Comfort · Drama · February Project · Friendship · Hurt · One Shoot · PG · Romance

C (h) A S E


photogrid_1488171171255

“C (h) A S E”

Author : nodat_riseuki || Cast: SHINee’s Onew | EXO’s Chen | DIA’s Chaeyeon ||

 Genre: Drama | Romance | H/C || Duration : Oneshot

“And at that moment I saw the life leave her beautiful eyes, even if she was not dead.

.

©nodat_riseuki, 2017

.

.

.

Lelaki itu kembali membuka berkas yang sebenarnya sudah puluhan kali ia periksa semenjak dipindah tangankan, hanya saja ia masih tidak mengerti mengapa dirinya dengan sangat percaya diri berani menerima kasus ini. Kasus sederhana, hanya saja dengan perempuan itu sebagai tokoh utamanya, lelaki itu tidak begitu yakin semua ini akan menjadi—sesederhana itu.

“Jinki-ssi.

Menoleh ke belakang, di sanalah perempuan itu berdiri. Lelaki itu pun melambaikan tangan dan mempersilakannya duduk di bangku yang tersedia.

“Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi seperti ini.”

Mendengar ucapan si perempuan yang agaknya begitu kaku, lelaki itu hanya tersenyum kemudian mengangguk—membenarkan.

“Bahkan setelah sepuluh tahun—“, si perempuan terlihat menundukkan kepala di balik suara yang terdengar ceria, “—kau akan sekali lagi menjadi penolongku.”

Jinki, yang belum membalas sepatah katapun, masih hanya tersenyum kecil.

“Kau sudah baca seluruh berkasnya?”

“Ya.”

“Aku tahu ini memalukan, tapi aku memang tidak mampu menyewa seorang pengacara untuk menangani kasusku, dan ku dengar pengacara publik sekarang ini pun banyak yang handal, maka aku bersyukur mereka memilih Jinki-ssi untukku, untuk menyelesaikan—perceraianku.”

Jinki bisa melihat senyum kecut yang terbentuk di bibir perempuan itu.

“Kau yakin ingin menceraikan suamimu? Kalian masih punya dua kesempatan untuk berdamai, dan aku dengar, suamimu masih menolak untuk menandatangi surat cerai?”

“Aku bisa mengusahakannya, lelaki itu cepat atau lambat pasti akan menandatangi surat itu.”

Jinki mengangguk saja dengan pernyataan yang diberikan, karena bukankah seorang pengacara memang seharusnya percaya seratus persen terhadap klien? Walau masih ada beberapa hal yang mengganjal pemikirannya, Jinki memutuskan untuk tidak bertanya, seperti yang biasa ia lakukan, prinsip yang selama ini lelaki itu pegang—jangan terlibat terlalu dalam dengan masalah orang lain.

“Jika aku boleh tahu, kenapa kau menceraikannya?”

Jinki melebarkan pupilnya, begitu pula dengan perempuan di hadapannya. Jinki mengepalkan tangan di bawah meja sembari mengembalikan ekspresi professional yang ia pasang sebelumnya. “Lelaki bodoh, kenapa kau tidak bisa mengontrol bibirmu?” rutuk Jinki dalam hati.

Tanpa disangka, perempuan di hadapan Lee Jinki—menangis.

Jinki tentu saja terkejut dengan apa yang ia hadapi, lelaki itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia diam saja? Atau haruskah ia menawarkan sapu tangan atau tisu? Mungkin dia harus berdiri dan memeluk perempuan itu?

Lalu apa? Mengatakan bahwa dia sangat merindukan perempuan itu?

“Aku senang oppa bertanya.”

Sadar atau tidak, setelah dengan kaku memanggil lelaki itu dengan sapaan ssi yang formal, perempuan itu akhirnya menyebut oppa seperti bagaimana dulu ia selalu bicara pada Jinki. Perempuan itu sudah menghapus airmatanya dan mengambil nafas dalam sebelum Jinki sempat melakukan apapun yang dia pikirkan.

“Kau ingin aku menjawab dengan jujur? Karena jika pengacara publik lain yang kutemui saat ini bukanlah kau, aku mungkin seratus persen akan berbohong.”

Bibir perempuan itu kembali bicara kaku, menjawab dengan suara pelan, seakan merupakan sebuah dosa atau pembongkaran suatu rahasia besar apabila ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan mereka ini. Sementara batin Jinki berkecamuk tanpa ada seorang pun selain dirinya sendiri yang tahu.

“Jika itu akan kembali mematahkan hatiku, maka berbohonglah. Jika alasan itu bisa membawamu kembali ke pelukanku atau hal semacamnya, maka jujurlah padaku Chaeyeon-a.”

Jinki mengangguk, memohon kejujuran.

Perempuan itu kembali menarik nafas panjang sebelum akhirnya menjawab.

“Karena aku akan segera mati, dan lelaki itu sedang membutuhkan banyak uang untuk pengobatan ibunya. Aku berharap dia akan memperoleh cukup dari pembagian harta kami, dan mungkin ini akan membuatnya—membenciku? Karena bukan mendukungnya tapi justru meninggalkannya? Sehingga kelak jika aku mati, dia akan tetap membenciku tanpa perlu memperoleh kesedihan karena kehilangan atau pun merasa bersalah karena memakai harta kami untuk mengobati ibunya yang sakit? Aku tahu kau mungkin menganggap ini tidak masuk akal—tapi percayalah padaku, aku menginginkan kebaikan bagi kami.”

DEG.

.

.

.

Jinki memegangi kepalanya yang seakan mau pecah sekarang ini, tapi tangan itu sesekali juga meraba ke arah dada dimana jantungnya tergeletak dan berdetak tak beraturan.

Mendengar kejujuran yang seberani itu diungkapkan oleh Chaeyeon membuatnya tak berani meneruskan keputusan gila yang direncanakannya ketika menerima berkas perceraian perempuan yang pernah mencuri hatinya itu.

Jinki mengembuskan nafas dalam tepat ketika maniknya menangkap sosok lelaki yang melambai ke arahnya.

“Oh, Jongdae-ya!”

Saat si pria duduk, Jinki semakin tak bisa menyembunyikan rasa gugup yang sedaritadi menyerangnya.

“Hyung, kau sakit?”

Jinki coba menatap wajah Jongdae dengan saksama, membenarkan ekspresinya, sebelum akhirnya menjawab.

“Aku baik-baik saja, hanya sedang banyak pikiran. Bagaimana—kabarmu belakangan ini?”

Suara Jinki sedikit memelan ketika menanyakan kabar Jongdae, lelaki yang tiga tahun lebih muda darinya ini sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri, dan tentu saja Jinki sebenarnya tahu bagaimana kabar lelaki itu, karena sesibuk apapun, mereka tidak pernah lupa untuk bertukar kabar.

“Aku—yah, aku masih baik-baik saja.”

Lalu suasana hening sesaat menyelimuti mereka setelah Jongdae menjawab. Jinki hanya menanggapi dengan anggukan kecil yang canggung.

“Kau—kau sudah bertemu dengan Chaeyeon, hyung?”

Jinki hampir saja tersedak minumannya sendiri.

“Ya.”

“Lalu, apa yang dia katakan?”

“Dia ingin bercerai.”

Jongdae menahan nafasnya mendengar jawaban gamblang yang segera disampaikan Jinki. Kedua lelaki itu saling menatap penuh arti, hingga pertanyaan yang akhirnya diucapkan Jongdae kembali membungkam Jinki dan membuatnya harus menahan degup-degup menyakitkan yang kembali menyambangi dadanya.

“Lalu—haruskah aku menceraikan Chaeyeon, hyung?”

.

.

.

Sepuluh tahun yang lalu

“Oppa, kau ada waktu sepulang kuliah, ‘kan? Tolong temani aku!”

Jinki menjauhkan ponsel dari telinganya setelah mendengar betapa ceria suara remaja perempuan yang merupakan tetangganya itu, tapi Jinki menahan senyumnya agar tidak kentara bahwa ia senang perempuan itu menelepon duluan.

Ya! Memangnya kau mau kemana Jung Chaeyeon-nim?

Jinki sengaja menekankan imbuhan nim di belakang nama Chaeyeon karena perempuan itu terasa seperti seorang samunim yang memerintah sopir pribadinya.

“Aku ingin membeli hadiah, dan tentu saja Oppa adalah satu-satunya yang bisa membantu aku, memberi rekomendasi, saran bahkan mencoba dan memilih apa yang seorang lelaki sukai!”

Jinki mengerutkan keningnya. “Jadi, Jung Chaeyeon ingin membeli hadiah untuk seorang pria? Dengan alasan minta ditemani aku? Padahal hadiah itu nantinya untukku?”

Jinki ge er.

“Bilang saja kau butuh seorang sopir dan mobil untuk ditumpangi,” jawab Jinki sok jual  mahal, padahal pada akhirnya dia akan mengiakan permintaan Chaeyeon.

Terdengar suara tawa keras yang menggema dari seberang, dan merembet pada Jinki yang pada akhirnya ikut tertawa. Janji temu itu sudah pasti akan terlaksana.

.

.

.

“Bagaimana? Bagaimana?”

Jinki berpose bak model ketika keluar dari kamar pas dengan setelan kemeja berwarna krem yang melekat dengan sangat apik di tubuhnya.

Chaeyeon yang menunggu di luar pun ber-o riuh ketika Jinki keluar.

“Oppa, kemeja itu sangat bagus, ‘kan?

“Tentu saja, karena aku yang memakainya!”

Chaeyeon mencibir sebelum tertawa.

“Tapi, apa menurutmu tidak berlebihan jika aku tiba-tiba memberinya kemeja? Ini hadiah pertamaku untuknya.”

“Tentu saja tidak, aku menyukainya.” Jawab Jinki dalam hati.

“Tentu saja tidak, yang berlebihan itu jika kau tiba-tiba memberinya dasi berwarna merah, itu sama saja seperti kau ingin mengikat dia untukmu selamanya, kau seperti melamar lelaki itu terlebih dahulu. Ini sih biasa saja.”

Chaeyeon senang dengan jawaban yang diberikan Jinki, maka dia benar-benar membeli kemeja itu, dan sesaat sebelum membayar, Jinki mendengar Chaeyeon meminta pada petugas toko untuk membordir inisial ”J” di sebelah tiap-tiap kancing lengan kemeja itu.

Senyum Jinki tak memudar sedikit pun hingga mereka berpisah.

.

.

.

Ber-pi-sah.

Tiga suku kata itu mungkin adalah hal yang paling Jinki benci di dunia ini, terutama jika perpisahan yang terjadi adalah perpisahan yang mendadak, tanpa sempat mengucap salam. Dan, dia melakukannya dengan rasa bersalah, tapi kemudian dia menerimanya dengan rasa menyesal.

Dua hari setelah ia pergi menemani Chaeyeon mencari hadiah hari itu, surat tugasnya tiba. Dia harus masuk wajib militer yang bahkan dia sendiri lupa telah mendaftar untuk masuk. Kepergian selama dua tahun bukanlah sesuatu yang lama, namun tidak pula cepat, Jinki menyadari hal itu dengan baik. Maka, entah dengan alasan apa, Jinki tidak mengucap salam pada tetangga perempuannya itu dan hanya meninggalkan pesan pada orang-orang dirumahnya.

Jika ada yang mencariku, katakan bahwa aku pergi wajib militer dan jangan menungguku, pun jangan menghubungiku. Setidaknya kita akan bertemu 2 tahun dari hari ini tanpa terganggu rindu.

Maka, pesan itulah yang diterima oleh Jung Chaeyeon ketika dengan gembira ia pergi dengan berlari menuju rumah Jinki pada suatu hari. Dengan hati yang sedikit sedih, Chaeyeon pun hanya menitipkan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan secara langsung pada Jinki. Sebuah kotak dengan huruf C&J yang tercetak emboss pada penutupnya.

Inisial untuk nama Chaeyeon dan—Jongdae.

Sebuah undangan pernikahan.

.

.

.

Jinki memegang ponsel yang ia tempelkan dengan rapat di telinganya, pembicaraan kali ini entah akan berakhir seperti apa, akankah menjadi sebuah kelegaan atau justru menimbulkan rasa sakit yang lain.

Yoboseyo.”

“Chaeyeon-a, ini aku.”

“Jinki oppa? Ada kabar terbaru untukku?”

“Ya.”

“Aku siap mendengarkan.”

“Jongdae sudah menandatangani surat cerai.”

Hening.

“…”

“Oh, ya, baguslah, kita bisa segera mulai sidang dan mengakhir—“

Jinki bisa mendengar sedikit sendu dari suara perempuan yang ada di seberang sambungan. “—mengakhiri ini.”

Sendu itu bertambah banyak seiring berakhirnya pembicaraan Jinki dengan perempuan itu.

Jinki mendongak dari balik meja tempatnya bekerja, dia meminta perhatian asistennya yang segera menyambut, “Beritahu apa yang harus ku lakukan, haruskah aku menjadi orang baik atau haruskah aku menjadi egois?”

Si asisten menaikkan alisnya seakan atasannya sedang bercanda. “Kau selama ini adalah orang baik, Jinki-ssi. Jadi jangan menanyakan hal yang sudah jelas seperti itu.” Si asisten tertawa lirih.

Apa benar begitu? Haruskah Jinki terus menjadi orang baik? Bukankah jadi egois karena cinta adalah hal yang lebih baik daripada melepaskan dan meninggalkan apa yang sebenarnya kau inginkan? Perempuan itu misalnya.

Jinki sudah melepasnya satu kali. Mungkin mengikatnya satu kali, menjadi tidak mengapa?

.

.

.

Hari ini mereka akhirnya bertemu di ruang sidang yang dingin dan terasa sangat tidak bersahabat. Jinki yang datang mendampingin Chaeyeon hanya bisa mengangguk pada Jongdae yang duduk di seberang meja mereka.

“Kedua pihak telah hadir, hakim sudah memasuki ruang sidang. Maka mari kita mulai hearing ini dengan alasan penggugat.”

Jinki berdiri segera setelah notulis mempersilakannya.

“Jung Chaeyeon, usia 27 tahun, menggugat tuan Kim Jongdae, usia 32 tahun, setelah pernikahan yang dijalani selama 10 tahun. Alasan utama adalah karena dianggap sudah tidak ada kecocokan antara keduanya, penggugat ingin semua berjalan dengan lancar dan cepat, maka penggugat akan menerima seluruh tuntutan dari tergugat tanpa syarat.”

Jinki bisa melihat ekspresi dingin yang dipasang Chaeyeon, ekspresi palsu yang sepertinya sudah perempuan itu latih beberapa lama.

Pengacara dari Jongdae berdiri dan mengutarakan semua yang sebelumnya—sebenarnya—telah dibicarakan Jongdae secara terbuka dengan Jinki.

Akhir dari kisah Jongdae dan Chaeyeon seperti sudah dengan jelas diperlihatkan di hadapan mata. Mereka akan berpisah tepat setelah hakim mengetuk palu.

Jinki tersenyum kecil menyadari apa yang kembali terjadi setelah sepuluh tahun, dia akhirnya bisa dan berani kembali bertemu dengan Jung Chaeyeon hanya untuk melihat perempuan yang selama ini diperhatikannya secara diam-diam hidup bahagia dengan Jongdae—yang notabene pun temannya—kini akhirnya harus berpisah dengan Jongdae.

Dan, rasanya tetap saja sesak.

Karena di balik setiap perpisahan tidak akan ditemukan kelegaan yang luas, terutama jika kenangan terus menghantui. Terutama lagi, jika perpisahan dilakukan dengan alasan yang palsu bak sandiwara.

Jinki memperhatikan Chaeyeon dan Jongdae bergantian, kehilangan itu jelas terlihat di mata keduanya.

And Jinki can really saw the life leave theirs eyes even though both of them—haven’t die yet.

 

Dengan nafas yang berat, Jinki memutuskan bahwa kegilaannya ini adalah yang terbaik. Lelaki itu berdiri dan menginterupsi pembacaan keputusan oleh hakim.

“Yang Mulia, saya rasa perceraian ini tidak bisa dilaksanakan.”

Seluruh mata melotot pada pengacara Jung Chaeyeon itu, terutama—tentu saja—Jung Chaeyeon sendiri.

“Jinki-ssi! Apa yang kau lakukan?!”

Jinki bisa mendengar volume suara Chaeyeon yang meninggi tapi bergetar. Jinki hanya menggelengkan kepalanya pada perempuan itu dan memintanya untuk percaya saja pada oppa yang dulu sempat menginginkannya itu.

“Yang Mulia, alasan yang diberikan oleh penggugat, nona Jung Chaeyeon adalah tidak benar dan merupakan sesuatu yang sengaja dipalsukan, sementa pihak tergugat, tuan Kim Jongdae, menandatangani surat perceraian dibawah paksaan dan tekanan.”

Jinki memandang Jongdae dengan yakin. Dia bisa melihat hoobaenya itu hampir saja menangis, matanya berkaca-kaca, tidak menyangka—seperti yang lain pula—bahwa Jinki pada akhirnya akan berdiri dan mendengarkan permintaannya dulu.

Detik-detik terus bergulir, ketika Jinki bicara, ketika Yang Mulia mengijinkannya menjelaskan maksud perkataannya, ketika Jongdae terharu dengan sikap Jinki juga ketika Jung Chaeyeon memandangi Jinki dengan tatapan tak percaya.

Detik-detik juga terus melaju ketika pandangan mata Jongdae dan Chaeyeon bertemu dan mengunci satu sama lain.

Detik-detik juga masih bergulir saat Jinki berhenti mengambil jeda dan mendapati harapan mulai merasuki hidup Jongdae dan Chaeyeon kembali melalui mata mereka.

Jinki also knows that this case won’t be over yet, BUT his chase was just ended.

.

.

.

.

.

.

“Lalu—haruskah aku menceraikan Chaeyeon, hyung?”

Hening.

Jinki masih berpikir.

Jinki memandang Jongdae yang menatapnya dengan penuh arti.

“…”

“Hyung?”

“…”

“…”

“Kau harus mempertahankan dia, Jongdae-ya. Kau tidak akan bisa menemukan satu pun yang seperti dia, jangan sampai melepasnya.”

“Hyung?”

“Semua alasan yang Chaeyeon beritahukan padamu adalah kebohongan. Tapi—aku pun tak bisa memberitahumu kebenaran, karena aku yakin Chaeyeon akan lebih senang jika kau tidak tahu, pun jika kau tahu, kau harus mengetahuinya sendiri.”

“…”

“Jongdae-ya, jaga dia dengan baik sebagaimana kau menjaga ibumu sekarang ini.”

Mata Jongdae memperlihatkan bahwa seluruh informasi itu sedang berputar tanpa arah di otaknya. Kebohongan pertama Chaeyeon yang dia dengar dalam 10 tahun usia pernikahan mereka? Sebuah rahasia yang tak dibagi padanya?

Tapi, dengan tingkat rasionalitas yang tinggi, Jongdae sadar kenapa Chaeyeon percaya pada Jinki. Karena Jongdae pun percaya pada lelaki itu.

“Hyung—“

“…”

“—kau mau membantuku?”

FIN.

 

Author’s Note:

  1. Teruntuk para staff dan co-writer MNJ yang udah ngasih challenge setelah tahu aku ga bisa nulis dengan cast mas ONEW kesayangan :” haha (tapi karena paksaan dan dorongan kalian lah finally I wrote this!!!! After being his wife for 7 years, I did this, gomawo! Luv yah lah! ><
  2. Terkhusus kak fini, yeay! Mana Minhwan ku?
  3. Sora, abis baca heechulnya di publish loh ya!
  4. Buat Nadhilah yang ultah dan minta Chen, nih udah yah :”
  5. For all readers yang terlihat maupun tak terlihat. Makasih udah nyempetin baca, kalau merasa feelnya kurang maafkan aku, ku sudah berusaha sebaik mungkin ya sampe nyesek2 mikir ending ini mau digimanain huhu :”
  6. For my self, congrats! wk
Advertisements

11 thoughts on “C (h) A S E

  1. Congratulation! You made it!! And yes, should I call it angst or something? Because I know that he hurt a lot :”))) omg! Heechul bisa kapan2 ga ya? Abis baca ff mu, nyali jadi nyempil jauh di mato-___- ini buagus pakai begete wkwkwk. Aku suka akhirnya, suka mas Jinki yang bijak. Sabar UA mas, masih ada yg menunggumu. Koreksi dikit, you got typo in one word. And “Jinki can really saw” — maybe it would be nice if you made it as “Jinki really could see” but overall you made it authornim cieee yg uda nerbitij buku mah beda /.\

    P.s. please seungkwan-wish sangat ditinggu/?

    Liked by 1 person

    1. Don’t be like that juseyo /.\ you havent even read my book yet 😂
      Thanks for the correction, but I got the line from a prompt :v but your idea is kinda okay too!
      Wanwish kan udaaah bulan ini, tunggu aja bulan depan yak, inshaa Allah.
      Hee oppa aja doeloe publish wk

      Like

      1. Waks lagi jantung kering nih, ntar deh kalo ada duit diriku pesen ke kamyuuu 😉 oh prompt kah? Duh minta bkin lagi ga boleh :” hahahaha iya deh ditinggu ya Hee oppa

        Like

  2. Hi hi risuki ini aku minarifini wkwkwk maaf pakai akunya admin XD
    well aku aku baca ini antara seneng campur sedih, soalnya Onew-nya milih jalan yang berbeda. Aku tahu kok gpp, meski Onew sendiri gpp kok aku seneng, ntr biar sama aku kkk kalau jodoh itu yang emang g kemana /ditampar/

    #abadikan…

    okay ini serius komen, jalan cerita. Well jalan cerita awalnya udah ketebak wkwkwk Onew jadi apa XD jadi pengacara terus kayak terpaksa bantuin klien yng kebetulan adalah cintanya masa lalu. Ini kayak film the Architectur 101 bedanya tokoh utamanya itu seorang arsitek terus kliennya itu cinta pertamanya kkkkk

    Terus ada plot twistnya- aku kira onew bakalan misahin cweknya dari suaminya kkkk ternyata enggak. Dan aku kira cweknya itu dari awal suka sama onew eh ternyata enggak , cweknya udah suka sama jongdae dari awal kkk ini nih yang bikin beda dari film itu XD

    overoll aku suka sama jalan ceritanya greget , jadi pengen meluk Onew / tapi sayang aku sadar kok, duniaku dan onew terlalu beda u.u sometimes kenyataan itu pahit ya #inimalahcurhat wkwkwk

    Terus gaya bahasa wkwkwk aku dari awal baca ff kamu itu selalu suka sama gaya bahasa kamu wkwkwk mau kamu buat model cerita apapun aku pasti suka sama cara kamu bawaain cerita hahahah

    udah itu saja XD Minhwannya masih nyusul ya wkwkwk dia agak malu soalnya wkwkwk

    Liked by 1 person

    1. Iya kak ku yakin pasti ketebak dia jadi apa makanya ku bikin twist ajah di belakang, jadi kalo ada yg nebak ‘onew misahin’ kena deh tp kalo ada yg nebak ‘onew nyerah’ seenggaknya they ll knew how I made it ☺️
      Aku juga antara seneng-sedih kak mikir dan nulis ini, alhamdulillah kalo perasaannya nyampe :’)
      Architectur 101 aku udh nonton lho tapi aku lupa kalo ceritanya begini ya? Tar ku tonton lagi deh, ku ga plagiat yaqin 😢
      Makasihhhhhh ya ka 😘

      Like

      1. Risuki yang perlu digarisbawahi, aku g bilang kamu plagiat kok. Ide sama kan lumrah yang penting jalan ceritanya beda. Kalu di architectur 101 kan dulunya tokoh utama itu sama2 jatuh cinta, tapi cuma karena kesalahpahaman aja cwoknya milih pergi ninggalin cweknya u.u dan mereka ketemu pas udah jadi dewasa. Si cowok mau nikah juga dan si cwek udah cerai. Serius dari situ ceritanya udah beda, yang sama mereka ketemu karena urusan pekerjaan gitu, cweknya minta dibuatin rumah untuk ayahnya dan di ffmu tokoh utama cwek minta bantuin buat nyelesain masalh sama suami. Udah beda kok~

        Like

  3. a cieee mas onew yang dulunya sempet cinta bertepuk sebelah kaki /eh/ ya tapi meskipun gitu, dia tetep baik hati ngga pengen chaeyeon sama chen-dol berpisah ;-( ;-( ;-( nice fic kak, dan dakupun ikut menantikan seungkwan-wish kembali /padahal belum komen di fic-nya/ 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s