December Project · FF Project · Friendship · Genre · Length · One Shoot · PG -15 · Rating · School Life

[A December To Remember] When A Man Falls in Love


When A Man Falls in Love

by ANee

Yang Yoseob | Jung Jessica | Lee Gikwang

School Life | Friendship | Oneshoot

PG-15

“Ever Since I Met You, Every Day Is Different.”

.

Gikwang memandang teman di kiri bangkunya dengan seksama. Kemarin anak itu tidak masuk tanpa izin, singkatnya dia bolos, dan belum ada kendaraan berkecepatan tinggi yang dengan hebat mengantar temannya sekilat ini. Takut kalau-kalau dia hanya bagian dari ilusi atau makhluk yang berperan dalam sambungan mimpinya, Gikwang mengadakan konversasi.

“Yo, ini benar kau?” tanya Gikwang memastikan, sembari menggocangkan bahu sang karib.

“Yang jelas aku bukan hantu gentayangan yang mati lantaran minum susu basi pagi tadi,” balas Yoseob diakhiri dengan senyum artifisial—meski lesung pipitnya tetap eksis.

Bukan tanpa alasan presensi seorang Yoseob di pagi—pagi sekali—ini mengundang tanya keheranan, pasalnya siswa perawakan sedang itu selalu kalah dari bunyi bel sekolah. Tidak jarang terkena semburan amarah Guru Han selaku wali kelas mereka. Ah, bisa jadi Yoseob memang sedang bosan tidur atau telinganya mulai berasap lantaran terlalu banyak diomeli.

“Jangan memasang wajah bodoh begitu. Kau membuatku merasa bersalah.”

“Apa?”

“Mulai hari ini biasakan dirimu melihatku duduk di kelas sebelum kau. Aku tidak bisa lagi mengabaikan alarm pagi, entahlah, tapi aku yakin ini bagian dari keajaiban bulan Desember.”

Anggukan tolol Gikwang menuai tawa rendah Yoseob. Ia hanya merasa ini hal luar biasa dalam pencapaian hidup teman seperjuangannya, tapi pasti juga ada musabab yang memicu. Ah, masa bodoh. Toh ia bukan tipikal orang yang suka ikut campur, memberi Yoseob selamat ialah tindakan paling logis yang diperintahkan otaknya. Yoseob terpingkal, buku biologi yang tadi ia pegang terbanting ke meja.

.

Yoseob tahu—tahu saja—ia akan mendapat tatapan aneh bercampur kagum dari teman-temannya, tepat dimulai pagi ini saat kakinya terayun menyeberangi pagar sekolah dengan kedua tangan tersemat di saku celana, serta earphone yang bertengger nyaman menutup daun telinga. Para mata yang tertuju padanya pasti menganggap ia tengah kerasukan atau bisa jadi itu kembaran Yang Yoseob yang lama hilang. Ah, kontempilasi Yoseob terlalu mengada-ada soal anggapan orang terhadap dirinya—ngaco.

Baiklah, persepsi orang lain tidak begitu penting baginya, jujur saja. Sebab moto hidup Yoseob adalah, “Aku adalah aku. Itulah yang membuatku luar biasa.” Dia mau bertindak layaknya gangster, itu luar biasa. Sering diberi imbalan hukuman dari guru, itu luar biasa. Tidak peduli apakah matematika itu pelajaran pokok, itu luar biasa. Tak acuh pada junior yang melirik keelokan parasnya, itu luar biasa. Maka, transformasi dari segala macam label buruk menuju baik tentu saja tambah luar biasa.

Baginya, pandangan positif dari satu orang saja itu cukup, sebab asa di hidupnya memang tak pernah muluk-muluk. Masa bodoh jika ia dijuluki mencari muka atau apa, toh memang ia sedang berjuang merenggut atensi seseorang. Iya, bukan tanpa alasan ia melakukan ini, ada imbalan yang ingin ia terima. Hei, adakah orang yang benar-benar tulus di dunia yang kejam ini? Bahkan ketika kau rajin belajar, ada nilai sempurna yang kau harapkan. Ketika ibumu menyuruh beli pembalut, kau abaikan rasa malu dan lebih senang dibilang anak berbakti. Iya, ‘kan?

Selalu ada alasan di setiap tindakan.

Dan Yoseob menjadikan Jessica sebagai alasan tidakan positifnya hari ini dan seterusnya. Gadis yang kini tengah asyik membaca buku—entah apa—di bangku paling depan, sederet dengan posisinya di paling belakang. Jessica bukan murid pindahan, tapi Yoseob baru sadar ada malaikat tak bersayap satu kelas dengannya satu bulan ini.

Kemarin lusa neneknya terpaksa dilarikan ke rumah sakit lantaran serangan jantung, dokter bilang harus rawat inap beberapa hari. Yoseob kalut, kekusutan tercermin di wajahnya, pasalnya ia di Gyeonggi hanya bersama sang nenek. Ia anak piatu, ayahnya tidak cukup peduli, meski masih sering mentransfer uang untuk biaya hidupnya.

Yoseob dikategorikan anak nakal, sering telat bangun pagi, belajar tidak pernah, bahkan ketika di Seoul ia sekali berurusan dengan polisi sebab ikut tragedi lempar senjata antarsekolah, pokoknya dia itu pelajar yang tidak kelihatan seperti pelajar—urakan. Namun, di sisi lain, ia berperilaku terpuji pada neneknya, membuat wanita dengan kerutan jelas di wajahnya itu tidak betah marah setiap kali Yoseob telat bangun. Ia selalu berhasil merayu sang nenek untuk dimaafkan.

Nenek memang pernah bilang bahwa ia akan dirawat dengan kasih, bukan dengan paksaan. Beliau percaya kenakalan Yoseob lambat laun akan reda oleh sentuhan lembut, bukan pukulan ataupun hal kasar lainnya. Ah, galau rasanya jika sesekali merenungi perjuangan Nenek demi dirinya, tapi Yoseob memang tetaplah Yoseob. Tentu saja sebelum bersua malaikat tanpa sayapnya.

Di hari itu juga, seorang gadis bersurai gelombang menghampirinya bersama lengkung bibir yang merenggut atensi. Gadis yang bukan orang asing, hanya saja belum pernah mereka bertegur sapa apalagi ngobrol berdua. Gadis yang Yoseob tahu begitu rajin laiknya siswi teladan, selalu dipuji setiap guru mata pelajaran lantaran nilainya tidak pernah mengecewakan. Gadis yang tidak pernah ikut serta pelajaran olah raga, tapi Yoseob pun tak tahu pasti alasannya.

Tangan hangat gadis itu menepuk pundaknya lembut hingga menyisakan detakan tak wajar di sebelah dada. Ada gejolak aneh di abdomennya selepas gadis itu memberi ia dukungan verbal.

Tidak apa-apa, segala hal pasti berlalu dan kau akan baik-baik saja.” Begitu tutur gadis itu selepas Yoseob menceritakan asal mula ia menunduk dalam di lorong rumah sakit, sendirian.

Siapa pun bisa menelurkan silabel penenang semacam itu, tapi sayangnya tidak semua dari mereka menjadi yang pertama. Itulah mengapa Jessica menjelma spesial di mata serta hati Yoseob.

.

Kelas 2-3 hanya menyisakan beberapa murid, sebab bel masuk belum memekik. Gikwang bahkan memutuskan untuk ke kantin, bertekad menghentikan cacing-cacing di perut yang melangsungkan konser tunggal. Yoseob memilih bertahan di bangkunya, kembali memasang earphone, namun tidak lagi memerhatikan deret kata di buku yang tadi tidak sengaja ia banting, melainkan dwimaniknya tersihir oleh punggung Jessica—yang sudah tentu berlapis kain blazer. Hari ini helainya terikat kuncir kuning, kontras dengan warna jelaga yang mendominasi.

Di balik punggung Jessica, Yoseob tersenyum lirih. Berkontemplasi apakah ia masih bisa dikategorikan normal untuk ukuran lelaki yang jatuh cinta? Apakah tindakannya memalukan? Dan yang terpenting, apakah ini hanya akan berlangsung sekejap?

Ia yang bangun di awal pagi, ia yang mulai tertarik pada pelajaran matematika, ia yang rajin ke perpustakaan, ia yang disayang para guru, ia yang dikagumi teman-temannya, ia yang membalas senyum sayu Jessica, ia yang tidak pernah membuat Nenek jengkel, dan segala ia yang luar biasa.

Apakah seterusnya begini meski Jessica tidak melihatnya sebagaimana seorang gadis memandang lawan jenis? Semoga saja.

Jika beruntung, sepertinya berharap dikelompokkan bersama gadis pujaan di setiap atau di beberapa tugas tidak buruk juga. Lagi-lagi Yoseob tersenyum geli, heran pada diri sendiri yang tiba-tiba diserang sindrom asmara begini.

.

Hari berlari menuju bulan dan bulan merangkak menggapai tahun, setiap semoga yang Yoseob semogakan dengan sendirinya terjawab. Walaupun proposal belum pernah ia ajukan pada Jessica, Dewi Fortuna tidak memihaknya dua semester ini; tidak pernah berada di kelompok yang sama, putaran tempat duduk pun tidak menakdirkan kedekatan mereka.

Tapi setidaknya Yoseob diberi satu kesempatan dimana Jessica berhasil menambah volume debaran di jantungnya jadi berkali-kali lipat, saat tidak sengaja duduk bersebelahan di perpustakaan. Jessica menyapanya dan ia tidak bisa untuk tidak berteriak girang dalam hati.

“Hai, Yoseob. Bagaimana kabar nenekmu?”

“Oh, hai, J,” balasnya tergagap. Jessica mengerutkan kening, mungkin heran dengan panggilan yang tak biasa murid lain ucapkan. “Nenekku … syukurlah tidak pernah serangan lagi,” imbuhnya sembari menggaruk tengkuk.

Lantas saling tersenyum canggung, dan konversasi berakhir begitu saja. Sama-sama takut dimarahi petugas perpustakaan jika tidak segera fokus pada buku bacaan masing-masing. Ah, membaca dalam keadaan deg-degan bukan perkara baik—atensinya kabur.

Hingga akhirnya bel berteriak memisahkan keduanya, Yoseob mengumpat tanpa suara. Naik ke kelas tiga terbukti tidak membuatnya semakin cerdas tapi justru sebaliknya, melewatkan peluang emas yang tidak selalu datang. Ah.

Iya, keduanya kini sudah tidak satu ruangan. Kenaikan kelas mengharuskan sistim acak, segala jenis siswa dijadikan satu adonan, berharap para genius berbagi ilmunya pada yang lain—para jenis kurang beruntung. Baiklah, toh itu akan baik untuk kondisi jantungnya; tidak terus menerus berdentum garang.

Asal tahu saja, Yoseob hanyalah remaja nakal—yang berpendirian layaknya pria dewasa—yang belum pernah mencoba hal mubazir semacam kencan apalagi pacaran, sebab baginya jomblo adalah gaya hidup bebas lain yang tidak banyak orang menganggapnya kesendirian nan mengasyikkan.

Laki-laki berprinsip tentu akan lebih dihormati wanita, misalnya saja prinsip untuk tidak mendekati bahkan mengencani teman yang dikagumi sampai hati dan kedudukannya benar-benar tertata rapi. Seperti itulah prinsip seorang Yoseob selama ini, bertekad untuk tidak menyuarakan perasaannya, terutama pada ia yang disuka. Tunggu, tunggu dulu sampai dirinya tidak akan ditolak, ditinggalkan, dan dikecewakan.

.

Matahari dan bulan saling beriringan mengekspresikan peran, tidak mencela satu sama lain, sebab tahu tidak ada di antara keduanya yang kepalang merugikan. Harusnya hidup ini juga demikian, berlangsung damai tidak saling mengusik. Sesekali bersua, dan menimbulkan fenomena langka yang justru ditunggu banyak orang.

Bisa jadi seperti itu jalan pikiran Yoseob dalam merespons gejolak aneh di dirinya.

Omong-omong, sudah beberapa hari ini presensi Jessica tidak tersapu dwimaniknya. Bertanya-tanya, hanya pada diri sendiri, berimbas jawaban kosong yang dituai. Pribadi konyol seperti Yoseob akan ditertawakan jika tiba-tiba menanyakan eksistensi siswi pendiam layaknya Jessica. Apa mungkin bertanya pada Gikwang tidak akan menimbulkan masalah?

“Um, Gi, kau ingat teman sekelas kita yang genius itu? Jung Jessica. Aku ingin meminjam beberapa buku padanya,” tuturnya cepat sekali sampai Gikwang melongo, sementara di atas paha, sebelah tangan Yoseob yang terbebas dari sumpit bergerak gelisah.

Si lelaki bertampang bodoh diam sejemang, mengingat-ingat sesuatu, mungkin. “Ah, bukankah dia sudah tidak sekolah di sini?” jawabnya justru bernada tanya.

Sumpit Yoseob sudah melayang, bahkan mulutnya sudah terbuka siap melahap, tapi segera turun, belah bibirnya kembali merapat. Kabar mengejutkan yang dibawa Gikwang membuat tangannya bergetar, perutnya seketika mual, dan pikirannya tidak menentu—gelisah. Ia belum bisa dikatakan dekat dengan sang gadis pujaan, nomor ponsel saja mereka tidak saling tukar.

“Yang benar saja! Tempo hari aku bertemu dengannya di perpustakaan. Kau salah orang mungkin.”

“Hanya dengar dari beberapa anak perempuan di kelas kita, sih.”

Lelaki berwajah kecil itu kehilangan kewarasan sesaat, meninggalkan Gikwang yang meneriaki namanya supaya bergegas kembali makan. Yoseob tidak peduli, ruang guru menjadi destinasinya saat ini.

.

Kekhawatiran lebih mendominasi, sampai rasanya akal tak lagi diperlukan untuk mengontrol gejolak emosi. Mengingat cinta itu buta dan tuli, seyogianya Yoseob mengaku saja kalau memang ia hanya membuang waktu selama ini. Dalam hati ia memaki diri sendiri.

Peluh merembes dari pori-pori keningnya, serta napas mengap-mengap menjadi keadaan pertama Yoseob setelah berlarian sepanjang koridor hingga lantai dua—mengabaikan tatapan ganjil beberapa siswa—beruntung ia tak terjengkang atau apa di tangga, dan berhasil berhenti sempurna di tempat tujuan—tepatnya di depan meja Guru Han. Yoseob tahu—tahu saja—jika sang guru setia menjadi wali kelas Jessica tahun ini. Semoga beliau bisa melegakan sedikit rasa sesak yang menghimpit batinnya.

Malam itu, di lorong rumah sakit ketika Jessica menyelamatkan sebagian hidupnya, Yoseob sempat bertanya perkara apa yang membuat gadis itu sampai berada di sana. Jessica berdalih tengah berobat dan tidak sengaja melihat postur tubuh yang tak asing, serta membenarkan rumor soal sakit asmanya di sela-sela jawaban. Yoseob percaya dengan gampangnya, toh ikut campur justru akan membuat temannya tak nyaman, pikirnya.

Tapi detik ini, kebenaran terbongkar menendang telinga sekaligus abdomennya. Yoseob terkesiap saat seorang guru dengan kaca mata cembung yang bertengger di pangkal hidung, membagikan info cuma-cuma mengenai mantan teman sekelasnya. Fakta berbicara, jantung Jessica bermasalah, bukan sekadar asma seperti yang pernah ia katakan. Dan gadis itu kini tengah menjalani pengobatan di luar negeri—terpaksa menunda sekolah.

Kakinya seketika lemas bagai jeli.

Marah pada diri sendiri ialah hal wajar yang membuat dirinya nyaris menangis, jika tidak cepat-cepat sadar beberapa guru tengah mengawasinya. Guru Han memberikan dorongan moral, meminta Yoseob untuk setidaknya sekali mengirim pesan pada Jessica. Dan boleh mengirim lagi untuk kedua kali jikalau pesan pertama terbalas. Murid yang dulunya—dulu sekali—membangkang, hanya bisa mengangguk dan menyembunyikan wajahnya dalam tundukan.

“Tetap kagumi dia, terus melangkah maju, suatu hari nanti meski kau menyesal akan satu hal, hal yang lain tak akan kau sesali.”

Yoseob tidak tahu bagaimana perasaan yang selama ini ia pendam bisa tiba-tiba diketahui oleh Guru Han, padahal ia kira sikapnya sudah biasa saja. Apa mungkin gurunya ini bisa melihat apa yang orang lain tidak lihat. O, jangan sampai celana dalamnya juga tampak jelas oleh kasat mata beliau.

Ah, lupakan. Hal pertama yang harus ia lakukan bukan justru berprasangka buruk pada guru sendiri, melainkan berterima kasih sebab berkatnya nomor ponsel Jessica sudah ditangan. Meski sebuah realitas mengimpit dadanya, menuntun tangan beradu dengan layar ponsel setelah bokongnya nyaman terduduk di bangku kelas—sama sekali lupa kembali ke kantin.

Halo, Jessica, ini aku Yang Yoseob, teman yang mungkin eksistensinya hanya seperti angin dalam hidupmu. Tidak ingin terbang terlalu tinggi, pada ayam saja aku kalah—tidak punya sayap. Tapi, dengan jari bergetar aku mengirim pesan ini, berharap sedikit semangat dapat kusuntikkan pada teman inspiratifku, dirimu. Selamat berjuang, seperti yang pernah kau katakan padaku, percaya bahwa segala hal pasti berlalu dan kau akan baik-baik saja. Aku siap menunggumu, jadi jangan jadi milik siapa pun dulu ya sebelum bertemu denganku hehehe. Maaf, tapi aku tidak sedang bercanda. Juga, aku bertekad untuk masuk jurusan kedokteran setelah lulus nanti, doakan aku, dan jangan lupa patuhi kata dokter sebelum mematuhi kata-kataku di masa depan. Fighting!

Kepercayaan diri Yoseob meningkat, dan memberi impak terkikik pada dirinya sendiri. Tekadnya memang bulat untuk nanti belajar ilmu kedokteran, ia suka, ditambah ia akan lebih berguna untuk Jessica dan Nenek nantinya. Lantas tawa kecil itu berjeda saat Gikwang tiba-tiba menaruh nampan di atas mejanya.

“Hei, Yo! Ini nasinya menangis, kau tahu. Habiskan!”

 

—END—

 

 

Advertisements

12 thoughts on “[A December To Remember] When A Man Falls in Love

  1. Hey anee!! Finally your fanfiction is published! First of all, seperti biasanya aku berterima kasih byk krn km mau menyempatkan diri demi memeriahkan ultah MNJ ini 😉 entah kenapa aku dibuat kagum sama beberapa ff yang dikirimin demi project ini—hal luar biasanya adalah semua kata dalam semua cerita bener2 bagus. And so does your fanfiction! Hehehe. Aku suka ceritanya—meski uda lama bgt aku ga baca cerita ttg sekolah haha. Yang yoseob yang bengal akhirnya berubah saat dia jaruh cinta. Aku suka banget kata-kata yang yang yoseob krim buat Jessica. Itu manis Dan romantic sekali. Hahaha. Oh ya mau tanya nih, untuk seyogianya, apa ga seharusbya seyogyanya? Hehehe maafkan kekepoan saya. Anyway Sora’s here 😉 I hope we can be good friends

    Liked by 1 person

    1. Haaii kak sora? atau sora aja heehee anw, aku line 95 😁

      Makasih atas projectnya juga, jujur aku sebelum ini ngga tau mnj, terus ada temen yg reblog, dan tertarik ikut 😁 ceritanya habis rest terus nyari2 ide yg bertebaran di bulan desember ㅋㅋㅋ
      Duh, cerewet bgt aku. Maafkeun ~

      Anw, soal seyogianya dan seyogyanya. Aku cuma manut kbbi sih, kak. Dan di sana tertulis yg bener itu seyogianya 😁 cmiiw~

      Lets be friend!! ^^

      Like

      1. Hahaha terserah deh panggil aku apa 😉 sora boleh 😉 asal jangan Thor/? Kebayang sama Thor berbadan gedhe heheh. Oh iya y? Hehehe berarti perbemdaharaanku yang kurang :”’) maafkeun! Dan belum tahu MNJ ya awalnya? Hihihi aku sedih/? Lmao canda. Next time krim ff dimari yes

        Liked by 1 person

      2. Gpp kok kak sora (oke, ngga tau knp aku lebih nyaman manggil kakak ehe) dan soal thor aku langsung keinget harpot ㅋㅋㅋ

        maafkeun yaa kak, tapi sekarang kan udah tauu 😘

        Like

  2. That was sweet dan sarat makna ya walau ceritanya tidak terlalu eksplosif dgn ide yg tdk begitu segar tapi aku suka diksinya XD semoga yg disemogakan, penegasan2 dgn kata ulang tertentu, itu juga manis bgt.. keep writing!

    Liked by 1 person

    1. haii liii … iya ih ini idenya pasaran banget yaa, tapi emang tujuanku bukan soal ide yang fresh atau apa, tapi lebih ke pesannya bikos yeah, banyak remaja jaman sekarang yang mudah jatuh cinta tapi susah mengontrolnya kekeke dan kebanyakan tidak memberi pengaruh positif tapi justru sebaliknya. nah, semoga yoseob bisa ngasi pencerahan barang sedikit ke mereka-mereka ehm khususnya aku mungkin yaa 😀

      anw, thank yaa lii buat reviewnya! as always, keep writing, too!!! ^^

      Like

  3. Lyat cover nya aja aq udah lagsg deja vu. . .

    aq kog mau baca lagi sih. takutnya ada tambahan lagi. dan ternyata iya. jadi gak rugi deh baca lagi.
    ini lebih manis dri yg q harepin :-* Lebih rapi . . .mau dibulet2 kyak apa juga inti ceritanya masih sama 😀 jadi pas baca ini aq cuma harus fokus ke diksinya. . .

    Uri Yoseob, aq dftar jadi pasien pertama :-*:-*
    #abaikanscoupskyungsooyeoonehuikino

    Liked by 1 person

    1. Deja vu apa nih kak riin?? kok aku kepo yaaa 😁😁

      Hahaha thankisseu lho kak mau baca lagi dan lagiii… 😘😘 (yoseob) yuhuuu kamu boleh jadi pasien pertama setelah jessica dan nenekku yaa 😝😝

      Anw, thanks for your time kak riin! iluvu~ 😘

      Like

  4. Endingnya beda ya? Haha gapapa sih yg ini lebih manisssss kaya aku dong /digiles/

    As always, selalu suka sama diksi diksimu yg bisa bikin cerita ini ngalir gitu aja sampe ga kerasa udah ending aja huh terus apa lagi ya? Hmm gaada sih, suka aja. Wis. Suka sama yeosobnya /ga/

    Btw ini berapa kali ngedit? Aku ganemu typo loh, luar biasa haha keep writing ane sayang muah!♥️

    Liked by 1 person

  5. haaii ay!!! hahaha sik, mau makasih dulu bikos udah mau repot2 baca 😀

    yup! endingnya ngga seperti dugaan awal, bikos itu terlalu umm i know that’s so baaaad. dan alurnya kecepetan ehe
    makasih udah bilang aku manis /eh 😀 berapa kali ngedit? berkali-kali wkwkwk ada yang ngeracunin aku smp candu beta tulisan smp ngga ada typo ay, jadi yaa gitu deh hahaha /digiles

    oke, ay, sekali lagi makasiih thankisseu muuaah! ♥️♥️

    Like

  6. Ngubek ff di mari eh nemu ff cast yoseob. Ini bagus banget, ceritanya emang singkat tp diksinya luar biasa bagus. Alurnya tuh ngalir gitu aja dan ga kerasa udah end. Kagum deh bener, rapi dan gaada typo. Nice story!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s