Chaptered · Fantasy · PG · School Life

Girl From Neverland – Chapter 3


gfn vers2

Tittle: Girl From Neverland /Author : @minarifini /Cast :Song Mino , Bae Joo Hyeon as Irene , Ahn Hee Yeon as Hani /Other Cast  : Winner member , Red Valvet member /Genre: Romantic Comedy , Fantasy /Lenght: Chaptered

Disclaimer : FF ini terinspirasi oleh  serial mangga yang berjudul ‘ Angel Happiness’ . Tokoh dan segala latar belakang hanya sekedar fiksi, dont take it serious. FF ini cocok di baca untuk pembaca diatas umur 15 th. 

Author Note : Hii, bertemu lagi dengan saya minarifini kkkk , well cerita ini sudah di publish di wattpad pribadi saya, dan semoga update yang ini kalian suka dan jangan lupa meninggalkan jejak ya. Segala bentuk feed back dari kalian sangat memotivasi penulis XD. Bye sampai jumpa di chpater selanjutnya ya~

Chapter 1 / 2 / 3 / 4

Mino dibawa paksa oleh Roy dan kawan-kawannya menuju gudang belakang sekolah. Tidak ada perlawan dari Mino sama sekali. Laki-laki itu hanya mengikuti apa yang akan dilakukan oleh Roy dan kawan-kawan.

Memang seperti inilah, kehidupan seorang Song Mino. Ia hanya seorang nerd. Ia tak banyak memiliki teman. Hanya beberapa, namun mereka cuma datang saat sedang membutuhkan Mino saja. Apalagi seperti ini, saat Mino sudah masuk ke dalam incaran Roy- tak ada satu pun yang berani ikut campur atau membantu Mino. Tidak ada.

Entah sampai kapan Mino akan lepas dari cengkraman Roy. Mungkin sampai Roy lulus dari sekolah. Itu pikiran Mino. Ia akan tetap bertahan hingga Roy lulus dan ia yakin setelah itu segala bentuk penindasaan ini akan berakhir. Mino hanya butuh bersabar dan bertahan. Hanya itu pilihannya, ingat tidak ada yang bisa membantu Mino untuk keluar dari cengkraman Roy.

BRUAK!!

Tubuh Mino terlempar di sudut gudang sekolah. Punggungnya membentur bangku-bangku bekas.   Seperkian detik kemudian, Roy dan kawan-kawannnya menghabisi Mino. Tidak ada ampun bagi Mino. Roy dan kawan-kawannya  menendang tubuh Mino. Sementara  Mino hanya bisa melindungi dirinya sendiri dengan kedua lengan menutupi wajahnya, tubuhnya meringkuk. Sakit. Mino menggerang kesakitan, tapi mana peduli Roy dan kawan-kawannya. Mereka tetap menghajar Mino tanpa ampun.

“Dengar!” Roy menarik krah baju Mino. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Mino. Wajah Mino nampak lebam dan hidung Mino mengeluarkan darah. “Jangan pernah berani mendekati Hani. Kau sudah kuperingatkan. Mengapa kau sama sekali tidak memperdulikannnya. Huh?” Mino tidak bisa menjawab, bibirnya keluh- bibir bawahnya robek- akibat bogem mentah Roy saat di koridor beberapa saat yang lalu.

TIIIIING!!

Suara bel berbunyi nyaring tak terkecuali di dalam gudang, suara bel tanda masuk ke dalam kelas dapat di dengar jelas. Sudah dapat di pastikan, Mino tidak akan mengikuti kelas hari ini. Keadaannya sungguh tidak memungkinkan.

“Camkan baik-baik, kau harus menjahui Hani apapun yang terjadi. Jangan pernah sekalipun aku melihatmu mendekatinya. ” Mata tajam Roy mentap manik mata Mino yang terbuka separuh. Sungguh Mino tidak kuat lagi. Badannya lemas. Pandangannya berkunang-kunang. “Jika, kau masih berani sekali lagi. Aku pastikan kau tidak akan selamat.” Roy melemparkan Mino begitu saja.

Mino tergulai lemah di lantai gudang. Pandangan matanya blur. Ia melihat  samar-samar Roy dan kawannya pergi meninggalkan Mino. Mino sempat menangkap senyum miring Roy sebelum laki-laki itu pergi. Pintu gudang pun ditutup dengan keras. Tinggalah Mino sendiri.

Rasa nyeri sekujur tubuhnya membuat Mino tidak sanggup berbuat banyak. Mino mengatur nafasnya sebab beberapa detik yang lalu, paru-parunya terasa sesak.  Seberkas cahaya matahari menyusup melalui kaca buram di sudut gudang membuat ruangan itu tidak sepenuhnya gelap.

Setelah nafasnya kembali normal, jemari Mino bergerak, ia berusaha mengambil sesuatu dari saku celanya. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia berhasil mengeluarkan sebuah manekin seorang gadis. Manekin ‘Irene’. Mino menggegam manekin ‘Irene’. Mata Mino menatap manekin itu.

” Apakah kau akan membawa keberuntungan dalam hidupku? Benarkah kau akan membantuku seperti apa yang diucapkan nenek waktu itu.”

Meski ini hanya sebuah reka jejak ulang Mino. Tetap saja, semuanya terasa sangat nyata. Luka akibat pukulan dan tendangan Roy terasa sangat sakit. Perasaan dan pikiran Mino masih tetap sama, salah satunya ia ingin keluar dari cengkraman Roy dan mimpinya.

“Masih adakah harapan. Akankah mimpiku terwujud, Irene?” 

Keinginan terbesar Mino adalah ia ingin cita-citanya terwujud dan orang tuanya mendukungnya. Tapi apakah itu mungkin. Adakah kesempatan itu?

Rasa nyeri pada tubuhnya membuatnya lemas tak berdaya. Selain itu, mata Mino terasa sangat berat. Lengannya tak sanggup menahan manekin ‘Irene’, detik kemudian lengan Mino tumbang. Mata Mino pun tertutup.

Dan manekin ‘Irene’ tergulai begitu saja di lantai.

Mino tidak tahu sudah berapa lama ia terkurung di dalam gudang ini. Rasa nyeri masih terasa di sekujur tubuhnya. Mino membuka matanya perlahan. Terdengar suara seorang gadis di balik pintu gudang.  Cahaya matahari sudah sedikit meredup, sudah sore nampaknya.

Mino pun berusaha untuk duduk. Mino menopang tubuhnya dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya memegangi kepalanya yang masih pusing. Pandangan matanya masih blur. Butuh beberapa saat untuk memfokuskan pengliatannya. Ia melihat manekin ‘Irene’ tergeletak di lantai yang tak jauh darinya. Mino meraih manakein ‘Irene’  itu dan kemudian memasukkan ke dalam saku kemeja sekolahnya.

BRAKK!

Pintu berhasil di buka oleh seorang penjanga sekolah. Dan di belakangnya nampak seorang gadis. Dia, Hani. Gadis itu pun segera menghambur ke arah Mino. Mino tak sanggup menutupi rasa terkejutnya ketika seorang Hani mendekapnya dengan penuh rasa khawatir. Mino terdiam membeku.

Perlahan Hani melepaskan pelukkannya. Gadis itu menatap Mino. “Mino, K-kau terluka.” Bisiknya dengan suara begertar. Mino masih bungkam. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. “Paman, tolong bantu saya.” Ujar Hani kepada penjaga sekolah.

Paman berusia lima puluh tahun itu, nampak sedikit ragu. Beliau melihat ke arah samping kiri sebelum berjalan ke arah Mino dan Hani. Paman itu takut dengan Roy. Segera paman penjaga sekolah itu membantu Hani untuk memapah Mino. Mino pun berhasil berdiri.

Hani dan paman itu membantu Mino untuk berjalan ke arah pintu keluar gudang. Sejenak Mino berhenti. Ia mengingat sesuatu. Perkataan Roy. Menjauhi Hani!

“C-cukup. Aku bisa berjalan sendiri.” Ucap Mino. Hani menatapnya tak mengerti. Wajah gadis itu terlihat tidak setuju dengan ucapan Mino. Gadis itu pun memberi isyarat kepada paman penjaga sekolah untuk terus memapah Mino. “Hentikan!”

Hani dan paman penjaga sekolah itu berhenti. Keduanya menatap Mino. Perlahan Mino melepaskan dirinya. Ia berjalan tertatih mendekati tembok untuk bersandar. Hani terlihat semakin khawatir, ia berusaha untuk meraih tangan Mino, namun laki-laki itu menepisnya. “Aku mohon, pergilah. Aku bisa berjalan sendiri.”

“Tapi.. Kami ha…” Hani hendak memprotes, namun mulutnya kembali terkatup saat Mino memotong kalimatnya.

“Terimakasih, Hani. Aku bisa sendiri.”

“Mino.” Gadis itu berusaha untuk mendekati Mino, namun dengan segera Mino memberikan aba-aba untuk tidak mendekatinya. Mino mengatur nafasnya. Sungguh, ia sangat berat untuk mengucapkan satu kalimat ini.

Namun pada akhirnya, ia memaksakan dirinya untuk mengucapkan kalimat itu. “Terimakasih Hani. Pergilah dariku.”

Gadis itu pun terdiam. Ia hanya bisa mentap Mino dan membiarkan laki-laki itu berjalan pergi dengan tertatih.

Jam tangan digital Mino menunjukkan angka 05:31 P.M ketika ia membuka pintu rumahnya. Ia pun berjalan masuk, meletakkan sepatunya di rak. Rumahnya sunyi dan gelap.

Mino berjalan menuju ruang tamu untuk menyalakan seluruh lampu rumahnya. Badannya masih terasa sakit. Ia harus berjalan tertatih-tatih untuk menuju dapur. Ia berjalan ke arah lemari es pada sudut dapur. Di depan pintu lemari es, terdapat sticky note dari kakaknya dan ibunya.

Mino-ah aku harus mengerjakan proposal penelitian bersama Chae Young. Aku meningap di apartementnya untuk tiga hari ini 🙂 Oh iya, ayah dan ibu sedang ke Busan, jangan nakal di rumah – Nuna-mu yang paling cantik, Dana

Mino, Ayah dan Ibu sedang mengunjungi  kakek dan nenekmu di Busan. Kakekmu sakit. Ibu sudah memasakkan makanan untukmu di lemari es, kau bisa memanaskannya di microwave jika kau ingin makan. Ayah dan ibu pulang satu minggu lagi. Jaga dirimu dengan baik, Nak. -Eomma

Setelah membaca pesan dari kakak dan ibunya, Mino membuka lemari es, ia terdiam sejenak melihat isi lemari es tersebut ada ayam potong, daging dan beberapa makanan siap makan buatan ibunya. Segalanya sudah disiapkan.  Tapi entah mengapa Mino merasa tidak lapar. Mino pun akhirnya menutup kembali lemari Es-nya.

Ia memilih untuk beristrahat saja. Perlahan ia pun berjalan menuju kamarnya. Dalam hatinya,Mino bersyukur karena keluarganya tidak ada. Setidaknya tidak ada yang bertanya mengapa wajahnya nampak babak belur atau ia tidak usah repot-repot membuat alasan mengapa wajahnya nampak seperti korban perkelahian. Mino menghela nafas lega.

Mino mendorong pintu kamarnya. Ia melemparkan tasnya ke arah meja belajar. Ia membuka kancing kemejanya. Ia menyeret kakinya ke arah lemari. Ia merogoh saku kemejanya, ia mengambil manekin ‘Irene’. Sejenak ia menamati manekin gadis itu, masih adakah kesempatan itu? kebahagiaan? keberuntungan? cita-cita? orang tuaku dan segalanya akankah terwujud, Irene. Selalu pertanyaan itu berputar dalam benaknya. Ingin sekali Mino memperbaiki segala hal yang salah dalam hidupnya, namun apalah dayanya. Ia selalu diliputi dengan keraguan untuk melangkah.

Mino memejamkan matanya dan kemudian meletakkan manekin ‘Irene’ begitu saja pada salah satu shaf lemarinya. Mino mengambil nafas berat. Ia menarik salah satu kaos dan celana asal. Hal yang akan dilakukan Mino adalah mandi dan setelahnya tidur hingga besok.

Besok?

Ia tidak akan masuk sekolah.

Waktu berjalan cepat, dari malam berganti dengan pagi dan siang pun akhirnya datang. Saat itu jam dinding menjukkan pukul 11;58 a.m.  Mino menggeliat dari tempat tidurnya ketika ia mendengar suara yang berasal dari lemarinya. Ia membuka matanya, samar-samar ia melihat lemarinya bergerak-gerak. Mino bangkit dari tempat tidurnya. Ia memfokuskan matanya. Mungkin saja ia salah lihat. Namun tidak. Semakin lama pintu lemiranya  pun terbuka. Jantung Mino tersentak. Jujur meski ia sudah tahu penyebabnya, tetap saja mengalami hal ini dua kali, rasanya tetap sama. Rasa tekejut itu masih ada.

Dan puncaknya, jantung Mino mencolas ketika sosok seorang Irene keluar dari almarinya. Gadis Neverland itu akhirnya menampakkan dirinya. Gadis itu terlihat sedikit repot menarik tas koper kayu ala abad pertengahan Eropa. Mino masih terdiam, ia mengamati setiap tingkah Irene. Sungguh, sejak hari itu Mino akan mengingat hari ini, karena segalanya akan dimulai dari hari ini. Satu per satu segalanya akan nampak tak masuk akal.

Mino segera mengambil kaca matanya, Ia memakainya dengan cepat dan bangkit dari tempat tidurnya. Ia sudah lupa rasa sakit dan nyeri pada tubuhnya. Ia masih terkesima dengan kehadiran seorang Irene. Ingat, Irene adalah manekin itu dan kini ia hidup.

“Ah, ini sangat berat sekali, seharusnya aku tidak membawa barang-barang terlalu banyak. Ah..” Mino mendengar Irene menggumam. Gadis Neverland itu masih sibuk menarik tas kopernya. Dan Mino sendiri tidak tertarik untuk membantu gadis itu.

“Fiuh.” Gadis itu menyilahkan sedikit poninya setelah berhasil menyeret koper besarnya keluar. Perlahan gadis itu meletakkan kopernya di sebelahnya. Dan kini, gadis Neverland itu mentap Mino. Ada sorot antusiasme tinggi yang terlihat dari mata gadis itu. Mino menelan ludanya gugup. Gadis itu pun tersenyum padanya, tidak ada yang bisa dilakukan oleh seorang Song Mino selain terdiam dan rasa terkejut yang masih ia rasakan.

Setelahnya segalanya berjalan sama dengan saat itu, “s-siapa kau?” Meski sudah tahu, siapa gadis itu tetap saja, kata itu yang keluar dari mulut Mino. Sampai detik ini juga, apa yang ia lihat dan di rasakan masih terasa sama, pertama rasanya seperti mimpi, tak masuk akal dan sangat konyol. Seorang gadis cantik seperti Irene keluar dari lemarinya, sungguh hal ini sulit sekali untuk dicerna.

Mata Mino membulat ketika seorang Irene, memperkenalkan dirinya. Perlahan gadis itu tersenyum kepada Mino dan dengan sopan ia menjulurkan tanganya untuk berjabat tangan, namun Mino tidak langsung membalas hal itu. Mino masih terus menahan dirinya, Mino masih dikuasai oleh prasangka buruk dan sukar sekali bagi Mino untuk mencerna hal konyol ini. Oh Tuhan…

“Hai, namaku Irene dari Neverland dan aku akan membantumu untuk mewujudkan mimpimu. Aku dengar di dunia manusia dengan bejabat tangan kita akan menjadi dekat. Aku berharap kita bisa menjadi teman yang baik. Aku berjanji akan melakukan apapun untuk mewujudkan impianmu. ” Setelah mendengarkan perkataan  Irene, Mino langsung mengeluarkan tawa sumbangnya dan tiba-tiba seluruh indra penglihatannya menjadi kabur lagi, Song Mino yakin ini hanya sebuah mimpi . Nantinya Ia akan bangun dan menghilanglah rantaian kejadian koyol hari ini.

Namun, kejadian konyol ini tidak akan menghilang begitu saja.

Mino mengernyapkan matanya, seluruh ruangannya gelap. Butuh beberapa saat baginya untuk membangkitkan dirinya. Apakah ini masih belum berakhir? Batin Mino menggerutu. Bagaimana bisa gadis Neverland itu mendiamkan dirinya seperti ini, maksudnya, tidak bisakah gadis itu mengembalikan dirinya kembali pada saat makan malam waktu itu. Lagian, Mino sudah mendapatkan jawaban. Iya, jika diulang kembali, memang dirinya-lah yang memanggil gadis Neverland itu.

Semua rentetan kejadian konyol ini berawal dari seorang nenek misterius yang memberinya manekin ‘Irene’ dan setelahnya, Mino memanggil Irene ketika dalam keadaan putus asa. Jika memang Irene datang untuk membantuku, tidak ada salahnya untuk mencobanya, bukan? 

Tapi…

Akankah hal itu terjadi?

Selalu, rasa ragu itu muncul. Mino menghela nafas beratnya. Perlahan ia mengambil kaca matanya. Segeralah ia memakai kaca mata itu. Baiklah, aku akan melakukannya hingga reka jejak ini selesai. Mino membulatkan tekadnya kembali. Ia harus menemui Irene sekarang. Dan Mino pun tahu, Irene saat ini sedang berada di dapur, sibuk membuat chicken roll stick.

Mino berjalan menuju dapur, tidak membutuhkan waktu lama, ia berhasil mengintip Irene dari balik dinding penghubung dapur dengan ruang tengah. Gadis itu sedang sibuk menggulung dada ayam dengan tepung. Tidak ketinggalan pula, Irene sedang mengalunkan lagu asing. Mino masih memasang mata ke arah Irene. Gadis Neverland itu tidak menyadari keberadaannya. Mino harus berhasil menarik perhatiaan gadis itu. Hanya ada satu cara yang ia ingat. Yup, menampar dirinya sendiri.

“AH!” Mino mengumpat dalam hatinya, rasanya memang sakit sekali. Tamparannya terlalu keras. Tapi tak apa, gadis Neverland itu segera mengalihkan perhatiannya.

“Oh , Song Mino.” Ucap gadis neverland itu ceria sambil berjalan menghampiri Mino. Mino terdiam terkesima dengan gadis Neverland itu.  Tidak bisa dipungkiri, gadis Neverland ini sungguh cantik. Oh Tuhan…

Secara mental Mino segera menampar dirinya kembali, ia tidak boleh membiarkan fantasi konyolnya itu menguasainya. Ia harus tetap fokus mengikuti alur reka jejak ini. Mino pun melakukan hal yang sama ketika makan malam waktu itu.

“L-lalu? Apa yang harus kulakukan agar kau bisa cepat pulang ke tempatmu?”

“Itu mudah, kau hanya perlu mengatakan apa keinginan terbesarmu dan aku berusaha untuk mewujudkannya. Jika berhasil aku akan mendapatkan mantra untuk membuka pintu gerbang Neverland.”

“B-baiklah aku mengerti. Aku akan membantumu kembali ke tempatmu…”

“Neverland Song Mino.” Koreksi gadis itu.

“Ya , kembali ke Neverland. ” ucap Mino akhirnya sambil mengumbar senyum palsunya.

“Aku sudah mempelajari masakan yang ada di bumi, kali ini aku sedang membuat chicken roll stick. Aku harap kau menyukainya. Kau bisa menunggu di meja. Masakan ini akan selesai sebentar lagi.” Kata gadis Neverland itu ceria. Tanpa pikir panjang, Mino pun segera duduk dan menunggu masakan Irene siap.

Memang tidak lama, masakan Irene pun kini sudah terhidang di hadapan Mino.  Mino pun mengambil garpu dan pisau siap  untuk menyantap chicken roll stick buatan Irene. Sementara itu, Irene meletakkan celemek merah jambu di sisi dapur dan kemudian mendudukkan dirinya di hadapan Mino. Gadis itu pun siap untuk mencicipi masakannya.  Gadis itu menyempatkan dirinya untuk bertanya tentang masakannya.

Tentu saja enak, Mino menjawab pertanyaan itu dengan nada kaku. Ia sengaja melakukan hal itu karena ia harus menjaga sikapnya. Bagaimanapun juga Irene adalah orang asing. Dan juga meski ia sudah berjanji untuk membantunya, namun siapa yang tahu jika nantinya gadis itu menghianatinya atau meninggalkannya begitu saja- sebelum mimpinya tercapai? semua kemungkinan itu bisa saja terjadi bukan?

Segalanya berjalan sama persis saat makan malam itu.

Namunsetelah beberapa menit, suasana agak sedikit berbeda. Gadis Neverland itu meletakkan garpu dan pisaunya. Gadis itu melipat lengannya di atas meja. Gadis itu tersenyum simpul padanya. Bola mata biru gadis itu nampak berbinar saat menatap Mino.

Mino menghentikan kunyahan ayamnya. Jangan ditanya, Mino tentu saja sadar dengan sikap ganjil gadis Neverland itu. “K-kenapa kau tidak melanjutkan m-makanmu?”

“Bagaimana?Apa kau sudah mengerti sekarang?” Mino menelan makanannya gugup. Segeralah ia mengambil air putih dan menegaknya cepat.  Sungguh Mino terlihat kikuk. ” Kau yang memilihku dan aku datang karena kau juga yang memanggilku, Song Mino.” Irene pun tersenyum hangat padanya. ” Mari berjuang bersama, kau dan mimpimu.”

Mino terdiam di tempatnya.

Oh, Tuhan. Can i believe this?

Previous / Next

Advertisements

3 thoughts on “Girl From Neverland – Chapter 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s