AU · December Project · FF Project · fluff · G · Genre · Length · Rating · Romance · Slight!Angst · Surerealism · Two Shoot

[A December To Remember] Bubbleone PART 1


BUBBLONE —

 

©2016, BaekMinJi93 & Gxchoxpie

 

Starring

SVT’s Kim Mingyu with OC’s Nessa Han

 

| AU! – Romance – Fluffslight! Angst – Surrealism | Twoshots | General |

Disclaimer

We just own the storyline

 

Part 1:

I just really like you, my heart’s never been attracted to someone like this.

 

== HAPPY READING ==

 

Mayoritas insan di dunia menginginkan hidup dengan penuh kesan kemewahan dan perhatian dari lingkungan sekitar. Di samping status mayoritas yang kukatakan sebelumnya, beberapa insan di antaranya bahkan lebih nyaman memilih untuk berkencan manis dengan ketenangan—dengan kata lain mereka lebih memilih untuk menutup diri dan hidup di dalam bayang-bayang orang lain.

Termasuk Kim Mingyu.

Pemuda yang baru saja menginjak usia dua puluh tahun pada bulan April lalu itu hampir tak dikenal oleh seluruh rekan kampusnya. Presensinya selalu saja bersifat abstrak meskipun diri pemuda itu ada di sana. Mungkin jika kita berkenan meniliknya kembali, satu hingga dua mahasiswa satu angkatannya telah mengenal sekaligus menganggap Kim Mingyu konkret dari pandangan mereka. Namun sayang, sepertinya pemuda Kim tersebut lebih nyaman dengan jalan hidup yang ia pilih sekarang.

Mungkin kau akan berpikir—atau bahkan mengumpat, lebih tepatnya—seperti ini,

“Hei, bung! Kau diberi kesempatan sekali dalam seumur hidup untuk bersenang-senang dan kau menyia-nyiakannya? Dasar bodoh!

Bodoh? Sebuah ungkapan yang sering rungu Mingyu tangkap dari sang rekan akan deskripsi tentangnya. Namun sebagai informasi semata, Mingyu tidak pernah mempedulikan semua umpatan yang orang-orang berikan kepadanya, toh semua orang memiliki sebuah alasan untuk bertindak ‘kan?

***

Penat—satu kata yang cukup menggambarkan perasaan Mingyu hari ini dan mungkin pilihan untuk berendam di air hangat setidaknya dapat mengurangi perasaan menjengkelkan itu sejenak. Seperti biasa, saat berendam Mingyu akan ditemani dengan tiga bebek karet kesayangan dan busa yang begitu melimpah. Terkesan kekanakkan memang, namun bermain busa sembari berendam adalah hal yang paling menyenangkan.

Wush … ” gumamnya seraya meniup gelembung sebanyak-banyaknya.

Namun sepertinya ada yang salah di sini. Entah mengapa gelembung yang biasanya sontak meletus kala ia menerima sambutan baik dari si udara, kini menjadi lebih tahan banting—oh, bahkan dirinya semakin membesar seiring sekon waktu berjalan!

Merasa wajar, pemuda Kim tersebut lantas ingin meniup gelembung lagi guna menambah populasi kawanan dunia gelembung yang kini melayang indah di angkasa tersebut. Baru saja Mingyu ingin melancarkan aksinya, sebuah suara riang bertandang di kedua rungunya.

“Hai! Namaku—”

ARGGGGHHHHH!!!”

Dan dalam waktu sekejap, satu kegaduhan fatal telah terjadi. Ah … sebagai informasi tambahan, Mingyu pingsan dalam insiden ini.

***

Suara gemercik air memecah sunyi sepi ruangan bernuansa monochrome tersebut. Di samping tubuh yang kini terbaring di atas kasur bersama kompres di dahi, siluet gadis berkilau nan berambut panjang tak dapat kita pungkiri akan presensinya.

“Kenapa ini bisa terjadi, huh?” rutuk gadis berkilau tersebut. Jemari lentik yang tak kalah berkilau dengan tubuhnya lantas berjalan perlahan menyusuri dahi korbannya dan di sekon selanjutnya sebuah decakan kesal kembali terdengar. “Ah sial, suhu tubuhnya tak kunjung menurun. Apa yang harus kulakukan?”

Amat begitu frustasi, gadis tersebut tak pelak mengacak surainya sebagai pelampiasan; yang anehnya tetap rapi meski separah apapun cara ia mengacaknya. Merasa butuh sedikit pencerahan untuk sang benak, gadis itu lantas berinisiatif untuk menyusuri tempat yang rencananya akan ia tinggali selama beberapa waktu ke depan ini. Baru saja ia mengalihkan pandang guna mencari hal yang dapat menarik perhatiannya, fokusnya sektika terpaku pada sebuah pigura berisikan foto pemuda di dekatnya bersama seseorang.

Mungkin ibunya, batin gadis itu pada dirinya sendiri.

Namun baru saja mencoba mendalami karakter dari sosok di dalam foto yang ia pegang saat ini, sebuah lengan panjang merampasnya secara kasar. Seketika perasaan bersalah pun hinggap di hati gadis itu sehingga tanpa sadar ia melayangkan sebuah pertanyaan.

“Kau sudah bangun?” Bukannya membuat keadaan semakin membaik, kini pertanyaan tersebut sontak membuat diri gadis itu terlihat lebih bodoh dari sebelumnya. Sembari menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal, gadis itu kembali melanjutkan. “Hai, namaku Nessa Han. Kuharap—”

“Kuharap kau bersedia angkat kaki dari apartement-ku sekarang juga,” potong Mingyu dingin.

“Apa?” beo Nessa seakan tak ingin mempercayai akan hal yang baru saja kedua rungunya tangkap. Alih-alih menjawab, Mingyu lantas menunjuk pintu kamarnya seolah ingin memberi isyarat bahwa ia tidak sedang main-main dengan perkataannya. “Tidak, tidak. Kenapa kau kasar sekali, huh?

“Kau pikir aku peduli?”

“Oke, aku memang salah atas insiden tadi dan aku minta maaf. Tapi percayalah, semua itu di luar dugaan. Aku juga tidak menyangka jika kau sedang err—astaga, bahkan aku masih merasa malu saat mengingatnya.” Nessa sontak menutup wajah dengan kedua telapaknya. Tak hanya Nessa, rona merah di wajah milik pemuda di hadapannya pun kini perlahan memberanikan diri untuk menampakkan presensinya. “Tapi asal kau tahu saja, aku merasa sangat menyesal sekarang.”

“Berisik!” decak Mingyu kesal seraya menarik lengan Nessa; yang tak pelak sempat membuat dirinya sedikit terheran sejenak namun lekas kembali bertingkah tak peduli.

Meronta merupakan satu reaksi yang Nessa berikan pertama kali. “Aiish … kenapa kau—Ya Tuhan, kakiku! KAKIKU BISA MENAPAK LANTAI!”

“Apa?”

Ketimbang memilih menampakkan wajah frustasi seperti sebelumnya, kini yang dapat kita lihat dari wajah Nessa hanyalah wajah berbinar seakan baru saja bertemu dengan sang idola.

“LIHAT! AKU BISA MENAPAK DI LANTAI! GELEMBUNG SEPERTIKU BISA MENAPAK DI LANTAI! WAH … INI HEBAT!”

Bahkan saking senangnya, tanpa sadar dara Han tersebut memeluk Mingyu dengan girang. Masih dengan raut bingungnya, Mingyu mencoba mencerna ucapan sang gadis dan tak butuh waktu lama untuk dirinya tersadar akan sesuatu.

Ge-gelembung?!

***

“Tunggu sebentar. Jadi, inti dari semua penjelasanmu ini adalah kau merupakan gelembung?”

Lima menit telah dilalui Mingyu dengan mendengar kisah dari Nessa Han, gadis yang entah dari mana muncul di hadapannya lalu menyatakan diri sebagai seorang – atau sebuah? – gelembung. Secara kasat mata, Nessa tampak seperti gadis pada umumnya. Rambut panjang, mata bulat, senyum manis – oh, abaikan kata terakhir. Bahkan sentuhan tangannya ketika memeluk Mingyu tadi dapat terasa dengan jelas. Namun, siapa sangka, sebenarnya gadis ini memiliki wujud sebagai gelembung.

Gadis Han itu menganggukkan kepala kuat-kuat.

“Tapi, bagaimana bisa?” tanya MIngyu lagi masih tidak percaya. “Kalau kau adalah gelembung, sudah seharusnya kau – “

Arra. Sudah seharusnya aku terbang lepas tak terkendali, atau meletus ketika menyentuh sesuatu yang tajam. Ya, kan?”

Mingyu tidak merespon, tetapi dalam hati mengiyakan perkataan sang gadis.

“Entahlah.” Kepala Nessa tertunduk. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. “Hanya saja, aku merasakan sebuah kekuatan besar yang menarik kakiku untuk tetap menapak ke tanah. Sebuah perasaan yang sulit kujelaskan karena aku sendiri tak tahu apa. Jadi ….”

Gadis itu mengangkat wajahnya, kemudian menatap Mingyu lurus-lurus.

“Selama aku mencari tahu perasaan apa itu, bolehkah aku tinggal di sini?”

Sejujurnya, besar hasrat Mingyu untuk mendepak gadis itu dari rumahnya. Heol, ia datang tanpa diundang dan sekarang minta menginap? Memangnya rumah ini adalah hotel? Dan Mingyu yakin kedatangan Nessa akan sangat merepotkan dirinya. Mingyu yakin hidup damainya akan terganggu, cepat atau lambat.

Namun melihat tatapan memohon Nessa di balik bola matanya membuat pemuda Kim itu tersentuh. Mengurungkan niatnya, ia pun berujar, meski dengan nada dingin.

“Kau bisa pakai kamar belakang kalau kau mau.”

***

Awalnya dugaan Mingyu benar, kedatangan Nessa tak membawa berkah apapun selain merepotkannya. Nessa adalah tamu tercerewet yang pernah Mingyu temui (memangnya berapa tamu yang sudah berkunjung ke rumahnya?). Nessa banyak bicara, mengganggu konsentrasi serta pekerjaan Mingyu dengan alasan bosan. Kalau tidak diladeni, ia akan merajuk. Kalau sudah begitu, Mingyu secara tak langsung dituntut untuk membujuk sang dara agar mood-nya kembali normal.

No offense, tapi itu benar-benar terpaksa. Pasalnya, tiga hari tinggal bersama Nessa membuat Mingyu belajar sesuatu: kapan pun Nessa Han jauh darinya, tarikan kaki sang gadis terhadap gravitasi bumi akan melemah, kemudian perlahan sang gadis akan terangkat dan melayang di udara, makin lama makin tinggi. Mingyu pernah mencoba membiarkannya, toh lebih baik melepas gadis itu pergi daripada harus tinggal bersamanya. Tetapi, percayalah, gadis itu langsung berteriak-teriak dengan suara amat keras dan memekakkan telinga, hingga memaksa Mingyu menolongnya, atau pemuda itu akan gila.

Alasan yang sama pula yang memaksa Mingyu menjaga agar Nessa senantiasa berada dekatnya. Kemana pun Mingyu pergi, Nessa harus ada di sana – kecuali ke kamar mandi, itu pun Nessa harus menunggu persis di depan pintu yang tertutup. Ke kampus, ke mall, ke pusat perbelanjaan, ke taman kota, Mingyu harus membawa Nessa. Bahkan untuk tidur pun Nessa harus berada di ruangan yang sama dengan Mingyu. Malam ketika gadis itu tidur di kamar belakang seperti yang diperintahkan Mingyu, esok paginya pemuda itu menemukan Nessa yang sedang melayang di langit-langit kamar, menangis.

Awalnya memang merepotkan. Namun ketika dijalani berhari-hari, perlahan cara pandang Mingyu terhadap Nessa berubah. Semakin banyak interaksi mereka kian hari, Mingyu semakin disadarkan bahwa sebenarnya Nessa Han adalah gadis yang menarik. Ia memang cerewet, banyak bicara, tetapi cerita-ceritanya menyenangkan untuk disimak. Gadis itu bercerita dengan penuh ekspresi, membuat kisahnya terasa makin seru untuk diikuti.

Presensi Nessa yang hampir 24 jam selalu bersamanya menyebabkan Mingyu merasakan sebuah perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya; perasaan dibutuhkan dan dirindukan. Selama ini, kesendiriannya membuat ia bersikap acuh terhadap sekitar, toh tak ada yang peduli dengan eksistensinya. Tetapi dengan hadirnya Nessa, ia sadar bahwa seseorang membutuhkannya, seseorang menantikannya. Meski dulu ia pikir ia tak butuh perasaan semacam itu, nyatanya ketika Mingyu merasakannya, ia lebih gembira.

Kini ia tidak lagi harus merenung sendirian di kamar, karena Nessa Han selalu menceritakan beberapa kisah tentangnya sebelum tidur. Mingyu tak lagi harus bermain bebek serta busa sendirian saat mandi, karena meski berada di ruangan yang terpisah, Nessa kerap mengajaknya bercakap-cakap saat mandi dari balik pintu. Mingyu tak perlu memikirkan menu makan esok hari sendirian, karena Nessa siap menjadi tempat konsultasinya.

Acara di akhir pekan menjadi lebih menyenangkan, baik itu jalan-jalan ke pusat kota, menonton film di rumah sambil menyantap berondong jagung, atau sekedar masak menu makan malam bersama. Gadis itu selalu antusias dalam segala hal, dan Mingyu gemas melihatnya.

Segala sesuatu menjadi lebih menarik, dan lebih menyenangkan. Berkat Nessa Han.

***

“Kim Mingyu ….”

Mingyu melempar pensilnya ke meja dengan kesal. Ia membalik arah duduk, menghadap Nessa yang sedang bersila di tepian tempat tidur. Sudah sejak tiga menit yang lalu gadis Han itu terus membujuk Mingyu untuk menemaninya ke pasar malam, dengan alasan bosan. Jujur saja, suara cempereng sang dara cukup mengganggu konsentrasinya.

“Apa lagi, sih?” balas Mingyu jengkel.

“Temani aku ke pasar malam …. Jebal ….”

Tuh, kan? Permintaannya masih sama?

Bukannya Mingyu tidak ingin menemani, hanya saja ada sebuah tugas kuliah yang harus ia serahkan esok pagi. Tugas ini menentukan nilai akhir semesternya, penentu apakah ia harus mengulang kelas di semester depan atau bisa mengikuti kelas berikutnya. Bila akhir pekan ini ia menjadi mahasiswa pengangguran, sudah sejak tadi ia akan membawa Nessa berjalan-jalan. Tak sekedar ke pasar malam, berkeliling kota pun akan ia tempuh selama itu menyenangkan hati sang dara.

Kenyatannya, tugas memaksanya untuk diam di rumah, ditemani dengan setumpuk lembaran tugas yang harus ia selesaikan dalam satu malam.

“Malam ini tidak bisa, Nessa.” Mingyu memberi jawaban yang serupa dengan menit-menit sebelumnya. “Aku banyak tugas.”

Mingyu telah menjelaskan betapa sibuknya ia malam ini dan betapa krusialnya tugas tersebut, tetapi Nessa seolah tidak peduli. Ia terus merengek, membujuk, memaksa, memancing emosi Mingyu untuk terus meningkat.

“Tapi aku bosan, tuan Kim!” balas Nessa tidak mau kalah.

Mingyu kembali dalam mode mengabaikan perkataan Nessa, tetapi sepertinya gadis itu tak mau menyerah. Nessa berdiri, lalu berjalan menuju saklar lampu yang ada di dekat pintu kamar, dan menekannya. Seketika lampu padam dan ruangan menjadi kesal.

AISH!!!”

Habis sudah kesabaran Mingyu. Dilemparnya tumpukan kertas yang ada di atas meja ke lantai, tak menghiraukan lembarannya yang berserakan ke mana-mana. Mingyu bangkit berdiri. Ditatapnya manik sang dara lurus-lurus.

“Pergi sana sendiri!” ujarnya dengan nada ketus. “Pergilah sendirian, tapi jangan sekali pun berharap bahwa aku akan menemani. Dasar gadis pemaksa!”

Nessa memiringkan kepalanya sekilas, sebelum balas berucap, “Kau … mengusirku?”

“YA!” balas Mingyu. “Akan jauh lebih baik jika kau tak ada di sini. Sejak kedatanganmu, hidup damaiku hancur berantakan! Kau merepotkan! Kau berisik, cerewet, gampang merajuk! Heol. Aku bahkan masih punya pekerjaan yang lebih bermanfaat dibanding sekedar membujukmu agar berhenti merajuk.”

Seolah belum cukup dengan kata-katanya yang amat menusuk, Mingyu mengambil dompet dari laci meja kerjanya, mengeluarkan beberapa lembar sepuluh ribu won, lalu melemparkannya tepat ke wajah sang gadis.

“Ini uangmu! Pergilah dan jangan ganggu aku lagi!”

Nessa terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya memungut lembaran uang yang bertebaran di lantai.

“Baik,” ucap Nessa, “aku pergi. Aku tak akan muncul kembali di hadapanmu, aku tak akan memasuki hidupmu lagi, aku tak akan mengacaukan segala rutinitasmu. Anggap saja pertemuan kita tak pernah ada.”

“Tapi satu hal,” lanjut sang gadis, “kau akan menyesal karena telah menelantarkanku.”

Hahaha. Penyesalan? Hah!” Mingyu tertawa sinis, kemudian menyilangkan tangan di depan dada dan memberi tatapan menusuk pada Nessa. “Satu-satunya penyesalan yang ada adalah tentang bagaimana aku menerimamu untuk tinggal di rumahku dulu.”

Nessa tak menjawab. Ia hanya berbalik, beranjak dari tempatnya, meninggalkan kamar Mingyu.

Satu-satunya yang Nessa tinggalkan hanyalah sebuah suara DUAK! keras akibat pintu depan yang dibanting, dan secuil rasa merasa bersalah yang perlahan muncul di hati Mingyu.

 

            End of part 1

Advertisements

3 thoughts on “[A December To Remember] Bubbleone PART 1

  1. halo colabs baekminji93 & gxchoxpie!
    jadi inget episod harry ketemu mirtle di kamar mandi pas mau buka telur (Harry potter 4) ngakak, pun kan gyu lagi mandi jadi yaaaaaaaaaaaa gimana ya (ehem!)

    surrealism nya dapet ih fantasinya, pembawaannya juga enak, dan aku bisa ngerasain emosinya mingyu juga gegara diganggu pas ada tugas, feels him so well -..-

    hmm, mau lanjut part 2 dulu deh!

    Like

  2. Hey duo kolab/? Hahaha. Ini ff pertma kolaborasi di project MNJ ini. Serius ini mengingatkanku sama film spongebob yang berteman dengan gelembung cuman bedanya bentuknya abstrak ga kayak Nessa. Lmao. Ceritanya menarik ih, okay goes to the next part!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s