Angst · Chaptered · Drama · Family · Friendzone · Hurt · PG -15 · Romance · sad · School Life

L’Amore [ONE : Luce Mia]


L’Amore / Pinkchaejin / PG 15+ / Chaptered / Angst, sad, romance, school life, family / Ayame Yumi @ Poster Channel / starring by Chou Tzu Yu (Tzuyu of Twice), Aiden Choi (Pinkchaejin’s OC), Kwon Eun Bin (Eunbin of CLC), Jung Chan Woo (Chanwoo of iKon)

-Happy Reading-

Cinta yang terukir dalam hati akan mampu membuat hati terluka. Seuntai kata cinta yang memasuki gelora yang bergejolak tak mampu terlisankan. Hingga mentari menangis, juga hati ikut tersayat. Cinta membuat orang tak mampu mengendalikan siapa dirimu dan siapa dirinya. Kadang kala sebuah nafsu dalam cinta mematikan saraf otak dan menyalakan degupan hati hingga siapa pun yang merasakan cinta tak lagi menggunakan akal pikirnya, melainkan menggunakan perasaan.

Bagaimana jika cinta yang kau tunggu tak berbuah hasil? Bahkan, ia sama sekali tak melirik. Demi embusan angin yang menyelinap ke dalam paru-paru, kau tak peduli. Hanya satu yang kaulakukan; mempertahankan cinta yang selama ini terpendam. Selama ini, kau selalu skeptis untuk membuka lisanmu untuk sekadar berbicara dengannya. Setiap kali, hanya tatapan mata sekilas yang kauberikan dan kala ia membalas tatapanmu, seketika itu kau rasakan hatimu tergores bak teriris sebilah pisau. Kadang kala, cinta akan mampu membuat luka dalam di hatimu. Cinta akan indah pada kalanya… namun manakala perih menjulang, maka hati akan gugur bak patera yang layu. Mentari yang terbit pun tak mampu membagi cahayanya untuk kebaikan hati. Dalam gelap, kau tak’kan mampu meraba selain namanya.

–L’Amore–

Sunyi melanglang buana, pantulan suara enggan memasuki kawasan tersebut. Di sana, terduduklah seorang gadis berambut hitam keunguan yang dikuncir satu. Pohon-pohon yang menjulang tinggi, ilalang panjang yang tak terurus, dedaunan kering berserakan; itulah pemandangan favoritnya selama ini. Tempat ini merupakan tempat pelariannya kala ia terluka. Luka yang ia alami begitu parah, namun tak berdarah. Luka tersebut menyayatnya cukup dalam dan menyisakan rasa pedih yang tak terhingga. Bukan hanya kulit yang dapat tergores dan terluka, namun hati pun bisa terluka kendati tak ada senjata apa pun yang datang menusuknya. Kulit yang terluka dapat diobati dengan obat merah, namun hati yang terluka tidak ada obatnya; bahkan jikalau berobat ke dokter pun, dokter tersebut tidak akan bisa menyembuhkannya.

Ia memungut kacamata bulatnya yang terjatuh. Dikenakannya kacamata tersebut dan itu menciptakan penampilan culun baginya. Namun masa bodoh, ia tak memedulikannya. Wajah cantiknya tertutup oleh poni serta kacamata bulat yang selalu menjadi penampilan utamanya. Ia bernama Chou Tzuyu. Gadis berkebangsaan Taiwan yang tinggal di Korea Selatan sebab ayahnya berpindah tugas ke Negeri Ginseng ini. Sejak kepindahannya ke Korea Selatan, ia berubah. Ia menginjakkan kaki di tanah Korea Selatan saat ia duduk di bangku SMP. Tentunya, ia melanjutkan pendidikannya di negara tersebut. Gadis yang biasa dipanggil Tzuyu itu merupakan gadis cantik nan rupawan yang digilai pria kala itu. Ia memiliki banyak teman dan penggemar. Singkatnya, ia populer.

Namun, itu dulu.

Sejak mengetahui bahwa banyak yang ingin berteman dengannya untuk menumpang kepopuleran atau karena hartanya yang berlimpah, maka ia tak ingin lagi hal tersebut terulang kembali. Maka, kala ia duduk di bangku SMA, ia memilih untuk tak berteman dan mencincang habis gaya hidupnya yang dulunya dipuja bak putri kerajaan, kini berubah layaknya anak pembantu yang kutu buku.

Luka itu tak seberapa menyakitkan. Namun anak panah lainnya datang menghunjam dadanya. Ayahnya berselingkuh dengan wanita yang merupakan sekretarisnya hingga menyebabkan ibunya bunuh diri. Maka semakin terpuruklah ia dan ia merasakan bahwa dunia seakan benci padanya. Kini, rumah merupakan neraka baginya. Hanya sekolah tempatnya untuk menenangkan diri sebab tiada siapa pun yang menjadi iblis pengganggunya di sekolah.

Hanya saja, ia membutuhkan seorang teman. Teman yang benar-benar teman. Nyatanya, ia kesepian.

“Hei, kau yang di sana!” Tzuyu mengangkat wajahnya kala suara itu mengusik gendang telinganya. Kemudian, makhluk yang tak ia ketahui keberadaannya itu bersuara kembali, “bel telah berbunyi, jangan ada yang berani membolos pelajaran!”

Rupanya orang itu adalah guru olahraga yang terkenal dengan kebengisannya. Maka, Tzuyu pun merapikan penampilannya dan berjalan gontai menuju kelasnya yang berada di samping perpustakaan. Suasana kelasnya tampak ricuh sebab guru belum datang ke kelas. Jujur saja, ia tidak menyukai keramaian sejak kakinya berpijak di Sekolah Menengah Atas. Dalam batin, ia berdoa agar guru cepat masuk dan memulai pelajaran sehingga tidak ada kebisingan yang membuat telinganya sakit.

Naas, doa yang dipanjatkan oleh Tzuyu tak terkabul. Seorang siswa dari kelas lain menitipkan tugas pada ketua kelas sebab guru yang bersangkutan tengah berhalangan karena ada acara keluarga. Maka, Tzuyu segera meraih buku tugasnya dan mengungsi ke perpustakaan. Hal ini selalu ia lakukan tatkala ada pelajaran kosong alias guru yang bersangkutan berhalangan untuk hadir. Ia tahu, mereka—teman sekelasnya—tetap menciptakan suara heboh di dalam kelas kendati guru yang bersangkutan telah menitipkan tugas untuk mereka.

Tzuyu menduduki bangku yang kebetulan kosong di perpustakaan. Buku matematikanya ia letakkan di atas meja dan ia meninggalkan bangkunya sejenak untuk mencari buku referensi.

Gadis itu berkeliling perpustakaan sembari menikmati sejuknya pendingin ruangan dan kesunyian yang membuat hatinya tenang. Sejujurnya, ia tak mampu menahan hasrat untuk mengambil salah satu buku di rak khusus novel. Namun, mengingat pelajaran matematika ialah pelajaran yang sulit, maka Tzuyu mengurungkan niatnya. Akhirnya, ia pun berdiri di depan rak yang berisi buku rumus matematika yang ia cari. Tanpa menunggu jeda, gadis itu cepat-cepat mengambilnya dari rak buku sebab ia melihat dua sampai tiga teman sekelasnya yang juga masuk ke perpustakaan—takut jikalau mereka juga hendak menggunakan buku tersebut. Selain itu, ia ingin cepat menyelesaikan tugasnya sebab ia melihat banyak novel-novel yang baru dibeli oleh sekolah di rak novel tadi.

“Aku malas belajar, lebih baik aku membaca majalah saja.” Kala Tzuyu tengah melihat-lihat isi buku yang dipegangnya, ia memperhatikan dua orang lelaki yang berada di sampingnya. Bisa ditebak bahwa salah satu dari mereka adalah bintang kelas, dan yang satunya lagi adalah siswa yang biasa saja.

“Yah! Tetapi kita harus menyelesaikan tugas biologi ini,” balas pria di sebelahnya tak terima, “aku tidak mau tugas kelompok kita hanya aku yang bekerja sendiri. Rugi sekali rasanya kalau aku yang bekerja keras dan kau yang hanya ongkang-ongkang kaki mendapatkan nilai bagus,” protesnya.

“Masa bodoh denganmu, siapa suruh menjadi orang pintar? Aku harus memeriksa semua majalah yang baru ini. Siapa tahu aku akan mendapatkan tips menjadi pria tertampan. Aku muak dengan biologi, tenang saja kau akan kutraktir setelah mengerjakan tugas kelompok kita,” ucapnya santai sembari membolak-balik majalah yang ia pegang.

“Lihat saja, aku akan menghabiskan isi dompetmu, Aiden Choi,” gerutunya.

“Silakan, Chanwoo. Aku senang melihatmu kenyang,” balas pria yang dipanggil Aiden Choi tersebut. “Tunggu… itu—LIONEL MESSI!” teriaknya kala mendapati majalah bersampul pemain sepak bola bernama Lionel Messi tersebut yang terletak asal di atas lantai.

“Berisik bodoh! Kau tidak akan menjadi tampan walaupun membaca tips ketampanan Lionel Messi,” cibir Chanwoo.

“Ah, minggirlah!” Aiden menepis bahu Chanwoo sebab ia menghalangi jalannya dan kemudian beranjak menghampiri majalah yang tergeletak asal-asalan di lantai. Chanwoo hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang memang begitu adanya. Kalau boleh jujur, menurut Chanwoo, Aiden adalah orang yang mengasyikkan walau terkadang sangat menyebalkan.

Usai mendapatkan majalah tersebut, pria itu membacanya sembari berjalan. Tampaknya, ia benar-benar menemukan tips menjadi tampan seperti Lionel Messi sehingga ia tersenyum-senyum sendiri kala membacanya. Sesekali, ia memegang dagunya, kemudian mengelus rambut hitamnya yang sejak berangkat sekolah tadi ia polesi dengan minyak rambut. Entah apa artikel yang tengah dibacanya, namun seharusnya ia tak membaca sambil berjalan karena—

Bruk!

Sialnya, ia menabrak seorang siswi yang tak berdosa hingga kacamata yang dikenakan oleh gadis itu jatuh dan kala Aiden melangkah lagi, ia pun menginjak kacamata tersebut dan akhirnya patah dan pecah di bagian lensa. Aiden terkejut dibuatnya dan berlagak salah tingkah.

“Eh, anu… aku tidak sengaja. Kau tidak apa-apa ‘kan? Kacamatamu, maafkan aku, Kak,” ujar Aiden sembari membungkuk-bungkuk di depan Tzuyu.

“Tampan tapi ceroboh, siapa yang mau?” gumam Chanwoo sembari terkikik menertawai Aiden.

“Ti-tidak, aku tidak apa-apa. Jangan membungkuk padaku dan… aku bukan kakak kelasmu, kita satu angkatan,” sanggah Tzuyu.

“Kita seangkatan…? Benarkah?” tanggap Aiden sembari memandangi wajah Tzuyu yang agaknya terasa asing baginya. Tzuyu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Aiden. “Ah, tapi kacamatamu… bagaimana ini?” ujarnya sembari memandangi kacamata Tzuyu yang sudah tak berguna lagi.

“Tidak apa-apa, lagi pula aku hanya minus 0,5. Kurasa minusku sudah berkurang dan aku tidak membutuhkan kacamata itu lagi,” jelas Tzuyu sembari menyunggingkan senyumnya, kemudian segera beranjak pergi menuju tempat di mana ia meninggalkan buku tugasnya tadi. Sejujurnya, ia masih dapat melihat jelas dengan minus yang sangat kecil tersebut. Tujuannya mengenakan kacamata adalah sebagai topeng culun yang ia pakai di sekolah ini.

Aiden terpaku memandangi gadis berambut hitam keunguan tersebut. Kala kacamata itu terjatuh, ia melihat wajah bidadari pada bentuk muka Tzuyu. Matanya yang berkilau, hidungnya yang mancung, pipinya yang putih mulus, serta bibirnya yang baru saja menyunggingkan senyum padanya…, ia menyukai pemandangan semacam itu. Tak ada satu pun lelaki yang dapat berpaling kala pesona Tzuyu benar-benar menyongsong masuk. Gadis berdarah Taiwan itu sudah lama sekali tak membuat lelaki yang bertatap muka dengannya menjadi seperti ini—seperti yang dialami Aiden sekarang. Apa mungkin, Aiden terlalu jauh mengamati lekuk wajah Tzuyu hingga ia kini membeku di tempatnya.

Satu hal yang terlupakan. Aiden lupa menanyakan siapa namanya.

***

Detik-detik pulang sekolah pun tiba. Tzuyu benci tatkala ia harus berhadapan dengan waktu. Rasanya, ia ingin menghentikan waktu dan mempercepatnya ke hari esok di mana ia akan bertemu kembali dengan lingkungan sekolah.

Kesimpulannya, ia benci pulang sekolah. Lebih tepatnya, ia benci ketika ia harus menginjakkan kaki di rumahnya. Di rumah megah tersebut, di sanalah ia selalu menemui neraka dunia yang menyiksanya. Beberapa waktu yang lalu, ia pernah tak pulang selama beberapa hari dan kemudian sang ayah menemukannya. Kala itu, ia melihat segala kebengisan dan kekejamannya sebab pria paruh baya tersebut menyeretnya pulang ke rumah dan menyiksanya hingga babak belur layaknya memperlakukan perampok yang mengambil sekotak emas. Padahal, Tzuyu adalah seorang wanita, namun ayahnya sama sekali tak memandang jenis kelaminnya hingga tega berbuat hal yang sedemikian sadisnya pada anak perempuannya.

Ditambah lagi, ia muak melihat selingkuhan ayahnya yang selalu berada di rumah tersebut dan itu sangat mengusik hidupnya. Karena wanita itu, ibunya bunuh diri. Maka, tak heran manakala Tzuyu menaruh dendam pada wanita tersebut.

Bunyi bel terkutuk itu pun berbunyi. Mau tak mau, Tzuyu harus melangkahkan kakinya untuk meninggalkan bangunan sekolahnya itu. Sebelum kakinya membawanya menuju gerbang depan, ia mengunjungi toilet untuk sejenak memandangi wajahnya di depan cermin. Sembari menyesap bibir, ia melepas ikat rambutnya dan membiarkan rambut tebalnya tergerai indah. Jemarinya menyisir rambutnya yang agak berantakan. Tak ada lagi kacamata yang senantiasa menghalangi wajah cantiknya. Dalam cermin, ia menemukan dirinya yang dulu—hanya penampilannya di masa lalu. Rambutnya yang bergelombang serta wajahnya yang cantik membuatnya bak putri kerajaan. Sayangnya, semasa SMA ini belum ada satu pun yang mengetahuinya, bahkan mengenali seorang gadis bernama Chou Tzuyu saja jarang.

Setelah dirasanya puas memandangi cermin, Tzuyu meraih ikat rambutnya. Sebelum ia mengikat rambutnya kembali, matanya mengerlimg ke arah pintu toilet sebab ia merasakan bahwa ada seseorang yang memperhatikannya. Namun, tampaknya tak ada seonggok manusia pun di luar sana. Maka, Tzuyu pun segera mengikat rambutnya kembali dan bergegas pulang. Ia menghampiri sepedanya yang terletak di parkiran sepeda yang berada tak jauh dari gerbang sekolah.

Sepeda bercorak paduan ungu dan merah jambu tersebut ia kayuh dengan tenaga yang lemah. Pasalnya, ia ingin memperlambat waktu manakala ia telah meninggalkan bangunan sekolahnya dan harus berpaling menuju bangunan rumahnya. Ia menarik napasnya yang terasa sesak. Ia hendak menangis sekarang juga mengingat pagi tadi, wanita yang kini tinggal di rumahnya itu juga menyiksanya. Lima tamparan ia terima dari wanita itu hanya karena ia tak sengaja memecahkan gelas. Ia tak tahu harus memasang mimik muka yang seperti apa kala ia harus bertatap wajah dengan mereka—wanita itu dan juga sang ayah—saat ia menginjakkan kakinya di rumah itu.

“Hei! Tunggu sebentar…!”

Tzuyu meraih rem sepedanya sembari menoleh ke belakang. Ia melihat seorang lelaki yang mengayuh sepeda ke arahnya. Ia adalah Aiden—pria yang tak sengaja menginjak kacamata Tzuyu hingga patah.

“Rumahmu di mana?” tanyanya.

“Dekat dari sini,” jawab Tzuyu sembari menunjukkan arah jalan yang akan dilaluinya.

“Begitukah? Kalau begitu, berarti kita satu arah. Boleh ‘kan aku pulang bersamamu? Mengayuh sepeda sendirian itu tidak seru,” tukas Aiden.

Tzuyu mengangguk kecil menanggapi ucapan Aiden. Dalam hatinya, ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aiden bahwa mengayuh sepeda sendirian itu tidak seru.

“Namaku Aiden Choi,” Aiden mengulurkan tangannya pada Tzuyu, “dan namamu?”

“Chou Tzuyu,” tanggapnya cepat.

“Jjeu—apa? Namamu sulit sekali,” komentar Aiden.

“Namaku Chou Tzuyu. Aku kelahiran Taiwan,” Tzuyu memelankan ucapannya kala ia menyebutkan namanya.

“Jjeu Wi? Begitukah?” Aiden mengalihkan atensinya menuju tulisan nama ‘Chou Tzuyu’ di baju seragam Tzuyu, “mengapa pelafalan dan tulisannya berbeda?” komentarnya lagi.

“Memang begitu.”

Aiden manggut-manggut mengerti, “Jadi, kau asli Taiwan?” Tzuyu mengangguk, “kalau aku blasteran Korea–Kanada, sayangnya aku tidak pintar berbahasa Inggris.”

“Aku sudah mengiranya dari namamu,” kata Tzuyu.

“Soal kacamatamu, sekali lagi aku minta maaf. Lain kali, aku akan menggantinya.”

“Ah, mengapa jadi membahas itu? Aku sudah memaafkannya, lagi pula tidak apa-apa. Tidak usah diganti.”

“Aku tidak enak saja. Kacamata ‘kan mahal, pasti orangtuamu marah jika mengetahui kacamatamu rusak karenaku. Aku tak peduli kau mengikhlaskan kacamata itu atau tidak, aku akan tetap berusaha untuk menggantinya,” jelas Aiden.

Tzuyu bingung harus berkata apa, namun ia dapat menilai Aiden sebagai orang yang bertanggungjawab. Kehadiran Aiden membuatnya melupakan masalahnya di rumah untuk sejenak. Juga, ia merindukan saat-saat seperti ini; saat di mana ia saling bertukar cerita dengan seorang teman. Rasa sesak di dada yang ia bungkam pun berangsur hilang dengan adanya Aiden. Ia harap, Aiden bersedia menjadi temannya, mendengarkan ceritanya, kemudian semakin akrab hingga hubungan teman akan berkembang menjadi sahabat. Di kala seperti ini, ia sangat membutuhkan seseorang yang mampu menjadi tiang pengokohnya.

“Rumahku di sini,” Tzuyu menunjuk ke sebuah rumah bercat abu-abu, “aku pulang dulu, ya. Berhati-hatilah di jalan.”

“Tentu saja…, besok pagi, aku akan menjemputmu untuk pergi ke sekolah bersama-sama. Kau mau ‘kan? Aku akan menunggumu sekitar pukul enam lewat lima belas.”

Tzuyu menganggukkan kepalanya, “Ya, dengan senang hati.”

Kala Tzuyu hendak memasuki gerbang rumahnya, Aiden menghentikannya sejenak. “Tunggu sebentar…!”

“Ada apa?” respon Tzuyu.

Aiden mendorong sepedanya ke arah Tzuyu. Tangan kekarnya beralih pada ikat rambut berwarna cokelat yang dikenakan oleh Tzuyu. Perlahan, ia melepaskannya hingga rambut Tzuyu yang bergelombang itu tergerai indah. Ia menyisir rambut Tzuyu dengan jarinya dan menyunggingkan senyum kala ia puas dengan hasil karyanya.

“Kau cantik jika seperti ini. Kuharap, kau jangan menampilkan tataan rambut seperti ini ketika di sekolah karena saat itu juga aku menjamin akan banyak anak lelaki yang langsung jatuh cinta padamu,” ujarnya, “biarkan aku yang menjadi orang pertama yang melihatnya.”

Tzuyu tersenyum menanggapi ucapan Aiden, “Aku masuk, ya. Dah!” Sesegera mungkin, Tzuyu mendorong sepedanya masuk ke dalam rumah sebelum Aiden melihat pipinya yang mulai memerah karena malu. Tangannya beralih memegangi dada kirinya. Ia merasakan irama jantungnya yang tak stabil seusai Aiden mengeluarkan kalimat barusan.

Ia pun memasuki rumahnya dan memandang seisi rumahnya sejenak. Tidak ada seorang pun yang ia tangkap pada pemandangannya. Sejenak, ia dapat bernapas dengan lega. Namun, sekonyong-konyong ia mendengar suara ayahnya dengan wanita itu di ruang makan. Kala itulah rasanya ia lupa cara bernapas sebab ketakutan menghantui dirinya.

“Tzuyu Sayang… kau sudah pulang rupanya,” ucap wanita itu dengan nada yang dibuat-buat. Tzuyu menahan tangis, ia benci ketika harus berhadapan dengan wanita itu. Terlebih lagi, sang ayah juga sudah dipengaruhi oleh wanita itu sehingga apa saja yang dilakukan Tzuyu selalu salah.

Dengan tangan bergetar, Tzuyu segera memutar knop pintu kamarnya. Namun, suara itu lagi-lagi mengusiknya. “Tidak sopan sekali, seharusnya kau kemari dan mencium tanganku, bodoh! Sebentar lagi aku akan menjadi ibumu, berarti kau harus menghormatiku, anak bodoh!” cercahnya. Dengan berat hati, Tzuyu pun menghampiri kedua sejoli tersebut. Kala ia hendak meminta tangan sang ayah, yang ia dapatkan ialah tamparan keras di pipinya.

“Sudah berapa kali kau berlaku tidak sopan pada Hweji?” ucap ayahnya dingin. Tzuyu tetap membungkam tangisnya, sebab ia akan mendapat tamparan lagi jika air mata itu berani-beraninya menetes di depan pria itu. Namun ia tak kuasa menahannya, air mata itu mengalir dengan derasnya hingga Tzuyu terisak.

Plak.

Benar, tamparan itu mendarat lagi. “Aku tidak menyuruhmu menangis. Sekarang, minta maaf pada Hweji dan kau harus merestui pernikahanku dengannya…!” titahnya setengah memaksa. Tzuyu pun bersimpuh di depan wanita yang bernama Hweji itu sembari memohon ampun.

“Maafkan aku…,” ucapnya di sela-sela isak tangisnya. “Aku… aku…, aku merestui pernikahan Ayah dengan… Nona Hweji…,” lirihnya terpaksa. Dalam batin, ia sangat menolak wanita itu untuk menjadi pengganti mendiang ibunya.

“Terima kasih, Sayang… mulai sekarang, jangan panggil aku Nona, tetapi panggil aku Ibu. Dan—” Hweji mendekatkan bibirnya ke telinga Tzuyu, “jangan coba-coba merusak hubungan kami.” Kemudian, wanita itu mendorong bahu Tzuyu hingga gadis itu jatuh terjerembab ke lantai. Tzuyu menekan dada kirinya yang berdenyut nyeri dan napasnya sesak akibat benturan di lantai barusan yang cukup kuat.

“Pergilah ke kamarmu dan renungkan kesalahanmu!” ucap ayahnya dingin. Sungguh, ia tak mengerti mengapa rumah ini seakan menjadi ruang penyiksaan baginya. Ia pun segera menyeret kakinya menuju kamar. Sembari menutup pintu, air matanya kembali menetes hingga tubuhnya merosot ke lantai dengan wajah tertunduk. Bekas tamparan itu terasa sakit, namun tak sebanding dengan luka dalam di hatinya yang selama ini tak terobati. Irama napasnya terdengar tak stabil dan dadanya terlihat tengah memompa napas dengan tergesa-gesa. Sejak lahir, ia memiliki jantung yang lemah. Maka dari itu, sesungguhnya ia tak mampu menerima perlakuan kasar seperti ini.

Selama lebih kurang lima belas menit, Tzuyu mulai merasakan kelonggaran di paru-parunya kendati ia masih bernapas menggunakan mulut dan dada kirinya masih terasa sedikit nyeri. Rasanya ia ingin lari dari rumah neraka tersebut. Hanya saja, ia tak ingin lagi mendapat hajaran dari ayahnya seperti beberapa waktu tempo. Ia hanya berharap, semoga Tuhan memberikannya jalan untuk keluar dari perkara ini.

***

“Aku pulang!”

Seusai memarkirkan sepedanya, Aiden pun mengucapkan salam sembari mengetuk pintu rumahnya yang terbuka. Rupanya, ayah dan ibunya sedang kedatangan tamu.

“Ah, Paman Kwon! Bibi Kwon!”

“Kau sudah besar, ya.” Pria setengah baya tersebut mengusap kepala Aiden.

“Aku ‘kan selalu ingin melampaui tinggi Paman, maka dari itu aku selalu makan banyak hingga cepat besar,” ujar Aiden yang langsung akrab dengan pria yang ia panggil dengan sebutan ‘Paman Kwon’ tersebut.

Ayah Aiden pun mengimbuhi, “Kalau begitu, coba kau ukur tinggi badanmu dengan anakku,” ujarnya.

“Anak muda sekarang pasti sudah banyak yang mengalahkan tinggi orangtuanya.” Ia pun berdiri dari sofa yang didudukinya dan menyetarakan tubuh dengan Aiden. “Wah, aku benar-benar seperti kurcaci sekarang,” komentarnya kala ia sadar bahwa Aiden lebih tinggi darinya.

Gelak tawa pun menyela-nyela di tengah perbincangan mereka. Kala itu, Aiden mendapati seorang gadis cantik yang duduk di samping bibi Kwon yang tengah memperhatikannya. Gadis berambut ikal itu terasa familiar sekali, namun ia agak sulit mengingat namanya.

“Aiden-ya, ini Eunbin…,” ucap bibi Kwon sembari memegang bahu gadis yang bernama Eunbin tersebut.

“Eunbin… Eunbin—” Aiden berusaha mengingat-ingat kembali, “ah ternyata kau sudah pulang dari Jepang? Aku hampir lupa dengan wajah dan namamu sejak kau pindah saat kelas dua SD.”

“Aku hampir sedih ketika ayah mengatakan kalau kau sudah lupa denganku,” balas Eunbin yang membuat ayahnya tertawa.

“Jadi, Paman dan Bibi Kwon baru saja pindah ke Seoul dan membeli rumah di sebelah rumah kita. Lalu, Eunbin juga ingin melanjutkan SMA di Korea. Maka dari itu, mulai besok Eunbin akan sekolah di tempat yang sama denganmu,” jelas Nyonya Choi pada anaknya.

“Kalau begitu, besok pagi Eunbin berangkat bersamaku saja… kebetulan sepedaku memiliki tempat boncengan, jadi aku akan memboncenginya setiap berangkat dan pulang. Aku tahu ia pasti rindu sekali denganku,” Aiden memandang Eunbin sembari menaikkan alisnya. Agaknya Aiden melupakan janjinya dengan Tzuyu sehingga dengan santainya ia menawarkan untuk berangkat sekolah bersama Eunbin.

“Ah, aku tidak jadi merindukanmu,” balas Eunbin yang lagi-lagi menyebabkan gelak tawa di antara mereka.

***

Pagi menjelang, mentari telah terbangun dari tidurnya dan menampakkan diri di ufuk timur. Kala itulah, ayam jantan saling berkokok bersahut-sahutan, kelelawar kembali ke gua untuk tidur, dan manusia mulai mempersiapkan diri untuk menemui hari yang baru. Udara segar yang melanglang buana menandai hari yang cerah dan cuaca yang baik. Tak ada hujan, tak berangin, namun rasa sejuk itu terasa. Pohon-pohon seakan tersenyum tatkala mereka mengeluarkan zat sisanya—oksigen.

Di depan rumah, Tzuyu berdiri sembari memegangi sepedanya. Ia membiarkan rambut hitam keunguannya tergerai pagi itu sebab ia ingat tatkala Aiden berkata bahwa ia cantik dengan penampilan seperti itu—seperti dahulu. Sebab Aiden memintanya untuk tidak menunjukkan surai indahnya itu pada lelaki lain, maka ia memilih untuk menunjukkannya pada Aiden di pagi yang cerah ini. Waktu menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Ia telah menunggu selama lebih kurang 20 menit. Agaknya Aiden sedikit terlambat.

“Pasti kau pintar berbahasa Jepang.”

“Tentu saja, setiap hari aku menggunakannya di sekolah.”

“Kalau begitu, aku akan menjamin kau akan selalu mendapat nilai seratus di pelajaran Bahasa Jepang. Di sekolah, Bahasa Jepang menjadi pelajaran yang termasuk ke muatan lokal.”

Samar-samar, Tzuyu mendengar percakapan tersebut. Ia pun memalingkan pandangan dan—

Aiden sedang memboncengi seorang gadis yang tak dikenalnya.

–TBC–

HALOOOO :* udah lama ya aku menghilang dari blog ini ‘-‘ #plak
Okeyyy, aku ke sini bawa FF baru yang casnya berbinya Twice yeeeyy :* #toelTzuyu

Dan… aku mau ngenalin OC cowokku yang pertama, yaitu Aiden Choi yang divisualisasikan oleh Mingyu Svt :DD
Kenapa aku pake OC? Kenapa engga langsung Mingyu aja? Ya, aku itu tipe fangirl yang ga bisa masangin bias sama artis lain. Walaupun Tzuyu itu bias cewe, ya aku tetep engga rela kalo dia dikapel-kapelin gitu. Jadi, aku bikinin OC bat dia dan aku netapin Mingyu sebagai visualisasi Aiden soalnya banyak editan manipulasi Tzuyu-Mingyu yang bikin aku gampang nyari momen mereka ‘-‘

OKEYY SEKIAN DARIKU DAN KUTUNGGU REVIEWNYA :*

Advertisements

9 thoughts on “L’Amore [ONE : Luce Mia]

  1. yeheet, tzuyu right? ciee chapter ya? it’s been along time sejak terakhir kali aku baca ff tentang anak sekolah. haha. a bit awkward but really, cepet dilanjut ya ceritanya. ini kasian banget tzuyu nya-_- buat dia sma chanwoo! kalo aiden berpaling nantinya hehehe. nice job! ditunggu ya lanjutannya 🙂

    Like

  2. kok aku seneng loncat2 gt ya pas tau si aiden itu mingyu???😍😍😍 ive been searching alot of mintzu ff but akhirnya nyerah dan bodoamat mau baca ff tzuyu dipasangin sama siapa pun gt. dan ff ini pasti lebih asik kalo aiden di ganti mingyu loll😂🔫

    Like

  3. Halo pinkchaejin!
    Aku biasanya males baca chaptered, tp liat updatean lmore 2 akhirnyaa aku pun kesini dulu dan baca :v
    1. Wow, bayangin tsuyu yg beneran culun dan nyembunyiin diri tuh berat bgt :’)
    2. Kik sedihhh bgt idupnya, bapak sama calon emak tiri kasar gitu, heartbreaking bgt! 😢
    3. Duh chanwoo cuma sekilas
    4. Kok zbl kzl ya sama aiden, tipe lelaki di daftar blacklist tp kok tsuyu dg gampang iya iyain aja, hah, kesepiannya udh klimaks ya kayaknya 😅
    5. Please jgn pake kata ‘seonggok manusia’ lagi dek, krn itu kesannya ga manusiawi 😅

    Emmm, udh itu ajaaa. Nanti kulanjut chapter dua jugaa yaa!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s