, orang sepertiku belum tentu tahu jalan untuk kembali. Karenanya, dari balik kamar bernomor seratus dua rumah sakit jiwa Seoul ini, kukirimkan kasihku kepadamu.

Jung Jaehyun …

Pria yang memujamu dari kejauhan.

Pria yang menggantikanmu terjun bebas ke neraka.

I adore you, Chae.

This beautiful yet scary lover will stay with you forever.

 

-Fin-

 

 

Author Note    :

  • Mengambil tema psikologi dengan topik Erotomania.
  • Semoga pembaca dapat memahami clue yang disebar sepanjang cerita karena apa ya, yah karena sebenarnya kisah cinta Jaehyun-Chaeyeon itu cuma delusi semata. Hehe
  • Thank you J

 

[i] Penggalan dari film berjudul He Loves Me, He Loves Me Not yang bercerita tentang penderita erotomania.

 

Advertisements

9 thoughts on “[Love Is Moment] Her Lover

  1. Ku suka analog dramanya di part I & II, entah kenapa itu manis sekali ❤️

    Di part III mulai nebak2 kalo Jaehyun itu kayaknya sasaeng, apalagi kalo inget poster dan pilihan tema bitternya!

    Dan iyaaa di part IV jelaslah terjawab semuanya, tp gatau kenapa mulai ngedrop bacanya sampe ending 😂 😂 berasa moodnya langsung turun dijelasin Jaehyun setengah waras gitu, juga kepolosoan Taeil dengan kisah palsu huft

    Nemu 2 typo diatas ✌️

    But yeah, overall it’s nice! Keep writing iamsayaaa!

    Liked by 1 person

  2. wadoh jjh jadi orang menclek begini hahaha suka suka. rasanya kyk nonton mv ulsanbawi dalam versi yg lebih keren dan lebih dark :p sorry komennya gak niat, speechless soalnya ehe ehe. keep writing!

    Liked by 1 person

    1. Hallo kak liana, ketemu lagi, hehe
      Wahhhh mv ulsanbawi? Aku malah belum pernah liat lho. Oke, habis ini mau lihat, kekekek
      Thanks for reading and comment KakLi XD

      Like

  3. Hiii
    Ini aku lagi suka bgt sama NCT ya jadi kalau ada ff nct pasti dibaca wkwkwkwk
    Dan ini aku greget bgt ya , ya aku memang agak g seberapa suka ff terlalu beranalogi tp karena dari situ kan penasaran ini maksdnya apa coba? Dan ya ternyata Jaehyun punya kelainan T.T serem gitu mirip kayak psikopat u.u sampai segitunya.

    Okelah ini ffnya , Jaehyun sesuatu bgt pokoknya.

    Keep writing ya

    Liked by 1 person

    1. Hallo kak minarifini, makasih sudah baca dan komen…
      Sebenarnya jae disini dibikin jadi penderita erotomania biar greget kak gak melulu cinta yng normal terus, XD

      Like

  4. Akutu Mel paling nungguin ff-mu masa :’) //gak gombal. Serius// Dan sebenernya udah baca ini dari kemarin, tapi mager mau komen ehe 😀 //ditendang Amel//

    Btw, aku udah wanti-wanti ini bakal sedih sih, secara pilihan moment-mu kan Bitter ya. Jadinya di Part I & II aku gk begitu hanyut sama romantisme mereka, soalnya aku mikir “ntar pasti tragis. Jadi baper-nya ditunda dulu” /GAK. Aku juga nemu writting error Mel, tapi its oke, diksimu always ketjeh badas dan Jaehyun-nya bikin greget xD Aku sebenernya rada cenat-cenut tiap baca ff Jaehyun & Chaeyeon, tapi ya gimana lagi namanya juga penasaran. Apalagi kalau orang lagi penasaran kan butuh di stimulasi biar lega //apaan sih ji -_-//oke ini komen gk niat banget. Nyadar kok aku -_-// Dan aku shock pas tahu Jaehyun cuma berdelusi OMGAIGAT!!!! Kayak aku banget gitu, bayangin bisa nikah sama Wonwoo //tuh kan mulai -_-//

    But overall setelah baca ini, aku jadi minder sama ff-ku sendiri :”) Tapi semoga kamu menang ya sayangku :* ❤ ❤ ❤ //flying kiss//

    Liked by 1 person

    1. Omaigat KakJiyo, akutu juga suka bingung kalo mau balesin komenmu tahu gak//ini jujur lho//
      Habisnya aku kurang ekspresif, berbanding terbalik dgnmu yg so blak-blakan, takutnya aku balesinnya kurang heboh, wkwkwkwkwk
      Tapi komenanmu selalu kutunggu kak, habisnya punya khas sendiri, panjang sama heboh kayak lagi festival, hahaha
      ya kak, aku ngerti, baca ff bias dipairingin sama cewek lain yg bukan OC itu gimana gitu. Salahin kaklel yg telah meracuniku dg jaehyun-chaeyeon, wkwkwkwk
      Maacih udah baca dan komen kakji ❤ ❤ ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s