Angst · AU · Chaptered · PG -15

L’Amore [TWO : Kwon Eun Bin]


 

L’Amore [TWO : Kwon Eun Bin]

L’Amore / Pinkchaejin / PG 15+ / Chaptered / Angst, sad, romance, school life, family / Sifixo @ Poster Channel / starring by Chou Tzu Yu (Tzuyu of Twice), Aiden Choi (Pinkchaejin’s OC), Kwon Eun Bin (Eunbin of CLC), Jung Chan Woo (Chanwoo of iKon)

©Pinkchaejin // 2016─2017 All Rights Reserved.

-Happy Reading-

 

Tatkala merpati diberi titah untuk mengirim surat cinta oleh tuannya, merpati tidak pernah tersesat. Surat cinta itu selalu sampai ke tangan sang gadis yang dicintai oleh tuannya. Mengapa demikian? Sebab merpati itu jatuh cinta dengan merpati milik sang gadis. Magnet yang paling sulit dilepaskan bukanlah magnet yang terbuat dari baja. Namun, magnet terkuat ialah magnet cinta di antara dua sejoli yang saling memiliki rasa yang sama.

Di samping itu, pernahkah kau membayangkan bagaimana rasanya bilamana surat cintamu tak berhasil sampai ke orang yang kaucintai? Atau, pernahkah kau merasa seakan menjadi magnet kutub utara dan ia yang kaucintai juga magnet kutub utara? Dua buah magnet kutub utara memiliki jenis yang sama, namun kala didekatkan akan saling tolak-menolak. Bagaimana rasanya manakala takdir cintamu bak dua buah magnet kutub utara yang saling didekatkan? Sungguh hal itu sangat menyakitkan, bukan?

 

***

 

Surai hitam keunguan yang tergerai indah itu kini dikuncir oleh ikat rambut berwarna hitam. Usai melihat Aiden yang melintasinya tanpa menyadari keberadaannya, Tzuyu segera menguncir kembali surainya yang baru saja dipuji oleh Aiden kemarin sore. Hari ini, ia berangkat ke sekolah tanpa kacamata bulat yang membuatnya kelihatan seperti gadis cupu. Kira-kira, ia akan menunggu seminggu atau dua minggu untuk membeli yang baru sebab isi kartu kreditnya kian menipis. Ia tahu, kini ayahnya sering melupakan perihal uang bulanannya; bahkan sudah tiga bulan ia menunggak uang sekolah. Padahal, Tzuyu berasal dari keluarga yang mampu. Namun, ia sudah tidak berani lagi untuk sekadar mengingatkan ayahnya perihal uang sekolahnya sebab wanita bernama Hweji itulah yang kini menikmati uang yang dihasilkan oleh ayahnya.

Tzuyu memarkirkan sepedanya di parkiran khusus sepeda. Lingkaran hitam tampak jelas di sekeliling matanya sebab semalaman yang ia lakukan hanyalah menangis sembari memeluk foto ibunya. Langkah kakinya yang sempoyongan merupakan pertanda bahwa hari ini ia akan duduk diam di bangkunya selama ia mengabdikan diri di sekolah itu.

“Pagi, Tzuyu.”

“Kau manis tanpa kacamata itu.”

Seulas senyum simpul merupakan jawaban atas ucapan beberapa temannya. Tzuyu dikenal sebagai siswi pendiam dan tak banyak bicara, maka teman sekelasnya merasa biasa kalau tak mendengar Tzuyu menjawab ucapan mereka. Setidaknya, Tzuyu telah memberikan jawaban melalui senyuman itu.

Tidak ada yang tahu bahwa dulunya Tzuyu merupakan gadis populer yang digemari banyak pria. Melalui wajah manisnya, ia membuat pria-pria itu jatuh hati padanya. Sejak ia dikhianati, maka ia memutuskan untuk bersekolah di mana sekolah itu jarang sekali diminati oleh teman-teman sekolahnya sewaktu SMP. Kecuali, hanya satu orang yang merupakan teman satu sekolahnya. Ada seseorang yang mengetahui bagaimana kehidupan Tzuyu semasa SMP. Untung saja, ia tak terlalu membuka mulut.

Bel pertanda pelajaran dimulai pun berdering. Guru Nam yang merupakan guru mata pelajaran fisika sekaligus wali kelas mereka pun memasuki kelas sembari membawa seorang gadis yang asing wajahnya.

“Pagi semuanya!” sapa Guru Nam pada siswa-siswanya, “hari ini, kita kedatangan murid baru. Kwon Eunbin, silakan perkenalkan dirimu.”

Gadis itu pun mengikuti titah Guru Nam, “Namaku Kwon Eunbin. Aku pindahan dari Jepang, senang bertemu kalian…,” ucapnya lantang.

“Wah, Jepang!” sahut Jeon Jungkook.

“Pasti ia pintar berbahasa Jepang. Akhirnya kita memiliki teman yang pintar berbahasa Jepang!” tambah Kim Taehyung yang merupakan teman sebangku Jungkook.

“Selain itu, ia cantik, ya,” tambah yang lain.

Eunbin tersenyum mendengar komentar teman-teman sekelasnya. “Eunbin, kamu bisa duduk di sebelah Tzuyu. Kebetulan, ia duduk sendirian,” ucap Guru Nam sembari menunjuk ke bangku di sebelah Tzuyu yang kosong.

“Yah, padahal bangkuku juga kosong,” keluh Song Yunhyeong kecewa.

“Jangan dudukkan Eunbin bersama Yunhyeong, Bu Nam. Yunhyeong itu mesum,” ucap Kim Hanbin menyahuti Yunhyeong.

“Yah… kau—”

“Sudah… sudah… Eunbin, silakan duduk. Baiklah, kita lanjutkan pelajaran kita kemarin, buka halaman 57 tentang pesawat sederhana!”

Usai Guru Nam menyuruh mereka untuk beralih pada pelajaran, obrolan mereka tentang Eunbin pun tak terdengar lagi. Masing-masing sibuk memperhatikan Guru Nam menerangkan pelajaran.

“Ah, siapa namamu tadi? Aku lupa…,” ucap Eunbin pada Tzuyu.

“Tzuyu, Chou Tzuyu,” balasnya.

“Sepertinya kau bukan orang Korea. Bagaimana sih tulisannya?” Eunbin pun melihat nama yang tertera di buku Tzuyu.

“Aku berasal dari Taiwan,” ucap Tzuyu.

“Ah… pantas saja. Eum, sepertinya tadi aku melihatmu di jalan. Kau gadis yang sedang menunggu seseorang di depan rumah itu, ‘kan?”

Tzuyu mengangguk. Sejak Eunbin masuk ke kelas ini, ia juga langsung mengenalinya—gadis yang diboncengi Aiden tadi pagi. “Aku tidak menunggu seseorang, kok. Aku hanya sedang memastikan bahwa tidak ada anjing tetangga yang tengah berkeliaran,” dusta Tzuyu. Alasan cerdik itu muncul begitu saja mengingat ia takut dengan anjing.

“Oh… begitu. Berarti, kita satu kompleks! Apa kau kenal Aiden Choi?”

Lagi, Tzuyu mengangguk. ‘Lebih tepatnya, baru kenal satu hari yang lalu,’ batinnya. Namun, rasanya ia ingin menghindari pembahasan tentang Aiden. Ia agak kesal pada pria itu lantaran janjinya diingkari. Bukannya ia egois, namun ia benci ketika bertemu seseorang yang membuat janji kemudian mengingkarinya.

Sebelum Eunbin membuka suara, Tzuyu segera meraih pena dan mulai mencatat tulisan-tulisan Guru Nam di papan tulis. Nama Aiden yang disebut-sebut oleh Eunbin membuat mood-nya agak berubah. Untungnya, Eunbin tak lagi menodong Tzuyu dengan pertanyaan atau pembahasan tentang Aiden.

 

***

 

Tiga jam pelajaran pun usai, kini berganti dengan waktu istirahat. Kantin merupakan markas utama para siswa kala waktu istirahat tiba. Namun, agaknya Tzuyu tengah menjalankan ritual rutinnya. Ia akan berdiam diri di kelas hingga waktunya pulang. Sebenarnya, Tzuyu malas kalau-kalau ia tak sengaja bertemu Aiden di luar. Maka dari itu, ia memilih untuk tak menginjakkan kakinya keluar dari kelas itu.

“Tzuyu-ya, boleh temani aku ke kantin?”

Sebaris kalimat yang tak diharapkan oleh Tzuyu pun keluar dari mulut Eunbin. Namun, ia tak bisa menolak ajakan Eunbin. Maka, hari ini ia gagal untuk bertapa di kelas. Ia yakin sekali Eunbin akan mengajaknya mengelilingi sekolah ini. Sebuah anggukan menjawab ajakan Eunbin. Gadis bersurai cokelat kekuningan itu pun kemudian bangkit dari bangkunya sembari menarik tangan Tzuyu layaknya teman dekat.

Suasana kantin penuh sesak. Ramai sekali siswa yang mengunjungi kantin sebab rasa lapar mulai menggerogoti perut mereka. Eunbin mendengus kecewa lantaran ia membayangkan berapa lama waktu yang terbuang untuk sekadar mengantre membeli makanan. Sebagai siswi baru, ia penasaran dengan makanan yang dijual di sekolah barunya. Namun, mungkin hari ini ia belum bisa menikmati makanan kantinnya.

“Apa selalu ramai seperti ini?” tanya Eunbin yang dibalas oleh anggukan Tzuyu, “kalau begitu, kau harus menemaniku ke mana saja aku pergi. Aku masih belum hafal ruangan-ruangan di sekolah ini. Aku tidak merepotkanmu, ‘kan?”

“Ah… ya, tidak masalah,” balas Tzuyu kaku.

“Kalau begitu, menurutmu kira-kira Aiden di mana, ya?”

Sejenak, Tzuyu menghentikan langkah, ‘Haruskah?’ batinnya.

 

***

 

Entah sebuah rencana atau sebuah kebetulan, kali ini guru ekonomi pun memberikan tugas kelompok yang terdiri dari dua anggota—layaknya tugas biologi kemarin. Tentu saja, Aiden akan meminta sahabat sehidup sematinya—Jung Chanwoo—untuk menjadi teman satu kelompoknya. Chanwoo tak pernah menolaknya kendatipun ia sendiri tahu bahwa Aiden tidak akan ikut andil dalam mengerjakan tugas tersebut. Ketika Chanwoo menegurnya dan meminta Aiden untuk membantunya mengerjakan tugas, jawaban yang keluar dari mulut Aiden tetap sama: “Aku benci belajar”. Untung saja, Aiden selalu menepati janjinya, yakni mentaktir Chanwoo sebagai imbalan karena mau mengerjakan tugas kelompok itu sendirian.

“Aiden-ah, bagaimana menurutmu tentang hasil ekspor—“

“Mana kutahu, memangnya Korea memiliki hasil ekspor?” potong Aiden.

Chanwoo mendengus, “Ah, terserahmu saja. Pulanglah ke Kanada, mungkin kau hanya mengenali hasil ekspor Kanada,” sindir Chanwoo menyebut-nyebut negara kelahiran Aiden. Sementara itu, Aiden mengikuti gaya bicara Chanwoo dengan cara memanyun-manyunkan bibirnya.

“Kurasa malam ini aku akan mentraktirmu lagi di restoran kimbap,” pancing Aiden yang kala itu juga membuat Chanwoo langsung bangkit dan mencari buku referensi lain di perpustakaan itu. Tak sampai satu menit, Chanwoo kembali lagi dengan dua buku di tangannya.

Sembari membolak-balik halaman buku, Chanwoo berkata, “Perihal kacamata Tzuyu yang kauinjak, apa kau sudah menggantinya?”

Aiden menaikkan alisnya, “Kau tahu dari mana kalau namanya Tzuyu? Wah, ternyata kau lebih banyak mengenal nama-nama gadis cantik dibanding aku.”

“Yah! Bukan begitu!” sanggah Chanwoo, “dulu, aku satu sekolah dengannya semasa SMP. Maka dari itu, aku mengenalinya.”

Aiden manggut-manggut, “Benarkah?” Kemudian, ia pun mendekati Chanwoo, “bagaimana ia dahulu? Apakah lebih pendiam daripada sekarang?”

Agaknya, Chanwoo tak ingin menjawab pertanyaan Aiden, “Mengapa jadi membahas Tzuyu? Kalau tugas ini tidak selesai hari ini, aku akan mengadu ke Guru Jung kalau aku mengerjakan tugas ini sendirian.”

Bait terakhir kalimat Chanwoo pun membuat Aiden tak berani membuka suara lagi. Sementara menemani Chanwoo mengerjakan tugas ekonomi, Aiden meraih laptop-nya dari tas dan berniat untuk melanjutkan permainan DOTA2-nya. Kebetulan sekali, wi-fi di perpustakaan lumayan lancar.

“Aiden-ah!”

Belum sempat Aiden mengklik ikon DOTA2 di desktop laptop-nya, sebuah suara yang memanggilnya membuat ia mengurungkan niatnya. “Eunbin? Tzuyu?” celetuk Aiden refleks. Chanwoo yang tengah mengerjakan tugas pun menghentikan aktivitasnya sejenak.

Senyum Eunbin merekah, “Ternyata kalian saling kenal, ya?”

Air muka Aiden berubah sejenak, “Eunbin-ah, bolehkah aku meminjam Tzuyu sebentar? Ada beberapa hal yang harus kubicarakan dengannya.”

Mendengar ucapan Aiden, air muka Eunbin pun ikut berubah, kemudian berkata, “Eh? Tentu saja…,” ucapnya agak skeptis. Padahal, maksud kedatangan Eunbin adalah karena ia ingin berada di sisi Aiden kendatipun tidak satu kelas. Sementara itu, Tzuyu pun menjadi salah tingkah. Di satu sisi, ia sedang dalam suasana hati yang menolak bertatap muka dengan Aiden. Di sisi lain, ia merasa tidak enak hati dengan Eunbin karena permintaan Aiden yang tiba-tiba.

Usai Eunbin memberi izin, maka Aiden pun segera meraih pergelangan tangan Tzuyu dan mengajaknya ke luar perpustakaan. Perasaan Tzuyu bercampur aduk ketika tangan Aiden menyentuh tangannya. Ia merasa khawatir usai melihat ekspresi wajah Eunbin yang berubah tadi. Sungguh, ia tak ingin hal-hal yang pernah ia alami di masa SMP kembali terulang. Banyak sekali masalah yang ia hadapi karena kepopuleran, pertemanan, serta pria. Ia tak ingin lagi mengulanginya; cukup satu kali saja.

Tzuyu menepis tangan Aiden perlahan. “Aiden-ssi, kau—“

“Soal perjanjian kita—aku tahu—kau pasti marah, ‘kan? Aku benar-benar minta maaf sekali… aku tidak tahu harus bagaimana ketika menyadari kau tengah menungguku di depan rumahmu. Perihal Eunbin, aku—“

“Mengapa kau membuat janji sementara kau sendiri tidak bisa menepatinya?” potong Tzuyu dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, ia sangat membenci orang yang tidak bisa menepati janji. ‘Kupikir, kau adalah orang yang berbeda dari orang lain, Aiden. Nyatanya, kau sama seperti mereka,’ batin Tzuyu.

“Maka dari itu, kau harus mendengarkan penjelasanku….”

“Tidak perlu, Aiden-ssi. Kurasa, lebih baik kau jauhi saja aku,” tolak Tzuyu. ‘Karena, aku tidak ingin ada kali kedua dari masa laluku.’

“Tapi—“

Tak peduli apa yang hendak dikeluarkan Aiden dari mulutnya, Tzuyu segera beranjak pergi dari tempat itu. Rasanya, Tzuyu hendak menertawai dirinya saat ini. Dalam sekejap, ia dapat menilai Aiden sebagai seseorang yang perhatian dan lebih baik daripada orang-orang yang pernah membuat hatinya sakit. Namun, dalam sekejap pula ia dapat meminta Aiden untuk menjauhinya. Dalam arti tersirat, Tzuyu menolak Aiden menjadi temannya. Mungkinkah hari esok pandangannya terhadap Aiden dapat berubah lagi?

Langkah kakinya telah menjauhi keberadaan Aiden. Di lorong yang sepi, Tzuyu menumpahkan air matanya. Tubuhnya merosot ke lantai; ia terisak dalam tangisnya. Bayang-bayang masa lalu mulai menghantuinya. Semua itu sudah lama sekali berlalu. Namun, seakan-akan kejadian itu baru saja terjadi kemarin.

‘Kita bertiga akan menjadi teman selamanya, janji?’

            ‘Janji!’

Hal itu hanya serpihan momen kecil, namun di dalamnya terukir kata-kata janji. Janji itu bak utang yang harus dibayar. Namun, ketika utang itu telah terlupakan atau sengaja dilupakan; maka kala itu pula sang penagih piutang tak lagi memercayainya—ia yang berutang. Sama halnya dengan Tzuyu, ia sudah mengalami bagaimana dikhianati oleh sahabat yang hanya memanfaatkan kepopulerannya dan membuang janji-janji palsu yang telah mereka ciptakan. Maka, sejak itu ia benci pada seseorang yang tidak tepat pada janjinya kendatipun hal itu hanya hal kecil.

“Hapus air matamu… percayalah kau tidak sendiri, Chou Tzuyu….”

Tzuyu berusaha meredam tangis mendengar suara itu. Perlahan, ia mendongak untuk melihat siapa pemilik suara itu. Setelah menyadari siapa orang itu, ia pun terdiam dalam kebisuannya.

 

***

 

“Tapi—“

Terlambat, Tzuyu segera pergi meninggalkannya seorang diri. Hal itu membuat Aiden dihujani oleh ribuan rasa bersalah pada gadis bersurai hitam keunguan tersebut. Ia hendak mengejar, namun langkahnya berat mengingat ada Eunbin yang tengah menungguinya di dalam perpustakaan. Ia pun melirik ke jendela perpustakaan dan tatapannya bertemu dengan Eunbin yang senantiasa memperhatikannya. Lantas, ia pun memilih untuk masuk dan menemui Eunbin. Tak diduga, Chanwoo menghalanginya di mulut pintu.

“Aku tidak tahu kalau kau sebrengsek ini,” sembur Chanwoo dengan air muka yang berubah.

Aiden tak menyangka kalimat itu bisa keluar dari mulut Chanwoo. Ia terdiam, namun Chanwoo melanjutkan kata-katanya, “Aku tahu kau suka dengan gadis cantik, tetapi bukan untuk mempermainkan mereka. Kalau aku jadi kau, aku akan mengejar Tzuyu dibanding memikirkan temanmu yang anak baru itu.”

Setelah puas berkata demikian, Chanwoo menyodorkan paksa buku ekonominya pada Aiden. Kemudian, pria itu segera meninggalkan perpustakaan tanpa memiliki niat lagi untuk mengerjakan tugas kelompok itu.

“Chanwoo-ya, aku tidak tahu caranya—ah! Mengapa semua orang marah padaku?” monolog Aiden. Mengingat tugas kelompoknya yang belum selesai dan Chanwoo yang marah padanya, maka ia pun memutuskan untuk melanjutkan tugas itu dengan tangannya sendiri.

“Aiden-ah, ada apa dengan mereka?” tanya Eunbin.

“Tidak apa-apa. Eum… pulang sekolah nanti, apa kau mau menemaniku ke suatu tempat?”

Sejenak, Eunbin tampak berpikir. “Ya, tentu saja….”

Aiden tersenyum tipis, kemudian berkata, “Terima kasih…,” ujarnya, “mengenai tugas ini, aku tidak mengerti cara mengerjakannya. Maukah membantuku?”

 

***

 

Langkah sempoyongan itu—ia hafal siapa pemilik langkah itu—ia buntuti hingga ia melihat sang pemilik langkah menangis tersedu-sedu di sebuah tempat sepi. Sengaja, ia memberi jarak sekitar tiga meter untuk sekadar menjaga harga diri gadis itu yang tengah bersembunyi dari semua orang. Ada rasa iba dan kasihan padanya sebab selama ini ia mengetahui apa yang dialami oleh gadis itu. Sejenak, ia membiarkannya menangis seornag diri sebab ia mengerti bahwa menangis merupakan suatu bentuk pengungkapan emosi yang terpendam. Gadis itu harus mengeluarkan emosinya agar merasa lega, itulah presepsinya.

Sekitar delapan menit menunggu, akhirnya ia memberanikan diri untuk melangkah mendekatinya. Gadis itu masih meringkuk di dinding dan masih terisak—walau tak sekeras tadi.

“Hapus air matamu… percayalah kau tidak sendiri, Chou Tzuyu…,” ucapnya agak lirih.

Usai mengucapkan kata-kata itu, Tzuyu segera memalingkan pandangan ke arahnya. Sejenak, ia mematung dengan tangis yang sudah berhenti. Ia pun menghapus air mata yang tersisa di pipinya, kemudian ia pun membalas ucapan yang diperuntukkan padanya, “Nyatanya, aku benar-benar sendiri, Jung Chanwoo.”

 

***

 

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kini, saatnya para siswa mengakhiri proses pembelajaran dan segera pulang ke rumah masing-masing. Di depan ruang kelas 1-C, Aiden menunggu—sebab Guru Eun masih berada di dalam. Sesekali, ia mengintip dari celah kaca pintu. Eunbin yang menyadari keberadaan Aiden di luar pun memberikan seulas senyuman pada pria itu. Aiden balas tersenyum, namun raut wajahnya sedikit berubah menyadari ada sosok Tzuyu yang duduk di sebelah Eunbin. Ia masih merasa bersalah. Namun, ia tak tahu bagaimana cara terbaik untuk meminta maaf pada Tzuyu.

Hal yang masih menjadi tanda tanya di kepalanya ialah: mengapa Chanwoo marah ketika mengetahui bahwa dirinya menyebabkan Tzuyu menjadi sedih? Selama ini, ia mengenal Chanwoo sebagai siswa pintar yang tak memedulikan siapa pun—kecuali Aiden yang merupakan sahabatnya. Selain itu, Aiden juga tak pernah melihat Chanwoo berhubungan dengan seorang gadis, apalagi memiliki seorang kekasih.

Juga, Tzuyu adalah gadis pendiam yang tidak banyak siswa yang kenal dengannya. Malahan, Aiden baru saja mengenali gadis berkebangsaan Taiwan tersebut. Tidak heran kalau Chanwoo mengenali Tzuyu sebab mereka pernah satu sekolah tatkala SMP. Namun, untuk apa Chanwoo peduli pada Tzuyu? Itu bukanlah Chanwoo yang dikenal oleh Aiden.

Pintu ruang kelas 1-C pun terbuka. Sosok Guru Eun yang tinggi serta memiliki rambut panjang yang bergelombang muncul usai pintu terbuka. Aiden pun refleks membungkuk padanya tanda menghormati sekaligus menyapa.

“Kamu belum pulang, Aiden? Sedang menunggu siapa?” tanya Guru Eun, “pacar, ya?” sambungnya.

Lantas, Aiden pun langsung menyanggah, “Ah, Ibu ini… saya ‘kan masih pelajar, tidak boleh berpacaran, dong….”

Guru Eun terkikik mendengar jawaban Aiden, “Bisa saja kamu. Padahal pacarmu banyak. Iya, ‘kan?”

Aiden menenggak salivanya. Ia sudah dikenal sebagai pria yang sering menggonta-ganti pasangannya. Bahkan, ia sendiri tak sadar bahwa para guru pun mengetahuinya. Hanya saja, kali ini ia masih sendiri tanpa ada seorang kekasih. Mantan kekasih terakhirnya adalah Lee Mijoo yang sudah putus sekitar tiga bulan yang lalu. Belum ada gadis yang benar-benar mengisi relung hatinya. Namun, Aiden kerap kali menunjukkan sikap sok dekat kepada gadis-gadis yang cantik. Beberapa kali, Chanwoo menasihatinya; namun, itu adalah hobi Aiden yang tak dapat dimusnahkan.

Guru Eun pun beranjak pergi usai menyadari Aiden tak mampu berkata-kata perihal sindirannya. Aiden masih terus merenung memikirkan kesendiriannya tanpa seorang kekasih yang membuatnya hampa. Dari puluhan mantan kekasihnya, hanya beberapa yang ia cintai dengan tulus. Sisanya, gadis-gadis itu hanya pelampiasan rasa hampanya kala tak memiliki kekasih. Sejujurnya, Aiden menyadari bahwa sikapnya yang mempermainkan hati wanita membuat ia dicap sebagai buaya darat. Beberapa kali, ia menahan diri untuk tak lagi mempermainkan wanita; namun tetap saja, tanpa sadar ia melakukannya.

“Hei!” Eunbin menepuk lengannya, kemudian Aiden pun tersentak dan tersadar dari lamunannya. “Ah, kau ini… membuatku kaget saja,” ujar Aiden sembari mengacak rambut Eunbin.

“Yah! Hentikan….” Eunbin berusaha menepis tangan Aiden yang mengacak-acak rambutnya.

Tangan Aiden beralih memencet kedua pipi Eunbin hingga wajah gadis itu layaknya duck face. Ia senang sekali menjahili Eunbin, sudah lama sekali ia tak melakukannya. “Ah… imutnya…,” ujarnya sembari tersenyum jahil.

Merasa tersaingi, Eunbin pun membalas Aiden dengan menggeitiki perutnya mengingat pria itu tidak tahan geli. “Rasakan itu…,” kata Eunbin.

“Eh… hahaha! Aduh! Yah, hentikan! Geli, Bodoh….” Aiden menepuk-nepuk tangan Eunbin sembari tertawa karena kegelian. Untuk menghentikan Eunbin, Aiden pun segera enarik gadis itu ke dlam pelukannya. “Sudah, ya…,” bisiknya, sementara Eunbin tertawa terpingkal-pingkal.

Senyum Aiden meluntur kala kedua maniknya berpapasan dengan manik Tzuyu. Lagi-lagi, rasa bersalah menyelimuti hatinya. Sementara, Tzuyu segera menundukkan kepalanya seraya menjauh dari sisi Aiden.

Kala itu pula,  Aiden melepaskan pelukannya. Ia pun teringat bahwa ia meminta Eunbin untuk menemaninya ke suatu tempat. “Eunbin-ah, ayo!”

 

***

 

“Toko kacamata?” komentar Eunbin usai turun dari sepeda Aiden. Ya, tempat tujuan Aiden ialah toko kacamata. Ia harus mengganti kacamata Tzuyu kendatipun gadis itu pernah berkata bahwa ia hanya minus 0.5, tetapi tetap saja ia harus bertanggungjawab soal kacamata Tzuyu yang patah karenanya.

“Ya… memangnya kenapa?” tanggap Aiden. Eunbin refleks menggelengkan kepalanya sebagai jawaban untuk Aiden. Aiden pun meraih telapak tangan Eunbin, kemudian mengajaknya masuk ke toko kacamata tersebut.

“Chou Tzuyu adalah teman sebangkumu. Iya, ‘kan?” tanya Aiden. Eunbin mengangguk menanggapi pertanyaan Aiden. “Aku tak sengaja mematahkan kacamatanya. Maka dari itu, aku harus menggantinya. Bagaimanapun juga—walaupun aku tak sengaja melakukannya—itu adalah kesalahanku.”

Eunbin bungkam mendengar penjelasan Aiden perihal mengapa dirinya dibawa ke toko kacamata. Singkatnya; ia tak dapat berkomentar apa pun. Entah gejolak apa yang menyelimuti hatinya; ia tak menyukai kedekatan Aiden dengan Tzuyu. Sejak dahulu, Eunbin selalu berkata pada Aiden bahwa Aiden adalah miliknya. Aiden pun juga berkata demikian—seperti apa yang dikatakan Eunbin waktu itu. Namun, mungkin saja Aiden telah lupa bahwa ia pernah berkata ‘Kwon Eunbin adalah milikku’. Ia jarang sekali memegang kata-katanya sendiri; itulah karakter yang ada pada Aiden sejak lahir.

“Permisi, Nak… ada yang bisa saya bantu?” kata sang pegawai dengan ramah.

“Eum… saya mencari kacamata yang cocok dengan gadis yang seumuran denganku. Kupikir, Paman harus merekomendasikan bentuk kacamata yang membuat si pemakai akan terlihat cantik. Mungkin saja, Paman bisa mencobakannya pada sahabatku yang jelek ini,” ujar Aiden sembari mencubit pipi kanan Eunbin.

“Yah! Kau yang lebih jelek dariku,” ucap Eunbin sembari menyentil hidung Aiden.

“Aak! Sakit, Bodoh…,” ujar Aiden sembari memegang hidungnya.

“Saya merekomendasikan dua model kacamata. Mungkin bisa dipilih…,” ujar pegawai tersebut sembari mengeluarkan dua buah kacamata berbeda model.

Aiden pun memasangkan salah satu dari kacamata tersebut pada Eunbin. Sejenak, ia membayangkan wajah cantik Tzuyu sedang mengenakan kacamata tersebut. Kelopak Aiden tak berkedip memandangi Eunbin. Bayangan wajah Tzuyu seakan-akan membuatnya tersihir menjadi patung es. Ia selalu menyukai gadis cantik. Gadis mana pun yang memiliki visualisasi yang berhasil membuatnya terpukau akan membuatnya tak bisa tidur semalaman. Ia kagum akan kecantikan Tzuyu yang tak disadari oleh orang-orang di sekitarnya.

Tetapi, di sisi lain Eunbin juga seorang gadis yang cantik. Ia sendiri tak menyangka akan bertemu dengan Eunbin ketika tumbuh dewasa. Eunbin kecil yang dahulu selalu bermain dengannya, kini telah berubah menjadi gadis yang cantik jelita. Aiden pun tak dapat menghilangkan binga tidurnya tentang Eunbin usai kedatangan keluarga Eunbin ke rumahnya kemarin sore.

Sekali lagi, Aiden menyukai gadis yang cantik. Tak heran, semua mantan kekasihya tidak ada yang buruk rupa.

 

***

 

Bunyi rantai sepeda menjadi alunan musik yang mengalun di gendang telinganya selama ia mengayuh sepeda. Kayuhannya lambat. Biasanya, ia sampai di rumah hanya dengan waktu sekitar tujuh menit. Kini, bahkan sudah 12 menit berlalu, namun ia masih berada di perjalanan pulang. Tatapan kosong Tzuyu menyiratkan bahwa hari yang ia lalui di sekolah itu tak membuatnya bahagia. Sedikit tak menyangka, bahwa ia memiliki seseorang—lagi—yang membuatnya pulang sekolah dalam keadaan murung. Orang itu adalah Aiden. Tzuyu pernah berharap; ia tak menginginkan ada orang lain yang membuatnya kecewa selain ayahnya. Ia cukup kecewa dengan sang ayah yang lebih mencintai perempuan itu—Hweji—ketimbang ibunya sendiri. Singkatnya, ia membenci orang yang mengingkari janji dan orang yang ingkar pada janjinya pasti akan mengecewakan dirinya.

Tanpa sadar, di belakang ada Jung Chanwoo yang berjalan membuntutinya. Sungguh, ia tak pernah melakukan hal ini lagi—lagi—sejak terjadi suatu hal yang membuat dirinya terpukul hingga saat ini. Usai melihat keadaan Tzuyu yang menyedihkan, maka tergerak hatinya untuk mengikuti arah jalan gadis itu hingga gadis itu menapakkan kaki di rumahnya.

Tzuyu tersadar dari tatapan kosongnya ketika seekor kucing tengah melintas di depannya. Ia pun membelokkan sepedanya dan kehilangan keseimbangan; ia pun terjatuh. Lututnya berdarah sebab tergores aspal. Kala itu juga, ia menangis. Bukan karena lukanya, namun banyak sekali emosi yang ia simpan dalam batinnya. Melalui air mata itu, ia kembali mentransfer emosi yang ia kubur dalam-dalam.

Jung Chanwoo berlari kala Tzuyu terjatuh dari sepedanya. Ia segera menghampiri gadis itu tanpa berpikir apa yang akan Tzuyu pikirkan tentangnya karena ia membuntuti gadis bersurai hitam keunguan tersebut. Sejak masuk SMA, baru hari ini ia dan Tzuyu berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain. Padahal, keduanya sama-sama sadar bahwa mereka berada di sekolah yang sama.

“Bagaimana ini? Lututmu terluka…,” ujarnya agak khawatir, terlebih lagi Tzuyu menangis setelah terjatuh dari sepeda.

“Mengapa kau peduli, Chanwoo-ssi?” ucap Tzuyu di sela-sela tangisannya.

Ucapan Tzuyu seakan memberi jeda Chanwoo untuk bertindak. Wajahnya berubah sendu usai Tzuyu berucap demikian. “Lukamu perlu diobati. Jika tidak, bisa infeksi,” Chanwoo tak menjawab pertanyaan Tzuyu.

“Aku bersyukur jika infeksi, itu berarti aku akan lebih cepat menemui kematianku.”

Mendadak, Chanwoo seakan terhunus sebilah pedang kala Tzuyu berkata. Ia benci ketika melihat Tzuyu menderita. Namun, nyatanya ia tak dapat berbuat apa-apa. Bahkan, saat Tzuyu menangis di lorong sepi di sekolah; ia tak berhasil menghiburnya.

‘Maafkan aku, Tzu… aku tahu, tak seharusnya kau menerima semua ini…,’ batin Chanwoo.

 

TO BE CONTINUED….

Advertisements

5 thoughts on “L’Amore [TWO : Kwon Eun Bin]

  1. Omg! Finally the chapter is published lmao. Maafkeun daku yang telat nge check Hihihi. Tuh kan, aiden emang ga peka. Btw eunbin itu temennya aiden dr kecil gt? Aiden mah playnlbiy dia suka cwek cantik :”) udah tzuyu don’t cry, you better with chanwoo wkwkw. Kesel sendiri baca si aiden ini :’)) keep writing maknae lmao

    Like

  2. Aakkhh! Finally chanwoo kebagian part disiniiii, huhu dan ada apa sma chan dan tsuyu? To be continued, heoooll, updtae ppalli juseyo 😂

    1. Di part 2 banyak kata typo, cek lagi yaaa
    2. Hah, baru sehari kenal, drama tzu-aiden-eunbin dimulai, hebat-____-”
    3. Org nyebelin 1=bapaknya 2=hweji 3=aiden nyebelin juga-_-

    Please make a happy endiiiing :””

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s