December Project · FF Project · Genre · Hurt · Length · PG-16 · Rating · Romance · Supranatural · Vignette

[A December To Remember] With My Memories


Author: SantiiAng

Title: With My Memories

Theme: supranatural

Genre:little romance, supranatural, hurt

Length: vignette

Rating: PG-16

Starring by EXO’sXiumin, OC’s Hana KimActor’s Xi Luhan

Disclaimer: I just own the plot and the poster. Don’t to be a plagiarism. Dangerous! Ada beberapa kata kasar yang tersisip. So, untuk anak di bawah umur jangan coba-coba melakukan hal serupa, oke?

Author Note: Leave a feedback, please^^.

Based on prompt:You’re someone who I can’t have, a person I have to forget.

 

Hari ini aku kembali. Berharap netraku dapat kembali melihat sosok mungilmu, berharap aku bisa kembali mengukir senyuman di wajahmu, dan berharap aku bisa kembali kemasa itu.

Tidak ada yang tahu siapa kita dan kenapa kita terus bersama. Hanya pohon besar di sampingku yang tahu semuanya. Mereka tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. Bagaimana sulitnya aku mencarimu dan menjagamu. Mereka tidak tahu! Tapi kenapa mereka harus memperlihatkan jika mereka tahu tentangku dan yakin tentang apa yang baik untukku. Kenapa?

“Kau tahu? Baru kali ini aku kembali tersenyum.” Hana merangkul tanganku dengan manja. Mata birunya menatap kalung pemberianku kala itu. Huruf M dan H terukir ditengah-tengah bulatan kalung itu. “M untuk Minseok dan H untuk Hana.”

Happy sweet seventeen my love.” Aku berbisik tepat di telinganya. Ia terkekeh dan mengangguk pelan. Senyumannya tiba-tiba menghilang. Ku ikuti dwimaniknya yang menatap tegang ke depan. Hana mempererat rangkulan tangannya dan perlahan bersembunyi di belakang tubuhku.

Sosok pria jangkung berkulit hitam menyunggingkan seringainya. Ia maju satu langkah, kami mundur dua langkah. “Apa maumu?”

“Berikan bocah kecil itu padaku.” Pria itu menganggukkan kepalanya, “Jangan buat aku menunggu.”

“Aku harus pergi.” Hana melepaskan genggaman tangannya. Namun aku kembali meraih tangannya dan menggelengkan kepalaku dengan cepat.

“Tidak Hana! Tidak.” Hana tersenyum lembut dan mengecup pipiku. Ia membalikkan badanya dan perlahan berjalan mendekati pria jangkung itu. Sebelum Hana bisa mensejajarkan langkahnya dengan pria itu. Sebuah peluru masuk tepat ke dalam otaknya. Bau darah amis seketika menyeruak di mana-mana. Pria besar itu menoleh ke arahku. Ia menggeram, tangannya ia kepalkan kua-kuat. Dwimaniknya yang tajammenatap tanganku. Aku mengikuti arah pandangnya. Dan mataku membulat dengan sempurna. Sejak kapan aku memegang pistol?

“Kalau kau menyayangi Hana. Biarkan dia pergi denganku. Bukan membunuhnya Kim Minseok!”

Salju di awal bulan Desember seakan mengingatkanku pada sosokmu yang telah lama menghilang. Putih bersih. Ingin rasanya kuraih dirinya dan bermain bersamanya. Melupakan setumpukan masalah yang telah aku buat dan sejenak menghindar dari masa lalu yang terus menghantuiku. Hanya bersamanya hari terasa menyenangkan. “Saatnya kau meminum obat Xiumin-ssi.”

“Tidak.” Aku kembali melamunkan salju-salju itu berada di sekitarku. Menemani kehidupanku yang mungkin akan segera kuakhiri. Apa gunanya aku berada di sini? Mereka hanya memberikanku obat. Bukan memberikanmu kembali padaku.

“Setelah kau minum obat aku berjanji kau boleh bermain di halaman. Kau ingin menyentuh salju-salju itu bukan?” Aku sedikit menyunggingkan senyumanku. Aku punya ide yang bagus.

“Baiklah.” Ia berjalan mendekat ke ranjangku dan membukakan beberapa obat yang harus aku makan. Selagi ia sibuk aku dengan cepat mengambil pecahan botol yang aku simpan di bawah kasur.

“Ahhhh. Apa yang kau lakukan?” Darah segar perlahan keluar dari perutnya. Aku tersenyum penuh kemenangan. Rasakan kau!

“Aku tidak gila, Luhan! Aku tahu itu obat untuk orang gila! Hahahaha. Mati saja kau di sini!” Tawaku menggema di seluruh ruangan, “upss. Aku harus segera pergi dari sini. Selamat tinggal Luhan-ssi semoga kau masuk neraka, ya?”

Dengan asal aku mengambil mantel dari dalam lemari. Aku bahagia telah mengenyahkan manusia tidak berguna itu. Bisa-bisanya ia menganggapku gila, yang benar saja. Aku tidak gila!

“Berhenti di tempatmu!” Persetan dengan semua orang dalam rumah ini.

“Apa? Aku hanya ingin keluar main salju. Tidak boleh?”

Si pemilik suara berdecak kesal. “Tidak! Kau tidak pantas menyentuh salju itu. Kau harus tetap di dalam kamarmu dan merenungkan semua ini! Sudah berapa orang yang kau bunuh, hmm? Dengan cara yang sama pula.”

Apa maksudnya? Baru kali ini aku melakukannya. Dan hanya pada Luhan. Hanya Luhan yang selalu datang ke kamarku. “Aku tidak mengerti. Baru kali ini aku melakukan itu semua. Tunggu, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Siapa kau?”

“XIUMIN!” Aku mendengar ada orang yang memanggil namaku. Aku ingin menoleh, siapa pemilik suara itu. Tapi kenapa–, “JANGAN LIHAT MATANYA. MENJAULAH DARI SANA! AKU MOHON!” Suara itu. Aku kenal. Itu suara Luhan. Bukannya ia sudah meninggal?

“Awww.” Perutku tiba-tiba sakit. Rasanya seperti ada benda tajam yang menyarang di sana. Tunggu ini kan pecahan kaca yang tadi aku tancapkan di perut Luhan. Kenapa sekarang bersarang di perutku? “KENAPA SEMUA INI BISA TERJADI?! AHHHHH.” Kepalaku tiba-tiba nyeri.

“Kim Minseok. Kau lahir 26 Maret 1990. Meninggal karena menusuk diri sendiri dengan–”

“TIDAKKK!” Samar-samar aku mendengar suara yang selama ini aku rindukan. Itu suara Hana. Ya, itu memang suaranya. Aku ingin melihat dirinya. Tapi, kenapa rasa nyerinya semakin menambah.

“AAAAAHHHHHHH.” Aku kembali berteriak dan mulai terisak. Rasa sakitnya terus menjalar ke seluruh bagian kepalaku. Rasanya sebentar lagi aku akan hancur berkeping-keping, sungguh.

“Kenapa kau mengganggu pekerjaanku?” Si pria tadi sedikit meninggikan suaranya. “Tempatmu bukan di sini Nona. Dan bawalah pria tadi pergi. Yang aku mau hanya pria bernama Kim Minseok.”

“Oh Tuhan. Tunggu sebentar. Aku tidak mengerti dengan semua ini. Kau siapa? Kenapa Hana bisa ada di sini? Kenapa Luhan tidak mati? Dan kenapa kepalaku nyeri dan perutku tertancap pecahan botol?” Aku tersengal-sengal. Sekarang dadaku rasanya sesak sekali.

“Sudah puas kau melakukan ini semua? Han Tae Joon?”Luhan kembali angkat bicara. Sudahlah lebih baik aku mendengarkan percakapan mereka saja. Toh, aku bertanya saja tidak ada yang mau menjawab.

“Kau telah melanggar perjanjianmu. Seharusnya kau bawa kami berdua pergi bukan Xiumin. Biarkan dia hidup seperti semula!” Hana menatapku sendu lalu menggelengkan kepalanya perlahan, “lihatlah Tae Joon! Tubuh Xiumin mulai memudar.” Suaranya berubah menjadi panik. Mereka bertiga menyerbu tubuhku. Luhan menggelengkan kepalanya putus asa, Hana menitikkan air matanya, sedangkan pria yang bernama Tae Joon menatapku datar.

“Secara tidak langsung dia memintaku datang padanya.” Si pria tadi memegang tanganku, “lebih baik kami pergi sekarang.”

“Dia hanya ingin pergi keluar bermain dengan salju. Hanya itu, Tae Joon!”

“Kau masih tidak menyadarinya? Salju adalah kau! Jiwamu selalu hadir di depan rumahnya setiap salju datang. Aku tidak bodoh Hana. Dia selalu nyaman ketika berada di dekat salju. Itu karenamu! Dia tidak bisa memilikimu Hana! Kalian berbeda. Ingat itu!”

Sementara mereka berdebat. Tubuhku semakin memudar dan kegelapan menyelimutiku menggantikan rasa nyeri yang sedari tadi aku rasakan. Sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadaranku ada sentuhan hangat menjalar di pipiku.

Epilog

“Kenapa kalian ingin menyelamatkannya? Seharusnya ia yang mendapatkan itu semua dan seharusnya ia sudah mati sejak tiga tahun yang lalu.” Tae Joon menyesap kopi hitamnya dengan perlahan. Matanya menatap tajam Hana dan Luhan secara bergantian. Pria jangkung itu menghembuskan napas kasar. Sekarang ia harus mencari jiwa Xiumin yang entah menetap di mana.

“Kalian tahu? Akibat perbuatan kalian ia akan terus mengulang kejadian dari saat ia membunuh Hana sampai perbincangan tadi dan sayangnya aku tidak tahu sampai kapan jasadnya akan melakukan itu semua.” Tae Joon memijat sebelah kepalanya yang mulai terasa nyeri.

“Apa maksudmu dengan jasad?” Hana memberikan dirinya untuk berbicara. Ia melirik Luhan untuk meminta jawaban.

“Jiwanya menghilang Hana. Jasadnya secara otomatis akan melakukan beberapa kejadian yang ia lakukan sebelum ia mati.”

“Lalu bagaimana cara membuat jiwanya kembali?” Luhan memejamkan matanya.

Baby I just pray. Always on my mind always, always in my mind. That girl is on my mind 24/7 365. Dear god do you hear my cry. Promise you that. I’m a better man won’t ever. let her go no not again.”

Mereka bertiga saling melihat satu sama lain saat mendengar suara nyanyian. “Aku serasa mengenal suara itu,” Luhan menggigit bibir bawahnya. Otaknya berputar, ia pernah mendengar lagu ini. Tapi siapa yang menyanyikannya?

“You’re someone who I can’t have, a person I have to forget.” Suara itu kembali terdengar, tapi samar-samar. Tae Joon segera berdiri dari duduk manisnya.

“Segera temukan sumber suara itu. Aku yakin itu suara Xiumin.”

End.

A/N again: Wah, akhirnya ini cerita beres. Cerita yang gaje ya teman-teman. Maafkan akuL entah kenapa akhir-akhir ini mood menulisku lagi turun dan aku lagi senang menjadi seorang pembaca dibanding penulis L. Tinggalkan jejak ya, kritik juga gapapa aku mah rapopo :”)

Advertisements

4 thoughts on “[A December To Remember] With My Memories

  1. Okay—tadi sedikit ga paham awalnya, tapi akhirnya aku bisa paham meskipun ga banyak hehe. Supranatural kdg buat aku bngung. Mianhaeeee ini uda lama bgt otak ga dibuat mikir :”’) anyway santiAng! terima kasih uda mau ikut project ini 😉 ikut event lainnya yes! Jadi arwah dan jasad xiumin berpisah gitu? Dan beberapa kali datang itu hanya arwahnya saja?

    Liked by 1 person

    1. Wkwkw emang sedikit membingungkan cerita. Intinya, si Xiumin harus mengulang terus kejadian yang sama karena ulah dia di masa lalu. Yup! Itu hanya arwahnya. Ditunggu event selanjutnya /eh 😂😂😂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s