Friendship · Life · School Life · Teen · Vignette

Lost Truth


lost-truth-njnj-limmy-ya

 

Limmy-ya present

[OC’s] Me, [NCT’s] Mark Lee || T || Life, School Life, Friendship || Vignette (± 1.200 words)

EYD berantakan, typo everywhere, dan semoga tidak puyeng baca kisah absurd ini ^^

Sebab dunia telah berubah sekarang.

.

.

.

Kupikir dunia akan semakin adil seiring tuanya usia. Akan mendewasa nan mengetahui apa yang kiranya tak pantas untuk diperbuat. Akan mengetahui diri atas lamanya hidup yang telah dijalin di semesta.

Nyatanya tak sedemikian rupa jadinya. Abad ini tidaklah mudah nan baik untuk dijajah. Sebab selayaknya dalam persepsi kepala, dunia yang terlalu tua tak lagi mudah menghalau godaan besar. Akan dipastikan pula hanyalah porak-porak kehancuran yang melanda hati dunia.

Kalian tidaklah berpikir semudah ini. Yang hanya berpola acuh atas percikan sebuah tanda akan atmosfer pelindung bumi. Yang kian menipis, merapuh, nan jadilah sirna tak lekang masa di kemudian hari.

Camkan hal itu. Sungguh. Sebab ia yang kalian kira baik-baik saja, saat ini berada dalam zona mengerikan. Pun tak ada sewujud manusia yang dapat mengeluarkannya dari lubang kesengsaraan.

Ia yang masih hinggap di dasar nan gelap.

.

.

.

Riuh serupa deru gumpalan jantung dalam dada memenuhi ambang pendengaran. Menghalau batas kala rangkaian alunan musik mengalir pada menit sebelumnya. Tanpa jarak waktu, desisan kesal tentunya keluar melalui mulut. Kutunjukkan kepada mereka, sekumpulan murid, yang tengah acuh akan senyaman ketenangan.

Mereka tak mendengarnya. Akupun mampu untuk memaklumi. Sebab toleransi ruang dengung suara tak sebanding dengan aliran ruang telinga mereka. Mereka yang tampak asyik dalam percakapan yang tak kuketahui alur awalnya.

Namun aku tak bodoh untuk sekedar mencuri-curi. Terhadap apa yang mereka desingkan bersama kawan berupa tawa renyah di muka masing-masing.

Sekilas, sesingkatnya, sedetiknya kala habis waktu demi menggali topik itu, hati bagai ditumpas oleh beribu jarum yang menusuk. Bukan komposisi reaksi hiperbola akibat hal itu. Bukan pula jika nyatanya menyangkut pautkan dengan presensiku. Toh, hal itu tidaklah menjadikanku tersinggung.

 

Oh, rupanya mereka sudah gila.

 

“Tak ikut mengobrol?” sebuah sentuhan menarikku agar memandang dirinya. Mark. Tepatnya Mark Lee, sahabat sejati, yang kini menuntunku beralih kepadanya. Ia salah satu yang melarikan diri dari kumpulan masa. Yang lantas menempatkan diri di samping sembari menatap manik pekat kilau milikku. Dalam diamnya sebelum kembali dirampas oleh cairnya latar suasana.

“Ngga mau. Malas.” Jawabanku hanya sesingkat-singkatnya. Lantas dilemparlah tanya yang berbeda namun satu makna kepada dirinya, “Lalu kamu juga ngga ikutan?”

“Aku bukan termasuk kelompok penyebar berita tanpa fakta tak jelas itu. Asal kamu tahu saja, lebih baik aku membolos jam Bahasa inggris dibanding menangkap ocehan tak bermutu barusan.” Aku hanya memangut. Berusaha mengerti sebab, hei! Memangnya siapa pula yang betah untuk menguapkan rasa kantuk mendadak sebab ocehan bak dongeng itu? Bahkan bila aku dipaksakan berada dalam ruang tanpa sunyi ini, menutup telinga rapat adalah sikap yang patut kulakukan. Lagi-lagi aku hanya mampu untuk memaklumi.

Menatap layar ponsel yang menyala lebih menarik ketimbang berpaku pada situasi yang amat tak kusuka ini. Mengabaikan Mark yang mungkin memasang mimik muka tak sedap dipandang sebab diabaikan olehku.

Bila saja bukan keasyikan mereka yang semakin membuatku muak begitu saja. Bila saja mereka akan menarik tuas rem mendadak kala dehaman keras melaju bebas dariku. Emosi dalam diri begitu mendidih. Meluap-luap hingga memenuhi tempurung keras selubung pikiran, nan menyebabkan gradasi kemerahan mencuat dari permukaan kulit muka.

Mereka yang terlampau bermulut besar. Mereka yang bahkan tak punya tempat sekedar menghindar dari amarah yang bisa saja membanjir. Mereka yang tak tahu diri lantas tanpa berdosa satupun menghempas diri lemah ini. Sungguh memuakkan hingga naluriku bisa saja memberi perintah agar membekap mulut busuk mereka.

Are you okay?” sentuhan itu kembali bersarang di bahu. Mark pelakunya, dan kuyakin serangan kepanikan mulai merekah pada ekspresi wajahnya. Namun aku memilih untuk tak menggubrisnya. Menjejakkan diri keluar dari kelas menyesakkan adalah niatku selepasnya. Lagi-lagi bersikap selayaknya tuna rungu kala sahabat karib meraungkan namaku.

 

Maaf, Mark. Yang kubutuhkan saat ini adalah waktu untuk menyendiri. Menjauh dari realita memilukan yang mampu menimbulkan sesak dalam dada. Dibanding terus mengurungnya dalam diam dan menimbunnya teramat di dasar hingga angkuh untuk dilepaskan.

 

Kuharap kamu mengetahui dan mengerti akan diriku, sobat…..

.

.

.

Dunia seakan berserah diri guna ditindas. Ia yang walau meringis tanpa sepengetahuan sang penguasa daerah milik rakyat jelata. Memaksanya memikul beban yang tiada habisnya sementara senyum miris muncul bersama. Yang lantas dengan mudahnya dirusak oleh sekelompok tak berperikemanusiaan.

Sejarah akan mengetahui. Bahwa peradaban kini tak jauh berbeda dengan masa sebelum masehi berlangsung. Di mana kala dunia begitu ringsek layaknya lempengan mobil yang termakan oleh usia. Yang menimbulkan keroposan oranye memenuhi tiap sisi kerangka.

Oh, sebegitukah akan fisik dunia saat ini. Yang seharusnya dijadikan batas aturan guna menjadikan lebih baik tiap masa datang. Dan bukan agresi menyedihkan yang ditemukan pada seluruh luas bola semesta ini.

.

.

.

Aku bersembunyi di antara bilik-bilik kamar mandi perempuan. Dalam siklus aliran air mata yang meloloskan diri dari pelupuknya. Masih di ruang geraman rasa muak akibat percakapan mereka pagi lampau. Mereka yang tak mengetahui arti bekorban demi milik tersayang.

Ya, semudah begitukah salah seorang mereka berkata, “Aku mendapat informasi mengenai kunci jawaban ujian kelulusan nanti.” Yang lantas dijawab sekenanya dari sekawannya.

 

“Sungguh? Darimana kau mengetahuinya?”

 

“Belinya di mana?”

 

“Sungguh akurat, tidak?”

 

Mereka yang tampak termakan oleh bujukan setan untuk segera mendapatkan jalan pintas. Termasuk pula sang peraih peringkat lima besar. Yang seharusnya mereka tak mengikuti arus keburukan itu.

 

Jadi, sudah benar apa yang kukata di awal, bukan?

 

Mereka sungguh sudah gila. Mereka yang bisa saja lebih hina disbanding beberapa murid lain yang tak setara mereka.

 

Oh, ralat. Bukan mereka saja yang sudah menggila.

 

Dunia yang kupijaki di usia kini juga sama gilanya. Dunia yang sesungguhnya terlampau tua untuk mengangkut segala makhluk penghuninya. Di mana para manusia bobrok abad kemajuan yang bertempat tinggal. Di mana berbagai problema amat rumit membebani bahu dunia.

Jika saja bukan karena kecurangan, keburukan, kekerasan, korupsi, suap, penuduhan untuk menutup rapat realita yang sebenarnya terjadi, dunia pastinya tentram aman nan merasa nyaman di usia tuanya.

 

Kuharap Tuhan mengampuni dosa-dosa dunia. Kuharap tak ada lagi hal-hal memuakkan semacam ini yang menimpa tubuh dunia.

 

Aku bukannya manusia turut andil dalam mensejahterakan dunia. Aku bukannya manusia mulia. Bukannya pahlawan yang akan menolong dunia agar kembali pada permukaan yang cerah. Pun bukannya aku ikut campur.

Sebab di sinilah korban karena gelapnya dunia. Sebab di sinilah yang terjajah nan tertinggal karena dihadang oleh ketidakjujuran. Sebab akulah yang justru patut menagih tanggung jawab demi keadilan dunia.

Namun aku sadar, hal itu tak akan mudah untuk ditumpas secepatnya. Hari akan bertahap berganti tiap tenggelam nan terbitnya surya penguasa langit terang. Yang akan memakan detik demi detik berlalu lamanya.

.

.

.

Langkah pertama baru tiba di batas masuk toilet perempuan kala netraku menangkap sosok di sekitar. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding marmer. Lantas menoleh kepadaku yang menganga akan presensi mendadaknya. Mark ada di sini, berdiri menghadapku dengan sejuta tanda tanya memenuhi mimik mukanya.

“Kamu baru saja mengangis tuh.” Entah aku harus merasa malu ataupun takut sebab tertangkap basah. Aku tahu, aliran kecil masih tersisa tampak di pipi tembamku. Menepis kuat-kuat bukanlah salah satu cara terbaik guan menghilangkan persepsinya. Jadilah kubiarkan. Sembari melanjutkan langkah dengan senyum mengiringi.

Sadar bila bukan diri ini saja yang menuntut adanya keadilan dalam dunia. Aku ingat betul. Ia yang masih menetap di tempat berpijak itu, turut mengangkat tangan tinggi-tinggi guna berorasi. Ia yang dulunya turut bersumpah bersamaku.

 

Demi harga diri, daripada mengambil jalan pintas menuju dosa, lebih baik menggunakan kekuatan sendiri walau harus menanggung malu karena terinjak-injak.

 

Aku tak berujuang seorang diri, nyatanya.  Mark yang kini melangkah berirama di sampingku, akan selalu ada. Ia yang kini terus mengutarakan kelimat introgasi beruntun mengenai alasan lari dari kelas. Ia yang sebenarnya kini dipenuhi rasa penasaran mengapa aku meninggalkannya.

Bersamaan dengan lengan yang terulur merangkulku, simfoni suara adrinya menimbulkan senyum semakin jelas pada wajah.

 

Whatever, semoga kamu baik-baik saja.”

 

 

 

Finish.

 

.curahan hati seorang calon penerus bangsa (AMIN) ^^

.maaf sempet menghilang selama hampir 2 bulan

.maaf sempet lost contact

.maaf pula dateng-dateng justru bawa fic ngga jelas ini

.dan maaf untuk lain-lainnya  ^^

.kalo ada waktu, bakal ngepost lagi kok. Dan kayaknya yang masih berbau EnSiTi (lagi demen sama para oppa beserta dedek itu sih) ^^

.kutunggu komentarnya, guys. Dan khusus sunbaenim di MNJFF, silahkan bantai saya habis-habisan karena sudah banyak ngrepotin kalian. Karena pas daku mau menghilang (?) ngga ijin dulu ke kalian  T.T  T.T

Advertisements

10 thoughts on “Lost Truth

  1. WHERE HAVE YOU BEEN?! NOMORMU KENAPA GA AKTIF? KAPAN HARI ADA WA, AKU TEXT, MALAH GA AKTIF LAGI-____- well, you have to text us at least you are busy limmy. I’m sure you have my number or maybe you can reach us on other media socials, if you’re still want to be part of us, okay 🙂

    Okay ini ff pertama setelah kamu ditelan bumi kan ya. Aku awal baca ini ff, duh bahasanya Dan uda nerka2 ceritanya bakal gimana. Apa ini semacam sci-fi yang susah aku pahami hahaha. Ternyata, pokok permasalahannya tentang orang2 yang skrg ud memilih utk menghadaokan segala cara untuk keselamatam dirinya. Org2 yg lebih memilih untuk berdusta. Eh ceilah. Haha. Aku suka bahasanya, kdg susah aku pahami sendiri hehehe. Dan oh ya, ada beberapa typo. Gapapa sih, aku juga sering. Trs utk beberapa kata yg kurang baku, lebih baik digaris miring ya 😉 ok sekian. Ditinggu konfirmasi nya

    Like

  2. He he, mianhae kakak ^^ saking sibuknya sampe ngga bisa buka sosmed T.T T.T udah kelas 12 sih, dakupun ikut syedih T.T T.T lain kali ngga sampe begini deh, daku usahain 😀

    thanks sudah baca sama ngasih koreksinya kak. Iya bahasanya ambigu sampe yang nulis aja juga bingung sendiri 😀 😀 😀
    once again, thanks so much kakak.

    Like

    1. Iya gapapa. Lain kali lebih aktif lagi ya 😉 juga tolong konfirmasikan kalau kamu lagi sibuk. It’s for taking hiatus. Oh ya? Karena aku tahu kamu buat wa kapan hari, bisa kamu buat lagi? Atau line? Karena kita juga ga setiap hari cek Twitter. Nomor km tetap kan?

      Liked by 1 person

      1. Oke oke kak 😀 😀 kuusahain. Yang soal wa, kebetulan pas kapan hari itu aku pake hp.nya adik. Soalnya hpku ngga bisa buat wa sama line. No hapeku masih aktif kok kak

        Like

  3. Oy limmy! Ku suka paragraf awalnya ❤️
    Ku tadinya mikir ini cerita bakal berat atau gimana krn analoginya kemanamana ye kan? Trs pas dikelas ngobrol sama ditoilet itu ku kira aku sama mark itu satu tubuh beda kepribadian wkwk tapi ternyata curahan UN yak, emg kadang kalo curhat bahasanya bisa bgt kok jadi begini haha

    Iyanihhh kamu ada LINE ga biar di add di grup MNJ jadi kita bisa share2 jugaaa

    Jangan lupa baca dan review punya cowriter mnj yg lain juga ya!

    Since u still can write, you can read too right? Jangan baca detik detik sama buku paket terus nanti mabok 😂v semangat yah anak kelas 12 😘

    Like

    1. he he he, makasih kakak ^^ iya ini curahan hati paling terdalam /ngga/ aku ngga pnya line nih kak. gimana dong?

      sip kak. sebisa mungkin ngeluangin waktu buat baca fic-nya para sunbaenim ^^

      Like

  4. Wkwkwkkwkw hiii limmi , maaf baru sempet baca dan kirim komen di ffmu xD well kalau kamu mau buat FF ttg NCT aku bakalan dukung kamu pakai banget xD karena apa? Ya karena aku juga lagi suka sama mereka wkwkwkkw terutama si Mark duh sayang dia itu kurang rasa oppa T.T

    Well ini ceritanya simpel sebenarnya kkkk tapi karena kamu pinter main diksi jadinya kerasa agak dalem FF, curhatannya mantaplah. Dan ya aku bisa pahami tentang2 kecurangan itu u.u aku juga pernah ngalami hal itu pas SMA. Ya Fonomena kunci jawaban itu udah dari dulu sih, ya banyak hal juga kenapa para siswa memilih jalan pintas itu. Wkwkwk kalau diomongin di sini bisa panjang bgt kkkk ya semoga suatu saat nanti sistem pendidikan di Indonesia ini semakin baik, kelulusan siswa bukan dilihat dari hasil ujian nasional tetapi dari kepribadian atau nilai2 lain semasa sekolah hehehe gitu sih harapanku.

    Oh iya, salam kenal ya. Aku minariFini salah satu admin di sini kkkk well kamu kan salah satu penulis di mnj nih, kalau ada waktu tolong dikirim biodata kamu ya ^^ contoh bionya bisa kamu liat di menu “staff mnj” itu , biodatanya bisa dikirim via email ~

    Keep writing ya limmi~

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s