fluff · G · Genre · Giveaway Project · Length · Moment · One Shoot · Rating · Sweet

[Love Is Moment] The Girl Next Door


THE GIRL NEXT DOOR

.

Moment: Sweet ; Genre: Fluffy || Oneshot || General

.

Starring
B1A4’s Gongchan, OC’s Charlotte Im

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot. Credit poster to Thejibooty @ Poster Channel

.

=== HAPPY READING ===

 

Hari ini Gongchan menganggur. Yah, tidak sepenuhnya menjadi pengangguran, sih. Hanya saja kebetulan ini adalah hari libur nasional. Ia tak perlu pagi-pagi sekali berangkat ke kantor seperti biasa. Ia boleh bangun agak siang, lalu bersantai-santai. Namun, mengingat kondisi apartemennya yang bagai kapal pecah karena kesibukannya sebagai businessman muda, tampaknya hari ini pemuda bernama asli Gong Chansik itu tak bisa bermalas-malasan sepenuhnya.

Sebenarnya Gongchan bisa saja memanggil jasa pembersih rumah. Namun, untuk hari ini ia memutuskan untuk melakukan kegiatan bersih-bersih sendiri. Bagaimanapun, ini adalah rumahnya, tempat tinggalnya. Anggap saja ini sebagai salah satu upaya untuk menjalin relasi antara rumah dan sang pemilik.

Walau ketika perlahan badannya mulai terasa sakit, Gongchan menyesali keputusannya.

Sejauh ini, Gongchan telah berhasil mencuci piring-piring kotor yang bertumpuk entah sejak kapan, membersihkan lantai seluruh apartemennya dengan vacuum cleaner, mencuci pakaian kotor dengan mesin cuci, mengganti sprei tempat tidur, serta menyikat lantai kamar mandi. Badannya memang sakit, tetapi ia puas.

Sekarang pemuda itu lapar. Ia tidak mau memesan delivery seperti yang biasa ia lakukan di kantor. Hari ini adalah hari khusus, karena itu Gongchan memutuskan untuk menyiapkan makan siang sendiri. Kemarin malam ia menemukan resep japchae pedas di internet. Kelihatannya mudah untuk dibuat.

Hanya kelihatannya. Pada kenyataannya, japchae itu berakhir dengan menghitam bagai arang karena Gongchan meninggalkannya dengan api besar.

Pemuda itu menggelengkan kepala, menyayangkan japchae hangusnya. Perutnya yang keroncongan membuat ia berpikir, haruskah ia kembali memesan delivery seperti biasa?

Tepat saat itu bel pintu apartemennya berbunyi. Untuk sesaat topik tentang makan siang Gongchan terlupakan.

Ia membuka pintu, hanya untuk melihat seorang gadis berwajah blasteran sudah berdiri di depan, beserta senyum lebar yang menghiasi wajahnya.

Annyeonghaseyo ….” Gadis itu membungkukkan badan. “Namaku Charlotte Im. Aku baru pindah ke apartemen sebelah tadi malam. Mohon bantuannya.”

Hal pertama yang terlintas di benak Gongchan adalah Apartemen sebelah sudah laku?

Namun, pada akhirnya ia mengulurkan tangan, mengajak sang gadis untuk berjabat.

“Aku Gong Chansik. Panggil saja Gongchan.”

“Nama yang unik,” komentar gadis itu pelan, tetapi tetap saja tertangkap oleh pendengaran Gongchan. Menyadarinya, gadis itu buru-buru menutup mulut dengan sebelah tangan.

Gongchan tertawa kecil. Gadis ini lucu.

“Ah, ini ….” Charlotte menyodorkan bungkusan putih pada Gongchan. “Aku membawakan shortcake  khas Skotlandia untukmu. Aku berasal dari sana, dan ini adalah oleh-oleh khas Skotlandia. Kemudian, aku juga membawakan sekotak japchae untukmu. Aku baru belajar memasak panganan Korea, jadi, maaf kalau terasa aneh.”

Japchae? Alis Gongchan terangkat. Kebetulan yang menarik.

“Baiklah, selamat datang di Korea, Charlotte-ssi.”

Gadis itu mengangguk. “Semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik.”

Charlotte beranjak setelah memberi salam pamit dengan membungkukkan badan sembilan puluh derajat. Gongchan pun kembali masuk ke rumah. Dengan segera dibukanya kotak bekal ungu yang ada dalam bungkusan. Aroma japchae hangat langsung menggelitik hidungnya, dan membuat perutnya kembali bersuara meminta jatah makan.

Tanpa disangka, japchae ini terasa enak di lidahnya. Enak dan rasanya pas. Entah ini efek Gongchan sedang lapar atau panganan itu memang benar-benar lezat, tetapi yang pasti japchae ini membuat Gongchan meragukan kata-kata gadis itu mengenai keraguannya karena baru memasak pertama kali.

Sambil mengunyah, Gongchan terpikirkan sesuatu.

Ia harus mengenali gadis imut itu lebih dalam.

***

Charlotte adalah penggemar musik, oleh sebab itu musik tak pernah hilang dari kesehariannya. Bahkan saat mengerjakan pekerjaan rumah pun, tanpa sadar ia akan bersenandung. Membiarkan melodi dari pita suaranya masuk ke pendengarannya. Termasuk ketika ia sedang menata peralatan kamar mandi seperti saat ini.

Ia sedang asyik menyusun botol-botol sampo dan sabun cair ketika pendengarannya menangkap suara bel pintu apartemen yang berbunyi. Charlotte pun mengusap tangannya yang basah ke baju, lalu berjalan menuju pintu.

Oh, rupanya sang tetangga sebelah yang berkunjung.

Charlotte menggeser posisi berdirinya, memberi ruang untuk pemuda itu masuk.

“Wow, apartemenmu rapi sekali,” adalah kalimat pertama yang diucapkan tetangganya.

Gadis itu tersenyum. “Ah, ini karena aku belum menyusun semua barangku. Biasanya akan sedikit lebih berantakan dari ini.”

“Sedikit lebih berantakan, tapi aku yakin tak akan sampai seperti kapal pecah layaknya apartemenku.”

Charlotte hanya tertawa kecil.

“Omong-omong, aku datang untuk mengembalikan ini.” Gongchan menyodorkan kotak makan ungu dalam genggamannya pada Charlotte. “Terima kasih untuk makan siangnya. Aku jadi bisa menghemat uang makan hari ini karenamu. Tak hanya itu, masakanmu benar-benar lezat.” Pemuda itu mendekatkan wajah ke arah Charlotte, membuat sang gadis mengambil satu langkah ke belakang. “Apa kau yakin ini pertama kalinya kau memasaknya?” tambah Gongchan.

Charlotte mengangguk tegas. “Betul. Aku menemukan resepnya saat sedang menunggu pesawat dua hari yang lalu. Di internet.”

“Ah, begitu?” Lelaki itu tertawa kecil. “Aku yang sejak kecil tinggal di Korea malah tak bisa memasak. Sekalinya mencoba, japchae-ku berakhir dengan hangus.”

Tawa Charlotte menyembur ketika mendengarnya.

Anyway,” tukas lelaki itu, “sekali lagi kuucapkan terima kasih. Semoga kau betah tinggal di sini, dan kalau kau punya masakan enak lagi, aku tak menolak untuk dibagi.”

Keduanya bertukar lambaian tangan sebelum si pemuda kembali ke kediamannya. Oh, sebelum Charlotte benar-benar menutup pintu, Gongchan sempat melemparkan sebuah senyum.

Senyum yang membuat kupu-kupu mendadak bersemayam di perut Charlotte tanpa bisa dicegah.

***

Menurut info yang Gongchan dapatkan di internet, menyantap shortcake paling enak ditemani dengan secangkir teh manis hangat. Perpaduan manisnya dan lembutnya shortcake bercampur dengan hangatnya teh manis di lidah akan menghasilkan sebuah sensasi yang luar biasa. Terdengar menarik, dan Gongchan tergugah untuk mencoba.

O-oh! Kapan terakhir kali ia belanja bulanan? Mengapa ia tak sadar bahwa persediaan tehnya telah habis?

Sebenarnya, bisa saja Gongchan membeli sekotak teh di supermarket lantai dasar gedung apartemennya, sekalian membeli beberapa perlengkapan rumah lain yang juga habis. Namun, entah mengapa ia terasa malas.

Sebersit ide muncul di benaknya. Ia akan meminta dua kantong teh pada Charlotte Im.

Terdengar menggelikan, memang. Tetapi tak ada salahnya mencoba.

Gongchan menekan bel pintu apartemen 2045 itu dua kali, kemudian mengetuk-ngetukkan kaki ke lantai seraya menunggu pintu abu di hadapannya terbuka.

Daun pintu terbuka, dan gadis Im yang sedang mengenakan rol rambut pada poni menyambut dengan senyum manis.

“Oh, Gongchan-ssi!” sapanya riang. “Silakan masuk. Ada apa kemari?”

Pemuda garis Gong itu membasahi bibir sejenak. Pertama, agak aneh bila ia hanya mampir untuk meminta dua kantung teh tetapi gadis itu sudah mengajaknya masuk layaknya seorang tamu penting. Kedua, bagaimana menyampaikan maksud kedatangannya agar Charlotte mengerti?

Ehm … anu ….” Gongchan menelan ludah. “Kau punya teh, Charlotte-ssi?”

“Kau ingin minum teh?” Sang gadis balas bertanya.

“Bukan.” Gongchan menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal. “Kalau boleh, aku mau minta dua kantung teh. Kudengar menyantap shortcake akan sangat nikmat jika disertai secangkir teh. Aku ingin mencobanya, tetapi ternyata persediaan tehku habis.”

Mendengarnya, gadis itu tertawa kecil. “Ah, begitu …. Tunggu sebentar, ya!”

Charlotte meninggalkan Gongchan di ruang tamu, dan Gongchan menikmati kesendiriannya dengan menatap satu-satunya foto keluarga yang terpajang di ruangan itu.

“Ini.”

Bukan hanya dua kantong teh seperti yang diminta Gongchan, tetapi dengan tak tanggung-tanggung gadis itu meletakkan dua kotak teh di tangan sang pemuda.

“Kotak yang atas adalah teh melati, sementara yang bawah adalah teh dengan sari apel. Enak!”

Gongchan menatap dua kotak teh tersebut dengan manik berbinar. “Wah, terima kasih, Charlotte-ssi. Sebenarnya kau tak perlu repot-repot! Baiklah, aku pasti akan menikmatinya dengan baik.”

Ups, rupanya interaksi mereka tak hanya berakhir dengan pemberian teh. Entah siapa yang memulai, pada akhirnya konversasi ditutup dengan keduanya saling bertukar nomor ponsel dan berjanji akan saling menghubungi satu sama lain.

Gongchan pamit, dan Charlotte meminta pemuda itu untuk memberi komentar mengenai shortcake dan teh apelnya.

Oh, lihatlah kurva bahagia yang sejak tadi terukir di labium pemuda tersebut!

***

Rupanya kedatangan Gongchan berlanjut ke esoknya, esoknya, dan esoknya. Dalam tiga minggu terakhir ini, Charlotte menghitung setidaknya ada empat belas kali pemuda surai hitam itu berkunjung ke kediamannya. Alasannya hampir selalu sama: meminta atau meminjam beberapa bahan atau peralatan seperti gula, garam, madu, atau kotak bekal, rantang, dan sejenisnya.

Well, Charlotte sebenarnya tidak keberatan sama sekali. Serius. Tak pernah sekali pun keluhan atau sungutan terucap dari mulut sang gadis tiap kali tetangganya itu menampakkan batang hidung hanya untuk meminta beberapa keperluan rumah tangga. Charlotte tulus dalam memberi.

Selain itu, senyum manis Gongchan menyebabkan Charlotte sulit untuk memberi penolakan.

Hanya saja, Charlotte agak bingung. Apa pemuda itu sedang dilanda kesulitan finansial sehingga belum sempat belanja bulanan dan membeli kebutuhannya? Kalau memang benar, Charlotte tak keberatan untuk memberinya bantuan.

Makanya, ketika tiba waktu gadis itu untuk belanja ke supermarket dan mengisi kembali stok sembakonya, ia sengaja membeli beberapa barang lebih untuk diberikan pada sang tetangga. Gula dan garam masing-masing satu kantung kecil, satu kotak teh celup, satu pouch kecil minyak goreng, satu kotak kopi instan, beberapa bungkus ramen dan kotak pasta.

Tak hanya bahan makanan, Charlotte juga membelikan sabun cuci piring, deterjen, dan sabun mandi untuk lelaki itu.

Tahu respon Gongchan saat Charlotte mampir ke apartemennya untuk mengantarkan barang-barang tersebut?

Dwimanik almon itu membulat, seraya tawa kecilnya terdengar.

“Astaga, kau tak perlu repot-repot, Charlotte-ssi … “ tukas Gongchan.

Charlotte mengangkat kedua sudut bibirnya. “Tidak apa-apa. Toh aku memang sedang mendapat berkat lebih, jadi kurasa tak ada salahnya berbagi denganmu.”

“Kau memberiku ini … bukan karena menganggapku berkekurangan, ‘kan?”

Gadis Im itu buru-buru menggeleng. “Bukan, kok! Aku tulus berbagi.”

“Ah ….” Lagi-lagi ranum Gongchan mengukir kurva manis khasnya.

Percakapan itu berakhir dengan Gongchan memberi dua potong ayam bakar untuk Charlotte dan berpesan agar gadis itu menyantapnya saat makan siang. Keduanya berjanji untuk saling menghubungi lewat ponsel, kemudian bertukar lambaian sampai jumpa, dan Charlotte kembali ke apartemennya.

***

Sayangnya, sejak hari pemberian sembako itu, Gongchan tak lagi menampakkan diri di kediaman Charlotte. Mereka memang masih bertemu di supermarket gedung apartemen sekali-sekali, juga masih saling menghubungi lewat media sosial. Namun, tetap saja, frekuensi pertemuan mereka yang mendadak turun drastis membuat Charlotte merasa ada yang hilang.

Jauh di dalam lubuk Charlotte, ia merindukan Gongchan, merindukan saat-saat tetangganya mampir ke apartemennya.

Secuil rasa menyesal terbersit di hati gadis Korea-Skotlandia itu. Ia menyesali keputusannya membelikan Gongchan keperluan rumah tangga. Bukan menyesali uangnya yang harus terbuang. Sekali lagi ditekankan, Charlotte tulus dalam memberi. Namun, yang menjadi penyesalannya adalah karena hal tersebut Gongchan tak lagi mampir ke kediamannya. Mungkin sekarang Gongchan merasa kebutuhannya semua sudah terpenuhi hingga tak ada alasan lagi bagi pemuda itu untuk mengunjungi Charlotte. Maka dari itu Gongchan tak pernah menampakkan diri lagi.

Sekarang keadaan berbalik; Charlottelah yang kini mengunjungi apartemen pria itu. Hanya sekali-sekali. Bukan untuk balik meminta perlengkapan rumah, tetapi untuk membagi beberapa masakan yang menurutnya berlebih. Well, akhir-akhir ini Charlotte sengaja memasak menu makanan agak lebih untuk dibagi pada sang tetangga. Bila bukan untuk berbagi makanan, Charlotte tak punya alasan lagi agar bisa mampir ke tempat tinggal Gongchan. Dan rasa rindu tak masuk akalnya akan makin menjadi-jadi.

Biasanya, Gongchan akan menyunggingkan senyum sebagai rasa terima kasih. Honestly, senyum itu sudah cukup untuk mengobati kerinduan yang membuncah di hati Charlotte.

***

TING-TONG!

TING-TONG!

Charlotte yang sedang asyik menonton acara memasak di televisi merasa terusik dengan bel pintu yang dibunyikan berkali-kali. Meski agak malas, pada akhirnya ia beranjak dari sofa empuknya dan melangkah menuju interkom.

“Siapa?” tanyanya melalui interkom.

“Aku.”

Tanpa perlu bertanya lebih lanjut, Charlotte sudah tahu siapa tamu yang menunggu di depan pintu. Tak lain dan tak bukan adalah tetangga sebelah apartemennya, Gong Chansik. Dengan bersemangat gadis itu langsung membuka pintu apartemennya.

“Oh, Gongchan-ssi! Lama tak mampir ….” Charlotte tertawa. “Ada yang bisa kubantu?”

“Kau punya piring daging?” tanya Gongchan tanpa berlama-lama.

“Piring daging?” beo Charlotte. “Ah, maksudmu piring yang agak besar itu? Punya. Memangnya kenapa?”

“Ibuku sedang berkunjung,” tutur Gongchan sambil mengekori Charlotte ke dapur. “Aku membeli steak dari restoran, tetapi lupa bahwa beberapa hari yang lalu aku menjatuhkan piring dagingku hingga pecah, dan sekarang aku bingung di mana harus menyajikan steak tersebut.”

Sementara Gongchan duduk di salah satu kursi tinggi yang ada di pantry, Charlotte sibuk mencari piring daging yang dimaksud. “Woah, ibumu mampir? Sejak kapan?”

Uhm … tadi pagi.”

Begitu Charlotte menemukan piring porselen besar warna putihnya, ia segera meletakkannya di hadapan sang tetangga. “Piring seperti ini, ‘kan? Hati-hati memakainya, jangan sampai pecah. Piring itu dibawa oleh kakakku dari Israel. Oh, ya. Sampaikan salamku pada Ibumu, ya.”

Lagi-lagi Gongchan melemparkan senyum manisnya. “Tentu. Terima kasih banyak, Nona.”

Sepeninggalnya Gongchan, Charlotte bermaksud melanjutkan tontonannya yang terpotong, walau ia sangsi presenter dalam acara tersebut masih menampilkan step-by-step memasak dari menu yang sama. Benar saja. Begitu ia menyalakan kembali layar kaca di ruang tengahnya, kini presenter pria tersebut sedang menunjukkan cara membuat sorbet kiwi.

Menggunakan remote, Charlotte mematikan televisinya. Ia mendesah dengan tangan yang terlipat di dada. Selera menontonnya mendadak hilang.

Masalahnya, sekarang ia pengangguran; tak tahu harus mengerjakan apa. Acara bersih-bersih rumah sudah ia laksanakan pagi tadi. Memasak? Charlotte hanya ingin memasak, tetapi tak ingin menghabiskan hasil masakannya.

Seketika benaknya teringat akan shortcake stroberi yang dibawakan ayahnya beberapa hari lalu. Charlotte sedang dalam program diet, dan ia takut shortcake yang manis akan menambah kalori dalam tubuhnya. Jadi kotak shortcake itu masih terletak manis di atas kulkas.

Gadis itu mempertimbangkan sejenak. Rasanya tak ada salahnya berbagi dengan tetangga.

Mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih sopan walau masih terlihat santai, Charlotte yang bermaksud untuk mampir ke apartemen Gongchan pun merapikan penampilannya. T-shirt putih polos yang dilapisi cardigan denim. Celana legging hitam. Surai kecoklatannya ia ikat pony-tail. Sneakers abu-abu membungkus telapak kakinya. Terakhir, gadis Im itu membubuhkan sedikit gincu untuk memperindah plum merahnya.

Sambil tetap memasang senyum manis Charlotte pun menekan bel pintu apartemen Gongchan dua kali. Sebelah tangannya lagi menenteng kotak shortcake.

Pintu terbuka, dan kepala Gongchan menyembul keluar. Pemuda itu terlihat terkejut.

“Aku datang untuk memberikan ini,” ujar Charlotte sambil mengacungkan kotak shortcake-nya. “Dan omong-omong, uhm, boleh aku masuk? Berdiri di lorong cukup lama membuatku kedinginan.”

“Ah … ya …. Silakan masuk.”

Charlotte menangkap nada gugup dari lelaki itu. Kuriositasnya tumbuh, tetapi ia coba abaikan.

Sementara Gongchan membawa panganan dari Charlotte ke ruang makan, gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru apartemen, mengamati baik-baik benda-benda yang terletak di ruang tengah pemuda Gong tersebut.

Begitu sampai di ruang makan, dwimanik sang gadis membola. Dilihatnya banyak panganan terjejer di atas meja makan. Sayuran, lauk, bahkan hidangan pencuci mulut pun tersedia. Matanya yang awas menangkap piring dagingnya yang digunakan sebagai tempat steak, terletak tepat di tengah meja. Charlotte beranggapan bahwa itu adalah makanan utamanya.

“Kalian sedang mengadakan pesta, Gongchan-ssi?” tanya Charlotte penasaran. “Omong-omong, ibumu mana? Mengapa aku tak mendengar suara wanita dewasa sejak tadi?”

“Ah … itu ….” Gongchan tertawa gugup seraya menggaruk tengkuknya, membuat Charlotte makin bingung.

“Sebenarnya … ibuku tidak berkunjung kemari. Tentang piring daging, itu hanya alasanku agar bisa mampir ke rumahmu. Well, aku memang membeli steak, tetapi bukan untuk ibuku.”

“Lantas?”

Jawaban Gongchan selanjutnya membuat gadis itu tergugu. “Untukmu.”

Charlotte hanya mampu mengerjapkan kedua mata, terkejut dengan jawaban lelaki itu yang tak ia sangka.

“Duduklah.” Gongchan menarik sebuah kursi dan mempersilakan tamunya untuk duduk. Setelah memastikan bahwa Charlotte duduk dengan nyaman, barulah ia mengambil kursi tepat berhadapan dengan gadis Im itu.

“Tahu mengapa selama ini aku sering mampir ke apartemenmu?” tanya Gongchan.

Charlotte mengambil sebutir anggur merah yang ada di atas piring saji, memasukkannya ke mulut, lantas menggelengkan kepala.

Well, aku tidak berkekurangan. Stok peralatan rumahku masih sangat banyak. Ah, bukan sangat banyak. Maksudku, setidaknya cukup untuk diriku sendiri, apalagi aku adalah orang yang jarang memasak. Jangan salah sangka! Aku juga bukan bermaksud merampok perlengkapan milikmu. Tetapi aku punya maksud lain.”

Melalui sorot mata, Charlotte meminta Gongchan untuk melanjutkan penjelasannya.

“Aku … sengaja melakukannya … sebab aku menyukaimu.”

UHUK!

Seketika Charlotte tersedak biji anggur, dan satu menit kemudian dihabiskan kedua insan itu untuk menepuk-nepuk punggung sang gadis.

“Sebentar … “ balas Charlotte ketika batuk-batuknya telah mereda. “Lalu apa hubungannya garam dan gula serta perasaanmu?”

Ehm … kita adalah tetangga yang baru kenal. Aku ingin mengenalmu lebih lanjut, tetapi aku berpikir kita tidak punya irisan lain yang lebih daripada sekadar tetangga. Aku ingin mampir ke rumahmu, membangun interaksi denganmu, tetapi tak punya alasan yang pas seandainya aku benar mengunjungi kediamanmu. Jadi, kugunakan saja alasan bahwa barang-barangku habis. Maka dari itu, ketika kau datang dengan sebungkus besar perlengkapan rumah tangga, aku sempat terkejut. Kupikir kau salah paham.”

Gongchan menundukkan kepala sedikit. “Kalau kau tak suka dengan caraku berdusta, aku minta maaf. Kuakui aku adalah pria pengecut yang tak berani mengungkapkan perasaan dari awal.”

Charlotte buru-buru mengibaskan tangan. “Tidak. Aku sama sekali tidak berpikir demikian, Gongchan-ssi. Malah sebaliknya, aku beranggapan caramu itu unik!” Gadis itu tersenyum. “Dan tenang saja, aku sama sekali tak keberatan dengan semua barang-barangku itu. Seratus persen tak keberatan!”

Indra penglihatan Gongchan memperlihatkan binar kelegaan.

“Omong-omong, Gongchan-ssi, sejak kapan perasaan itu muncul?”

Gongchan memiringkan kepala. “Eh?”

“Perasaan sukamu terhadapku, sejak kapan itu muncul?” ulang Charlotte.

Pemuda itu mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke meja beberapa kali sebelum menjawab, “Yang pasti ini bukan cinta pada pandangan pertama. Aku tidak langsung begitu saja jatuh cinta pada kali pertama kau mendatangi apartemenku. Tetapi seiring bertambahnya interaksi kita, baik secara langsung maupun melalui sosial media, perlahan aku mulai memiliki ketertarikan sendiri terhadapmu.”

Charlotte hanya tersenyum, tak tahu bagaimana harus merespons lawan bicaranya. Di sisi lain, ia sedang berjuang keras untuk mengendalikan jantungnya yang berdegup tak keruan.

Gongchan mencoba menjembatani kecanggungan yang tercipta dengan menuangkan sari jeruk ke gelas mereka masing-masing, kemudian meminta Charlotte untuk meminumnya.

“Sebenarnya, Charlotte-ssi,” Gongchan kembali menjadi pihak pertama yang membuyarkan keheningan, “tadinya aku bermaksud menyiapkan semua menu makan malam ini terlebih dahulu, kemudian menjemputmu untuk acara makan malam berdua.”

Senyum Charlotte kembali merekah. Lelaki ini punya segudang kejutan. “Oh? Apakah aku merusak rencanamu?” responsnya.

Gongchan menggelengkan kepala. “Tidak juga. Kurasa ini lebih baik. Lagipula aku mendapat shortcake stroberi sebagai tambahan hidangan pencuci mulut.”

Charlotte tak dapat menahan diri untuk tidak tertawa.

Seolah tak cukup dengan jamuannya, Gongchan beranjak dari tempat duduk, hanya untuk menyalakan beberapa lilin portable yang ada di atas meja. Dekorasi meja yang demikian ditambah view dari jendela apartemen Gongchan yang mengarah langsung ke luar dan menyajikan pemandangan malam hari kota Seoul membuat kedua insan tersebut seakan berada di sebuah restoran mahal.

“Terkesan?” tanya Gongchan.

Charlotte mengangguk kuat-kuat. “Sangat.”

Gongchan mempersilakan tamunya untuk mulai bersantap. Charlotte memulai terlebih dahulu dengan semangkuk sup jagung.

“Semua masakan ini enak, menandakan bahwa bukan aku yang memasak. Aku sengaja memesannya dari luar,” tambah Gongchan, membuat Charlotte tertawa kecil.

Keduanya menikmati sup jagung sambil sesekali saling melirik. Charlotte berusaha keras menyembunyikan semburat merah yang ia pastikan telah munculi di pipinya. Ia agak menyesal karena datang kemari dengan rambut terkuncir rapi. Seandainya ia membiarkan surai kecoklatannya terurai, tentu akan lebih mudah untuk menyembunyikan rona kemerahan pipinya.

“Kau tak perlu menjawab apa-apa sekarang,” pungkas Gongchan seraya meletakkan sendok supnya di atas meja. “Aku pun tak mengharapkan jawaban apapun. Aku hanya bermaksud mengutarakan perasaanku terhadapmu. Pikirkan saja matang-matang.”

Charlotte terdiam untuk beberapa saat. Tangannya mengaduk sup dengan sendok. Kepalanya terus menunduk, tak berani bertemu pandang dengan pemuda Gong tersebut.

“Kau tahu Gongchan-ssi?” celetuk Charlotte lirih.

“Sebenarnya, aku juga menyukaimu.”

 

-FIN-

Advertisements

5 thoughts on “[Love Is Moment] The Girl Next Door

  1. Haloo gxchoxpie

    Aw! Ku pikir tadi mamanya gongchan beneran ada trs pas dia gugup ku pikir lagi ada perjodohan di dalam sana 😭😂

    Tapi kuinget2 di moment pilihannya “sweet” maka kuhalau semua pikiran itu dan ttaaraaaa ternyata jodoh mah ga jauh, tinggal nunggu tetangga baru *eh 😂

    Nice story!

    Like

  2. Hiii
    Curhat dikit boleh ya wkwkwk aku baca ini tuh senyum2 karena ya manis bgt gitu wkwkkw cinlok sama tetangga sendiri itu sesuatu hahahah
    Well keseluruan cerita super fluffy bgt dan bikin orang ikut seneng baca
    Keep writing ya ~

    Like

  3. BENTAR NGAMBIL NAPAS DULU KAAAA

    yaallah, gongchan ya kalo bisa aku aja jadi tetangga tiap hari gapapa kok ikhlas lahir batin soalnya di kunjungin terus kan kyaaaaaaa

    Bahasanya bagus yaallah seneng, kakge keep writing, calangek!

    Like

  4. Ya Gusti aku baru ninggalin komen jadi berasa nistaaaa huft. Oke. Mulai. (((mau ngapain lo)))

    EH EH AKU BOLEH GA JADI TETANGGA BARUNYA GONGCHAN BIAR BISA DIMODUSIN JUGA TERUS NEMU JODOH DAN JODOHNYA DIA /plak/

    Terus aku tadi tidak baca momentmu apa di ff ini walaupun kamu kayanya bilang sama aku tapi aku lupa… ((ditabok)) jadi sepanjang cerita jantungku berdebar pas gongchan tidak pernah datang lagi ke tempat ciwinya :(( aku merasa bodoh /ga/

    Feelnya sampai gece q. Keep wriring yaayy

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s