Darkfic & Crime · Horor · NC -17 · One Shoot

[Hello October!] A Little Secret That I Could Share


A Little Secret That I Could Share

half-copy

Author : @minarifini / Tittle : A Little Secret That I Could Share / Cast : Irene, Joy as Soo Young / Genre : Horror, Murder, Drakfic and Crime / Leght : One Shoot/ Rating : Mature

 

Disclaimer :  Jangan dianggap serius, ini hanya sekedar FF, segala bentuk adegan yang tertulis dilarang keras untuk dilakukan. FF ini hanya dibuat untuk meramaikan project MNJFANFICTION yaitu ‘Hello October’ . Inspirasi FF ini berasal dari permainan ‘Russian Roulatte’.  

 

 Author Note :  Hi, aku binggung mau ngomong apa wkwkwk yang jelas ini ff horror pertama dan semoga kalian suka ^^ jangan lupa meninggalkan jejak ya, segala bentuk apresiassi sangat memotivasi penulis. Okey enjoy ~~

 

Stories :

 

‘Aku senang bisa berbagi, rahasia kecil ini denganmu, Kakak.’

 

Perlahan Irene membuka matanya. Pandangan mata Irene kabur akibat benturan. Saat itu ada seseorang yang sengaja membenturkan kepalanya di dinding, hingga membuatnya pingsan. Kepalanya masih terasa berat. Irene berusaha untuk memfokuskan penglihatannya.  Ada satu cahaya yang berhasil di tangkap indra penglihatannya, ia melihat cahaya lilin berada di ujung ruang tengah dan juga siluet seorang gadis yang duduk di sana, gadis itu sedang membersihkan sebuah pistol.

 

Butuh beberapa menit bagi Irene, untuk mencerna apa yang sedang terjadi.  Ruang tengah nampak remang dan berantakan. Di luar sedang hujan lebat. Bau anyir darah  menusuk hidung Irene.  Detik kemudian suara petir terdengar dan seberkas cahaya masuk melalui jendela ruang tengah,  nampaklah seorang Soo Young- adiknya- duduk di ujung ruang keluarga. Gesture tubuhnya nampak tenang dan bibirnya tersenyum.  Mata Irene menyapu ruang tengah cepat. Kakinya lemas, ketika  melihat mayat ayah dan ibunya tergantung dengan bekas tembakan di kepala. Masih ada darah segar yang menetes dari mayat kedua orang tuanya. “Eomma, Appa.” Gumam Irene. Satu lagi, bau busuk sangat menyengat, berada di dekat kakinya, ada ‘mocca’ anjing kesangannya tergelak dengan perut terbelah dan organ-organnya berceceran.  Irene mengepalkan tangannya.

 

Tidak ada kata yang sanggup melukiskan perasaan Irene saat ini. Ia tidak percaya dengan keadaan yang sedang terjadi. Segalanya terasa tidak masuk akal. Emosinya hanya tertahan di dada. Ia tidak sanggup berbuat banyak karena tubuh Irene tersalip, kaki dan tangannya terikat.

 

”Kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu, kak?”  Irene muak dengan suara gadis itu. Gadis itu tidak waras. Entah apa yang membuat gadis itu berubah. Gadis itu tidak lain adalah adiknya sendiri. Mudah sekali bagi Irene untuk menerka bahwa Soo Young adalah pelaku dari kegilaan ini. Irene mengigit bibirnya kesal. Bagaimana bisa Soo Young melakukan ini semua? Dari mana ia belajar melakukan hal gila ini? membunuh ayah dan ibunya sendiri. Dia gila! ”Kau tidak menjawabku? Apa pertanyaanku tidak terdengar olehmu, Kak?” Soo Young berdiri, ia mengarahkan pistol ke arah Irene saat ini.  Tubuh Irene menegang.

 

”Apa yang sedang kau lakukan?”  Desisi Irene. Sejenak, Soo Young menurunkan pistolnya. Ia berjalan pelan ke arah Irene.

 

”Aku ingin bermain dengamu, Kak.” Baru kali ini, Irene merasa risih dipanggil ‘kakak’ oleh Soo Young. Sungguh Soo Young yang ia kenal tidak seperti ini. Apa yang terjadi dengannya. ”Apa kau tahu permainan russian roulatte?” Irene menelan ludahnya gugup. Sedangkan Soo Young berhenti di hadapannya, Irene sanggup melihat jelas raut muka Soo Young. Gadis itu nampak mengerikan, adiknya memakai riasan wajah tebal, bibirnya merah merona. Soo Young  tersenyum dan pandangan matanya terlihat seperti seorang psyco.

 

”Soo Young, apa yang terjadi padamu?” Suara Irene bergetar.

 

”Tidak ada.” Soo Young mengedikkan bahunya. Ia tersenyum. ”Tadi, aku belum sempat bermain russian roulatte dengan ayah dan ibu. Namun, aku sudah menyiapkan ini khusus untukmu, Kak.” Irene menggelengkan kepalanya. Apa yang terjadi padanya? Pertanyaan itu berputar di benak Irene. Soo Young menempelkan ujung pistol di dahi Irene. Untuk sejenak Irene menahan nafasnya. ”Di dalam pistol ini, hanya terdapat satu peluru saja. Aku sudah menyiapkan ini lama sekali, jadi aku lupa pelurunya terdapat di urutan berapa. Apakah setelah aku memantikkan ini, pelurunya akan menembus di dahimu atau tidak aku tidak tahu, Kak.” Ucap Soo Young manja. Irene menatap mata Soo Young- Irene terlihat seakan tidak percaya dengan apa yang telah diucapkan adiknya. Russian Roulatte.  Keringat dingin memenuhi pelisi Irene. ”Aku harap pelurunya tidak langsung membuatmu mati- karena kalau begitu permainan tidak akan seru. Benar kan, Kak? Apa kau setuju denganku?” Bisik Soo Young. Bulu kuduk Irene meremang.

 

Perlahan Soo Young pun mundur. Lagi-lagi senyum aneh itu nampak di wajahnya. Hujan masih turun dengan derasnya dan sesekali suara pertir terdengar. Irene melihat Soo Young, duduk kembali. Ia mengarahkan pistolnya ke arah Irene. ”Mengapa kau melakukan ini?”

 

“Karena aku muak dengan kalian.” Jawab Soo Young lembut seraya memantikkan pistol. Ada kilatan dendam dari pandangan matanya. Matanya tajam menatap Irene. “Kalian tidak pernah memperlakukanku dengan baik. Ibu selalu memujimu dan memperhatikanmu.  Apa yang membuatku berbeda denganmu? Kita sama-sama lahir dari rahim yang sama. Apa karena ada tanda lahir sialan ini di wajahku yang membuat kalian memperlakukanku dengan buruk? Kalian menganggapku cacat!”

 

”Soo Young, k-kami tidak seperti it….”

 

DOR!

 

Suara tembakan pistol menggema. Tubuh Irene bergetar hebat. Kakinya lemas. Soo Young tertawa di sana. ”Bagiamana kak, menyenangkan, bukan?” tanyanya di sela-sela tawa.

 

Irene tidak sanggup menjawab, nafasnya tersenggal-senggal. Rasa takut menyelimutinya. Sungguh, Irene belum pernah berada dalam keadaan seperti ini. Irene merintih ketakutan, tanpa disadari air matanya jatuh.

 

“Mengapa aku harus terlahir memiliki tanda lahir sialan ini, mengapa bukan dirimu hmm. Aku harus menghabiskan masa-masaku sendiri. Tidak ada orang mau bersamaku, termasuk kalian!” Suara Soo Young meninggi. Ia berdiri dari tempat duduknya. Matanya terus menatap Irene yang sedang ketakutan di sana.  “Dan kau, mengapa kau selalu bersikap seakan tidak peduli ketika teman-temanku menindasku di sekolah? mengapa kau tidak membantu adikmu sendiri hmm?” Dada Irene terasa sesak. Ia terisak. ”Jawab aku Irene!” Soo Young berteriak. Irene terlonjak terkejut, tubuhnya terus bergetar.

 

Suhu ruangan semakin turun, hujan semakin deras dan angin pun bertiup semakin kencang di luar sana. Bibir Irene keluh tak sanggup berkata. Soo Young mendecih sekali lagi. Ia memantikkan pistolnya kembali dan kemudian mengarahkan benda mematikan itu ke arah Irene. ”M-maaf, m-maafkan aku, Soo Young.” Ucap Irene terbatah-batah. Ia memaksakan diri untuk mengatakan hal itu. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

 

“Maaf?” Soo Young tersenyum sinis. Soo Young mengukur pistolnya ke arah dahi Irene. “Kau tahu kak, bagaimana ekspresi terkahir ayah dan ibu sebelum mati. Mereka kelihatan sama sepertimu. Mereka bilang juga ‘maaf..maaf.” Lagi-lagi Soo Young membuat-buat suaranya dan kemudian ia tertawa.  “Kalian sangat lucu!” Suara isak tangis Irene semakin terdengar. Ada rasa penyesalan yang menggelayuti hatinya kini. ”Namun sayang, aku sudah terlanjur muak. Aku senang ayah dan ibu mati. Dan kini giiranmu, Kak.”

 

“Tidak Soo Young!” Irene berteriak. Ia panik.  “Aku mohon, aku tahu kesalahan kami sangat banyak padamu.  Aku tahu kau sangat marah, tapi semua ini salah Soo Young, aku mohon. K-kita bisa memper….”

 

DOR!

 

DOR!

 

Suara tawa sumbang Soo Young masih terdengar, perlahan Irene membuka matanya. Jantungnya bertetak semakin cepat. Sungguh ini tidak lucu sama sekali. Irene sudah tidak mampu merasakan dirinya sendiri, ia diselubungi rasa takut yang dalam. Ia ingin melarikan diri, namun ia tak mampu. Ia tidak sanggup diperlakukan seperti ini. Soo Young sedang mempermainkannya. Irene mengigit bibirnya, air matanya berjatuhan.

 

“Kau menikmatinya, kak?” Hati Irene terasa sakit, ia tidak sanggup menalar kejadian ini. Ia tidak percaya dengan sisi lain yang dimiliki oleh adiknya. Kini, adiknya- Soo Young sedang tersenyum padanya. Ia memantikkan pistolnya kembali.  Soo Young membuang nafasnya kecil, “kak, aku tidak sabar melihatmu mati.” Irene menggelengkan kepalanya. Ia tidak sanggup berkata- pandangan matanya meredup.

 

Soo Young mengarahkan kembali pistolnya ke arah Irene. Senyum simpul nampak di wajahnya, Soo Young mengukur kembali pistolnya ke arah dahi Irene. Ia menghiraukan permohonan maaf Irene. ”Sebelum kau mati, aku ingin kau tahu satu hal tentang ayah, dia adalah pria brengsek.”

 

”B-brengsek?” Sambung Irene di tengah isak tangisnya. Dilihatnya Soo Young mengambil satu langkah mendekati mayat kedua orang tuanya. Pistolnya masih ter-arah pada Irene. Irene pun berusaha keras untuk menelan ludahnya. Ia gugup.

 

Ada seringai mengerikan nampak di wajah Soo Young. ”Iya, brengsek, kakakku sayang. Kau sangat beruntung sekali, ia tidak pernah berbuat sesuatu yang buruk padamu.” Irene tidak mengerti dengan arah pembicaraan adiknya. Soo Young menetap mayat ayahnya. ”Dia tidak pantas disebut sebagai seorang ayah.” Soo Young mengetuk-ketuk kaki ayahnya dengan ujung pistol, masih tetap Irene tidak mengerti. Ia mengigit bibirnya untuk menahan isak tangisnya, ”dia sangat pandai memanfaatkan situasi, Kak. Dia memanfatkan diriku yang tertutup ini…” Soo Young memberikan jeda, perlahan Soo Young menatap Irene. Bibirnya bergetar, terlihat luka yang tersimpan di dalam mata Soo Young. “Dia menggunakanku sebagai pemuas nafsu binalnya ketika ibu tidak ada. Dia meng-gauliku berulang kali tanpa perasaan dan bahkan ia pernah menggilirku bersama temannya…”

 

Irene tersedak ludahnya sendiri, ia terbatuk-batuk. Ini sangat sulit untuk dipercaya, Irene memandangi mayat ayahnya. Ada kegetiran dalam diri Irene. Baginya ayahnya adalah segalanya, seseorang yang ia andalkan dalam hal apapun. Irene tahu bagaimana ayahnya mencintai ibunya, tetapi mengapa beliau melakukan itu pada adiknya. Wajah Irene pucat. Ia berusha menatap mata Soo Young.

 

“Aku tahu, ini sulit untuk dipercaya. Tapi inilah kenyataannya, Kak. Kalian terlalu sibuk dengan urusan masing-masing dan tak pernah peduli padaku. Kalian selalu memperlakukanku dengan berbeda. Kau bahkan tidak becus menjadi seorang kakak.” Irene menundukkan wajahnya. ”Dan aku sudah muak dengan semua ini, aku ingin melepaskan bebanku. Malam ini adalah malam terindah yang pernah kurasakan. Aku merasa bebas. Malam ini adalah menjadi saksi terakhir kelakuan binal ayah kita berakhir, Kak. Beberapa jam yang lalu itu ayah mendatangiku lagi- ia memintaku untuk melayaninya. Saat kita melakukannya- ibu melihat kita.” Irene menaikkan wajahnya untuk melihat Soo Young. Senyum mengerikan itu muncul kembali. Bulu kuduk Irene meremang. Pancaran mata Soo Young mengerikan.

 

”Kau tahu apa yang dilakukan ayah, dia menuduhku bahwa aku yang menggodanya- ia memutar balikkan fakta. Kemudian ibu marah dan ayah, dengan gampangnya ia menamparku untuk menutupi kesalahannya. Setelahnya Ibu menjambak rambutku, aku meronta meminta maaf dan memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun apa, ibu tidak percaya padaku. Belum puas juga melihatku terpuruk, ayah pun meludahiku- ia mengatakan bahwa diriku seperti binatang yang tak tahu malu. Sebenarnya siapa sih  yang seperti binatang? Lucu sekali. ” Soo Young tertawa, ia mentap mayat ibu dan ayah.  ”Mereka pantas mati, Kak.”

 

Kaki Irene lemas- jika ia tidak disalip mungkin ia sudah terduduk lemah. Jantungnya berpacu dengan cepat, ia tidak pernah membayangkan kehidupan  Soo Young sangat berat. Dada Irene terasa sesak- entah mengapa rasanya sulit sekali untuk bernafas. Irene merasa sangat bersalah pada adiknya- memang benar ia tidak pernah peduli dengan Soo Young dan sekarang bisakah ia memperbaiki kesalahannya.

 

” S-Soo Young m-maaf.” Adiknya hanya tertawa di sana, ia berjalan mundur sambil tersenyum. Adiknya menggelengkan kepala bertanda tidak.

 

“Aku senang akhirnya bisa membagi rahasia ini denganmu, kak.” Suara Soo Young terdengar sangat lembut. Senyum aneh masih terhias di wajahnya. Ia mengarahkan kembali pistol ke arah Irene. Di sisi lain, Irene terus berusaha untuk memohon-ia tahu ia terlihat menyedihkan sekarang- ia seakan menggantungkan nasibnya pada Soo Young. Irene berada di ujung tombak. Keringat dinginnya menetes dari plipisnya seraya melihat Soo Young memantikkan pistolnya.

 

“Soo Young aku mohon. Kita bisa memulainya kembali…..”

 

DOR !

 

DOR !

 

Air mata Irene berjatuhan. Ia mulai putus asah- Soo Young tidak mendengarkan pemintaannya sama sekali. Tidak ada yang sanggup mengalahkan rasa dendam adiknya itu. “Maaf, Soo Young.” Gumam Irene . Apakah dengan mati, bisa menebus dosaku padamu, Soo Young? Irene pun menutup matanya.  Ia mendengar Soo Young memantikkan pistolnya.

 

DOR !

 

Setelahnya segalanya terasa gelap.

 

Soo Young tertawa kecil melihat  percikan darah keluar saat pelurunya berhasil menembus kepala kakaknya. Ia melihat darah segar mengalir dari kepala kakaknya.  Soo Young menjatuhkan pistolnya. Ada rasa lega di dadanya. Ia merasa segala bebannya hilang. Ia pun melempar lilin di sudut ruangan. Soo Young membiarkan api membakar tirai jendelanya. Soo Young mendudukkan dirinya kembali. Pandangannya kosong mentap mayat kakaknya. Darah  Irene terus keluar hingga menutupi seluruh paras cantiknya.  Sementara itu api terus menjalar dan semakin membesar.

 

Soo Young tersenyum, “sampai berjumpa di neraka ayah, ibu, kakak. ”

 

Bonus picture :

joy5

 

PS: maaf banget untuk fansnya Irene dan Joy, saya menggunakannya untuk kepentingan cerita saja. Dont take it serious okay. ppyong~

Advertisements

10 thoughts on “[Hello October!] A Little Secret That I Could Share

  1. yuhuu noona! tadi awal baca ga baca cast nya dan ternyata, adek Joy disana 😂 jadi—adek Joy jadi pembunuh? Jadi ini thriller juga kan? Atau sbnernya Joy uda mati dulu—trs bunuh keluarganya? Maaf daku lagi error—but overall, menegangkan ff nya! makin jago nih bkin dark crime—yang jaejoong kapan hari juga hampir sejenis kan?

    Liked by 1 person

    1. Iya Joy bunuh keluarganya dulu wkkwkw baru bunuh diri. Iya sejenis sih, aku bingung bikin horor hahaha entah ini tersebit aja di otak kkk dan Joy dipilih karena dia itu cantik tp sesuatu banget kkkk
      Nah Jaejong oppa mah beda ya kkkk dia g horor XD cuma mungkin sama kali ya pakai pistol gitu T.T
      Oh iya makasih ya sudah mau baca dan bilang menegangkan wkwkwk serius ini FF sulit bgt bikinnya T.T
      makasih ya ^^

      Like

      1. terbesit atau tersebit? aku kok ngakak baca kata itu😂 hahaha. Oh gitu, jadi dia kan bakar rumahnya sekalian bakar diri kan ya? Hahahah emang susah noona—aku aja ketik hapus ketik hapus😂 bagus kok noons! Kita perlu latihan kedepannya. But you worked well in action fanfictions!

        Like

      2. hallah maafkan saya XD khilaf terbesit maksudnya wkwkkw eh kita ngeramehin WP hahah
        iya bakar diri -.- biar g ditangkep polisi, pinter banget si Joy ngatur semuanya. Dia lelah sar T.T
        Huwaaaa makasih ya kkk kamu juga sekarang ffmu unyuk2 lucuk XD kangen hunzy-mu sar wkwkwk

        Like

      3. Hahaha kita kejar2an komen kapan hari lolll. haha iya dek Joy nya pinter banget. Apa aku unyuk? makasi loh 🙌 loll hunzy nya nunggu yee. Entah ide unyuk pelan pelan ilang, apa gegara umur yak😅

        Like

    1. Wkwkkwk iya vin , binggung mau nulis apa 😂 pas ada ide yaudah di tulis aja , jadi gini deh heheh
      Iya vin 😂 makin dewasa #ea hahaha
      Makasih ya udah mau baca ^^

      Liked by 1 person

    1. Haiii salam kenal ^^
      Iya jelas pengaruh ^^ karena keluarga adalah lingkungan pertama , jadi sangat berperan banget sama psikologis seseorang ~
      Makasih ya sudah mau membaca dan meninggalkan jejak ^^
      Keep staying with us ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s