Chaptered · Comedy · Freelance · Friendship · Genre · Length · PG -15 · Rating · Romance

[FF Freelance] Let’s Try! #2B END (Sequel of Just Try)


Tittle:  Let’s Try! #2B END (Sequel of Just Try)

Author: Bianca Erfisa & Lisa Kim

Editor: Lisa Kim

Genre: Romance, Friendship, little bit comedy.

Cast:

  • Cho Soyeon (OC)
  • Jung Hoseok (BTS)
  • Kim Namjoon (BTS)
  • Choi Jaehee (OC)

Rating: PG-15

Length: Twoshoot

Cr Poster by: @Yunietananda (Thanks bgt buat posternya, Kak, Nand ^^)

Hati-hati banyak Typo bertebaran!

Happy Reading  ^_^

Silent Readers? Go Away!!!!!! Hush…Hush…Hush *NgusirBrngMemberBTS*

Summary:

“Hoseok-ah, jangan menyerah! Jangan pergi! Jangan melihat gadis lain selain aku!”

###

.

.

.

Soyeon mengangkat sedikit wajahnya dari lengannya yang ia jadikan tumpuan diatas meja. Ini sudah jam istirahat, tapi entah kenapa ia malas setegah mati untuk mengangkat bokongnya beranjak dari kursi. Soyeon menelengkan wajahnya berbalik menatap jendela kaca disampingnya, dengan malas ia menggesar  kaca itu hingga membuat semilir angin  masuk dan menerbangkan anak rambutnya berantakan. Sama seperti hatinya. Ah, sial! Soyeon mengeram kesal, iamerasa menjadi gadis sentimentil hari ini.

Ingatannya memutar kilasan kejadian tadi pagi yang membuatnya nyaris terjun dari atap sekolah saking malunya, aaahh, demi Tuhan! Soyeon membentur-benturkan keningnya keatas meja dengan frustasi.

“Jung Hoseok sialan!” Rutuknya dengan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

Oke, Soyeon sebenarnya tahu bahwa dia tengah dilanda perasaan tidak jelas yang biasa kalian sebut—, ahh… dia sedang masa puber, harap dimengerti.

Soyeon menghentak-hentakan kakinya dibawah meja dengan kesal, sedangkan wajahnyaia tempelkan pada meja kayu yang sudah banyak coretan tidak jelas ulah dari tangannya yang tidak punya kerjaan.

“Soyeon-ah!” Sebuah suara mengintrupsi pergerakan Soyeon.

“APAA?!”Soyeon mengangkat wajahnya dan menatap tajam sosok yang berdiri disamping meja.Bukannya menjawab dengan lembut selayaknya gadis dalam drama dan novel picisan, Soyeon justru berteriak nyaring, melampiaskan emosinya tanpa mengetahui siapa yang memanggilnya. Salah sendiri datang disaat yang tidak tepat, pikirnya.

“Yyak! Kenapa berteriak?” Jaehee –Seseorang yang memanggilnya- balas berteriak nyaring. Gadis dengan rambut yang sengaja di gelombang besar itu mendelik tak terima.

“Kau jugaberteriak sekarang!” Berdiri dari kursinya, Soyeon berkacak pinggang, menantang Jaehee. Detik berikutnya gadis itu sedikit menyunggingkan senyum puas saat menyadari bahwa dia lebih tinggi dari Jaehee. Harusnya Hoseok ada disini dan melihat dimana ia terbukti secara akurat lebih tinggi dari Jaehee. Intinya, dia tidak pendek seperti yang Hoseok katakan, bukan?

“Itu karena kau berteriak lebih dulu, bodoh!” Jaehee mengibaskan rambutnya kebelakang, lalu menarik kursi kayu disampingnya dan mendudukkan diri, “Tuh kan, aku jadi lupa tujuanku memanggilmu tadi untuk apa,” Gadis Choi itu menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, meringis polos saat mendapati Soyeon menatapnya datar.

“Jaehee-ya, aku ingin bertanya,” Soyeon memalingkan wajahnya dari Jaehee lalu menatap pemandangan sekolah melalui jendela disampingnya.

“Ehm, tanya saja,” Jaehee menjawab asal dengan jemari yang sudah sibuk bermain diatas ponsel layar sentuhnya.

Soyeon menghela napas berat sebelum akhirnya berujar, “Kenapa aku tidak suka melihatmu dekat dengan Hoseok?”

Mendengar pertanyaan Soyeon, Jaehee tersentak, pergerakan jemarinya dilayar ponsel putihnya mendadak terhenti. Gadis itu lantas menatap Soyeon yang tengah menghadapkan wajahnya keluar jendela dengan mata tertutup. Membiarkan angin yang berhembus menerbangkan anak rambutnya tak beraturan. Akhir-akhir ini sahabat baiknya itu selalu mengurai rambutnya, entahlah… Jaehee juga tak tau mengapa, karena setahunya Soyeon dulu selalu mengikat rambutnya tinggi-tinggi.Atau ini ada hubungannya dengan Hoseok? Ingatkan, Hoseok pernah mengatakan Soyeon akan jauh lebih cantik dengan rambut terurai? Ahh, atau mungkin karena Namjoon? Kalau tidak salah Namjoon juga pernah mengatakan hal yang sama. Ahh, sudahlah, jangan membahas soal rambut. Jaehee rasa pertanyaan yang lebih terdengar seperti sebuah pernyataan dari Soyeon  barusan jauh lebih menarik perhatiannya.

Maka, Jaehee lantas mengubah posisi duduknya menjadi menyamping, sehingga ia berhadapan dengan Soyeon, “Soyeon-ah,” Panggilnya.

“Hmm..”

“Coba lihat aku!”

“Tidak mau. Entah kenapa jika melihatmu aku justru mengingat Hoseok yang selalu menempel padamu. Kita ini teman, tapi dengan perasaan tidak nyaman  ini aku tidak berani menatapmu, aku takut membencimu. Padahal aku sudah berusaha memahami jika memang benar Hoseok dan kau saling menyukai,” Soyeon menelungkupkan wajahnya pada lipatan lengannya, “Sialan, sepertinya aku memang menyukai Hoseok, Jaehee-ya,” Soyeon memekik pelan. Gadis Cho itu tengah berusaha menahan air matanya yang entah mengapa tiba-tiba saja mendadak ingin keluar dan Jaehee tahu itu.

Jaehee menelan ludahnya gusar, ia bimbang, tak tau harus berbuat apa. Ia sudah berjanji pada Hoseok dan juga Namjoon untuk tetap tutup mulut sampai semuanya berjalan lancar, tapi sekarang dihadapannya Soyeon sedang menangis. Ahh, ia bingung.

Maka saat ini Jaehee hanya bisa mengulurkan tangannya untuk mengusap pucuk kepala Soyeon dan berujar, “Maaf,” sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Soyeon seorang diri di dalam kelas.

Tolong, tolong jangan berpikir Jaehee sahabat yang jahat karena bukannya menenangkan Soyeon yang tengah menangis, tetapi ia justru meninggalkan sahabatnya itu menangis seorang diri. Percayalah,saat ini Jaehee justru ingin menemui seseorang, seseorang yang bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya.

.

.

.

Jaehee meletakan minuman kalengnya dengan hentakan cukup keras pada meja kantin, membuat kedua lelaki dihadapannya berjengit kaget untuk beberapa detik.

Mengingat ia baru saja meninggalkan Soyeon yang tengah menangis seorang diri di dalam kelas, Jaehee lantas memberikan tatapan sengitnya pada Hoseok –Salah seorang lelaki dihadapannya-. Argh, ia benar-benar ingin membenturkan kepala Hoseok sekarang juga. Sedangkan Hoseok yang mendapatkan tatapan sengit hanya balik menatap Jaehee dengan wajah kelewat polos. Membuat Jaehee semakin geram saja.

Enggan menatap Hoseok lebih lama Jaehee lantas menoleh pada Namjoon, mendapati lelaki dengan lesung pipi itu tengah tersenyum lembut kearahnya. Huh, setidaknya senyum lembut Namjoon bisa sedikit meredakan emosinya. The power of Namjoon.

“Kau kenapa, hmm?” Namjoon memulai percakapan.

“Aku sedang kesal, Joon!” Jaehee membawa wajahnya pada permukaan kayu meja kantin, sedang kedua lengannya menjuntai kebawah melewati lututnya. Keadaan Jaehee sekarang persis seperti Ibu hamil yang baru saja keguguran. Mengenaskan.

“Lalu dimana Soyeon?” Pertanyaan Hoseok yang seakan tanpa beban itu membuat Jaehee langsung menegakan tubuhnya,lalu kembali menatap Hoseok sengit.

“Berhenti berkeliaran disekitarku, Jung! Soyeon salah paham karena ulahmu,” Jaehee menghentak-hentakan  kakinya tak beraturan dibawah meja, “Dia benar-benar berpikir kau menyukaiku. Hentikan rencana bodohmu soal tarik menarik itu! Jika kau terus berencana untuk melakukan rencana tarik menarik sialan itu aku pastikan aku yang akan menarik kepalamu hingga lepas dari lehermu, mengerti?!!!” Jaehee berujar dalam satu helaan napas, membuat kedua lelaki dihadapannya tercengang.

Hoseok melipat kedua lengannya diatas meja, berdeham pelan sebelum akhirnya berujar,“Bisa kau jelaskan maksudmu denga kalimat yang lebih teratur, Jaehee-ya?”

“Ck, dengar baik-baik!” Jaehee menghelan napas sejenak, “Soyeon bilang dia menyukaimu, Jung! Dan aku tidak tahu kenapa dia menangis saat mengatakannya,”

“Apa? Kau bilang dia menangis?”

“Eoh. Dan mungkin dia juga masih menangis sekarang,”

“Yya! Lalu kenapa kau meninggalkannya sendiri? Kau ini bodoh, ya?!” Hoseok mengacak rambutnya frustasi.

“Yya! Aku mencarimu, bodoh!”

“Tetapi tetap saja kau tidak boleh meninggalkan sendirian. Kau ini benar-benar bo—”

Pletak~

“Jaga mulutmu, Jung! Dia kekasihku, sialan!” Namjoon berujar sengit. Lengannya baru saja mendarat dengan mulus dikepala Hoseok. Membuat Hoseok mendengus kesal karenanya, sementara Jaehee menatap Hoseok dengan senyum penuh kemenangan.

“Kalian bahkan baru jadian seminggu ini, dan kalian pikir itu karena siapa, eoh?” Hoseok menunjuk wajah Namjoon dan Jaehee bergantian. Sementara yang ditatap hanya memasang wajah polosnya.

Detik berikutnya Hoseok bangkit dari duduknya, lalu menggebrak meja dengan kedua tangannya, “Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus mengakhirinya sekarang. Aku tidak menyangka Soyeon akan menangis karena ini, ku pikir gadis seperti dia tidak akan menangis,”

“Dia juga seorang gadis, Jung,” Namjoon berujar malas.

Sementara Jaehee yang mendengar ucapan Hoseok hanya bisa memutar bola matanya jengah, seraya berguman, “Dasar bodoh,”

Kali ini Hoseok sudah hendak melangkahkan tungkainya untuk menemui Soyeon kalau saja bel pertanda jam istirahat telah berakhir tidak terlebih dahulu berdering.

“Aish, sialan!” Hoseok mengumpat, “Yya, mau kemana kalian?” Hoseok berteriak menatap Namjoon dan Jaehee yang entah sejak kapan sudah berjalan meninggalkannya

“Tentu saja ke kelas. Kau tidak dengar bel sudah berdering?” Namjoon menunjuk speaker hitam yang terpasang pada langit-langit kantin.

“Lalu bagaimana denganku?!” Hoseok menyembur tak terima melihat Namjoon dengan nyamannya menggenggam jemari Jaehee. Sementara masalah dirinya dengan Soyeon belum juga menemukan titik terang.

“Masalahmu dengan Soyeon? Selesaikan sendiri. Sudah waktunya aku dan Namjoon lepas tangan. Saranku, selesaikan sepulang sekolah nanti. Tidak mungkinkan kau menyelesaikanya ditengah-tengah pelajaran Guru Park?” Ujar Jaehee.

“Kalian tidak ingin membantuku? Membantuku menjelaskan soal ini padanya? Oh…ayolah, kalian taukan Soyeon meyeramkan. Bagaimana jika nanti aku—”

“Dibakar hidup-hidup olehnya?” Potong Jaehee, gadis itu memutar bola matanya jengah, “Sekejam-kejam seorang Cho Soyeon, dia tidak akan benar-benar membakarmu, Jung Hoseok. Ya, paling parah dia hanya akan mematahkan kakimu, mungkin,” Jaehee terkikik geli.

“Yya! Kau!” Hoseok mendengus kesal.

“Lagipula kami memang tidak bisa membantumu. Sepulang sekolah nanti aku dan Jaehee akan pergi kencan,” Namjoon nyengir lebar.

“Heol,” Hoseok memasang wajah jengah setengah mati, “Ugh, semoga saja sepulang sekolah nanti ada badai tornado yang mengacaukan kencan kalian,” Ujarnya, lalu dengan langkah besar ia segera meninggalkan sepasang kekasih yang sedang kasmaran itu.

Melihat tingkah Hoseok, Namjoon dan Jaehee tertawa geli.

.

.

.

Soyeon berjalan malas melewati lorong menuju kelasnya. Bell pulang sekolah sudah berdering sejak 1jam yang lalu. Tapi dia terpaksa harus menerima hukuman merapikan buku diperpustakaan karena kedapatan melamun ditengah jam pelajaran Guru Park. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, sedari tadi bayangan Hoseok dan Jaehee yang terlihat begitu dekat selalu saja hinggap dipikirannya.

“Aarrghh, Jung Hoseok sialan!” Soyeon memaki cukup keras. Suara nyaringnya bahkan menggema dilorong.

Untung saja keadaan sekolah sudah sepi sejak bell jam pelajaran terakhir berdering, hanya menyisakan beberapa murid yang masih asik bermain basket di lapangan outdoor atau sekedar  menikmati wifi gratis dikantin sekolah.

“Jadi kau sering mengumpatku diam-diam ya?” Hoseok dengan tiba-tiba muncul dari dalam kelas, membuat Soyeon yang baru saja ingin masuk kedalam kelas untuk mengambil tasnya terlonjak kaget.

“Yyak!!” Soyeon berteriak lagi, lantas menatap Hoseok sengit.

Hoseok terkekeh melihat reaksi Soyeon yang tak berubah.Apa benar gadis keras kepala ini baru saja menangisinya?

“Kenapa belum pulang?”

“Bukan urusanmu.Minggir sana! Kau menghalangi jalanku,” Soyeon mendengus, “Lagipula, kenapa kau masih belum pulang, sih?” Soyeon menggeser tubuhnya ke kanan untuk melewati tubuh Hoseok, namun terhenti saat lelaki itu justru ikut menggeser tubuhnya ke arah yang sama dengannya.

“Aku masih disini karna aku tau kau belum pulang,” Hoseok tersenyum lebar, “Soyeon-ah, ada yang ingin aku tanyakan,” Wajah Hoseok mendadak serius.

“Aissh, aku mau lewat, Seok!” Soyeon menggerakan tubuhnya kekiri namun tetap gagal karna Hoseok dengan cepat bergeser dan menutup akses lewatnya,“Kau benar-benar cari mati yah?!” Soyeon mulai kesal.

“Tidak. Aku tidak cari mati, kok. Aku mencarimu tahu,” Hoseok mencoba bergurau dengan cengiran lebarnya.

Hal itu membuat Soyeon semakin geram. Lihat saja, gadis itu menghentakan kakinya kesal seraya bersidekap, membuang muka kesembarang arah. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menatap Hoseok dan hilang kendali seperti tadi pagi, akal sehatnya benar-benar berkhianat saat itu. Aargh, mengingatnya saja sudah membuat Soyeon ingin membenturkan kepalanya pada dinding kelas.

“Aku bilang ada yang ingin kutanyakan. Kenapa menghindariku terus sih?” Hoseok berusaha menatap Soyeon yang sama sekali tak mau balik menatapnya.

“Apa? Apa yang ingin kau tanyakan? Jika kau ingin bertanya tentang hal-hal yang disukai Jaehee, lebih baik kau menyerah saja. Aku tidak mau membuang-buang waktuku untuk itu. Jadi, cepat menyinggkir, aku mau mengmbil tasku dan pulang, Jung Hoseok!”

Berhasil. Kali ini Soyeon berujar seraya menatapnya. Dan hal itu membuat Hoseok tersenyum. Walau dengan wajah marah seperti itu, Soyeon masih saja terlihat cantik dimatanya. Mau bagaimanapun gadis kesayangan itu bersikap, maskipun tidak ada sisi manis sedikitpun dalam diri Soyeon, Hoseok tetap melihatnya sebagai gadis paling manis. Ahh, cinta itu buta, kawan.

“Hey, kenapa kau membawa-bawa nama Jaehee disini? Jika aku memang ingin menanyakan hal itu aku bisa langsung bertanya padanya. Kenapa harus melaluimu?”

“Kalau begitu tanyakan saja padanya. Dan sekarang menyingkirlah!”

Hoseok masih tak bergeming. Ia justru menatap Soyeon lekat.

“Yya! Kau benar-benar ingin ku bunuh, ya? Kau membuatku kesal, Jung Hoseok. Cepat menyingkir!!” Refleks, Soyeon memukul dada Hoseok cukup keras.

“Soyeon-ah, aku menyukaimu!” Hoseok berujar tegas, ia lantas menggenggam pergelangan tangan Soyeon yang baru saja memukul dadanya, “Aku menyukaimu, bukan Jaehee. Jadi tolong dengarkan aku,”

Mengerjab polos, Soyeon memasang wajah terkejut yang sama sekali tidak terlihat cantik. Lantas, gadis dengan surai tergerai cukup berantakan itu menarik tubuhnya mundur.

“Aku dan Jaehee tidak memiliki hubungan apapun. Jika kau salah paham dengan kedekatan kami akhir-akhir ini, itu hanya bagian dari rencanaku,”  Hoseok kembali menarik pergelangan tangan Soyeon, membuat gadis itu kembali mendekat padanya,

Soyeon tertegun cukup lama, sampai akhirnya, “Rencana apa maksudmu?”

“Rencana untuk membuatmu cemburu. Dan, aku rasa rencana itu berhasil,” Hoseok terkekeh kecil.

“Rencana macam apa itu?” Soyeon mendengus, “Lagipula, aku tidak cemburu. Jadi, rencana bodohmu itu tidak berhasil, Tuan Jung!”

“Ahh, jadi tidak berhasil ya? Lalu mengapa tadi Jaehee bilang kau menangisiku dan sempat mengatakan kau menyukaiku? Emm, atau aku salah dengar ya?” Hoseok memasang wajah berpikir yang dibuat-buat.

“A-apa? Si-siapa yang menangisimu?” Soyeon mendadak gagap, “Dan, A-aku……… aku tidak menyukaimu!” Soyeon kembali membuang muka, enggan menatap Hoseok.

Hening.

Hanya helaan napas berat Hoseok yang terdengar.

“Kurasa aku memang salah dengar, atau mungkin Jaehee yang salah memberikan informasi,” Raut wajah  Hoseok mendadak lesu.

“Tentu saja kau salah dengar, bodoh!”

“Jadi, kau benar-benar tidak menyukaiku?”

“Tentu saja tidak. Kau saja yang besar kepala,” Soyeon masih enggan menatap lawan bicaranya.

Lagi-lagi, Hoseok menghelan napas berat, “Ahh, baiklah.Kalau begitu aku akan benar-benar menyerah sekarang. Kurasa semuanya memang sia-sia,” Ia tertunduk lesu.

“Jangan!” Soyeon berujar cepat, dengan wajah yang kembali menatap Hoseok. Gadis itu tidak mengerti mengapa itu bisa mengatakan hal itu, yang pasti ia menyesalinya sekarang.

“Kenapa? Kau tidak ingin aku menyerah? Bukankah kau sendiri yang bilang kau tidak menyukaiku, Nona Cho?”

“Ya, memang. Tapi………. ahh, yasudah terserah kau saja. Aku tidak perduli,” Soyeon berdecak kesal. Lagi-lagi ia membuang muka.

Mendengar jawaban Soyeon, Hoseok justru tersenyum jahil, “Kalau begitu aku bolehkan menerima ajakan kencan buta dari Min Yoonmi si ketua club cheerleaders yang terkenal sangat cantik itu?” Ia mencondongkan tubuhnya kearah Soyeon, mencoba mensejajarkan tinggi badannya dengan gadis itu.

“Tidak! Jangan!” Soyeon memekik tanpa sadar dan reflex kembali menolehkan wajahnya ke depan, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati wajah Hoseok hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. Kalau sudah begini ia hanya bisa meneguk salivanya susah payah, sebelum akhirnya kembali berujar, “Tidak, bukan begitu maksudku, kalau kau mau pergi juga tidak masalah, tapi aissh.., jangan. Jangan pergi bodoh!” Soyeon memejamkan matanya kuat-kuat, tengah merutuki kebodohannya sendiri. Kenapa mulut dan hatinya tidak konsisten sih. Memalukan.

Melihat reaksi Soyeon, Hoseok menyeringai tipis. Iamengulurkan tangannya untuk mengusap pucuk kepala Soyeon, membuat tubuh Soyeon yang semula tegang dengan perlahan terlihat lebih santai.

Perlahan, Soyeon membuka matanya, menatap Hoseok lekat, “Hoseok-ah,jangan menyerah! Jangan pergi! Jangan melihat gadis lain selain aku!” Ujarnya lirih. Baiklah, Soyeon akan membuang jauh-jauh semua gengsinya, dia hanya tak ingin Hoseok kembali mengabaikan dan menjauhinya. Jujur saja, rasanya tidak enak.

Hoseok tersenyum lembut, “Awalnya aku memang ingin menyerah. Aku takut membebanimu dengan perasaanku saat kau sama sekali tak terlihat menyukaiku. Atau bahkan kau membenciku,”

“Aku tidak membencimu, kok,” Soyeon menundukan kepalanya, entah mengapa ia malu menatap Hoseok.

“Kau sungguh tidak membenciku?”

Masih dengan tertunduk Soyeon mengangguk kecil.

“Itu berarti kau menyukaiku?”

Kali ini butuh waktu lama sampai akhirnya Soyeon kembali mengangguk kecil dan berguman, “Aku rasa aku memang menyukaimu,”

“Soyeon-ah, kau sedang sakit gigi, ya? Kenapa suaramu tidak jelas sekali. Aku bahkan tidak bisa mendengarnya,” Sesungguhnya Hoseok bisa mendengar pengakuan Soyeon barusan. Tetapi entah mengapa menjahili Soyeon sangat mengasikan, “Coba katakan sekali lagi!”

Soyeon mendengus sebal, lantas kembali mengangkat kepalanya, menatap Hoseok, “Aku bilang, aku menyukaimu, bodoh!” Ujarnya nyaring, terlampau nyaring malah.

SenyumanHoseok sudah tidak bisa ditahan lagi. Lihat saja, lelaki itu benar-benar tersenyum kelewat lebar, sudah dipastikan jika 5 detik ia masih tersenyum seperti itu giginya pasti akan kering. Tetapi ia tidak perduli, Hoseok terlampau bahagia, tentu saja.

“Yya! Jangan tersenyum seperti itu. Kau—”

Cup…

Ucapan Soyeon terhenti saat Hoseok mengecup bibirnya kilat. Dan tentu saja hal itu membuat Soyeon terkejut bukan main, kedua matanya bahkan membola sempurna.

“Aku juga menyukaimu, kok. Ahh, atau lebih tepatnya aku mencintaimu, hanya kau!” Ujar Hoseok masih dengan senyuman kelewat lebarnya.

Soyeon mengerjab polos. Otaknya masih berusaha mencerna semua ucapan Hoseok.

“Soyeon-ah, jadi kekasihku, ya? Mau atau mau?” Hoseok menatap Soyeon lekat, mengabaikan wajah bodoh Soyeon yang nampaknya masih terkejut karena ciuman kilatnya tadi.

Sampai akhirnya gadis dihadapannya itu mendengus pelan, “Pilihan macam apa itu? Kenapa pilihannya hanya mau dan mau? Kalau seperti itu bagaimana aku bisa menolaknya?” Soyeon mencibir samar.

“Kalau kau memang ingin menolaknya kau bisa langsung menendangku seperti biasanya. Bagaimana?” Hoseok tersenyum jahil.

“Kau ingin aku benar-benar melakukannya?”  Soyeon memasang wajah menantang.

“Tentu saja tidak,” Lagi-lagi, Hoseok nyengir lebar, “Jadi, sekarang kita sudah resmi berkencan, nih?”

“Dasar bodoh, kenapa masih harus bertanya?” Soyeon merengut sebal.

“Hanya ingin memastikan,” Hoseok terkekeh.

“Hoseok-ah, aku ingin bertanya,”Soyeon kembali berujar, kali ini ia menatap Hoseok serius.

“Ya, tanya saja,”

“Kau bilang kau menyukaiku’kan? tapi mengapa selama ini kau selalu menjahiliku? Bukankah seharusnya kau bersikap manis padaku?”

“Entahlah,” Hoseok menggedikkan bahunya, “Aku hanya merasa menjahilimu jauh lebih mengasikan ketimbang harus bersikap romantis atau manis padamu. Lagipula, bagaimana aku bisa bersikap romantis dan manis kalau baru aku cium saja kau sudah sangat terkejut seperti tadi. Aku bahkan bisa mendengar suara detak jantungmu,” Ia kembali terkekeh kecil,

“Yya! Tentu saja aku terkejut. Asal tahu saja, yang tadi itu ciuman pertamaku. Dan kau malah mencurinya dengan sangat tidak romantis. Menyebalkan!” Soyeon meninju dada Hoseok dengan kepalan tangannya.

Bukannya meringis kesakitan akibat pukulan Soyeon yang ternyata cukup keras, Hoseok justru kembali terkekeh, lalu menarik pergelangan tangan Soyeon, membuat tubuh gadis itu kembali mendekat padanya, Hoseok menatap gadis kesayangannya itu tepat dimanik-manik matanya, “Cho Soyeon, berhenti memukul kekasihmu. Atau kau mau aku cium lagi?” Ia menyeringai jahil.

Kedua mata Soyeon kembali membola sempurna. Namun, detik berikutnya entah apa yang terjadi gadis itu justru memejamkan matanya kuat-kuat. Seolah-olah ia telah siap menerima ciuman dari Hoseok.

“Kenapa kau menutup matamu? Kau benar-benar berharap aku cium, ya? Hahahah,” Namun yang terjadi Hoseok justru tertawa menyebalkan.

Sadar akan kebodohannya Soyeon lantas membuka kedua matanya, mendorong tubuh Hoseok kuat-kuat, “Yya! Jangan mempermainkanku, bodoh!” Makinya kesal.

Hoseok justru semakin tertawa, “Hahahaha, tenang saja, aku akan menciummu. Tetapi nanti dan tidak disini. Aku akan melakukannya dengan romantis dan manis, seperti yang kau inginkan,” Ia menaik turunkan alisnya jahil.

Soyeon hanya merengut sebal.

Masih dengan kekehan kecil Hoseok kembali melangkah mendekat, “Hari ini tidak ada badai tornadokan?” Tanyanya.

“Badai tornado?” Dahi Soyeon mengkerut bingung, ia lantas mengedarkan pandang kearah jendela, melihat keadaan diluar, “Hari ini cerah-cerah saja, tuh,”

“Kalau begitu ayo pergi kencan. Seperti Namjoon dan Jaehee,” Hoseok nyengir lebar.

“Tunggu sebentar. Kau bilang apa? Kencan? Namjoon dan Jaehee?” Dahi Soyeon semakin mengkerut tidak mengerti dengan arah pembicaraan Hoseok, terlebih lagi lelaki yang baru saja berstatus kekasihnya itu membawa-bawa nama Jaehee, Namjoon dan kencan. Apa maksudnya?

“Akan aku jelaskan nanti,” Sekilas,Hoseok mengacak surai Soyeon gemas, lalu lelaki itu berjalan masuk kedalam ruang kelas dan kembali dengan tas ransel berwarna purple milik Soyeon yang sudah bertengger manis dibahu kirinya, “Sekarang, ayo lakukan hal yang menyenangkan dikencan pertama kita,” Ia lantas mengaitkan jari-jari tangannya pada jari-jari tangan milik Soyeon, menggenggamnya erat, “Ayo jalan!”

Soyeon yang masih setengah paham hanya bisa mengikuti langkah Hoseok, berjalan menyusuri kolidor sekolah yang sepi.

“Untuk kencan pertama kita ini, kau ingin pergi kemana?”

“Emm, terserah kau saja,”

“Bagaimana kalau kita makan ice cream?”

Soyeon hanya mengangguk sebagai tanda ia setuju.

“Hey, tahu tidak kedai ice cream yang ada dipersimpangan jalan itu sangat enak? Aku selalu ingin memakannya bersamamu, tetapisebelum aku berhasil mengajakmu kau sudah terlebih dahulu memakiku. Alhasil, aku hanya bisa memakannya bersama Namjoon. Mengenaskan, ya? Tetapi sekarang aku bisa selalu memakannya bersamamu’kan? Aku juga ingin sekali ke kebun binatang bersamamu, aku ingin melihat kuda yang selalu kau bilang mirip denganku. Hanya ingin memastikan, apa benar-benar mirip? Hahahahah…. Ahh…iya, aku juga ingin mengajakmu bersepeda ditaman sungai Han. Mau tidak? Atau kita ke Lotte Worldsaja? Aku rasa itu akan sangat menyenangkan. Iyakan? Atau kau ingin berbelanja di Myeongdong? Ahh, tidak-tidak, uang jajanku belum cukup untuk membayar belanjaanmu.kkkk~ Jadi, bagaimana kalau setelah makan ice cream kita pergi ke Namsan Tower saja? Aku ingin menuliskan nama kita digembok cinta. Bukankah itu sangat romantis, Soyeon-ah?”

Pada akhirnya, sisa perjalanan mereka menuju kedai ice cream dipersimpangan jalan hanya dihabiskan dengan ocehan Hoseok tentang tempat-tempat yang ingin ia kunjungi bersama Soyeon. Tentu saja dengan status sebagai sepasang kekasih.

Ahh, Jung Hoseok, kau nampak sangat bahagia.

Sementara itu, Soyeon yang mendengar semua ocehan Hoseok hanya bisa terbengong dibuatnya. Gadis itu tidak menyangka selain menyebalkan dan kelewat aneh Hoseok juga ternyata sangat cerewet. Lihat saja, lelaki yang sekarang berstatus kekasihnya itu bahkan tidak pernah berhenti mengoceh disepanjang jalan. Namun, entah mengapa Soyeon justru tersenyum saat mendengarnya. Jujur saja, saat ini Hoseok nampak sangat menggemaskan dimatanya.

Soyeon rasa keputusannya untuk berkencan dengan seorang Jung Hoseok yang menyebalkan, kelewat aneh dan juga sangat cerewet adalah pilihan yang paling tepat, sangat tepat malah. Karena,sama halnya seperti Hoseok, Soyeon pun merasa sangat bahagia sekarang.

Saat ini, Soyeon hanya ingin mengucapkan terima kasih pada Hoseok. Terima kasih karena lelaki itu tidak pernah benar-benar menyerah untuk mendapatkan hatinya. Dan sekarang Soyeon berjanji,ia tidak akan pernah menyia-yiakan Hoseok lagi. Kalian bisa pegang janjinya, kalau kalian mau.

 

.End.

Tamat, saudara-saudara.kkkk~

Chap terakhir ini bener-bener hasil colabku sama Bianca. Untuk konsep dan alur dichap ini, itu murni buatan Bianca. Aku hanya menyumbang  dialog/percakapan  dan narasi dibeberapa part, khususnya percakapan dikantin antara Hoseok, Namjoon dan Jaehee dan dialog antara Soyeon dan Hoseok dibagian ending (Maaf ya, Bi. Endingnya aku rubah dikit. Tapi masih satu konsep, kok.heheh) Kalau kalian udah pernah baca ffku yang lain pasti kalian tau mana yang tulisanku dan mana yang tulisan Bianca.hehehe

Oke. Mungkin itu aja. Terakhir aku mau ucapin terima kasih untuk kalian yang baca ff ini. Dan juga terima kasih banyak untuk Bianca Erfisa, berkat kamu ff ini bisa terselesaikan *HugBiEratEratBrngNamjoon* I Love u so much, Bi. *TebarLope2* kkkk~

Oke, aku pamit. Sampai jumpa lagi, entah kapan. Paii~

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] Let’s Try! #2B END (Sequel of Just Try)

  1. Keren ff nya,apalagi cast nya jhope di kuda ganteng itu 😄😃
    Maaf kk cm bisa ksh coment di part akhir ini… Tetap fighting untuk karya nya lisa 😚😚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s