Bromance · Ficlet · Uncategorized

Delivery Service


IMG_20170329_181855

Delivery Service

Bigbang’s Kwon Jiyong | Bigbang’s Choi Seunghyun

a story by ts_sora

Bromance

Ficlet

.

.

.

“Ji, I’m craving for something sweet!”

“I’m coming, hyung!”

Jiyong menatap layar ponselnya—mencari beberapa tempat yang menjual beberapa makanan yang begitu hyung-nya tersebut gilai pada GPS miliknya. Ia tersenyum puas, saat beberapa nama sweet shop yang muncul pada GPS miliknya.

“Wait for me, hyung!” ujarnya mantap sebelum menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan tugasnya. Bukan mengapa, ia melakukan semua ini. Bahkan Jiyong sudah berjanji akan siap setiap saat, jika Seunghyun membutuhkannya. Benar, ia tidak main-main dengan hal itu!

Semua berawal saat Seunghyun mengatakan kepergiannya untuk menjalankan wajib militer—yang mana lebih awal dibandingkan keempat sahabatnya tersebut. Namun ada yang berbeda. Entah karena Seunghyun tidak mengenal kata normal, pria itu bahkan menolak saat ia juga keempat temannya untuk mengantar kepergiannya. Entah apa alasannya. Namun yang begitu Jiyong yakini kala itu, yaitu Seunghyun tak ingin melihat kelima sahabatnya tersebut sedih saat ia akan bertugas.

Bukankah itu terdengar mengharukan?

Jadilah Jiyong mengirimkan sebuah pesan—berharap ia akan berguna bagi pria tersebut.

‘Tell me whatever you need and whenever you need me. And I’ll be there. I promise. We’ll miss you!’

 

Namun, mungkin Jiyong perlu pikir ulang akan hal ini.

“Ji, I’m getting bored, bring me some comics.”

“Ji, I’m craving for some wine. Can you bring me some?”
.
.
.

Ah, tidak apa-apa.

Toh, ia dengan ikhlas melakukannya. Pasti Seunghyun tengah sibuk dengan beberapa latihan berat dan ia kelelahan, pikirnya.

Jadilah ia pergi ke beberapa buku komik yang Seunghyun begitu gilai dan tak lupa dengan sebotol wine dengan brand yang biasa pria itu beli. Merasa kebutuhan sahabatnya tersebut lengkap di dalam mobil, Jiyong dengan senyum bangga—meluncur menuju camp pelatihan sahabatnya tersebut.

Setibanya di sana, dengan susah payah Jiyong menenteng barang-barang yang ada di dalam mobilnya sekaligus. Bahkan saat dirinya menjejakkan kakinya pada pintu utama, sang penjaga menyambutnya dengan begitu hangat. Bukan, bukan karena dirinyalah yang sudah dikenal sebagai seorang penyanyi papan atas, namun ini adalah kesekian kalinya berada di camp tersebut dengan begitu banyak barang di kedua tangannya untuk sahabatnya tersebut.

“Butuh bantuan, tuan Ji?” tanya sang penjaga dengan khawatir sembari menghampirinya. Jiyong hanya terkekeh santai.

“Tidak perlu. Aku hanya ingin menitipkan barang ini untuk sahabatku. Kukira ia akan membutuhkannya,” ujar Jiyong meletakkan barang bawaannya yang membuat sang penjaga tersentuh.

“Tuan Ji, kau ingin masuk dan menengok temanmu? Karenaa hari ini libur latihan, kau bisa menengoknya,” ujar sang penjaga yang membuat Jiyong menatapnya tak percaya sebelum sang penjaga lantas mengangkat beberapa barang bawaan Jiyong dan berjalan masuk bersama pria itu.

Sungguh, ini pertama kalinya. Tak pernah ia menengok Seunghyun secara langsung ke dalam kamarnya. Biasanya ia akan bertemu sahabatnya di depan, kalau tidak, Jiyong hanya akan menitipkan barangnya begitu saja sedangkan ia pergi tanpa bertemu dengan Seunghyun.

Pikirannya melayang. Seperti apakah kamar yang selama ini Seunghyun tinggali? Ah, ia pasti membagi kamarnya dengan beberapa temannya sama seperti dahulu ia membagi kamarnya sebelum mereka debut—yang membuat mereka rela untuk tidak tidur nyenyak tiap malamnya.

Oh, pasti pria itu terlihat begitu kurus dan kelelahan, batinnya.

“Kamar ini, tuan Ji,” ujar sang penjaga membuyarkan lamunannya. Jiyong mengangguk pasti.

Ini dia!

Jiyong menarik napasnya sebelum ia membuka pintu di hadapannya takut-takut.
.
.
.
“Benar kan?! Kubilang aku memiliki banyak makanan ringan di sini. Kalian bisa memakannya dengan leluasa.”

“Benarkah?”

“Ya, dan sebentar lagi Jiyong akan membawakanku makanan yang lainnya. Jadi kalian jangan takut kelapa—ran.”

Seunghyun bungkam saat sadar Jiyong kini berdiri di ambang pintu menatapnya tajam. Seunghyun beranjak dari tempat tidurnya, ia tersenyum kikuk karena tertangkap basah.

“Kapan kau datang, Ji?”

Jiyong masih tak menjawab. Ia masih terdiam diri di sana—menatapnya.

“A-aku—”

Belum habis apa yang dikatakan pria itu kala Jiyong melemparkan komik yang baru saja ia beli pada sahabatnya tersebut satu-persatu dengan begitu keras—membuat Seunghyun sekuat tenag menangkisnya.

Eat that!

.
.
.
Seunghyun yang malang.
.
.
-fin.

Advertisements

2 thoughts on “Delivery Service

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s