Horor · October Project · PG · Thriller · Vignette

[REVENGE] Man from 2506


photogrid_1479292126116

Author : riseuki || Main Cast: Red Velvet’s Seulgi ||

 Genre: Horror, Thriller  || Duration : Vignette

.

Mereka bilang, hutang tidak seharusnya dibawa mati. Mengganti apa yang diambil dengan hal yang setimpal adalah sebuah kewajiban. Seperti matinya seseorang karena mengambil nyawa orang lain. Ketika mata dibayar mata dan nyawa dibayar nyawa, hanya hukum rimba yang bekerja.

Tapi, aku perlu memperingatkan mereka akan satu hal yang kadang terabaikan—dendam.

.

.

                “Kasihan sekali pria di kamar 2506 itu”.

“Memang apa yang terjadi padanya?”

“Dia baru saja kehilangan kekasihnya, dari desas-desus yang aku dengar, wanita itu mati tertikam belati ketika mencoba melerai pertengkaran yang terjadi dalam sebuah pesta, pria itu pasti hatinya begitu terluka”.

Seulgi yang tadinya begitu ingin tahu mendadak membelalakkan matanya, terkaget-kaget dengan kejadian yang menimpa salah satu pasien yang harus dia rawat. Tragis sekali kehidupan dunia sekarang ini, seakan pembunuhan, kematian dan rasa sakit adalah sesuatu yang bisa ditemukan di setiap sudut jalan.

“Pria itu sebenarnya adalah pewaris dari Suho Group, kau tahu?”

Seulgi menggeleng, “Sayang sekali”.

“Yah, pikirannya sudah tidak lagi lurus, mungkin akan jadi aib bagi keluarga jika orang-orang tahu pewaris utama dari Group sebesar itu sudah tidak waras, maka mereka menitipkannya pada kita. Bukankah sekalipun pria itu di cap sinting, dia tetap ditempatkan di ruang VIP?”

Seulgi hanya melihat daftar yang ada di tangannya dan tak menanggapi  lebih jauh, usia pria itu baru 26 tahun, dengan beban sebagai pewaris tahta, pun kehilangan kekasih yang tentu sangat dicintainya dengan cara yang begitu buruk. Seandainya ada yang bisa dia bantu untuk meringankan beban pria itu, dengan senang hati Seulgi akan melakukannya.

.

.

.

.

Jam di lorong yang gelap itu baru saja berdentang sebanyak dua belas kali, menandakan bahwa malam telah sampai pada intinya.

Tuk—tuk—tuk

Derap-derap langkah itu adalah satu-satunya suara yang memecah keheningan yang tiba-tiba mencekam seluruh ruangan, hawa dingin menyeruak begitu saja bak gunung es yang dilelehkan, semua orang yang masih terjaga mulai memandangi ujung lorong, menerka-nerka siapa yang akan muncul di hari yang telah gelap ini.

Nihil, hingga berhentinya suara derap sepatu yang tadi menggema, tak seorang pun muncul. Orang-orang itu segera mengalihkan pandangan pada satu sama lain, hati mereka tiba-tiba disusupi rasa takut, bulu kuduk mereka meremang bersamaan dan seseorang baru saja jatuh pingsan.

Seulgi yang malam itu bertugas pun tak luput dari kondisi serupa, terutama ketika netranya menangkap sesosok perempuan dengan gaun merah terjuntai dan stiletto hitam tinggi menatap tepat ke matanya yang kini mulai berair. Seulgi hanya mampu meneguk sedikit saliva tepat sebelum sosok itu menghilang.

I knew you can see me, you are the one who can help me”.

                Bak diguyur air dingin, Seulgi menggelengkan kepalanya berulang-ulang mencoba mendapatkan kesadaran, dia baru saja mendengar sesuatu, bukan dari kanan atau kiri, tapi dari dalam tubuhnya sendiri.

“Help us”.

                Seulgi melangkahkan kakinya menuju kaca besar yang ada di ujung lorong, mencoba memastikan sesuatu.

Help us”.

                Seulgi menatap kaca itu dengan pandangan tak percaya, bayangannya memang terpantul disana, tapi mata itu—bukan miliknya.

Help us”.

                Seulgi menutup matanya perlahan, meyakinkan diri bahwa hal ini memang terjadi. Dia berbicara pada dirinya sendiri—atau lebih tepatnya pada sesuatu yang kini ada dalam dirinya. “What you seek?”, tanya perempuan itu seolah-olah hal ini bukanlah pertama kalinya dia bertanya.

“Revenge”.

                Deg. Deg. Deg.

                Sebuah tangan menepuk bahu Seulgi dengan perlahan. Perempuan itu terlonjak tapi wajahnya tidak menunjukkan sebuah keterkejutan yang berarti. Pasien 2506 berdiri dengan tatapan yang begitu berbeda. Jika diperhatikan, tubuhnya tegap, wajahnya tampan, dan matanya tajam. Bahkan aura pewaris tahta sungguh kentara terpancar dari tatapan yang kini diberikan pria itu pada Seulgi.

Help us”, ucap pria itu.

Seulgi lagi-lagi meneguk saliva dengan kesadaran yang masih dia miliki begitu rungunya mendengar kalimat  “kill him” terlontar dari bibirnya sendiri.

.

.

.

.

.

Jika hutang terjadi antar dua orang, maka mereka berdualah yang harus melunasinya sendiri.  Jika terjadi antar tiga orang, mungkin salah satu dari setiap pihak bisa saja dikhianati, tapi jika hutang itu terjadi antar orang asing—sebaiknya kau tidak terlibat.

Tapi terlambat, aku sudah sangat terlibat.

.

.

“Ini gila!”

“Memang ada apa?”, Seulgi yang sejak tadi memandangi sunbaenya yang mondar-mandir sambil terus menggumam, akhirnya bertanya.

“Pria di kamar 2506 akan dibebaskan, dua hari lalu aku baru saja melakukan tes padanya dan dia memang tidak waras, tapi kemarin mereka menyatakannya lolos tes kejiwaan dan dia baik-baik saja. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?”

Seulgi menampakkan sebuah seringai kecil ketika mendengar hal itu, perempuan itu memandangi kembali daftar yang ada di tangannya. “Yah, mungkin saja sebenarnya dia hanya berpura-pura gila dengan alas an kehilangan kekasihnya, dia hanya mempermainkan keluarganya”.

“Begitukah?”

“Entah, aku hanya menebak”.

Seulgi melihat sunbaenya masih terlihat tidak percaya, “Pria macam itu memang semena-mena, mentang-mentang dia lahir dengan sendok emas di mulutnya dia bisa melakukan apapun yang dia suka? Seenaknya sekali!”

“Mungkin itu cara si pria melupakan rasa sakitnya, bagaimana pun dia baru saja kehilangan kekasihnya, kan?”

“Ah, jika mengingat hal itu aku sungguh merasa kasihan padanya”.

Seulgi mendengus perlahan dan berdiri, “Aku akan membantu pria di kamar 2506 berkemas”.

Si sunbae kembali terlihat tidak begitu puas dengan keputusan yang dikeluarkan oleh pihak rumah sakit bahwa lelaki itu bisa keluar begitu saja, tapi toh apa gunanya mencemaskan hal itu, lelaki itu adalah orang asing dan dia merasa tidak perlu ikut campur. Urusan itu di luar jangkauan tangannya.

“Baik, baik, pergilah bantu dia”.

Seulgi keluar dari ruangan dengan tangan di saku. Semalam, kukunya patah.

.

.

.

.

.

Seulgi menarik koper itu melintasi lorong rumah sakit yang kali ini masih terang benderang, jam baru saja berdentang sebanyak dua belas kali, menandakan siang baru saja mencapai puncaknya. Jika dua belas jam yang lalu bulu kuduk orang-orang berdiri karena derap sepatu yang mengganggu, kali ini bahkan taka da satu pun orang yang memperhatikan suara derap sepatu itu.

Terlalu bising untuk bisa mendengarnya.

Tuk—tuk—tuk

                Seulgi membuka bagasi mobilnya sendiri dan melemparkan koper itu begitu saja, menutup bagasi dan melaju dengan kecepatan tinggi.

Di depan sebuah rumah yang begitu besar, kendaraan itu berhenti. Seulgi membuka bagasi mobilnya dan melempar koper itu keluar begitu saja. Perempuan itu memencet bel, tapi tidak bersuara, dia segera kembali ke rumah sakit bahkan sebelum pintu gerbang dibukakan untuknya.

Dalam perjalanan itu, seringai tak henti-henti tergambar di wajahnya.

Satu dendam baru saja selesai ia hentikan.

.

.

.

.

.

 “Kasihan sekali pria dari kamar 2506 itu”.

                “Memang apa yang terjadi padanya?”

“Dia baru saja meninggal, dari desas-desus yang aku dengar, pria itu mati tertikam belati dengan mengenaskan, sekujur tubuhnya luka-luka, bahkan ada yang mengatakan bahwa dia dimutilasi”.

Seulgi memberi reaksi dengan membelalakkan matanya begitu lebar, “Ya Tuhan, kasihan sekali dia!”, nada tak percaya terdengar begitu kental.

“Aku rasa dia sebenarnya bunuh diri, mungkin dia masih patah hati karena kehilangan kekasihnya itu. Sudah aku bilang dia masih sinting, tapi rumah sakit tidak percaya! Kau lihat kan sekarang apa yang terjadi? Ini tragedi! Orang-orang tidak boleh tahu kalau dia pernah dirawat disini atau reputasi rumah sakit kita akan hancur seperti Suho Group sekarang ini”.

Seulgi kembali melihat daftar yang ada di tangannya, usia pria itu baru 26 tahun dan sudah mengalami tragedi semengerikan itu. Bukankah dunia ini sungguh gila, pembunuhan dan kematian bisa ditemui dimana saja, bahkan dengan cara-cara yang begitu tragis, begitu mengerikan.

Seulgi menutup matanya dan menghembuskan nafas berat.

Dia mengingat malam kemarin, ketika pembunuhan dan kematian yang begitu menyedihkan terjadi tepat di depan matanya, di bawah pisau yang tergenggam dalam tangannya.

Sebuah senyum terukir di bibir perempuan itu, dia masih bisa merasakan suhu darah yang mendidih ketika melumuri tangannya, bau anyir darah yang menyapa penciumannya, suara tawanya yang sedikit tertahan ketika mencungkil bola mata pria itu, juga ketika mengambil hatinya dari balik rongga dada, sebuah kesenangan yang menguji adrenalin dengan kasar.

“Bukankah kemarin kau mengantar pria itu saat keluar dari rumah sakit, Seulgi-ya? Apakah saat itu dia menunjukkan gelagat aneh?”

Seulgi membuka matanya kemudian tertawa, “Aku tidak begitu memperhatikan, tapi saat itu dia begitu tenang, dia diam saja, tidak berucap bahkan sepatah kata pun hingga aku menurunkannya di depan rumah”.

“Wah, perlakuan bangsal VIP memang sangat istimewa, ya”.

Seulgi hanya menanggapi dengan senyuman.

.

.

Aku sudah memperingatkan mereka tentang dendam, hal itu tidak akan pernah usai dan terus berkelanjutan jika akar pertama dari dendam itu tidak diselesaikan.

Jadi, aku hanya membantu memutus rantai dendam itu.

Sekarang, tidak ada lagi hutang yang perlu dibayar, karena tidak ada yang menagih. Dan lagi—di dunia yang aku tinggali ini, hukum rimba tidak bekerja.

[the end]

a/n : aku pengen berpartisipasi di tema oktober biarpun ini agak terlambat gitu ya, hihi. And yes, I’m back!

Advertisements

4 thoughts on “[REVENGE] Man from 2506

  1. so- i read it twice, karena rada ga nyambung akunya. but then i undesrtand. seulgi yang bunuh kan ya? dia yang bunuh pria itu dan dimutilasi kan? ceritanya dia dirasuki arwah kekasihnya kan? but the question is, did the man kill his gf? hahaha mohon bantuannya. aku lola 😦

    Like

    1. After read your comment aku langsung ngerasa ini ‘genre failed’ hehe, terus aku baca ulang2 kayaknya lbh masuk ke drama ya drpd horor thriller huhu TT
      Actually, aku bikin seulgi jd psikopat gt, dia dirasukin emang dan si cowok kan jg minta bantuan buat bls dendam, itu sebenernya buat pihak ketiga, dan seulgi gamau, malah mutus tali dendam dg ngebunuh si pria, tapi kalaupun sora nangkepnya kek apa yg sora mau, thats fine! karena imajinasi readers kan beda2 😊

      Like

      1. aku jasi ngerasa bersalah—aniyaaaa. Mungkin sudah lama otak saya ga berpkir jadi agak lola but it’s true😭 ya kali ya, beda2 imajinasi. But i really like your story. Seulgi psikopat, minarifini bikin joy psikopat—ini ceritanya anak RV psikopat😂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s