December Project · FF Project · Ficlet · fluff · Genre · Length · Rating · Slight!Angst · Teen

[A December To Remember] Lost


A ficlet by Kwonbinology

Featuring DEAN (Kwon Hyuk) and Park Zara | Slight-appearance of Block B’s ZICO (Woo Jiho) and CRUSH (Shin Hyoseob) | Fluff, slight-angst | T

I’m lost behind your back, I can do nothing but cry.

Jemari Dean menggenggam erat jemari gadis di sampingnya. Langkah mereka beraturan, berjalan pelan sambil menikmati es krim di tangan dan mengamati hiruk-pikuk manusia yang sedang bermain di wahana permainan. Dean melirik gadis di sebelahnya. Mata gadis itu berpetualang ke sekeliling, wajah pucat yang ditampakkannya setengah jam yang lalu setelah naik Takabisha—sebuah wahana roller coaster gila, sudah menghilang. Memori tentang gadis itu yang menyeringai lebar ketika selesai menaiki roller coaster dengan wajah pucat dan tangan dinginnya membuat Dean tersenyum kecil.

Sekarang Dean dan Zara tengah berada di Fuji-Q Highland, amusement park terkenal yang terletak di Jepang. Hari ini merupakan hari ke-tiga liburan backpacker mereka bersama geng Dean yang beranggotakan dirinya, Zico alias Jiho dan Crush alias Hyoseob untuk melepas penat dan membuang jauh-jauh hal-hal yang berbau dengan perkuliahan. Jiho dan Hyoseob menolak untuk ikut ke Fuji-Q Highland dan memilih untuk pergi ke Shibuya.Hyoseob beralasan ia tak ingin mengganggu kencan Dean dan Zara, tapi menurut Dean sebenarnya Hyoseob hanya ingin berkencan dengan Jiho.

“Mau main ke mana lagi nih?” Tanya Dean.

Gadis di sebelahnya tak merespon.

“Zar? Zara?” Dean menggoyang-goyangkan tangannya di depan mata Zara.

“Oh.” Gadis itu tersadar dari lamunannya.

“Mau main ke mana lagi sekarang?” Ulang Dean.

“Gak tahu. Semua yang mau aku cobain udah kita coba.” Jawab Zara.

“Kamu ada yang mau dicoba lagi?” Tanya Zara.

Dean berfikir dalam diam. Kaki mereka tetap melangkah pelan.

“Aku mau coba itu.” Dean menghentikan langkah kakinya, kemudian menunjuk sebuah bangunan tak jauh dari tempat mereka berpijak. Bangunan itu terlihat tua dan menyeramkan. Dari penampilannya Zara sudah tahu itu tempat apa, jadi ia menggeleng sekencang-kencangnya.

“Gak mau.”

“Tadi nanya aku mau nyoba apa, ya udah aku mau nyoba ini.” Ujar Dean.

“Coba aja sendiri.” Gerutu Zara.

“Ayolah, masa aku teriak-teriak sendiri. Gak seru.” Bujuk Dean.

Zara masih bersikukuh menggeleng. Pribadi anti-hantu sepertinya mau diajak masuk rumah hantu? Big no.

Dean menghabiskan waktu 15 menit untuk membujuk Zara dengan berbagai macam cara. Akhirnya, Zara memberanikan diri untuk masuk ketika tawaran terakhir disodorkan Dean; ia akan mengerjakan tugas kuliah Zara plus ditraktir makan McD selama seminggu. Dalam hati Dean menyesali tawarannya yang terlalu berlebihan, sebenarnya.

Mereka berdua mulai memasuki rumah hantu setelah menyerahkan tiket. Dean masuk lebih awal, disusul dengan Zara di belakang yang mencengkram kemeja flanel Dean kuat-kuat. Mata mono eyelid Dean menjelajahi sekeliling, mengantisipasi adanya hantu di sekitar. Berbanding terbalik dengan Zara yang sedari tadi terus menunduk.

Tiba-tiba, seorang hantu perempuan muncul mencengkram bahu Zara disusul dengan backsound dramatis seperti orang menjerit, membuat Zara turut menjerit sembari melompat memeluk Dean dari belakang erat-erat. Dean awalnya juga terkejut, namun ia tak jadi menjerit saat mendengar Zara menjerit histeris. Setelah mereka berbelok lorong, Dean merengkuh pundak Zara, mengusapnya pelan sambil tersenyum geli.

“Mau keluar.” Gumam Zara, masih dengan nada ketakutan.

“Nanggung, udah masuk.” Ujar Dean. “Lagian, ada aku.”

Zara tak sempat lagi menjulingkan matanya seperti biasa ketika Dean melontarkan gombalannya. Rasa takut menguasai tubuhnya. Ia masih mencengkram kemeja Dean sekencang-kencangnya.

Tiba-tiba, sosok hantu berwujud aneh muncul—lagi-lagi disusul dengan backsound yang begitu kencang. Zara menjerit tertahan, sambil menyembunyikan wajahnya di balik kemeja Dean. Dean yang awalnya ketakutan, tidak jadi takut ketika melihat reaksi Zara. It’s his guilty pleasure to see his girlfriend being scared and seeking protection from him.

Kemudian, hanya ada mereka berdua di lorong yang gelap dan sepi. Sejak semenit yang lalu belum ada hantu yang kembali muncul. Zara melepaskan genggaman tangannya untuk membenarkan letak ikat rambutnya sambil berjalan perlahan.

“Aw.” Zara mendadak mengerem tubuhnya yang hampir terjatuh.

Ia segera berjongkok dan mengikat tali sepatunya yang terlepas dan hampir membuatnya jatuh terguling. Dean berjalan di depannya terlebih dahulu. Lelaki itu menyadari bahwa Zara tak lagi di sisinya.

“Zar?” Dean menoleh ke belakang, mendapati Zara masih sibuk dengan tali sepatunya.

“Ya, sebentar.”

Dean mengamati Zara, kemudian tersenyum jahil dalam kegelapan. Ia mengendap diam-diam ke balik dinding, berdekatan dengan replika ambulans. Jantungnya hampir berhenti ketika menyadari ada hantu di sebelahnya, namun dengan bahasa Jepang patah-patah ia menjelaskan bahwa ia ingin mengerjai pacarnya sekali ini saja. Hantu jadi-jadian itupun mengerti.

Setelah selesai mengikat tali sepatu dengan rapi, Zara berdiri lagi. Namun di depannya sosok kekasihnya sudah menghilang. Zara mencengkram sling bag-nya sendiri. Langkahnya pendek-pendek berjalan ke depan.

“Dean?” Panggilnya pelan.

Tak ada sahutan.

“Dean-ssi.” Zara mengeraskan suaranya. “Kau di mana?”

Masih tak ada sahutan.

“Bocah sialan.” Maki Zara pelan.

“Dean!” Jerit Zara, dan beberapa saat kemudian sepasang tangan mencengkram erat pergelangan kakinya. Zara menunduk dan mendapati hantu mayat hidup berdarah-darah di sana. Sontak ia menjerit dan mengeluarkan kata-kata kasar. Refleks, kakinya dengan sekuat tenaga menginjak sepasang tangan itu dan menendang muka hantunya.

Setelah pergelangan kakinya lepas, Zara segera berlari sekencang-kencangnya mencari jalan keluar rumah hantu yang dimasukinya sekarang. Di tengah jalan, ia bertemu dua pintu. Karena menurutnya sisi kanan itu baik, maka ia memilih untuk mendobrak pintu kanan. Namun saat pintu terbuka, seorang hantu datang mengejutkannya dari depan. Wajahnya mirip hantu di film yang pernah ditonton Jiho, kalau tidak salah judulnya The Conjuring 2. Backsound sialan yang terdengar nyaringpun menambah keterkejutan gadis itu. Zara segera beralih ke pintu kiri dan kembali berlari seperti dikejar setan.

Tiga menit kemudian, Zara sampai di ujung pintu keluar rumah hantu dengan terengah-engah. Ia menyandar di dinding bangunan dan terduduk. Wajahnya pucat pasi. Zara melongokkan kepalanya ke dalam, namun tak ada tanda-tanda Dean akan muncul. Gadis itu meraih handphone-nya, lalu menelpon Dean.

Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Silahkan coba beberapa saat lagi. The number you were calling is not—

“Sialan.” Rutuk Zara lagi.

Setelah sepuluh menit menunggu, Zara berpikir ulang. Jangan-jangan lelaki petakilan itu sudah keluar dari rumah hantu terlebih dahulu. Jadi karena lelah menunggu, Zara-pun bangkit dan berjalan meninggalkan rumah hantu. Ia mencoba menghubungi Dean lagi, tapi masih tak ada jawaban. Jadi gadis itu hanya menghela nafas berat, kemudian mengira-ngira di manakah Dean berada sekarang.

4 PM

“Zar?” Dean memanggil kekasihnya setelah keluar dari rumah hantu. Tapi tak ada batang hidung gadis setinggi 160 centimeter itu.

Dean mengerutkan dahinya. Ia sudah berjalan pelan-pelan menyusuri lorong sambil memanggil nama Zara sepanjang jalan, namun gadis itu juga tak tampak.

Apa ia lewat jalan yang berbeda dari jalan yang kulewati?

Bayangan Zara yang meronta menangis-nangis ketakutan diterkam hantu jadi-jadian membuat Dean kembali masuk ke rumah hantu dan menyusuri jalan yang berbeda dari jalan yang ia lewati sebelumnya. Ia kembali menyerukan nama Zara, namun gadis itu juga tak terlihat. Dean merogoh-rogoh kantong celananya, kemudian mengambil handphone.

“Sialan.” Rutuk Dean ketika mendapati baterai handphone-nya tinggal 2% dan hanya bisa dipakai untuk emergency calls saja. Sinyal sudah menghilang.

Lelaki itu segera berlari ke luar bangunan rumah hantu, kemudian melihat arloji di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Harusnya mereka pulang pukul lima agar bisa makan malam bersama Jiho dan Hyoseob. Tapi bahkan sekarang ia tidak tahu letak kekasihnya di mana.

Dean memutar otak, berfikir di mana kira-kira Zara berada. Hal yang pertama kali muncul di pikirannya adalah carousel. Jadi Dean segera berlari ke arah wahana bayi itu berada, berharap menemukan kekasihnya sedang naik-turun bermain kuda-kudaan dengan lagu-lagu riang berputar.

5 PM

Zara berjalan gontai. Sudah satu jam ia berkeliling, mulai dari menyelidiki satu-per-satu para pengunjung yang menaiki wahana-wahana roller coaster, pergi ke wahana yang sudah mereka kunjungi sebelumnya, ke pintu masuk… namun Dean juga tak tampak. Ia berusaha menghubungi Jiho ataupun Hyoseob, namun suara memuakkan operator mengatakan bahwa nomor mereka berada di luar jangkauan. Entah sudah berapa kali ia menghubungi Dean namun tak berbuah hasil, hingga rasanya ia ingin mencampakkan handphone tak bergunanya ke genangan air wahana Great Zaboon.

Ia ingin mengumumkan orang hilang di Costumer Service, namun bahasa jepangnya sangat payah. Ia juga ingin meninggalkan Dean dan pulang sendiri, tapi ia juga lupa rute ke stasiun bus tadi. Lagian ia tidak tega meninggalkan Dean sendiri walau lelaki sialan itu sudah meninggalkannya.

Zara melangkahkan kaki ke dalam coffee shop, kemudian berbekal bahasa jepang yang begitu minim plus bahasa isyarat, ia memesan satu cuplatte. Ia menyenderkan badannya di sofa, lalu memijat keningnya. Zara berkali-kali berkata pada dirinya sendiri untuk tenang, namun tetap saja tak berhasil.

Zara meraih handphone tak bergunanya, kemudian ia melihat aplikasi The Sims di daftar aplikasi.

Benar juga. Daripada mengurusi pacar dunia nyata yang menyusahkan, lebih baik mengurusi pacar virtual.

6 PM

Dean merutuki dirinya sendiri dan rencana bodohnya beberapa waktu yang lalu. kalau saja ia tak bersembunyi di rumah hantu, ia takkan berjalan ke sana-ke mari mencari sosok Zara. Ia juga merutuki dirinya sendiri atas energi handphone miliknya yang telah tiada. Wajah lelaki itu lesu. Rasa kesal, lelah, khawatir, dan takut kehilangan Zara bercampur aduk.

Dean mengusap wajahnya, kemudian menegakkan kepala sambil melihat sekeliling. Seorang pramusaji berteriak di depan kafe tempatnya bekerja, menawarkan diskon untuk produk kue yang baru saja diluncurkan. Dean menanyakan apakah ia bisa numpang mengisi ulang energi handphone-nya di dalam kafe, dan dengan nada bercanda pramusaji itu berkata bahwa ia harus membeli kue yang dipromosikan tersebut.

Sesungguhnya Dean tak merasakan masalah walau harus disuruh beli 100 buah kue, yang penting baterai handphone-nya terisi penuh dan ia bisa menghubungi gadisnya yang kemungkinan besar sudah menghubunginya duluan 1000 kali.

6 PM

 

Zara menatap sekeliling sambil menggumamkan lagu yang terputar di earphone-nya. Ia sudah lelah berjalan, lelah menunggu Dean, lelah memikirkan keberadaan lelaki itu. Satu-satunya hal yang dapat menghiburnya hanyalah crepes di tangannya, dan bahkan itupun belum cukup. Sekarang ia hanya berjalan dan berjalan, tak tahu ke mana.

Beberapa saat kemudian, Zara mendapati toko musik di sebelah kirinya. Gadis itu berhenti sebentar. Dean bisa saja ada di situ, melihat-lihat koleksi musik American-African favoritnya, berburu keping demi keping kaset, menggumamkan lagu yang diputar pemilik toko. Bisa saja, tapi Zara malas berharap. Tapi apa salahnya mencoba? Jadi gadis itu langsung saja masuk ke dalam toko, yang disambut dengan lagu bergenre R&B kesukaannya.

Zara sepertinya tak keberatan bertahan di situ sedikit lebih lama.

 

6.30 PM

 

Dean melirik handphone-nya yang kini sudah terisi 35%. Ia mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada fast-charging charger yang disediakan toko tersebut. Dean melirik arlojinya, kemudian tersentak ketika menyadari bahwa taman hiburan sebentar lagi tutup. Ia segera menyabut handphone-nya, mengambil gelas kopinya, dan mengucapkan terima kasih pada pramusaji yang bertugas. Kakinya melangkah ke luar coffee shop.

Otak Dean bermain lagi. Jika setengah jam lagi taman hiburan tutup, bisa jadi Zara sudah keluar dari taman hiburan ini, atau bahkan ironisnya lagi pulang terlebih dahulu meninggalkannya. Saat pikiran Dean sedang berkecamuk, matanya menangkap Shining Flower, sebuah wahana bianglala. Dean berfikir bahwa ia bisa saja melihat keberadaan Zara dari atas sana, jadi ia segera bergabung dengan antrian wahana Shining Flower yang tidak begitu panjang, mengingat taman hiburan sudah mau tutup ditambah ini bukan wahana andalan Fuji-Q Highland.

Lima belas menit kemudian, Dean naik ke salah satu kursi sendirian. Pintu ditutup, dan bianglala mulai bergerak pelan ke atas. Mata Dean menjelajahi kawasan taman hiburan dari ketinggian, dalam hati mengagumi keindahan pemandangan, namun matanya tetap liar mencari keberadaan Zara. Lima menit setelahnya, Dean memicingkan mata sipitnya. Ia menangkap sosok gadis berambut acak-acakan, dengan t-shirt putih dan celana jeans belel yang berjalan gontai. Sosok itu sudah pasti Zara. Dean ingin sekali menggedor-gedor pintu wahana dengan rusuh, atau kalau bisa mendobraknya sekalian hingga ia langsung turun dan menemui gadis yang sudah dicari-carinya dari tadi. Namun kemudian ia ingat, ia sekarang berada di tengah-tengah alias puncak tertinggi wahana bianglala. Maka ia urung melaksanakan niat gilanya.

6.30 PM

 

Zara memutuskan keluar dari toko musik dengan tiga keping kaset di tangannya setelah ia melihat orang-orang satu-per-satu keluar, dan penjaga toko mengatakan mereka sebentar lagi akan tutup. Sekarang Zara tak punya pilihan lain selain keluar dari taman hiburan tempat ia berada sekarang.

Pikiran Zara berkecamuk. Mungkin Dean benar-benar sudah meninggalkannya pulang. Dengan kuota habis, dan baterai handphone kejang-kejang (tinggal 3%), ia tak tahu harus melakukan apa lagi. Setelah keluar dari taman hiburan, ia sontak terduduk di rerumputan tangan. Zara menengadahkan kepalanya ke langit yang sudah gelap, kemudian memejamkan matanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Tersesat di negeri orang, ditinggalkan kekasih, tak mengerti bahasa yang diucapkan orang sekitar. Tak bisa menghubungi siapapun, tak tahu jalan pulang.

Mata Zara mulai berkaca-kaca. Ia merasa jauh lebih takut dibandingkan dengan berada di rumah hantu tadi. Ia ingin marah pada Dean yang tiba-tiba menghilang, namun percuma. Memaki-maki lelaki itu tapi batang hidungnya tak muncul juga takkan membuahkan solusi. Ia ingin marah pada dirinya sendiri tapi ia bahkan terlalu lemah untuk itu. Tenaganya sudah habis. Maka kini yang ia bisa lakukan hanya menangis, walau ia tahu betul itu juga takkan menyelesaikan masalah.

Zara menekuk dan memeluk lututnya sendiri, terisak pelan di taman depan taman hiburan. Tubuhnya terguncang, kepalanya yang pusing semakin menjadi-jadi. Ia sudah lelah memikirkan semuanya, jadi sekarang saatnya ia meluapkan emosinya, sendiri, di bawah gelapnya langit malam, di tengah kesunyian kota orang.

Tiba-tiba, derap langkah cepat terdengar dari belakang, juga suara nafas yang menderu kencang. Zara tak perduli lagi. Berharap atau tak berharap itu Dean juga tak ada gunanya, jadi ia tak perduli lagi. Tapi kemudian sepasang lengan melingkari bahunya, memeluknya erat dari belakang. Dari bau tubuhnya Zara sudah tahu betul siapa makhluk di belakangnya sekarang, yang bukan membuatnya berhenti menangis, tapi tangisannya malah semakin menjadi-jadi.

“Maaf.” Bisik lelaki itu pelan.

“Persetan.” Maki Zara di sela-sela tangisnya.

“Masih sempat saja memakiku saat menangis?” Tanya Dean dengan nada tak percaya, kemudian tertawa kecil dan mengeratkan pelukannya.

“Pergi saja lagi, gak usah kembali sekalian.” Gerutu Zara.

I won’t. Aku gak bakal bisa tidur nyenyak malam ini tanpa kamu.” Dean membelai rambut gadisnya pelan. “Maaf, ya. Awalnya aku cuma niat iseng, tapi gak tahu kalau kita bakal kepisah beneran.”

“Terkutuk kau Kwon Hyuk dan mulut manismu itu.”

“Jangan ngomong kasar terus, dong, cantik. Sini cium dulu.” Goda Dean setelah melepaskan pelukannya.

“Menjijikkan.” Zara segera bangkit, mengusap air matanya seakan-akan ia tak menangis sebelumnya, kemudian berjalan cepat mendahului Dean.

“Kok ninggalin sih?”

“Gantian dong, tadi aku ditinggalin, sekarang aku mau coba ninggalin.” Sahut Zara.

“Ih, masa baru ketemu udah pisah lagi. Gak kangen sama aku?”

Zara menoleh ke belakang dengan tatapan ‘kenapa-kau-begitu-menjijikkan-hari-ini’ ke arah Dean, tapi matanya menangkap lelakinya sedang mengerucutkan bibir dengan tangan membentang lebar. Pemandangan itu membuat hati Zara luluh. Ia segera berlari dan memeluk Dean sekencang-kencangnya. Kakinya melingkar di pinggang Dean, kepalanya tenggelam di leher lelaki itu. dean membalas pelukan Zara tak kalah eratnya.

“Gendong aku sampai stasiun ya, jadi aku gak hilang lagi.”

FIN.

zaraxdean

 

Advertisements

5 thoughts on “[A December To Remember] Lost

    1. Iyaaa wkwkwkw aku juga gatau ini kencan macam apa ngoahaha silahkan tanya sama mas Deannya sendiri 😂 wkwkwkw iya sih soalnya Crush lelah biasanya dia sama Dean tapi Dean udah punya gandengan wkwkwkw thank you for your comment! Xoxo

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s