Childhood · Family · Ficlet · G · Slice of Life

Capture a Moment


capture-a-moment-limmy-ya

 

Limmy-ya present

[NCT Dream’s] Lee Jeno, [OC’s] Hwang Jina || G || Chilhood, Slice of Life, Family(?) || Ficlet

“Sepertinya ada yang sedang memotret kita, Kak.”
.
.
.


Hujan tengah turun amat deras di luar sana kala Jeno menekan saklar lampu kamar anak-anak. Niatnya hendak berlalu begitu saja dan lekas menuju kamar lain, sebelum menemukan sosok kecil yang tengah menompang dagu di depan jendela. Sepertinya masih asyik memandangi rintik-rintik di pekarangan panti asuhan hingga tak menyadari kamarnya padam sempurna dan eksistensi si remaja muda yang perlahan mendekatinya.
“Jina-ya?” kini Jeno sudah menempati ruang kosong di sofa panjang yang diduduki si sosok kecil––Hwang Jina. Ia melempar tatap penuh ingin tahu kepadanya.
“Oh, Kak Jeno? Kakak belum tidur?”
“Seharusnya aku yang menayakan itu kepadamu, nona kecil.” sementara jemari Jeno sibuk mengusak gemas surai Jina, mereka sama-sama tergelak. Sama-sama melempar tawa ringan selagi iris mereka tenggelam dalam lengkungan sabit yang terbentuk oleh kelopak mata.
“Jadi kamu belum mengantuk?”
“Hujan di sana lebih menarik perhatian daripada selimut hangat di kasur, sih. Jangan heran lho, Kak…” hanya senyum yang Jeno tujukan sebagai respon. Selepas itu heninglah yang mengambil alih suasana. Mereka terlampau nyaman dengan pemandangan di luar jendela. Sampai suara Jina menginterupsi kala kilatan cahaya berpendar pada langit-langit semesta.
“Kak Jeno tahu mengenai asal-usul munculnya kilat saat hujan turun?” pertanyaan itu sontak menimbulkan kerutan pada dahi yang ditanya. Walaupun Jeno menjawab dengan anggukanpun, Jina pasti tak akan mengerti tentang penjelasannya jika ia diminta menjabarkan. Terlebih lagi bagi anak Sekolah Dasar yang baru menginjak tahun pertama seperti dirinya.

Oh, Jeno tidak besar kepala, kok. Jadilah ia memberi gelengan patuh, secara tak langsung membiarkan si kecil melontar decakan remeh kepada akal remaja di sebelahnya.

“Kakak tidak tahu? Ya ampun, baiklah. Aku akan menjelaskannya kalau begitu.” usai mengambil jeda guna menarik nafas, Jina mengarahkan telunjuknya ke langit. Menuntun arah pandangannya agar tertuju pada langit gelap di atas sana.
“Tahu ‘kan jika para Malaikat tinggal di atas sana? Aku pikir kilat barusan berasal dari salah satu mereka. Dan kurasa itu karena ia sedang memotret pemandangan di sekitar panti asuhan ini” Jeno terperanjat karena ucapan Jina. Namun tak lama setelahnya, ia mencubit pipi tembem Jina secara singkat.
“Jadi begitukah asal-usulnya? Kenapa aku tidak percaya, ya?” ia berucap dengan nada menggoda. Berusaha membuat Jina merajuk kesal dan lekas didapatkannya cubitan kecil pada lengannya.
“Tentu saja, Kak! Berani menentangku, huh?”
“Oke, oke, baiklah… kamu yang menang, Hwang Jina.” Mereka bergemul dalam lipatan kaki masing-masing. Membiarkan detik demi detik mengalir terasa santai tanpa dibumbui oleh ucapan dari kedua belah pihak. Enggan mengalihkan pandang dari rintik hujan yang kian bertambah kuantitasnya. Hingga cahaya kilat kembali menaungi langit dan….

 

“Sepertinya ada yang sedang––“

 

“ ’––memotret kita, Kak Jeno.’ , kamu mau mengatakan kalimat barusan, kan?” mereka tergelak untuk kesekian kalinya. Kali ini hampir mengacaukan anak-anak sesama gender Jina yang telah mengelana di alam mimpi sedari tadi. Lantas disusul kantuk yang mulai menyerang keduanya, ia menuntun gadis kecil itu menuju kasur miliknya. Kala punggung si remaja telah lenyap sempurna di balik pintu kamar, Jina masih mampu menangkap dengan jelas bisikannya dari dalam.

 

“Good night, Jina… Semoga kita bisa berbagi kebersamaan seperti tadi untuk selamanya…” namun yang tak ia tahu, kini Jeno menyunggingkan senyum teramat manis selama langkahnya mematri menuju kamarnya tersendiri.

 

“Good night too, Kak…. Semoga Tuhan mengabulkan permintanmu….yang juga permintaanku….”

 
Finish.

Jadi ini poin slice of life-nya ada di bagian Jina yang bilang kalo kilat asalnya dari malaikat yang sedang jepret(?) foto keadaan bumi. Ya soalnya kata ibu, dulu pas daku masih TK––yang masih cimit-cimit nan polos /oh jadi sekarang tidak polos berarti/ /ngga/ /abaikan/––pernah ngomong langsung ceplos kayak yang dibilangin Jina ^^
duh jadi nostalgia nih, tapi lagian juga kangen masa-masa masih bocah. Kangen jaman dimana gue hanya mikir seneng sama main doang sama temen-temen, tanpa mikir gimana masa depan gue nantinya, apa prospek ke depan gue, mau kuliah di mana kek, kerja di mana , atau kalo ngga ya sampe kapan gue jadi kpopers /yang ini tidak nyambung plis/
Maaf nih kalo mendadak curhat. But yang pasti, kutunggu komen-nya gaissss ^^

Advertisements

3 thoughts on “Capture a Moment

  1. Hahahha ngakak sama curhatanmu dek. Jadi kepikiran sama masa depan nih wkwkw. Gimana hayo? Tanggung jawab. Hehehe. Maafkeun yg salah fokus. Ini ringan banget, ditambahin sm kepolosan jina dan jeno wkwkwkwk. Ini mana nih challenge dariku? :p

    Like

  2. Uuunchh liat posternya cimit cimit unyu gituu dan storynya bener polos, kamera malaikat ya, hmmm bisa jadi 😂
    Antara polos dan narsis, dipaparazi tiap ujan
    Dan sukaaa endinvnya yg “smoga tuhan mengbulkan doamu yg juga doaku, kak” awwwchhh kesannya mereka bakal pnya kisah tersendiri pas udah gede. Lanjuuuut

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s