Chaptered · Fantasy · G · School Life

Girl From Neverland – Chapter 2


gfn vers2

Tittle: Girl From Neverland /Author : minarifini /Cast :Song Mino , Bae Joo Hyeon as Irene , Ahn Hee Yeon as Hani /Other Cast  : Winner member , Red Valvet member /Genre: Romantic Comedy , Fantasy /Lenght: Chaptered

Disclaimer       :

Start Writing  19/05/201 This is pure  a Fanfiction from my imagination dont take it serious. Copy-Paste,   translate into others language or post in other site without my permision ARE NOT ALLOWED!! 

Girl From Neverland 1 / 2 / 3 / 4

STORIES :

Mino mengernyapkan matanya kala ia berada di antara gang gelap dan lembab itu. Ia bingung mengapa ia tiba-tiba berada di sana. Setetes Air hujan jatuh membasahi ujung kepalanya. Mino melihat dirinya dari genangan air yang ada di bawahnya. Ia sedang memakai  seragamnya dan terdapat bercak darah berada di blezer seragamnya- ia terlihat sangat berantakan , bibirnya sobek dan mengeluarkan darah. Ia meraba wajahnya yang lebam dan luka di pipi kirinya yang mulai terasa sakit.

Mino memjamkan matanya, ini terasa aneh sekali. Ia benar-benar sanggup mengingat jika tadi ia sedang makan malam bersama Gadis Neverland itu. Namun mengapa ia berada di sini saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini ulah Gadis Neverland itu? dimana Gadis Neverland itu sekarang?

Mino mengepalkan tangannya , entah mengapa ia merasa kesal sekali dengan ulah Gadis Neverland itu. Ia benar-benar tidak tahu tujuan gadis itu mengirimnya ke sini. Seingatnya, ia hanya meminta penjelasan mengenai alasan gadis itu datang padanya, bukannya memberikan jawaban melainkan gadis itu mengirimnya ke dalam gang sempit. Mino memjamkan matanya sejenak , ia harus tenang saat ini. Mungkin ia bisa menemukan jalan keluarnya.

Jauh di dalam hati Mino , Mino sangat benci mengingat kejadian gang gelap ini. Gang ini adalah saksi bisu mino dikeroyok oleh beberapa kakak kelasnya karena sebuah alasana yang tidak masuk akal. Ia benar-benar membenci kejadian itu, keadaan dimana ia tidak dapat membela dirinya sendiri dan keadaan dimana ia terlihat sangat-sangat lemah.

Sebuah umpatan keluar dari mulutnya, ia mulai nampak frustasi. Minopun membuka matanya dan menganyuhkan langkahnya menyusuri gang sempit itu. Mino merapatkan tanggannya ke tubuhnya, karena kali ini udara mulai terasa dingin.

Langit bertambah gelap dan diikuti tetesan air hujan yang semakin lebat. Mino mempercepat langkahnya untuk keluar dari gang sempit itu. Dilihatnya sebuah gereja berdiri di depannya kini, tanpa pikir panjang lagi ia berlari ke arah gereja itu.

Ia membuka pintu gereja tersebut, di dalamnya nampak sangat gelap dan tidak ada orang selain dirinya. Perlahan mino berjalan masuk, helaan pelan keluar dari mulutnya seraya ia mendudukkan dirinya. Mino mengedarkan pandangannya pada setiap sudut gereja itu, ia berharap terdapat pintu keluar di sana.

Hujan turun dengan lebatnya dan sesekali terdengar suara petir yang menyambar. Suasana sangat dingin sekali, Mino tidak sanggup berbuat banyak. Ia hanya terdiam dan ia mulai nampak menyerah karena ia sama sekali tidak menemukan jalan keluar ataupun menangkap maksud Gadis Neverland itu mengirimnya kembali.

Mino pun menyandarkan punggungnya pada kursi sambil menatap langit-langit gereja. Hanya deru nafasnya yang sanggup ia dengar, ia sudah menyerah untuk menemukan jalan keluar. Biaralah ini terjadi , toh Gadis Neverland itu akan datang nantinya dan membawanya kembali- pikir Mino. Mata Mino terasa berat dan ia merasa lelah, perlahan matanya terpejam.

Mino tersentak terkejut kala mendengar suara petir yang keras, matanya terbuka dengan paksa dan ia pun mengedarkan pandangannya. Ia masih di dalam gereja itu seorang diri, Mino pun mendekap tubuhnya . Ia merasa sangat kedinginan dan hampir sekujur tubuhnya merinding, entah suasana macam apa yang sedang ia rasakan saat ini.

Otak Mino tidak mampu berpikir lagi, dengan gerakan cepat ia pun berdiri dari kursinya dan ia harus segera keluar dari geraja ini. Ini semua tidak masuk akal teriaknya dalam hati- Gadis Neverland dimana kau berada!!!

Minopun menyeret kakinya menuju pintu keluar gereja , ia tidak peduli lagi dengan keadaan hujan yang turun sangat lebat waktu itu. Yang ada dipikirannya saat ini adalah ia harus segera pergi dan keluar dari kekonyolan ini. Mino pun berhasil menarik pintu gereja dan segera berlari keluar.

Pintu geraja pun terbuka. Mino terdiam kala melihat hujan yang turun sangat lebat. Suara petir kembali terdengar.

“Huk..huk…” seseorang sedang terbatuk-batuk. Mino pun mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut.  Dilihatnya seorang nenek-nenek sedang mengigil dan mendekap erat tubuhnya.

Mino yang melihat hal itu tidak sampai hati membiarkan nenek itu kedingingan. Segera ia berjalan mendekati nenek itu. Ia melepas blazer  sekolahnya dan memakaikannya di tubuh nenek itu. Nenek itu terlihat terkejut dengan sikap Mino.

“Maaf nek, blezer saya basah. Mari kita masuk saja ke dalam. Biar nenek merasa lebih hangat.” Ucap Mino sopan. Perlahan Mino melihat ujung bibir nenek itu terangkat. Nenek itu tersenyum padanya.

“Terimakasih . Hujan akan segera reda.” Ucap nenek itu ditengah suara hujan yang lebat.

Reda? Mino mengeryit . Hujan saat ini benar-benar sangat lebat. Tidak mungkin hujan akan reda segera. Apa ia tidak salah dengar. “Mari nek, kita masuk saja. Udara semakin dingin.” Kata Mino halus. Ia tidak percaya bahwa hujan akan segera berhenti.

Nenek itu terkekeh mendengar ucapan Mino. Nenek itu menggelengkan kepalanya. “Hujan akan segera reda, kau akan melihat pelangi yang indah setelahnya. Segala perbuatan kebaikanmu akan dibalas dan mimpimu akan segera terwujud. ” sekali lagi Mino mengernyit . Ia tidak mengerti dengan ucapan nenek itu. Mino terdiam kala nenek itu tersenyum padanya lalu mengeluarkan empat buah  manekin mini dari balik sweeter lusushnya. Kemudian nenek itu menunjukkan lima manekin ke arahnya “Pilihlah.” Lanjut nenek itu.

” S-saya tidak menyukai manekin itu. S-saya laki-laki tidak seharusnya bermain dengan manekin atau sejenisnya. M-maaf nek.”  Nenek itu hanya bisa terkekeh mendengar ucapan polos Mino.

“Tentu ,aku tahu kau seorang anak laki-laki song Mino.”  Jantung Mino berdetak dua Kali lebih cepat ketika nenek itu tahu namanya. Mino mengambil langkah mundur. ” Manekin ini adalah simbol keberuntungan, pilihlah. Aku yakin kau akan membutuhkannya nanti.”

Hening .

Hanya suara hujan yang menguasai suasana kaku saat itu.

Mino mentap manik mata nenek yang di depannya. Nenek itu terlihat ramah dan sabar. Nenek itu tidak terlihat seperti orang jahat . Mino berfikir sejenak – manekin keberuntungan? Apakah memang ada hal seperti itu di dunia ini ?

“Gadis dengan topi rajut berwarna ungu ini namanya celia.” Alis Mino terangkat kala nenek itu menceritakan sebuah manekin gadis kecil yang memakai topi rajut warna ungu muda itu. Jangan-jangan setiap manekin itu memiliki nama masing-masing.

Secara mental Mino sudah  lari meninggalkan nenek itu. Ia benar-benar tidak paham dengan apa yang terjadi saat itu. Siapa nenek itu? apakah dia penjual manekin? Mino tetap mengunci mulutnya. Ia mencoba mendengarkan nenek itu berucap kembali “Celia pandai bermain gitar dan dia sangat pintar. Sedangkan gadis dengan rok balon berwarna hijau tosca ini, namanya Ester. Dia gadis yang tenang, lembut dan juga bijak. Dan di sampingnya adalah Wendy, gadis dengan topi koboi biru ini adalah gadis yang ceria, energik dan pandai bernyanyi. Kurasa dia sangat cocok denganmu Mino.”

Mino hanya bisa tersenyum kaku menanggapi ucapan nenek itu . Ia masih tidak mengerti, maksud nenek itu. Apakah nenek itu gila? atau dia yang gila karena mendengarkan ucapan nenek itu. Perlahan Mino mengambil langkah mundur. Ia ingin meninggalkan nenek itu. “A-apakah manekin itu buatan anda nek?” tanya Mino hati-hati

“Hmm bisa dibilang begitu. Apakah ada yang kau sukai dari manekin-manekin ini?” tanya nenek itu. Dengan cepat mino menggelengkan kepalanya. Nenek itu terkekeh. “Kau tidak perlu takut. Manekin ini adalah simbol keberuntungan. Kau harus percaya itu. Ah, aku belum memperkenalkan Irene padamu.”

Kaku. Sontak mino terdiam. Irene? Gadis neverland itu. Siapa sebenarnya nenek itu?

Nenek itu tersenyum kala melihat mino yang terdiam di posisi yang terletak tiga langkah darinya. Nenek itu menatap mino dan perlahan membuka suaranya “Irene menyukai warna merah jambu, dia gadis yang ceroboh, ia tidak terlalu pandai namun ia memiliki hati yang tulus. Ia selalu melakukan sesuatu bersungguh-sungguh. Karena ketulusan hatinya ia sanggup mengubah jalan pikir dan hati seseorang yang ada di dekatnya.”

Mino menatap manekin gadis kecil dengan dress putih gading itu. Hati Mino bergumam ‘Irene’ inikah yang kau maksud?

Perlahan nenek itu memasukkan keempat manekin di balik sweeter lusuhnya. Nenek itu menyisahkan manekin yang bernama ‘Irene’. Nenek itu pun berjalan mendekati Mino sambil tersenyum hangat. “Ini untukmu. ” ucapnya seraya meraih jemari Mino dan meletakkan manekin gadis kecil yang bernama Irene itu. “Kau harus percaya, segala kebaikanmu akan menuntunmu untuk mewujudkan mimpimu. Irene akan membantumu.”  bisisk nenek itu.

Mino masih bergeming di tempatnya. Ia menatap manekin ‘Irene’ yang kini berada di telapak tangannya. Tanpa Mino sadari bibirnya menggumamkan nama ‘Irene’ .

Nenek itupun tersenyum dan menepuk bahu mino lembut. “Terimakasih untuk blezer hangatmu.” kata nenek itu lalu mengembalikan blezer Mino. “Aku harus pergi, hujan sudah reda. ”

Mino mengernyap dua kali lebih cepat. Apa? hujan reda?. Sungguh ajaib. Bagaimana bisa hujan reda begitu saja.  Mino mengedarkan pandangannya ke arah langit. Ia terdiam. Hujan benar-benar sudah berhenti. Semburat jingga kini menghiasi langit. Seberkas pelangi terlihat di sana. Mino masih takjub dengan apa yang dilihat. Pelangi itu nampak indah, meski hanya samar.   Mino melihat nenek itu berjalan mendahulinya. Dengan sigap mino menyusul langkah nenek itu “Nenek, mau pergi kemana. Biar saya temani.” sekali lagi nenek itu terkekeh karena ucapan Mino.

“Tidak perlu, pulanglah. Ini sudah sore.”

Mino menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu ia berkata ” Kalau begitu hati-hati, nek. ”  Mino membungkukkan badannya ke arah nenek itu.

“Iya, sampai jumpa kembali.”

Mino membuka pintu rumahnya. Ia menaruh sepatunya pada rak sepatu dan kemudian berjalan masuk ke dalam. Samar-samar terdengar suara keluarganya bercakap-cakap dari  ruang makan. Nampaknya Mino memang terlambat, ini sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Waktunya makan malam.

Mino berjalan gugup menuju ruang makan. Di sana ia melihat ayah, ibu dan kakak perempuannya. Mino berdeham dan mengucapkan kata “A-aku pulang.” Semua mata tertuju padanya. Ibunya memekik ketika melihat wajah Mino penuh luka.

Kejadian ini! sepertinya pernah kulalui. Semuanya terlihat sama.

“Astaga.” ibunya berlari kecil ke arahnya dan diikuti kakak perempuannya. Kedua wanita itu nampak khawatir. Namun berbeda dengan ayahnya. Ayah Mino hanya berdeham keras. Ayahnya memberi kode kepada Mino untuk segera membersihkan dirinya serta bersiap untuk makan malam. “Mandilah, ibu akan menyiapkan obat untuk wajahmu. Siapa yang melakukan ini padamu, nak?” sambung ibunya dengan nada khawatir.

Mino masih bungkam. Ia pun berjalan menuju kamarnya. Mino membuka pintu kamarnya dan menyeret kakinya masuk ke dalam.

“Tunggu.” Ucap kakak perempuannya. Mino pun melihat kakaknya di ambang pintu kamarnya. “Apakah ini adalah lelucon yang kau lakukan dengan teman-temanmu? Aku mohon jangan membuat cerita bohong lagi. Apa yang terjadi padamu sebenarnya Mino?” kata kakaknya lirih.

“Ini adalah hal biasa yang dilakukan lelaki, noona. ” Jawab Mino dengan suarah lemah. Mino berusaha tersenyum agar tidak membuat kakaknya khawatir. Terlihat disana wajah kakaknya masih belum puas dengan jawaban Mino. Wajahnya masih nampak sedang mengkhawatirkan dirinya. Sebisa mungkin Mino akan merahasiakan semuanya. Tanpa memperdulikan tatapan sedih kakaknya, Mino menutup pintunya pelan.

Mino meletakkan tas sekolahnya. Ia pun melepas seragamnya. Pikiran Mino melayang. Ia masih terjebak di sini. Gadis neverland itu masih belum menariknya kembali. Mino menghela nafasnya panjang. Perlahan ia mengeluarkan manekin ‘Irene’ dari sakunya. Mino mengamati manekin itu dan menggumamkan sesuatu “Sampai kapan aku berada disini? Kau membuatku semakin gila.”  Mino pun berjalan menuju almari bajunya. Ia meletakkan manekin Irene di salah satu saf almarinya. Setelahnya Mino mengambil bajunya.

Beberapa menit kemudian Mino keluar dari kamarnya dengan keadaan yang bersih. Ia sudah mandi dan memakai baju rumahannya.  Lukanya pun sudah diberi obat merah dan salep untuk menghilangkan bekas lebam pada pipi kirinya. Ia pun mendudukkan dirinya di ruang makan. Semua hidangan sudah siap. Mino mengambil sumpitnya dan bersiap untuk menyuapi dirinya.

“Bagaimana sekolahmu?” Tanya ayahnya dengan suara dingin. Untuk beberapa saat Mino terdiam badannya menegang.

“Baik, aboeji.”

“Baik? kau nampak kacau tadi. Apa kau terlibat perkelahian dengan teman-temanmu.” kini ibunya yang membalas ucapan Mino. Wajah ibunya khawatir.

“Tidak. Hanya saja tadi temanku tidak sengaja memukulku. Ia berlatih untuk mengikuti turnamen hapkindo. ”

“Dan kau dengan sukarela menjadi korbannya? Kau diam saja.” kakaknya ikut campur dan berusaha membuat Mino mengatakan keadaan yang sesungguhnya.

Ayah dan ibu mino memilih untuk menutup mulutnya. Mereka berdua sedang menatap Mino.

“Noona, mereka hanya bercanda. Toh,  keadaanku baik-baik saja saat ini.” Jawab Mino acuh tak. Ia berusaha untuk menjaga sikapnya. Ia tidak ingin keluarganya tahu bahwa ia selalu menjadi bahan penindasan teman-temannya. Menurutmu Mino, semuanya tidak penting untuk dibahas. Baginya hanya satu, ia harus tetap rajin belajar, menjadi nomor satu di sekolah dan berhasil menuruti keinginan ayahnya- meski itu bukan keinginan Mino. Tapi ia tidak memiliki pilihan lain. Apalah arti mimpinya jika ayah dan ibunya tidak memberikan dukungan?

“Tapi Mino…..” suara kakaknya menghilang kala melihat Mino tidak memperdulikannya. Adikknya itu berusaha menikmati makan malamnya. Namun jauh di dalam hati Song Da Na, ia tahu adiknya itu sedang menyimpan sesuatu. Akhirnya Dana memilih untuk menutup kembali mulutnya. Ia memilih melanjutkan makan malammnya dengan perasaan khawatir.

“Apapun yang kau lakukan, kami menaruh harapan penuh padamu. Jangan mengecewakan kami.”  Ucapan ayahnya terdengar seperti ancaman bagi Mino. Suara ayahnya terdengar berat dan kaku. Begitulah ayahnya. Mino selalu menciut jika ayahnya sudah bertindak demikian.

Seluruh percakapan kami, sama. Nampaknya aku mulai mengerti.

“Ne, aboeji.” Ucap Mino lemah.

Mino menghela nafasnya berat seakan mengetahui apa yang  akan terjadi padanya. Sekarang ia berada di depan pintu gerbang sekolahnya. Mino menelan ludahnya gugup. Setelah beberapa saat mematung di sana, ia pun menyeret langkahnya. Ia mengayunkan kakinya menuju pintu masuk.

Terlihat di sana koplotan kakak kelasnya sedang memeras uang saku siswa lain. Mino menundukkan kepalanya. Ia berharap semoga terjadi perubahan kali ini. Ia berjalan lebih cepat untuk menghindari koplotan itu.

“Yo, Man!” langkah Mino terhenti seketika. Tubuhnya membeku. Salah satu koplotan itu mengenalinya. Mino mengumpat dalam hatinya. Haruskah ia merasakannya lagi. Mino sudah lelah dengan semua ini namun apalah dayanya. Ia tidak sanggup berbuat banyak selain menunggu gilarannya. “Sini!” perintah kakak kelasnya.

Mino berjalan ke arah kakak kelasnya itu. Baiklah, tidak ada pilihan lain. Ia harus menuruti kemauan kakak kelas itu dan koplotannya.

Mino melihat kakak kelas itu mengulurkan tangannya ke arahnya. Kakak kelas itu sedang mengunyah permen karet dan menunggu mino untuk memberikan uang sakunya. Kakak kelasnya itu berwajah culas dan menyebalkan. “Cepat berikan, atau kau akan menerima akibatnya.” Sambung kakak kelasnya itu.  Kejadian ini terjadi kembali, sangat mirip seperti sehari sebelum bertemu dengan Gadis Neverland itu.

Gadis Nerverland itu benar-benar membuatnya mengerti. Untuk sejenak Mino mengerti dari mana asal gadis itu dan mengapa gadis itu datang padanya. Secara mental Mino bertepuk tangan untuk kepintaran Irene yang mengembalikan waktu sebelumnya, hingga membuatnya benar-benar mengerti!

“Cepat!” perintah kakak kelasnya kasar. Tanpa permisi kakak kelas itu mengambil uang Mino dari sakunya. Mino sempat melawan, namun ia akhirnya menyerah. Pemerasan ini masih belum ada apa-apanya dengan yang akan terjadi selanjutnya.

Mino membuang nafasnya kesal kala ia melihat kakak kelas itu puas dengan hasil rampasannya. Ia sedang menghitung uang Mino. Tanpa banyak bicara lagi, Mino pergi meninggalkan koplotan itu.

Mino menyiapkan mentalnya. Setelah ini, semuanya akan semakin jelas. Kini langkahnya mantap memasuki gedung sekolahnya. Ia akan mengikuti alur kejadian hari ini. Ia akan mengikuti semuanya hingga Gadis Neverland itu muncul. Mino berjanji pada dirinya.

Mino memantapkan langkahnya masuk ke dalam gedung sekolah. Ia tahu apa yang akan terjadi. Ia menghela nafas – memantapkan dirinya. Lalu ia pun berjalan menuju loker miliknya. Ia pun membuka lokernya dan mengambil sepatu yang wajid dipakai. Tidak lupa ia mengambil buku paket pelajaran.

Setelah selesai mengambil buku paket pelajarannya, Mino melihat seorang gadis pujaannya sedang mengganti buku paket dari lokernya. Mino mematung. Sungguh gadis itu sangat cantik. Rambutnya panjang lurus menjuntai hingga ke bahunya. Kebetulan loker gadis itu tidak jauh darinya.

“H-hai selamat pagi.” sapa Mino.

“Hai, Se..- Mino ada apa dengan mukamu?” tanyanya khawatir. Gadis itu pun berjalan mendekatinya, Mino hanya bisa membeku ketika gadis itu menyentuh pipi lebamnya. “Apa kau sudah memakai salep penghilang luka lebam?” Mino hanya bisa menganggukkan kepalanya. “Syukurlah. Lukanya akan segera menghilang. ”  sambung gadis itu sambil tersenyum pada Mino. “Baiklah, mari kita masuk ke dalam kelas.”

“K- kau lebih baik pergi dulu saja. Aku masih ingin merapikan lokerku.” Kilah Mino sambil tersenyum tanggung. Seulas guratan kekecewaan nampak pada wajah gadis itu. Gadis itu pun menganggukkan kepalanya. Dengan halus gadis itu pamit pada Mino. “S-sampai jumpa nanti, Hani.” Mino bergumam sambil menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh.

Gugup. Mino merapatkan kaca matanya. Segera ia menutup kembali lokernya. Ia menundukkan kepalanya seraya berjalan menuju koridor utama. Beberapa pasang mata menatapnya. Mereka sedang berbisik mengenai dirinya. Mino tetap berjalan menuju kelasnya, namun langkahnya terhenti ketika seseorang sedang berdiri di depannya. Mino menelan ludahnya.

“Ternyata kau memiliki nyali yang besar juga” Ucap Roy. Mino sempat menatap wajah Roy yang sedang memamerkan senyum miring padanya. Wajahnya dingin. Roy adalah kakak kelas Mino yang menghajarkan saat di gang sempit waktu itu. Dia adalah pelaku dari segala bentuk penindasan di sekolahnya. Dia berlaku layaknya gangster sekolah, seluruh siswa di sekolah ini memanggilnya ‘Roy’. Tidak ada yang berani melawan Roy. Roy sang penguasa SMU S.

Beberapa siswa memilih masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Mereka enggan terlibat dengan Roy. Ada juga yang masih berada di koridor, mereka ingin melihat apa yang akan dilakukan seorang Roy pada siswa kutu buku seperti Song Mino itu.  Diantara mereka semua tidak ada yang berniat untuk menolong Mino keluar dari masalah itu. Mereka memilih untuk pasif dan melihat saja.

Mino hendak  mengambil langkah mundur ketika tangan Roy meraih krah baju Mino. Dengan gerakan cepat Roy menghempaskan tubuh Mino ke arah dinding.   Tanpa memperdulikan Mino yang mendesis kesakitan, tangan Roy kembali meraih krah baju Mino dan kemudian bogem mentah melayang ke arah wajah Mino. Sakit. Mata Mino terasa berkunang-nang, pandangannya nampak tak jelas. Kepalanya terasa berat. Darah segar keluar dari hidungnya. Belum puas dengan hal itu, Roy mengayunkan tinjuannya pada perut Mino.

Mino tersedak dengan ludahnya sendiri. Perutnya terasa melilit. Kaki Mino terasa lemas dan setelahnya Mino tertunduk sambil memegangi perutnya. Dengan kasa Roy mengangkat kepala Mino. Senyum licik muncul di wajah Roy. Mino hanya bisa mendesis kesakitan. Mino menutup matanya karena ia melihat Roy akan melayangkan pukulannya lagi.

“Roy, sebentar lagi guru akan datang. Mari kita bereskan dia di tempat biasanya saja.” Bisik salah satu teman Roy. Seringai jahat muncul di wajah Roy. Ia pun memberikan aba-aba pada kedua temannya untuk membawa Mino ke gudang belakang sekolah.

“Roy!” Langkah Roy terhenti. Ia melihat seorang gadis berlari ke arahnya. Wajahnya cemas. Gadis itu menahan lengannya. “Aku mohon, lepaskan Mino.”  Roy mendesis seraya melepaskan tangan gadis itu. Mata gadis itu sedikit berair melihat Mino nampak lemah di bawah tangan Roy dan kawan-kawannya. “Tidak bisakah kau berhenti mengganggunya, apa sebenarnya salah Mino padamu?”

“Dia terlalu mencampuri urusanku, Hani!” Gadis bernama Hani itu hanya bisa memandang Roy. Ia tidak mengerti dengan ucapan Roy. Di lain sisi tanpa memperdulikan Hani, Roy memberi aba-aba pada kawan-kawannya untuk membawa Mino ke gudang belakang sekolah.

“Roy!”Hani berteriak sambil berlari untuk mengejar Roy dan kawanannya. Ia segera meraih lengan Roy sekali lagi. Hani menggelengkan kepalanya untuk membujuk Roy. “Aku mohon, hentikan Roy.” bisik Hani dan seakan tanpa perasaan Roy menghempaskan tangan Hani kasar.

“Ini urusanku dengannya.” Mata elang Roy menatap Hani. Tatapan matanya menusuk dan mampu membuat Hani terdiam di tempatnya. Setelahnya, Roy membalikkan badannya. Ia pun pergi meninggalkan gadis bernama Hani itu. Roy dan kawan-kawannya berjalan melewati koridor yang menghubungkan gudang belakang sekolah.

Sekali lagi tidak ada yang bisa menghentikan Roy, bahkan para dewan guru pun tidak sanggup berbuat banyak jika berurusan dengan seorang yang bernama Roy.

AN: Hi, maaf updatenya lama sekali. Aku harap kalian tidak bingung dengan chapter ke dua ini. Semoga kalian suka dan jangan lupa meninggalkan jejak ya. Vote dan komentar kalian selalu ku tunggu ^^ 

previous / Next

Advertisements

3 thoughts on “Girl From Neverland – Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s