Angst · December Project · FF Project · G · Genre · Length · Rating · Romance · Supranatural · Two Shoot

[A December To Remember] Awake PART 1


Author: LovA & qL^^

Title: Awake

Prompt: Such a sweet dream, that’s You

Casts: Yook Sungjae, Lee Hye Soo (OC)

Genre: Angst, Romance, Supernatural

Length: Two shot

Rating: General (G)

Disclaimer: This is work of fan fiction. All mentioned artists belonged to themselves and agencies. No profit is intended. Please, do not copy paste!

Author’s note: Karena ini adalah ff pertamaku, tolong berikan cinta untuk author qL^^ yaaa~ Jeongmal Gomawoooo #bow

***

Awake

Chapter 1

Such a sweet dream, that’s You ….

“Sungjae-ah, aku akan pergi sekarang,” nada bicara yang sama, tatapan yang sama, dan senyum yang sama pula.

“Jangan pergi,” ucapku lagi.

“Aku pergi untuk kembali, Sungjae-ah,” masih dengan nada, tatapan, dan senyumnya seperti biasa.

“Pembohong! Semua yang kau katakan adalah kebohongan,” ucapku lagi.

Ani, tidak pernah sekalipun aku berbohong padamu, Sungjae-ah,” kali ini dengan nada lebih pelan, tatapan yang cukup untuk menyayat hatiku dan senyum yang telah memudar.

“Ini bukan karena aku tidak mempercayaimu, justru hanya karena ini yang bisa aku lakukan sekarang, berusaha untuk bertahan, dan itu sulit, Hyesoo-ya,” ucapku frustasi dan tanpa sadar menitikkan air mataku.

“Bukankah kau tau seberapa besar aku mencintaimu, hmm?” dia bertanya padaku.

“Dan tidak bisakah kau perlihatkan rasa cinta itu lagi padaku sekarang?” pintaku. Dia melihatku, tepat di manik mataku, lalu tersenyum dengan senyumnya yang selalu mampu membuatku merasa tenang dan aman. “Saranghae, Yook Sungjae,” hanya dengan kalimat sesederhana itu dan kemudian dia pergi.

***

Lagi, mimpi yang sama yang terus berulang. Tidak ada satu pun hal yang bisa menghentikan mimpi itu datang. Well, bukannya aku tidak melakukan sesuatu. Aku berusaha. Sungguh! Namun rupanya usahaku mengunjungi psikiater sama sekali tidak berpengaruh.

Aku bangun dari tempat tidurku dan menatap kosong ke arah jendela kamarku. Sepi, sunyi, kosong, hampa, sendiri. Kata apa lagi yang bisa mendeskripsikan keadaanku saat ini? Kau pernah berkata bahwa sunyi itu duka. Sunyi dan sepi mempunyai hubungan erat dengan kesendirian. Dan manusia umumnya takut dengan kesendiriannya. Mereka takut kehilangan orang-orang yang mereka cintai ataupun yang mencintai mereka. Semua manusia pasti akan takut sepi. Ketika kaya manusia akan takut kehilangan harta bendanya, ketika berpacaran mereka akan takut kehilangan kekasihnya, ketika punya keluarga mereka akan takut kehilangan keluarganya. Seperti itulah siklus kehidupan seorang manusia. Bukankah kau yang mengajariku tentang teori ini, Hyesoo?

Lelah, aku beranjak dari tempat tidurku menuju dapur dan meneguk segelas air. Mungkin air akan bisa membuat otakku dingin dan memompa kembali peredaran darah dalam tubuhku.

“Ting, tong,” bunyi bel dari apartemenku mengalihkan perhatianku dari mimpi tentang Hyesoo. Pelan, aku melangkah dengan pelan dan kemudian membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang. Dan aku melihatnya, berdiri disana dengan senyumnya.

“Yaa! Wae geurae?” ucapnya lalu mendorong diriku agar ia dapat masuk ke dalam apartemenku. Aku masih terdiam, tidak bereaksi sama sekali dengan kedatangannya barusan. Apakah ini nyata? Hyesoo? Dia ada disini sekarang? Aku terus mengulang pertanyaan yang sama dalam otakku.

“Hyesoo-ya, kau disini?” tanyaku menyusul Hyesoo yang sibuk menata barang belanjaan yang ia beli.

“Berhenti menanyakan hal yang aneh-aneh, Sungjae,” dan aku langsung memeluknya dengan girang dan aku melihatnya lagi, senyum itu. Senyum Hyesoo.

***

“Sungjae-ah, apa yang akan kau lakukan besok?” dia bertanya padaku dengan nada manjanya.

“Aku? Besok? Bukan apa yang akan aku lakukan Hyesoo-ya, tapi apa yang akan kita lakukan,” ralatku sambil mencubit pelan hidung Hyesoo.

“Huaaa, jeongmal? Kau akan melakukan apapun yang aku minta?” jawabnya dengan mata yang berbinar-binar. Ekspresi yang selalu aku suka dari dirinya. Dia akan selalu menunjukkan kapan dia bahagia, sedih, kecewa, marah, dan berbagai ekspresi lainnya hanya dari sorot matanya.

Keurom, apapun yang ingin kau lakukan, Hyesoo-ya,” jawabku.

“Baiklah, aku akan menuliskan apa saja yang ingin aku lakukan bersamamu, Sungjae-ah,” dan dia mulai menuliskan satu persatu dalam notes yang selalu ia bawa kemana-kemana. Barang wajib yang tak akan ia lupakan, saat aku bertanya padanya dulu.

***

Hyesoo sudah menungguku selama dua jam yang lalu saat aku bilang aku akan pulang cepat hari ini sewaktu Hyesoo menelepon dan menanyakan kapan aku pulang. Apakah aku akan mengecewakannya lagi? Tidak, jangan lagi Tuhan. Aku mohon, biarkan aku membahagiakan Hyesoo dengan semua keinginannya.

“Makanannya sudah dingin. Mengapa kau pulang terlambat?” dia memandangku dan berusaha untuk tidak menangis. Aku tahu pertahanannya akan runtuh sebentar lagi. Jadi aku berjalan pelan ke arahnya dan memeluknya, berharap itu bisa menenangkan dan meredam rasa sedihnya.

Mianhae, aku benar-benar sudah bersiap untuk pulang saat kau menelepon tadi. Tapi kemudian ada rapat mendadak yang harus aku lakukan,” jelasku. Dia hanya diam, tidak memberikan respon apapun.

“Apa kau marah?” tanyaku sambil melepaskan pelukanku.

Dia menghembuskan napasnya pelan, “Ani, nan gwenchana,” jawabnya.

“Maaf, karena makanannya sudah dingin,” ucapnya lagi seraya melihat makanan yang sudah terhidang rapi di atas meja.

Aigoo, ini salahku Hyesoo-ya. Bagaimana kalo kita pesan ayam saja?” tawarku.

“Pesankan juga Cola, ya,” pintanya. Dan aku hanya tertawa mendengar permintaannya.

“Tentu saja, Cola dan ayam,” jawabku dan kemudian menelepon pesanan kami malam itu.

***

Sudah seminggu Hyesoo kembali ke sisiku. Terkadang aku sering bertanya kepada diriku sendiri dan menegaskannya berulang kali, apakah ini nyata? Apa mungkin ini tidaklah nyata? Dan jika ini nyata, akankah semuanya baik-baik saja?

Sejauh ini kami sudah melakukan banyak hal sesuai dengan keinginan yang Hyesoo tulis dalam notes-nya. Mulai dari bersepeda bersama, melihat kembang api, berkunjung ke Namsan Tower, naik wahana komedi putar, dan masih banyak lagi. Dan Hyesoo selalu mengabadikan semua moment itu. Hari ini Hyesoo ingin piknik di bukit yang ada di belakang rumahnya saat di desa dulu. Dia masih sibuk berkutat di dapur saat aku menyapanya dengan membawa perlengkapan untuk piknik.

“Oh, kau sudah selesai? Sebentar lagi aku juga selesai,” ucapnya ceria.

Arraseo, setelah itu kita akan berangkat,” ucapku.

“Ne~ kajja, ujarnya sambil menggandeng tanganku.

***

“Hyesoo-ya, apakah semua ini nyata?” tanyaku. Saat ini kami sedang duduk di bangku tak jauh dari bukit tempat kami piknik tadi. Dan dia menatapku bingung.

“Maksudku, kau yang bersamaku, apakah kau nyata? Semua yang kita lakukan ini nyata?” tanyaku lagi. Dia akhirnya mengerti maksud pertanyaanku. Akan tetapi, bukannya menjawab pertanyaanku, dia hanya tersenyum kemudian balik bertanya, “Menurutmu, apakah aku ini nyata? Semua ini nyata?”

Dan itu membuatku semakin bingung. Apakah yang aku pikirkan selama ini benar? Hyesoo tidaklah nyata? Apakah ini semua adalah dunia fantasi yang aku ciptakan sendiri? Apakah ini penawaran yang tanpa sengaja kusetujui ketika itu? Bayang-bayang batas waktu satu minggu sulit kuenyahkan.

“Kau tidaklah nyata, bukan?” tanyaku. Dan Hyesoo hanya tersenyum seperti biasanya. Senyum yang selalu aku sukai, Yook Sungjae. Satu-satunya yang di cintai Lee Hye Soo.

“Tanyakan pada hatimu, Sungjae-ah. Kau sudah bertahan lebih dari cukup. Sekarang saatnya melepaskan masa lalumu, Sungjae-ah. Ingatlah, aku selalu mendukungmu apapun yang kau lakukan. Mendoakanmu setulus hatiku adalah bagian dari mencintaimu yang tak pernah kau tahu waktu, tempat, juga banyaknya,” ucapnya sambil memelukku.

Dan setelah itu aku benar-benar tersadar bahwa Hyesoo tidak nyata. Aku melepaskan pelukan Hyesoo dan mengenggam tangannya erat.

Saranghae, Lee Hye Soo,” ucapku.

Nado saranghae, Yook Sungjae,” jawabnya. Dan aku mendengar kalimat yang ingin aku dengar lagi dari Hyesoo untuk terakhir kalinya.

***

Aku memasuki apartemenku dan meletakkan peralatan piknik yang kubawa tadi. Kemudian berjalan pelan menuju pigura yang ada di atas nakas kamarku. Foto pertamaku dengan Hyesoo, saat merayakan ulangtahunku. Di sekitar pigura itu terdapat beberapa lembar foto kegiatan yang aku lakukan bersama Hyesoo. Akan tetapi, aku hanya menemukan gambarku seorang diri, tanpa sosok Hyesoo disisiku.

Gomawo, Hyesoo-ya. Kau telah memberikanku kesempatan untuk melakukan apapun yang ingin kau lakukan dulu,” ucapku sambil memandang foto Hyesoo yang ada di pigura. Akhirnya, aku terbangun dari mimpiku yang sama yang terus berulang tentang Hyesoo.

*to be continued*

 

Notes from LovA:

halohaaa! Dengan LovA disini. Ff apa ini? Huhuhu 😥 maafkaaaan, sejujurnya ini kali pertamaku nulis T.T terlalu banyak kekurangan dan sangat tidak berbakat bukan? Aku juga tidak tau kenapa menyutujui ajakan qL untuk kolaborasi. Miaaaaaan kolaborasi ini gagal dan hancur karena akuuu. qL, maafkaaaan aku. Well, tetap berharap akan ada review nantinya terhadap ff kolaborasi ini. Bukan untukku, untuk qL saja juga tidak mengapa. qL akan melanjutkan part 2 dari ff kolaborasi ini. Silahkan beri cinta kalian untuk qL yaaa ^^ terimakasih~ annyeong #bow

Notes from qL^^:

Hi pembaca MNJFF! Masih ingat sama qL^^ dan FF anti-mianstreamnya ‘White Envelope’? Kali ini, aku ikut berpartisipasi lagi, yuhuu~ Kesannya chapter ini udah selesai, ya? Tapi kalau kalian jeli baca genre di atas, kalian pasti bertanya-tanya mana elemen supernaturalnya?

Penasaran? So, stay tuned, guys, because this story isn’t finished yet!

Advertisements

3 thoughts on “[A December To Remember] Awake PART 1

  1. Woah! Ini fanfiction collab kedua pada project ini kan? lmao—chukkae LovA dan qL. Jadi ini pertama kalinya kamu nulis lovA? Hey jangan merendah gitu, ini sudah bagus kok. Awal yg bagus utk menulis. Tulisan pertmaku juga jauh dikatakan bagus. Entah mau kekiri ato kekanan haha gajelas lah. Tapi ini kamu masih punya alur yang jelas. Cuman ada yg hrus diperbaiki di beberapa part 😉 you can improve it in the future. Dan ceritanya, aku jadi keinget sungjae yg rambutnya blonde hahaha. Jadi ceritanya ga bisa move on gt? Wah gasabar baca lanjutannya

    Like

  2. Hai, Sora 🙂 Salam kenal~ makasih buat reviewnya yaa. Diluar prediksi bisa dapat tanggapan sepositif ini hehe I’m not confident with myself, actually huhu

    Iyaa, ini kali pertama aku nulis ff haha dan entah kegilaan darimana mau di ajak collab sama author sekelas kayak qL^^ so thanks ya buat reviewnya. Akan diperbaiki di tulisan berikutnya 🙂 xoxo

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s