Ficlet · Friendship · G · Slight!Hurt

He is not mine


photogrid_1479648028339

Author : riseuki & ts_sora || Main Cast: EXO’s BaekHyun & OC’s Kim ||

Genre: Friendship | Slight!Hurt  || Duration : Ficlet

 

Aku ingin hilang, walau hanya sebentar.

.

.

Dia Nami, kekasihku”.

Hanya dengan mengingat kalimat itu saja, rasanya aku ingin meledak. Jadi selama ini dia sudah memiliki kekasih? Selama ini dia memiliki cinta dihatinya yang ditujukan pada seseorang? Dan orang itu…… orang itu bukan aku ?!

Rasanya ingin sekali menumpahkan semua kekesalan yang menumpuk dihatiku sekarang ini! Tapi aku tak tahu bagaimana caranya, aku hanya ingin bersikap rasional. Ya—rasional, seandainya memang masih ada hal yang bisa dianggap masuk akal setelah apa yang terjadi, karena semua ini menyangkut perasaanku, bukan logika.

Jadi, perasaanku selama ini hanyalah one sided love yang tragis? Aku sudah menyukainya sejak tiga tahun yang lalu! Aku bisa dekat dengannya, dia selalu memberiku perhatian lebih dan juga selalu ada disaat aku membutuhkannya, tapi, apa balasan yang kudapat? Dia memang memliki perasaan yang sama denganku, tapi tak ditunjukkan untukku, melainkan untuk gadis lain! Untuk yeoja bernama Nami yang baru ia perkenalkan padaku dua hari lalu.

Jika dia tak mencintaiku, kenapa ia memberi perhatian lebih padaku? Kenapa ia menunjukkan gejala untuk orang-orang yang saling mencintai?

Kenapa?

Aku memutar arah jalanku menuju subway, aku ingin pergi ke suatu tempat sekarang ini, tapi bukan sekolah! Bukan tempat dimana aku bisa bertemu dengan namja yang telah memupuskan harapanku itu! Aku menyeberang, meninggalkan halte bus yang dingin dan mulai dipenuhi anak sekolahan yang hampir terlambat karena bangun kesiangan. Yah, aku sudah berdiri di halte itu selama beberapa lama, melewatkan dua buah bus yang bisa mengantarkanku sampai ke sekolah.

Hal bodoh itu aku lakukan untuk memikirkan namja itu, untuk memikirkan cintaku, untuk memikirkan diriku yang baru saja gugur dan kehilangan akar tempat berpijak selama ini.

Aku melangkah dengan sedikit bimbang menuruni tangga subway yang tak kalah ramai, mencoba menghilang ditelan suasana pagi. Aku ingin hilang, walau hanya sebentar.

.

 

.

 

Sebentar lagi jam istirahat, dan gadis itu belum juga muncul. Sebenarnya, ada apa dengannya? Sikapnya begitu aneh sejak beberapa hari belakangan, walaupun dia sebenarnya memang aneh, tapi keanehan yang diperlihatkannya sekarang tetap saja terasa aneh. Tapi justru hal itulah yang selama ini menarik perhatian Baek Hyun.

Ponsel gadis itu pun dimatikan sejak semalam, sehingga tidak bisa dihubungi sama sekali.

Tentu saja pesan dari Baek Hyun diyakini tidak dibaca perihal hal tadi, karena biasanya Kim adalah sosok yang dengan cepat merespon, apa pun pesan yang didapatkannya. Tapi sejak semalam pula, lima pesan yang Baek Hyun kirimkan bahkan tak di balas.

Apa dia sakit ?

Pikiran itu tentunya satu-satunya hal yang masuk akal. Kim tidak membalas pesan karena tidak sanggup memegang ponselnya, badannya pasti panas sekali dan tubuhnya pasti lemah sekali, buktinya ia tidak masuk sekolah.

Sebentar, tapi rasanya Baek Hyun tidak melihat surat ijin di meja guru, atau pun jika orangtua Kim menelepon pihak sekolah pasti berita itu sudah menyebar di ruang guru dan guru-guru yang mengajar akan tahu kondisi apa yang sebenarnya membuat absen gadis itu. Dan itu tidak terjadi, karena ketiga guru yang baru saja selesai mengajar selalu bertanya ke seisi kelas –walau jelas memandang Baek Hyun, karena mereka memang sahabat yang kental semenjak kelas satu—tentang dimana keberadaan Kim.

Jadi dimana dia sebenarnya ?

Baek Hyun mengempaskan punggungnya ke sandaran bangku dan memandangi bangku tiga deret di depannya, bangku Kim, yang kosong sejak pagi. Dan pikiran-pikiran aneh yang bisa saja mengalahkan kelakuan Kim mulai membayanginya.

“Gadis bodoh, kau pasti membolos, iya ‘kan?” gumaman itu samar. Baek Hyun mengalihkan tatapnya ke jendela, menatap lapangan yang lengang lalu beralih ke ponselnya. Masih tak ada respon apapun dari Kim.

Ah, ini menyebalkan!

Bertepatan dengan bel tanda dimulainya istirahat makan siang, Baek Hyun mengetikkan sebuah pesan, bukan untuk Kim, tapi justru untuk Nami. Kekasihnya.

Duduk denganku saat makan siang. Kim tidak terlihat dimanapun, aku pasti kesepian.

.

 

.

 

Sepertinya aku memang bukan perempuan yang bijak, karena kenapa dengan bodohnya aku memilih subway sebagai pelarianku? Padahal tentunya aku yang paling tahu tentang diriku sendiri. Aku tipe perempuan yang tidak bisa membaca peta, juga tipe yang sangat besar kemungkinannya untuk nyasar. Tapi bukankah aku memang ingin menghilang? Tapi tetap saja rasanya ini tidak benar.

Akhirnya dengan agak lebih bijak aku mengambil kereta jalur 3. Sekolahku kebetulan saja ada di dekat Dongguk University dan aku sudah beberapa kali naik subway untuk pergi kesana. Rumahku ada di daerah yangjae dan butuh 10 pemberhentian untuk akhirnya sampai ke stasiun itu, jadi aku memutuskan untuk tetap mengambil jalur 3 tapi tidak akan turun disana, aku tidak mau ke sekolah, kan?

Aku akan turun di Apgujeong, empat stasiun sebelum sekolah. Mungkin aku akan berjalan sedikit dan menenggelamkan diriku di Han-gang. Ide bodoh. Aku akan berjalan agak jauh dan memasok oksigen sebanyak mungkin ke paru-paruku yang sekarang ini terasa sesak.

Rasanya aku ingin menangis. Dan suasana subway sama sekali tidak mendukung, terlalu penuh dan berdesakan berada disini, masih jam berangkat kantor, walau dengan sedikit syukur bahwa aku tidak melihat siapa pun dengan seragam sekolahku di gerbong yang aku desaki, tentu saja karena kelas sudah dimulai sejak dua jam lalu. Lagipula tidak ada yang mau terlambat dengan sengaja! Karena Song sonsaeng, guru olahraga kami, sangat suka menghukum siapapun yang terlambat, dia pasti akan menunggu di depan gerbang dengan tongkat bambu favoritnya, senjata yang mengerikan.

Aku pernah terlambat satu kali, saat masih kelas satu, dan Song sonsaeng menyuruhku lari mengitari lapangan sebanyak tiga kali! Setelahnya aku selalu hadir tepat waktu, dan sekarang ini jika Song sonsaeng tahu aku membolos, dia pasti akan menyuruhku lari ratusan kali. Aku langsung bergidik membayangkannya.

Apa yang sedang Baek Hyun lakukan sekarang? Apa dia sadar bahwa aku tidak ada di kelas, bahwa aku tidak akan masuk sekolah hari ini? Apa dia akan mencemaskan aku?

Ah bodoh, kenapa justru memikirkan namja yang mematahkan hatimu, sih? Kau kan sedang berlari untuk tidak mengingatnya! Ayolah Kim, kembali ke logikamu.

Untungnya pemberitahuan di gerbong berbunyi dengan keras, aku sudah di Sinsa, sebentar lagi aku akan tiba di Apgujeong. Aku harus bersiap turun, juga melupakan Baek Hyun.

.

 

.

‘Ya—dimana kau sekarang? Kau membolos tanpa memberitahuku kali ini? Paling tidak aktifkan ponselmu!’

 

Aku tersenyum masam mendengarkan pesan suara terakhir dari belasan pesan suara lainnya yang ditujukan padaku. Belum lagi puluhan pesan yang masuk tanpa ampun sesaat setelah aku mengaktifkan kembali ponselku.

Dia menghawatirkanku?

Ah, atau mungkin merasa kesepian karena aku menghilang dan tak menghiraukannya?

Bodoh.

Di saat aku benar-benar ingin melupakannya? Mengapa kini aku masih berharap ia mengkhawatirkanku?

Sudah satu jam sejak aku memutuskan untuk melarikan diri, dan kini—aku masih berharap dia memiliki perasaan yang sama?

Aku menatap datar saat ponselku kini kembali bergetar—menjeritkan nama yang sama.

“Sampai kapan kau akan membiarkannya dan tak mengangkat teleponku, huh?”

Hampir aku menjatuhkan ponsel yang ada di tanganku—menyadari kehadiran namja yang tengah berdiri tak jauh dariku.

“K-kau? Bagaimana kau—”

“Maksudmu aku bisa tahu kau ada disini walau kau mematikan ponsel dan pergi ke Han-gang tanpa memberitahuku?”, Ia tertawa pelan sebelum akhirnya kini berdiri tepat di sampingku—membuatku berulang kali berusaha mengalihkan pandangku.

You know, I know you better than you think.”

Aku tertawa sumbang. Seperti itukah? Lalu bagaimana dengan perasaanku yang sebenarnya? Apa ia juga mengetahuinya?

“Ada apa denganmu?” ujarnya kali ini membuatku lantas memandangnya. Wajahnya terlihat khawatir. Apa ia mengkhawatirkanku kali ini?

“BaekHyun-a, kelas masih berlanjut, jadi kau harus kembali ke sekolah dan—”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Kim.”

Aku tertunduk saat wajahnya terlihat menegang kali ini.

“Kau mematikan ponselmu sejak semalam dan kau membolos tanpa memberitahuku. Aku kira kau sakit.”

Aku kembali menatapnya saat kali ini suaranya terdengar merendah, namun ia enggan balas menatapku.

“Aku mencemaskanmu, bodoh. Bukankah kita sahabat?”, sambungnya kali ini yang membuatku tersenyum masam.

Benar, kita bersahabat tak mungkin lebih dari itu. Ia jelas mengetahuinya, tapi mengapa aku berharap lebih terhadapnya?

Kebersamaan kami, kedekatan kami—harusnya aku sadar akan hal itu. Dan bodohnya kini aku menyalahkannya karena tidak mengerti akan perasaanku terhadapnya, menyalahkannya karena tak menganggapku.

Dan kini ia mencemaskanku.

“Benar, kita sahabat. Harusnya aku sadar itu,” ujarku memecah hening yang lantas membuatnya menatapku bingung. Aku hanya tersenyum membalasnya.

“Harusnya aku sadar, kebersamaan kita, perhatian yang kau berikan selama tiga tahun ini padaku—tak lebih dari seorang sahabat.”

“K-kim?”

Aku menarik nafasku dalam-dalam, berusaha menahan air mataku yang telah tergenang. Aku tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapannya.

“Tapi—pernahkah kau sadar jika perhatianku terhadapmu bukanlah perhatian biasa? Pernahkah kau sadar jika aku menganggapmu lebih dari sekedar seorang sahabat? Dan pernahkah kau berpikir jika aku berharap kebersamaan kita bukanlah sekedar hubungan sahabat saja? Pernahkah kau sadar jika aku menyukaimu sejak dulu?”

Aku tertawa pelan saat kini air mataku tak bisa lagi dibendung. Berulang kali aku mengusapnya, namun tetap saja, ia terlanjur melihatku menangis. Benar, aku terlalu menyedihkan. Perasaan ini terlalu menyedihkan.

“Maafkan aku, Kim.”

Benar, semua apa yang kukatakan nyatanya hanya menguap begitu saja. Semuanya nyatanya tak mengubah apapun. Perasaannya terhadapku tak lebih dari seorang sahabat. Seharusnya aku sadar itu, namun mengapa hanya mengingatnya saja—masih saja meninggalkan sakit.

Fakta bahwa kami memang tidak ditakdirkan bersama. Fakta ia bukan milikku. Fakta ia hanya sahabatku, tak lebih.

Aku mengusap air mataku sebelum menghirup udara sebanyak yang kubisa yang lantas kukeluarkan dengan setengah berteriak.

Ya, ini saatnya. Saatnya aku benar-benar melupakan kenyataan bahwa aku mencintainya. Karena faktanya hubungan kami tak lebih dari hubungan persahabatan.

“I know I should leave those feeling out. Mari kita memulainya kembali.”

Aku menatapnya mantap dengan senyum terkembang di wajahku—yang tentu saja membuatnya bingung. Aku mengulurkan tanganku yang dengan ragu ia genggam.

Ini adalah pilihan terbaik, melepaskan dengan baik, menutupi rasa malu dan memulai kembali.

.

.

Annyeong, Kim imnida. Let’s be friends. Good friends, Byun Baekhyun.”

Ia terlihat menatap genggaman tangan kami beberapa detik sebelum akhirnya ia terlihat mengembangkan senyumnya kali ini.

“Yes—let’s be bestfriends, Kim.”

.

 

.

 

.

At last, we’re just bestfriends. No more—

.

.

.

“Tetap saja kau harus kembali ke sekolah, Nami pasti sudah menunggu untuk makan siang”.

 

end

 

a/n : first collabs between me & ts_sora! Dalam rangka membersihkan draft yang berserakan di folder tanpa tahu apakah mungkin untuk di publish atau tidak ㅋㅋㅋ hope you enjoy the story!

Advertisements

10 thoughts on “He is not mine

  1. Cie, para sunbaenim collab 😀 😀 😀 kenapa berasa nyesek ya kalo ngerasain jadi kim ;-( ;-( ;-( daku ngga bisa berkata apa – apa karena fic ini. Pokoknya keep writing, sunbaenimdeul 😀

    Like

  2. Wkwkwkwkkw lain kali aku diajak kolaborasi dong xD
    Ceritanya unik hehehe tp entah kenapa ini kesannya jadi agak komedi menurutku heheh
    Buat lanjutannya dong xD buat baekhyun sama si kim jadian /maksa/

    Like

    1. Ayok kak ayok 😉😉😉 WA aku donggg (lah!)
      Pas baca komen ini tuh rasanya “when gue pengennya slight!hurt tapi mendadak dibilang komedi” hfth. We’ll try matching the genre more kalo gitu yaa ka:’))
      jadian ga yaaaa, nanti takut di bash *nah xD

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s