Chaptered · Comedy · Fantasy · G · Teen

Candy Jelly Love- Part 1


Candy Jelly Love

Author : @minarifini / Cast : Byul (OC) and Choi Minhwan of FT. Island/ Cameo : Rest of FT Island Members, (OC) Kim Sora / Genre : Fantasy, Comedy/ Rating : G / Lenght : Two Shoot

Disclaimer : Just a fanfiction between Choi Minhwan FT Island and Ocs- please dont take it serious. Everthing in this ficts are not real. Just enjoy the whole stories. This ficts also get inspired by Candy Jelly Love and Ah Choo- a beatifull song from Lovelyz. Copy paste the stories are not allowed!

 

 

AN: first of all thanks to @nodat_riseuki who giving me such a craji challance kkk she asked to me make a fiction of Minhwan using salty meme theme. Thast kinda craji and a bit difficult kkkk so here is it. Im sorry before, bcz its super late to publish kkk please accept my classic reason kkkk im busy woman /slapped/ #ignore, but yeah ~ finally i can publish it XD so enjoy~ hope you like it XD

P R O L O G

“Akan ada kisah seorang pengagum rahasia yang berhasil mendekati sang pujaan hatinya. Kisahnya manis seperti permen ini. Terimalah, anggap ini sebagai tanda terimakasihku karena kau telah menolongku. ” Saat itu Byul hanya bisa mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti dengan ucapan seorang wanita dengan lisptik merah tebal itu. Ragu-ragu Byul mengambil kotak transparan itu. Di dalamnya terdapat enam butir permen berwarna-warni.

“T-terimakasih. “Byul tersenyum kaku pada wanita itu.

S T O R I E SONE , TWO

Say Hi!

 

Pagi ini Byul memiliki misi super penting. Mengapa rating-nya ‘super penting’? Karena misi kali ini menyangkut nasib cintanya dengan sang pujaan hati. Bukan tanpa alasan mengapa Byul baru melaksanakan misi ini, alasan pertama sudah hampir dua setengah tahun Byul menyukai pria dari departemen seni itu- selama ini Byul hanya bisa menatap sang pria dari jauh. Ingin sekali rasanya Byul untuk menyapa pria itu- namun sayang ia tak mempunyai nyali-so today, is the day!; kedua, menurut ramalan zodiaknya, selasa adalah hari keberuntungannya- jarang sekali ramalan zodiaknya mengatakan bahwa ia akan beruntung; ketiga, Byul sudah mengganti cat rambutnya dengan warna coklat terang, hal itu dilakukan agar sang pujaan hati lebih mengenalinya meski dari kejahuan pendek kata Byul mengubah sedikit penampilannya agar lebih menarik.

 

Byul sibuk memperhatikan dirinya. Pertama ia merapikan rambut keritingnya. Ia menyelipkan jepit rambut pita merah jambu agar terlihat manis.  Kedua, bajunya. Well, pakaian pagi ini cukup rapi dari biasanya. Ia memakai sweter kuning dan celana jeans longgar. Langkah ketiga, cek bau mulut.

 

‘Hah’

 

Begitu Byul berhasil mencium bau mulutnya sendiri, Byul hampir saja mengumpat. Ia membodohkan dirinya, mengapa tadi pagi ia harus makan makanan yang menimbulakn bau yang luar biasa busuk. Bisa-bisa si pria pingsan setelah Byul menyapanya!

 

Bisa gawat kan?

 

Segeralah Byul membuka tas selempangnya. Ia mengaduk tas selempangnya untuk mencari sprai pewangi mulut yang selalu ia bawa. Namun rupanya, pewangi mulutnya sudah habis, hanya tinggal wadahnya saja. Byul mengumpat! Ia mulai panik. Tinggal beberapa menit lagi sang pujaan hati datang di gedung seni ini. Byul mengaduk lagi isi tasnya dan ia sempat terdiam menemukan sekotak permen warna-warni.

 

Byul mengambil kotak transparan itu. Permen itu berbentuk oval dengan warna yang berbeda. Byul menggaruk tengkuknya. Ada perasaan aneh yang menyelimutinya. Permen itu berasal dari seorang wanita misterius yang ia temui beberapa hari yang lalu.

 

Tapi… masa bodoh ah! Permen pasti memiliki aroma wangi yang dapat menghilangkan bau mulut kan? So , apalagi yang harus ditunggu?

 

Langsung saja Byul mengambil permen berwarna merah. Ia pun melahapnya. Dan ! rasanya manis! Byul mengumpat sekali lagi. Ia tidak suka permen manis macam permen anak-anak seperti ini. Byul pun mengunyah permen itu dengan perasaan campur aduk. Ia sungguh membenci permen manis.

 

TENG! Pukul tujuh tepat.

 

Byul mengepalkan jemarinya. Sang pujaan hati datang. Dari kejahuan Byul dapat melihatnya. Pria itu sedang tertawa bersama teman satu band-nya. Pria itu adalah seorang drummer dari band nomor satu di kampus. Siapa sih yang tidak kenal dengan FT. Island?

 

Hanya orang udik saja yang tak mengenal mereka!

 

Kaki Byul mulai melemas seperti jelly. Seluruh badanya terasa sedikit panas. Ia takut akan meleleh ditempat sebelum menyapanya. Oh Choi Minhwan kau sungguh …sungguh keterlaluan, berani sekali kau mencuri hatiku hingga aku tak mampu mengusai diriku sendiri- rintihan hati seorang Na Han Byul.

 

Semakin dekat.

 

Tidak!

 

Byul ingin melarikan dirinya. Ia benar-benar akan meleleh seperti ice cream.

 

Minhwan HANYA TINGGAL BEBERAPA LANGKAH DARIKU – OH TIDAK!

 

Byul berusaha keras untuk tetap tenang di tempatnya. Ia meremas-remas jemarinya yang berkeringat dingin. Sungguh misi untuk menyapa pujaan hati ini sangatlah berat. Byul tidak pernah membayangkan hari ini akan tiba juga. Hari di mana ia harus menyapanya !

 

Minhwan dan teman satu bandnya berdiri tepat di hadapan Byul. Byul hanya bisa mematung. Matanya tak bekedip.

 

“Permisi, kau menghalangi jalan kami. “ Itu bukan Minhwan yang mengatakannya. Entah siapa, yang jelas fokus mata Byul hanya tertuju pada Minhwan yang kini berada di hadapannya langsung. Byul bahkan bisa memperhatikan dengan jelas detail wajah Minhwan, dari alis, mata, hidung dan bibir merahnya. Andai aku bisa meng-...Oh tidak! Pikiran Byul berkelana jauh. Semoga ia tidak mimisan.

 

“ Hello. Apa kau baik-baik saja?” Byul mengernyapkan matanya saat Minhwan sedikit membungkkan badannya. Wajah Minhwan cukup dengan Byul saat ini. Tentu aksi Minhwan itu sungguh fatal, Byul malah membeku ditempatnya. Byul berharap ia tidak mimisan karena fantasinya sudah semakin liar.  Byul pun menahan nafasnya. Di sisi lain, Minhwan pun  melambaikan tanggannya ke arah Byul.  Byul  pun perlahan tersenyum kaku. Tapi sumpah senyum Byul sangat jelek. Byul pun mulai tersadar dari fantasi liarnya. Ah, cukup mengucapkan ‘Hi’ padanya- bisik Byul dalam hati. Byul bersiap untuk menyapa Minhwan.

 

Namun tiba-tiba hidung Byul terasa gatal.

 

 

Dan …

 

 

“Ha—Hachiiii…!” Byul bersin cukup keras di hadapan pujaan hatinya- Choi Minhwan.

 

Byul sempat melihat Minhwan memejamkan matanya. Wajah Minhwan penuh dengan saliva Byul. Eiwww sungguh menjijikan. Tak ada kata yang sanggup mendiskripsikan perasaan Byul selain MALU.  INI ADALAH KESALAHAN YANG FATAL. Segeralah Byul menutup mukanya dengan kedua tangan. “ Maafkan aku!” Dan setelahnya ia  melarikan diri.

 

SIAL… SIAL… BYUL BODOH!

 

 

Miracle; we  talkin’

 

Andai saja…

 

Ah ..

 

Jika…

 

Bodoh!

 

Mau mengembalikan waktu pun percuma. Mau menyesali kejadian yang sudah terjadi juga percuma. Tidak ada yang bisa Byul lakukan saat ini. Ia hanya bertopang dagu selama mata kuliah berlangsung. Penjelasan dosen tentang teori hukum komersil hanya dianggap angin lalu. Pandangan mata Byul kosong. Masih ada rasa malu yang tertinggal di hatinya. Rasanya ia ingin lenyap saja dari muka bumi ini. Sungguh memalukan. Mana ada cerita, pengagum rahasaia bersin di hadapan sang pujaan hati, mungkin hanya ceritanya saja Byul dan Minhwan. Eiuhhhh…

 

“Baik, bila tidak ada pertanyaan lagi, kelas kita akhiri saja. Minggu depan kita akan mengadakan quiz untuk bab ini. Selamat siang semua!”

 

Loh!

 

Byul mengernyap, dilihatnya buku catatannya masih kosong. Astaga Byul, selama dua jam mata kuliah kau tidak memiliki catatan apapun dan minggu depan akan ada quiz . Perfect! Rancu Byul dalam hati. Profesor Kwon pun terlihat sudah merapikan buku-bukunya. Byul hanya bisa ternganga, mendapati realita yang pahit ini. Pertama Minhwan (insiden bersin) dan kedua, ia tidak mendapat apapun selama dua jam kuliah Prof. Kwon. Tamatlah!

 

“Byul-ah. Apa kau memiliki permen mint? “ Panggil teman di samping Byul membuatnya terhenyak dari kursinya.

 

“Ah, permen?” Temannya mengangguk. “ Bukan permen mint. Tapi permen biasa. Permen rasa buah.”

 

Its okay. Tapi kenapa kau terlihat lesu begitu? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” Byul menggelengkan kepalanya seraya mengambil kotak permen transparan miliknya. Perlahan Byul mengarahkan kotak transparan itu pada temannya. “Apa ini?”

 

“Permen.” Jawab Byul singkat. Byul melihat temannya itu mengernyitkan alisnya seraya mengambil kotak transparan itu. “ Ambil saja warna yang kau suka, tapi omong-omong apa boleh aku meminjam catatanmu?” Belum ada jawaban dari temannya. Teman Byul terlihat sedang memperhatikan lekat-lekat kotak permen itu. Wajah temannya itu nampak aneh.

 

“Ini hanya kotak transparan biasa Byul, mana permennya?” Temannya menatap Byul dengan tatapan aneh. Temannya menyodorkan kembali kotak itu ke arah Byul.

 

“Heh?”  Byul meraih kotak permen itu. “ Masih ada lima butir permen di dalamnya, ambillah.” Byul membukakan kotak itu. Sekali lagi temannya itu masih mengernyit.

 

“Byul jangan bercanda, tidak ada apa-apa di dalam kotak itu.”

 

“Ada, ada lima butir permen. Kau tidak melihatnya?” Byul masih kekeh dengan pendiriannya. Nyatanya ia memang melihat masih ada lima butir permen. Berniat untuk membuktikan pernyataanya, Byul memutuskan mengambil salah satu permen itu. Ia pun memakannya di hadapan temannya. “ See..” Byul mengunyah permen itu. Dan rasa manis menguar di dalam mulut Byul. Byul benci rasa manis, tapi untuk kali ini ia akan menahan dirinya.

 

Tanpa di sangka-sangka temannya itu tertawa. “Han Byul-ah, kau pandai sekali berakting. Baiklah aku akan memakan satu permenmu. “ Temannya berpura-pura mengambil permen dari kotak itu dan melahapnya. “ See.. Rasanya manis. Byul. Terimakasih. “

 

“Aniya… Bukan s-…”

 

“Ah, tentu kau bisa meminjam buku catatanku. Besok tolong dikembalikan ya. “ Potong temannya sambil menaruh buku catatan berwana pink di meja Byul. Temannya tersenyum pada Byul lalu mengucapkan pamit. Byul hanya ternganga melihat temannya itu. Apa benar temannya tidak bisa melihat permen-permen itu. Jelas sekali masih ada lima butir tadi. Byul menatap kotak transparan itu. Ada empat permen yang tersisa di sana. Apa ini permen ajaib? Mengapa temanku tidak bisa melihatnya?  – tunggu mana ada pernamen ajaib di jaman sekarang ini?

 

“Han Byul, ada yang mencarimu!” Byul tersadar dari lamunannya saat salah satu teman kelasnya memanggilnya.

 

“Aku?” Byul ragu-ragu berdiri dari tempatnya.

 

“Memangnya, di sini yang namanya Han Byul ada berapa orang?” Byul tersenyum kaku membenarkan ucapan temannya. Segeralah ia memasukkan seluruh bukunya dan kotak permen itu ke dalam tas selempangnya. Byul bersiap untuk menemui seseorang itu. Sebenarnya jarang sekali ada orang  yang mencari Byul, wajar saja Byul merasa terkejut. Byul kan hanya seorang mahasiswa hukum biasa. Ia tidak populer.

 

Byul berjalan menuju pintu keluar kelasnya. Ia menyelipkan sejumput rambut di balik telinganya. Begitu sampai di depan kelasnya, mata Byul mencari-cari seseorang. Mana orang itu? pikir Byul. Namun  saat Byul menoleh ke kanan , nafas Byul tertahan mendapati seorang C-H-O-I M-I-N-H-W-H-A-N dengan keren-nya bersandar di salah satu daun pintu kelas simulasi pengadilan. Minhwan nampak keren dimata Byul, ada semacam cahaya sorot yang terarah di Minhwan. Minhwan nampak bersinar di matanya. Tuhan… dan Minhwan pun menatap Byul. Sorot mata Minhwan mampu membuat dunia Byul jungkir balik. Tuhan… Jantung Byul serasa jatuh di perutnya.

 

Byul membekap mulutnya saat Minhwan berjalan mengampirinya. Seulas senyum manis terlihat di wajah Minhwan. Runtuh sudah dunia Byul. Kaki Byul mulai lemas. Tuhan beri aku kekuatan…

 

“Na Han Byul?” Byul menganggukkan kepalanya pelan. Gadis itu masih tidak percaya dengan kenyataan yang ia dapati. Ini mimpi atau bukan sih?

 

“ Kau yang kemarin bukan? Gadis yang… Ehmm maksudku, kau menjatuhkan ini. Aku ingin mengembalikan jepit rambut ini. “  Byul melihat jepit pita berwarna merah jambu itu. Tunggu bagaimana bisa jepitan itu terjatuh. Minhwan mengarahkan jepitan rambut merah jambu itu pada Byul. Perlahan Byul meraih jepitannya. Byul menggunamkan terimakasih pada Minhwan. Lalu Minhwan memberikan jawaban yang tak pernah Byul bayangkan,  “ apa kau sudah makan siang? Kalau belum, apa kau mau makan siang bersamaku?” Mata Byul membulat tak pecaya.

 

“Huek!” Byul membekap mulutnya.

 

Byul ingin mual. Perut Byul terasa seperti diaduk-aduk. Tanpa babibu lagi Byul mendorong tubuh Minhwan sedikit menjauh dan ia pun segera berlari ke arah toilet yang ada di ujung koridor. Hanya ada perasaan ‘menyesal’ di hati Byul, karena ia belum sempat memberikan jawaban. Mengapa selalu terjadi hal-hal yang memalukan seperti ini?  DUH BODOH!

 

 

Byul menundukkan kepalanya. Sedari tadi sup ayamnya masih belum dimakan. Sesekali Byul mencuri pandang pada pria yang ada di hadapannya. Pria itu sedang makan. Lagi makan saja masih tetap terlihat tampan. Please dia bukan pria biasa. Dia pria pujaan hati Byul. Choi Minhwan. Serius, Byul sudah puluhan kali menampar pipinya tadi di toilet. Ini nyata atau bukan sih?

 

“Byul-ah, makanlah. Nanti supnya dingin.” Minhwan tersenyum pada Byul. Di sisi lain Byul sedikit terhenyak dan menganggukkan kepalanya pelan.

 

“Ah-i-iya.” Perlahan Byul mulai menyupai dirinya.

 

Rasanya seperti sulit untuk dipercaya. Setalah Byul memuntahkan hampir seluruh isi perutnya. Tanpa disangka Minhwan menunggui Byul di depan toilet. Wajah pria itu nampak cemas tadi saat melihat wajah pucat Byul. Minhwan pun sempat menawarkan diri untuk mengantar Byul ke klinik kampus, namun Byul menolaknya. Tak mau menyerah, Minhwan pun mengajak Byul untuk makan dengan alasan agar perutnya terisi dan tidak lemas. Maka di sinilah, Byul sedang makan siang dengan Minhwan a.k.a sang pujaan hati. Cieeee…

 

Tidak hanya itu saja, ada satu hal yang membuat Byul yakin ini adalah mimpi. Tapi kalau ini mimpi Byul tidak ingin bangun- sungguh!!! Hati Byul seakan meleleh saat  mendengar celoteh Minhwan yang mengatakan bahwa  seorang Minhwan mencarinya hingga ke departemen hukum. Katanya, Minhwan sempat mendengar tentang seorang gadis berambut keriting sering berada di depan departemen seni setiap pagi. Maka dari sanalah Minhwan mencari tahu tentang gadis berambut keriting itu. Tentu tak lain dan tak bukan gadis keriting itu adalah Byul. Salah satu mahasiswa hukum.  Gemuru jantung Byul sudah tidak sanggup terkontrol. Sungguh berisik di dalam sana. “Tetapi untuk apa kau sering berada di departemen seni setiap pagi, apa ada temanmu di sana? Kalau dipikir-pikir jarak departemen seni antara hukum lumayan jauh?”

 

Byul membeku sejenak. Jujur ini pertanyaan sulit. Lebih sulit dibanding teori hukum waris. Byul menelan ludah gugup, “t-tidak. A-aku hanya s-suka dengan bagunan gedung seni yang berbeda dari departemen l-lainnya.” Ya Tuhan, itu adalah jawaban terkonyol dan tak berlogika yang pernah keluar dari mulut seorang Han Byul a.k.a mahasiswa hukum.

 

Mendengar jawaban itu, Minhwan hanya bisa terkekeh. Entah apa yang dipikirkan pria itu yang jelas, Byul cukup lega karena Minhwan tidak terlalu menganggapnya serius. Pria itu sangat santai sekali.

 

“Kau lucu sekali Byul. Ah jika kau memang suka dengan bangunan gedung seni, apa kau pernah masuk ke dalam?” Byul menggelengkan kepalanya. “ Jika kau ada waktu, sore ini kami ada jadwal latihan, apa kau mau datang?“ Byul tersedak kuah sup. Ia terbatuk-batuk. “Hei, kau tak apa?” Minhwan hendak bangkit dari tempat duduknya. Minhwan ingin membantu Byul untuk menepuk-nepuk punggungnya, namun Byul memberi isyarat bahwa ia tak apa-apa.

 

Gadis itu memukul-mukul dadanya dan meminum segelas air mineral. Setalah beberapa saat, batuk-batuk Byul mereda. Gadis itu menyelipkan rambutnya di balik telinga. Wajahnya memerah karena malu. “Maaf. Aku selalu bersikap bodoh di depanmu. “ Byul mengigit bibirnya gugup. “Dan untuk kemarin, aku… “

 

“Ah tak apa-apa. “ Minhwan tersenyum singkat. “ Bagaimana, apa kau ada waktu? Jika kau ada waktu, kau bisa ikut denganku latihan. ”

 

Byul membulatkan matanya saat Minhwan mengulangi pernyataannya. Ia tidak salah dengar kan? Byul pun mencubit pipinya keras. Hingga ia mengeluarkan teriakan kecil. Pipinya panas. Dan terasa sakit. Tentu ini bukan mimpi. Ini keberuntungan!

 

“Hei. Are you o-okay?”  Byul menyeringai aneh dan perlahan ia melepaskan cubitan pipinya.

 

Byul  pun menganggukkan kepalanya bersemangat, “iya, aku akan datang!”

 

 

Fortunate Candy Indeed

 

Kadang ada hal yang tak masuk akal di dunia ini. Sehingga penjelasan logis pun tak mampu menguraikan benang kusut yang terjadi dalam hidup Byul belakangan ini. Benarkah dengan mempercayai  keberuntungan ramalan zodiak membuatnya menjadi dekat dengan sang pujaan hati?

 

Byul berkali-kali mengingat-ingat awal keberuntungannya itu terjadi. Tepat hari selasa, memang awalnya sangat memalukan. Bersin di hadapan sang pujaan hati a.k.a Choi Minhwan dan karena hal itu Minhwan  malah mencarinya, mengajak makan siang dan menonton latihan band-nya secara live. Apa itu namannya? Keberuntungan?  Apakah itu hanya kebetulan belaka? Atau ramalan itu memang benar?

 

Selain itu, ada satu hal lagi yang mengganjal. Byul menamati kotak permen itu, ada empat butir permen di dalamnya. Konyolnya, hanya dia saja yang mampu melihat permen itu. Sudah dua hari ini, Byul menanyakan hal itu kepada teman-teman sekelasnya. Teman-temannya mengaku tidak melihat apapun dan sisanya menertawakan Byul. Dikiranya Byul hanya mengada-ada atau berhalusinasi. See ? ini bukan permen biasa. Byul mengigit bibirnya. Berkali-kali Byul berfikir, sungguh permen ini aneh sekali. Dua kali Byul memakan ini dan efeknya booom nampak tidak masuk akal. Apakah ini yang dimakasud dengan keberuntungan? Keberuntungan ini datang dari permen ini? atau istilah yang lebih mudahnya , ini permen keberuntungan?

 

Bisa jadi!

 

Hari pertama Byul memakan permen ini, langsung ada kejadian konyol yang mengikutinya yaitu bersin di depan Minhwan. Lalu keesokkan harinya Minhwan datang untuk mencarinya dengan dalih  mengembalikan jepitan rambut. Kemudian keberuntungan itu terus berlanjut hingga Minhwan mengajaknya untuk makan siang dan melihat latihan band!

 

DAEBAK!

 

Byul menatap kotak permen itu takjub. Apakah benar seperti itu? apakah permen ini, benar-benar permen keberuntungan? Kalau memang iya…Byul butuh bukti nyata!

 

Byul membuka kotak transparan itu, ia mengambil salah satu permen di dalammnya. Ia pun melahapnya. Lagi-lagi rasa manis yang menjemuhkan itu menyebar di dalam mulut Byul. Dalam hatinya, ia ingin membuktikan. Apakah ini benar-benar permen keberuntungan? Byul memejamkan matanya seraya mengunyah permen itu. Manis.

 

 

 

Pelajaran yang paling utama adalah tidak baik terlalu percaya dengan keberuntungan. Macam anak kecil saja yang percaya dengan adanya permen keberuntungan. Berharap hal tak masuk akal akan datang menghampiri? HAHAHAH.  Byul hampir saja mementokkan kepalanya di dinding toilet. Hari ini segela hayalan konyolnya tak terjadi sedikitpun. Pertama, ia tidak bertemu dengan Minhwan sepanjang hari. Pria itu sedang bolos kuliah –katanya sih begitu. Lalu kedua Byul lupa jika ada quiz dari Profesor Hong. Ketiga Byul lupa tidak membawa buku diktat wajib saat kelas Profesor Ahn- terpaksa Byul harus dikeluarkan dari kelas.

 

Inilah dirinya, sedang meratapi nasibnya. Ia melihat dirinya di balik cermin toilet kampus. Kalimat makian keluar beruntun untuk dirinya sendiri. Haduh Byul kau ini sudah umur berapa masih percaya dengan tahuyul permen keberuntungan ! Tuhan… maafkan aku!

 

Byul pun menggelengkan kepalanya.  Masih sekitar jam 3 sore. Seharusnya ia masih berada di dalam kelas hingga jam lima nanti, namun apa daya. Kenyataan seakan terjungkir. Byul harus keluar dari kelas lebih awal dibanding yang lain. Nasib!

 

Where to go? Pikir Byul. Apa sebaiknya ia pulang saja atau mampir ke suatu tempat? Masih terlalu awal untuk kembali ke flat.

 

Pasar Myungdong pun menjadi pilhan Byul. Ia melangkahkan kakinya masuk ke sana. Berjalan sendirian di pasar Myungdong bukanlah hal asing bagi Byul.  Byul sering pergi kemana-mana seorang diri. Bahkan ia sudah beberapa kali makan ditempat umum seorang diri- tak ada rasa canggung.  Padahal pasar Myungdong selalu ramai berbanding terbalik dengan hati Byul yang terasa sepi dan kosong.

 

“Hai, Kak! Silahkan mampir ke kedai baru kami. Kedai okonomiaki ada diskon khusus karena kami baru seminggu ini  buka. “ Byul terhenyek dari lamunannya saat seorang gadis kurang lebih seusianya datang menghampirinya sambil menyodorkan selembar brosur kedai. Byul menerima brosur itu, ia melihat menu-menu tersebut. Terlihat enak.

 

“Boleh juga, “ Byul tersenyum samar pada gadis itu. Gadis kedai itu pun mengajak Byul untuk berjalan melewati tiga toko dan akhirnya mereka sampai di depan kedai okonomiaki. Kedai itu terlihat lumayan ramai. Sebagian besar pengunjungnya adalah pelajar SMU dan mahasiswa.

 

“Asa! Kalau boleh tahu, kakak seorang pelajar bukan? “ Byul mengangguk dan ia menjelaskan bahwa ia adalah mahasiswa dari FNC University.  Dengan cekatan gadis itu memberikan selembar kupon khusus untuk pelajar, “ Silahkan masuk dan tunjukkan kupon ini. Kupon khusus pelajar, Kak!” Gadis itu membukakan pintu kedai dan mempersilahkan Byul masuk.

 

Sesaat sebelum Byul melangkah untuk masuk, tiba-tiba gerakannya terhenti otomatis, “Han Byul?” Perlahan Byul menoleh ke kiri. Nafas Byul tertahan. Minhwan? Byul mematung di tempatnya.

 

Pria itu tidak sendiri ada teman satu band-nya dan ada seorang gadis. “ Mau makan di sini juga? “ Byul mengangguk pelan.

 

“Ah gadis bersin itu, bukan? Hai kita bertemu lagi. ” Wajah Byul mendadak memerah. Celetukan asal Jaejin sungguh membuatnya mengingat insiden memalukan itu.  Entah Byul rasanya ingin mengubur dirinya hidup-hidup saat  teman satu band Minhwan tertawa karena hal itu.

 

“Hyung hentikan. “ Minhwan menyiku perut Jaejin.

 

“Baiklah, baikla. Maaf.” Jaejin memberikan tanda V pada Byul  sedangkan Byul hanya bisa tersenyum kaku. Wajah Byul masih merah karena malu. “Gabung yuk?” Ajak Jaejin ramah.

 

Dan ajakkan ramah Jaejin disambut oleh gadis manis yang berada di samping Hongki. “Yuk sekalian gabung saja, biar aku tidak nampak seperti seorang gadis di sarang penyamun sendirian.“ Byul menggaruk tengguknya. Ia mengangguk pelan, mengiiyakan ajakan gadis itu dan Jaejin.

 

Apa ini keberuntungan?

 

 

Acara makan bersama itu memang menyenangkan. Meski canggung, Byul berusaha untuk menikmatinya. Sesekali Byul mencuri pandang ke arah gadis yang berada di samping Hongki. Gadis itu nampak sangat akrab dengan anggota FT. Island.  Kim Sora namanya. Meski terlihat sedikit tomboy Sora terlihat manis juga. Dan ramah!

 

Jika ada yang mengatakan anggota band FT. Island sedikit rada gila memang iya. Mereka sangat seru dan tak tanggung-tanggung untuk bercanda. Misalnya saja yang satu ini- menurut Byul,  Minhwan dari luar memang sangat charming dan apalagi saat bermain drum tingkat charming-nya bertambah beberapa level. Namun jika dibelakang panggung dan sedang santai bersama FT. Island , Byul harus rela angkat tangan. Sungguh ia tidak menyangka bahwa Minhwan sang pujaan hatinya memiliki kepribadian yang sedikit geser seperti ini.

 

Saat ini Byul harus rela melihat Minhwan memakai kaca mata hitam yang super mencolok. Lengan kaos Minhwan di gulung hinga memperlihatkan lengannya yang sedikit bantet. Minhwan mengaduk adonan okonomiaki dengan gerakan super dramatis. Belum lagi saat, Minhwan menuangkan adoanan okonomiaki diatas wajan persegi di hadapannya. Pria itu sok expert padahal saat minyak sedikit menyiprat ke jarinya ia sempat menjerit layaknya seorang gadis. Tuhan tolong kembalikan Minhwan-ku.

 

Sejujurnya Minhwan bukanlah seorang ahli masak, awalnya okonimiaki itu nampak baik-baik saja, namun saat di balik adonan okonomiaki itu retak menjadi tiga. Tapi Minhwan masih tetap tebal muka, ia berdalih penampilan belum tentu mencerminkan rasanya. Ah sudahlah, Byul ingin mengigit sapu tangan melihat Minhwan seperti itu. Kaca mata hitam itu masih bertengger di hidung Minhwan. Beberapa titik keringat nampak di dahi Minhwan , ia masih berusaha membolak-balik  adonan okonomiaki hingga hancur berantakan menjadi kepingan yang tidak jelas. Ada yang besar ada yang kecil. Malah ada yang dibentuk hati. Dan ini klimaksnya, Minhwan menempatkan adonan okonomiaki berantakan itu di piring dan setelahnya Minhwan menaburi katsuobushi dan aonori dengan gaya lengan yang dibentuk seperti angsa lalu membiarkan katsuobushi dan aonori melewati lengannya lalu terjatuh begitu dramatis di atas okonomiaki hancur itu. Byul hanya bisa ternganga melihat hal itu. Gaya itu kan sedang populer sekali, gaya ala cheef asal Turki yang mempopulerkan saltybae style saat menaburkan garam.

 

Kalu boleh jujur, Byul geli sekali dengan gaya cheef asal Turki itu dan sekarang ia malah harus melihat secara live sang pujaan hati mempraktikan hal itu. Sungguh jika bukan Minhwan, Byul tak akan sudi!

 

“Taraaaang… Okonomiaki ala minariii done.” Minhwan mengangkat piringnya tinggi-tinggi senyumnya merekah. Dan sisanya member FT Island tertawa keras.

 

“Kau gila, kau bilang itu okonomiaki? “

 

“Apa yang tidak bercampur dengan keringatmu?”

 

Ya kurang lebih seperti itulah komentar teman-temannya. Sedangkan, Byul hanya bisa tersenyum garing. Byul tak habis pikir.  Bagaimana bisa aku menyukai pria dengan kepribadian sedikit geser seperti dia- Tuhan aku mohon kembalikan Minhwan-ku ~

 

 

Kini Byul baru bisa bernafas lega. Akhirnya Minhwan-nya kembali seperti semula. Tidak memakai kaca mata hitam miliki Seunghyun lagi, dan lengan kaosnya tidak digulung juga. Minhwan terlihat seperti Minhwan-nya, NOR…MAL.

 

Meski sedikit canggung, tapi Byul benar-benar bersyukur. Acara makan gila tadi selesai dengan khitmat. Seluruh makan yang disuguhkan kandas tak tersisa. Okonomiaki buatan Minhwan boleh juga meski hancur.

 

Matahari sudah hampir tenggelam.   Minhwan dan Byul sedang duduk di halte bus. Minhwan bilang, ia ingin mengantarkan Byul pulang. Duduk berdua dengan Minhwan sanggup membuat detak jantung Byul bergemuru. Byul sanggup mencium aroma parfume Minhwan dari jaket hitamnya. Aroma menyegarkan. Byul suka. Tanpa sadar pipi Byul terasa panas. “ Kau dan Sora Nuna terlihat cukup akrab tadi, apa kalian bertukar kontak?” Minhwan membuka suara sambil tersenyum pada Byul.
“Ah , i-iya lumayan. Dia sangat ramah. Iya, tadi kami sempat bertukar nomor dan akun sns. “ Byul membalas senyum Minhwan.

 

 

Minhwan pun mengangguk-anggukkan kepalanya, “kau dan Sora Nuna  yang baru bertemu sekali saja, sudah  saling bertukar nomor ponsel dan akun sns. Bagaimana dengan diriku yang sudah mengenalmu lebih dulu?” Minhwan menggantungkan kalimatnya hingga membuat Byul menatapnya kembali, “ apakah aku boleh memiliki nomor ponselmu juga?”

“Heh?” Byul membulatkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang Minhwan katakan.

 

Can i have your personal number, Na Han Byul?” Pipi Byul pun bersemu merah. Senyum Byul tertahan seranya menganggukan kepalanya malu.

 

It’s fortunate candy indeed, Byul-ah.

 

 

Next

 

Advertisements

4 thoughts on “Candy Jelly Love- Part 1

  1. Lmao like really. Aku kesedak gegera baca ada nama ku/? Hehe. It’s really nice fluff I guess. Karena aku ga tau salty itu gmn, jadi biarkan riseuki yang menilai :”) mianhae. Hehehe. Ini mengingatkanku pada lagu serupa juga ah-choo yang bikin emesh/? Kok bisa mbak byul ini ceroboh banget XD ketemu sm cwok pujaannya malah gt. Untung mas minhwan agak geser. Anak FTIsland emang geser. Hahaha. Ditunggu cepat nih, untuk beberapa next part! ;))

    Like

    1. 😆 Hi author sora wkwkwk
      Iya ada namamu di ff ini wkwkwk ya karena setelah dipikir cocok juga dimasukkin di dalam ff ini
      Iya terimakasih kalau feel fluffynya kerasa wkwkwk
      Iya sebenernya enggak paham juga sama salty meme cuma ya berusaha nulis hahaha
      Iya idenya muncul pas liat mvnya lovelyz dan lirik lagunya ah choo lucu heheh jadilah ffnya xD
      Iya lah FT Island is cracking group ever xD ada aja kelakuan gesrek mereka wkwkwk
      Aku kangen sama FT Island :’)

      Like

  2. Kyaaaaak kyaaaaak sukaaak sukaaaaak, ku ngakak yaqin 😂😂😂
    Ngena bgt dibagian crak ‘hah’ terus ‘tuhan. . . tuhan’ sama bagian salt memenya kebayang bangeeeeeet
    Njir endingnya minhwan tetep modus wkwkwk
    Ah lovely bgt lah, nanti komen bermaknanya di chapter 2 ya kak, ku mau save feel nya dulu ngahahah
    ‘tuhan, kembalikan minhwan ku’ itu juga super sekali
    Daebak!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s