FF Project · Genre · Horor · Length · Mystery · October Project · PG · Rating · Vignette

[Hello October!] One of These Nights


One of These Nights

story by ts_sora

RV’s Kang Seulgi | f(x)’s Amber

Vignette

Horror? (To be honest i’m not sure about this one)

 

Disclaimer: this fanfiction is dedicated to MNJ Fanfiction’s project—Hello October!

So enjoy the story—

.

 

.

 

.

 

“Told you, i have still something to do in Taiwan. I can’t take you with me.”

Amber berusaha meyakinkan gadis yang sedari tadi duduk di bangku belakang mobil, sibuk dengan ekspektasi tinggi tentang apa yang akan ia lakukan di Taiwan—tempat kelahiran Amber, dalam satu minggu ke depan.

Amber menghelan nafasnya. Percuma. Toh, mereka sudah berada di Taiwan saat ini. Toh, Seulgi tak akan memutuskan untuk bertolak kembali ke Seoul—meski Amber akan memohon padanya. Seulgi bilang ia ingin berlama-lama di Taiwan. Ia bilang Amber cukup memberikan tempatnya untuk tinggal—dan gadis berambut pendek tersebut tak perlu membawanya kemana-mana.

Mungkin Amber harus menyalahkan dirinya—karena telah menceritakan tanah kelahirannya yang berada di desa terpencil—dimana hanya ada belasan rumah di sana. Dan menurut Seulgi, itu adalah hal yang menyenangkan.

“Home sweet home,” Amber terkikik geli saat Seulgi melompat dari mobilnya dan bergegas menuju rumah mungil miliknya tersebut. Setelah menjelaskan panjang lebar alasan Seulgi ikut datang pada orang tuanya, ia lantas menunjukkan sebuah kamar tamu untuk gadis itu—dimana ia sambut dengan sorak sorai.

“It’s really cool!” Satu kalimat yang keluar dari bibir Seulgi dan seketika membuat Amber tertawa. Ya, bagaimana bisa Seulgi memuja kamar tamunya yang didominasi oleh kayu jati itu.

“Kau menyukainya?”

Seulgi mengangguk beberapa kali. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya ia berada di sebuah ruangan serba kayu.

“I’ll go this evening—still had something to do. You can ask my mom, if you need anything. Ah dan satu lagi, kami menggunakan bahasa Inggris, so you don’t need to worry.”

Seulgi tak mendengarkan. Ia masih sibuk dengan benda-benda yang berbau kayu dan Taiwan di dalam kamarnya.

Kini kedua matanya tertuju pada bilik jendela kamar kayu tersebut. Mungkin, jika ia merasakan udara sore pedesaan Taiwan, itu akan menambah keseruan harinya, batinnya. Seulgi melompat dari kasurnya dan berjalan menuju bilik jendela. Ia hendak membuka knop jendela-tepat sebelum Amber berlari padanya dan menahan tangan Seulgi.

“Just don’t—” Amber mencoba meyakinkan dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali-membuat Seulgi kebingungan.

“Ada apa sebenarnya?” tanyanya masih tak terima. Seulgi kembali berusaha membuka knop dan saat itu pula Amber menahannya kembali.

Just don’t. You can open it in the morning. Just don’t dare to open the window in the evening. Promise me, you won’t.”

Tidak menyenangkan.

Seulgi membuang ponselnya bosan. Mungkin saat ini ia telah menyesal karena memutuskan untuk ikut dengan Amber. Bagaimana tidak, Amber benar-benar tak memperbolehkannya untuk keluar pada sore hari meski sekedar untuk berjalan-jalan. Amber bahkan melarangnya untuk membuka jendela kamarnya saat sore hari tiba-meski hanya untuk merasakan angin.

Konyol.

Bagaimana bisa ia menikmati hari? Jika keluarga Amber tidur begitu awal dan Amber sendiri belum pulang, sedangkan dirinya hampir mati kebosanan?

Seulgi melemparkan tubuhnya pada ranjang empuknya. Mungkin memang seharusnya ia tidur sekarang. Seulgi menutup matanya, berusaha untuk tidur sebelum sebuah ketukan membuatnya membuka matanya lebar-lebar.

Benar ketukan.

Seulgi beranjak dari ranjangnya dan berusaha mencari asal suara. Ia yakin, seseorang telah mengetuk kaca jendelanya tadi. Namun ia tak menemukan apa-apa. Ya, kosong. Hanya ada beberapa remang lampu jalan desa yang terlihat—selebihnya keadaan luar begitu sepi.

Seulgi hendak menuju kasurnya kembali saat suara ketukan kini lebih keras terdengar. Ia terkejut bukan main saat menemukan seorang anak laki-laki berada di depan jendelanya—menatapnya.

“Oh my god—w-what are you doing there?”

Wajah anak laki-laki itu membiru, begitu juga dengan bibirnya. Anak itu masih tak mau berbicara—hanya bahasa tubuhnya yang mengatakan bahwa ia kedinginan.

“Tapi Amber tidak memperbolehkanku membuka jendela. You should go home. You’re freezing now. It’s really cold outside,” ujarnya berusaha membuat anak laki-laki itu pergi untuk berlindung, namun anak laki-laki itu masih di sana—menatapnya.

Tidak. Ia tidak bisa lagi!

Tak butuh lama Seulgi membuka jendela kamarnya dan meminta anak laki-laki itu untuk masuk. Dan benar saja, anak laki-laki itu hampir mati kedinginan. Tubuhnya begitu dingin—ia bahkan tak bisa mengucapkan satu kata pun karena bibirnya membeku.

Seulgi berusaha menghangatkannya dengan selimut juga beberapa pakaian hangat miliknya yang sengaja ia selimutkan begitu saja pada anak laki-laki itu-berharap anak laki-laki itu akan berhenti menggigil kedinginan.

“Siapa namamu? Dimana tempat tinggalmu?” ujar Seulgi berusaha mengingat bahasa Mandarin yang pernah Amber ajarkan padanya dahulu, namun anak laki-laki itu tak mau menjawab. Ia hanya menatapnya—dan terus menatapnya.

“It’s okay, you can sleep here and go home in the morning. You’ll be safe here,” imbuhnya kali ini mengusap rambut hitam pekat anak laki-laki yang terlihat seumuran dengan keponakannya yang berumur tujuh tahunan.

Dan benar saja, anak laki-laki itu benar-benar tinggal di kamarnya dan pergi pada pagi harinya. Pergi tanpa mengatakan apa-apa padanya.

Untuk malam berikutnya, anak laki-laki itu selalu datang. Benar—setidaknya pukul 12 malam, anak laki-laki itu akan mengetuk kaca jendelanya dan Seulgi akan mempersilahkannya masuk seperti biasa. Anak laki-laki itu akan tidur di tempatnya pada malam hari dan akan pergi di pagi hari. Entah pukul berapa—namun saat Seulgi membuka matanya, jendela telah terbuka dan ia telah pergi.

Entah bagaimana Amber akan bereaksi jika ia tahu akan hal ini, namun ia tak bisa membiarkan anak laki-laki itu mati kedinginan—anak laki-laki yang bahkan tak pernah ia tahu siapa namanya.

Dan saat ini, Seulgi telah menunggu anak laki-laki itu di depan jendela seperti biasa. Dan tepat saat ia berkedip—anak laki-laki itu sudah berada di hadapannya, dan sempat membuat Seulgi hampir mati karena serangan jantung.

“Oh my god you surprised me—h-hey what’s wrong?” Seulgi kebingungan saat kini anak laki-laki itu datang dengan menangis. Dengan cepat ia membantu anak laki-laki itu masuk ke dalam kamarnya, dan menyuruhnya untuk duduk di tempat tidurnya—dimana ia telah menyiapkan beberapa camilan di sana. Dan anak itu, masih belum berhenti menangis.

Yang sedikit ia tahu tentang anak laki-laki itu adalah, orang tuanya yang kejam. Ia bilang, ibunya tak memperbolehkannya berada di rumah saat malam hari—jadilah ia berjalan sendirian di malam hari—kedinginan.

“Oh, astaga.”

Seulgi menemukan beberapa luka legam pada lengan anak laki-laki itu. Apakah ibunya yang memukulnya?

“Apa ibumu yang melakukannya? Sekarang aku tak bisa diam, aku akan mengatakannya pada Amber untuk melaporkan ibumu secepatnya—”

Anak laki-laki itu menggenggam tangannya—berharap Seulgi tak benar-benar melakukannya. Karena selama inilah ia yang meminta Seulgi untuk merahasiakan kedatangannya pada sang pemilik rumah—atau ibunya akan membunuhnya, itu yang sering anak laki-laki itu ucapkan, meski dalam bahasa tubuh yang Seulgi harus coba untuk mengerti.

“Tidak. Kau tak perlu takut—karena polisi akan segera menangkapnya dan kau akan aman.”

“Ada apa? Kau tidak suka makanannya?”

Seulgi menggelengkan kepalanya beberapa kali yang malah membuat Amber bingung. Baginya, tak pernah Seulgi terlihat enggan menyentuh makanannya sebelumnya.

“Amber—” Amber kembali menatap Seulgi, menunggu gadis itu melanjutkan kata-katanya.

“Do you know a little boy who lived near with your house? W-we should call the police—i-i mean his mother is such a psycho. She let her son sleep outside—a-and..”

Air muka Amber berubah. Begitu pula wajah ibu juga kakak Amber yang tengah menikmati sarapan mereka saat ini.

“Wait—did you just open your window in the evening?”

“N-no! I m-mean yes—he was dying out there, a-and i was trying to help him. W-why?”

Amber terlihat gusar. Beberapa kali ia terlihat mengusap rambutnya kasar. Tak hanya gadis berambut pendek itu—namun ibu juga kakak Amber juga sama. Mereka terlihat tak kalah gusarnya.

“W-what’s wrong to be honest—”

Mereka terdiam sekian menit sebelum akhirnya saling menatap satu sama lain dan Amber menghelan nafasnya pendek.

“Beberapa tahun yang lalu, seorang gadis yang tinggal di desa ini—bertemu seorang anak kecil tiap malamnya. Ia bilang, laki-laki itu meminta pertolongannya—karena ibunya tak pernah memperbolehkannya untuk tidur di dalam rumah bahkan untuk semalam saja.”

Amber menarik nafasnya saat wajah Seulgi menegang saat ini.

“Memang benar, ibu dari anak laki-laki itu memang kejam. Beberapa kali gadis itu bilang, ia sering melihat luka lebam di tubuh anak laki-laki itu. Sejak kejadian itu, anak laki-laki juga gadis itu jadi sering bertemu. Namun suatu ketika—sebuah kejadian merubah segalanya.”

Seulgi terlihat menahan nafasnya. Amber lantas kembali berkata;

“Suatu hari, karena kedinginan—anak laki-laki itu berusaha membuat perapian dekat rumahnya. Karena merasa belum cukup besar apinya—ia mencoba membesarkan apinya. Namun sayang, api terlalu besar hingga mengenai dinding rumahnya yang terbuat dari kayu. Anak laki-laki itu berusaha membangunkan keluarganya—namun terlambat, api sudah melahap habis rumahnya beserta keluarganya.”

Seulgi membeku di tempatnya. Wajahnya terlihat pucat kali ini.

“Anak laki-laki itu datang kembali untuk menemui gadis yang menolongnya—dengan penuh noda hitam di wajahnya. Ia mengatakan ia tak sengaja membunuh keluarganya dan ia meminta gadis itu menolongnya. Ia takut bila ia dipenjara atas kematian keluarganya, namun gadis itu tidak menolongnya. Dan sejak saat itu, anak laki-laki itu tak pernah datang menemuinya lagi.”

Amber menatap ibunya yang terlihat tegang sebelum beliau mengangguk—meminta Amber melanjutkan ceritanya.

“Malam-malam berikutnya—ibu gadis itu mengatakan anaknya selalu ketakutan saat malam tiba. Ia bilang, anak laki-laki itu mengetuk jendelanya—dan jika ia tidak membukanya, anak laki-laki itu mengancam akan membunuhnya. Hingga suatu malam—ibu gadis itu menemukan anak gadisnya sudah tidak bernyawa lagi di atas ranjangnya, dalam tidurnya. Sedangkan anak laki-laki itu—ditemukan tewas karena hypothermia, setelah kematian keluarganya—jauh sebelum gadis itu meninggal.”

Seulgi masih membeku di tempatnya. Matanya nanar—wajahnya memucat. Dan Amber bisa lihat kedua tangannya bergetar hebat.

And till today—the little boy still knocking on everyone’s windows in the midnight, for asking some help.” Amber meraih punggung tangan gadis tersebut yang kini terasa begitu dingin. “S-seulgi?”

 

.

 

.

 

.

 

“Amber, bring me back to Seoul now!”

 

.

 

.

 

-Fin-

 

 

Advertisements

11 thoughts on “[Hello October!] One of These Nights

  1. Ini aku sar, minarifini XD

    ini aku bilang horror imut, kenapa? karena si sulgi polos banget di sini. Dia baik banget sama hantu masa ><
    Aku bacanya pas malem2 aku bayangin kalau tidur ada yang ngetuk kaca, g bakal aku bukain , serem T.T

    Like

    1. lmao—did you that it’s based on true event? loll. Hahaha awalnya bngung banget mau bkin apa horor. Trs aku take seulgi juga asaaal bgt😂 ini sebenarnya ada lanjutannya, cuman kok panjang bgt akhirnya aku revisi beberapa kali 😂 anyway thanks uda mau baca noona!

      Like

  2. masih bisa panjang nih ceritanya. horor yang bikin degdegan dan penasaran kenapa gak boleh buka jendela itu, dan ternyata itu alasannya.
    bagus tsar, tapi endingnya sedikit lucu langsung minta pulang aja hehehe
    good job

    Like

  3. What, serem kok 😭 typo inggris di awal grammar nya kebalik ( “–)/
    ending yang polos pun, dan aku inget episod spongebob yg jendela squitward diketuk2 taneman tp dia kiran spongebob ㅋㅋㅋ
    as I told you, sorry for using same cast TT

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s