December Project · FF Project · G · Genre · Hurt · Length · One Shoot · Rating · Romance

[A December To Remember] Let Her Go


Let Her Go

BEAST’s Yong Junhyung | Miss A’s Bae SSuzy

story by ts_sora

Hurt, Romance

oneshoot

 .

.

.

Tie up a ribbon that never untied—”

.

 .

Junhyung manatap gadis yang kini duduk termangu di sampingnya. Entah sudah berapa menit sejak mereka meninggalkan tempat mereka makan, dan sejak saat itu, gadis itu—Bae Suzy sama sekali tak membuka bibirnya. Bahkan ia sama sekali tak menyentuh makanannya dan lebih memilih untuk terhanyut menatap layar ponselnya dengan pandangan sedih. Sangat jauh berbeda dengan Suzy yang Junhyung kenal selama ini.

Junhyung berdehem pelan membuat Suzy akhirnya tersadar dari lamunannya sebentar dan menatapnya dengan canggung.

“Kau tidak menyukai makanannya tadi?” ujarnya kali ini, Suzy lantas cepat-cepat mengelengkan kepalanya—takut jika Junhyung menyalah-artikan atas apa yang terjadi.

“T-tidak, aku hanya merasa kenyang tiba-tiba. Bukan berarti aku tidak menyukainya,” jawab gadis itu yang lantas tertunduk saat ini. Dan dalam sekejap mereka kembali terdiam.

Ini bukan pertama kalinya ia menemukan Suzy yang muram—dan tak banyak berbicara setelah berulang kali ia menatap layar ponselnya. Meski gadis itu tak banyak menceritakan apa alasannya, namun Junhyung yakin atas satu nama pria yang selalu menjadi alasan gadis itu murung saat bersamanya.

Junhyung menghelan nafasnya—dilihatnya kembali gadis yang ada di sampingnya tersebut sebelum akhirnya ia mengembangkan senyumnya kali ini. Sebuah ide baru saja terlintas di kepalanya rupanya.

Junhyung menginjak pedal remnya perlahan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memutar balik arah mobilnya—yang membuat Suzy menatapnya bingung.

Oppa, bukankah kau akan mengantarku pulang? T-tapi kenapa?” Bae Suzy menatap sekelilingnya dengan bingung. Jalanan yang begitu asing baginya membuatnya cemas. Di balik kemudi, Junhyung hanya mengulum senyumnya saat ia menyadari wajah bingung gadis itu yang terlihat begitu jelas.

“Apa kau menyukai pantai?” tanyanya yang membuat Suzy membulatkan matanya. Namun sekali lagi, Junhyung lebih suka tersenyum atas reaksi Suzy saat ini.

“T-tapi aku tidak membawa pakaian, d-dan Manager oppa—”

“Aku akan mengantarmu pulang pagi-pagi sekali. Dan—” Junhyung menggantung kalimatnya saat Suzy kini bergegas mengambil ponselnya dan hendak menghubungi Manager oppa-nya—sebelum akhirnya Suzy harus mengurungkan niatnya saat Junhyung merebut ponselnya dengan paksa.

“Oppa!” pekiknya kesal namun Junhyung tak lantas gentar.

“Aku ingin satu hari ini saja—kau sama sekali tak menyentuh ponselmu dan menemaniku,” ujar Junhyung hampir tak terdengar kali ini, membuat Suzy lantas berhenti melakukan protes dan kembali duduk dengan tenang.

 —

Junhyung mematikan mesinnya saat dirasa ia telah memarkirkan mobilnya dengan benar. Tidak dapat dikatakan benar—sesungguhnya pria itu kini memarkirkan mobilnya di tengah pantai. Benar-benar jauh dari kata memarkirkan mobil pada tempat semestinya.

Dengan cepat Junhyung keluar dari mobilnya setelah ia memastikan mesin mobilnya mati kali ini—sebelum akhirnya ia berjalan menuju sisi lain mobilnya demi membuka pintu dimana Suzy akan turun.

“Please, Princess,” ujarnya dengan senyum seperti biasanya. Suzy lantas tertawa pelan sebelum akhirnya ia turun juga. Entah sudah berapa lama pria itu akan memperlakukannya demikian, namun jujur ia sangat menyukainya—meski ini hanya sebuah perlakuan konyol yang sering ia lakukan padanya.

Suzy melepaskan sepatunya sebelum ia lantas berjalan menuju dimana air laut mulai menyapa bibir pantai. Ia lantas tersenyum saat air laut yang dingin menyentuh kakinya. Entah dimana Junhyung membawanya saat ini, namun pantai yang tak pernah jelas ia mengerti namanya tersebut adalah pantai tertenang yang pernah ia kunjungi.

“Bagaimana?” Suzy menatap Junhyung yang berdiri di belakangmu dengan senyumnya seperti biasanya. Ia lantas mengangguk beberapa kali sebelum senyum terkembang di wajahnya kali ini.

“Aku menyukainya. Sangat.”

Bae Suzy menarik nafasnya dalam-dalam sembari menutup matanya. Merasakan angin pantai yang perlahan menyentuh wajahnya—menciptakan suasana tenang tersendiri.

Ia lelah. Lelah dengan semuanya. Lelah dengan semuanya pikiran yang seakan membunuhnya. Lelah dengan semua kemungkinan yang ia tak yakin akan terjadi. Lelah menunggu pria itu yang tak kunjung menghubunginya.

“Bae?”

“Hm—ya! Oppa!

Junhyung tertawa saat ia berhasil membuat pakaian Suzy basah dengan air. Gadis itu mengerucutkan bibirnya sebelum akhirnya lantas tertawa kecil berusaha mengejar pria itu dan membalaskan dendamnya, namun berulang kali ia gagal.

Oppa! Berhenti kubilang—” Suzy yang berusaha berlari di tengah kesulitannya berjalan, namun sial gadis itu tersandung kakinya sendiri dan membuat dirinya tersungkur ke dalam air—membuat Junhyung berlari ke arahnya dengan panik dan menolong gadis itu untuk berdiri.

A-are you okay, Bae?” Junhyung merapikan rambut gadis itu yang berantakan juga basah karena air. Gadis itu masih tak bersuara sebelum akhirnya ia mendorong pria itu hingga tersungkur ke air.

Gotcha! Kena kau Yong Junhyung!” pekiknya bersemangat sebelum akhirnya ia berlari menjauh dengan tawa bangganya. Sedangkan Junhyung hanya tersenyum saat gadis itu berlari meninggalkannya yang masih tersungkur.

“Now, you’re back, Bae.”

 —

Junhyung mengembangkan senyumnya saat Suzy keluar dari mobilnya dengan mengenakan pakaian miliknya. Beberapa kali ia terlihat tersenyum kikuk, saat dirasa pakaian tersebut terlalu besar untuknya.

“You looks fine,” ujarnya yang lantas membuat Suzy mengembangkan senyumnya sebelum akhirnya ia duduk tepat di samping pria itu. Matahari sudah terbenam sejak beberapa menit yang lalu. Kini hanya sinar lampu mobil milik Junhyung yang menjadi satu-satunya sumber cahaya mereka.

Keduanya terdengar menghelan nafasnya hampir bersamaan—membuat mereka tertawa geli karena kebetulan tersebut.

“Are you feeling better now?” ujar pria itu yang lantas membuat Suzy menatapnya, namun pria itu enggan menatapnya.

“Aku tahu satu-satunya alasan mengapa kau sama sekali tak menyentuh makananmu, yaitu pria itu,” ujarnya menambahkan yang lantas membuat Suzy tertunduk saat itu juga. Sedangkan Junhyung lantas tersenyum masam. Benar dugaannya. Suzy masih memikirkan pria itu.

Suzy masih memikirkan pria yang belum tentu mencintainya. Pria yang bahkan ia tahu tengah mencintai orang lain. Pria yang bahkan tak bisa meluangkan waktunya sedikit saja untuk membalas pesan atau bertemu dengan gadis itu—untuk meyakinkan bahwa gadis itu baik-baik saja.

“Bahkan saat dimana kau terang-terangan tahu apa yang telah ia lakukan padamu—kau masih memikirkannya. Dan orang sepertiku pada akhirnya tidak berarti apa-apa,” ujarnya kini menatap gadis itu yang kali ini enggan menatapnya.

Benar. Bukan sebuah rahasia baru jika pria itu menyukainya. Ia tahu itu. Saat pria itu memberikan perhatian khusus padanya. Saat pria itu melihatnya. Saat pria itu tersenyum dan tertawa untuknya. Saat pria itu rela datang kapan saja untuk menemaninya. Saat pria itu menciptakan beberapa buah lagu yang Suzy tahu itu.

Dan saat itu—dimana Junhyung tak bisa menahan perasaannya lagi. Saat Junhyung pada akhirnya mengatakan isi hatinya di sebuah kebun binatang. Saat Junhyung dengan jelas mengecup bibirnya meski sedetik, ia tahu Junhyung begitu mencintainya. Namun, setiap kali ia berusaha untuk mencintainya—hasilnya sama saja. Ia tak bisa mencintai orang yang selama ini ia anggap sebagai sahabat juga saudara laki-lakinya tersebut.

“Aku minta maaf, oppa.” Suzy menggigit bibirnya—membuat dirinya memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya.

Junhyung menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya sebuah senyum terlihat jelas di wajahnya. Junhyung menatap Suzy yang masih memeluk diri, ia hendak memeluk tubuh yang lebih kecil darinya tersebut sebelum akhirnya ia lantas memutuskan untuk hanya mengusap rambut gadis itu lembut.

You have to sleep now, we’ll go home tomorrow.”

 —

Junhyung menatap Suzy yang berada di sampingnya. Ia masih diam di sana, sama seperti sebelumnya. Nampaknya apa yang mereka bicarakan semalam, membuatnya membisu hingga detik ini.

Mereka sengaja membuka lebar pintu mobil mereka—membiarkan udara masuk dengan leluasa. Memainkan helai per helai rambut gadis itu dengan damai. Namun berbeda dengan empunya. Suzy tengah menyimpan sesuatu di dalam hatinya dan Junhyung tahu itu.

“Tie up a ribbon that never be untied,” ujar pria itu bergumam membuat Suzy memalingkan wajahnya demi menatapnya. Pria itu lantas tersenyum tipis.

“Once I believed, if I tie up the ribbon, pulling each other tightly—so there’s no one can separate us.” Junhyung menarik nafasnya sejenak sebelum akhirnya ia menatap gadis itu.

“But I should realize, I was trying to tie up a ribbon, that would never be tied. Harusnya aku tahu, aku yang menginginkannya sedangkan apa yang aku inginkan—tak menginginkanku,” ujarnya kali ini yang lantas mengusap puncak kepala gadis itu—membuatnya berusaha untuk mencerna apa yang baru saja pria itu katakan.

“Apa kau suka pantainya?”

Suzy mengangguk antusias. Rupanya ia telah melupakan apa yang terjadi di antara keduanya. Atau mungkin, ia berusaha terlihat seakan melupakannya.

Suzy menatapnya saat Junhyung menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah gedung apartment dimana gadis itu tinggal. Ia terdengar membuang nafasnya panjang, menutup matanya sebentar sebelum akhirnya ia menatap Junhyung sekali lagi.

“Thanks for everything,” ujarnya kali ini dan Junhyung hanya mengangguk singkat. Gadis itu melepaskan sabuk pengamannya dan beranjak keluar dari mobil. Suzy hendak pergi masuk ke dalam gedung sebelum akhirnya ia menghentikan langkahnya dan kembali menatap Junhyung di dalam mobil.

“Don’t forget to text and call me later. See you later,” ujarnya kali ini dengan senyumnya seperti biasa sebelum akhirnya ia benar-benar menghilang sekarang.

Junhyung menyeringai. Mungkinkah ia bisa tetap menghubungi dan bertemu dengan gadis itu setelah apa yang terjadi?

Benar mungkin ini saatnya. Saat dimana ia harus bangun dan menyadarkan logikanya. Kenyataan dimana gadis itu tak akan menjadi gadisnya. Kenyataan dimana sampai kapanpun, hatinya tak akan menjadi miliknya.

Junhyung menyalakan mesinnya sebelum ia menatap gedung di sampingnya dengan masam.

.

.

.

“No, Bae. I’ll stop from now. Thanks for everything.”

 .

.

Mungkin benar, saat dimana semua perjuangan terlihat sia-sia. Dimana semua perjuangan seakan tak pernah terlihat. Mungkin meninggalkan akan terasa lebih baik.

And now, he’ll really leave.

.

.

-Fin-

Advertisements

7 thoughts on “[A December To Remember] Let Her Go

  1. AAAAAAH KAN KAN KAN ABANG JOKER DITINGGALIN LAGI GALAU LAGI 😠
    Lagian abang ga kapok juga, udah berapa FF bang digantungun suzy, dia lebih milih limin bang yang sabar 😂😂
    Gamau tau pokoknya sora harus bikin FF lagi dan kasih abang joker pacar, aku as reader aja capek ama mbak suzy masa abang joker ga kapok2 😂
    Pleaseeee

    Like

    1. Lmao—hahaha kan yg sama Suzy pernah ga galau kok :”) haha iya nih lagi mikir bnernya Junhyung ini enaknya dijodohin sama sapa? Ama aku ato gmn/? Hahaha ditinggu proses pemikiran sapa yang bakal jadi jodoh Junhyung nntinya/?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s