AU · Ficlet · G · Genre · Hurt · Length · Rating

WHAT IS LOVE


What is Love

a story by ts_sora

iKON’s Bobby / OC’s Connie

AU, Hurt,

Ficlet

.

 

.

 

.

“Tell me why does love hurt so bad?”

.

 

.

 

 

Entah apa yang dipikirkan oleh Connie—membuatnya rela untuk tinggal satu atap dengan Bobby. Ya, seorang pria, yang mengaku dirinya adalah seorang pencipta lagu hebat dan terkenal.

Mungkin ia harus menyalahkan Hanbin karena telah menipunya—menyalahkan dirinya sendiri atas kebodohannya.

Setidaknya tepat empat bulan berlalu—saat ia harus menandatangi beberapa berkas yang diberikan Hanbin, saat ia menawarkan sewa sebuah kamar apartemen yang begitu murah untuk satu tahun ke depan—yang sebenarnya kamar lainnya juga ia sewakan pada orang lain. Mungkin seharusnya ia mencurigai tawaran Hanbin saat itu—atau mungkin seharusnya ia berpikir panjang atas tawarannya tersebut. Seharusnya ia ingat, bahwa Hanbin adalah temannya yang cukup brengsek.

 

Dan Voila!

Kini ia harus berbagi tempat dengan pria sombong—yang mengaku dirinya adalah pencipta lagu hebat, yang selalu mengelu-elukan kekasihnya yang merupakan seorang model papan atas, meski dia sendiri tidak yakin dengan apa yang dikatakan pria yang menurutnya bodoh itu.

“Oh Bobby please don’t—”

Terlambat.

Bobby saja mengeluarkan isi perutnya pada memperindah karpet ruang tamu apartemen mereka—menambah wewangian ruangan dengan bau menyengat dari dalam mulutnya.

Benar, Bobby mabuk—benar-benar mabuk saat ini.

Entah apa yang ada di dalam pikirannya tadi—hingga memutuskan untuk pergi ke sebuah bar hanya untuk membawa Bobby pulang yang hampir ditendang keluar oleh sang pemilik karena pria itu mabuk bahkan untuk berdiri di atas kakinya sendiri.

Bisa saja Connie meninggalkan pria itu di jalanan dan membiarkannya membusuk bersama dengan isi perutnya yang tiap beberapa menit sekali ia keluarkan—namun sekali lagi, Connie tidak seburuk itu, meski ia begitu kesal dengan Bobby.

Dengan satu tarikan nafas panjang, Connie berusaha membuka pintu kamar Bobby dan memapah tubuh pria itu—yang lebih besar darinya tersebut—ke dalam kamar. Entah bagaimana Bobby mengelola kamarnya—yang jelas Connie telah menyesali keputusannya untuk membawa Bobby pulang beberapa menit yang lalu.

Setelah membuang tubuh Bobby di atas ranjangnya, Connie bergegas untuk melepas sepatu kulit yang dikenakan pria itu beserta dengan kaos kakinya. Benar, Bobby tengah mengenakan sebuah suit lengkap dengan sepatu kulit juga tuxedo bewarna hitam yang ia sewa beberapa hari sebelumnya. Ia ingat, saat Bobby mengatakan ia telah merencanakan sebuah acara makan malam mewah dengan gadisnya yang seorang model papan atas itu. Dan kini—Bobby pulang dengan keadaan yang begitu menyedihkan, entah apa yang baru saja terjadi padanya.

“Margareth—”

Satu nama yang selalu pria itu sejak ia membawa pria itu pulang. Ya, nama sang model papan atas—kekasihnya. Bahkan saat ia telah tertidur—ia masih menyebut nama gadis yang bahkan tak pernah Connie tahu jelas.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Bobby? You look so terrible yet idiot—do you know that?” Connie berusaha melepaskan setelan tuxedo hitam dari tubuh bidang pria itu—sebelum Bobby menarik tubuhnya dan membuatnya berakhir di atas ranjang—memeluknya erat.

B-bobby, what are you doing? Bob, let me go—

“Why did you do this to me?” ujar Bobby terdengar parau yang lantas membuat Connie yang berusaha melepaskan diri akhirnya mengalah. Pria itu mengigau—untuk kesekian kalinya.

“I’ve done everything for you. I was always trying to be the best boyfriend for you—but why, why you dumped me just like a shit? Why—”

Connie terdiam di tempatnya saat wajah Bobby kini menegang—namun masih dengan keduanya yang masih tertutup rapat.

Don’t we promise to live together in Seoul? You promise me, you’re gonna love me more than anything—but why you said i’m nothing for you—” Bobby kembali menggantung kalimatnya. Kali ini Connie dapat melihat air mata pada di sudut matanya—sebelum akhirnya mereka jatuh beriringan.

Bobby menangis—dalam tidurnya.

I though you are home—but i’m wrong. Tell me why does love hurt so bad? Tell me. Why Margareth—w-why—”

Suara Bobby merendah sebelum akhirnya dengkuran halus terdengar dari bibir pria itu kali ini. Pria itu tertidur kembali dengan air matanya yang masih meluncur bebas dari kedua matanya.

Bobby baru saja dicampakkan.

Entah apa yang baru saja mantan kekasihnya itu lakukan hingga membuat Bobby yang bahkan tak pernah berhenti berbicara untuk semenit saja itu, pulang dengan keadaan seburuk ini. Oh tidak, Bobby memang tak pernah semabuk ini sebelumnya—dan tidak pernah seburuk ini keadaannya.

Ia masih begitu ingat, bagaimana Bobby selalu membanggakan kekasihnya tersebut padanya. Ia bilang, ia sangat beruntung memiliki kekasih seorang Margareth. Ia bilang, Margareth adalah sosok sempurna di matanya. Ia bilang Margareth mencintainya—dan selalu tentang Margareth.

Ia ingat bagaimana Bobby senang saat Margareth menghubunginya. Ia ingat bagaimana Bobby begitu bahagia saat Margareth akan bertemu dengannya. Ia ingat saat Bobby akan menceritakan bagaimana bahagianya saat mereka berkencan—seolah Margareth adalah segalanya bagi Bobby.

Entah apakah semua yang dilakukan Bobby sangat lumrah dilakukan saat seseorang jatuh cinta. Ia tak pernah tahu apakah apapun yang dilakukan Bobby adalah normal, namun satu hal yang Connie tahu—Bobby sangat mencintai kekasihnya.

Cinta.

Ia tak pernah tahu arti sesungguhnya dari satu kata yang semua sebut “cinta”.

Bobby bilang ia sangat mencintai kekasihnya. Ia tahu bahkan Bobby berani meninggalkan semuanya di San Fransisco—tanah asalnya—hanya untuk seorang Margareth. Bobby berani memberikan semuanya untuk gadisnya tersebut.

Namun mengapa—

Mengapa ia harus ditinggalkan? Mengapa Margareth mencampakkannya dan membuatnya dalam kondisi begitu buruk?

Bobby begitu memuja cinta—meski ia tahu cinta akan meninggalkannya suatu hari nanti. Dan kini, cinta benar-benar meninggalkannya—membuatnya benar-benar menderita saat ini.

“Don’t leave me—”

Connie menghelan nafasnya saat sekali lagi pria itu kembali berbicara dalam tidurnya.

Bobby yang malang.

Entah apa itu cinta.

Jika Bobby sudah tahu cinta akan membuatnya semenderita ini, mengapa ia masih begitu memujanya, seakan memberikan kesempatan untuknya untuk menyakitinya?

.

 

.

 

.

 

“I will never leave you. Never,” ujar Connie pelan dan penuh penekanan kali ini sebelum akhirnya ia mengecup air mata Bobby yang baru saja meluncur dari sana.

 

.

 

.

 

Jika Connie juga tahu cinta akan membuatnya menderita juga—lalu akan ia sebut apa perasaan yang baru saja tumbuh ini?

 

.

 

.

 

 

 

-Fin-

 

 

Advertisements

4 thoughts on “WHAT IS LOVE

  1. kamu suka banget bikin anak iKon dg karakter bgst? hell, wow. Punya dendam kah terhadap hanbin? 😅 (u knw Im kidding)
    cieee connie, cieee, lanjut couple ini lah! dg bcgrnd khdupan liar ala barat gini, keep it!

    Like

    1. Andwaeeee mas bobby bukan bangsat kokkk. :””)) he’s the nicest guy lmao— i won’t make him as bangsat one haha. Krn bad guy itu ada di hanbin doang, peace ‘-‘v hahaha connie-bobby is my otp please look forward!🙌

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s