December Project · FF Project · Friendship · Genre · Length · One Shoot · PG -13 · Rating · School Life · Slice of Life

[A December To Remember] Skool Luv Affair


Author: qL^^ (mystorymyfictionworld.wp.com)

Title: Skool Luv Affair

Prompt: You’re someone who I can’t have, a person I have to forget

Casts: BTS’s Min Yoongi/Suga, Park Hyeki (OC), and some idol cameos.

Genre: Friendship, Slice of Life, School Life

Lenght: One shot

Rating: PG-13 for young adult

Disclaimer : This is work of fan fiction. All mentioned artists belonged to themselves and agencies. No profit is intended. Please, do not copy paste!

Skool Luv Affair

Even if you act cold,

I can’t push you out of my mind.

(BTS – Boy in Luv)

Menurut Min Suga, ada empat kata berawalan huruf ‘p’ yang identik dengan Park Hyeki. Satu, p dari Park—nama depan gadis itu. Dua, p dari pendek untuk tinggi badan gadis itu. Kalau berdiri tegak, Hyeki paling-paling hanya setinggi bahu Suga meskipun ia sendiri tidak termasuk deretan cowok tinggi di sekolah seperti Nam Joohyuk, Park Chanyeol atau Kim Jisoo. Mungkin gadis itu kurang beruntung karena justru memiliki tinggi badan seperti sepupunya, Park Jimin, padahal kakak laki-lakinya, Park Hyunsik, cukup tinggi.

Huruf p ketiga adalah pentas seni atau pensi. Min Suga memang tidak seperti kembarannya, Min Yoongi. Secara fisik mereka memang identik; tipe cowok yang diidolakan para gadis di sekolah. Tapi secara perangai, mereka bagai bumi dan langit. Yoongi kalem, Suga pecicilan. Kalau Yoongi jarang tersenyum disebut cool. Tapi kalau Suga, malah disebut jutek. Bila Yoongi sibuk dengan berbagai kegiatan latihan kepimpinan dan seabrek tugas sebagai ketua OSIS, maka Suga hanya sibuk bermain basket dan berlatih band. Kadang-kadang dia ikut membantu temannya berkelahi atas nama solidaritas. Orang tua mereka bahkan tidak lagi heran saat mendapat surat teguran. Bisa dikatakan Yoongi adalah golden boy, sedangkan Suga dilabeli bad boy.

Oleh karena itu, Yoongi—kembarannya yang baik hati—berniat memperbaiki image Suga. Caranya dengan meminta Mrs. Yoon—guru kesiswaan untuk menunjuk Suga sebagai ketua pelaksana pensi. Tentu saja Mrs. Yoon awalnya menolak, namun Yoongi yang kharismatik sialnya berhasil membujuk sang guru dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai jaminan. Suga sendiri juga malas menjadi ketua pensi kalau bukan karena kecintaannya pada musik.

Lalu, apa hubungannya pensi dengan Park Hyeki?

Salah satu syarat Mrs. Yoon menerima Suga sebagai ketua pensi, jika dan hanya jika Hyeki bersedia menjabat sebagai sekretaris. Lagi-lagi, Yoongi entah bagaimana berhasil membujuk gadis itu.

P yang keempat dan terakhir adalah penasaran. Bekerja sama dalam kepanitiaan pensi membuat Suga mau tak mau akhirnya mengenal Hyeki lebih dari sekedar nama. Oh, tentu saja dia tahu yang mana yang namanya Park Hyeki. Siswi teladan, berkacamata, kesayangan semua guru, punya kakak dan sepupu super protektif (kalau tidak mau dibilang sister-complex) dan yang paling penting, cukup dekat dengan kembarannya, Yoongi. Bukan satu dua kali, Suga melihat mereka bersama di sekolah. Nah, bagaimana mungkin Suga tidak penasaran tentang Hyeki?

Maka, dia menunggu-nunggu hari itu.

Hari pelantikan panitia.

Sialnya, Suga malah datang terlambat dan mendapatkan ceramah panjang tentang menjadi ketua yang baik dari Mrs. Yoon. Park Hyeki memberinya tatapan merendahkan seolah datang terlambat adalah perbuatan paling hina di dunia. Memang memalukan, sih, tapi Suga, ‘kan, cuma terlambat tiga puluh menit.

Ketika Suga mengulurkan tangan untuk berkenalan, gadis berkuncir satu itu terlihat enggan menyambut tangannya. Wajahnya datar dan irit senyum sampai-sampai ia pikir gadis ini jauh lebih jutek dari dirinya. Hyeki bahkan hanya bicara seperlunya pada Suga mengenai persiapan rapat pertama mereka.

Tiba-tiba Yoongi sudah ada di sebelah Suga.

“Hyeki, Suga, pulang sekolah nanti mampir ke kedai es krim, yuk,” ajaknya.

Mata Suga tidak luput mengamati wajah tampan Yoongi yang biasanya cool, kini tercetak senyum lebar di sana. Lengkap dengan gerak-gerik gugup yang sangat dikenal Suga sebagai kembarannya. Oh ternyata …

Suga baru saja ingin berbisik pada Yoongi untuk melupakan saja niatnya mengajak Hyeki daripada kembarannya sakit hati karena ditolak mentah-mentah, namun Hyeki sudah lebih menjawab.

“Yuk,” ujarnya ramah disertai senyum.

Senyum yang membuat Suga tercengang. Ya Tuhan! Gadis jutek─datar─dingin itu baru saja tersenyum, meski itu bukan senyum lebar. Hanya karena ajakan makan es krim dari Yoongi!

Rasanya Suga ingin membakar meja.

Bruuk!

Kening Suga mengernyit menatap tumpukan berkas yang baru saja diletakkan Hyeki di atas meja tepat di hadapannya. Hari ini gadis itu lagi-lagi mengikat rambutnya menjadi satu kunciran tinggi. Ekspresinya serius sekali saat Suga meliriknya.

“Apa ini?” tanya Suga bingung.

Tentu saja, ia bingung. Hyeki muncul tiba-tiba di kelasnya pada jam istirahat. Seumur-umur Suga belum pernah melihat gadis itu menjejakkan kaki di sana, mengingat kelasnya berada jauh di bawah kasta kelas anak-anak cemerlang seperti Hyeki dan Yoongi.

Hyeki mendelik sadis, lalu meniup poninya tak sabar. Ia menduduki kursi kosong di sebelah Suga yang ditinggal penghuninya jajan ke kafetaria. Jemarinya bergerak menunjuk berkas itu satu persatu sambil bicara. “Ini laporan evaluasi pensi dari tahun ke tahun dan harus dipelajari supaya kesalahannya tidak terulang. Yang ini pre-proposal pensi kita. Sudah hampir rampung, sih, tapi aku ingin kamu memeriksanya lagi. Kamu, ‘kan, ketua. Yang ini timeline dan rencana kerja untuk enam bulan ke depan,” jelas gadis itu panjang lebar.

Mata Suga membelalak horor menatap berkas-berkas itu dan Hyeki bergantian. “Kamu menyiapkan ini semua dalam satu hari setelah hari pelantikan?”

Hyeki hanya mengangguk.

Daebak!” puji Suga mengacungkan jempolnya.

Tapi reaksi gadis itu terhadap pujiannya hanya datar saja. Oh, Suga lupa, gadis itu pasti sudah sering mendapatkan pujian macam itu sampai-sampai ia pasti terbiasa.

Perhatian Suga kembali teralih pada tumpukan berkas.

“Terus?” ia bertanya, tak tahu berkas ini harus diapakan.

Tanpa dia duga, Hyeki menendang kakinya di bawah meja membuat cowok itu mengaduh. Kecil-kecil begitu, tendangannya ternyata sadis juga.

“Kok, ditendang?” protes Suga tak terima yang direspon dengan dengusan kesal Hyeki.

“Ini semua harus dibaca sebelum rapat pertama besok,” sahutnya tanpa basa-basi.

Untuk kedua kalinya, mata Suga membelalak horor. Membaca buku pelajaran yang jelas-jelas hukumnya wajib saja ia malas, apalagi kalau harus membaca jenis laporan evaluasi membosankan seperti ini. Bisa-bisa Suga terjatuh dalam deep sleep seperti putri tidur dan harus menunggu ksatria berkuda untuk membangunkannya. HA. Bercanda.

Suga menatap Hyeki dengan berusaha menunjukkan tatapan memelas yang biasanya ampuh digunakan kalau berurusan dengan Mrs. Yoon. Tapi Hyeki terlihat kebal dengan tatapan itu dan malah mendeliknya semakin sinis. Akhirnya Suga menyerah, takut kalau Hyeki menendang kakinya lagi. Tulang keringnya masih berdenyut, lho.

“Pokoknya besok rapat jam tiga sore di sekre,” Hyeki memberitahunya, kemudian berdiri dan meninggalkan kelas Suga tanpa berkata apa-apa lagi. Sedangkan Suga hanya bisa menatap punggung dan kuncir yang menjauh itu.

Teman-teman sekelas Suga yang bergerombol di depan pintu langsung memberi jalan ketika Hyeki lewat seperti gerombolan rakyat yang membelah saat presiden lewat. Ckckck, benar-benar.

“Suga!”

Mendengar namanya dipanggil membuat Suga terduduk tegak. Ia menoleh ke arah pintu kelas, kemudian menguap lebar ketika menyadari siapa yang memanggil namanya.

“Apa?” ia balik bertanya.

Hyeki menggelengkan kepala tak habis pikir, kemudian menunjuk pada jam tangannya.

Mata Suga membelalak ketika ia ikut melihat jam tangannya. Sial, sekarang sudah pukul 14.55. Ia ketiduran karena jam pelajaran terakhir kosong dan hampir terlambat datang rapat pertama mereka. Pantas saja wajah Hyeki sudah mau mengamuk begitu. Buru-buru ia mengekori Hyeki menuju ruang sekretariat yang kebetulan terletak bersebelahan dengan ruang OSIS.

Selama rapat, Suga berusaha memimpin dengan sebaik-baiknya. Ia sudah membaca setumpuk berkas yang diberikan Hyeki kemarin. Pada saat itu, sang sekretaris tidak memberitahunya kalau ternyata laporan evaluasi yang harus dibaca sudah ditandai dengan post-it mini warna-warni. Suga hanya perlu membaca bagian penting itu saja dan ia bersyukur tidak perlu mati kebosanan karenanya. Selain itu, pre-proposal, timeline dan rencana kerja juga sudah diatur Hyeki dengan rapi. Kelihatannya ia harus menambahkan satu ‘p’ lagi untuk Park Hyeki: perfeksionis.

Hampir tidak ada yang perlu dikoreksi Suga, kecuali satu bagian.

“Ah, soal jenis musik untuk pensi ….” Suga memulai.

Hyeki meliriknya, jelas sekali ingat bagian itu ia biarkan kosong di pre-proposal.

“Oh, soal itu, pensi tahun lalu memilih EDM, tapi mendapat banyak protes dari guru karena seperti klub malam,” jelas Namjoon yang sudah diketahui Suga dari laporan evaluasi yang ditandai Hyeki. “Bagaimana kalau kita pilih musik yang lebih kalem? Seperti jazz atau klasik?” Namjoon menyarankan.

Suga berpikir sebentar. “Jazz atau klasik terlalu berat untuk siswa sekolah menengah seperti kita,” ujarnya. “Hmmm … kalau Indie? Kita bisa mengundang band-band Indie dari alumni juga,” tawarnya.

Namjoon mengangguk-angguk. “Ide bagus, Hyung,” ia menyetujui.

Sedangkan Hyeki tidak memberi pendapat apa pun. “Aku ikut saja,” sahutnya. “Aku tidak terlalu paham musik.”

Wow, ternyata ada juga yang tidak dikuasai gadis ini, batin Suga dalam hati.

Rapat pertama mereka ditutup setelah memilih nama pensi dan pembagian tugas masing-masing divisi. Suga merasa puas dengan respon panitia inti sebagai peserta rapat hari ini yang antusias dan bersemangat. Mereka juga terlihat menghormatinya meski label slengean masih melekat padanya, juga terlihat sedikit takut pada Hyeki yang membantu jalannya rapat lebih efektif dan efisien.

Setelah panitia inti bubar, hanya tersisa Suga dan Hyeki di sana. Ia memperhatikan gadis itu menulis notulensi rapat dengan serius.

“Maaf, ya,” kata Suga pelan.

Alis Hyeki terangkat. Ia membenarkan letak kacamatanya. “Untuk?”

Suga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Itu … hampir terlambat ….”

Mulut Hyeki membulat membentuk huruf ‘o’. Untuk sesaat gadis itu tidak menunjukkan ekspresi ganas yang biasa muncul setiap kali ia melihat Suga, seolah cowok itu adalah sumber ketidakbahagiannya di dunia. Mau tak mau Suga harus mengakui ekspresi gadis itu terlihat lucu saat ini. Kuncir di kepalanya ikut bergoyang saat mengangguk.

“Lain kali jangan ketiduran lagi,” pesannya singkat yang lebih terdengar seperti ancaman, lalu lanjut menulis dan mengabaikan Suga.

Sebenarnya Suga masih ingin bertanya, tapi ia tidak ingin menganggu gadis itu. Ia masih sayang kakinya untuk pertandingan basket minggu depan.

Mata Suga berbinar-binar seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah ulang tahun lebih cepat saat menatap delapan huruf dengan hiasan dan warna khas hand lettering dari tim dekorasi yang tercetak besar-besar pada dinding ruang sekretariat. Kata Triptych yang meliuk-liuk indah penuh rasa seni lengkap dengan hitung mundur hari yang membuat Suga bangga sekaligus berdebar-debar.

Ya, itu nama pensi mereka.

Triptych.

Memang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Indie, tapi Suga sudah terlanjur menyukainya dan menolak usulan nama lain. Sikap yang menurut Hyeki kekanak-kanakan tapi gadis itu juga tidak bisa memaksa Suga mengingat posisi jabatannya di bawah Suga. Lagipula panitia lain juga menyukai nama itu. Memang cuma Hyeki yang selalu berbeda pendapat dengan Suga. Ckckck!

“Duduk yang benar,” Hyeki mendorong bahu Suga yang posisi duduknya sudah melorot di kursi.

Bukannya memperbaiki posisi duduk, Suga malah menggunakan kursi kosong untuk merebahkan diri. Jadi, ia berbaring terlentang pada tiga kursi sekaligus.

Hyeki berjengit tak suka. “Duduk yang benar atau aku dorong sampai jatuh,” ulangnya.

“Tapi aku mau berbaring,” balas Suga tak acuh.

Suga melihat Hyeki menggelengkan kepala seolah menghadapi anak kecil, lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sumpah, ia merasa lelah sekali seolah baru bertanding basket seharian. Padahal yang dilakukannya sepulang sekolah cuma duduk untuk rapat bersama Hyeki dan Namjoon demi mematangkan konsep acara. Tubuhnya seolah kehabisan enerji sehingga ia merasa harus berbaring saat itu juga.

Lagi, ia melirik Hyeki. Ia punya kecurigaan besar bahwa diam-diam Hyeki sangat membencinya. Gadis itu sering sekali marah-marah, bersikap ketus dan mendelik padanya. Untung saja ia tidak sering menjitak atau menendang kakinya. Memangnya salah Suga apa, sih? Ia tidak pernah iseng menyembunyikan kacamata Hyeki. Ia juga tidak pernah menarik-narik kuncir rambut gadis itu seperti yang sering dilakukan Jimin. Ia yakin sekali gadis itu tidak akan mau menjadi sekretarisnya kalau bukan karena diminta Yoongi.

Ngomong-ngomong, kenapa dia sering sekali berada di sekre hanya berdua dengan Hyeki?

Sebagian akal sehatnya menjawab karena dia harus menjalankan tugas sebagai ketua Triptych. Sebagian lagi menjawab bahwa dia takut Hyeki mengamuk kalau dia pulang duluan. Hmm, sepertinya alasan yang terakhir lebih masuk akal. Tapi kenapa dia harus takut pada Hyeki? Toh, yang jadi bos di sini, ‘kan, Suga.

“Hye, pulang, yuk,” ajaknya memberanikan diri.

Tatapan mendelik itu lagi.

“Katanya mau acc daftar pengisi acara dari Namjoon dulu,” kata Hyeki ketus.

Suga meringis. “Besok, ‘kan, masih bisa.”

Hyeki tidak menjawab, tapi Suga tahu itu artinya dia mau pekerjaan itu diselesaikan sekarang. Akhirnya, Suga bangkit dari posisi terlentangnya dan mulai membaca daftar dari Namjoon sambil menggerutu, tentu saja. “Kenapa, sih, apa-apa harus dikerjakan sekarang?”

“Maksudnya?”

Oho! Suga seperti membangunkan macan tidur, tapi ia tidak peduli lagi.

“Kenapa kamu nggak bisa santai sedikit, sih?” akhirnya protes Suga keluar juga.

Alis Hyeki terangkat.

“Kepanitiaan kita, ‘kan, baru mulai. Nggak usah buru-buru, Hyeki. Semua orang sudah berusaha bekerja sesuai timeline. Kamu, tuh, kayak ibu-ibu. Kerjaannya mengomel, mengingatkan ini itu dan mengoreksi ini itu. Lihat, nih, tiap hari ada saja jadwal untuk pensi,” Suga mengeluarkan unek-uneknya sambil menunjuk kalender ponselnya yang sejak menjadi ketua Triptych mulai berguna. Berkat Hyeki, sang sekretaris yang rutin mengisinya dengan jadwal.

Anehnya, Hyeki hanya menatap Suga datar saat cowok itu marah-marah.

“Dengar, ya, Suga. Siapa yang hampir ketiduran sebelum rapat pertama? Siapa yang keasyikan bikin mixtape sampai lupa bikin laporan untuk Mrs. Yoon? Siapa yang malas ke sekre buat tanda tangan proposal yang bikin terlambat disebar?”

Ups!

“Kalau bukan aku yang bangunkan? Kalau bukan aku yang ingatkan? Kalau bukan aku yang niat bawakan proposal ke kelasmu? Kalau nggak ada aku, bagaimana?!”

Deg!

Ah, sial! Sial!

“Jadi, bagaimana? Mau cari sekretaris yang lebih santai saja? Song Seungwan kelihatannya bersemangat sekali untuk bisa dekat-dekat denganmu,” Hyeki menawarkan dengan alis terangkat.

Wuaduh, double kesialan! Tahu darimana Hyeki kalau ia sempat flirting dengan adik kelas itu? Tapi, Suga tahu benar reputasi sang adik kelas dalam kepanitiaan. Bisa-bisa Triptych yang diidam-idamkannya tidak akan terwujud.

“Jangan!” Suga buru-buru menahan tangan Hyeki yang sudah mau pergi. “Jangan, aku nggak mau sekretarisnya diganti!”

“Jadi?” Hyeki masih menatapnya dengan alis terangkat.

“Ya, ya, kamu boleh nggak santai,” akhirnya Suga mengalah. “Tapi, tolong. Bantu aku bikin Tryptich yang bagus, ya! Jangan kemana-mana!” ia memohon dengan setulus hati sambil memegang lengan Hyeki takut gadis itu benar-benar pergi.

Hening sesaat.

Hyeki berdeham. “Suga, tolong, itu … pegangannya dilepaskan dulu.”

Tersentak, Suga buru-buru melepaskan tangan Hyeki. “Jangan pergi,” ia mengulang sekali lagi.

“Mau bagaimana lagi,” sahut Hyeki datar. “Sudah terlanjur.”

Suga menghela napas lega, sama sekali tidak sadar kalau Hyeki sudah membereskan barang-barang dan memakai ranselnya.

“Ayo, katanya mau pulang,” ajaknya masih dengan nada datar yang membuat Suga melongo, namun akhirnya mengikuti gadis itu pulang.

Ia tidak bisa melupakan bagaimana rasanya menggengam tangan Hyeki.

Tidak terasa empat bulan sudah berlalu sejak hari pelantikan panitia. Masih ada 60 hari lagi hitung mundur menuju acara pensi. Pengingat yang menempel di dinding ruang sekretariat Triptych.

Empat bulan sudah Suga bekerja sama dengan Hyeki. Sekarang rutinitas harian Suga selalu berkisar pada gadis itu: menyapanya di gerbang saat datang ke sekolah atau dihampiri oleh Hyeki di kelas (karena Suga masih tetap malas bergerak) lalu diseret ke sekretariat untuk mengecek progress kepanitiaan, rapat pengurus harian kepanitiaan tiga kali seminggu, rapat pleno tiga minggu sekali, dan membuat presentasi laporan untuk Mrs. Yoon. Belum lagi, obrolan via chat yang mereka lakukan kalau tidak bertemu di sekolah.

Akibatnya hampir sebagian besar waktu Suga dihabiskan bersama Hyeki dan itu mulai membuatnya menghafal kebiasaan gadis itu. Hyeki selalu membawa agenda biru, tempat pensil biru, kotak kacamata biru dan map biru berisi dokumen kepanitiaan setiap kali mereka rapat. Hyeki tidak bisa minum susu di pagi hari (jatah susu dari kafetaria selalu diberikannya untuk Yoongi). Hyeki selalu bangun pagi tapi tidur cepat di malam hari (sehingga kadang chat Suga tidak dibalas). Hyeki punya riwayat maag ringan sehingga dia tidak bisa terlambat makan (dan membuat Suga panik ketika maag-nya kambuh). Hyeki selalu menguncir rambutnya. Hyeki punya lap khusus untuk membersihkan kacamata. Hyeki … eh, tunggu dulu! Kenapa ia jadi tahu begitu banyak tentang gadis itu?

Argh, sial! Suga jadi ingat apa yang dikatakan Jimin beberapa hari yang lalu. Meski ia tidak dekat dengan Hyeki, Suga cukup dekat dengan sepupunya, Park Jimin, yang menjadi supporter tetap tim basket Suga. Ia ingat Jimin menertawakannya saat ia menceritakan pertemuan resmi pertamanya dengan Hyeki. Ia juga menceritakan pertengkaran yang dimenangkan telak oleh Hyeki. Tapi Jimin justru mengatakan sesuatu yang aneh.

“Hati-hati cinlok, Hyung.”

Begitu kata Jimin yang membuat Suga justru garuk-garuk kepala meski tak gatal.

Apa? Cinta lokasi dengan Hyeki? Memangnya mungkin?

Sejak pertengkaran mereka yang gagal di pihak Suga pada awal kepanitiaan, hubungannya dengan Hyeki memang sedikit membaik. Yeah, gadis itu masih sering mengomel, sinis atau bahkan kadang menendangnya, tapi ia sudah lebih mau mendengarkan Suga. Mereka berevolusi dari partner kepanitiaan menjadi sesuatu yang lebih terasa sebagai … teman?

“Makan,” kata Hyeki sambil meletakkan kotak bekal di depan Suga. “Belum makan siang, ‘kan? Kalau sakit, nanti malah menyusahkan orang.”

Suga berdecak. Ucapan gadis itu kadang lebih pedas dari ucapannya.

“Sejak kapan di sekre ada piano?” tanya Hyeki heran sambil membenarkan kuncir rambutnya yang mulai berantakan.

Memang ada piano cokelat di sudut ruangan yang baru saja dipindahkan dari ruang musik atas permintaan Suga dengan didukung oleh Mrs. Yoon. Ia senang sekarang Mrs. Yoon sudah jarang menghukumnya. Salah satu bagian acara yang disusun Namjoon dan disetujui Suga adalah persembahan dari panitia. Suga berniat menciptakan lagu khusus untuk persembahan itu dan ia menceritakannya pada Hyeki.

Respon gadis itu? Cibiran.

Tipikal Hyeki sekali.

H-28.

Sore ini, Suga, Hyeki, Namjoon dan seluruh panitia pensi baru saja menyelesaikan rapat pleno di aula sekolah. Ia mencari-cari Hyeki setelah rapat pleno karena ia ingin pamer lagu persembahan yang sudah selesai dia ciptakan.

“Hye—“

Suga segera membungkam mulutnya saat menemukan Hyeki di ruang sekretariat. Hyeki meletakkan kepala di lipatan lengan di atas meja. Wajahnya dimiringkan, pipi bersandar pada lengan, matanya tertutup dan mulutnya sedikit terbuka. Tertidur pulas. Kacamatanya dilepas dan diletakkan di atas agenda biru. Kepang satu yang hari ini menggantikan kuncir jatuh di bahu. Ada beberapa rambut halus yang lolos dari kepangan berjuntai di dekat telinga.

Tanpa disadari, Suga melangkah mendekat dan duduk di sebelah gadis itu.

Entah mengapa ia ingin menatap wajah Hyeki dari dekat. Mematri ekspresi damai yang baru pertama kali dilihatnya ke dalam memori jangka panjangnya. Ia meringis sendiri menyadari gadis itu pasti lelah, membagi tugas belajar dengan tugas sebagai sekretarisnya. Apalagi saat hari H pensi semakin dekat. Pikiran itu memberi dorongan aneh yang membuat Suga merasa ia harus menjadi ketua yang lebih baik untuk Hyeki, sekretarisnya. Dan imbuhan ‘nya’ itu membuat Suga tak bisa menahan diri untuk tersenyum. Jantungnya mendadak berdebar keras seperti setiap kali ia membayangkan Triptych akan sukses.

Tidak ada siapa-siapa di ruang sekretariat selain Suga dan Hyeki. Jadi ia memanfaatkan kesempatan ini, sengaja berlama-lama ….

Pintu ruang sekretriat mendadak terbuka. Suga menoleh cepat, sudah bersiap akan menyumpahi siapa pun itu yang menganggu Hyeki tidur (dan momennya).  Ia menelan kembali umpatannya ketika melihat Yoongi yang berdiri di ambang pintu. Kembarannya mengangkat alis saat Suga meletakkan telunjuk di depan bibir.

“Mana Hye—Oh.”

Yoongi mendekati mereka berdua dengan langkah pelan dan tanpa suara. Ia menatap Hyeki cemas—tatapan yang entah mengapa membuat Suga seperti terbakar.

“Kebiasaan,” gumam Yoongi pelan. “Pasti dia bergadang.”

Seolah-olah kembaran Suga itu sudah menghafal dengan baik rutinitas gadis itu. Atau … jangan-jangan Yoongi memang hafal? Lalu, Yoongi melakukan sesuatu yang membuat tangan Suga terkepal erat di bawah meja. Yoongi melepaskan blazer abu-abu sekolah dan meletakannya di atas bahu Hyeki seolah menyelimutinya. Gadis itu bergerak sedikit, namun tidak terbangun.

“Tolong jaga dia, ya,” pesan Yoongi. “Nanti kalau sudah bangun, aku akan antar dia pulang.”

Tapi Suga sudah berdiri lebih dulu.

“Jaga saja sendiri,” sahutnya berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar aneh.

Suga langsung keluar ruang sekretariat tanpa menunggu jawaban Yoongi. Di luar, Suga menendang sampah kaleng yang ada di lorong dengan kesal.

Sial! Bagaimana bisa ia melupakan Yoongi?

Hari-hari terus berlalu membawa Triptych semakin dekat.

Suga dan Hyeki hampir selalu bersama membuat beberapa teman mereka hampir salah menyangkanya sebagai Yoongi. Tentu saja, rambut merah menyala Suga jelas membedakannya dengan Yoongi. Sejujurnya, Suga merasa senang. Bukan karena ia dianggap sebagai Yoongi, tapi karena Hyeki selalu menegaskan bahwa ini Suga. Ia merasa bangga layaknya seseorang yang eksistensinya diakui.

Suga tidak menceritakan pada siapa-siapa kejadian tempo hari antara dirinya, Hyeki dan Yoongi di ruang pensi. Setengah mati ia berusaha bersikap seperti biasa dan berusaha melupakan apa yang dirasakannya saat itu. Mengecek latihan tari untuk pembukaan. Memastikan denah dan pengisi stan sudah sesuai. Membantu publikasi poster acara. Mengecek kehadiran sponsor dan tamu undangan. Memastikan dekorasi panggung sudah sesuai. Membantu Namjoon mengoreksi rundown hari H.

Sampai akhirnya, rapat pleno terakhir H-1 pensi.

Suga menutup rapat dengan seruan semangat pada teman-temannya yang telah bekerja keras. Lalu membiarkan mereka tenggelam dalam euforia menjelang hari H sambil mencoba kaos panitia yang baru dibagikan. Ia mencoba kaus miliknya sendiri yang pas sekali di tubuhnya, lalu berusaha menahan tawa saat melihat Hyeki.

“Apa?” deliknya ketus.

Suga mengulum senyum. “Longgar, ya?”

Ia sudah pernah bilang, ‘kan, kalau Hyeki itu pendek. Selain pendek, gadis itu juga mungil. Petite, begitu istilah Yoongi yang terdengar menjijikan bagi Suga. Sehingga meski kaos itu sudah berukuran kecil pun tetap terlihat terlalu besar untuk Hyeki.

“Iya! Puas?” sahut Hyeki jutek, kemudian melangkah pergi dengan wajah dongkol.

“Jangan marah, Hye,” bujuk Suga buru-buru. Tidak lucu kalau mereka bertengkar H-1 pensi cuma gara-gara kaos.

“Bertengkar lagi?” seru Namjoon saat melihat Suga mengekori Hyeki sambil meminta maaf.

Beberapa teman mereka ikut menoleh.

“Nggak, dong,” sahut Suga sambil refleks merangkul Hyeki.

Tapi Hyeki melepaskan diri dari rangkulan Suga dan menendang kakinya membuat cowok itu mengaduh dan melompat-lompat menahan sakit. “Jangan rangkul sembarangan!”

“Hyeki!”

“Seluruh panitia siap di posisi. Open gate dimulai.”

Satu komando dari Suga memulai Triptych secara resmi.

Rasanya benar-benar bangga karena kerja keras mereka terbayar sudah. Saat acara pembukaan, Hyeki mendampingi Suga menyampaikan pidato sambutan (yang untuk pertama kalinay ditulis oleh Suga sendiri dan mendapatkan banyak koreksi ejaan dari Hyeki). Setelah itu, mereka berpisah. Hyeki bertugas di booth tiket sedangkan Suga tidak bisa jauh-jauh dari panggung karena harus menemani beberapa tamu undangan dan sponsor.

Laporan dari Namjoon menyatakan bahwa pengunjung cukup ramai meski suhu udara turun mengingat mulai memasuki musim dingin.

Desember.

Bulan yang dinantikan dengan salju pertama.

Ah, pantas saja Suga melihat banyak pasangan yang datang ke pensi mereka.

Menjelang penutupan pada malam hari, pengunjung tidak berkurang. Namjoon memberi komando dari handy-talkie agar para panitia berkumpul karena mereka harus bersiap untuk melakukan persembahan. Suga memberi kode pada tim audio untuk memulai. Lalu lagu ciptaannya mulai mengalun.

Suga yang pertama bernyanyi, diikuti oleh Hyeki dan Namjoon. Kemudian disusul oleh panitia yang lain. Para pengunjung yang awalnya kebingungan mulai membentuk kerumunan untuk menonton Suga, Hyeki dan para panitia lain menari dan bernyanyi bersama. Para panitia lain bergabung, satu persatu muncul dari kerumunan dan ikut menari bernyanyi. Ya, seperti flashmob. Sampai seluruh pengunjung ikut bertepuk tangan.

Persembahan mereka ditutup dengan meneriakkan Triptych bersama-sama. Suga yang sedari tadi menari di sebelah Hyeki baru menyadari bahwa kini rambut gadis itu tergerai. Rambut hitam sepunggung itu sedikit tertiup angin malam. Tak jauh dari kaki gadis itu, Suga melihat karet pengikat rambut Hyeki yang putus.

Tiba-tiba saja, salju pertama turun menambah keriuhan hasil persembahan tadi.

Suga menoleh pada Hyeki yang secara tidak sadar menjulurkan tangan seperti teman-teman mereka yang lain berusaha merasakan salju pertama. Sebuah senyum terkembang di wajah Hyeki, sisa kebahagian setelah persembahan dan salju pertama. Lagi, jantung Suga bekerja tidak normal saat melihat gadis itu begitu berbeda.

“Hye,” panggilnya pelan.

Hyeki menoleh, masih dengan senyum lebar.

Di panggung, band Indie terakhir mulai menyanyikan lagu sekaligus menutup pensi.

“Terima kasih,” ucap Suga tulus.

Senyum Hyeki memudar. “Jangan berterima kasih dulu,” sahutnya. “Masih ada laporan evaluasi,” tambahnya ketus.

Suga terkekeh. Ternyata Hyeki tetap galak padanya.

“Kamu benci sekali padaku, ya?” tanyanya tiba-tiba.

Mata Hyeki membelalak. “Apa? Nggak!”

Tapi Suga malah tertawa sedangkan Hyeki bersungut-sungut. Ia melihat Yoongi melambai dari dekat panggung, tahu bahwa kembarannya itu ingin bicara berdua saja dengan Hyeki. Jadi, ia menggeleng saat Hyeki mengajaknya menghampiri Yoongi.

“Ya sudah, aku sendirian saja,” gerutu Hyeki sambil mengumpulkan rambutnya bersiap mengikatnya kembali dalam satu kunciran.

Suga justu menarik kunciran tersebut membuat rambut Hyeki akhirnya tergerai lagi.

“Kenapa selalu dikuncir, sih?” ia akhirnya tidak tahan bertanya.

“Hmm …  karena masih harus kerja?”

“Tugasmu sudah selesai,” potong Suga lembut. “Sana,” ia mendorong Hyeki pergi.

Hyeki terlihat bingung.

Suga menyeringai. “Kamu lebih cantik kalau rambutnya digerai,” tambahnya sambil mengedipkan sebelah mata. Ia berkelit dan tertawa saat Hyeki berusaha menendang kakinya. Setelah enam bulan, akhirnya ia berhasil menghindari serangan gadis itu.

Ia menatap punggung Hyeki yang menjauh dan menghela napas.

Triptych benar-benar berakhir.

Laporan evaluasi sudah selesai dirangkum Hyeki. Presentasi akhir sudah dilakukan pada Mrs. Yoon. Perubahan image Suga menjadi salah satu cowok yang akhirnya patut disejajarkan dengan kembarannya, Yoongi, juga telah berhasil.

Semua berubah, namun tidak berubah pada saat yang bersamaan.

Suga tidak bisa menjelaskannya tapi begitulah adanya.

Hyeki tidak pernah lagi muncul di kelasnya. Hyeki kembali pada rutinitas lama yaitu selalu bersama Yoongi. Ketika mereka berpapasan di koridor, Suga masih sering melemparkan gurauan atau menarik kuncir rambut Hyeki, lalu gadis itu akan mendelik dan berusaha menendang kaki Suga meski terkadang Yoongi menghentikan pertengkaran mereka. Kinerja jantung Suga tetap tidak berubah saat ia melihat Hyeki, apalagi ketika rambutnya tergerai. Tapi ia juga tidak bisa melupakan ekspresi Yoongi setiap kali berbicara dengan gadis itu.

Suga tidak tahu sudah berapa lama ia duduk bangku piano dalam ruang sekretariat Triptych sampai tiba-tiba Hyeki duduk di sebelahnya.

“Sedang apa?” ia bertanya.

“Nostalgia,” jawab Suga santai.

Hyeki mencibir.

“Mulai besok sekre ini ditutup. Piano ini juga bakal dikembalikan ke ruang musik. Jejak Triptych kita akan hilang,” entah mengapa Suga malah curhat sambil memainkan beberapa nada acak pada tuts piano.

Tidak ada jawaban dari Hyeki.

Mereka larut dalam pikiran masing-masing.

Ponsel Hyeki tiba-tiba berdering. Panggilan masuk dari Yoongi.

Suga tidak mengatakan apa pun tapi pasti ekspresi di wajahnya sedih sekali sampai tangan Hyeki menepuk pundaknya pelan dengan penuh empati.

“Kita akan mengingatnya di sini,” kata Hyeki bijak sambil menunjuk hatinya. Ia memeluk Suga sekilas, membuat cowok itu membeku karena tidak menyangka Hyeki akan melakukan itu. Suga tidak sempat merespon apa pun saat Hyeki keluar ruang sekretariat tanpa mengatakan apa-apa lagi. Meninggalkan Suga sendirian di bangku piano.

Detak jantung Suga bergemuruh.

Ia juga akan mengingat gadis itu dan seluruh kisah mereka.

Di hatinya.

-Fin.-

Notes from qL^^:

Wkwkwk, halo! Bertemu lagi dengan qL^^. Senang bisa berpartisipasi di sini. Meskipun ini less twist dan agak tidak nyambung dengan promptnya, semoga tetap suka, ya! Aku tahu ini harusnya materi chapter biar feelnya lebih ngena, tapi aku udah greget mau nulis Yoongi yang kembaran sama Suga dan panitia sekolah yang unyu-unyu. Semoga Suga tidak terlalu OOC, ya!

Anyway, constructive critism is always welcomed!

Happy holiday and happy new year!

 

 

Advertisements

11 thoughts on “[A December To Remember] Skool Luv Affair

  1. Jadi sungjaenya dikasih kesempatan seminggu buat ketemu hyesoo itu? Ini alurnya flashback trs maju gt? sbnernya aku rada bngung sama plotnya. Hehe mungkin kalo dikasih perbedaan pas flashback di buat miring tulisannya ato gmn, mungkin akan lbh bagus. Tapi aku suka ide ceritanya. Mas sungjae jangan sedih ya, ada aku kok/? Lmao—qL and lovA jangan bosen2 ikut project MNJ yes 😉 anyway Sora’s here!

    Like

  2. Ah idenya keren. Yoongi sm suga beda orang, dan mereka kembar. Suga rambutnya merah sdgkan yoongi enggak. Mereka punya kepribadian beda juga. Wah daebak idenya hehe. Kasian juga suga suka sm hyeki dsaat terakhir. Yoongi sm hyeki itu pacaran? Ato gmn? Hehe. Oh ya koreksi bberapa kata, untuk cowok mungkin lebih enak diganti laki-laki. Trs ad kata mendeliknya, mgkin hrusnya mendelik padanya? Hihihi but at least, it’s nice story.

    Liked by 1 person

    1. Iya cuma kurasa materi kembaran ini kurang pas dijadiin oneshot. Aku sndiri ga puas, huhuhu.

      Yoongi belum pcaran kok sama Hyeki. Naksir sih iya, makanya itu promptnya someone who I can’t have and have to forget buat Suga.

      Btw, makasih koreksinya. Yg mendeliknya itu murni memang salah karena aku kurang jeli pas ngedit. Sedangkan buat pemlihan kata cowok, memang sengaja bikos ini fiksinya mau dibikin ala ala teenlit gtu jadi milih kata itu. Fyi, cowok itu kata baku kok, aku sudah cek ke kbbi pas nulis hehehe

      Sekali lagi, makasih reviewnya sora ♡♡♡

      Like

      1. Iya, mungkin kalo twoshoot bkal seru qL!^^ aku masih ngerasa bersalah karena salah komen :”’) hehe. Oh jadi yoongi gapacaran sm hyeki? kirain, soalnya mereka deket banget. Dan karena suga tahu kembarannya naksir hyeki, dia akhirnya berusaha ngelupain hyeki. Nice story! 😉 iya haha, aku juga sering bgt typo ;_; oh cwok masuk me dalam kat baku ya? Wah berarti perbendaharaan kataku yg kurang hehe. Maafkeun daku yes 😉

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s