fluff · Genre · Giveaway Project · Length · Love · Moment · One Shoot · Rating · School Life · Sweet · Teen

[Love Is Moment Project] Hot Chocolate


 

Author: Little Jungg

Title: Hot Chocolate

Moment: Sweet

Cast : Jung Soojung/Krystal F(x), Kim Taehyung/ V BTS

Genre : Love, Fluffy, School Life

Length: Oneshoot

Rating: Teen

Disclaimer : Cast cuma minjem nama, ide dan penulisan dari otak author murni yang half berkarat:’)

Author Note: Don’t forget, Like, dan comment after reading. Don’t be sider yaa☹Happy reading!

Recommended song : Apink – Wishtlist. Hello Venus – Do you want some tea.

“Your smile is the cutest thing ever!”

“Do what makes you happy, be with someone who makes you smile, love as long as you live.”

“Soojung-a, cepat kalau mau nitip,” Mina memutar malas bola matanya. Sedangkan yang barusan dipanggil masih memandang kantin lewat jendela kelasnya yang terbuka lebar –Jung Soojung namanya, siswi kelas tiga di SMA bergengsi di Daegu.

Tinggi badannya layak seorang model, dijamu visual yang kecantikan murninya tak dipungkiri membuat lelaki mana saja dibuat melted saatbertatap mata dengan Soojung, keluarga yang tajir, terbukti ayahnya memegang perusahaan mobil terbesar di Asia, ibunya pemilik kebun ginseng terluas di Korea Selatan, dan kakaknya Soojung –Jessica Jung, tinggal di Washington untuk mengakari karir modelnya sampai sukses bak sekarang selalu membuat Soojung iri.

Soojung dengan ciri khas kepribadiannya yang aneh dikenal dengan, Si cantik 4dimensi. Satu sekolah mengenalnya, tapi ia hanya menanggapi puluhan sapaan dari beribu orang yang menyapanya tiap pagi. Puluhan saja sudah membuat mulutnya ingin mengumpati pagi yang indah bagi Jung Soojung.

“YA! JUNG SOOJUNG–“

“–Jangan memanggil nama lengkapku, heolada apa?” tanya Soojung datar. Mina, teman Soojung melipat tangannya, kesal dari tadi diacuhkan sahabat semasanya itu.

Menunggu jawaban Mina, perut Soojung berkutat jelas terdengar –Soojung memukul-mukul kesal perutnya, “Tak mau jawab? Kalau begitu, belikan aku jjangmyeon satu ya, thank-“

“-Ck, Soojung, kau sadar atau tidak sih? Aku ngomong kamu dengar? Padahal baiknya Shin Mina menawarkan apa yang kau mau beli, nanti aku belikan di kantin tanpa kau harus beranjak dari kursi. Lalu tadi kamu bergumam nama adik kelas yang sering datang ke kelas kita itu, Kim Tae-hyun.. Taehyang atau siapalah itu. Pokoknya aku kesal tadi dicuekin.” potong Mina mendengus kasar.

Gelakan tawa dari bibir manis Soojung membuat Mina ingin melempar siswi bername tag Jung Soojung keluar dari gedung sekolah.

“Kim Taehyung maksudmu?” ujar Soojung kemudian. “Apa?” Mina mengerjap, “Aku bahkan tidak pernah lihat name tagnya, tapi ku akui dia sangat imut dan tampan hey –” lanjutnya diikuti tatapan interograsi dari Soojung.

“Nanti dia juga datang kesini, kan. Untuk apa aku memperlakukan sahabatku sendiri seperti budak-AH JINJJA,” Soojung meringis kesakitan setelah mendapat jitakan keras dari Mina yang berenergi lebih besar dari seorang Soojung yang mungil.

 

“Wah dia datang lagi.”

“Mau apa sih, anak itu?”

“Bergaya sekali, cih.”

“Kemari hanya untuk Soojung-ku?”

“Kiyowoo, calon suamiku nanti tuh.”

“Awas kau, adik kelas sialan.”

 

Begitu kiranya bisikan seisi kelas XII-II ketika orang yang baru dibicarakan dua insan,Soojung dan Mina datang dan tepat seperti ucapan Mina –Kim Taehyung yang ceria dan tampan datang ke kelas Soojung tiap istirahat dengan segelas cokelat panas dikemas di botol minum hijau miliknya.

Soojung sudah mengenal kebiasaan itu, begitupun Mina dan mereka tidak merasa keberatan, Taehyung yang membuat jam istirahat mereka menjadi lebih berwarna dan penuh konflik dari cerita adik kelas mereka itu. Mina saja penggemar Taehyung dalam diam.

Sama seperti Soojung, Taehyung juga terkenal karena fisik dan kepintarannya dalam bidang matematika. Penggemar Taehyung juga tak sedikit diangkatan Soojung, terlebih dikelasnya.

“Soojung nuna!” sahut Taehyung menghampiri gadis itu yang masih terdiam menunggu cerita apalagi yang akan adik kelas-nya bagikan ke Soojung dan Mina.

“Nuna, ini untukmu,” ujar Taehyung memberikan botol itu ke Soojung dengan senyuman khasnya yang membuat wajah Mina memblush. ‘tae syndrom’ katanya.

“Cih padahal aku bukan nunamu,” jawab Soojung cuek memandang Taehyung dengan tatapan enggan mengambil. “Tetap saja, kau nuna-ku yang cantik hehe,” Taehyung tahu benar Soojung tak pernah mau mengambil cokelat panas dari tangannya, maka ia meletakkan di meja gadis itu.

“Jadi hari ini kau kenapa?”

“Soojung kau seperti psikolog saja haha,” cibir Mina masih bertengger di kiri meja Soojung.

“Wah nuna tanya padaku,” bibir manis Taehyung merekah, matanya berbinar layaknya bertemu seorang idola, “Tadi aku makan tteopokki di kantin, terus ada teman-teman nuna yang duduk disebelah dan didepanku, mereka menyisakan semua tteopokkiku tinggal satu. Lalu mereka pergi begitu saja dan bilang katanya aku tidak boleh ke kelasmu lagi, nuna.”

Para siswi yang dimaksud Taehyung merasa, dan memalingkan muka dari meja Soojung.

Astaga, sebenarnya itu yang aku lihat tadi saat melamun di jendela.

“Ekhm, begitu ya. Kau mau berapa tteopokki lagi? Nanti biar ku suruh mereka ganti,” kalimat itu menjalar dari mulut Soojung begitu saja. Taehyung mengerjap.

“YA! Soojung-a, apa apaan–” sontak salah seorang siswi yang tadi menyantap 3 dari tteopokki milik Taehyung.

“Kau yang apa-apaan, Yujin. Kenapa membuli anak itu terus? Jelas dia tak ada urusan denganmu, dia bahkan tidak mengenalmu,” jleb Yujin terdiam. “T-tapi, dia mengganggu pemandanganku setiap anak itu datang menemuimu dikelas kita!” lanjutnya.

“Urusi urusanmu sendiri, aku lagi nggak mood,” akhir Soojung beranjak meninggalkan kelas sembari membawa botol berisi cokelat panas pemberian Kim Taehyung . “E-eh, Soojung tunggu aku!” Mina berlari kecil menyamai langkah Soojung.

“Nuna mau kemana!”

Seisi kelas berbisik-bisik samar terdengar ditelinga Taehyung.

Jangan buat Soojung kesal kalau lagi badmood.

Dia seperti monster anak bayi.

Taehyung ditinggalkan begitu saja?

Yujin bikin milik-ku badmood saja.

Mina seperti babunya Soojung.

 

Gadis manis nan pintar yang digemari para lelaki di sekolah itu juga bisa membolos saat jam pelajaran. Sekarang ia berada di atap sekolah, sendiri.

Mina tadinya juga ada disana, tetapi sang ketua kelas menghampirinya dan berkata bahwa sahabat Jung Soojung itu harus mengerjakan tiga mata pelajaran yang diremedial, setiap bidang 30 soal, sudi tak sudi Mina harus meninggalkan Soojung sendirian.

Kini Soojung dalam posisi duduk dan menyandar di dinding atap, membiarkan tiap helai rambut cokelatnya tertiup angin sejuk. Lipatan roknya juga bergerak mengikuti sang angin bernaung. Anak itu melamun dalam diam. Kebiasaannya untuk mengembalikan moodnya yang sedang buruk– pergi ke atap, lalu merenung.

Sudah sepuluh topik yang dipikirkannya, tiba-tiba otaknya mengeluarkan nama ‘Kim Taehyung’ dalam otak Soojung. Sontak gadis itu mengerjap, menyadari betapa hina dirinya membohongi perasaannya sendiri, padahal jelas dirinya merasa nyaman ketika Taehyung datang padanya. Melihat tiap sisi baik maupun buruk Taehyung ketika adik kelasnya itu bercerita mengenai dirinya pada Soojung, tiap hari.Meski Soojung ‘sengaja’ bersikap cuek, jutek, ketika Taehyung datang ke kelasnya,. Deg.

“Apa apaan sih,” Soojung menggeleng gelengkan kepalanya, pipinya memerah.

Akhirnya anak itu berniat memejamkan matanya. Aku akan tidur sebentar.

1 menit

.

.

.

4 menit

.

.

.

10 menit

Soojung merasa kehadiran seseorang saat itu, “Halo, Soojung nuna.

Soojung kaget, badannya refleks menjauh dari Taehyung yang menyapanya dengan deretan gigi yang dipamernya dengan lengkungan bibir yang manis. “E-eh, kok ada kamu? Sejak kapan? Apa kau yang membuntutiku dari tadi? Hei Tae-“

“Hus, jangan menyerbuku dengan pertanyaan secepat itu dong, nuna.” Taehyung tertawa kecil.

Soojung mengerjap, menunduk malu.

Sial, kenapa aku tak bisa seperti Soojung yang biasa kalau cuma berdua dengan anak itu disini.

“Tadi aku ingat kau pergi ke atap saat jam istirahat, lalu aku ingin mengantarkan ini–”

Lagi. Botol minum berisi cokelat panas– mungkin sekarang sudah tak panas lagi.

“S-stop, Taehyung-a. Aku ingin tanya sesuatu,” Soojung menatap Taehyung dan botol minum itu bergantian.

“Ada apa, nuna?” Taehyung mengerjap melihat Soojung yang berbeda seperti ketika biasa ia temui di kelas.

Gadis itu berdehem, “Aku ingin tanya, khusus untukmu. Jujur saja, kenapa kamu tiap hari datang ke kelasku lalu memberiku sebotol cokelat panas? Padahal jelas aku tidak suka kalau itu terjadi.”

“Maaf, nuna?  Kau tidak suka aku yang terus menerus datang ke kelasmu dan berlaku seperti adik keals yang menyebalkan? Iya kan nuna? Maaf, aku benar-benar egois,” lelaki itu menatap Soojung lalu menunduk.

Soojung bingung dan merasa bersalah melihat Taehyung yang terus menyalahkan dirinya, “Hah? Bukan itu Taehyung-a, kau salah paham.”

“Lalu apa?”

Maksudku, aku tidak suka kalau kau terus datang ke kelasku, nanti makin banyak yang membencimu -batin Soojung.

Tapi gadis itu tidak mengatakan kalimat yang terlontar di batinnya, hanya saja, “Ah.. tidak, jadi kau datang ke kelasku hanya kegiatan iseng?” tanya Soojung.

“Karena aku suka padamu, Soojung nuna.”

Deg.

Wajah merah Soojung tak dapat disembunyikan, “Sial.”

“Kenapa, nuna? Apa kau tidak suka aku? Aku tak apa kalau kau tak suka padaku, hanya saja jangan benci aku, karena dengan itu aku bisa melihatmu terus,nuna. Kau tahu? Melihatmu saja sudah membuat aku bahagia, membuatmu berbicara padaku walau kau membalasnya dengan tatapan enggan itu sudah cukup buat seorang bodoh sepertiku,” ungkap Taehyung penuh detail, tanpa cela uneg-uneg itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Soojung terdiam dalam kalimat Taehyung barusan.

Lelaki itu menghela nafas kasar, “Terima kasih, nuna. Sudah membiarkan keegoisanku selama ini, sudah membuat hari-hariku lebih berwarna karena aku memperhatikanmu. Mungkin adik kelas sepertiku tidak pantas berlaku tak sopan seperti ini, bahkan kau lebih cocok dengan Sehun sunbae yang sama hebat visualnya denganmu, dan kalian berdua begitu popular.Semua siswa dikelasmu juga tak suka padaku. Hanya saja, aku ingin mengungkapkan rasa suka pada orang yang aku mau dengan ‘mencoba’ peduli denganmu semenjak masuk ke sekolah ini, aku ikut OSIS karenamu dulu juga jadi pengurusnya.”

“K-kau bicara apa, Taehyung-a?”

– F l a s h b a c k –

 

“Selamat datang, pengurus Osis kelas satu yang baru masuk. Saya Jung Soojung dari kelas XI-III, sebagai sekretaris Osis. Semoga kalian betah disini,” dengan bangga Soojung tersenyum kearah siswa-siswi baru ‘calon Osis’ yang duduk manis mendengarkan perkenalan para kakak kelasnya saat itu.

Di sekian banyak siswa yang mendaftar, seorang lelaki dengan celana masih kebesaran, terus memandangi si sekretaris Osis sekolahnya yang baru itu. Kim Taehyung namanya.

“Kau kenapa, Taehyung?” tanya temannya yang dulu satu sekolah di SMP.

“Hah?”

“Eh, tidak.” Taehyung memalingkan wajah dari Soojung.

“Jelas sekali kau memperhatikan kakak kelas yang itu,” Arsen, teman masa SMP nya menunjuk Soojung. Taehyung tersentak, “B-bagaimana kau bisa tahu?”

Soojung berfirasat ada yang membicarakannya sedari acara dimulai, dan mulai menerawang setiap insan calon Osis disana.

“Arsen apa sih yang nggak tahu,” bangga siswa keturunan Indonesia itu, Arsen. Taehyung sudah tahu kebiasaan temannya itu hanya memutar bola matanya malas dan berdecak pelan.

“Tapi, kak Soojung cantik juga ya, sama seperti Chanmi, tapi sayang sekali dia beda SMA sama kita,” ujar Arsen enteng, Taehyung mengerjap.

“Cih, baiklah bro, ayo kita taruhan!” ajak Taehyung bersemangat.

Arsen membentuk seringaian khasnya, “Baiklah, siapa takut, kawan. Buat kak Soojung luluh, lalu tembak dia. Bagaimana?”

Deg.

“H-hah? Ayo, itu sih mudah, sen, haha,” remeh Taehyung diiringi gelak tawa mereka berdua.

“Hei, kalian berdua yang disana, tadi mendengarkan apa yang dikatakan ketua Osis kan?” sahut Soojung menunjuk Taehyung dan Arsen yang tiba-tiba hening, begitu juga suasana di ruangan itu.

“Kau sih,” Taehyung menyenggol Arsen pelan, mereka berdua saling menyalahkan. “Kalian yang tadi, maju kedepan.” pinta Soojung kembali.

Dengan langkah goyah, karena tidak tahu apa-apa. Arsen dan Taehyung sudah berdiri menghadap angkatan kelas sepuluh yang memandangnya dengan tatapan bermacam-macam. Ada yang memandang kesal- karena waktu penjelasannya terpotong- , ada yang iri karena dinotice Soojung, ada juga yang bingung apa yang terjadi.

“Jadi kalian berdua tadi bicara apa sih, sampai seru begitu kelihatannya, benar kan, Sehun-ssi?” tanya Soojung diiringi anggukan Sehun, sang ketua Osis.

“Kami..” Arsen membuka mulut. “Kalian membicarakan Soojung, karena kecantikannya ya?” sela Sehun tertawa ringan.

Soojung tersentak, “Benar begitu?” gadis itu memastikan.

Taehyung dan Arsen mengangguk, “Ya, benar begitu. Tapi Taehyung yang memulainya duluan, jadi hukum dia lebih banyak, sunbaenim,” ujar Arsen tanpa dosa kemudian meringis karena tangan kirinya dicubit Taehyung.

“Hahaha, siapa yang bilang ingin menghukum kalian?” gurau Soojung. “Eh? Salah ya, maaf kak Soojung,” ujar Arsen lagi. Arsen menoleh pada Taehyung dan senyum penuh kemenangan, karena sudah bicara lebih banyak pada Soojung.

Taehyung mengerti benar arti mimik Arsen saat itu, iagemas ingin menjitak anak itu sekarang juga.

“Soojung itu tidak suka dipanggil kak loh, benar kan?” timpal Byungyeol, si bendahara berkacamata. Soojung tersenyum kecil lalu mengangguk, “Baiklah, lain kali perhatikan kalau orang sedang berbicara ya, kalian boleh duduk.”

Poin 1 : Soojung tidak suka dipanggil kak.

 

Still flashback …

Di kelas X-I, kelas Taehyung. Ternyata tampak banyak terdengar bisikan mengenai Jung Soojung. Sepertinya sekretaris Osis itu popular disekolah ini.

“Hei, Taehyung- tadi kamu beruntung sekali bisa dipanggil kedepan bersama Soojung nuna,” teman sebangkunya, Ilsung membuyarkan lamunannya. Taehyung mengerjap, lalu menoleh, “S-soojung, ‘nuna’? Apa aku boleh memanggilnya seperti itu juga?”

Ilsung tertawa hambar, “Tentu saja, Taehyung. Sunbae kan tidak suka dipanggil ‘kak’, dan kalau panggilan dengan ‘sunbae’ terlihat terlalu formal. Aku ingin nuna saja, agar lebih dekat dengannya, hehe”

Taehyung mengiyakan acuh tak acuh, aku tak boleh keduluan dari siapapun -gumamnnya.

“Hah?” Ilsung bingung. “Tidak ada,” Taehyung tersenyum.

Skip day by day,

 Kelasan mereka hampir semua menggemari Soojung, Taehyung mengerti betul arti dari keuntungan itu. Ia bisa bertanya apapun tentang Soojung tanpa ketahuan Arsen yang beda kelas dengannya.

“Shin Minha-ssi,” panggil lelaki bermarga Kim dengan santai. Sedangkan yang dipanggil menoleh, mencari asal suara, “Eh? T-taehyung-ssi? Ada apa?”

“Menurutmu, Soojung nuna suka makanan apa?” tanya Taehyung tanpa basa-basi.

Minah membeku, ia terlalu gugup untuk bicara dengan seorang Kim Taehyung, “A-aku tidak tahu.”

Taehyung mendecak kesal, “Ah payah kau sialan.”

“T-tapi, setahuku Soojung eonni tak suka laki-laki bad boy,” tambah Minha. Taehyung mengerjap, “A-apa? Oh, oke.” Barusan ia mengumpati Minha, apa itu seorang badboy?

Poin 2 : Soojung tidak suka bad boy.

Baiklah aku harus memperbaiki sifatku. – batin Taehyung .

Poin 3 : Soojung suka cokelat panas.

Poin 4 : Ayah dan Ibu Soojung orang besar. Koreksi, keluarga Soojung maksudku.

Hari demi hari Taehyung lalui dengan berburu fakta tentang kakak kelasnya yang sangat ia sukai, sampai ternyata Arsen menyerah dengan taruhan yang dibuatnya karena sudah mempunyai pacar sekelasnya.

Tapi berita Arsen punya kekasih itu bukan berarti seorang Taehyung tidak berhenti menyukai Soojung. Sampai akhirnya, ia memutuskan memberikan Soojung cokelat panas tiap jam istirahat.

Hari pertama saat Taehyung ke kelas Soojung, XI-III.

“Hei, adik kelas itu nyasar ya?”

“Apa itu yang dibawanya?”

“Untuk pacarnya mungkin?”

“Tampan ya.”

Bisikan positif maupun negatif berdengung ditelinga Taehyung, tapi ia tetap gigih menghampiri meja Soojung dengan senyum cerianya. “Soojung nuna,” Taehyung berjalan penuh kekhawatiran.

Bagaimana kalau ia menamparku?

Bagaimana kalau ia fikir aku tidak waras?

Bagaimana kalau Soojung sudah punya pacar?

Bagaimana blablabla..

 “Apa?” jawab Soojung acuh tak acuh ketika itu sedang bermain game di smartphonenya bersama Mina.

“I-ini buatmu, nuna. Aku Kim Taehyung dari kelas X-I,” Taehyung memperkenalkan dirinya.

Merasa ada yang janggal, Soojung sengaja menghentikan permainannya, menoleh pada lelaki yang masih berdiri didepan mejanya.

“Kau kenapa? Memangnya siapa yang suruh kau memperkenalkan diri?” tanya Soojung memandang sinis Taehyung. Ia tak suka kalau ada yang menganggu, apalagi sok kenal sok dekat seperti itu.

“Ah. Tidak apa-apa, aku hanya ingin memperkenalkan diri padamu, nuna. Besok aku akan kesini lagi, a-anyeong!” Taehyung membungkuk sedikit lalu melesat keluar kelas Soojung yang membuatnya gugup setengah mati.

Sejak saat itu, Soojung mengerti Taehyung datang ke kelasnya karena adik kelas itu ‘menggemari’ dirinya. Sudah biasa.

Maka Soojung dan Mina tak ambil pusing soal Taehyung yang mondar mandir dengan cokelat panasnya itu.

– f l a s h b a c k – off

“Jadi karena taruhan itu, aku gencar dan jadi suka sekali padamu, nuna. Sayang sekali hanya sepihak,” Taehyung mengakhiri ceritanya yang membuat Soojung membeku dalam belaian angin sore. Oh ya sekarang sudah sore, ia sudah membolos bersama Taehyung selama 3 jam.

“M-maaf Taehyung, biar aku jelaskan. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, aku jadi makin merasa bersalah, sejujurnya aku tidak menganggapmu sebagai perusak suasana jam istirahatku, dan sejak awal pertemuan itu, aku jadi lebih semangat ketika bel istirahat berbunyi. Entah, tapi aku sadar kalau itu karenamu dan cerita mu itu, bodohnya aku hanya ‘sadar’ dan tidak mau mengakui kalau aku nyaman dengan kedatanganmu. Lihat kan? Betapa hina aku membohongi perasaanku sendiri–” Soojung menghentikan kalimatnya.

Taehyung mendengarkan tak percaya, sembari menghembuskan nafas berat. “Lalu?”

“Lalu, aku jadi gugup kalau hanya berdua denganmu, seperti di sini. Kau juga bilang, aku cocok dengan Sehun? Diriku sendiri bilang bahwa Sehun cocok dengan Irene eonni alumni tahun kemarin. Bahkan a-aku, aku juga tidak tahu kenapa bisa cuek dan bersikap layaknya kau tak penting sama sekali selama ini. Itu, otak dan hatiku mungkin tidak bisa diajak kerja sama. Menyebalkan memang, padahal ingin sekali aku sesekali bersikap seperti perempuan pada biasanya, apalagi Taehyung- ya ku akui kau tampan, dan itu.. ah cukup, maaf-” Soojung menghela nafas, dan tersenyum menatap lelaki dihadapannya yang terdiam.

“Jadi, Soojung nuna, kau menyukaiku?” tanya Taehyung hati-hati.

Soojung tak menyahut, gadis itu tertunduk.

“Aku menyukaimu loh, Soojung nuna.”

Deg.

Soojung, apa apaan ini, tadi kau sudah menceritakan semua uneg-unegmu pada orang yang kau pikirkan selama ini, dan sekarang dia ada di hadapanku. Lalu dia bertanya apakah aku menyukainya.

Batin Soojung dan otaknya bekerja keras untuk mengoptimalkan jawaban.

“Sepertinya begitu, yah mau bagaimana lagi. Aku juga tak bisa selamanya berpura-pura tidak menyukaimu, Taehyung-ah,” Soojung tersenyum manis.

Ah. Perasaan apa ini Taehyung? Kenapa jantungku lebih cepat biasanya? Apa Soojung nuna menyantetku jadinya deg degan seperti ini?

Taehyung akhirnya tersenyum tulus, yang benar-benar keluar dari perasaannya.

Aku ingin terbang saat ini juga. Sial. –batin Soojung, dan Taehyung.

“Nuna, be mine?” Taehyung masih tersenyum menghela nafas pelan, meraih sepasang tangan Soojung yang dari dulu ia perhatikan, mulus, putih, dan lentik. “Jarimu benar-benar bagus, Soojung nuna. Aku suka sekali.”

Soojung masih berkutat, diam.

“Jadi bagaimana?”

Soojung tersentak, berharap ia punya mesin waktu untuk memberhentikan ini semua.

I’m yours, Taehyung-ah.”

Taehyung memeluk tubuh Soojung yang ramping dengan rasa bahagia, seperti ada kemenangan yang amat sangat dinantikannya–seperti taruhan Arsen dengannya. Ia pemenangnya.

“Jinjja, nuna, kau benar-benar tidak bohong kan?” bisik Taehyung dalam pelukannya. Soojung menggeleng, “ily, Kim Taehyung,” gumam Soojung yang masih bisa didengar jelas Taehyung.

I love you too, nuna sialanku,” Soojung tersentak, “Hei– sejak kapan aku jadi sialan, adik kelas sialanku?” ia melepas pelukannya tertawa dan menjitak Taehyung yang meringis pura-pura kesakitan.

“Sejak kau lahir sudah menjadi sialan cantik yang ditakdirkan bersamaku hari ini, nuna.”

Terdengar gelakan tawa dari atap sekolah itu, tempat kedua insan saling berkeluh kesah dan akhirnya bersatu untuk saling menyempurakan.

“S-soojung?” Mina membuka pintu atap dan tak percaya apa yang dilihatnya.

Eonni, ada apa?” Minha, adik Mina ikut mengintip, “Hah? Taehyung-ssi? B-bagaimana bisa?”

Soojung dan Taehyung menoleh lalu saling bertatapan, kemudian tersenyum manis,“Tidak ada apa apa.” Sial, visual couple.

☼ fin ☼

Advertisements

One thought on “[Love Is Moment Project] Hot Chocolate

  1. Halo little junggg

    Buat ceritanya school life bgt nya berasa ya, hehe, adek kelas crush kk kelas, kalo buat aku konfliknya kurang greget karena terkesannya buru2 dan terlalu banyak percakapan drpd penjelasan setting

    Bahasanya juga masih campur2 ya, formal-informal, tp untuk bhs asing sudah di italic yeay 👏

    Ada bbrpa typo juga, lain kali di cek lagi ya (terutama spasi)

    Keep writing anyway ya, maafkan komen ini 😂👍

    Ditunggu mungkin krystaehyung lainnya~~

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s