Angst · AU · Chaptered · Drama · Family · Friendship · Hurt · Life · PG -13 · Romance · sad · School Life

L’Amore [THREE: Pain]


17355030_980015728796943_271380084_n

L’Amore / Pinkchaejin / PG 15+ / Chaptered / Angst, sad, romance, school life, family / Nonic Nur Octaviani @ KCFM / starring by Chou Tzu Yu (Tzuyu of Twice), Aiden Choi (Pinkchaejin’s OC), Kwon Eun Bin (Eunbin of CLC), Jung Chan Woo (Chanwoo of iKon), Kim Seok Jin (Jin of BTS)

-Happy Reading-

Rinai hujan yang berjatuhan kerap kali membuat manusia mengeluarkan sumpah serapah. Alasannya, hujan yang turun sedikit menghambat aktivitas yang dilakukan manusia di muka bumi. Namun, kenyataannya hujan merupakan rezeki yang diberikan oleh Tuhan. Ada yang sadar, ada pula yang masa bodoh.

Seperti halnya cinta. Ketika kita merasakan gejolak tersebut dan menganggap rasa cinta itu merupakan sebuah bencana, di sisi lain cinta membuat siapa pun terlena. Cinta merupakan sebuah bencana manakala hanya ada salah satu insan yang merasakannya seorang diri. Namun, hal itu akan menjadi cinta yang indah apabila perasaan itu saling berbalas.

 

***

 

Chanwoo mengayuh sepeda Tzuyu dengan memboncengi Tzuyu di belakangnya. Harus ada seseorang yang berada di sisi Tzuyu di kala gadis itu rapuh seperti saat ini. Untuk saat ini, Chanwoo akan menjadi seseorang itu. Membantu Tzuyu dalam kesulitan bukanlah hal yang sulit ketimbang memikirkan kesalahannya yang besar di masa lalu.

Sepeda itu berhenti di depan rumah bercat abu-abu. Rumah Tzuyu bukanlah sebuah hal yang asing bagi Chanwoo. Hanya saja, ia belum pernah menginjakkan kaki di rumah itu.

“Terima kasih, Jung Chanwoo…,” ucap Tzuyu sembari turun dari sepeda dan membuka pagar rumahnya.

“Biarkan aku yang membawa sepeda ini masuk,” celetuk Chanwoo yang kemudian mengayuh sepeda itu ke dalam rumah Tzuyu.

Tzuyu tak berkomentar. Hal aneh yang ia pikirkan tentang Chanwoo yaitu tentang sikapnya yang tiba-tiba berubah. Selama ini, Chanwoo seakan tak kenal siapa dirinya. Namun, ada apa dengan hari ini?

“Di mana obat merahnya?” tanya Chanwoo kala ia menghampiri Tzuyu yang tengah duduk di pinggir teras.

“Di dalam rumah,” balas Tzuyu kaku.

Tak berkata apa pun, Chanwoo pun memencet bel yang terletak di samping pintu bercat cokelat tersebut. Tak lama menunggu, seorang wanita pun membukakan pintu untuknya. Mendadak, Chanwoo memundurkan kakinya selangkah. Air muka Chanwoo berubah drastis. Wajahnya memucat ketika melihat wanita itu berdiri di hadapannya.

“Mencari siapa?” tanyanya.

Chanwoo menelan salivanya sejenak, kemudian membungkuk sebagai tanda hormat. “Tzuyu terjatuh dari sepeda. Lututnya terluka dan saya hendak meminta obat merah untuknya. Maaf jika kedatangan saya mengganggu….”

“Tzuyu terluka?” ucap wanita itu sembari menghampiri Tzuyu. Tzuyu memandangnya dengan perasaan takut, “Aku… tidak apa-apa,” ucapnya dengan suara yang bergetar.

“Maaf… sepertinya paman saya hari ini datang ke rumah saya. Saya mohon izin untuk pamit pulang.”

Seusai mengucapkan kalimat itu, Chanwoo melangkah pergi dari rumah Tzuyu dengan tergesa-gesa. Secepat mungkin, ia menjauhkan diri dari rumah itu.

‘Lagi-lagi, sifat pengecutku tak dapat kutolerir. Maafkan aku yang tak mampu melindungimu, Tzuyu….’

 

***

 

“Apakah lelaki tadi adalah teman satu sekolahmu?”

Tzuyu mengangguk pelan sebagai tanggapan atas pertanyaan wanita itu—Hweji. Sejujurnya, ia tengah bertanya-tanya mengenai sikap Chanwoo yang berubah aneh usai bertatap muka dengan Hweji. Terlebih lagi, Chanwoo buru-buru melarikan diri seusai itu. Ini tidak seperti Jung Chanwoo yang biasanya—kendatipun Tzuyu tidak terlalu mengenali Chanwoo secara dalam—sebab lelaki itu tampak seperti orang-orang yang hidup normal tanpa dihantui oleh masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan.

Ada pepatah yang mengatakan, bahwa air tenang dapat menghanyutkan. Seperti halnya Jung Chanwoo, dari wajahnya yang tenang itu orang-orang menilai bahwa ia adalah manusia yang hidup dengan baik. Mungkinkah Chanwoo memiliki masa lalu tentang wanita paruh baya yang bernama Kim Hweji itu?

“Dengar, aku memperingatkanmu untuk tidak dekat-dekat dengan anak itu. Jika kau masih dekat-dekat dengannya, akan kupastikan anak itu hidup dalam kesengsaraan. Kuharap, kau bisa menjalankan perintah ini dengan baik, karena aku ini adalah calon ibumu, mengerti?” ujar Hweji dengan nada angkuhnya itu.

Diam dalam keheningan, Tzuyu enggan memberikan jawaban. Hweji bukanlah wanita baik-baik. Apalagi, wanita itu bekerja sebagai sekretaris di perusahaan ayahnya dan dapat dipastikan bahwa Hweji adalah wanita dengan harta yang berkecukupan. Pernah ketika Tzuyu baru ditemukan sang ayah saat ia kabur dari rumah, selama satu minggu ia diawasi oleh orang-orang suruhan Kim Hweji.

Untuk itu, maka sekarang ini keselamatan Chanwoo berada di tangannya. Apa pun masalah yang pernah ada di masa lalu antara Chanwoo dengan Hweji, Tzuyu dapat menilai bahwa masalah itu bukanlah masalah yang kecil. Hal itu dapat ia lihat dari sorot mata Chanwoo ketika memandang Hweji.

“Nyonya… maksudku, Ibu….”

“Ya, berbicaralah….”

Tzuyu menenggak salivanya sejenak sebelum mengucapkan kalimat yang hendak ia lontarkan, “Tidak masalah jika Ibu membenci keberadaanku, atau bahkan menyiksaku seperti apa yang Ibu lakukan selama ini. Tetapi, satu yang kupinta… jangan ganggu Chanwoo atau siapa pun teman-temanku yang lain.”

Hweji tersenyum remeh, kemudian berkata, “Teman-temanmu? Kaupikir, kau memiliki teman? Banyak ‘CCTV’ yang kukerahkan untuk mengintaimu selama di sekolah dan hasilnya… kau hanyalah gadis cupu yang kesepian. Kasihan sekali gadis cantik sepertimu harus memutuskan hidup tanpa berinteraksi dengan yang lain.”

Kemudian, Hweji beranjak memasuki rumahnya tanpa menunggu jawaban Tzuyu. Tzuyu mengepalkan tangannya menahan amarah. Ia tak menyangka bahwa sampai sekarang pun orang-orang suruhan Hweji terus mengintainya.

Tzuyu bangkit dari duduknya. Dengan langkah pelan, ia masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tamu, ada ayahnya beserta pria muda yang agaknya masih menempuh pendidikan di kampus. Sadar ada tamu di rumahnya, Tzuyu segera membungkuk sembari menyapa. Pria itu tersenyum tipis membalas sapaan Tzuyu.

Kemudian, Hweji pun ikut bergabung dengan ketiganya di ruang tamu. Dengan senyum bahagia, ia pun memecah keheningan. “Seokjin-ie… ia adalah calon adikmu,” ucapnya.

Pria yang dipanggil dengan nama ‘Seokjin’ itu mengangguk kaku. Kemudian, ia mengulurkan tangannya pada Tzuyu. “Kim Seokjin,” ujarnya singkat.

Tzuyu pun membalas uluran tangan Seokjin, “Chou Tzuyu.”

Usai perkenalan singkat itu berlalu, ayah Tzuyu pun menyuruh Tzuyu untuk segera mandi dan berpakaian. Setelah itu, ia dipinta untuk berkumpul di meja makan bersama Hweji serta Seokjin. Tzuyu segera melakukan apa yang dititahkan oleh sang ayah. Usai mandi, ia memilih pakaian rumahan yang lumayan mendukung ketika ada tamu di rumah. Lukanya yang telah terguyur oleh air ketika mandi ia tetesi dengan obat merah. Kemudian, ia mengeringkan rambutnya dengan alat pengering rambut. Sudah lama sekali ia tidak makan satu meja dengan ayahnya, maka dari itu ia bersemangat.

Bau harum yang menggugah selera pun tercium hingga Tzuyu pun refleks merasakan rasa lapar. Di ruang makan, Hweji tengah menata lauk pauk beserta beberapa cangkir teh. Sementara ayahnya dan juga Seokjin telah duduk di kursi masing-masing sembari menunggu sajian makan siang. Tzuyu tiba di ruang makan ketika ketiganya telah duduk rapi di depan meja makan. Tzuyu mengambil tempat duduk kosong di sebelah kanan Seokjin yang berada tepat di hadapan ayahnya.

“Semuanya sudah berkumpul. Silakan dinikmati makan siangnya!” ujar Hweji.

Keempatnya pun serentak meraih sumpit dan menikmati hidangan makan siang yang lezat itu. Tzuyu serta Seokjin menikmati hidangan tanpa berani membuka suara. Keduanya sama-sama fokus dengan makanan masing-masing.

“Sebenarnya, niat kami mengajak kalian makan bersama adalah…,” ayah Tzuyu meletakkan sebuah undangan di atas meja makan, “untuk memberitahukan kalau kami telah mempersiapkan pernikahan.”

Seketika itu juga, Seokjin berhenti menggerakkan sumpitnya. Sementara, Tzuyu segera meraih undangan itu. Di dalam undangan itu, tertera nama ‘Chou Xianhwa dan Kim Hweji’ yang telah disebutkan tanggal pernikahan serta tempat berlangsungnya pernikahan itu.

“Maaf… toiletnya di mana?” sembur Seokjin tiba-tiba.

“Ah, di sebelah dapur,” Tzuyu langsung menjawab dan Seokjin segera bergerak dari kursi usai Tzuyu menunjukkan arah toiletnya.

“Seokjin-ah…,” ujar Hweji agak mengerutkan kening. “Ehm… mungkin ia sedikit terkejut mendengar berita itu,” ucapnya pada Xianhwa.

Nafsu makan Tzuyu mendadak hilang. Kata-kata restu yang ia ucapkan kemarin ternyata sangat cepat berbuah. Ia tak menyangka Hweji dengan ayahnya telah mempersiapkan pernikahan itu secepat ini. Sungguh, ia tidak siap menjadikan Hweji sebagai ibunya. Lidahnya beku untuk sekadar mengucapkan kata-kata selamat untuk ayahnya. Kenyataannya, ia tidak menerima Hweji sebagai ibu barunya.

 

***

 

Tidak ada satu pun hari yang terlewat tanpa mengukir wajah murung. Pagi yang cerah tak melambangkan suasana hati Tzuyu. Ia menuntun sepedanya keluar dari gerbang rumah. Setelah itu, ia menyandarkan sepedanya di pohon yang tepat berada di samping rumahnya. Ia menutup gerbang rumah terlebih dahulu.

“Aak!” Tiba-tiba, ia merasakan kunciran rambutnya terlepas. Dengan segera, ia menoleh ke belakang.

“Aiden?” ujar Tzuyu memasang wajah agak kesal. Aiden tertawa jahil sembari memain-mainkan ikat rambut Tzuyu.

“Selamat pagi, Tzuyu!” sapa Aiden. Kemudian, ia menyisir rambut panjang Tzuyu dengan jari-jari tangannya. “Seperti biasa, kau cantik,” ucapnya sembari tetap mengelus-elus rambut Tzuyu. Kemudian, dahinya sedikit mengerut melihat ada warna keunguan yang berpadu pada rambut Tzuyu yang tampak hitam dari jauh.

Daebak… kau mengecat rambut?” kata Aiden sedikit tak percaya.

Tzuyu enggan menjawab. Rambut keunguan itu telah ia miliki sejak SMP—ia mewarnai rambutnya ketika SMP. “Yah! Hentikan!” Tzuyu menepis tangan Aiden yang memegangi rambutnya dan merebut ikat rambut yang dipegang oleh tangan kiri Aiden. Ia pun segera menaiki sepedanya tanpa memedulikan Aiden.

“Oh, ayolah….” Aiden pun juga menaiki sepedanya dan mengekori Tzuyu dari belakang.

Tiba-tiba, Tzuyu mengerem sepedanya. Luka di lututnya yang belum terlalu mengering membuatnya agak sulit mengayuh sepeda. Melihat Tzuyu yang berhenti, Aiden pun menghentikan sepedanya tepat di samping kiri Tzuyu.

“Mengapa? Apa rantai sepedamu lepas?” Aiden memandangi Tzuyu dengan datar, kemudian matanya beralih memandangi lutut Tzuyu yang terluka. Aiden menghela napas sejenak, “Yah! Kalau kau tidak bisa mengayuh karena lututmu terluka, seharusnya kau meminta bantuan padaku.”

“Pergilah, kau akan terlambat sekolah sebentar lagi,” titah Tzuyu.

“Bodoh, kau sendiri juga akan terlambat sekolah kalau begitu.”

Aiden pun turun dari sepedanya dan kemudian menyuruh Tzuyu untuk turun juga dari sepedanya. Tak banyak berkomentar, Tzuyu pun melakukan apa yang diucapkan Aiden. Kemudian, Aiden menuntun sepeda Tzuyu ke depan rumah Tzuyu. Aiden pun mengeluarkan post it dari dalam tasnya dan menuliskan sedikit pesan.

Maaf, sepeda Tzuyu kuletakkan di luar. Aku melihat kaki Tzuyu sedikit terluka dan ia agak terganggu karena lukanya itu. Jadi, kuputuskan untuk mengantarkan Tzuyu ke sekolah karena kebetulan ia satu sekolah denganku.

Salam, Aiden Choi, tetangga blok F-13.

Aiden menempelkan post it itu di sepeda Tzuyu. Setelah itu, ia berlari kecil menghampiri Tzuyu yang menungguinya. “Ikatlah rambutmu! Hanya aku saja yang boleh melihat rambut panjangmu,” omel Aiden ketika melihat Tzuyu yang belum juga menguncir rambutnya.

“Naiklah.” Aiden menepuk tempat boncengan yang tepat di belakang tempat duduknya. Ia tersenyum tipis melihat Tzuyu yang telah menguncir rambutnya. Tzuyu pun menurut saja dengan apa yang keluar dari mulut Aiden dan kemudian duduk di tempat boncengan itu. Dengan sisa waktu beberapa menit lagi sebelum bel masuk berbunyi, Aiden mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh.

 

***

 

Di taman sekolah, Eunbin bercengkerama dengan teman-teman barunya. Hari ini, Eunbin tidak berangkat bersama Aiden sebab Aiden berkata bahwa ia harus datang lebih awal ke sekolah karena hari ini adalah jadwal piketnya. Namun, sejak ia menginjakkan kaki ke sekolah, ia tidak melihat sepeda Aiden terparkir di tempat khusus parkiran sepeda. Hal itu sedikit aneh, tetapi Eunbin beranggapan bahwa mungkin ia memang tidak teliti ketika ia tidak melihat sepeda Aiden di tempat parkiran.

“Jadi, kau baru saja kembali ke Korea bulan ini? Mengapa tidak melanjutkan SMA di Jepang?”

Eunbin tersenyum simpul menanggapi pertanyaan teman barunya yang bernama Yoo Jungyeon itu. Pertanyaan Jungyeon diikuti dengan ekspresi penasaran dari teman-temannya yang lain. Mereka di antaranya adalah Oh Seunghee, Im Nayeon, serta Choi Yoojin.

“Aku merindukan seseorang di Korea, maka dari itu aku kembali,” jawab Eunbin.

“Seseorang? Wah, ia pasti sangat istimewa,” tanggap Yoojin yang dibalas dengan tawa kecil Eunbin.

“Apa seseorang itu adalah—”

Eunbin memotong ucapan Nayeon, “—seseorang yang kusukai sejak kecil.”

Serentak, keempat teman-temannya bersorak takjub. Kemudian, Eunbin melanjutkan ucapannya, “Di Jepang, banyak sekali pria yang menyukaiku. Namun, aku tidak ingin menjadikan mereka sebagai kekasih karena aku ingin seseorang yang kusukai itu menjadi kekasih yang pertama dalam hidupku.”

“Kupikir, gadis yang cantik sepertimu sudah memiliki kekasih. Ternyata, pikiranku salah,” komentar Seunghee tak percaya.

Eunbin tertawa kecil menanggapi pernyataan Seunghee. Sesekali, ia memperhatikan siswa-siswa yang berlalu-lalang di sekitarnya. Ia belum menemukan keberadaan Aiden. Setahunya, Aiden bukan tipikal orang yang betah di satu tempat, apalagi kelas.

‘Itu ‘kan temannya Aiden. Lalu, Aiden di mana?’ batinnya ketika menangkap sosok Jung Chanwoo yang tengah berjalan di koridor sembari membaca komik.

Senyum Eunbin mengempis tiba-tiba. Dengan mata dan kepalanya, ia melihat sosok Aiden di tempat parkiran sepeda bersama seorang gadis. Hatinya semakin tersayat kala melihat Aiden mengeluarkan sebuah hadiah kecil dari tasnya dan diberikan pada gadis itu.

‘Siapa dia? Apa mungkin… Tzuyu?’

 

***

 

Tepat ketika Tzuyu menginjakkan kaki di kelas, bel masuk pun berbunyi. Tangan kanannya masih menggenggam sebuah bingkisan kecil dari Aiden. Ia tidak tahu apa maksud Aiden memberikannya hadiah seperti itu. Kalau pun hadiah itu merupakan wujud permintaan maaf Aiden, mengapa ia tidak mengatakannya saja? Memikirkan hal tersebut membuat Tzuyu bingung sendiri.

Tzuyu memandangi hadiah itu sejenak. Kemudian, ia melirik ke bangku sebelahnya. Tas Eunbin telah berada di sana yang berarti Eunbin berangkat mendahului Aiden. Perihal Aiden yang datang menjemputnya tadi, ia sama sekali tidak memikirkan Eunbin.

‘Bagaimana bisa Aiden membiarkan Eunbin pergi sendirian dan menjemputku untuk berangkat ke sekolah bersama?’ batin Tzuyu.

Baru saja ia berpikir tentang Eunbin, tiba-tiba saja Eunbin memasuki kelas bersama Jungyeon; Nayeon; Seunghee; serta Yoojin. Tzuyu segera meraih hadiah itu dan buru-buru membuka tas untuk menyimpannya.

“Eh… Tzuyu? Hadiah itu… dari siapa?” ujar Eunbin sembari duduk di bangkunya.

Seketika itu juga, tubuh Tzuyu seakan membeku. Ia tak mampu mengelak dari Eunbin sebab Eunbin telah melihat benda itu terlebih dahulu sebelum ia menyimpannya.

“Maksudmu… ini?” ujar Tzuyu sembari memperlihatkan hadiah itu pada Eunbin.

“Mengapa belum dibuka? Kau tidak penasaran?” celetuk Eunbin.

“Ah… benar juga.”

Tzuyu pun membuka isi kotak tersebut. Di dalamnya, berisi sebuah kotak kacamata. Tzuyu mengerutkan keningnya sejenak. Ia pun meraih kotak kacamata tersebut dan membuka isinya. Di dalam kotak kacamata itu, sebuah kacamata ber-frame lebar serta berwarna ungu gelap tersimpan di dalam sana. Kacamata itu benar-benar cantik dan merupakan model yang lumayan menjadi tren saat ini. Eunbin tidak terkejut melihat isinya karena ia yang menemani Aiden membelinya.

“Aiden bercerita sedikit perihal kacamatamu yang patah karenanya. Kemarin, ia mengajakku untuk menemaninya membeli kacamata itu untukmu. Bagus ‘kan modelnya?” ungkap Eunbin.

Tzuyu meraih kacamata tersebut, kemudian mengenakannya. Sejenak, ia mengedarkan pandangnya ke kaca jendela untuk melihat bayangan wajahnya. Ia cocok sekali memakainya dan… ia tampak manis menggunakan kacamata itu. Tzuyu mengangguk setuju dengan ucapan Eunbin, “Ya, aku menyukainya….”

Perbincangan itu terhenti ketika Guru Jang—guru pelajaran sejarah—memasuki ruang kelas 1-C. Sebelum Tzuyu menyimpan kotak hadiah itu ke tasnya, ia menemukan selembar kertas kecil yang sepertinya merupakan pesan dari Aiden. Sejenak, ia membaca isi kertas tersebut.

Perihal kacamatamu yang patah karena kecerobohanku, aku meminta maaf sekali lagi. Lalu, untuk masalah kemarin ketika aku tidak jadi berangkat sekolah denganmu, aku akan menjelaskannya nanti. Aku menunggumu di perpustakaan setelah bel istirahat berbunyi. Satu permintaan dariku, untuk kali ini jangan ajak Eunbin bersamamu, ya? Aku hanya ingin berbicara berdua denganmu.

Aiden Choi.

 

***

 

“Ibu mau pergi ke mana?”

Hweji yang hendak membuka pintu mobil pun mengurungkan niatnya sejenak. Sembari tetap menyirami tanaman menggunakan selang air, Seokjin memandang ibunya dengan tajam. Pertanyaan datar Seokjin membuatnya tertawa kaku. Sejak makan siang kemarin di rumah Chou Xianhua, seharian penuh Seokjin mengacuhkannya. Ia tidak bisa memaksakan anaknya untuk merestui hubungannya dengan Xianhua. Rasa takut yang dimiliki Hweji hanyalah ketika anaknya menunjukkan sikap benci padanya.

“Seokjin-ah, mengapa kau tidak berangkat kuli—”

Seokjin melemparkan selangnya asal, kemudian memotong ucapan ibunya, “Aku bolos kuliah hari ini. Kepalaku sakit.”

Tidak ada nada yang menunjukkan ramah-tamah Seokjin. Sesungguhnya, Seokjin ialah pria berwatak mulia yang selalu ramah pada semua orang. Namun, sejak kejadian kemarin ia berubah menjadi dingin—terutama pada ibunya.

“Oh, ya. Ibu belum menjawab pertanyaan awalku. Aku yakin, pasti setiap jam seperti ini Ibu selalu menemui Tuan Chou, ‘kan? Tidak apa-apa… aku tidak marah pada Ibu. Aku hanya merasa kecewa. Setidaknya, jika Ibu masih menganggapku sebagai anak, Ibu seharusnya bercerita padaku tentang hubungan istimewa Ibu dengan direktur perusahaan milik Taiwan tersebut.”

Hweji menenggak salivanya mendengar penuturan Seokjin.

“Jadi… apakah kau setuju jika Ibu menikah dengan Chou Xianhua?”

Sejenak, Seokjin menghela napas. Agak terpaksa, namun ia harus mengatakannya. “Terserah, yang penting Ibu bahagia.”

Seketika itu, senyum Hweji merekah. Wanita paruh baya itu pun memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. “Terima kasih, Seokjin-ah….”

Raut wajah Seokjin berubah muram. Batinnya pun berbisik dengan lirih, ‘Aku hanya ingin melindungi anak Tuan Chou dari perlakuan kejammu, Ibu. Sesungguhnya, aku mengetahui semua kejahatan yang pernah Ibu lakukan. Maafkan aku, tetapi aku harus membuatmu mengungkapkan sendiri kejahatanmu itu, Ibu.’

Dialah Kim Seokjin; lelaki yang mencintai perdamaian. Siapa pun yang melakukan kejahatan di muka bumi harus menebus dosa mereka, itulah prinsipnya. Tidak peduli siapa pun mereka—saudara atau kerabat dekat—harus menanggung risiko atas kejahatan yang telah mereka lakukan. Sebelum neraka memberikan siksaan yang berlipat ganda, seseorang yang melakukan kejahatan lebih baik menyesali perbuatannya di kala darah masih mengalir.

 

***

 

Kelas 1-A merupakan kelas yang berisi perpaduan murid berprestasi dengan murid yang di bawah rata-rata. Sesuai dengan usul kepala sekolah, mereka digabungkan agar tidak saling membeda-bedakan antar satu dengan yang lainnya. Di kelas inilah, Aiden dan Chanwoo berada. Melalui rekapitulasi nilai SMP, Aiden berada di urutan sepuluh dari bawah dan Chanwoo berada di urutan keenam dari atas. Namun, siapa sangka ternyata Chanwoo senang berteman dengan Aiden.

Jam pelajaran masih berlangsung dengan pelajaran matematika yang diajar oleh Guru Oh Kwangyoo. Bab kali ini membahas tentang barisan dan deret aritmetika. Chanwoo tampak memperhatikan penjelasan dengan saksama sembari sesekali mencatat. Di sampingnya, Aiden tertidur dengan nyenyak. Biasanya, Chanwoo selalu membangunkan Aiden ketika ia tertidur di pelajaran. Hari ini, tampaknya Chanwoo mengacuhkan Aiden.

“… untuk mencari nilai n, maka kita dapat menyubstitusi persamaan dari suku ke-9 dengan suku pertama dan beda. Pertama, kita masukkan rumus barisan aritmetika—yah! Aiden Choi!”

Teguran Guru Oh membuat para siswa mengalihkan atensinya pada Aiden yang tertidur nyenyak di mejanya. Rupanya, teguran Guru Oh tidak berhasil membuat Aiden terjaga dari tidurnya. Guru Oh pun menghampiri meja Aiden dan Chanwoo, kemudian memukulkan penggarisnya di meja mereka.

“Tzuyu! Jangan pukul aku—eh?” Aiden tersentak kaget ketika melihat Guru Oh di sampingnya. Igauannya didengar oleh teman-teman sekelas dan kemudian tertawa terbahak-bahak karena igauan Aiden—kecuali Chanwoo yang tetap memasang wajah datar tanpa rasa tertarik menanggapi Aiden.

“Mengapa? Apa kau menyukai Chou Tzuyu murid 1-C itu? Apa perlu saya sampaikan padanya?” Guru Oh menanggapi igauan Aiden. Mendengar ucapan Guru Oh, Chanwoo menghela napas pelan. Chanwoo mengalihkan atensinya pada catatan di papan tulis yang belum ia salin ke buku catatannya.

“Ya?” Aiden segera mengangkat kepalanya dari meja. Atensinya beralih pada buku matematika yang basah karena salivanya. “Ya Tuhan!” Ia pun menyeka sisa salivanya yang membasahi sudut bibirnya.

“Hei, cepat keluar dan cuci wajahmu! Berkumurlah terlebih dahulu, baru kau boleh mengikuti pelajaran saya.”

Sejenak, Aiden mengusap-usap wajahnya sebab rasa kantuk masih menyerangnya. Kemudian, ia pun berdiri dari bangkunya dan segera pergi menuju toilet pria.

 

***

 

Sesuai dengan permintaan Aiden, Tzuyu menunggu Aiden di perpustakaan. Sembari menunggu, Tzuyu membaca sebuah novel yang hendak ia baca lusa yang lalu. Mengenai Eunbin, gadis itu telah memiliki teman baru dan tentunya tidak lagi meminta Tzuyu untuk menemaninya.

Tak lama, Tzuyu pun melihat Aiden yang memasuki perpustakaan. Aiden lebih dahulu tersenyum padanya sebagai tanda sapaan. Tzuyu tersenyum tipis menanggapi Aiden. Kemudian, Aiden pun berjalan menghampirinya dan duduk di sebelah Tzuyu.

“Kau cocok mengenakan kacamata itu,” komentar Aiden perihal kacamata pemberiannya yang kini dipakai oleh Tzuyu, “dan juga… terlihat cantik.”

Pipi Tzuyu bersemu merah mendengar pujian Aiden. Ia tersenyum kaku, kemudian berkata, “Terima kasih. Dan… sebenarnya kalau kacamatanya tidak diganti juga tidak apa-apa.”

“Tetap saja aku seharusnya bertanggungjawab. Eum… mengenai alasanku tidak jadi menjemputmu kemarin, kau mau ‘kan mendengarkannya? Sebelumnya, aku menolak permintaanmu kemarin perihal aku harus menjauhimu. Aku tidak mempunyai alasan untuk menjauhimu, karena sebenarnya aku tertarik untuk berteman denganmu.”

Tzuyu mengangguk pelan menanggapi ucapan Aiden. Aiden kembali melanjutkan kata-katanya, “Lusa yang lalu, saat kita pulang sekolah bersama… Eunbin dan kedua orangtuanya bertamu ke rumahku. Aku bertemu dengan mereka sepulang sekolah. Eunbin baru saja kembali ke Korea setelah belasan tahun menempuh pendidikan di Jepang dan memutuskan untuk melanjutkan SMA di Korea,” ungkap Aiden. Tzuyu mendengarkannya dengan saksama.

“Jujur, saat itu aku melupakanmu. Aku yang mengajak Eunbin untuk berangkat bersama. Jadi, karena aku merasa bersalah padamu, aku pura-pura tidak melihatmu ketika kau tengah menungguku di depan rumahmu. Aku tidak bisa menarik kembali tawaranku untuk berangkat bersama Eunbin ke sekolah. Eunbin itu sedikit pemarah, Tzuyu-ya. Aku mengenali sifatnya karena sejak kecil aku berteman dengannya.”

Tzuyu tersenyum tipis menanggapi ucapan Aiden. “Baiklah, aku mengerti.”

“Kalau begitu, mari kita berteman!” seru Aiden sembari menepuk punggung Tzuyu.

“Teman?”

“Ya… teman. Aku berjanji akan menjadi teman pertamamu di sekolah ini.”

Tzuyu mengangguk senang mendengar pernyataan Aiden yang tegas. Kemudian, Aiden mengancungkan jari kelingkingnya dan Tzuyu pun melingkarkan jari kelingkingnya di jari kelingking Aiden. Tzuyu akan memegang janji Aiden erat-erat, sebab ia tidak ingin lagi berteman dengan seseorang yang hanya akan mengkhianatinya.

TO BE CONTINUED….

Advertisements

6 thoughts on “L’Amore [THREE: Pain]

  1. Hi Risma, aku udah baca ff ini dari chapter 1 sampai 3 , kasih komen di sini gpp kan xD
    Well ini ceritanya mengalir gitu kayak air. Kisah hidup Tzuyu bikin penasaran soalnya ada terus orng barunya ^^ di chapter ini ada Jin kkk terus penasaran juga sih sama si Chanwo , aku kira dia g ada peran apa2 kkk
    Ya terus dilanjutnya ya ceritanya. Oh iya saran dikit, kalau nulis cerita ber-chapter ada baiknya di setiap chapter di kasih link part sebelumnya , biar pembaca mudah untuk membaca chapter sebelumnya ^^

    Udah gitu aja, keep writing ya ~

    Like

  2. Seneng akhirnya chapter slanjutnya di post. Aiden itu sesuatu ya, plin plan nya hahaha. Trs ttep ya, seokjin selalu hadir pada semua cerita lmao. Aku kra hweji itu masih muda, macem model hehe trnyata dia uda punya anak. Wah, kyknya seokjin bakal ngelindungi tzuyu nih. Trs untuk si chanwoo, tlg ya, tzuyu uda sm chanwoo aja. Hehehe. Aiden mah sm si hopgoblin/? Uda itu aja, next chapter juseyoo 😉

    Dalam, sora dari Blok A-4

    X”)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s