Ficlet · Romance

Home


tumblr_niyhuzY2XM1qznmazo1_1280.jpg

Home

iKON’s Bobby | OC’s Connie

a story by ts_sora

Romance

Ficlet

.

.

.

Because I don’t need any place if I already have you as home

.

.

.

“Tell me what do you want as your birthday gift.”

Hal yang begitu ia ingat saat Bobby dengan begitu bersemangat saat ia bangun pagi-pagi sekali tadi. Saat itu Connie tangah menyiapkan dua mangkuk sereal untuknya juga pria itu lengkap dengan dua buah gelas orange juice yang menjadi favorite keduanya. Connie tertawa sumbang, mengira Bobby sedang mengingau dan lupa jika ia baru saja bangun.

“Told you, if I have big money, what you really want. I’ll give it to you,” ujarnya kala itu yang lantas duduk pada bangku meja makannya dan mulai menyantap sereal miliknya dengan begitu semangat. Connie hanya tertawa kecil melihatnya. Ini adalah kali pertama ia melihat kekasihnya tersebut terlihat begitu bahagia. Ia tak mengharapkan apapun, sungguh. Namun tak ada hal yang lain yang ia inginkan selain melihat wajah bahagia Bobby yang saat ini ia tunjukkan padanyahal yang bahkan menjadi begitu jarang ia temui.

Bobby bukanlah seorang pria yang menghabiskan hampir setengah harinya di luar demi beberapa lembar uang. Ia juga bukan macam pria berseragam yang akan berangkat pagi-pagi sekali, takut kehilangan jam kereta paginya. Bobby berbeda.

Bobby adalah jenis pria yang akan menghabiskan waktunya di studio kecil yang ia ciptakan sendiri dengan barang-barang seadanyamerangkai sejumlah nada dan frasa demi sebuah ciptaannya yang ia sebut masterpiece. Tak hanya dalam satu hari, bahkan Bobby rela menghabiskan sisa umurnya hanya untuk pekerjaaan yang ia agung-agungkan tersebut. Dan Connie sangat menghargai hal itu. Namun, seperti pada kehidupan yang lainnya. Semua tak semudah yang diangankan.

Butuh bulanan, hingga tahunan untuk Bobby bisa menjual karyanya. Butuh puluhan atau ratusan percobaan yang Bobby lakukan agar sang client memuja karyanya. Ada hampir ratusan kali ia melihat Bobby terlihat begitu sedih juga frustasi, namun pria itu tak pernah sekali pun berputus asa. Itulah yang membuat Connie selalu berada di belakangnya, mendukung pria itu saat ia butuh dirinya.

Dan saat ini, kiranya seorang client memuja satu di antara karyanya. Setidaknya satu dari banyaknya doa Connie panjatkan, terjawab sudah.

Connie menatap sekitarnya, sebelum sebuah senyum terlihat melengkung indah di wajahnya. “I want a new apartment if it’s  possible,” ujarnya menopang dagu sembari kedua matanya menatap Bobby yang masih terlihat bersemangat.

Flat dimana mereka tinggal memanglah jauh dikatakan layak. Beberapa bagian lantai yang terbuat dari kayu tersebut berderit saat diinjak. Belum lagi keran air yang terkadang macet. Juga beberapa dinding berlubang yang sengaja mereka tutupi dengan beberapa furniture yang ada.

“I promise you. Just wait and see me tonight, darl.”

.

.

.

Namun..

Jam pada ponsel Connie menunjukkan pukul 2 pagi, dan Bobby belum saja kembali. Nomor ponselnya bahkan tak bisa ia hubungi sejak siang tadi. Sebenarnya ada apa dengan pria itu? Ini bahkan pertama kalinya pria itu bertingkah demikian.

Connie beranjak dari bangkunya hendak menyeduh kafein untuk kesekian kalinya, sebelum suara berderit dari pintu flat mereka yang terbuka. Connie tersenyum tipis saat melihat sosok Bobby berdiri di ambang pintutengah tersenyum padanya.

“Hey, I thought you sleep already,” ujarnya terdengar lelah sebelum meletakkan mantelnya pada meja makan mereka dan menyempatkan mengecup salah satu pipi Connie lembut.

“You know I even couldn’t sleep if you’re not next to me.”

“Liar,” ujar pria itu yang lantas tertawa kecil mendengar apa yang diucapkan kekasihnya tersebut.

“Coffee?” tawar Connie kali ini yang lantas mendapatkan anggukan kecil dari pria itu. Connie lantas beranjak dari bangkunya menuju pantri. Memanaskan air pada tekonya sebelum meraih mug miliknya juga sebuah mug milik pria itu. Namun saat Connie hendak menyendokkan beberapa sendok kopi ke dalam mug, lengan besar milik pria itu memeluknya erat dari belakangmembuat Connie mengurungkan niatnya kali ini.

Tidak ada yang pria itu ucapkan. Hanya memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada ceruk leher gadis itu. Hanya sebuah napas yang ia buang cukup panjangyang membuat Connie sadar apa yang tengah terjadi. Masterpiece Bobby ditolak untuk kesekian kalinya.

“Don’t go anywhere. I just need to hug you. That’s all,” ujarnya begitu lemah dan membuat Connie lantas membuang napasnya. Sungguh, tak ada yang begitu ia benci dari Bobby yang rapuh.

Dalam diam, Connie bisa mengartikan semuanya. Tentang Bobby yang pulang dini hari, berharap Connie tak melihat dirinya yang rapuh. Tentang ponselnya yang sengaja ia matikan hanya karena ia tak ingin Connie menghawatirkannya.

“Don’t leave me even if I can’t bring happiness for you.”

Kali ini Connie melepaskan lengan besar milik pria tersebut dari pinggangnya. Memutar tubuhnya demi menatap wajah kekasihnya tersebut sebelum ia mendaratkan sebuh kecupan lembut pada salah satu pipi pria itu. Ia lantas tersenyum.

“I don’t need anything, like really, Bob.”

“How about new apartment you asked before? You know we need better place to live in.”

Connie menggeleng pelan. Diraihnya tubuh pria yang ad di hadapannya tersebut. Memeluknya sebelum ia lantas mengelus punggungnya begitu lembut. Connie menarik napasnya dalam-dalan sebelum sebuah senyum kini terbentuk pada wajahnya.

“Told you, you don’t have to worry. Because I don’t need any place if I already have you as home,” ujar Connie terdengar lembut yang lantas membuat Bobby mengeratkan pelukannya saat itu juga.

.

.

.

“You know I can’t live without you. Don’t ever leave me.”

.

.

.

-fin.

Advertisements

One thought on “Home

  1. KYAAAA!!! WAE IGE NEOMU GWIYEOWO??? Kisah mereka manis sekali sih, jadi iri kan diri ini ;-( ;-( Entahlah komen macam apa ini. Mending ngilang saja deh /pyong/ ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s