Genre · Horor · Length · Mystery · October Project · One Shoot · PG -15 · Rating · sad

[Hello Oktober!] Bunga Kenangan


[Hello October!] Bunga Kenangan

Vizkylee

Chae Hyung Won | Lee Joo Heon MonstaX

Hong Hye Won – OC

Misteri | Sad | Sedikit Horor | One Shoot | PG-15

a/n : cerita ini gak horor banget, feel horornya gak dapet  malah sedih 😦 . aku harap kalian suka 

 
Bunga adalah hadiah yang paling disukai oleh para wanita.
Karena warna dan wangi yang khas dari bunga-bunga tersebut.
Tetapi jika kalian mendapat bunga tanpa tau siapa pengirimnya.
Senangkah? Atau Takutkah kalian? 

 

Hong Hye Won menggebrak mejanya, sudah seminggu ini mejanya selalu dihiasi oleh tangkai bunga lili. Dia sudah bertanya pada siapapun tetapi yang ditanya tidak tau menau soal bunga lili tersebut, bahkan bagian front office dan juga satpam tidak melihat ada orang yang masuk sambil membawa bunga.

“Seharusnya kau senang Hye Won-ah diberi bunga oleh penggemar rahasiamu, bukan merasa kesal seperti ini” ujar Temannya.

“Awalnya aku senang tetapi sekarang tidak. Bunga ini bukan hanya tidak diketahui nama pengirimnya, tetapi juga tidak terlihat pengirimnya” jelas Hye Won, kemudian duduk setelah membuang bunga itu kedalam tong sampah.

“Aku sudah bertanya pada semua orang, dan mereka tidak pernah melihat seorangpun yang masuk kedalam gedung maupun keruanganku. Ini benar-benar aneh, dan ini membuatku frustasi berat” jelas Hye Won kembali dengan wajah frustasi.

“Aku tau ini aneh tetapi jangan berfikiran negatif dulu, coba kamu ingat-ingat apa ada seseorang yang sedang mendekatimu akhir-akhir ini, siapa tau dia yang mengirim bunga padamu dan menyuruh satpam untuk tutup mulut” jelas temannya.

“Kau yakin seperti itu??” teman Hye Won mengangguk pasti.

“Sekarang kita kembali kerja dulu, dan singkirkan dulu masalah bunga itu” Hye Won menganggukkan kepalanya, dan dia segera mengerjakan pekerjaannya.

***

Seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah rupawan sedang memberikan air pada taman yang dipenuhi dengan bunga lili, pria itu tersenyum senang melihat bunga lili yang dirawatnya tumbuh dengan sempurna. Banyak pria yang lebih menyukai hobi mengumpulkan mobil-mobil mahal, tetapi pria rupawan itu lebih memilih menanam bunga yang jauh dari kata macho. Namun dia tidak perduli jika teman-temannya menganggap dia tidak macho, yang terpenting kekasihnya senang. Itulah tujuan pria rupawan ini menanam bunga lili di halaman rumahnya.

Setelah selesai memberi air pada bunga cantiknya, pria rupawan itu memetik beberapa bunga lili putih untuk dia letakkan kedalam vas bunga dan juga dia bawa kekantornya. Pria rupawan itu membersihkan sisa-sisa tanah yang menempel pada tangkai bunga, lalu memotong tangkai tersebut agar pas dengan vas miliknya. Vas berwarna putih bening dengan ornamen bunga diseluruh dindingnya menjadi lebih indah saat pria itu meletakkan bunga lili didalamnya, pria rupawan itu tersenyum kembali saat matanya menatap bunga lili favorit kekasihnya itu.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 07.00 KST, pria rupawan itu segera menuju kamarnya untuk bersiap menuju kantor miliknya.

Pukul 08.00 KST, pria rupawan itu sudah menginjakan kakinya di lobby perusahaan miliknya. Penjaga keamanan dan beberapa karyawannya menyapa saat berpapasan dengannya, dan pria itu selalu membalas dengan senyum khasnya. Sebelum pria itu pergi keruangannya, dia selalu menyempatkan untuk pergi keruangan dimana kekasihnya bekerja. Keadaan diruangan itu masih sepi, dan pria itu langsung menuju kubikel milik kekasihnya dan meletakkan buket bunga lili didepan sebuah persegi yang berisikan potret kebahagian pria itu bersama kekasihnya, lalu dia tidak lupa untuk berdoa.

Saat pria itu akan meninggalkan ruang tersebut, seorang pria dengan lesung pipit di pipi datang menghampiri pria rupawan tersebut.

“Kamu sudah lama disini” tanya pria berlesung pipit tersebut.

“Tidak Joo Heon-ah”

“Kamu tidak membawa bunga?” tanya pria rupawan pada pria berlesung pipit tersebut.

“Ah… aku lupa, nanti pada saat makan siang aku akan membelinya” ucapnya cepat lalu tersenyum pada pria rupawan tersebut.

“Aku harap kamu tidak melupakannya lagi Joo Heon-ah” ujarnya sambil menepuk pundak Joo Heon lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Joo Heon merubah mimik wajahnya menjadi sedih sekaligus khawatir, lalu dia langsung berdoa dan meninggalkan kubikel itu.

***

Hye Won memegang buket berisi bunga lili tersebut dengan pandangan kosong, dia masih belum menemukan siapa pengirim buket bunga lili tersebut. Hye Won menatap sekelilingnya, sepi sedikit gelap dan dingin, dan juga dia sendirian.

Akhir-akhir ini dia merasa jika ruangannya terasa sepi,sedikit gelap, dan dingin, apalagi teman dekatnya sekarang jarang masuk kantor. Teman kantor lainnya tidak memberi jawaban atas pertanyaan Hye Won mengenai teman dekatnya tersebut. Hye Won menatap dirinya didalam kaca dihadapannya, wajahnya pucat, pucat seperti mayat hidup. Hye Won menggelengkan kepalanya berusaha untuk menghilangkan pikirannya tersebut.

‘Apa aku berada dialam lain?’

‘Apa aku memang sudah mati?’

‘Dan kenapa bunga lili ini terasa nyata?’

‘Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?’

‘Apa bunga lili ini pemberian kekasihku?’

Hye Won memeluk buket bunga lili tersebut, agar dia mengingat siapa pemberi bunga lili yang selalu ada diatas mejanya.

***

Joo Heon mengetuk pintu ruangan pria rupawan itu, dan segera saja masuk kedalam setelah dipersilahkan.

“Pihak rumah sakit menelfon” Joo Heon tidak meneruskan kalimatnya, Dia ingin melihat raut wajah dari pimpinannya.

“Teman Hye Won sudah sadar. Apa kau ingin menjenguknya?” tanya Joo Heon hati-hati.

“Tidak! Kau saja” ujarnya singkat.

“Hyung Won-ah, ikutlah sebentar saja” pinta Joo Heon.

“Aku bilang TIDAK! Ya TIDAK!” Bentak pria rupawan tersebut.

“Apa kamu akan seperti ini terus? Kau sama saja menyiksanya Hyung Won-ah!” Joo Heon ikut membentak Hyung Won.

“Dia masih hidup Joo Heon-ah, dia masih hidup” ucapnya perlahan dan Joo Heon masih bisa menangkap perkataannya dengan jelas.

“Ikutlah denganku kerumah sakit sekarang Hyung Won-ah” pinta Joo Heon kembali.

“Aku akan ikut, tetapi jangan halangi apa yang akan aku lakukan disana” Hyung Won segera mengambil jasnya dan keluar dari ruangannya.

Joo Heon segera mengikuti Hyung Won dari belakang, dan ikut masuk kedalam mobilnya.

“Apa yang akan kau lakukan Hyung Won-ah? Apa yang kamu lakukan itu salah, biarkan dia hidup tenang dialamnya sana” Hyung Won memandang Joo Heon dengan tidak suka.

“Jangan ikut campur!” setelah itu hanya ada suara deru mobil yang mengisi perjalanan mereka menuju rumah sakit.

***

Hye Won terbangun ditempat yang asing, semua dinding di kanan-kirinya berwarna putih dan bau disekitarnya khas seperti dirumah sakit, dia tampak bingung dengan keadaan sekitar yang terasa asing. Hye Won pun keluar dari ruangan yang serba putih itu, dia melihat keadaan diluar ruangan yang begitu ramai.

Hye Won terus berjalan melewati orang yang berlalu lalang, tiba-tiba Hye Won berhenti berjalan saat dia melihat seorang pria duduk sendiri dengan kepala yang menunduk. Hye Won seperti mengenal pria itu, dia perlahan menghampiri pria itu dan berdiri disampingnya, mencoba untuk memegang pundak pria itu. Namun gagal, karena seseorang memanggil namanya.

“Dia ingin menemuimu Hyung Won-ah” Hyung Won menghembuskan nafasnya dengan kasar dan diapun langsung masuk kedalam ruang rawat.

Hye Won merasa sesuatu janggal disini, kedua pria itu tidak menggubrisnya bahkan terkesan dirinya tidak terlihat oleh mereka. Hye Won masih berdiri didepan pintu ruang rawat, dia bingung ingin masuk atau tidak, akhirnya dia memilih untuk masuk kedalam ruang rawat.

“Siapa yang membuka pintu?” tanya Hyung Won.

“Tidak ada, mungkin saja angin”

Hye Won terkejut dengan percakapan singkat kedua pria itu

‘Mereka tidak melihatku’

‘Kenapa mereka tidak bisa melihatku?’

Hye Won terkejut kembali saat dirinya melihat seorang wanita yang berada ditempat tidur, itu temannya. Teman yang selalu mendengar curahan hatinya, yang beberapa hari yang lalu tidak bisa menjadi teman curhatnya. Hye Won berusaha mendekati temannya itu, namun dia juga tidak mengalikan pandangannya pada Hye Won yang sudah berada disamping ranjangnya. Dia pun berusaha untuk memegang pundak temannya, ada sedikit harapan, temannya memalingkan wajahnya kearah dirinya. Namun temannya itu terlihat mengerutkan dahinya dan pandangannya menandakan dia tidak melihat sesuatu disampingnya.

“Kenapa?” tanya Joo Heon.

“Seperti ada yang memegang bahuku” jelasnya. Lalu kedua pria itu saling memandang dengan tatapan bingung.

“Sepertinya kita harus membiarkanmu istirahat terlebih dahulu” wanita itu menggelangkan kepalanya.

“Aku tidak apa-apa”

“Bagaimana keadaan kekasih anda sajangnim?” tanya wanita itu pada Hyung Won.

Hye Won mengalihkan tatapannya pada Hyung Won.

‘Apa yang dia maksud?’

“Hye Won baik-baik saja” ujarnya singkat dengan nada dingin.

‘Dia mengenalku. Apa kekasih sajangnim yang dimaksud oleh temanku adalah diriku’

‘Tidak mungkin, itu tidak mungkin’

Hye Won masih tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar.

“Beristirahatlah hingga pulih, semua biaya akan di tanggung oleh perusahaan” setelah mengucapkan hal tersebut, Hyung Won langsung bangkit dari duduknya.

“Kau mau kemana?”

“Aku akan ke ruang rawat Hye Won. Kau disini saja dulu Joo Heon-ah” Hyung Won segera pergi dari ruangan itu dan pergi menuju ruangan kekasihnya.

Hye Won tanpa sadar mengikuti Hyung Won dari belakang, dia ingin tau Hye Won siapa yang akan ditemui pria yang dipanggil Hyung Won oleh temannya.

Hyung Won berhenti sejenak sebelum masuk kedalam ruangan Hye Won, inilah alasan dirinya dia tidak ingin pergi kerumah sakit dimana kekasihnya dirawat. Disana dia akan bertemu dengan kedua orang tua Hye Won dan juga dokter yang menangani Hye Won, dan mereka  akan selalu mengatakan hal ini pada Hyung Won.

‘Ikhlaskan dia’

‘Dia sudah tidak harapan lagi. Biarkan dia hidup tenang’

Hyung Won ragu untuk membuka pintu ruangan tersebut, namun pintu itu tiba-tiba terbuka, dan wajah eomma Hye Won yang pertama kali Hyung Won lihat lalu aboejinya. Hye Won yang berada dibelakangnya tampak sangat terkejut melihat kedua orang tuanya keluar dari ruang rawat.

“Kau datang. Masuklah, kami akan keruangan dokter Lee” Hyung Won hanya menganggukkan kepalanya, setelah kedua orang tua Hye Won pergi dari hadapannya, Hyung Won langsung masuk kedalam ruang rawat yang dipenuhi dengan bunga tulip.

Diciumnya kening Hye Won dengan lama, lalu memegang tangan Hye Won yang terasa dingin. Hye Won tidak mampu berkata saat melihat dirinya sendiri tertidur dengan banyak alat medis yang terpasang ditubuhnya.

“Bagaimana kabarmu?”

“Kamu masih terlihat begitu cantik” Hyung Won mengelus dengan lembut pipi Hye Won.

“Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus melakukan apa yang mereka katakan?” tanya Hyung Won pada Hye Won, dengan nada menyerah.

“Bukan aku ingin kamu pergi, tetapi semua orang bilang aku membuatmu tersiksa dengan alat-alat ini. Aku mohon kamu jangan marah padaku Hye Won-ah, hal ini aku lakukan bukan aku ingin melupakanmu, kamu akan tetap ada didalam hatiku sampai ajal menjemputku juga” Hyung Won mencium tangan Hye Won lama, setelahnya dia membuka alat bantu nafas dari Hye Won.

Dokter Lee dan kedua orang tua Hye Won yang baru saja masuk kedalam ruang rawat, terkejut melihat Hyung Won membuka alat bantu nafas itu.

“Hyung Won kamu memutuskan sesuatu yang baik. Terima kasih” eomma Hye Won memegang kedua tangan Hyung Won dengan erat, sementara aboeji Hye Won hanya tersenyum bijak menanggapi hal yang dilakuka oleh Hyung Won.

“Eommonim, aboenim saya mohon izin untuk mengubur jasad Hye Won di rumah saya. Di taman yang sengaja saya tanam banyak bunga tulip kesukaan Hye Won, apa kalian memperbolehkannya?” kedua orang tua Hye Won saling memandang, mereka tau seberapa terpukul Hyung Won saat Hye Won mengalami kecelakaan dan saat dokter menyatakan tidak ada harapan lagi untuk Hye Won hidup.

“Kamu boleh melakukannya Hyung Won”

“Kami mengizinkannya”

Dokter segera memanggil perawat untuk segera melepas alat-alat yang ada ditubuh Hye Won. Saat suster-suster itu akan membawa Hye Won keruang jenazah, Hyung Won segera menghentikan mereka.

“Aku yang akan melakukan prosesnya dirumah”

“Anda sendiri??” tanya Dokter Lee

“Tentu saja, dia kekasihku dan dia tanggung jawabku” tidak ada yang mencegah aksi Hyung Won.

Dengan perlahan Hyung Won menggendong tubuh Hye Won ala bridal, dia tidak mengizinkan Hye Won dibawa oleh ambulans, dia tidak ingin orang-orang tau bahwa kekasihnya telah pergi.

“Hyung Won-ah kenapa?” Joo Heon tampak bingung dengan apa yang dilihatnya.

“Bantu aku” perintah Hyung Won.

Hyung Won menduduknya Hye Won di kursi depan disamping kursi pengemudi, dia tidak lupa juga memasangkan seat belt pada tubuh Hye Won.

“Kau memperlakukannya seakan-akan dia masih hidup” komentar Joo Heon setelah beberapa lama dia terdiam melihat tindakan yang dilakukan Hyung Won.

“Dia masih hidup di hatiku” ucapnya singkat.

Joo Heon merasa benar-benar ingin membawa temannya pergi ke psikiater, cintanya sungguh mendalam sehingga membuatnya tidak bisa menerima, jika kekasihnya telah pergi kealam yang berbeda.

“Jadi baju pengantin dan peti yang kau pesan itu, karena kau akan membuat tempat peristirahatan terakhir Hye Won ditaman rumahmu”

“Iya”

“Haruskah seperti ini”

“Cukup bicaranya. Jika kau tidak ingin membantuku, pulang saja” Joo Heon-pun memilih untuk diam dari pada mereka bertengkar.

Sesampainya dirumah, Hyung Won langsung membagi tugas pada asisten rumah tangganya dan juga Joo Heon untuk membuat lubang, sementara Hyung Won melakukan pembalsaman. Dengan hati-hati Hyung Won melakukan sesuai dengan prosedur yang dia ketahui dari  petugas yang biasanya melakukan pembalsaman. Hyung Won tersenyum saat dia akan memakaikan sebuah gaun pengantin berwarna putih dengan aksen bunga tulip pada bagian bawahnya, dibantu oleh asisten rumah tangganya yang lain, Hyung Won memakaikan gaun tersebut perlahan hingga membungkus sempurna tubuh Hye Won. Tidak lupa Hyung Won memulaskan make up pada wajah pucat Hye Won, tidak lupa Hyung Won mengabadikan Hye Won dengan gaun pengantinnya menggunakan kamera miliknya.

Hye Won menyentuh wajahnya yang sudah cantik dengan pulasan make up, sesekali dia memandang Hyung Won yang sedang memasukkan bunga tulip kedalam peti dimana tubuh Hye Won terbaring dengan tenang. Hye Won ingin sekali menyentuh wajah rupawan Hyung Won, tetapi tangannya menembus tubuh Hyung Won.

‘Aku hanya roh’ ucap Hye Won dengan tersenyum getir.

‘Tuhan izinkan aku mengucapkan hal yang belum sempat aku ucapkan padanya’ doa Hye Won.

Hye Won berjalan menuju sisi lain dari peti dimana Hyung Won masih sibuk menatap bunga tulip di dalam peti tersebut, tubuh mereka sudah sangat dekat jaraknya, Hye Won takut dia akan menembus tubuh Hyung Won. Namun ketakutannya tidak terjawab, karena tubuh Hyung Won menegang setelah dia merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Hyung memegang tangan yang melingkari pinggangnya, dingin itu yang dirasa oleh Hyung Won.

“Jangan membalikkan badanmu, tataplah aku yang ada dihadapanmu” ujar Hye Won.

Tubuh Hyung Won bertambah tegang saat mendengar suara yang mirip dengan suara kekasihnya, dan Hyung Won menuruti perkataannya dengan hanya menatap Hye Won yang tertidur tenang di dalam peti tersebut.

“Maafkan aku… maafkan aku” Hye Won mengucapkannya sambil menyandarkan kepalanya pada punggung Hyung Won.

“Maafkan aku… maafkan aku…” Hyung Won luruh, tubuhnya terduduk disamping peti setelah mendengar permintaan maaf dari Hye Won.

Hye Won merengkuh tubuh Hyung Won yang bergetar, pria itu menangis. Tangis yang sudah dia tahan sejak tadi malam akhirnya luruh bersamaan dengan permintaan maaf dari Hye Won, Hyung Won memegang tangan dingin Hye Won dengan erat, seakan menunjukkan bahwa dia tidak ingin Hye Won pergi meninggalkannya.

“Maafkan ak…” permintaan maaf Hye Won terputus saat dia merasa tangannya di remas dengan kuat oleh Hyung Won.

“Jangan meminta maaf, kamu tidak salah apapun Hye Won-ah” jelas Hyung Won dengan nada yang sedikit serak.

“Aku harus meminta maaf padamu, karena aku belum menjawab pertanyaanmu”

“Tetapi kamu tidak perlu sampai meminta maaf seperti ini”

“Aku harus!”

“Hyung Won-ah aku bersedia, aku bersedia. Dan maafkan aku tidak bisa bersanding denganmu, dunia kita sudah berbeda. Aku harap kamu bisa melupakanku dan juga kenangan kita berdua” Hye Won menghilang bersamaan dengan ketukan pada pintu.

“Hyung Won-ah keluarga Hye Won dan pihak kepolisian sudah datang” Hyung Won tidak segera menjawab ucapan Joo Heon.

Pria itu berdiri dan menghapus air mata yang tersisa di pipinya, lalu dia mengeluarkan sebuah kotak bludru berwarna putih dengan aksen bunga mawar. Pria itu mengeluarkan cincin dengan berlian diatasnya, lalu menyematkannya pada jemari Hye Won dan di ciumnya tangan Hye Won untuk terakhir kalinya, tidak lupa pria itu mencium kening kekasihnya untuk yang terakhir kalinya.

“Bantu aku menutup peti ini” perintah Hyung Won pada Joo Heon.

Setelah pemakaman selesai baik keluarga Hye Won maupun pihak kepolisian sudah pulang dari rumah Hyung Won, sementara Hyung Won masih betah duduk disamping peristirahatan terakhir Hye Won, tidak ada tangis yang ada hanya kebisuan dari pria itu dengan tatapannya pada foto yang tersenyum tanpa beban. Hyung Won teringat dengan perkataan Hye Won yang menyuruhnya untuk melupakannya, dia tidak yakin bisa untuk melupakan wanita satu-satunya yang dapat menggetarkan hatinya.

“Hyung Won-ah, ayo masuk nanti kau kehujanan” Hyung Won mengangguk, setelah itu dia menyentuh gundukan yang ada dihadapannya.

“Semoga kau tenang disana Hye Won” Hyung Won bangkit dari duduknya, berjalan perlahan melewati taman bunga lili tersebut.

Sebelum masuk kedalam rumah, Hyung Won melihat kembali tempat peristirahatan terakhir Hye Won yang di kelilingi oleh bunga lili, begitu indah batin Hyung Won.

‘Aku harap kamu suka dengan hadiahku ini’ ucap Hyung Won sambil menengadahkan kepalanya kelangit yang tampak berawan gelap.

 

[END]

Advertisements

4 thoughts on “[Hello Oktober!] Bunga Kenangan

  1. Well ini sad😢 gapap jagiya, horror mah susah. Banyak orang yang mengintrepetasikan ‘horror’ itu beda2 😉 so i think it’s okay. Aku agak bngung namanya hampir sama hye won dan hyung won, jadi bacanya harus pelan2 banget tadi hehehe. Anyway sad feel nya dapet banget, cuman agk bngung pas awalnya gitu, rh trnyta hye won uda ga ad. Trs utk yg tadi pria rupawan itu, untuk pengulangannya, km bisa pakai ‘ia’ atau ‘dia’ sih mnrtku hehehe. Sedikit saran aja hehe. Anyway what a nice story, akhirnya dirimu kombek!!!!🙌

    Like

    1. iya horor itu susah 😦 makannya itu agak kurang pede publish FF ini.
      yupsss aku juga bingung, tadi ada yang salah ketik untung aku udah perbaiki hehe.
      iya pasti bingung baca diawalnya, aku bingung mau nandai pakai apa gitu.
      nah iya, itu kekuranganku terlalu banyak pengulangan. tadi aku pas baca ya rada aneh terlalu banyak kata yang diulang.
      terima kasih atas sarannya ya, nanti bakal aku perbaiki.
      udah lama gak nulis soalnya 😦
      terima kasih atas komen dan sarannya

      Like

  2. hai author vizkylee
    ini ceritanya romantisnya, kayak never ending love gitu. Meski cweknya udah meninggal tapi dia kayak menganggap cweknya masih hidup dan melakukan seluruh proses pemakamannya dengan telaten gitulah~~
    ini sedih dan aku sempet kayak terharu pas cweknya meluk si cowok itu , pamitan gitu istilahnya u,u

    oke itu aja, keep writing ya ^^
    see you ~~~

    Like

  3. Jooheon suruh gali gali macem tukang 😂😂 ((yak yak))
    huhu 😢 when fiction seems real, perpisahan emang susah ya, apalagi saat itu untuk selamanya.
    Horor sih kak bagian dipeluk dr belakang sama dipegang pundak ( –“) but bcs this is more romance genre, jd lebih ke sad ya. Gwenchanaa, thx for sharing kaaa, nice!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s