AU · December Project · FF Project · fluff · G · Genre · Length · Rating · Romance · School Life · Vignette

[A December To Remember] The Silly Effort


Special dedicate fanfiction to MNJ Fanfiction Event

[A Remember To December]

— THE SILLY EFFORT —

©2016, BaekMinJi93

 

Starring with

SF9’sKang Chanhee — OC’s

 

| AU!  –Fluff – School Life – Romance| Vignette | General |

Disclaimer

This story purely mine and cover by Gxchoxpie. DON’T BASHING AND DON’T PLAGIARISM!

Happy reading…

 

“I Try Erasing, Throwing Away and Emptying; But My Love Fills Me Up Again”

 

Berita tentang Annice Na mengakhiri hubungannya dengan Kang Chanhee sudah menjadi rahasia umum di kalangan seluruh siswa di sekolah.

Tak ada lagi pemandangan akan Chanhee yang menggamit lengan Anne yang selalu bersikap cuek, tak ada lagi seruan Anne dan juga suara mengaduh dari Chanhee akibat sebuah cubitan kecil di perutnya kala waktu istirahat tiba, dan tak ada lagi sebatang coklat beserta surat cinta yang bersarang di loker Anne setiap minggunya. Semua kenangan tersebut bagaikan sebuah busa di air yang perlahan akan sirna seiring sekon waktu berjalan. Lebih dari semua itu, tingkah mereka yang seakan tak pernah kenal satu sama lain membuat sebuah kesempatan besar bagi para siswa maupun siswi untuk mendekati keduanya.

Hei, Bro!

Sebuah pola sapaan singkat yang cukup membuat pemuda Kang tersebut terbatuk. Dasar Na Jaemin sialan!, umpat Chanhee kesal. Sembari masih asyik mengumpat ria bersama sang batin, Chanhee menatap saudara kembar sang mantan kekasih dengan malas.

“Apa?”

Bersama senyum bak model iklan pasta gigi, Jaemin membalas. “Wohoo … kau sama sekali tak berbeda dengan gadis dalam periodenya,Bung!Sangat ganas.”

Seakan tak peduli disebut ganas, Chanhee kembali melanjutkan aktivitas tertundanya dengan sikap yang begitu apatis sehingga membuat decakan kesal dari seorang Na Jaemin tercipta.

“Kau berubah, Chan.”

Mendengarnya, tak pelak membuat gerakan tangan Chanhee di mangkuk sejenak terhenti. “Maksudmu?”

Alih-alih menjelaskan, Jaemin hanya menepuk bahu pemuda Kang tersebut pelan. Sebagai pihak penerima, sudah menjadi sebuah hal lazim jika kerutan di dahi Chanhee tercipta akibat rasa heran.

“Kau kenapa, huh?” tanya Chanhee melontarkan pertanyaan serupa namun tak sama pada sang sahabat.

Sedangkan Jaemin kini menampilkan wajah seriusnya. Benar-benar serius hingga Chanhee berpikir jika sang sahabat sedang terganggu jiwanya. Sempat terjadi keheningan di antara keduanya sejenak sebelum akhirnya Jaemin kembali membuka topik pembicaraan baru.

“Minggu depan kau datang?”

Tanpa mengajukan pertanyaan lengkap sekali pun, Chanhee tahu akar dari maksuducapan sang sahabat.

Chanhee mengangkat bahunya sekilas. “Entahlah. Kupikir menjadi kerbau di pulau kapuk lebih menyenangkan ketimbang melihat lautan manusia.”

Mendengar ucapan kias dari pemuda Kang tersebut, lantas membuat Jaemin berdecih remeh. “Dasar pujangga receh!

“Sialan!”

Jaemin tak pelak tertawa melihat reaksi Chanhee, namun itu hanya sebentar sebelum akhirnya memasang raut yang serupa dengan sebelumnya.

Bro,” panggil Jaemin seraya merangkul Chanhee bersahabat. “Meskipun aku bukanlah seorang peramal, tapi aku yakin seratus persen jika benakmu tengah mengukir sebuah nama dan mungkin juga ada secuil—atau bahkan sebongkah asa yang tengah kau tanamkan pada dirimu sendiri. Tak perlu kusebutkan namanya sekali pun, aku tahu jika nama itu sama seperti—”

“Astaga,” Chanhee lekas melepas rangkulan di bahunya dengan raut tak kalah serius. “Kau berpikir terlalu jauh, Man.”

Jaemin tersenyum kecil dan beranjak dari duduknya.

“Ajak gadis itu sebelum kau menyesal nantinya. Sebagai informasi, hingga saat ini kulihat gadis itu sudah menolak lebih dari sepuluh kali tawaran untuk pergi ke acara mewah itu.”

“Tentu saja aku akan serupa dengan para siswa malang tersebut nantinya.”

Mengangkat kedua alis, Jaemin kembali melanjutkan. “Tidak ada salahnya untuk mencoba ‘kan?”

***

Tiga puluh menit berlalu namun Chanhee masih saja berjalan mondar-mandir layaknya sebuah setrika. Sesekali ia meraih ponsel dan mengetik sebuah nama di kontaknya sebelum akhirnya mengurungkan niat dan kembali melemparnya ke kasur.

“Apa yang harus kulakukan?”

Sebuah kalimat yang sama seakan tak bosan ia ajukan berkali-kali kepada hatinya. Namun sikap labil sang hati sepertinya sedang tak berpihak dengannya hari ini.

“Oke, mungkin kali ini ucapan Jaemin benar adanya.”

Chanhee pun kembali meraih ponselnya lantas melakukan olah raga jari untuk ke sekian kalinya.

***

“Hai.”

Percayalah, hanya itu yang sukses keluar dari bibir Chanhee kala siluet sang gadis tengah menghampirinya. Sungguh, demi apapun ini canggung sekali.

Alih-alih membalas sapaan yang diterimanya, sang gadis menyahut dengan dingin. “Ada apa kau memanggilku kemari?”

Chanhee menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan bungkam.

Gadis itu melirik jam tangannya sekilas.  “Aku memberimu waktu lima menit untuk bicara.”

“Anne.”

Ya, kau benar. Gadis yang dimaksud Jaemin siang tadi adalah adik kembarnya, Annice Na.

Masih dengan nada dingin, Anne kembali berujar. “Dua menit.”

Tidak, tidak. Chanhee tahu ini hanya taktik gadis itu untuk segera hengkang dari fokusnya. Senyum di wajah pemuda itu seketika terukir indah di wajahnya melihat usaha Anne untuk menghindari tatapannya.

“Kudengar kau sudah menolak tawaran untuk pergi ke prom lebih dari sepuluh kali, ya?” ujar Chanhee membuka topik pembicaraan.

“Tiga menit,” balas Anne seakan waktu adalah bom yang bisa saja meledak sewaktu-waktu bagi seorang Kang Chanhee.

Namun bukannya tergesa, pemuda itu malah bersikap santai.

“Jika aku boleh jujur, aku tak ingin menjadi oknum dari para pemuda malang itu.”

Anne memutar bola matanya malas. “Memang aku memintamu untuk mengajakku pergi ke prom idiot itu?”

“Kau berharap jika aku akan memberikan tawaran juga?” tanya Chanhee jahil.

“Tentu saja tidak.” Meski bibir berkata demikian, namun rona merah di pipi Anne seakan menjelaskan semua. “Toh jika kau menawariku, aku juga akan me—”

“Anne, ayo pergi bersamaku.”

Hening. Tak ada balasan yang setimpal dari pihak sang gadis. Hal ini sempat bertahan beberapa detik ke depan, sebelum akhirnya Annice memutuskan untuk beranjak dari duduknya.

“Sepertinya aku harus pergi sekarang.”

Genggaman Chanhee sontak membuat gadis itu kembali duduk. “Aku tahu kau tengah menanti seseorang untuk menawarimu pergi dan seseorang itu adalah aku.”

“Dasar bodoh!”

“Apa?”

Tak ingin menatap mata sang pemuda, Anne pun memutuskan untuk bermain dengan jemari lentiknya.

“Aku sudah berusaha sebaik mungkin akhir-akhir ini,” ujar Anne lirih. Merasa butuh penjelasan lebih, Chanhee pikir memilih opsi untuk bungkam adalah satu-satunya jalan terbaik. “Berbagai cara telah kulakukan. Membuang barang-barang pemberianmu, menghapus namamu di seluruh sudut buku catatanku dan seluruh usaha menghilangkan sosokmu dari kehidupanku sudah berhasil aku lakukan semuanya.”

Layaknya sebuah hati yang dilempar dengan batu keras, hal itu terasa sangat sakit di hati Chanhee. Jauh di lubuk hati terdalamnya, bukan ini yang Chanhee inginkan. Awalnya ia hanya butuh sebuah persetujuan dari sang gadis untuk menerima tawarannya dan menyusun rencana untuk meminta sang gadis kembali ke dalam pelukannya.

“Dan bicara tentang tawaran, kau benar aku tengah menunggumu saat ini dan aku tidak menyangka jika harapan yang setipis tisu wajah itu pun akan terkabul.”

Sebanyak apa pun pertanyaan yang tercetak di benak Chanhee sekarang, tetapi hanya satu yang kerap mendominasi.

“Jika aku boleh tahu, masih adakah secuil cinta yang terselip di hatimu untukku?”

“Cinta?” Anne tertawa kecil. “Apakah hal klasik itu yang selalu mengisi relung hatiku kala semua usaha ini aku lancarkan?”

Tak mengerti alasan jelasnya, entah mengapa Chanhee tergerak untuk tersenyum. Senyum yang begitu lebar dan manis bagi seorang Annice Na. Sembari menggenggam erat kedua tangan sang gadis, sebuah pertanyaan kembali Chanhee ajukan.

“Jika hal itu benar adanya, mari kita pergi bersama dan tunjukkan pada semua insan di dunia ini jika aku adalah obat dari semua rasa sakitmu selama ini. Kau mau ‘kan kembali bersamaku?”

Lagi-lagi sebuah decihan beserta tawa kecil menjadi satu-satunya reaksi yang diberikan Anne untuk Chanhee.

“Dasar tukang pamer!

“Kuanggap ucapanmu pertanda kau menyetujui permintaanku.”

Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa bulan yang lalu sebuah cubitan kecil bersarang di perut Chanhee.

 

FIN

 

Bebe’s Notes:

Astaga … lagi dilanda webe jadi gak kaget kaloinireceh banget asyem! Tapi makasih bagi yang udah sempetin baca fiksi Chani-ku ini :)). Review-nya ditunggu ya ^-^

 

Warm Regards,

—BaekMinJi93

Advertisements

3 thoughts on “[A December To Remember] The Silly Effort

  1. Hey BaekMinji! anyway Sora’s here 😉 salam kenal yess? 😉 first of all, seperti biasa ga ada capek2nya aku blg makasi banyak karena uda berkenaan memeriahkan ultah MNJ hehe. Dannn ini pertama kalinya aku baca fanfiction dengan cast SF9. Aku cari2 wajahnya chanii dan akhirnya ketemu hahaha. He’s cute!! Dia satu agency sm ft island kan? Lmao—baiklah abaikan. Bahasa yg km pakai keren abis hehe. Utk percakapannya santai banget, tapi entah kerasa beda banget. Meskipun ceritanya ringan, km membawakan ceritanya enak banget. Hehe. Nice one author-nim! Pengen baca ff km yang lainnya 😉

    Like

  2. Waduuuh Chan..
    Kmu ternyata udah gede ya, nakal pula, uda brani ngegombalin perawan :v

    Kayanya kmu ni ketularan jiwa rada absurd nya Dawon deh, hyung mu ituu 😀

    Semangat terus ya Minji, aku suka sm tulisan kmu 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s