Chaptered · Comedy · Fantasy · G · Teen

Candy Jelly Love- Part 2 Final


april_2017-05-06-10-24-31-786

Candy Jelly Love

 

Author : @minarifini / Cast : Byul (OC) and Choi Minhwan of FT. Island/ Cameo : Rest of FT Island Members, (OC) Kim Sora / Genre : Fantasy, Comedy/ Rating : G / Lenght : Two Shoot

 

Disclaimer : Just a fanfiction Of  Choi Minhwan  FT Island and Oc’s- please  don’t take it serious. Everthing in this ficts are not real. Just enjoy the whole stories. This ficts also get inspired by Candy Jelly Love and Ah Choo- a beatifull song from Lovelyz. Copy paste the stories are not allowed!

 

AN:  Aslinya ada ide yang lebih simple lagi untuk nulis Minhwan mempraktekkan salty meme kkkk tapi entahlah, ide ff ini muncul dan aku suka plotingnya kkk ya semoga kamu juga suka ya @nodat_riseuki . Ceritanya pun awalnya Cuma oneshoot aja kkk tapi entahlah jadi agak panjang gini XD tau kan Minhwan itu ultimate bias, so aku g mau buat yang biasa2 aja XD ya gini deh jadinya. Sekali lagi semoga kamu suka dan maaf maaf banget baru bisa publish FF ini.

 

 

 

S T O R I E S – O N E  , T W O

 

 

Cotton Candy

 

Berkali-kali Byul mengingatkan dirinya bahwa seluruh rangkian kejadian dirinya dan Minhwan bukanlah mimpi. Ini nyata seratus persen! Byul tak henti-hetinya tersenyum. Mungkin sekarang Byul sudah seperti orang gila. Tersenyum sendiri di depan gedung seni. Hatinya bunga. Ia akan melihat seorang Minhwan latihan band dengan teman-temannya. Dan tak pernah sekalipun ia membayangkan akan melihat sang pujaan hati latihan band secara live untuk yang kedua kalinya.  Berkenalan dengan personil dan lingkungan FT Island yang lain pun masih terasa seperti mimpi. Tapi ini bukan mimpi XD , ini nyata !

 

Lebih gilanya lagi, Byul dan Minhwan bertukar nomor ponsel. Tuhan, perbuatan baik macam apa yang telah kulakukan hingga Kau memberikanku keberuntungan seperti ini! begitulah isi hati Byul saat Minhwan mengajaknya untuk bertukar nomor ponsel. Malamnya, Minhwan mengiriminya pesan singkat, ia mengajak Byul untuk datang lagi saat latihan siang ini. Katanya lagi, ada lagu baru yang akan dimainkan. Minhwan ingin tahu bagaimana pendapat Byul tentang lagu baru itu. Kyaaaa, hubungan mereka memang berkembang sangat pesat.

 

Seperti halnya siang ini, Byul mengirim pesan singkat kepada Minhwan sebelum masuk ke dalam gedung departemen seni.

 

[you 2;44 kst ] maaf baru sempat membalas pesanmu. Omong-omong aku sudah di depan gedung seni. Aku akan segera menuju ruang latihanmu ^^

 

[Minannie 2;45 kst ] Aku kira kau tak akan datang kkkk, okay segeralah kemari! aku sudah menunggumu dari tadi. Lagu barunya sudah dimainkan tbh kkkk

 

[you 2;46 kst] >< aku benar-benar terlambat, padahal aku ingin mendengar lagu baru itu L

 

[Minananie 2;47 kst] 😛 salahmu sendiri. Kemarilah, meski bukan lagu baru, nanti kami akan mainkan beberapa lagu untukmu kkk

 

Tuh lihat, Minhwan selalu begitu. Selau cepat membalas pesan Byul. Bagaimana Byul tidak senang dengan sikap Minhwan seperti itu? Ternyata memang benar yah, Minhwan itu baik dan tidak sombong  seperti mahasiswa kampus yang populer lainnya. Byul sungguh beruntung menyukai seseorang seperti Minhwan!

 

 

Tunggu sebentar, sebelum masuk ke dalam gedung seni , Byul mengambil kotak permen yang ada di tasnya. Ia mengambil permen yang berwarna hijau terang. Tidak seperti sebelumnya, kini Byul yakin, permen ini akan membantunya sekali lagi. Byul melahap permen hijau itu. Rasa manis permen itu menyebar di dalam mulut Byul. Byul memejamkan matanya sambil mengunyah permen itu.

 

 

Setelahnya, Byul pun membuka matanya kembali. Seulas senyum manis nampak di wajah Byul. Ia yakin, ia akan beruntung. Dengan senyum manis di wajahnya, Byul melangkah masuk ke dalam gedung. Ia mendekap ponsel di dadanya. Setiap langkahnya Byul sudah membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Bisa saja Minhwan mengajakku kencan, tapi-tapi itu kan terlalu cepat, tapi siapa peduli, kalau dia memang akan mengajakku kencan  bagaimana? Mana mungkin menolaknya XD kyaaaaaaaa- teriak Byul dalam hati sambil membawa pompom ke udara.

 

Ruang 056, studio latihan FT. Island. Byul tak akan mungkin melupakan ruang studio itu. Ruang studio 056 ada di lantai lima. Byul berjalan menuju lift. Ia menekan tombol lantai 5. Begitu pintu lift tertutup Byul merapikan baju dan poninya. Setelah terlihat rapi. Byul sabar menunggu hingga pintu lift pun terbuka. Ah catatan saja, kenapa gedung departemen seni sangat unik? Ya bagi Byul memang sangat unik pertama dari desain bagunannya memang berbeda- bagunan gedung departemen seni berbentuk seperti busur- setengah lingakaran;  kedua departemen seni adalah gedung tertinggi  dan terbesar di FNC University . Mahasiswa departemen seni tidak terlalu banyak karena seleksi masuknya cukup ketat, maklum saja jurusan seni adalah jurusan yang paling favorit di FNC University . Terdiri dari kelas jurusan musik, seni rupa, seni tari, seni teater dan drama. Pintu lift pun terbuka, Byul tersenyum dan kemudian ia melangkahkan kakinya mantap ke arah ruang 056.

 

Dari kejahuan Byul mendengar suara dentingan piano dan suasana saat itu sedikit sepi. Tapi Byul tidak mau ambil pusing hal itu karena hatinya sudah terlalu senang dan di penuhi dengan fantasi-fantasi manisnya. Kaki Byul terasa sangat ringan berjalan menuju ruang studio 056, semakin mendekat suara dentingan piono itu terdengar jelas. Nadanya sedih.  Ada perasaan aneh ketika berdiri di depan pintu studio. Setahu Byul FT Island tidak mungkin pernah sesunyi ini.

 

Apa aku salah ruangan?

 

Meski sudah merasa aneh, tapi percayalah Byul tak mendengarkan kata hatinya. Ia pun mendorong pintu itu  dengan senyum sumringa. Ingin hati Byul memanggil nama Minhwan, namun ia urungkan niatnya saat melihat seorang pria bermain piano. Pria itu memunggunginya. Byul pun terdiam. Kerja otaknya melambat saat ia mendengar suara lembut pria itu. Siapa dia? Mengapa ia memainkan lagu sedih? Untuk beberapa saat Byul terhanyut dengan suasana. Lagu yang dinyanyikan pria itu berhasil membuat Byul terpaku. Syair yang sedih membuat Byul ikut merasakan rasa pahit di setiap baitnya.

 

Dan….

 

 

 

Kriiiing Kriiiing……

 

 

Suara piano itu terhenti seketika saat suara ponsel Byul berbunyi nyaring. Pria itu menoleh ke arahnya. Byul tersadar dari lamunannya. Tatapan pria itu terlihat seakan terganggu dengan kehadiran Byul.  Byul pun buru-buru mengambil ponsel yang ada di tas selempangnya.

 

“Byul? Kau dimana?”

 

“Studio n-nol lima e-enam.”

 

“Byul-ah, aku lupa tidak memberi tahumu. Kami latihan di studio 046 di lantai 4. Maaf ya, aku lupa.” Suara Minhwan terdengar  menyesal di sana.

 

Ah, i-iya tak apa. A-aku akan segera ke s-sana.”

 

Apa perlu aku menjemputmu di sana?”

 

“A-ah t-tidak perlu. A-aku akan segera k-ke sa-na.“Tentu Byul gugup,  tatapan tajam pria itu benar-benar membuat Byul tidak enak. Pria itu nampak tidak ramah. Byul pun memasukkan kembali ponselnya. Ia membukkkan diri beberapa kali, “ maaf, aku salah ruangan. “ Setelahnya Byul menutup pintu studio itu. Jantungnya bergemuru cepat, sungguh aneh rasanya. Tatapan tajam pria itu sungguh membuat Byul takut. Byul mengelengkan kepalanya untuk mengembalikan dirinya.  Byul pun terkejut saat mendengar suara dentingan keras piano dari ruang 056. Tanpa ingin terlibat lebih jauh, Byul pun segera mengambil langkah untuk pergi.

 

 

Pintu lift pun terbuka, Byul melihat Minhwan berdiri di sana sambil melambaikan tangan. Pria itu tersenyum padanya.  Byul hanya tersenyum kecil saat melihat Minhwan berjalan ke arahnya. Byul melangkahkan kakinya ke luar lift.  Sungguh jika dalam keadaan normal Byul sudah pasti berteriak-teriak di dalam hati saat melihat Minhwan. Sungguh dalam keadaan apapun, Minhwan di mata Byul itu sempurna. Apa lagi saat sedang tersenyum. Tapi sayang, karena masih memikirkan  tatapan pria di ruang 056 itu membuat Byul bersikap biasa pada Minhwan. Tidak ada jantung yang berdetak dua kali lebih cepat atau kaki Byul tidak terasa lemas seperti jelly saat berhadapan dengan Minhwan seperti ini.

 

“Maaf ya Byul, aku sungguh lupa. “ Minhwan  menggaruk tengkuknya.

 

Byul hanya bisa membalas dengan senyum simpul, “tenang saja, tidak apa-apa. “

 

“Syukurlah. “Minhwan membuang nafas lega.  Minhwan pun mengajak Byul berjalan ke ruang studio.

 

“Mengapa tidak latihan di ruang studio 056?” Tanya Byul.

 

“Sebenarnya ada jadwal sendiri sih, tapi karena  sudah dua minggu lebih ini  kami memakai studio 056 berturut-turut maka kami menggembalikan jatah untuk grup vocal kelas sebelah. “ Jelas Minhwan santai sambil memasukkan tangan ke saku celanya. “Kau melihat mereka latihan?”

 

Byul menggelengkan kepalanya , “hanya satu orang saja yang terlihat t-tadi.”  Wajah Byul sedikit memucat saat teringat kembali tatapan tajam pria itu.

 

“Hmm…Mungkin mereka akan latihan nanti sore.”  Beruntung Minhwan tidak terlalu memperhatikan wajah Byul yang pucat.

 

Tak berapa lama kemudian, keduanya sampai di studio 046. Minhwan membukkan pintu untuk Byul. Perlahan Byul pun masuk ke dalam. Jika dibandingkan dengan studio 056 , studio 046 ini ternyata ukurannya lebih kecil. Seluruh anggota FT. Island pun menyambut kedatangan Byul. Ah dan satu lagi, ada Kim Sora.

 

“Duduk sini, Byul.” Gadis itu melambaikan tangan ke arah Byul dan kemudian menepuk-nepuk kursi yang kosong. Byul berjalan ke arah tempat duduk itu. Ia mendudukkan dirinya di samping Sora. Sementara Minhwan berjalan ke arah drum-nya. Byul melihat teman-teman band Minhwan sedang sibuk menge-cek alat musik mereka.

 

Namun hal itu tidak berlaku bagi Hongki sang vokalis. “ Hoi, Byul.  Kau harus mengubur keiinginanmu untuk mendengar lagu baru kami.” Hongki terkekeh sambil berdiri di depan stand mic-nya “Kau datang terlambat sih. “

 

Byul membuat muka sedih. Pasalnya ia memang ingin mendengar lagu baru FT.Island. “Yah~ menyebalkan. “

 

“Pssst. “ Sora menyiku lengan Byul, hingga membuat Byul menatap Sora. “Tenang saja, kau bisa mendengarkannya nanti. Saat acara panggung minggu depan. “ Sora menaik-naikkan alisnya sambil tersenyum.

 

Byul hanya bisa menghela nafas berat. Percuma kalau hanya bisa mendengarkan saat acara panggung minggu depan, tidak ada yang special. Byul ingin menjadi orang pertama yang mendengar lagu baru itu sebelum orang lain.

 

“Okay, semua siap?” Aba-aba dari Jonghoon sang gitaris paling keren di departemen seni kepada seluruh anggota bandnya. Hongki pun bersiap di depan stand mic-nya. “ Aku dengar, ini lagu kesukaan Byul. Jadi kami memainkan ini special untukmu. Jangan sedih ya, ini karena ulah Minhwan yang lupa memberi tahu ruang latihan kami. “

 

“Huuuuuuuu…” itu suara Jaejin dan SeungHyun bersamaan sambil memamerkan tanda payah ke arah Minhwan.

 

“Sudahlah Hyung, kita mainkan saja lagunya. “ Minhwan bersikap tak peduli dengan cemooan teman-teman bandnya. Ia terlihat sudah siap untuk memainkan lagu band mereka.

 

“Oke,  I Hope untuk Na Han Byul. “  Sambung Hongki sambil mengerlingkan mata ke arah Byul.

 

“Cih dasar genit!” Sora melipat lengan di depan dadanya. Gadis itu terlihat mengerucutkan bibirnya kesal. Sementara Hongki terkekeh di balik stand mic-nya. “Awas saja kau!”

 

Byul hanya bisa tersenyum samar saat melihat tingkah Hongki dan Sora. Mereka adalah sepasang kekasih yang terlihat tidak membosankan. Dalam artian mereka tidak terlalu mengumbar PDA (Public Display Affection) seperti pasangan lainnya, mereka lebih terlihat seperti teman yang saling menjahili satu sama lain. Menyenangkan, bukan? Bisa dibilang Byul ingin memiliki hubungan kekasih seperti Hongki dan Sora.

 

Lagu kesukaan Byul mulai menggema di seluruh studio. Suara Hongki yang khas membuat lagu itu terasa hidup dan  groovy.  Byul sangat menikmati lagu itu. I Hope- Lagu kesukaan Byul. Byul tersenyum saat melihat Minhwan memainkan drum-nya. Dan Byul tak sanggup memungkiri jika saat ini Minhwan juga sedang tersenyum ke arahnya. Byul tenggelam dalam lagu itu. Byul pun lupa dengan pria ruang 056.

 

 

 

Jika bukan karena Minhwan, Byul tak akan mau duduk berlama-lama di kedai Ice Cream di kawasan sungi Han. Kedai Ice cream ini sangat unik. Mereka menawarkan menu yang berbeda dari kedai ice cream lainnya, menu andalan mereka adalah cotton candy ice cream. Jadi di dalam cotton candy ada ice cream-nya.  Memang sih Byul memilih ice cream rasa green tea tapi tetap saja rasa cotton candy ini sungguh membuatnya merinding. Ia harus menahan dirinya. Sungguh manis sekali. Byul tidak suka manis.  Berbeda dengan  Minhwan yang suka makanan yang manis-manis.

 

Setelah acara latihan selesai, Minhwan mengajak Byul untuk membeli ice cream. Konyol sih. Tapi Byul tidak sanggup menolak. Apapun asal dengan Minhwan, Byul rela. Meski harus memakan makanan manis pasti akan Byul lakukan.

 

Sebenarnya tempatnya saja Byul yang tak suka, kedai Ice cream bukan gaya Byul sekali.  Tapi sisi positifnya, kesempatan berbicara santai dengan Minhwan  tak akan mungkin Byul sia-siakan. Berbicara hal-hal ringan dengan Minhwan selalu membuat segalanya terasa beda. Terasa menyenangkan.

 

“Jadi, kau juga suka menonton cosplay?” Byul menganggukkan kepalanya semangat. Tuh, ada sisi lain yang baru Byul tahu dari sosok Minhwan. Ternyata pria itu juga suka menonton acara cosplay anime- sama seperti dirinya. “ Apa kau sudah tahu dua minggu lagi akan ada lomba cosplay di SM. University? Kalau kau mau, kita bisa pergi bersama.”

 

“Iya, aku tahu. “ Sambung Byul sambil menyuapi dirinya. Jangan ditanya bagaimana keadaan jantung Byul saat ini. Ajakan nonton cosplay tak akan mungkin dilewatkan!  “ Bersama ? boleh. Kita bisa membeli tiketnya bersama. “ Rasanya ada suara petasan di dalam jantung Byul – kyaaaaa…. secara mental Byul sudah berguling-guling di lantai saking senangnya. Pergi berdua dengan Minhwan adalah sesuatu yang asgahgsfajsgfakjgsakigska….

 

“Kau tak perlu khawatir, aku punya teman di sana. Aku bisa pesan tiket itu dengan mudah. Nanti aku akan menghubungi temanku. Kalau tidak salah dia panitianya!”  Tuh! Kalau memang semesta sudah berkonspirasi, semuanya akan terasa mudah. Memesan tiket cosplay akan terasa menjadi super mudah- seperti membalikkan telapak tangan saja. Kkkk.

 

Tidak ada hal yang bisa dilakukan Byul selain tersenyum atas jawaban Minhwan tersebut. Obrolan mereka pun tidak berhenti di situ saja. Ternyata Minhwan juga sama penyuka anime Jepang seperti dirinya. Kayaaaa dalam hati Byul sudah berteriak-teriak sambil berguling-guling. Ini kebetulan macam apa? Iya, sih memang tidak akan pernah jauh- jika seseorang penyuka cosplay mereka tentu juga suka dengan anime. Akhirnya mereka membahas tentang anime mulai dari anime yang lama sampai yang sekarang ini.

 

“Kau tahu, aku lagi on fire  sekali mengikuti seri Attack On Titan yang ke dua. Bisa dibilang penantian selama empat tahun harus bisa dibalas dalam seri ini. “

 

“Tetapi beberapa spoiler mengatakan, kapten Levi akan meninggal. Oh tidak! Dia karakter paling kusuka. “ Byul membuat ekspresi sedih di hadapan Minhwan. “Dan AOT seri ini katanya hanya 12 episode saja, kurasa tak mungkin cukup membalas penantian kita huhuhuhu….” Byul membuat tanda TiTi.  Sedangkan Minhwan hanya bisa tertawa melihat Byul.

 

“Iya sih, kalau nonton AOT kebanyakan perempuan pasti suka sama karakter Levi ya kekekek…”

 

“Iya tentu, kalau cowok pasti suka Mikasa. Iya kan?” Minhwan terkekeh sekali lagi karena tebakan Byul memang benar.

 

Byul tak sanggup menyembunyikan perasaannya. Ia benar-benar senang. Mana pernah Byul membayangkan sanggup berbicara dengan pujaan hati seperti ini. Sedekat ini dan seakarab ini.  Saat SMU dulu, Byul tak pernah sekali pun dapat menyentuh pujaan hatinya. Ia selalu memandangi pujaan hatinya dari jauh. Byul saat itu mencoba untuk menyapa pujaan hatinya namun, sang pujaan hatinya  –saat masih SMU-  tidak membalas sapaan Byul dan pria itu hanya memandang Byul remeh. Tapi Byul tak menyerah, ia juga memberanikan dirinya untuk memberikan coklat valentain padanya, namun yang ada coklat buatan Byul di buang begitu saja. Untuk pertama kalinya, hati Byul terasa perih. Hatinya patah dan ia mengubur dalam rasa sukanya pada pria itu hingga ia bertemu dengan Minhwan secara tak sengaja. Sejak saat itulah, perasaan itu bersemi. Byul menyukai Minhwan.

 

Hari semakin sore, matahari hampir tenggelam. Pemandangan Sungai Han nampak lebih indah. Byul dan Minhwan masih tetap betah berada di dalam kedai itu. Mereka masih terus membicarakan sesuatu.

 

“Oh benarkah? Kau sudah memfollow akun sns-ku? Tapi yang mana Byul? Aku tidak melihat namamu atau fotomu?” Minhwan mengernyitkan dahinya sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya. Nampak di sana Minhwan segera mengecek akun sns-nya. Ia memamerkan kolom pertemanan pada Byul. “Kau yang mana?”

 

Byul hampir tersedak ludahnya sendiri. Sungguh ia terkejut saat disodori ponsel Minhwan. Pria itu memintanya untuk menunjukkan akunnya. Perlahan Byul mengambil ponsel Minhwan. Byul men-scrool kolom pertemanan itu hingga menemukan akun-nya. “ Here…” Byul memberikan ponsel Minhwan kembali.

 

Nhb17 ? inisial namamu?” Minhwan mengambil ponselnya dan melihat Byul menanggukkan kepalanya. Pria itu pun membuka page akun sns miliki Byul. “ Mengapa tidak memakai fotomu sendiri Byul?”

 

Byul terdiam. Ia tidak suka berfoto sebenarnya. Tapi apakah itu bisa menjadi alasan yang tepat? Byul tertunduk sembari mengaduk ice cream-nya . “ Hmmm a-aku…. “

 

“Lain kali pakai fotomu saja agar mudah dikenali. “ Potong Minhwan sambil men-scrool page sns milik Byul. “ Kau suka membuat quotes dari anime dan kau suka mengambil gambar lanscape pemandangan ? Kkkk. “Perlahan Minhwan meletakkan ponselnya. Ia mentap Byul. “ Byul-ah kau sangat unik sekali. “

 

“Unik? Some of my friends called me a weirdo. “

 

Minhwan menopang dagunya dengan tangan kirinya, “ but not for me. Jika dilihat lebih dekat seperti ini, kau nampak manis juga, Byul. “ Minhwan pun tersenyum pada Byul yang sedang salah tingkah saat ini.

 

 

A Cup Of Coffee

 

He said, what ? i’m cute kyaaaaaaaaaaaaaa……

 

Byul berjingkrak-jingkrak di depan kaca kamarnya. Sesekali ia terkikik sendiri. Jujur saja, efek samping dari perkataan Minhwan sangatlah hebat. Sampai pagi ini, efeknya masih terasa bagi Byul. Bagun tidur langsung tersenyum, lalu berguling-guling di atas kasur saat teringat ucapan Minhwan. Ekspresi Minhwan saat mengatakan hal itu juga masih teringat jelas di benak Byul. Kyaaaaaaaaaa……Minhwan terlihat dua kali lipat lebih tampan dari biasanya. but not for me. Jika dilihat lebih dekat seperti ini, kau nampak manis juga, Byul. “ Kyaaaaaaaa ….

 

“Cukup Byul… Cukup. “ Byul menepuk-nepuk pipinya untuk mengembalikan dirinya. Pagi ini Byul sudah terlihat rapi. Ia sudah akan bersiap untuk pergi kuliah. Ia nampak terlihat lebih lebih lebih semangat dari biasanya. Wajahnya cerah. Bibirnya terus tersenyum.

 

Brrt…brrttt…

 

Suara ponsel Byul berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Byul pun mengambil ponsel yang ada di nakas. Ia segera melihat beberapa notifikasi dari ponselnya. Ada pesan dari temannya yang mengatakan bahwa ‘Byul, jangan lupa buku catatanku ya. Nanti ada mata kuliah tambahan dari Profesor Kwon. Kau mau ikut?’

 

Byul menepuk jidatnya. Hampir saja ia lupa. Segera saja ia berjalan ke meja belajarnya dan mengambil buku catatan temannya. Ia pun memasukkan buku catatan itu dalam tas selempangnya. Selanjutnya Byul membalas pesan itu. Ia juga akan ikut mata kuliah tambahan Profesor Kwon.

 

Byul sedikit menggerutu saat menyadari ponselnya sudah penuh dengan notifikasi pesan dan beberapa aplikasi lainnya. Maklum saja, sepulang dari keda ice cream Byul tidak menge-cek pesan atau aplikasi lainnya selain kolom chat-nya dengan Minhwan. Iya, jadi setelah makan berdua, mengobrol bersama sampai jam tujuh malam, obrolan santai mereka berlanjut via chat . Perhatian Byul hanya terpusat dengan kolom chatting Minhwan saja.

 

Barulah pagi ini, ia membuka beberapa pesan yang masuk. Ada pesan dari grup chatt kelompok untuk minggu depan, grup chatt narutofans, grup chat AOTfans, namun  ada satu yang menarik perhatian Byul. Pesan dari Sora Eoni.

 

 

[Sora Eoni 8;15 kst ]

Hi Byul.  Maafkan aku sebelumnya, mungkin ini akan terlihat sangat kasar, tetapi aku mohon jangan menyalah artikan sikap baik Minhwan.

 

 

[Minannie 11;45 kst ] Nanti siang, makan bersama ya J

 

[you 11;59 kst] tidak bisa, aku ada kelas tambahan sampai jam dua nanti.

 

[Minannie 12;00  kst ] Yah, sayang sekali :’v

 

Byul mengigit bibirnya gugup. Hatinya resah. Bagaimana tidak resah. Byul masih terbawa dengan isi pesan Sora Eoni. Yang Byul tahu, Sora Eoni sangat ramah dan beberapa kali mereka saling bertukar pesan , tapi entah kenapa, Sora mengiriminya pesan seperti itu. Apa maksudnya?

 

Ada apa sebenarnya? Minhwan bersikap baik padanya memangnya salah? Atau memang Byul yang terlalu jauh bersikap?

 

Kepala Byul terasa berat. Baru tadi pagi dunianya terasa indah dan hanya karena satu pesan dari Sora Eoni segalanya berubah menjadi kelabu. Byul terdiam melihat kolom chat-nya dengan Minhwan. Ia hanya membaca chat terakhir dari Minhwan datar , tak ada niat untuk membalas pesan dari Minhwan. Apakah aku terlalu berharap lebih padanya?

 

Tapi sejauh ini, berharap pun tak mungkin salah. Minhwan baik. Mereka berdua nyaman satu dengan yang lain. Obrolan pun sejalan. Memiliki kecocokan yang sama. Setahu Byul,   Minhwan belum mempunyai kekasih- dari halaman sns Minhwan tak pernah sekalipun menunjukkan bahwa ia sedang memiliki suatu hubungan khusus dengan seorang gadis. Apa lagi? Apa aku salah?

 

Byul terhenyak dari lamunannya saat pesan baru masuk dalam kolom chat-nya. Byul pun membacanya.

 

 [Minannie 12;10  kst ] Baiklah, tak masalah. Apa kau bisa menemuiku di studio 046?

[Minannie 12;11  kst ] Ada yang ingin kuperlihatkan padamu.

 

Byul masih bergeming. Ia masih belum ingin membalas pesan itu. Ia binggung. Haruskah ia membicrakan isi pesan Sora Eoni juga pada Minhwan? Byul menarik nafasnya berat. Ia pun ngunci poselnya. Mata kuliah Profesor Kwon akan di mulai. Suasana mulai sedikit riuh saat beberapa mahasiswa mulai memasuki kelas. Sementara itu, Byul menopang pipinya sembari melihat langit biru dari balik jendela kelasnya. Langit terlihat sangat biru dan awan menggantung bagaikan kapas. Dan tak berapa lama kemudian, ponsel Byul kembali bergetar. Pesan masuk dari Minhwan nampak terlihat di layar ponselnya.

 

[Minannie 12;15  kst ] PING

[Minannie 12;16  kst ] PING

[Minannie 12;17  kst ] PING

 

Byul pun akhirnya membuka kembali kunci ponselnya. Ia segera membaca pesan singkat dari Minhwan.

 

[Minannie 12;20  kst ] Byul. You there ?

[Minannie 12;21  kst ] Otte?

 

 

Byul menghela nafasnya berat. Ia harus membuat keputusan sekarang. Jika ia tidak bertindak, ia tidak akan pernah tahu apa jawabannya. Byul teringat permen keberuntungan itu. Ia pun mengambil kotak permen itu dari dalam tas selempangnya. Tinggal dua butir permen lagi. Masih banyak pertanyaan yang berputar di dalam benak Byul, tapi untuk saat ini biarlah satu persatu  pertanyaan itu terjawab. Byul mengambil salah satu permen itu. Ia pun memakannya. Permen ini rasanya selalu sama. Manis dan menjemuhkan. Satu harapan Byul saat ini, ia berharap kegelisaan di hatinya sirna. Apakah aku salah menafsirkan sikap baikmu? Am i too much, if i want him more than this?

 

 

[you 12;30 kst] baiklah, aku akan menemuimu nanti, setelah kelasku selesai.

 

Dan disaat yang bersamaan, Profesor Kwon memasuki kelas. Semua mahasiswa sudah duduk di tempatnya masing-masing. Mata kuliah pun di mulai.

 

 

Byul berjalan memasuki gedung departemen seni. Sepanjang koridor Byul membisikkan dirinya bahwa segalanya akan baik-baik saja. Mungkin setelah bertemu dengan Minhwan, Byul akan membicarakan pesan Sora Eoni pada Minhwan. Atau jika tidak, Byul akan membicarakan langsung pada Sora Eoni. Byul yakin, dimana ada FT. Island, Sora Eoni pasti ada di samping mereka.

 

 

Kegelisahan hati Byul semakin membuncah saat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti. Namun Byul terus melangkah menuju lift tanpa menghiraukan hiruk pikuk koridor lantai satu yang di penuhi mahasiswa departemen seni.

 

 

Byul menghembuskan nafasnya saat sampai di depan lift.  Byul pun menekan tombol untuk naik. Tak lama pintu lift pun terbuka, segeralah Byul masuk ke dalam lift. Hanya butuh beberapa detik saja, pintu lift pun terbuka kembali. Byul telah sampai di lantai 4. Berbeda dengan lantai satu yang cukup ramai, di lantai 4, hanya nampak beberapa mahasiswa saja di sana. Byul pun melangkahkan kakinya menuju studio 046.

 

Jantung Byul berdetak dua kali lebih cepat. Ruang latihan FT. Island tidak pernah sesepi ini-bukan? Apa Byul salah ruangan lagi? Atau Minhwan salah menyebutkan ruang studio-nya? Byul pun kembali mengeluarkan ponsel yang ada di sakunya. Ia menge-cek kembali kolom pesan Minhwan. Benar 046.

 

Sesampainya di studio 046, Byul sedikit mengeryit saat melihat pintu studio tidak tertutup seperti biasanya. Byul hendak masuk, namun langkahnya tertahan saat mendengar pembicaraan Minhwan dan seseorang di sana. Byul pun mengintip dari sela-sala pintu, itu Sora Eoni!

 

Raut muka Minhwan nampak sedikit dingin dan pria itu sedang mengepalkan tangannya. Ada apa sebenarnya?

 

“Minhwan, aku tahu kau bukanlah seorang yang buta terhadap perasaan seseorang. Aku yakin, kau tahu bagaimana perasaan Byul padamu.  Aku mohon jangan mempermainkan perasaannya.”  DEG! Jantung Byul mencolas perih saat mendengar ucapan Sora Eoni. Benarkah Minhwan sedang mempermainkan perasaannya?

 

“ Nuna, kau sudah terlibat terlalu jauh. Kau melarangku dekat dengan Byul, karena kau berada di sisi Eun Bi. “  Lalu siapa Eun Bi? Byul mengigit bibirnya gugup. Apakah ada sesuatu yang tak pernah ia ketahui tentang Minhwan selama ini? Wajah Minhwan itu memerah seakan sedang menahan amarahnya.

 

 

“Ayolah Minhwan. Aku tidak mungkin berfikir sesempit  itu.  Byul adalah gadis baik-baik dan ia tidak pantas jika hanya dijadikan pelarian sementaramu.  Asal kau tahu,  aku kecewa padamu. Kau bahkan tidak menemui Eun Bi saat ia datang kemari. Ia datang ke sini hanya ingin bertemu denganmu dan meluruskan segalanya. Tapi apa yang kau lakukan? Kau membuat Eun Bi kecewa dengan pergi bersama Byul? berfikirlah dengan jernih. Byul benar-benar tak pantas untuk menjadi pelarianmu di saat kau sedang bosan dengan Eun Bi!“

 

Byul terdiam. Apakah ini jawaban dari segala pertanyaanya? Apakah ini yang dimaksud dengan isi pesan Sora Eoni ? Apakah benar ini kenyataan yang harus dihadapi? Mengapa sangat pahit?

 

Tak terasa setetes air mata Byul jatuh membasahi pipinya. Mungkin benar, ia terlalu jauh bersikap dan menyalah artikan sikap Minhwan. Ia masih belum tahu banyak tentang pria itu. Dan gadis bernama Eun Bi itu pasti memiliki hubungan yang penting dengan Minhwan. Atau bahkan gadis itu kekasih Minhwan?

 

Byul membekab mulutnya. Byul tak lebih dari sekedar pelarian. Ia tak memiliki arti apapun di mata Minhwan.  Sekali lagi Byul merasakan hatinya patah. Sudah lama sekali ia mengubur dalam perasaan untuk jatuh cinta pada seseorang. Dan kini, di saat ia sudah berhasil menyentuhnya, maka di saat itulah ia harus melepaskannya kembali. Dada Byul terasa sesak. Perlahan Byul mengambil langkah mundur. Air mata Byul kembali terjatuh. Sungguh perasaan seperti ini bukan yang pertama bagi Byul, namun tetap saja – terasa begitu perih.

 

[you 14;25 kst] Minan-gun, kita bertemu lain kali saja. Ada sesuatu yang harus kukerjakan sekarang.

 

Untuk sejenak Byul memandangi kotak permen transparan itu. Ada satu permen yang tersisa di sana. Jujur jika Byul masih belum bisa bersikap, mungkin ia akan memakan kembali permen itu. Namun saat ini, cukuplah baginya untuk berhenti mengandalkan permen keberuntungan itu. Perlahan Byul pun memasukkan kembali permen itu ke dalam tas selempangnya.

 

Byul teringat sesuatu. Seorang hakim dalam memutuskan suatu perkara, hendaknya ia tidak dalam keadaan terpengaruh oleh emosi. Bukan perkara mudah menjadi seorang yang netral dalam memutuskan suatu perkara, mengingat, manusia sangat mudah sekali terpancing dengan emosi. Dan yang perlu ditegaskan, emosi bukan berarti sedang tersulut oleh amarah saja, tetapi perasaan terlalu senang, cemas, takut ataupun sedih dapat mempengaruhi pengambilan putusan. Sama halnya dengan apa yang dilakukan Byul saat ini. Byul sudah menyiapkan dirinya. Ia berjanji tidak akan terpengaruh dengan emosinya sendiri. Sudah saatnya ia harus mengambil keputusan untuk menyelesaikan semua.

 

 

Sudah cukup bagi Byul untuk menghindari Minhwan ataupun menutup diri dari kenyataan yang ada. Memang berat. Memang pahit. Tapi itulah kenyataan dan kebenarannya. Bukankah seseorang yang berjalan di jalan hukum harus berpegang pada kebenaran? Jadi mengapa harus menghindari kebenaran itu. Inilah saatnya.

 

“Pesanan anda, kak. “ Byul terhenyak dari lamunanya. Dilihatnya seorang pramusaji meletakkan pesanannya. Byul memberikan senyum saat pramusaji itu selesai meletakkan secangkir white coffee hangat dan sepotong croissant tawar di mejanya. “ Selamat menikmati. “ Byul mengangguk terimakasih pada pramusaji itu. Dan setelahnya pramusaji itu pamit meninggalkan Byul.

 

Saat ini Byul sedang menunggu Minhwan datang. Byul mengajak Minhwan untuk bertemu di kedai kopi dekat kampus. Kedai kopi ini tidak terlalu besar dan berada di antara gang, lima blok dari kampus. Kedai kopi ini menjadi salah satu tempat favorite Byul saat ingin menghabiskan waktu. Biasanya di sini, Byul suka membaca komik atau bahkan mengerjakan tugas sambil ditemani secangkir kopi hangat.

 

Alunan musik jazz yang khas ditambah dengan aroma kopi  membuat suasana kedai ini terasa tenang. Byul menyedu kopinya. Byul adalah penyuka kopi. Ada sensai tersendiri saat meminum kopi, pertama aromanya yang khas dan rasa pahit yang tertinggal saat meminum kopi terasa begitu nikmat. Byul meletakkan kembali kopinya saat melihat Minhwan memasuki kedai. Byul pun melambaikan tangan untuk menarik perhatian Minhwan.

 

Byul tersenyum pada Minhwan. Dilihatnya pria itu kini berjalan ke arah Byul. Ekspresi pria itu pun tak terbaca. Entah Minhwan tidak nampak sedang dalam keadaan mood yang baik. Minhwan pun menarik kursi dan duduk dihadapan Byul. Rambut Minhwan terlihat sedikit acak-acakan.

 

“Kau mau memesan apa?”

 

“Byul-ah, kau pergi kemana saja akhir-akhir ini? Mengapa sangat sulit sekali untuk menemuimu?” Tak ada basa-basi dari pertanyaan Minhwan kali ini. Ada kesan emosi yang tertahan dari nada bicara Minhwan. Pria itu menatap Byul lekat.

 

Namun Byul tak menjawab pertanyaan itu, Byul menunjuk menu yang tertera di atas papan kasir.  “ Ada satu paket seru, secangkir ekspreso hangat dan ditambah dengan manisnya brownis pasti enak. Apa kau tak mau mencobanya?” terlihat di sana, Minhwan hanya bisa menghela nafasnya.

 

“Baiklah, aku akan segera kembali dan aku harap kau tidak menghindariku lagi. “ Minhwan pun bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah kasir.

 

Butuh waktu yang cukup lama bagi Byul untuk berfikir dan mencari tahu jawaban atas dugaannya.  Sora Eoni sempat bercerita padanya, tentang Minhwan dan Eun Bi. Mereka berteman  sejak kecil hingga saat SMU mereka menjadi sepasang kekasih. Keduanya berasal dari Busan. Sejak dulu, Minhwan ingin menjadi seorang pemain drum terkenal. Untuk mencapai mimpinya, Minhwan ingin bersekolah di Seol. Bagi Minhwan banyak peluang yang terbuka  di ibu kota daripada kota asalnya.  Di sisi lain, Eun Bi yang tak pernah bisa jauh dari Minhwan, memtuskan untuk mengikuti Minhwan yang memilih bersekolah di Seol.  Maklum saja, gadis itu sudah terbiasa bergantung pada Minhwan. Sehingga bila tak ada Minhwan di sisinya terasa ada yang kurang. Sora Eoni menambahkan bahwa keduanya selalu bersama. Dimana ada Minhwan pasti ada Eun Bi.

 

Namun, keduanya harus berpisah karena keadaan. Eun Bi harus kembali ke Busan untuk memenuhi permintaan Ayahnya. Eun Bi pun berkuliah di Busan sedangkan Minhwan masih tetap berada di Seol. Memang jarak Busan dan Seol tidak jauh. Tetapi percayalah hubungan jarak jauh tidak akan pernah mudah. Awalnya keduanya baik-baik saja. Minhwan rutin pulang sebulan dua atau bahkan tiga kali untuk bertemu dengan Eun Bi. Komunikasi tak pernah ditinggalkan keduanya. Dan pernah juga Eun Bi menemui Minhwan di Seol saat akhir pekan. Hingga keduanya mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Intensitas pertemuan mereka pun mulai berkurang. Komunikasi pun mulai terganggu. Timbulah kesalah pahaman satu dengan yang lain. Awalnya sepele namun semakin lama permasalahan keduanya semakin membesar.

 

Byul sempat menertawakan dirinya. Mengapa ia begitu bodoh. Mudah sekali terbawa oleh perasaannya. Byul menghembuskan nafas beratnya. Fakta bahwa Minhwan sudah memiliki kekasih membuat Byul harus rela mengubur dalam perasaannya. Sempat terlintas untuk merebut Minhwan dari Eun Bi,  mengingat keadaan hubungan keduanya yang merenggang. Sangat mudah, bukan? Namun, Byul tak sampai hati untuk melakukan hal itu. Byul sadar diri. Byul hanya sekedar sisipan dalam kisah Minhwan dan Eun Bi. Ia tak akan pernah sebanding dengan Eun Bi yang sudah lebih lama mengenal Minhwan.

 

Byul menatap langit-langit kedai, ia berusaha untuk tidak menangis. Memang kisahnya dengan Minhwan tak selamanya manis. Ada satu bagian yang pahit.  Dan bagian itu tak mungkin bisa ia hindari.

 

“Byul? “ Mendengar namanya dipanggil, Byul berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Byul pun tersenyum saat Minhwan menatapnya khawatir. “ Kau tak apa? Apa ada sesuatu yang menganggumu?”

 

Tuhan… Minhwan begitu lembut. Apakah seperti ini sikap Minhwan saat sedang khawatir dengan Eun Bi?

 

Byul menggelengkan kepalanya, “bagaimana kabarmu? maaf aku tidak bisa menemanimu melihat kontes cosplay itu. “

 

Minhwan menghela nafas berat sebelum membuka mulutnya. “Tak apa.”  Perlahan Minhwan pun mengalihkan pandangannya ke arah jendela kedai. Sedangkan Byul menundukkan kepalanya.

 

Untuk sejenak keduanya terdiam. Suasanya terasa sedikit kaku. Tak biasanya Byul bersikap seperti itu pada Minhwan. Biasanya Byul akan bersikap aneh karena salah tingkah atau Minhwan yang akan banyak bercerita ini itu.

 

“Minan-gun. “ Kini Minhwan menatap Byul. Byul membasahi bibrnya sebelum melanjutkan kalimatnya. “ Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan padamu.”

 

Di saat bersamaan pesanan Minhwan pun datang. Lagi-lagi seorang pramusaji meletakkan pesanan Minhwan. Pria itu tidak memesan ekspreso dan brownies yang di sarankan Byul, namun pria itu memesan secangkir hot americano. Dan setelahnya pramusaji itu mengundurkan dirinya.

 

“Tentu, kau harus memberiku penjelasan. Mengapa kau menghindariku? Apa aku melakukan kesalahan padamu?”

 

“Tidak, kau tidak melakukan kesalahan apapun.” Sanggah Byul seraya menggelangkan kepalanya. “ Ini tentang diriku, yang terlalu….” Suara Byul mengecil. Ia seakan ingin mundur saja. Byul mereasa ia tak akan sanggup menyelesaikan ini semua. Lebih baik melarikan diri dan mengubur dalam perasaannya, namun… Byul meremas jemarinya untuk tidak goyah. Tidak Byul, kau tidak boleh mundur!

 

“Byul?  Kau tak apa?”

 

Byul mengelengkan kepalanya sekali lagi untuk menegaskan pada Minhwan bahwa ia baik-baik saja, Byul pun memberanikan diri untuk menatap Minhwan. “ Ada satu cerita yang ingin kubagikan dengan dirimu, Minan-gun. Apa kau mau mendengarnya?” Sekali lagi, Byul menatap Minhwan yang sedang menghela nafas. Nampaknya pria itu sedikit kecewa karena Byul masih belum mau menjelaskan perihal dirinya yang menghilang selama dua minggu ini. Dan karena Minhwan tak memiliki pilihan lain, pria itu pun menganggukkan kepalanya setuju.

 

 

Mungkin cerita ini akan terdengar sangat bertele-tele, namun hanya itu yang bisa Byul lakukan. Ia tak memiliki nyali untuk mengkui semuanya. Byul pun membuka kembali mulutnya. “Ada seorang gadis memendam perasaannya selama dua tahun pada pujaan hatinya. Gadis itu ingin sekali bisa menyepa pria yang ia kagumi itu. Dan ada satu kesempatan konyol yang membuat gadis itu menyapa sang pujaan hati. Dari sanalah mereka pun menjadi dekat. Gadis itu tak menyangka bahwa pria yang ia kagumi sangatlah ramah dan baik. Keduanya cepat sekali akrab dan sering menghabiskan waktu bersama. “

 

Jemari Byul mulai terasa dingin. Byul merasa gugup, namun Byul terus melanjutkan ceritanya. “Dari hari ke hari, perasaan kagum yang dimiliki oleh gadis itu pun tumbuh semakin besar, gadis itu tak hanya mengagumi namun ingin memiliki pria itu di sisinya. Padahal gadis itu tidak tahu bagaimana perasaan pria itu terhadap dirinya?  Dan satu yang telah  diketahui gadis itu, bahwa sang pujaan hati  sudah memiliki kekasih. Menurutmu apakah salah jika sang gadis ingin memiliki pria itu di sisinya?”

 

 

Untuk sejenak Minhwan terdiam di tempatnya. “Byul, tunggu sebentar. “  Minhwan terlihat sedang memijat pelipisnya. “ Apakah cerita yang kau maksud itu tentang, kau, aku dan Eun Bi?” Minhwan mengerti arah pembicaraan Byul. Byul pun menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan Minhwan. “ Byul, aku tidak tahu bagaimana kau bisa mengetahui tentang Eun Bi. Jadi apa karena Eun Bi kau menghindariku?” Byul menggelangkan kepalanya lemah. Minhwan membasahi bibirnya sebelum membuka mulutnya, “jika bukan karena Eun Bi, apa kau menghindariku karena kau takut dengan perasaanmu sendiri?”

 

 

“Iya. “

 

 

Minhwan tercekat dengan jawaban singkat Byul. “ Byul, dalam hal ini bukan dirimu yang salah tetapi diriku. “ Minhwan menghela nafasnya berat. Untuk sejenak Minhwan mengalihkan pandangannya pada jendela luar kedai. Sementara Byul masih mengunci mulutnya, ia memandangi pria yang ia kagumi atau bahkan ia cintai. “ Aku yang seharusnya meminta maaf. Memang, aku dan Eun Bi sedang ada masalah. Masalah kali ini seakan membuatku ingin menyerah dalam hubungan kami. Aku tak tahu bagaimana harus menyelesaikannya. Dan disaat itu juga, kau datang- membawa warna yang berbeda. Aku masih mengingatmu Byul. Kita pernah bertemu sebelum upacara penyambutan mahasiswa baru.” Minhwan tersenyum samar.

 

“K-kau  mengingatku? “

 

Minhwan menganggukkan kepalanya, “ Bagaimana bisa aku melupakanmu? Berawal dari kejadian waktu itu, pertama aku melihatmu saat kau sedang berusaha keras mengejar bus. Aku tak tahu mengapa kau bisa melewati jadwal bus pagi. Kau tahu pagi itu kan waktu terpenting bagi kita. Upacara penyambutan mahasiswa baru. “ Minhwan kini tersenyum hangat pada Byul. Sebenarnya bukan waktu yang tepat bagi Byul untuk salah tingkah. Byul hanya bisa mengigit birbinya gugup.

 

“ Aku dan Seunghyun  terkesima saat  kau terus berusaha berlari mengejar bus. Kau melambaikan tangan untuk menarik perhatian agar bus berhenti. Dan usahamu berhasil Byul, aku sungguh khawatir waktu itu, kau adalah seorang gadis, mana ada yang tega meliaht seorang gadis bersusah payah seperti itu. Segera saja aku dan Seunghyun berjalan ke arah supir untuk menghentikan bus sejenak. “ Minhwan tertawa kecil. Minhwan pun mendekatkan wajahnya pada Byul yang tengah binggung untuk bersikap. Pipi Byul memanas. “ Saat pintu bus terbuka, kau ingat? Siapa yang mengulurkan tangan untuk membantumu naik ?”

 

“K-kau.” Untuk sejenak Byul merasakan jantunganya berdetak dua kali lebih cepat. Kejadian itu mengantarkan Byul untuk mengingat kembali bagaimana rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Minhwan lah yang menumbuhkan bunga di hati Byul. Minhwan lah yang membuat Byul jatuh hati untuk yang kedua kalinya.  Perlahan Byul menundukkan kepalanya, Byul tersadar akan sesuatu yang tak akan pernah ia gapai. Minhwan berada jauh dari gengamannnya.

 

Perlahan Minhwan menarik dirinya. Pria itu menyandarkan dirinya pada bantalan kursi. Minhwan pun menghela nafasnya, senyum di bibirnya pudar. “ Dan setelah kejadian itu, aku masih sering melihatmu, kau seperti mengikuti kami. “ Bukan, bukan mengikuti FT Island, aku hanya mengikutimu– bisik Byul dalam hati. “ Aku selalu melihatmu di barisan pertama saat FT Island sedang mengisi acara kampus atau pun showcase bulanan yang diadakan oleh departemen seni. Tak sulit untuk menemukanmu Byul. Sungguh. Rambut hitam gelombangmu yang selalu menjadi ciri khasmu berhasil menarik perhatianku dan kini kau juga tampak cocok dengan cat coklat tua itu. “

 

Tak ada kata yang keluar dari mulut Byul. Sungguh ia tak menyangka bahwa selama ini Minhwan menyadari dirinya.

 

Minhwan pun tertawa kecil sebelum melanjutkan kalimatnya, “ sungguh karena kau yang selalu melihat kami membuatku  ingin mengenalmu. Tapi sayang tak pernah ada kesempatan untuk mengajakmu berbicara. Dan sampailah pada kesempatan konyol itu. Aku tak pernah menyangka kita bisa sedekat ini, jika bukan karena dirimu yang bersin di depanku saat itu. “  Untuk kali ini, Byul menatap Minhwan. Ada senyum kecil di wajah Byul.

 

“Dan sejak itu lah, kita sering menghabiskan waktu bersama. Harus aku akui, kau datang di saat aku sedang membutuhkan seseorang untuk melarikan diri. Saat bersamamu aku bisa melupakan sejenak masalahku dengan Eun Bi. Aku j-juga sempat terbawa dengan perasaanku. Kau itu sungguh berbeda Byul. Kau yang selalu bisa melakukan sesuatu dengan dirimu sendiri, kau dan usaha kerasmu, kau yang suka anime sama denganku dan terkadang tingkah konyolmu membuatku terhibur. Sebelumnya tak ada gadis lain selain Eun Bi yang sanggup membuatku tersenyum. Percaya atau tidak segala sikapmu menurutku terlihat sangat manis. Aku tak pernah bosan bila bersamamu.” Byul terdiam mendengar pengakuan panjang dari seorang Minhwan.

 

“Byul maafkan aku. Ada seseorang yang bilang padaku, bahwa kau tak pantas untuk jadi sekedar pelarianku. Entah, aku masih belum berani  bertindak untuk menyelesaikan masalahku dengan Eun Bi. Tetapi aku ingin meminta Maaf,  jika aku membuatmu memiliki perasaan seperti itu- jika bukan karena aku yang terlihat memberikan harapan padamu- mungkin kau tak akan pernah tersiksa dengan perasaanmu. Aku bukanlah seseorang yang baik untukmu Byul. “   Minhwan pun mengahiri pengakuannya. Pria itu menatap Byul lembut. Ada senyum samar di wajah pria itu.

 

Byul mengangguk pelan. Hati Byul terasa lega- meski ada rasa perih namun ini jauh lebih baik. Pengakuan tulus Minhwan membuat segalanya jelas. Byul tak akan merebut Minhwan dari Eun Bi. Minhwan memang sudah tahu bagaimana perasaan Byul, meski tak tersampaikan setidaknya Minhwan tak mempermainkan perasaan Byul. Itu yang terpenting. Byul bersyukur kisah ini berakhir dengan manis, meski tak sempurna. Pengakuan Minhwan tak akan pernah dilupakan Byul. Dan Byul benar-benar menyukai akhir yang seperti ini, “ aku berharap masalahmu dengan Eun Bi segera terselesaikan. Aku mohon jangan pernah menyerah dengan hubungan kalian. “

 

“Iya, terimakasih Byul. Aku berharap, kita masih tetap berteman. “

 

Byul pun menganggukkan kepalanya. “Tentu.”   Byul pun menghela nafasnya, dilihatnya Minhwan sedang menyedu americano-nya. Byul pun membuka kembali mulutnya saat Minhwan meletakkan cangkirnya, “ Minan-gun, ada satu hal yang ingin ku akui sekali lagi. “ Minhwan pun mentap Byul seketika. “ Aku tak menyukai makanan manis-manis.”

 

“Heh?”

 

Sambil bermain dengan jemarinya malu-malu, “ aku lebih menyukai kopi pahit daripada ice cream atau milk shake. Aku lebih menyukai croissant tawar daripada coklat. J-jadi kalau k-kau…”

 

“HAHHAHAH…Arraseo. Kita bisa bertemu di kedai ini atau kedai kopi lainnya. Aku akan mengingat-ingat bahwa Na Han Byul tidak menyukai makanan manis.” Kini keduanya pun tersenyum satu dengan lainnya.

 

Hati Byul terasa lebih hangat kini. Tak ada penyesalan karena Inilah keputusan yang telah ia ambil.

 

 

 

 

 

E P I L O G

 

Sekotak Coklat  

 

Byul menggerutu pada dirinya sendiri karena suhu udara yang sangat dingin. Tadi Byul sempat melihat, suhu udara mencapai 10°. Byul mengeratkan kembali mantelnya, ini baru awal Desember namun entah mengapa suhu udaranya begitu dingin.  Salju pertama baru turun tadi malam. Malam itu terlihat indah, namun tak begitu indah di mata Byul karena saat itu ia tengah berada di sekitaran Namsan Tower- jika bukan karena ada acara, Byul tak akan mau datang ke Namsan. Saat itu di Namsan ia melihat begitu banyak pasangan kekasih yang menyaksikan saltu pertama turun. Yah entah mengapa hati Byul terasa sangat teriris melihat hal itu. Apa mungkin karena terlalu lama sendiri? eewww mengapa kau sangat menyedihkan?

 

Sejak malam pengakuan Minhwan itu, hubungan keduanya tak lebih dari sekedar teman. Byul masih melihat acara showcase FT. Isaland setiap bulannya dan terkadang menghabiskan waktu bersama dengan FT. Island atau pun membeli kopi bersama Minhwan. Bercerita ini itu. Masih tetap sama. Tetapi tak ada hubungan lain selain pertemanan. Minhwan dan Eun Bi pun masih tetap bersama. Byul senang mengetahui hal itu. Dan satu bulan yang lalu Byul sempat bertemu dengan Eun Bi. Memang benar gadis itu sangatlah manis. Minhwan dan Eun Bi memang terlihat sangat serasi. Ah ada satu kabar baiknya, kini FT. Island sudah memiliki agensi resmi. Mereka berada di bawah manajemen FNC Entertaiment. Byul sungguh senang mengetahui hal. Selangkah lagi mimpi Minhwan akan tercapai, pria itu bisa menjadi pemain drum terkenal. Dan tentunya akan banyak orang yang tahu tentang FT. Island. Syukurlah, Byul selalu berharap yang terbaik untuk FT. Island.

 

Dan tiba-tiba langkah Byul terhenti, saat seekor kucing datang menghampirnya. Kucing itu sungguh lucu, bulunya berwarna abu-abu.  Mata Byul membulat. Kucing itu terlihat sangat familiar. Byul pun mengambil kucing itu. “Hei, dimana majikanmu?”  Byul membelai pucuk kepala kucing itu. Kucing itu menyandarkan kepalanya pada lengan Byul manja. “Ih, kau tak menjawabku. Baiklah, mari kita cari bersama majikanmu. Dia pasti menghawatirkanmu.” Byul pun melanjutkan langkahnya.

 

“Kira!” Byul terdiam. Kira ? nama kucing ini? jangan-jangan. Byul pun segera membalikkan tubuhnya. Ia melihat seorang wanita dengan lipstik merah tebal itu tersenyum padanya. Byul terkesima. Wanita itu yang memberinya permen keberuntungan. Byul membeku di tempatnya dan tak disadari kucing abu-abu itu loncat dari dekapan Byul. Kucing itu berlari ke arah wanita itu.

 

Wanita itu memakai setelah serba merah. Wanita liptick merah itu pun mendekap kucingnya. Perlahan wanita itu berjalan ke arah Byul sambil membelai Kira-kucing abu-abu. “ Hai Byul, lama tak jumpa.” Sapanya.

 

“A-ah i-iya.” Byul membukkan tubuhnya. “Bagaiman kabar a-anda?”

 

Wanita itu tertawa kecil, “Byul tak usah terlalu formal. Aku baik-baik saja. Kau?”

 

“I-iya kabarku baik-baik saja. “Wanita itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Kebetulan sekali, bisa bertemu dengan anda. Aku ingin mengembalikan ini. “ Byul mengambil kotak permen itu. Memang setiap Byul pulang dari kampus, dia selalu melewati jalan ini demi bertemu wanita lipstick merah itu. Byul ingin mengembalikan permen keberuntungan itu, baginya sudah cukup. Biarlah kisah cintanya mengalir apa adanya tanpa bantuan permen itu. Toh jika ada seseorang yang memang sudah ditakdirkan untuknya maka seseorang itu pasti datang. Namun jika bukan itu, sebagaimana pun usahanya tak akan pernah bisa memilikinya. Byul pun mengarahkan kotak permen itu pada wanita itu. “Terimakasih.”

 

“Kau sudah selesai?” Perlahan wanita itu mengambil kotak permen itu.  Byul pun menganggukkan kepalanya. Untuk sejenak wanita itu melihat permen di dalam kotak itu. Tersisa satu permen saja. Wanita itu pun mendengus geli sebelum memasukkan kotak itu pada saku jasnya.

 

“B-baiklah, aku harus pergi. Senang bertemu dengan Anda dan Kira. Sam…”

 

“Eih, mengapa kau sangat buru-buru Byul. Bukankah kau selalu menantikan pertemuan ini?” Byul membulatkan matanya. Bagaimana wanita ini bisa tahu? Byul hanya bisa tersenyum kaku. “Baiklah, karena aku juga ada urusan lain, maka tolong berikan ini pada seorang yang akan pertama kali kau lihat setelah aku pergi. “

 

“Hah.” Wanita lipstick merah itu pun memberikan sekotak coklat ukuran kecil pada Byul. “ Maaf aku tidak membutuhkan coklat itu, aku tidak suka yang manis-manis.”

 

“Bukan untukmu Byul. Tolong berikan ini pada seseorang yang kau temui pertama setelah aku pergi.” Byul mengernyitkan dahinya. Kotak coklat itu kini sudah berada di tangan Byul.Sebenarnya Byul masih ingin memberontak, karena Byul sudah merasa cukup. Ia tak ingin lagi ada kejadian yang sama. “Kau tak usah, khawatir. Kau cukup memberikan coklat ini. Dia adalah seseorang yang baik, namun ada satu sisi yang kelam dari hidupnya. Aku hanya ingin memberinya coklat ini- untuk menghiburnya. “

 

“M-mengapa anda tak memberikannya sendiri?”

 

“Aku ingin kau yang memberikannya. “ Wanita itu mengerlingkan matanya pada Byul. “Baiklah, aku harus pergi. Maaf merepotkanmu sekali lagi. “ Wanita itu pun menepuk bahu Byul seraya berjalan meninggalkan Byul yang mematung di posisinya.

 

Jujur Byul ingin sekali protes tapi ada sesuatu yang seakan menahannya untuk melakukan itu. Alhasil Byul hanya bisa memandangi wanita liptick merah itu pergi. Byul menghela nafasnya, bagaimana bisa ia memberikan coklat ini pada orang yang dimakasud wanita itu. Byul bahkan tak tahu ciri-cirinya. Wanita atau pria? Hanya satu petunjuknnya, berikan ini pada seseorang yang kau temui pertama setelah aku pergi.

 

Untuk sementara masih belum ada seseorang yang melewati jalan ini. Byul pun kembali melanjutkan langkahnya. Jika nanti ia tak bertemu dengan orang yang dimaksud, Byul tak akan ambil pusing. Coklatnya bisa ia berikan kepada anak pemilik flat-nya. Biasanya jalanan yang dilewati Byul saat ini cukup ramai, banyak anak kecil dan ibu-ibu yang sering lewat di sini karena terdapat taman bermain di sisi kiri jalan. Namun entah, kali ini agak sepi padahal ini sudah pukul setengah empat sore. Seharusnya sudah ada anak yang bermain.

 

Byul pun terus berjalan sambil membenamkan mulutnya pada syal rajutannya dan memasukkan tangannya ke dalam saku mantel.  Samar-samar dari kejahuan Byul melihat seseorang sedang menaiki sepeda gunung. Masih tak begitu jelas. Byul pun mempercepat langkahnya, ia ingin segera menyelesaikan ini. Ia ingin segera memberikan coklat itu dan selesailah tugasnya. Tak ada beban.

 

Tak lama kemudian, Byul berhasil berpapasan dengan seorang pria yang menaiki sepeda gunung itu. Jantung Byul beredetak dua kali lebih cepat.  Apakah benar dia orangnya? Ingat orang pertama yang kau temui.  Tidak salah lagi. Byul berbalik untuk memanggil pria itu. “Hei!”

 

Seketika pria itu menghentikan sepedanya. Pria itu pun menatap Byul. Untuk sejenak Byul tercekat karena tatapan tajam pria itu. Mata hitam pria itu membuat Byul terdiam dan lupa apa yang hendak ia lakukan.

 

“Hei, apa kau memanggilku?”

 

“Hah?” Byul tersadar dari lamunannya. “I-iya.” Byul pun berjalan mendekati pria itu. “Ada titipan untukmu.” Byul mengambil kotak coklat itu dari saku dan memberikannya pada pria itu.

 

“Untukku?” Byul menganggukkan kepalanya. Perlahan pria itu mengambil kotak coklat itu dari tangan Byul. Dalam jarak yang cukup dekat Byul sanggup mengamati pria itu. Untuk sejenak Byul mentap pria itu. Byul merasa ia pernah bertemu dengan pria itu. Tapi dimana? Setelah menerima coklat itu tatapan pria itu sedikit melunak dan pandangan matanya menyiratkan akan luka dan kesediahan.

 

Byul membekap mulutnya. Ia teringat sesuatu. Dia pria 056 itu.

 

Previous Part / END

Advertisements

3 thoughts on “Candy Jelly Love- Part 2 Final

  1. I’ve just read it sorry noona :”( hahaha mbak sora kesannya ember banget ya :”) tapi aku tau dia bermaksud baik dimana dia mewanti2 minari supaya dia ga nempergunakan eunbi. serius aku smpet bngung kenapa minari ga dihubungi sm eunbi, kok malah byul Dan voila! Ternyata memang ada korelasinya hehehe. What a nice story noonim! 😉 aku suka dimana byul bilang ia lebih suka pahit daripada manis Dan aku penasaran sama siapa cocok yang naik sepeda gunung :”) ditunggu fanfiction lainnya!

    Like

  2. He say what? Im cute kyaaaaaak, tau ga ka tiap byul heboh tuh aku bayanginnya dia kalem diluar tapi heboh didalem selebay macem sakura 😂😂😂

    Huhu kupikir bakal sad ending, ternyata yah~ niceeeeulayaa. Itu wanita lipstik inspirasi goblin yak? Kkkkk
    Trs permen sam coklat dr seven first kisses? Kkkkkk
    Dan! Sukak bagaimana si cowok 056 itu muncul, misterius bikin degdegan tapi endingnya masih manislayaaaa

    Sip siiiippppp

    Sukak penulisannya juga kak, pake pov yang ‘gue banget’ gt hehe jadi kesannya ringan tapi ceritanya nampol!

    Iya sora ngeruhin suasana nih *ups

    Jempol buat kaka, kuy bikin challenge baru 😛👍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s