Angst · AU · Chaptered · Drama · Family · Friendship · Hurt · PG -15 · Romance · sad · School Life

L’Amore [FOUR : Otherwise]


L’Amore / Pinkchaejin / PG 15+ / Chaptered / Angst, sad, romance, school life, family / (Cover FF coming soon) / starring by Chou Tzu Yu (Tzuyu of Twice), Aiden Choi (Pinkchaejin’s OC), Kwon Eun Bin (Eunbin of CLC), Jung Chan Woo (Chanwoo of iKon), Kim Seok Jin (Jin of BTS)

-Happy Reading-

 

Mencintai seseorang bukanlah sebuah hal yang mudah. Seperti halnya memancing ikan di tengah laut, seseorang yang tengah memancing perlu menunggu ikan melahap umpannya. Jika umpan tidak disentuh oleh ikan, maka sia-sialah waktu yang ia buang demi menunggu.

Ketika perasaan yang tercipta untuknya mendapat respons balik berupa rasa yang sama, itu seperti magnet kutub utara menemui kutub selatannya. Hanya saja, ketika tiada respons balik terhadap perasaan tersebut, itu sama seperti magnet kutub utara yang terus menunggu kutub selatannya selama yang ia mampu. Magnet kutub utara itu akan terus menunggu hingga ia berkarat dan tak lagi bersifat magnet. Berkarat dan waktu demi waktu akan rapuh, lalu serpihan-serpihan magnet yang berkarat tersebut akan terbang tertiup angin; pergi melalangi udara yang berembus mengikuti alurnya sendiri. Perasaan itu akan hilang entah ke mana perginya.

 

***

 

Eunbin tak berkutik. Maniknya tak berkedip memandang dua insan tersebut dari kejauhan. Dari jendela perpustakaan, ia memandangi pemandangan yang membuat hatinya tersayat-sayat. Di ujung sana, Aiden dan Tzuyu tampaknya saling berbicara bebas layaknya dua orang yang sudah sangat dekat.

“Jadi, kau tega menipuku demi Tzuyu? Apa kau tidak sadar bahwa aku pernah dekat denganmu lebih dari hubunganmu dengan Tzuyu?” gumamnya lirih. Tetes likuid luluh begitu saja dari kelopak matanya.

Eunbin mengusap air matanya, kemudian berjalan gontai seorang diri menjauhi perpustakaan. Tatapannya kosong dengan wajahnya yang melankolis. Dari arah yang berlawanan, Jung Chanwoo berpapasan dengannya. Chanwoo memandangi wajah Eunbin yang tampak murung. Ia pun tetap meneruskan langkah kakinya hingga ia tiba di perpustakaan.

Menyadari keberadaan Aiden dan Tzuyu di perpustakaan, Chanwoo pun dapat menebak bahwa Eunbin baru saja memergoki mereka. Sebelumnya, Aiden pernah bercerita tentang Eunbin saat ia bertanya siapa gadis yang diboncenginya kemarin. Melalui tatapan Eunbin pada Aiden, Chanwoo bisa melihat ada rasa cinta yang tertanam untuk Aiden.

“Sesulit itukah untukmu mengartikan tatapan Eunbin? Eunbin itu mencintaimu, Aiden Choi,” gumam Chanwoo.

 

***

 

Pernikahan itu telah terlaksana dengan mulus tanpa gangguan. Kini, Chou Xianhua dan Kim Hweji telah menjadi sepasang suami‒istri. Semua ini di luar ekspektasi Tzuyu. Ia akan tinggal satu rumah dengan Hweji dan juga Seokjin. Berkali-kali, Tzuyu mengira bahwa hal ini hanyalah mimpi buruk. Namun, ia tak dapat mengelak; ini merupakan hal yang nyata. Kenyataan ayahnya menikah dengan Hweji bukanlah sebuah mimpi buruk yang hanya datang sesaat ketika ia memejamkan mata.

Mimpi buruk itu terus ia alami ketika menutup mata dan juga membuka mata. Tidak, ia sama sekali tidak restu manakala ayah tercintanya menikah dengan wanita itu. Jika saja saat itu ia memilih dicaci dan disiksa ketimbang mengucap kata-kata restu, mungkin pernikahan ini tidak akan terjadi.

Kim Hweji telah merebut posisi ibunya, merebut tempat duduk ibunya di ruang makan, merebut hati ayahnya, dan merebut kasih sayang ayahnya. Tak ayal jika Tzuyu sangat membenci Kim Hweji; nyatanya perempuan itu membuat hidupnya sengsara.

Hari demi hari yang terlewatkan bersama keluarga barunya tak seindah yang ia bayangkan. Ketika ayahnya bekerja serta Seokjin pergi kuliah, Hweji tak habis-habisnya membuat Tzuyu semakin tersiksa dengan keberadaannya. Hari ini, detik ini, Tzuyu harus menerima kemarahan Hweji akibat masalah sepele yang dilakukannya.

“Apa yang kaulakukan dengan pakaianku? Kau seharusnya bisa memilah-milah pakaian yang dapat dicuci di mesin cuci. Pakaian ini hanya dapat dicuci dengan tangan, apa kau lihat manik-maniknya mulai lepas?”

Tzuyu tak berkutik. Ia hanyalah seorang gadis yang tidak dilindungi siapa pun di rumah itu. Ayahnya sudah tidak peduli dan Seokjin yang tampaknya tak terlalu memperhatikan dirinya. Tzuyu membungkuk sejenak sembari meminta maaf.

“Asal kau tahu…,” Hweji beranjak mendekati Tzuyu, “pakaian ini diberikan oleh seseorang yang sangat penting dalam hidupku. Lalu, MENGAPA KAU MERUSAKNYA?” Hweji menarik rambut Tzuyu secara tiba-tiba dan membuat Tzuyu mengaduh kesakitan.

“Maaf… kumohon maafkan aku… tolong, lepaskan…,” lirih Tzuyu sembari memegangi rambutnya yang masih ditarik oleh Hweji.

“BODOH! Kau dan Huang Qin sama saja, sama-sama tidak berguna!” Hweji mendorong Tzuyu hingga jatuh tersungkur ke lantai.

Tzuyu terisak pelan dalam tangisnya. “Jangan sebut-sebut nama Ibuku. Mulutmu yang tidak terhormat itu tidak pantas menyebut-nyebut nama Ibuku,” ucap Tzuyu dengan tatapan kebencian.

“Apa? Apa kau sedang menghinaku?”

“Kau boleh menghinaku, menyiksaku, dan lakukanlah segala hal yang ingin kaulakukan padaku. Aku akan diam. Tetapi, aku tidak akan terima jika kau mencela Ibuku.”

Hweji menarik dagu Tzuyu, kemudian menampar pipi Tzuyu dengan keras. Ia pun tertawa remeh, “Hei, jangan karena kau adalah anak Xianhua kau berani padaku. Ayahmu sudah tidak peduli padamu. Jadi, jangan merasa sombong.”

Tak ingin suasana ini terus berlanjut, Tzuyu pun segera beranjak ke kamarnya. Menangis dan mengurung diri ialah jalan terbaik untuknya saat ini.

 

***

 

Aiden mengeluarkan sepedanya dari gerbang. Belakangan ini, Aiden selalu berangkat pagi—lebih tepatnya setelah meminta Tzuyu untuk selalu berangkat ke sekolah bersamanya. Setelah berpamitan, Aiden pun mengayuh sepedanya; mengarahkannya menuju rumah Tzuyu.

Dari jendela kamar, Eunbin memandangi Aiden yang telah berangkat. Kemudian, Eunbin keluar dari kamar dan segera menemui ayahnya di ruang makan.

“Pagi, Ayah!” sapa Eunbin sembari menarik kursi. Kemudian, ia pun duduk di kursinya.

“Pagi juga, Sayang. Dari tatapanmu, Ayah tahu kalau kau sedang menginginkan sesuatu. Benar, ‘kan?”

Eunbin terkekeh pelan, “Kalau aku meminta sepeda, apa Ayah mau membelikannya?”

 

***

 

“Sampai jumpa di perpustakaan!”

Aiden melambaikan tangan pada Tzuyu usai memarkirkan sepeda masing-masing. Kini, perpustakaan selalu menjadi tempat di mana mereka saling bertatap muka. Melalui seorang gadis bernama Chou Tzuyu, seorang Aiden Choi yang tidak menyukai ruang perpustakaan kini menjadikan perpustakaan sebagai ruangan sekolah yang sering ia kunjungi.

Tzuyu menyunggingkan seulas senyum sebagai tanggapan atas ucapan Aiden. Kemudian, keduanya pun meninggalkan parkiran sepeda menuju ke kelas masing-masing.

“Hei, Jung Chanwoo!” sapa Aiden tatkala ia berpapasan dengan Chanwoo di depan kelas 1-A. Menanggapi sapaan Aiden, Chanwoo hanya menaikkan alisnya.

“Yah… berhentilah mengacuhkanku. Mengapa sejak aku berhubungan dengan Tzuyu, kau seakan-akan tidak ingin lagi berteman denganku?” ungkap Aiden.

Chanwoo mengangkat bahunya, kemudian berkata, “Entahlah, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Cepatlah letakkan tasmu! Traktir aku segelas kopi pagi ini!” seru Chanwoo sembari mendorong bahu Aiden menuju ke kelas mereka.

“Jika kau sadar, kau itu agak aneh, Chanwoo-ya,” komentar Aiden kala menyadari perubahan sikap Chanwoo yang langsung berubah drastis.

“Lupakanlah, ayo pergi!”

Belum sempat mereka berjalan keluar kelas, Park Jinyoung yang merupakan ketua kelas 1-A memanggil nama Aiden. “Hei, Aiden Choi! Kemarilah sebentar.”

 

***

 

“Teman-teman semuanya! Perhatikan!”

Sang ketua kelas 1-C yang bernama Lee Taeyong berdiri di depan kelas sembari meminta perhatian teman-temannya. Suasana kelas semakin sunyi perlahan-lahan. Usai semua teman-temannya memberikan atensi padanya, Lee Taeyong pun menyampaikan maksudnya.

“Dua hari lagi, SMA Seungri akan merayakan hari jadi ke-32 tahun. Jadi, untuk kelas satu harus menampilkan gabungan fashion show dari beberapa kelas satu. Untuk kelas 1-C, kita diminta untuk menyumbangkan satu siswi untuk ikut dan akan dipasangkan dengan siswa kelas 1-C. Apa ada yang ingin ikut?”

Sejenak, suasana kelas hening dan para pria langsung mengalihkan atensinya pada gadis-gadis. Gadis-gadis itu tampak berpikir sejenak dengan tawaran itu. Kemudian, Im Nayeon mengancungkan tangan.

“Apakah siswa kelas 1-A itu adalah Park Jinyoung?” tanya Nayeon antusias.

Wajah Taeyong berubah masam, “Untuk hal itu, aku tidak tahu. Kalau kau ingin tahu, tanyakan sendiri pada siswa kelas 1-A.”

“Baiklah kalau begitu,” balas Nayeon sembari mengeluarkan ponselnya kemudian menelepon seseorang. “Ya, Chaeyeon-ah! Di kelasmu, siapa yang ikut fashion show?”

Lagi-lagi, suasana kelas berubah menjadi hening. Semuanya tampak menunggu informasi yang diperoleh Nayeon, terutama bagi para gadis.

“Aiden Choi? Mantan kekasih Lee Mijoo itu?” ujar Nayeon pada seseorang di teleponnya yang bernama Chaeyeon itu. Mendengar nama itu, seraca refleks menarik atensi Eunbin dan juga Tzuyu, “oh… baiklah. Terima kasih atas informasinya!”

“Aku tidak jadi ikut, maaf ya,” ujar Nayeon pada Taeyong.

“Ya, terserah. Ada yang lain? Jika tidak ada, aku yang memilih orangnya,” tukas Taeyong.

Tzuyu berpura-pura tidak mendengarkan. Namun, sesekali ia memperhatikan Eunbin. Eunbin tampaknya terlihat senang. Dengan sigap, Eunbin pun hendak merebut kesempatan untuk fashion show bersama Aiden, “Aku saja—”

“Hei, Lee Taeyong! Aku saja yang merekomendasikannya, pasti kau setuju,” potong Yunhyeong yang membuat semua teman-temannya mengerutkan dahi.

“Memangnya siapa?” tanggap Jeon Jungkook.

“Kwon Eunbin saja, tadi ia hampir mengajukan diri, lho,” tambah Kim Hanbin.

Yunhyeong menggelengkan kepalanya, “Tidak tidak… kalau Kwon Eunbin itu milikku, hehehe…,” tawa Yunhyeong pelan. Sementara teman-teman Eunbin ternganga mendengarnya.

“Ya Tuhan, ternyata Song Yunhyeong menyukaimu, Eunbin-ah!” seru Yoojin yang hanya dibalas oleh tatapan datar dari Eunbin. Dari ujung sana, Yunhyeong mengedipkan matanya pada Eunbin saat Eunbin menatap ke arahnya dan membuat siswa laki-laki maupun perempuan bersorak secara bersamaan.

Merasa tidak dihargai, Lee Taeyong pun memukul meja hingga suasana kelas kembali hening seperti semua. “Hei, Song Yunhyeong! Cepatlah, aku harus segera memberitahukannya pada seksi acara,” ujar Taeyong tak sabar.

“Ah, ya… maaf. Aku merekomendasikan Chou Tzuyu, bagaimana? Ia belakangan ini lumayan dekat dengan Aiden Choi. Benar, ‘kan?” ujar Yunhyeong yang membuat Tzuyu terkejut seketika. Juga, raut wajah Eunbin berubah drastis mendengar ucapan Yunhyeong.

“Ya, benar. Aku sering melihatnya berangkat bersama Aiden Choi,” sahut Kim Taehyung.

“Chou Tzuyu juga sering di perpustakaan bersama Aiden Choi,” tambah Jung Yein.

“Yein benar, kemarin aku dan Yein melihat Chou Tzuyu dengan Aiden Choi di perpustakaan,” ucap Ryu Sujeong, “mereka juga pulang bersama-sama.”

“Si Buaya Darat itu bahkan bisa menggoda Chou Tzuyu yang pendiam,” tukas Jeon Wonwoo, “kacamata baru yang dipakai Tzuyu itu juga pemberian Aiden Choi, ‘kan?”

Kepala Tzuyu tertunduk, ia tak menyangka kedekatannya dengan Aiden diam-diam menjadi viral di kelasnya. Sudah banyak teman sekelasnya yang mengetahui kedekatanya dengan Aiden. Singkat cerita, kali ini seluruh teman sekelasnya sudah tahu.

“Kalau begitu, keputusan terakhir adalah… Chou Tzuyu yang akan ikut serta dalam fashion show tersebut,” ucap Taeyong puas, “Chou Tzuyu, tidak usah ada penolakan, ya? Aku sendiri juga setuju kalau kau berpasangan dengan Aiden Choi,” sambung Taeyong sembari tertawa kecil. Kemudian, ia pun kembali ke bangkunya.

Tzuyu tak berkutik. Dengan mengikuti kegiatan seperti itu, itu sama saja membawa dirinya pada kepopuleran yang pernah ia alami ketika SMP. Mungkin itu adalah kenangan buruk di masa lalu, tetapi mungkinkah akan menjadi sebuah awal yang baru jika ia kembali menjadi dirinya sendiri? Bukan Chou Tzuyu yang berpura-pura menjadi gadis pendiam dan menutup diri dari pergaulan. Tetapi, kembali menjadi Chou Tzuyu yang percaya diri dan memiliki banyak teman.

 

***

 

“Pelajaran kita selesai sampai di sini. Waktunya kalian beristirahat….”

Guru Han pun menyudahi pelajarannya di kelas 1-A dan segera keluar dari ruang kelas tersebut menuju kantor guru. Beberapa siswa ada yang pergi ke kantin, mengobrol di dalam kelas, dan juga ada yang bersenda gurau dengan teman-temannya di taman sekolah.

“Kau… mau ke perpustakaan, ‘kan?” ucap Chanwoo ketika Aiden baru saja bangkit dari tempat duduknya.

“Ya, benar.”

“Aku akan ikut denganmu.”

Chanwoo pun merapikan buku-buku dan menyimpannya di dalam tas. Kemudian, ia dan Aiden pun pergi ke perpustakaan bersama. Di tempat biasa, Tzuyu selalu menunggu kehadiran Aiden sembari membaca novel. Menyadari ada dua orang yang berdiri di hadapannya, Tzuyu pun menutup novelnya.

“Jung Chanwoo…,” ujar Tzuyu agak terkejut. Sejenak, ia melirik ke arah jendela perpustakaan di belakangnya; takut jika ‘CCTV’ yang dimaksudkan oleh Hweji benar-benar sedang mengawasinya. Ia tidak bisa bermain-main dengan ancaman Hweji. Hweji telah melarangnya untuk dekat-dekat dengan Jung Chanwoo.

“Aku tidak disapa? Jahat sekali,” protes Aiden dengan wajah masam.

“Ah… bukan begitu maksudku. Hanya saja, tidak biasanya kau datang kemari bersama Jung Chanwoo,” ujar Tzuyu beralasan.

“Baiklah… kalau begitu—” ucapan Aiden dipotong oleh Chanwoo.

“Aku ‘kan teman baik Aiden, anehkah jika aku kemari bersamanya?” balas Chanwoo sembari duduk di samping kanan Tzuyu, kemudian mengambil novel yang dipegang oleh Tzuyu. “Ah, novel ini… aku juga sedang membacanya. Berarti, kita ini sehati, ‘kan?”

Kalimat terakhir Chanwoo membuat Aiden ternganga, disusul Tzuyu yang memasang raut wajah terkejut. Aiden mengepalkan tangannya untuk menahan agar ia tidak menyumpahserapahi Chanwoo. Ia pun mengalihkan atensinya pada rak novel yang tepat berada di sampingnya. Ia meraih salah satu novel yang sama dengan yang kini tengan dipegang oleh Chanwoo. Sementara itu, Chanwoo mengajak Tzuyu membicarakan isi novel tersebut. Aiden semakin geram melihat Tzuyu yang menanggapi Chanwoo dan mengabaikan dirinya.

“Kau ini apa sebenarnya, Jung Chanwoo?” gumam Aiden.

Aiden pun duduk di samping kiri Tzuyu sembari melihat-lihat isi novel tersebut. Sesekali, Tzuyu melirik ke arah Chanwoo, kemudian melihat ke arah Aiden. Bukan karena kesempitan, melainkan Tzuyu agak risih duduk di tengah-tengah dua pria tersebut.

“Kalian berdua… bisakah bersikap seperti biasanya?” ujar Tzuyu tidak nyaman.

“Chou Tzuyu…,”ucap kedua pria itu bersamaan.

Aiden menghela napasnya dengan kesal. “Tzuyu-ya, aku ada urusan sebentar dengan si Aneh ini. Tunggu sebentar, ya….” Aiden pun bangkit dari bangku yang ia duduki, kemudian menarik lengan baju seragam milik Chanwoo. “Ayo keluar!”

“Hei! Yah, kau ini kasar sekali!” ujar Chanwoo tidak terima. Aiden pun berhasil menyeretnya keluar.

“Yah, Jung Chanwoo! Ada apa denganmu sebenarnya? Sungguh, aku kesal sekali denganmu,” celetuk Aiden dengan jujur.

“Memangnya kenapa? Toh, kau juga bukan siapa-siapa untuk Tzuyu. Mengapa kau jadi marah-marah seperti ini?” balas Chanwoo.

Aiden mengembuskan napasnya sejenak, kemudian berkata, “Kau sendiri, apa maksudmu? Kau sepertinya sengaja mencari perhatian Tzuyu di depanku. Apa tujuanmu melakukan hal itu? Kau itu—”

“Dengar, ya… aku menyukai Tzuyu lebih dahulu dan aku lebih mengenali Tzuyu dibandingkan denganmu. Jadi, apakah aku salah bersikap seperti itu padanya?” ceplos Chanwoo. Seketika itu juga, raut wajah Aiden berubah kaget. Beberapa saat kemudian, Chanwoo pun menepuk dahinya kala sadar bahwa rahasia tentang perasaannya pada Tzuyu kini telah diketahui oleh Aiden, “Ya Tuhan… bodoh sekali aku…,” cerca Chanwoo sembari mengacak-acak rambutnya.

“Kau… menyukai Tzuyu?” sembur Aiden, masih dengan wajah terkejutnya.

Dengan wajah agak panik, Chanwoo pun menjawab, “Lupakanlah apa yang kukatakan tadi. Jangan sekali-kali kau mengatakannya pada Tzuyu, ya? Kau… terserah kau menganggapku bagaimana. Hanya saja, tutup mulut embermu itu.”

“Chanwoo-ya… kalau begitu, aku akan mengajakmu bersaing secara sehat untuk mendapatkan Chou Tzuyu. Bagaimana?” tawar Aiden.

Chanwoo menggelengkan kepalanya, “Tidak, terima kasih. Aku sadar diri bahwa aku tidak pantas untuk Chou Tzuyu. Aku sungguh tidak ingin membuat Tzuyu membalas perasaanku. Aku tidak akan memberitahukan apa alasannya, tetapi alasan itu mungkin akan kautemukan suatu hari nanti,” ujar Chanwoo lirih, “maaf mengganggu waktumu dengan Tzuyu. Aku hanya… merindukannya.”

Tak menunggu tanggapan dari Aiden, Chanwoo segera beranjak pergi dari tempat itu. Memendam rasa selama bertahun-tahun terkadang membuat Chanwoo merasa sakit. Namun, jalan cinta yang telah ia pilih adalah mencintai tanpa harus merasakan perasaan yang sama dari orang yang ia cintai. Sangat sulit untuk menemukan kisah cinta seperti yang dirasakan oleh Chanwoo, tetapi percayalah bahwa seseorang seperti Chanwoo ialah orang yang setia dan tidak memilah-milah dalam urusan cinta. Bentuk cinta apa pun, ia tetap nyaman memendamnya meski terkadang rasa cinta itu membuatnya perih.

‘Melalui pesonamu, aku mulai merasakan getaran di hati. Melalui kepribadianmu, perasaan itu mulai ada. Melalui indahnya tatapan matamu, aku tak mampu mengendalikan hati ini. Hingga empat tahun lamanya, aku jatuh cinta padamu.’

Aiden mematung dalam kebisuannya. Dengan tatapan datar, ia memandang punggung Chanwoo yang mulai menjauh dan pada akhirnya tak tampak lagi oleh panca indranya. Jahatkah ia sebagai seorang sahabat? Dalam benak Aiden, ia merasa telah menyakiti sahabatnya sendiri. Namun, nasi telah menjadi bubur. Aiden tak dapat lagi memutar waktu. Jika saja ia tidak mengatakan hal-hal yang membuat Chanwoo merasa sakit, tidak akan seperti ini jadinya.

Chanwoo pernah bercerita bahwa Chou Tzuyu pernah satu SMP dengannya. Chanwoo pun pernah marah pada Aiden ketika ia menyakiti hati Tzuyu. Di balik sikapnya yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar, Chanwoo adalah sosok yang perhatian. Sayangnya, Aiden baru saja menyadari hal itu setelah ia tahu bagaimana perasaan Chanwoo pada Tzuyu.

Sesuai dengan janjinya pada Tzuyu barusan, Aiden kembali menemui Tzuyu di perpustakaan. Tzuyu pun menutup novelnya ketika sadar Aiden telah kembali.

“Chanwoo tidak ikut? Apa kalian bertengkar?” ujar Tzuyu kala menyadari ketidakadaan Chanwoo ketika Aiden kembali.

Aiden menyanggah ucapan Tzuyu, “Tidak… kami tidak bertengkar. Chanwoo ada urusan di kelas,” kata Aiden beralasan.

“Syukurlah kalau begitu. Hmmm… omong-omong, kudengar kau ikut fashion show untuk acara sekolah nanti.” Tzuyu mengalihkan pembicaraan.

“Ya, itu benar. Kata Jinyoung, pasanganku ada di kelas 1-C. Jadi, siapa yang ikut fashion show di kelasmu?” tanya Aiden penasaran. “Apakah… Eunbin?” sambungnya.

Tzuyu menggeleng pelan. “Itu aku, atas permintaan teman-teman sekelasku.”

Seketika itu, Aiden tertawa terbahak. “Kupikir, kedekatan kita hanya menjadi viral di kelasku. Rupanya, di kelasmu juga sama,” ungkap Aiden jujur. “Semua berawal dari guru matematika yang menyebalkan itu.”

“Maksudmu, Guru Oh?” tanggap Tzuyu yang dibalas oleh anggukan Aiden.

“Bagaimana menurutmu tentang—”

“Chou Tzuyu!”

Panggilan itu membuat Tzuyu dan Aiden memalingkan atensi. Sosok Lee Taeyong bersama Jeon Jungkook berada di mulut pintu. “Kau diminta untuk datang ke majelis guru,” sambung Taeyong yang membuat Tzuyu membeku seketika.

 

***

 

Sepucuk amplop putih kini diterima oleh Tzuyu dari Guru Nam—wali kelasnya. Ia sudah tahu apa isi dari amplop itu walau belum membukanya. Ini adalah kali keempat ia dipanggil ke majelis guru dengan masalah yang sama.

“Ini sudah memasuki bulan keempatmu tidak membayar uang SPP. Setahu saya, ayahmu adalah seorang direktur di salah satu perusahaan asing milik Taiwan yang berdiri di Korea. Tetapi, mengapa uang SPP-mu belum dibayar hingga empat bulan?” ujar Guru Nam. Tzuyu hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa ingin mengatakan apa pun.

“Saya akan menyampaikannya pada ayah saya.” Kalimat itulah yang selalu Tzuyu keluarkan untuk menanggapi pertanyaan Guru Nam.

“Baiklah, tolong sampaikan pada ayahmu. Saya harap, uang SPP-mu lunas bulan depan. Kalau begitu, silakan kembali beristirahat.”

Tzuyu membungkukkan badannya seraya berkata, “Terima kasih.”

 

***

 

Waktu pun menunjukkan bahwa kegiatan belajar-mengajar untuk hari ini telah selesai dan para siswa diperbolehkan untuk pulang. Ada siswa yang pulang dengan jalan kaki, ada siswa yang pulang menggunakan sepeda, hingga ada yang tengah menunggu jemputan.

Dari kejauhan, Chanwoo memandangi sosok Tzuyu yang tengah memegangi sepedanya sembari menatap kosong ke jalanan. Sejenak, Chanwoo melirik ke dalam kelasnya untuk memastikan, apakah Aiden sudah selesai perihal diskusinya dengan Jinyoung tentang fashion show yang akan dilaksanakan dua hari ke depan.

“Sepertinya ia belum selesai,” gumam Chanwoo yang kemudian beranjak ke arah parkiran sepeda. Tepat di belakang Tzuyu, ia menghentikan langkahnya. Melihat tubuh rapuh itu, ia tahu bahwa Tzuyu tengah dirundung berbagai masalah.

Chanwoo beranjak mendekati Tzuyu yang masih melamun. Ia pun meraih stir sepeda Tzuyu dan membuat gadis itu tersentak dari lamunannya. “Jung Chanwoo? Apa yang sedang kaulakukan di sini?” ujar Tzuyu.

“Dengan keadaanmu yang seperti ini akan memungkinkan untukmu jatuh dari sepeda seperti beberapa waktu yang lalu. Biarkan aku yang mengendarai sepedamu dan kau akan kuboncengi,” kata Chanwoo datar.

Mendengar ucapan Chanwoo, Tzuyu segera menggelengkan kepalanya. Sungguh, ancaman Hweji mengenai hubungannya dengan Chanwoo masih terus terngiang di kepalanya. “Tidak, aku bisa pulang sendiri. Lagi pula, biasanya aku berangkat dan pulang bersama Aiden. Kau tahu ‘kan kalau rumahku satu kompleks dengannya?”

“Untuk sekali saja, aku ingin mengantarkanmu pulang—”

“Hei, Jung Chanwoo!” Aiden memotong ucapan Chanwoo. “Apa kau tidak bisa mengerti?” sambungnya.

“Kau… pergilah!” balas Chanwoo dengan tatapan tidak ramah. “Kau tidak tahu apa-apa.”

Aiden memandang Chanwoo dengan sinis. Kemudian, ia mengalihkan atensinya pada Tzuyu. “Tzuyu-ya, kau memilih pulang dengan siapa? Aku… atau Chanwoo?”

Tzuyu enggan menjawab. Di satu sisi, ia tidak ingin menyakiti perasaan siapa pun. Di sisi lain, ia juga ingin melindungi Chanwoo.

“Aiden Choi… lebih baik, kau membiarkan Tzuyu diantar oleh Chanwoo.” Tiba-tiba, sosok Kwon Eunbin muncul entah dari mana. “Tidak ada yang bisa menjemputku hari ini,” lanjutnya sembari menatap Tzuyu tak suka.

Kala itu juga, Aiden; Tzuyu; beserta Chanwoo terdiam dalam keheningannya. Tak ingin membuang masa, Chanwoo segera menaiki sepeda Tzuyu. “Kau lihat dua aluminium tebal yang berada di antara roda belakangmu?” ujar Chanwoo tanpa memedulikan Aiden maupun Eunbin. Dua aluminium tebal yang dimaksud Chanwoo yakni satu aluminium terletak di sebelah kiri dan satu aluminium terletak di sebelah kanan. Aluminium itu didesain sebagai pengganti tempat duduk yang digunakan untuk memboncengi seseorang.

“Ya… tapi, aku tidak tahu apa kegunaannya.”

“Kegunaannya adalah untuk memboncengi seseorang. Letakkan kakimu di atasnya, kemudian pegang bahuku untuk menjaga keseimbangan.”

Tzuyu pasrah dan ia juga ingin menjaga perasaan Eunbin. Maka, ia memilih untuk pulang bersama Chanwoo. Ia pun melakukan apa yang baru saja diucapkan oleh Chanwoo. Setelah itu, Chanwoo pun segera mengayuh sepedanya menjauhi Aiden dan Eunbin.

‘Chou Tzuyu… mengapa di saat aku menyadari perasaan cinta ini, hal lain yang tak kuharapkan terjadi membuatku tak bisa mengharapkanmu lagi? Kesalahan terbesarku adalah membuatmu jatuh dalam lubang yang cukup dalam. Aku seperti kelelawar yang mencuri buah di malam hari. Aku selalu bersembunyi di balik perkara besar yang telah membuatmu tersiksa. Maafkan aku, Tzuyu.’

Baik Chanwoo maupun Tzuyu, keduanya tidak ada yang membuka suara untuk sekadar memulai pembicaraan. Sepanjang perjalanan, hanya kicauan burung dan embusan angin yang senantiasa menjadi alunan musik bagi indra pendengaran mereka. Tzuyu tetap terdiam kendati rasa khawatir masih menghantuinya. Tak lain dengan Chanwoo yang terus diam dengan pikiran yang melalang buana.

“Jung Chanwoo….” Pada akhirnya, Tzuyu yang memulai percakapan.

“Ya?”

“Sekali lagi… mengapa kau peduli padaku? Apakah karena… kita pernah satu sekolah di waktu SMP? Atau karena… kau merasa aneh dengan perubahan sikap dan penampilanku?” tanya Tzuyu.

“Tidak… dan aku tidak memiliki alasan. Peduli pada seseorang maupun tidak, hal itu tidak didasari dengan alasan pasaran yang baru saja kaukatakan,” jawab Chanwoo singkat, padat, dan jelas.

Tzuyu ber-oh ria menanggapi jawaban Chanwoo. “Baguslah jika bukan,” tanggap Tzuyu canggung.

Persis di belakang, sebuah mobil berwarna hitam mengekori mereka. Semakin lama, mobil itu semakin mempercepat lajunya. Sampai ketika mobil itu berada tepat di samping kanan Chanwoo dan Tzuyu, mobil itu pun menyerempet sepeda mereka dengan sengaja. Chanwoo yang kehilangan keseimbangan pun tidak dapat mengendalikan sepeda itu dan keduanya pun terjatuh di pinggir jalan.

“Ah… sialan!” cerca Chanwoo sembari membersihkan celananya dari pasir. “Tzuyu-ya, kau tidak apa-apa, ‘kan?”

Tzuyu mengangguk pelan menanggapi ucapan Chanwoo. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya ketika melihat pria-pria berbadan kekar yang keluar satu per satu dari mobil tersebut. Hal yang ia khawatirkan kini terjadi.

“Pergilah, Jung Chanwoo!” titah Tzuyu gemetar. “Cepat pergi!”

“Tidak.”

“Jung Chanwoo, pergi! Ah… lepaskan!” Dua orang pria pun menangkap Tzuyu secara paksa.

“Lepaskan dia!” Chanwoo segera bangkit dan hendak menyerang dua pria tersebut.

“Jung Chanwoo, awas!” teriak Tzuyu ketika melihat seorang pria yang hendak menyerang Chanwoo dari belakang.

Bugh!

Hantaman itu mengenai punggung Chanwoo hingga ia pun jatuh tersungkur di atas aspal. Chanwoo pun segera berdiri kendatipun rasa nyeri di punggungnya masih ia rasakan. Pria-pria berbadan kekar itu berjumlah lima orang dan dua orang tengah menahan Tzuyu yang berarti ada tiga orang yang harus ia hadapi.

“Lepaskan!” lirih Tzuyu sembari berusaha memberontak.

“Diam!” bentak salah satu dari mereka sembari menjambak rambut Tzuyu hingga ia merintih kesakitan.

“Chou Tzuyu!” seru Chanwoo. Ia pun hendak berlari ke arah Tzuyu, namun kerah bajunya segera ditarik oleh salah satu pria tersebut. Sementara dua pria lainnya menyerang Chanwoo bertubi-tubi. Napas Chanwoo tersengal-sengal, darah segar mulai keluar melalui mulutnya. “Lepaskan Tzuyu…,” lirihnya.

Tzuyu mulai terisak melihat keadaan Chanwoo. Ia tidak mampu menolong Chanwoo dan membiarkan Chanwoo terluka. Ia menyesali keputusannya untuk membiarkan Chanwoo mengantarkannya pulang. Justru, ia mengantarkan Chanwoo pada hal-hal yang dapat membuatnya celaka.

Dengan tenaga yang masih tersisa, Chanwoo menendang perut pria yang menarik kerahnya hingga terjatuh dan menghantam wajah pria yang menyerangnya. Chanwoo pun menarik kerah pria tersebut dan menghantamkannya ke pohon.

“Bocah sialan!” cerca pria tersebut sembari memegangi perutnya. Ia pun mengeluarkan pisau lipat dari celananya. Kemudian, ia menendang pinggang Chanwoo dari arah samping.

“Jangan dekati gadis itu lagi. Atau, kau akan mati,” ucapnya sembari mencengkeram bahu Chanwoo dengan kuat.

“Pergi, Chanwoo! Pergi!” tangis Tzuyu kala melihat pisau lipat yang dipegang oleh pria itu mulai bergerak.

Chanwoo tak kuasa lagi untuk sekadar melangkah. Punggungnya nyeri, napasnya terasa sesak. Darah kembali keluar dari mulut Chanwoo ketika benda berbentuk tajam itu melukai perut bagian kanannya. Seketika itu juga, tubuh Chanwoo roboh. Tzuyu menjerit histeris sembari tetap berusaha memberontak. Ia ingin menghampiri Chanwoo, menanyakan keadaannya, juga hendak meminta maaf atas hal ceroboh yang ia lakukan. Namun, ia hanya gadis lemah yang kini ditahan oleh dua pria berbadan kekar. Sedangkan, Chanwoo terluka parah karena salahnya.

“Chou… Tzuyu…,” bisiknya di kala kesadarannya mulai menurun. Hal terakhir yang ia lihat, Tzuyu dibawa masuk ke dalam mobil. Kemudian, ia pun kehilangan kesadarannya.

.

.

.

TO BE CONTINUED

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s